Translate

Senin, 23 Desember 2013

Natal: Perbandingan pemberitaan dalam Alkitab dan Alquran untuk analisis konspirasi Advent di Amerika Serikat


Natal: Perbandingan pemberitaan dalam Alkitab dan Alquran untuk analisis konspirasi Advent di Amerika Serikat?
Oleh Farsijana Adeney-Risakotta*    


Sebelum perayaan Natal pada tanggal 25 Desember, umat Kristen di
seluruh dunia mempersiapkan diri dalam masa yang disebut Advent. Kata
Advent berasal dari bahasa Yunani yang berarti “kedatangan”. Masa
advent dimulai pada awal bulan Desember, 24 hari sebelum hari Natal.
Ada empat minggu masa advent dalam kalender gerejawi. Pada masa ini,
umat Kristiani berkumpul untuk merenungkan kembali pemulihan jalan
Allah ke dunia ini melalui kelahiran Yesus Kristus.

Tradisi perayaan berbeda-beda sesuai dengan tempat, alam dan budaya di
mana umat Kristiani hidup. Tetapi sifat utama masa advent adalah
penghayatan dan ucapan syukur terhadap karya sukacita Allah dalam
kelahiran Yesus Kristus. Tekanan terhadap karya sukacita Allah kepada
dunia melalui kelahiran Yesus Kristus tidak saja dicatat dalam Alkitab
tetapi juga ditulis sebagai wahyu yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW
seperti tertulis dalam Alquran (Al. 3:45-48 ). Ada perbedaan cerita
kelahiran Yesus dalam Alkitab dengan yang tertulis di Alquran.

Cerita kelahiran Yesus dalam Alkitab dicatat pada keempat buku Injil
(Matius, Markus, Lukas dan Yohanes). Keempat buku Injil ini juga
memberikan tekanan yang berbeda-beda. Akan tetapi secara umum, ke empat
kitab ini menuliskan kelahiran Yesus Kristus yang menekankan kronologis
kelahiran Yesus. Persiapan kelahiran Yesus dimulai ketika malaikat
bertemu dengan Zakariah, ayahanda calon bayi yang akan diberi nama
Yohanes sebagai pembuka jalan untuk kedatangan Yesus. Malaikat kemudian
bertemu dengan Maria untuk menjelaskan rencana Allah memilihnya sebagai
ibu dari bayi suci yang akan diberikan nama Yesus. Malaikat juga
bertemu dengan tunangan Maria, Yusuf, sang tukang kayu yang berencana
untuk menyingkirkan Maria diam-diam karena didapatkan tunangannya
hamil. Malaikat meminta Yusuf untuk menerima Maria yang sedang
mengandung secara Roh Kudus bayi suci yang adalah anak Allah yang suci.

Pada saat Yesus dilahirkan malaikat memberitahu berita gembira ini
kepada para gembala di padang untuk segera pergi melihat bayi Yesus
yang dilahirkan di kandang binatang pada suatu rumah di kota Betlehem.
Tiga orang bijak Timur yaitu Balthazar, Melchior, dan Caspar, membaca
tanda kelahiran Yesus melalui bintang Betlehem dan memohon penjelasan
tentang kebenaran petunjuk bintang tersebut dari raja Herodes. Herodes
kaget dan menjadi sangat marah sehingga memaklumkan pembunuhan
semua anak-anak bayi. Tetapi malaikat kembali datang dalam mimpi kepada
Yusuf sehingg ia bisa mengungsikan Maria dan bayi Yesus ke Mesir dari
upaya pembunuhan Herodus terhadap anak-anak bayi. Sesudah Herodes
 meninggal, malaikat kembali mengunjungi Yusuf dalam mimpi ketika ia dan
keluarganya masih di Mesir. Malaikat memberitahu bahwa Yusuf bisa
membawa Maria dan bayi Yesus kembali ke kampung halamannya di Nazareth.

Dalam Alquran cerita kelahiran Yesus atau Isa Al Masih dimulai dengan
cerita tentang pengabulan doa Zakariah dan isterinya karena diusia
udzur isterinya bisa hamil. Jahya (Johanes Pembaptis) dilahirkan
sebagai jalan pembuka untuk kedatangan Yesus. Kemudian malaikat bertemu
dengan Maria. Maria hanya satu-satunya perempuan yang namanya disebut
dalam Alquran dan ada 30 Surah menyebut namanya (Ayub: 2007, 120).
Hanya Maria yang namanya disebut lebih dari 30 Surah. Pertemuan
malaikat dengan Maria adalah untuk menjelaskan bahwa ia akan menerima
hadiah dari Allah yaitu bayi lelaki yang suci (Al. 19:19). Kata yang
dipergunakan dalam Alquran adalah “ibn” (anak lelaki) . Tetapi Maria
bertanya kepada malaikat bagaimanakah ia bisa mengandung karena ia
belum bersuami (Al. 19:20). Pertanyaan Maria dijawab malaikat bahwa ia
dipilih Allah menjadi pelayan Allah. Nama Yusuf, sang tukang kayu,
suami Maria yang disebut dalam Alkitab tidak muncul dalam cerita
Alquran. Pada saat Yesus dilahirkan, Maria menjauhkan diri dari kota
dan melahirkan Yesus di bawah pohon palem.

Perbedaan-perbedaan di antara cerita kelahiran Yesus dalam Alkitab dan
di dalam Alquran terkait dengan pandangan-pandangan teologi dalam
tradisi Kristiani dan Islam. Tradisi Kristiani percaya Yesus yang
dilahirkan suci adalah inkarnasi Allah dalam hidup manusia. Mujizat
kelahiran Yesus adalah tanda kepedulian Allah kepada dunia yang
diciptakanNya. Kekuatan dan Roh Allah diteruskan dalam kehidupan Yesus
melalui pelayananNya di dunia ini. Bagian dari penerusan Roh Allah
dalam diri Yesus Kristus menyebabkan Yesus adalah bagian dari kekuatan
dan Roh Allah itu sendiri.

Tanpa mengurangi penghormatan kepada Yesus, Islam memandang Yesus
Kristus sebagai seorang nabi. Penciptaan Yesus identik dengan Adam ,
manusia pertama yang diciptakan Allah. Islam percaya bahwa Adam
diciptakan dari debu dan Allah meniupkan napas kehidupannya sehingga ia
hidup (Al. 3:59). Sama seperti Adam, Yesus diciptakan melalui napas
Allah. Pandangan penciptaan Adam yang diwahyukan dalam Alquran adalah
juga pandangan yang tertulis dalam kitab Yahudi (Tanakh) yang juga
diakui dalam tradisi Kristiani sebagai Alkitab Perjanjian Lama. Dalam
cara Allah menciptakan Yesus yang sama dengan cara penciptaan Adam,
tetapi hanya Yesus yang suci, karena Ia tidak tergoda setan.

Keistimewaan Yesus menunjukkan kedekatanNya dengan Allah. Karena itu
Yesus menyembuhkan orang sakit dan melakukan banyak mujizat dalam
pelayananNya di dunia (Al.3:49). Akan tetapi Islam memperingatkan bahwa
menyembah Yesus yang sejajar dengan Allah adalah tanda penyembahan
berhala. Alquran menggunakan kata “walad” yang berarti “keturunan”,
“anak” untuk mengkritik tradisi Kristen yang mengangap Yesus adalah
anak Allah (Ayub: 2007, 118).


Di tengah perbedaan-perbedaan pandangan yang ada dalam tradisi
Kristiani dan Islam tentang dosa asal manusia, kematian dan kebangkitan
Yesus, kesamaan dari cerita kelahiran Yesus yang nampak dalam kedua
tradisi ini terkait dengan pertama, cerita tentang mujizat yang
dilakukan Allah karena Ia adalah Allah, sang Pencipta. Kedua tradisi
Kristen dan Islam mengakui Allah adalah Allah dan mujizat itu adalah
sang bayi, Yesus Kristus. Kesamaan kedua, adanya pengakuan bahwa
perempuan dipergunakan Allah, yaitu Maria, sebagai subyek untuk
menerima sekaligus meneruskan mujizat yang diturunkan dari Allah
sebagai bentuk dari karya suci Allah untuk memperbaharui perjanjian
dengan manusia.


Dalam masa advent, saya merenungkan kembali tentang maksud Allah
dengan memberikan mujizat terbesar dalam sejarah manusia melalui
kelahiran Yesus Kristus. Saya merenungkan kedua sumber cerita ini
dengan mata hati yang terbuka. Sebagai pengikut Yesus Kristus, saya
coba mengerti apa yang dimengerti oleh Islam tentang kelahiran Yesus.
Mahmood Ayub, seorang intelektual Islam dari Universitas Temple di
Philadelphia, dalam bukunya berjudul “A Muslim View of Christianity”
(2007) menjelaskan bahwa penggambaran Yesus dalam Alquran adalah sangat istimewa. Hanya Yesus dari semua nabi yang diakui oleh Islam,
digambarkan dalam kekuatan dan rupa yang sangat dekat dengan Allah.
Yesus suci dan bebas dari godaan setan (Al.21:91; 66:12). Kesucian
Yesus dipelihara dalam Alquran.

Bahkan Islam juga percaya bahwa hanya Allah dan Yesus yang tahu tentang
hari kebangkitan. Tetapi yang paling mengesankan bagi saya, adalah
memikirkan kata-kata Ayub bahwa dalam relasi Kristen dan Islam
sebenarnya ada kekuatan dimana Kristen diingatkan tentang Allah sebagai
Allah dan Islam dikuatkan bahwa kebenaran adalah Allah (Ayub: 2005,
131). Umat Kristiani bersyukur mempunyai saudara sepupu Islam yang
mengingatkan tentang jalan keselamatan dalam Allah. Tetapi memahami
Allah dalam pekerjaan, pelayanan dan penderitaan Yesus Kristus
mengartikan tentang Allah yang datang meraih manusia. Allah menyentuh
manusia dalam cara manusia. Allah dalam Yesus Kristus menunjukkan jalan
bagaimana manusia bisa mencapai Allah.

Saya bayangkan perubahan kebijakan menunjukkan bahwa sebagai agama
minoritas pada saat jaman Romawi, kesempatan untuk menyatakan perayaan
ibadah bersama belum dimungkinkan. Tetapi sesudah agama Kristen menjadi
agama mayoritas bahkan disyaratkan sebagai bagian dari kebijakan
negara, pada saat itu diperlukan ungkapan identitas yang dapat
dirayakan secara bersama. Penggambilan tradisi pra Kristen sebagai
bentuk dari perayaan Natal menunjukkan upaya kontekstualisasi yang
dilakukan dalam gereja. Proses kontektualisasi ini seringkali menjauh
dari makna agama itu sendiri. Disinilah penting sekali nasihat dari
Mahmood Ayub untuk dipakai sebagai alat analisa yang mendorong orang
beragama untuk belajar menggunakan ungkapan agama yang tepat daripada
sekedar bahasa politik agama.

Tanggapan tentang karya sukacita Allah ini ditandai oleh umat
Kristiani dengan banyak cara. Tanda sukacita nampak dalam pelaksanaan
puasa yang diikuti dengan penghayatan Firmah Allah seperti biasa
dilakukan beberapa tradisi gereja. Kegiatan ibadah dipusatkan di gereja
maupun dalam kebaktian di rumah-rumah keluarga Kristen. Sukacita Natal
dipresentasikan dalam bentuk drama, teater, musik konser, lagu-lagu dan
tindakan kasih yang disharingkan dalam keluarga, maupun masyarakat
luas. Suasana sukacita yang menjadi inti kelahiran Yesus Kristus sudah
lama mengalami pergeseran. Gambaran baik dalam Alkitab maupun Alquran
tentang kelahiran Yesus jauh dari kenyataan modern saat ini.


Sukacita sejati dari Allah itu sudah dicuri oleh alam modern yang
seolah-olah hanya menampilkan sifat-sifat konsumerisme. Sekarang ini di
Amerika Serikat ada gerakan yang disebut “konspirasi advent”. Gerakan
ini bertujuan untuk memurnikan makna Natal. Dipelopori oleh kelompok
Kristen Injili di AS, gerakan ini mendorong umat Kristiani mengurangi
pembelanjaan hadiah-hadiah mewah yang akan diberikan dalam pertukaran
hadiah di antara keluarga dan kenalan dekat. Kapitalisme menangkap
gambaran perayaan sebagai produk kapitalis seperti nampak dari berbagai
iklan yang tersebar di mana-mana.

Dunia lupa sebenarnya maksud Allah dalam kelahiran Yesus. Saya
merenungkan Kitab Injil, Matius yang menuliskan tentang perjalanan
Yusuf dan Maria yang sedang hamil ke Betlehem. Mereka ke Betlehem
karena mereka adalah warga negara yang bertanggungjawab dan harus
mengikuti sensus kependudukan pada waktu itu. Sejak masih di rahim
Maria, Yesus sudah dituntun untuk bertanggungjawab sebagai seorang anak
sekaligus sebagai seorang warga negara. Kelahiran Yesus membuka jalan
kepada pembaharuan Allah untuk bersama dengan manusia memperbaiki
relasi-relasi sosial yang timpang menjadi adil dan bermartabat.
Pelayanan Yesus dalam dunia sangat jelas di mata saya, adalah sebagai
pelayan dari seorang warga negara yang turut bertanggungjawab
menyadarkan pemerintah dan bangsanya untuk melakukan keadilan dan
perdamaian seperti yang difirmankan Allah. Bahkan dalam pelayanan Yesus
ketika ditanyakan bagaimana pandanganNya terhadap Kaisar, Yesus
mengatakan: “Berikanlah apa yang menjadi hak Kaisar dan apa yang
menjadi hak Allah” (Lukas 20:25).

Memang dibutuhkan waktu yang berabad-abad sebelum politik negara

dipisahkan dari pengaruh agama mayoritas.
Ajaran Kristiani seperti nampak dalam tindakan etika politik Yesus
untuk berabad-abad terkubur. Inspirasi dari pemisahan baru terlihat
ketika negara-negara Eropa merefleksikan dampak dari kekuasaan agama
yang bisa bersifat tirani. Agama yang mengandung nilai-nilai suci
ternyata bisa membunuh, menghancurkan kehidupan manusia. Perang
kekuasaan di Eropa melibatkan politik negara berdasarkan afiliasi
agama. Pengalaman negara Eropa inilah yang mendorong revolusi
pembebasan negara muda di Amerika Serikat dan membawa angin pembaharuan ke Perancis sehingga menghasilkan revolusi Perancis. Pemisahan negara dari gereja menjadi fondasi demokrasi di Amerika Serikat dan menginspirasikan pembentukan negara-negara kesatuan sesudah perang
dunia kedua.

Tetapi debat tentang “permurnian Natal” yang digagaskan oleh kelompok
Injili konservasi di Amerika Serikat menunjukkan bahwa pengaruh
kelompok mayoritas tetap terasa dalam wacana negara. Karena itu sangat
penting dalam masyarakat tersedia ruang diskusi untuk menyeimbangkan
tujuan politik bersama dengan praktek jangka pendek dari target politik
yang sedang dicapai oleh kelompok-kelompok tertentu. Debat advent
konspirasi sebagai pesan Natal sebenarnya belum menyentuhkan isu
pembaharuan yang harus dikedepankan dalam proses bermasyarakat dan
bernegara di Amerika Serikat. Seperti juga Idul Fitri, atau perayaan
keagamaan lainnya, ada banyak sukacita yang hendak dibagikan bersama
dalam keluarga. Orang Kristen Indonesia tidak mengenal acara tukar
menukar hadiah. Tradisi ini hanya ada di Amerika Serikat. Pada
rata-rata keluarga di AS, memberikan hadiah kepada keluarga hanya pada
waktu hari ulang tahun dan Natal. Jadi gugatan tentang konspirasi
Advent sebenarnya angin politik saja.

Ada banyak isu-isu sosial yang lebih besar daripada sekedar upaya
pemurnian Natal. Salah satu contoh pelambatan pembaharuan kebijakan
keadilan yang sedang dilakukan oleh Kelompok Injili Konservasi di
Amerika Serikat adalah menahan upaya pemerintahan presiden Obama
mereformasi kebijakan kesehatan nasional. Kaum Injili dalam gerakan
konspirasi advent menyatakan bahwa orang Kristen dapat mengubah dunia
ketika uang yang seharusnya dipakai untuk pembelian hadiah diberikan
sebagai donasi bagi program-program kemanusiaan di seluruh dunia.
Kata-kata ini kedengaran sangat suci tetapi ia tidak cukup untuk
menolong banyak orang miskin warganegara Amerika Serikat yang hidupnya
terancam karena tidak mempunyai akses terhadap pelayanan kesehatan
sesuai dengan jangkauannya. Dialog terbuka untuk mengimbangi pikiran
dan praktek politik kelompok Injili konservasi dilakukan dengan sangat
seru oleh kelompok Kristen yang terbuka (progresif), termasuk juga
menanggapi debat “konspirasi advent”.

Konspirasi advent untuk menolak pembelian hadiah-hadiah Natal
adalah bahasa politik daripada bahasa iman yang menunjukkan penghayatan
Kristiani tentang kerja kemanusiaan Allah dalam kelahiran Yesus
Kristus. Pembelaan kaum Injil terhadap gerakan permurnian perayaan
Natal bukanlah pembelaan iman seperti nampak dalam makna kelahiran
Yesus. Sukacita keadilan dalam makna kelahiran Yesus ditenggelamkan
dalam kepentingan manusia yang lebih besar yaitu untuk memanipulasi
umat Kristiani untuk terlibat dalam pembelaan simbolik dengan
menghilangkan inti keadilan yang lebih besar yang diperlukan dalam
pembaharuan kebijakan negara untuk kemakmuran bersama.

Sebagai seorang Kristen Indonesia, contoh perdebatan konspirasi
advent yang sedang hangat di Amerika Serikat mendorong saya menulis
refleksi ini, terutama bertanya apa makna perayaan kelahiran Yesus
Kristus bagi dunia. Bagaimanakah saya sebagai seorang Kristen
bertanggungjawab terhadap Allah dalam menjawab
permasalahan-permasalahan di dalam dunia seperti yang juga dihadapi
oleh Yesus selama masa pelayanannya di dunia? Setiap kelahiran anak
manusia mempunyai makna untuk orang tua supaya anak tersebut mampu
hidup dalam cara Allah. Cara Allah menyatakan keadilan dan perdamaian
seperti yang diwahyukan baik dalam Alkitab dan Alquran mendorong bangsa
Indonesia untuk membangun tanggungjawab bersama.



Masyarakat Indonesia hidup dalam berbagai budaya dan agama yang
beragam. Cinta kasih Allah yang melebihi pengotakan yang dilakukan oleh
manusia karena hubungan darah dan agama, kiranya memberikan inspirasi
kepada kita semua sebagai sesama warga negara membangun persaudaraan
sejati. Sehingga kita membangun negara tanpa pandang bulu siapakah
agama, adat, suku dan ras. Kesamaan dalam perjuangan keadilan dan
perdamaian yang menjadi napas dari Islam, Kristen, Hindu, Budhis,
Kongfucu di Indonesia menjadi inspirasi bagi umat dan kehidupan bersama
sebagai warganegara yang sejajar di mata sang Pencipta. Inilah berita
sukacita penyelamatan dan pembaharuan kehidupan manusia sebagaimana
yang dipercayai dalam tradisi Kristiani.

Saya menyampaikan selamat Natal kepada saudari/a Kristiani yang saya
kasihi. Selamat Natal 2009. Kepada saudari/a non Kristiani yang saya
cintai selamat memasuki Tahun Baru 2010. Selamat Tahun Baru 2010.
Imanuel, Tuhan bersama kita semua, inilah iman yang menguatkan hidup
kita. Kita tidak pernah sendirian, tetapi berjalan dalam kerendahan
hati, keadilan dan perdamaian dengan Allah menuju hari dan masa depan
bersama. Amin.


*Farsijana Adeney-Risakotta, aktivis akar rumput, teolog dan antropolog, sedang menjadi tamu  pada Pusat Studi Islam di Graduate Theological Union, Berkeley, California, USA. Artikel ini ditulis dan dipublikasikan oleh Spiritual Indonesia Online yang diambil dari catatan saya didistribusikan dalam jaringan maya pada tanggal 24 Desember 2009. Sekarang saya ingin posting artikel ini di blog dalam bahasa Inggeris
http://farsijanaforpizza.blogspot.com  dan blog dalam bahasa Indonesia http://farsijanaindonesiauntuksemua.blogspot.com

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar