Bagian I: Selamat
jalan Nelson Mandela, Bapak Pelangi Manusia
Oleh Farsijana Adeney-Risakotta
Dunia masih bergabung. Bumi menangis tetapi juga bersyukur menerima
kembali seorang yang pernah menguatkan sesama manusia, mengembalikan hak bangsanya, dan orang-orang
di seluruh dunia untuk hak sebagai warganegara yang setara. Pembebasan dari ketertindasan bukanlah
imajinasi, tetapi perjuangan yang harus dilakukan tanpa ketakutan karena
keberpihakan Sang Pencipta bersamanya. Dilahirkan dari suku Thembu di Umtatu
bagian dari Propinsi Cape di Afrika Selatan, Nelson Mandela, mulai memasuki
Yohanesburg, ibu kota Afrika Selatan untuk memulai perlawanan terhadap politik
diskriminasi yang sudah diterapkan sejak jaman penjajahan Belanda. Belanda
membagi penduduk di Afrika Selatan atas beberapa kelompok, yaitu orang Eropa, berwarna, India dan Afrika. Orang berkulit berwarna adalah penduduk yang
datang dari berbagai dari di Eropa yang berdarah campuran. Sebelum menjadi
pejuang gerakan swadeshi di
India, Mohadma Gandhi tinggal di Afrika Selatan
selama 21 dan melakukan gerakan hak-hak sipil di sana. Awal kariernya dimulai sebagai
seorang lawyer ketika diundang oleh
pedagang India muslim yang kaya, untuk membela pedagang-pedagang muslim
India terhadap kebijakan Inggeris yang diskriminatif.
Mandela sangat terpesona terhadap kedinamisan berbagai
kelompok sosial yang ada di Afrika Selatan ketika ia mulai menginjaki kakinya
untuk belajar di Universitas of South Africa.
Pada tahun 1943, ketika Mandela berumur 26 tahun ia adalah satu-satunya mahasiswa
berkulit hitam yang berani berkuliah hukum di universitas swasta Witwatersrand. Sementara perkuliahannya berlangsung, politik
apartheid mulai diterapkan pada tahun 1948. Politik Apartheid diterapkan oleh kelompok
minoritas, kelompok putih keturunan Belanda yang berbahasa Afrikaans. Berbeda
dari politik diskriminasi yang dipraktekkan pada jaman Belanda, politik
Apartheid menghilangkan menerapkan pemisahan pendudukan berdasarkan klasifikasi
warna kulit. Pembatasan wilayah sosial dan publik dilakukan menurut klasifikasi
kependudukan.
Pada tahun 1966, PBB mengeluarkan resolusi nomor 2145 untuk menghapuskan politik
Apartheid. Tetapi pada tahun 1970,
pemerintah Afrika Selatan memperluas penerapan politik Apartheid dengan
terutama mencabut hak kewarganegaraan dari komunitas berkulit hitam.
Pelayanan-pelayanan publik dan sosial yang dulu disalurkan oleh negara secara
terbatas pada wilayah masing-masing warga menurut klasifikasi penduduknya dihentikan. Representasi politik dari komunitas berkulit
hitam dalam parlemen yang diatur secara hukum dicabut. Warga kulit hitam harus menjadi salah satu
dari pemerintahan sendiri menurut sepuluh suku yang ada. Pemerintahan
berdasarkan daerah sukunya disebut bantustans.
Nelson Mandela yang sudah lebih dulu belajar hukum mulai
terlibat dengan gerakan rakyat untuk mengembalikan hak-hak kewarganegaraan komunitas berkulit
hitam. Suku-suku inilah tuan tanah yang kemudian disingkirkan oleh kelompok
minoritas yang menggunakan kebijakan politik dan kekuatan ekonomi untuk
menghapuskan hak-hak penduduk asli Afrika Selatan. Mandela mulai mengorganisir
warga berkulit putih ketika bergabung bersama African National Congress (ANC)
yang sudah dikenalkan sejak ia mulai pindah ke Yohanessburg. Karena
keterlibatannya dengan perjuangan untuk mengembalikan hak-hak orang Afrika,
pemerintah Afrika Selatan menjebloskan Nelson Mandela dalam penjara selama 27
tahun, berpindah di tiga tempat yang berbeda. Sebelum resolusi PBB menghapuskan
politik Apartheid, Mandela sudah dijeblos ke dalam penjara lebih dulu setahun
sebelum saya lahir, yaitu pada tahun 1964.
Dua pejuang gerakan masyarakat sipil, Gandhi dan Mandela
lahir karena struktur politik yang tidak adil di Afrika Selatan. Tetapi gerakan
perlawanan masyarakat makin kuat sebenarnya pada tahun 1974 ketika Afrikaan
Medium Decree diterapkan. Dekrit ini mengharuskan semua pelayanan publik harus
menggunakan bahasa Afrikaans. Sebelumnya
bahasa nasional adalah Inggeris. Kemudian pada tahun yang sama, tanggal 16 Juni
seorang siswa bernama Hector Pieterson
ditembak oleh polisi berkulit putih. Penembakan ini membangkit dan menyatukan
seluruh rakyat Afrika Selatan. Soweto menjadi daerah pertahanan yang digunakan
oleh orang Afrika untuk melakukan perlawanan terhadap penindasan yang mereka
alami.
Soweto
Sejak muncul Soweta Uprising, pembunuhan kepada masyarakat
dilakukan dengan sangat bengis. Saya
belajar tentang kekejaman apartheid yang sebenarnya bukan hanya terkait dengan
struktur politik tetapi juga upaya untuk membunuh karakter dan mental dari
masyarakat yang melawan penguasa. Kemenangan Nelson Mandela adalah karena
harapannya terhadap keyakinan dari hak-hak kehidupan yang diberikan Tuhan
kepada seluruh umat manusia melalui perjuangan untuk mengembalikannya. Sejarah yang diwarisnya telah membentuk
struktur politik yang tidak adil dipelihara selama berabad-abad. Ketika Mandela mulai dilepaskan dari penjara
karena tekanan masyarakat internasional, komunitas Afrika di sekitarnya sudah
menjadi negara berdaulat yang secara bersama melalui Pan Afrika mendukung
perjuangan Afrika untuk membebaskan Afrika Selatan dari politik Apertheid. Kekuatan
politik, sumber daya manusia dan kapital dari warga Afrika di Afrika Selatan
masih belum berimbang, tetapi dunia seluruh untuk siap mendukung perubahan yang
harus terjadi di Afrika Selatan. Tanggal 11
Februari 1990, Nelson Mandela menggandengkan tangan isterinya, Winnie
Madikizela meninggalkan penjara Victor Verster Prison. Kemudian tahun 1994,
Mandela terpilih sebagai Presiden Afrika pertama di Afrika Selatan.
Saya mengunjungi rumah Mandela dan Winni di
Soweta pada tahun 2007 ketika menghadiri general assembly dari EATWOT
(Ecumenical Association of Third World of Theologians). Soweta masih menyimpan
sisa pertahanan masyarakat sipil Afrika Selatan yang memberikan inspirasi
kepada saya untuk terus bekerja memperjuangkan hak-hak sipil dari orang-orang
yang dipinggirkan oleh negara. Dalam
perjalanan ke Las Vegas, Pdt. James Campbell dari Presbyterian Church membawa
kami mengunjungi United World College of American West di Montezuma, New Mexico
di mana kami bertemu beberapa mahasiswa
dari Indonesia. Di sana saya bertemu lagi dengan Nelson Mandela. Saya menyentuh seluruh wajahnya pada patung
dada yang berdiri gagah menghadap rumah antar iman yang mengalirkan warna-warna
pelangi dari refleksi kaca yang masuk di dalamnya. Manusia seperti pelangi,
yang berwarna-warni. Mata Nelson Mandela memandang bersahaja pada rumah pelangi
iman karena ia tahu bahwa dalam imannya kepada Allah perjuangannya bisa
mengembalikan hak-hak warga Afrika dan sekaligus menegakkan keadilan menurut
hukum rekonsiliasi dan kebenaran yang memungkinkan kekerasan bisa dihentikan
untuk memulai kehidupan baru. Selamat jalan bapak pelangi manusia! Good bye
baba yangu upinde wa mvua!
Patung Dada Nelson Mandela di United World College
Bagian II: Nelson Mandela dan Komisi Kebenaran & Rekonsiliasi untuk Indonesia, khususnya Papua
http://farsijanaindonesiauntuksemua.blogspot.com/2013/12/nelson-mandela-dan-komisi-kebenaran.html
III: Pengakuan Pemerintah Indonesia, Relevansi Komisi Kebenaran dan Rekosiliasi bagi Pelanggaran HAM di Papua
http://farsijanaindonesiauntuksemua.blogspot.com/2013/12/pengakuan-pemerintah-indonesia-dan.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar