Translate

Rabu, 25 Juni 2014

Indonesia Memilih Presiden dan Wakil Presiden 2014-2019. Mempertanggungjawabkan pilihan politik warganegara!


Indonesia Memilih Presiden dan Wakil Presiden 2014-2019

Mempertanggungjawabkan pilihan politik warganegara!

Oleh Farsijana Adeney-Risakotta

 

Saat ini Indonesia berada dalam sorotan dunia. Kampanye calon presiden dan calon wakil presiden RI dibuka oleh Komisi Pemilihan Umum pada tanggal 4 Juni 2014 sampai dengan tanggal 5 Juli 2014 ternyata tidak saja dilakukan oleh tim kampanye dari masing-masing calon, tetapi dibahas secara mendalam oleh masyarakat.  Ada dua calon presiden dan calon wakil presiden yang saat ini sedang melakukan kampanye untuk mempertanggungjawabkan visi dan misi mereka sehingga rakyat bisa mengerti dan membuat keputusan untuk memilih pada tanggal 9 Juli 2014. Mereka adalah pasangan Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa sebagai nomor urut 1 sebagai calon presiden dan calon wakil presiden yang bertarung dengan Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla sebagai calon presiden dan calon wakil presiden dengan nomor urut 2.

Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2014 memang berbeda dengan pemilihan-pemilihan presiden dan wakil presiden sebelumnya.  Bahkan kemeriahan masa kampanye presiden dan wakil presiden lebih meriah dari pertandingan World Cup yang juga sedang berlangsung dan bisa dinikmati oleh seluruh dunia termasuk di Indonesia. Daya tarik kampanye calon presiden dan wakil presiden RI periode 2014-2019 sangat besar karena warganegara Indonesia di mana-mana sekarang ini bisa dihubungkan dengan dunia maya. Teknologi jaringan memungkinkan transparansi, akuntabiltas dan mendorong proses demokrasi berjalan bersih karena setiap orang bisa mendorong terjadikan pengecekan, klarifikasi dan pelurusan sebagai bagian dari cara pendidikan politik pada masyarakat.

Warganegara Indonesia tidak bisa tinggal diam untuk menyerahkan hak memilih dikelola oleh opini yang dibuat oleh media tentang capres dan cawapres yang pantas untuk Indonesia.  Saat ini banyak situs di dunia maya yang mempublikasikan hasil survey dari capres dan cawapres baik yang mengunggulkan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa (Nomor 1) maupun Jokowi-Jusuf Kalla (nomor 2). Warga masyarakat tidak buta tentang hasil-hasil polling dan survey tersebut, karena hak pemilihan ada pada masing-masing warganegara sebagai pemilih yang menggunakan kesempatan kampanye sekarang ini sebagai wadah pendidikan politik untuk mengerti kearah mana Indonesia akan dibawa oleh calon presiden dan wakil presiden RI yang akan dipilihnya.

Banyak orang meragukan kebebasan masyarakat untuk memilih karena adanya politik uang, politik balas jasa terhadap tokoh-tokoh yang secara tidak langsung berhubungan dengan calon presiden dan calon wakil presiden RI.  Pemilihan calon presiden dan wakil presiden yang dilakukan berdasarkan asas langsung, umum, bebas dan rahasia seolah-olah memberikan kesan bahwa seorang pemilih harus disetrilkan untuk bisa membuat keputusan politik yang paling tepat. Dalam mendorong partisipasi politik, ide sterilisasi masyarakat untuk hanya mendengar dari satu calon kubu sebenarnya tidak mendorong adanya diskusi terbuka dalam masyarakat.  Untuk itulah, debat presiden RI yang dicanangkan oleh Komisi Pemilihan Umum sehingga pelaksanaannya dilakukan lima kali dimulai dari tanggal 9, 15, 22, 29 Juni dan 5 Juli 2014 adalah cara demokrasi untuk memberikan kesempatan kepada warganegara mengalami pendidikan politik.  Debat Presiden adalah salah satu alat kampanye yang menyajikan panggung terbuka di mana ide-ide dan praktek dari  masing-masing calon didiskusikan secara terbuka. Bahkan Prof. Jeffrey Winters menyatakan kekagetannya karena dalam debat presiden yang ditayangkan melalui Televisi, masing-masing kandidat diberikan kesempatan untuk saling bertanya.  Kekagetannya didasarkan pada pengalaman di Amerika Serikat yang sangat berbeda karena tidak ada sesi tanya jawab yang diberikan kpeada masing-masing kandidat untuk mendalami pikirannya sendiri melalui pertanyaan dari lawan politikusnya. Debat Presiden ini kemudian diteruskan oleh warga masing-masing dengan menggunakan ruang publik yang ada seperti Facebook untuk mendiskusikan lebih lanjut pikiran-pikiran yang disampaikan dalam oleh calon presiden dan calon wakil presiden masing-masing.

Diskusi-diskusi di kalangan internalnya masing-masing inilah yang paling menarik untuk dicermati.  Cara diskusi yang menarik dengan menulis pernyataan pada status ternyata tidak sekedar kata-kata kosong. Tulisan-tulisan di Facebook sebagai status adalah hasil dari proses analisa tentang apa yang sedang terjadi dalam masyarakat dan bagaimana diri sendiri menanggapinya. Argumentasi dibangun dari pembacaan berita-berita yang datang sangat cepat untuk menguji setiap kejadian dan pernyataan yang sedang terjadi dalam masyarakat terkait dengan apa yang disebut, apa yang dilakukan, media apa yang dipakai oleh calon presiden dan calon wakil presiden dalam mempertanggungjawabkan perkataan dan perbuatan-perbuatan mereka pada masa lalu, sekarang dan akan datang. Kampanye presiden dan wakil presiden 2014 membuat warganegara biasapun terlibat untuk mengerti apa yang sedang terjadi dengan Indonesia saat ini. Mereka tidak mau melepaskan Indonesia ditentukan oleh para elite politik, media massa dan lembaga-lembaga survey, karena mereka mencari semua berita-berita dan mengujinya dengan sangat cerdas.

Saya menulis saat ini karena  ingin menegaskan kepada tim sukses dari masing-masing kubu, bahwa kampanye hitam, kampanye jelek tidak berguna. Meluruskan kampanye hitam dan jelek bisa dilakukan oleh masing-masing kubu dengan mengklarifikasikan kepada publik. Apabila terlihat bahwa ada pelanggaran termasuk pencemaran nama baik yang berlebihan, maka kubu yang mencemarkan bisa melaporkan kepada Bawaslu. Kampanye yang paling efektif adalah apabila warga masyarakat didorong untuk berpikir kritis termasuk juga melakukan dialog dengan warga yang lain tentang visi, misi dan program-program yang akan dilakukan oleh calon presiden dan calon wakil presiden. Media sosial seperti Facebook telah memungkinkan warga masyarakat untuk berdiskusi tentang alasan-alasan mengapa mereka mendukung calon presiden dan calon wakil presiden tertentu.

Setiap warganegara akhirnya harus membuat keputusan tentang siapa calon presiden dan calon wakil presiden yang didukungnya.  Keputusan untuk membahasnya pada status di Facebook adalah bagian dari pertanggungjawabannya terhadap masa depan Indonesia.  Rumusan langsung, umum, bebas, dan rahasia harus dimengerti secara benar, bahwa proses rahasia pada saat pemungutan suara perlu dijaminkan untuk menjaga validalitas suara pemilih pada saat mencoblos. Tetapi proses mendialogkan, mendiskusikan pandangan-pandangan sepasang kandidat presiden dan wakil presiden tidak harus dilihat sebagai suatu kerahasiaan.  Mengungkapkannya adalah bagian dari kedewasaan pendidikan politik untuk mempersiapkan seorang warga negara melakukan pemilihan resmi pada tanggal 9 Juli 2014. Karena itulah, jadilah diri sendiri untuk setiap warganegara  Indonesia sehingga memilih calon presiden dan wakil presiden RI periode 2014-2019 tanpa rasa takut, beradab, mengedepankan perdamaian  dan dilakukan berdasarkan hati nurani yang Pancasilais.

Rabu, 18 Juni 2014

Jakarta berikanlah Jokowi kepada Indonesia! Mengkritisi Ahok: Logika SARA Menyesatkan!


Jakarta berikanlah Jokowi kepada Indonesia!

Mengkritisi Ahok: Logika SARA Menyesatkan!

Oleh Farsijana Adeney-Risakotta

 

Masih segar dalam diri saya merasakan getaran pemilukada (pemilihan kepala daerah) di Jakarta tanggal 20 September 2012. Saya pernah menulis untuk "Indonesiaku Indonesiamu Indonesia untuk semua", pemilukada tersebut seolah menghadirkan kesejukan demokrasi yang sudah lama mati. Pemilukada Jakarta membawa kembali harapan kepada demokrasi di Indonesia. Ketika itu, ekskalasi isu SARA menjulang tinggi.  SARA kepanjangan dari Suku, Agama, Ras dan antar golong. Jokowi seorang muslim menggandeng seorang nasrani. Masyarakat tidak dikacaukan hatinya, tidak dibuatkan bimbang karena PDIP bergandengan dengan Gerinda, melawan Fauzi Bowo dan Nara yang didukung oleh partai Demokrat dan partai-partai lainnya yang oleh tokoh partai Demokrat dikatakan didukung semua partai (Republika, 21 Juli 2012). Ketika itu, SARA menjadi bom waktu untuk menghancurkan cagub dan cawagub yang diusung oleh hanya partai PDIP dan Gerinda. Sekalipun isu SARA gencar menghantam pemilihan gubernur dan wakil gubernur, malahan Jokowi yang menggandeng Ahok seorang Kristen ternyatalah yang dipilih oleh warga Jakarta.

 

Dihantam badai SARA menyebabkan Jokowi sebagai Kepala Daerah terpilih, gubernur sah meneruskan pendidikan politik untuk mendidik warga Jakarta sebagai masyarakat Pancasila yang menjadi cita-cita bersama di Indonesia. Ketika Lurah Susan Jasmine Zulkifli terpilih menjadi kepala daerah di desa Lenteng Agung, beliau ditolak masyarakat karena alasannya seorang Kristiani. Dialog yang digagaskan Jokowi dengan masyarakat telah mengubah persepsi mereka sehingga akhirnya menerima ibu Susan sebagai Lurah di Lenteng Agung.

Tadi malam kami mendiskusikannya di  timeline saya di Facebook. Saya senang mengangkat kemajuan pluralisme yang sedang mengubah Jakarta tetapi kemudian juga sekarang sedang dihancurkan oleh politik minoritas yang menggunakan isu SARA  baik oleh Ahok,sebagai pejabat sementara Gubernur Jakarta maupun Prabowo Subianto, yang menjadi calon presiden.  Pemberitaan Tempo mengagetkan saya yang sedang jauh dari tanah air. Tempo tgl 17 Juni 2014 menuliskan artkel dengan judul "Elektabilitas Jokowi Turun di DKI, Ini Kata Ahok", dipublikasikan bertepatan dengan tersebarnya spanduk-spanduk yang menulis: “Jokowi tetap Gubernur, Pilih Nomor 1” seperti diberitakan oleh Detikcom dan media elektronik lainnya.

Saya katakan kepada masyarakat dunia maya, bahwa politik minoritas yang dimainkan oleh Ahok menunjukkan kemunduran Jakarta, karena pencapaiannya sudah lebih maju dengan kasus Lurah Susan. Ahok sendiri terlibat dalam kebijakan gubernur Jokowi untuk penempatan pejabat sebagai pelayan publik tidak berdasarkan agama, ras, tetapi kapasitasnya (right person in the right place).  Ahok menggunakan keminoritasnya untuk mendukung kepentingan partainya, Gerinda, yang mencalonkan Prabowo Subianto menjadi presiden RI.  Jadi sebenarnya Ahok sedang menghancurkan cita-cita Pancasila karena lebih melayani kepentingan partainya daripada keIndonesiaan yang katanya diperjuangkan oleh partainya sendiri.

Spanduk-spanduk ini yang diserbarkan dengan sekaligus didukung oleh "masyarakat" Jakarta adalah bentuk dari kampanye hitam. Mengapa spanduk-spanduk ini baru muncul sekarang sesudah Debat Presiden kedua tanggal 15 Juni 2014? Mengapa ia tidak muncul ketika pejabat dari Kementerian Dalam Negeri bertemu Jokowi di rumah dinas gubernur untuk menyerahkan Keppres yang ditandatangani oleh Presiden SBY tentang pemberhentian sementara Jokowi sebagai gubernur DKI Jakarta sampai pengumuman resmi dikeluarkan oleh Komite Pemilihan Umum tentang pejabat Presiden dan Wakil Presiden. Keppress yang ditandatangani tanggal 31 Mei disampaikan langsung kepada Jokowi tanggal 1 Juni 2014.

Dengan melihat kronologis pemberhentian sementara Jokowi sebagai gubernur Jakarta, sangat jelas kepada saya, bahwa pejabat gubernur Jakarta, Ahok sebagai pejabat negara sedang bermain-main dengan isu SARA  yang bertujuan untuk kepentingannya sendiri dan sekaligus memecahkan keindonesiaan yang sudah dibangunnya sendiri dengan gubernur Jokowi. Ini adalah bentuk kampanye hitam karena mencantumkan kata gubernur untuk Jokowi padahal sekarang ini yang menjadi gubernur adalah Ahok. Sebagai seorang penjaga Indonesia dari upaya oknom yang sengaja menggunakan SARA untuk memecahkan bangsa, saya mohon Bawaslu menindak dan menurunkan spanduk-spanduk tersebut.

Bulan madu PDIP- Gerinda seolah-olah sudah berakhir. Pencalonan Jokowi , gubernur Jakarta sebagai calon presiden  RI periode 2014-2019 yang diusung oleh PDIP, Nasdem, Hanura, PKB ternyata harus memisahkan Jokowi dari pasangan wakil gubernurnya, Ahok yang didukung oleh Gerinda. Pencalonan Jokowi sebagai calon presiden yang berpasangan dengan Jusuf Kalla sebagai calon wakil presiden harus berhadapan dengan Prabowo Subianto sebagai calon presiden dan Hatta Rajasa sebagai calon wakil presiden diusung oleh partai Gerinda dengan mendapat dukungan dari Partai Golkar, PPP, PAN, PKS, PBB. Untuk melakukan masa kampanye, Jokowi harus melakukan cuti dan telah mendapat surat pemberhentian sementara seperti yang sudah dijelaskan di atas.

Jadi Indonesia sedang dalam sorotan dunia saat ini.  Pemilu presiden dan wakil presiden untuk periode 2014-2019 akan dilaksanakan pada tanggal 9 Juli 2014. Sejak tanggal 4 Juni sampai dengan tanggal 5 Juli 2014, kedua kubu calon presiden dan wakil presiden sedang melakukan kampanye untuk menjelaskan kepada warga masyarakat tentang visi dan misi dari masing-masing untuk bisa didukung oleh warga masyarakat di seluruh Indonesia.  Jalannya kampanye seru. Masing-masing kubu harus bertemu dengan konstituennya di seluruh Indonesia. Selama masa kampanye Komite Pemilihan Umum menetapkan 5 kali penyelenggaraan debat presiden.  

Tetapi kampanye dengan menggunakan isu SARA menunjukkan warga Indonesia belum matang dalam berdemokrasi.  Ahok sebagai pejabat Gubernur Jakarta pantas mendapat teguran dari Bawaslu karena dalam UU Pemilu sebagai pejabat negara dilarang melakukan kampanye. Ahok ketika memberikan pernyataan di Tempo bukan dalam kapasitas sebagai seorang anggota Gerinda, tetapi adalah pejabat untuk melayani seluruh masyarakat Jakarta.  Penyataan itu bersifat kampanye terselubung yang harus mendapat teguran dari Bawaslu.  Kalau Ahok mau berkampanye harus mundur dari pejabat gubernur sebagaimana diatur dalam UU Pemilu yang telah dilakukan oleh Jokowi. Karena itu sangat penting rakyat Indonesia mengerti tentang politik yang bertujuan untuk melayani bangsa dan negara bukan untuk memecah belahkan rakyat.

Sekalipun elektibalitas Jokowi menurun seperti dikatakan oleh Ahok,  tetapi menurut saya, Indonesia bukan hanya Jakarta.  Indonesia ada pada 32 propinsi lainnya yang hak perhitungan suaranya sama karena tidak menggunakan sistem elektoral seperti di Amerika Serikat. Jadi seharusnya Jakarta melepaskan Jokowi untuk Indonesia.

 Indonesia membutuhkan Jokowi  untuk membangun bangsa dan negara ke jalan yang benar bukan sekedar demi kekuasaan dan kerakusan para politikus. Pencalonan Jokowi adalah kehendak rakyat bukan sekedar pilihan Megawati Soekarnoputri. Jakarta tidak bisa menahan Indonesia untuk mendapatkan puteranya yang terbaik memimpinnya.  Bukankah Gerinda kecewa karena PDI-P tidak mendukung Prabowo Subianto menjadi capres? Jadi sekarang jelas, politik SARA dimain-mainkan untuk memenangkan Prabowo Subianto yang baru saja mengomentari tentang orang-orang Indonesia Timur cocok jadi tentara? Tentang ini saya akan bahas pada tulisan terpisah, tetapi kedua pemimpin ini, baik Ahok dan Prabowo Subianto bermain-main dengan SARA untuk memecahkan bangsa pantas dipertanyakan sekarang. Apakah mereka pantas menjadi pelayanan publik bagi masyarakat di Jakarta dan di Indonesia?

Selasa, 20 Mei 2014

Menutup tanggal 20 Mei 2014, Mengelitik tanggungjawab Prabowo Subianto!





Menutup tanggal 20 Mei 2014, Mengelitik tanggungjawab Prabowo Subianto!


Oleh Farsijana Adeney-Risakotta


 


Terang dibalik pohon-pohon yang menghitam. Malam sudah datang sekalipun kegelapan jatuh dari langit baru sekitar jam 8.30. Hati saya gelisah. Sudah lama saya ngak menulis untuk blog Indonesiaku Indonesiamu Indonesia untuk semua. Tulisan yang sama bisa juga dibaca dalam bahasa Inggeris pada blog PIZZA. Tapi hanya malam ini saya kembali menarikan jemari di atas tuts. Dulu saya pikir kata-kata saya akan kering karena proses verbalisasi seni dilakukan dalam bentuk patung dan melukis yang mengambil seluruh tenaga saya. Saya untuk beberapa bulan ini sedang mengerjakan karya seni dengan tema Papua. Sebenarnya saya berbagi dalam bentuk komentar pada status saya di FB tentang kerja-kerja seni ini, tetapi akan lebih indah apabila saya menulis sebagai suatu bagian yang terintegrasi. 


Hanya malam ini kegelisahan yang sangat mendalam menyungkirbalikan asumsi saya tentang otak kiri yang sedang mengendalikan proses kreatifitas diri. Mungkin batas antara otak kiri dan kanan menjadi tipis ketika saya tahu karya seni hanyalah alat menyuarakan keprihatinan. Kegelisahan saya adalah keprihatinan. Tepat! Kegaluhan seperti malam yang datang merebut terang. Biarkanlah saya menikmati lamanya siang yang mulai lebih panjang pada musim semi daripada musim dingin.


 Malam pekat mengintai di luar. Saya membiarkan angin segar menyusup dari bawah jendela tetapi mempersilahkan malam tinggal di luar. Malam berjaga-jaga bersama bunga-bunga putih mungil yang dalam bahasa Jerman disebut “meiglockchen”. Seorang sahabat saya, Aurita yang tinggal di Jerman beberapa hari lalu membagikan cerita keluarga tentang meiglockchen. Sekarang keharuman meiglockchen masuk bersama udara segar ke dalam rumah. Tiga potong “meiglockchen” sudah lebih dulu ada dalam vas bunga di atas meja makan. Saya memetik dan menghiasinya untuk makan malam kami. Tapi bukan karena “meiglockchen” saya menulis sekarang.  Mengapa di tengah harum wangi saya mencium bunga bangkai? Ada apa dengan keharuman itu sendiri?


Hari ini tanggal 20 Mei 2014. Di Indonesia, sudah tanggal 21 Mei, tetapi masih beberapa jam lagi sebelum tanggal 20 Mei mundur berganti tanggal 21. Apa yang dilakukan oleh saudara-saudari saya di Indonesia untuk merayakan tanggal istimewa, 106 tahun hari Kebangkitan Nasional  dan 16 tahun hari Gerakan Reformasi.?  Hari ini, tanggal 20 orang-orang bisa merenungkan tentang apa yang sedang terjadi 16 tahun  lalu tetapi dengan sangat ironis kita juga melihat sendiri, bahwa Prabowo Subianto yang membunuh rakyat dalam gerakan Reformasi pada bulan yang sama, 16 tahun kemudian sedang menguatkan langkahnya ke Istana Negara.  Kita tergetar melihat ambisi Prabowo Subianto untuk menjadi presiden Indonesia.   Padahal 16 tahun lalu Prabowo Subianto adalah Pangkostrad yang bertanggungjawab untuk kekerasan yang terjadi di Jakarta. Pemerkosaan perempuan-perempuan Tionghoa, penembakan mahasiswa Trisakti, yang sebelumnya diikuti dengan kasus penculikan mahasiswa-mahasiswi.  


Kompas tanggal  18 Desember 2012 menuliskan tentang pengakuan Prabowo yang menyesal tidak melakukan kudeta kepada presiden Habibie. Perkataan Prabowo dibenarkan oleh Habibie, yang menggambarkan bahwa adanya pergerakan TNI AD masuk ke arah Kuningan dan menuju Istana Negara. Dalam buku Detik-Detik yang menentukan  karya BJ Habibie (2003), Wiranto dikatakan melaporkan tentang masukannya pasukan ke Istana Negara.  Habibie kemudian melakukan pertemuan tanggal 22 Mei 1998 di Istana Negara  bersama Prabowo. Dalam pertemuan itu, Habibie menuturkan argumentasinya untuk memecat Prabowo sebagai Pangkonstrad karena dianggap menggerakkan pasukan AD untuk memasuki daerah yang bukan kewenangannya.  


Jadi kegelisahan saya sebenarnya terkait dengan nasib Indonesia yang sedang termabuk karena membiarkan seorang mantan  pelanggaran HAM untuk menjadi Presiden Indonesia.  Jakarta Post pernah memuat tulisan Aboeprijadi Santoso yang dalam kunjungannya ke desa Kraras kira-kira 300 meter dari kota Dili di Timor Leste, dimana terjadi pembunuhan masal kepada masyarakat sipil tak bersenjata atas perintah presiden Soeharto,  yang didukung oleh pejabat-pejabat teras AD yaitu Benny Moerdani, Wiranto, Kiki Syahnakri dan Prabowo.  Tetapi Prabowo dengan pasukannya Chandraka 8 yang melakukan pembasmian kepada 287 orang pada tanggal 17 September  1983.  Pembunuhan masal ini dianggap tindakan yang benar karena Indonesia merendam gerakan masyarakat Timor Leste untuk menentukan nasib sendiri terpisah dari Indonesia.  Terlampir tulisan Aboeprijadi Santoso di Jakarta Post.


Dalam tulisan yang sama di Kompas, tanggal 18 Desember 2012 dijelaskan bahwa Prabowo menerima pemecatan dari Habibie karena mengerti Presiden pegang kekuasaan tertinggi atas angkatan perang. Menjadi Presiden adalah langkah terakhir Prabowo Subianto untuk memperoleh kekuasaan tertinggi termasuk angkatan perang. Sejarah pelanggaran HAM yang terjadi dalam perang antara Indonesia dan Timor Leste  hampir dilupakan oleh masyarakat Indonesia.  Tetapi  dalam sejarah perang Timor Leste, masyarakat biasa masih terus mengingatnya. Hal yang sama juga terjadi dengan sejarah Gerakan Reformasi yang berusia 16 tahun. Rakyat tidak melupakan Prabowo Subianto karena  turut bertanggungjawab terhadap kekerasan militer yang terjadi kepada masyarakat sipil.. Kekerasan yang terjadi di seantero Indonesia, ada hubungan dengan konspirasi para elite yang bermain-main dengan isu SARA untuk meremukkan warganya sendiri.  Siapakah yang harus bertanggungjawab! Jelas, ia adalah Prabowo Subianto.


Saya menulis kegelisahan ini karena yakin bahwa setiap orang Indonesia punya hati nurani untuk menolak kekerasan yang dilakukan atas nama negara terhadap warga biasa.  Kekerasan negara dipandang dari segi kepentingan negara dianggap sebagai penertiban sehingga kehidupan rakyat tersia-siakan. Tetapi saya juga percaya, rakyat semakin dewasa dan tanpa takut berupaya untuk mengerti apa yang sedang terjadi dengan bangsanya. Tulisan ini adalah antidote untuk membantu kita semua sadar dari keracunan yang ikut termakan tanpa disengaja.  Menulis antidote bertujuan untuk mendorong rakyat sendiri untuk menggunakan hatinuraninya dalam memilih kandidat presiden RI. Salah pilih presiden, berarti warga mengizinkan seorang seperti Prabowo Subianto melakukan revisi sejarah tanpa mengakui kebenaran tentang apa yang pernah dilakukannya kepada bangsa dan masyarakatnya. 

Rabu, 19 Februari 2014

Ucapan belasungkawa dan dukungan terhadap tuntutan Dewan Adat Paniai


 Ucapan belasungkawa dan dukungan terhadap tuntutan Dewan Adat Paniai
 Oleh Farsijana Adeney-Risakotta


Petisi Warganegara NKRI untuk Papua

Menyampaikan ucapan belasungkawa kepada Dewan Adat dan warga masyarakat di Paniai atas kematian yang tragis terhadap seorang warganegara NKRI bernama  Yulianus Yeimo. Tubuhnya ditemukan meninggal di dalam sungai Bontai, kampung Dagouto, Distrik Paniai Timur. Diduga ia dibunuh kemudian jazadnya dibuang ke sungai. Luka-luka ditemukan di bagian hidung, dada, muka dan goresan di beberapa tempat di dada. Alasan pembunuhan tidak jelas tetapi diduga dibunuh oleh OTK (Orang Tidak Dikenal). Pada tanggal 18 Agustus 2012, Yulianus Yeimo disiksa oleh Aparat TNI karena dituduh merobek bendera Merah Putih. Menurut berita yang dirilis oleh Dewan Adat Paniai, Yulianus Yeimo sakit ingatan sejak tahun 2009. Kejadian perobekan bendera terjadi ketika ybs melewati lapangan dan memberikan hormat kepada bendera. Kemudian ybs menurunkan bendera dan merobeknya.

Atas kejadian tersebut Dewan Adat Paniai menyampaikan tiga tuntutan. Petisi Warganegara NKRI untuk Papua menulis tuntutan dari Dewan Adat Paniai.

Tuntutan kami adalah:

  1. Kapolda Papua dan PANGDAM XVI Bumi Cendrawasih agar segera memerintah Kapolres Paniai dan DANDIM Paniai, untuk mengusut tuntas pelaku kekerasan terhadap Yulianus Yeimo;
  2. Kapolda Papua dan Pangdam XVI Bumi Cendrawasih agar menghentikan operasi militer dengan jalan patroli-patroli di Paniai, karena Paniai sudah aman dan terkendali.
  3. Kami meminta kepada Pangdam XVI Bumi Cendrawasih agar personil yang berlebihan di Paniai seperti  Kopasus, Paskhas, BIN, agar ditarik dari Paniai.

 

Dari penjelasan yang ditulis oleh Dewan Adat Paniai, Petisi Warganegara NKRI untuk Papua mendukung Dewan Adat Paniai untuk meminta perhatian dari pemerintah pusat di Jakarta maupun di tanah Papua untuk segera memberikan rasa aman kepada anggota masyarakat di tanah Papua.

Penegakan keamanan dan perdamaian di tanah Papua adalah hak orang asli Papua, terutama menjelang Pemilu 2014 yang tinggal diambang pintu.  Dukungan sesama warganegara untuk meminta pemerintah pusat dan daerah memberikan keamanan dengan mengurangi aparat TNI seperti yang disampaikan oleh Dewan Adat Paniai sangat diharapkan. Papua merupakan daerah operasi militer yang terlama di dua sesudah Palestina, karena itu dukungan warga dunia terhadap Papua sangat dibutuhkan.

Sementar itu, pengerebekan dan penembahan kepada orang asli Papua, warga sipil yang sedang beribadah di Gereja. Mereka ditembak oleh aparat TNI.  Kejadiannya di Gereja Indonesia di Indonesia  (GIDI) di jemaat Dodopaga,  dan jemaat Kulirik di Kabupaten Puncak Jaya.  Anggota Brimob dan Densus 88 mengepung warga gereja dan gereja dibakar. Pendeta disiksa dan ditikam dengan pisau sangkur.  Insiden ini menyebabkan dua korban bernama  Lurugwi Morib, yang adalah Kepala Desa setempat dan Pamit Wonda sebagai Pendeta Jemaat.

Petisi Warganegara NKRI untuk Papua mendesak pemerintah pusat dan daerah untuk menyelesaikan kasus-kasus kekerasan dan HAM yang ditetapkan dalam UU No.21 Tahun 2001 tentang pembentukan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi untuk segera mengakhiri konflik berkepanjangan yang diposisikan sebagai konflik antara negara dengan rakyat. Argumentasi  negara bahwa orang asli Papua ingin merdeka dari NKRI selalu dipergunakan sebagai legitimasi untuk melakukan pembunuhan dan pelenyapan warganegara NKRI.  Argumentasi ini harus dipertanyakan karena semakin banyak orang asli Papua yang dibunuh, dimasuk dalam penjara dan mengalami penyiksaan. Mengapa Indonesia mendiamkan dan menggunakan alasan tuntutan kemerdekaan Papua  untuk membunuh warganegaranya sendiri? Mengapa warga dunia diam? Mengapa PBB diam?

Petisi Warganegara NKRI untuk Papua meminta perhatian berbagai pihak untuk mengakhiri kebohongan publik yang sedang dijalankan oleh pemerintah RI terhadap orang asli Papua. Tegakkanlah UU No.21 Tahun 2001 pasal 42 tentang pembentukan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi untuk mengakhiri kekejaman negara beradab dan berdaulat terhadap warganegaranya sendiri.

Sumber berita:

Senin, 17 Februari 2014

Ngalor Ngilor Nongkrong di Facebook: Dari Advokasi, Amal dan Perubahan Bangsa melalui Pemilu 2014


Ngalor Ngilor Nongkrong di Facebook: Dari Advokasi, Amal dan Perubahan Bangsa melalui Pemilu 2014.

Oleh Farsijana Adeney-Risakotta

 

Sampai sekarang saya masih sulit duduk lama. Tulisan yang panjang belum banyak saya selesaikan. Potongan-potongan tulisan lebih membantu penyembuhan saya. Sambil berjalan atau tidur saya menyelesaikan potongan-potongan tulisan tersebut.  Kesembuhan sesudah kecelakaan mengubah cara kerja dan berdampak terhadap pengolahan aspirasi sahabat-sahabat di Indonesia. Saya seumpama seorang yang sedang menyelam dan bekerja di bawah laut. Di dalam lautan atau di atas awan, tidak penting bagi saya untuk bertanya di mana kabel-kabel jaringan komunikasi digital dibentangkan.  Manfaat yang luarbiasa sedang terjadi adalah membangun kerja-kerja antara negara, daerah, etnis, agama dan usia sedang mengubah cara berkomunikasi manusia saat ini.

Istilah yang digunakan untuk menyebut komunitas dunia maya membuka jalan untuk mengerti bentuk komunitas yang sangat berbeda dengan komunitas dalam real time. Komunitas dunia maya berinteraksi dengan bahasa tulisan, gambaran seperti foto atau lukisan dan suara dalam bentuk video.  Komunitas dunia maya melebihi istilah perkampungan.  Dalam real time, suatu kampung dipahami sebagai teritori yang proses memasukinya harus melalui berbagai tahap yang berlapis-lapis. Pada komunitas dunia maya, kampungnya sangat transparan. Interaksi bisa terjadi tanpa harus melewati proses pertemanan. Karena dalam satu jaringan ada berbagai sub jaringan lain yang akan terlibat dalam interaksi lebih luas atau tidak sama sekali.

Sejak tahun 2007 sesudah diundang oleh teman saya, Shawn Landers, baru sekarang dalam situasi saya mengalami proses penyembuhan dari kecelakaan, pemahaman yang sudah ada tentang komunitas dunia maya lebih dioptimalkan.  Facebook adalah hasil dari kolaborasi sahabat-sahabat Fulbright yang sampai sekarang masih saling menguatkan satu sama lain dalam kegiatan-kegiatan pemberdayaan masyarakat untuk saling memahami, kerja untuk keadilan dan perdamaian di dunia. Selain, Shawn Landers yang berada di California, Maureen di Scotland, Harun di Pakistan, Saheed di Afrika, telah memberikan inspirasi kepada saya untuk bekerja menguatkan komunitas akar rumput yang ada di Indonesia.

Kerja bersama anak, pemuda dan perempuan di Yogyakarta,  dengan meluaskan dukungan kepada sahabat-sahabat di luar Yogya, seperti di Maluku, Papua, Sumatera, Kalimatan dan Sulawesi telah melahirkan keterhubungan kerja melalui Facebook.  Keterhubungan dibentuk karena ada kerja nyata dalam komunitas di real time. Baru-baru ini, bersama dengan sahabat-sahabat dari Sumatera Utara, Papua, Jakarta, NTT, Yogyakarta, secara bersama-sama saling bahu membahu membangun dukungan untuk membantu pengungsi erupsi Sinabung. Dukungan komunitas sosial maya diorganiser melalui Page Lelang Amal untuk Pengungsi Sinabung yang pengelolanya adalah saya dan ibu Deva Alvina Br. Sebayang. Tetapi gerakan bantuan sosial dari komunitas sosial maya bisa mendapat dukungan dari berbagai pihak karena terbentuk sukarelawan-sukarelawan yang disebut HUB. HUB adalah orang-orang yang menjadi kunci dalam penyebaran berita tentang proses pengumpulan dana publik dari komunitas Dunia maya. Dengan kerja keras dari HUB, seperti mba Vensca Virginia Ginsel yang membawa jaringan Twitternya pada hari pertama Lelang Amal untuk Pengungsi Sinabung, telah menghasilkan dana sebesar Rp 11.000.000,-  Penambahan dana lain dilakukan melalui jaringan pertemanan dari berbagai sahabat yang berada di dalam Indonesia maupun di seluruh dunia.

Pada hari Jumat, tanggal 14 Februari 2014, dana bantuan tersebut yang langsung di kirim kepada bu Deva Alvina Br.Sebayang sudah diserahkan kepada para pengungsi yang berada di Batukarang dan . Jeruk di tanah Karo.  Pengumuman tentang donoratur dan proses penyerahan bantuan bisa dilihat langsung pada page Lelang Amal untuk Pengungsi Sinabung (http://www.facebook.com/pages/Lelang-Amal-Untuk-Pengungsi-Sinabung/241456166034803).

Sementara proses menolong pengungsi Sinabung dilakukan, letusan Kelud telah menyadarkan kita bersama tentang pentingnya warga masyarakat terlibat memperjuangan kepentingannya sendiri. Pengungsi Sinabung perlu mengerti tentang peta daerah bahaya dari kontur fisik gunung Sinabung.  Ketidakpengatahuannya berdampak terhadap kewaspadaan masyarakat terhadap gunung berapi yang dapat menyebabkan mereka cenderung takut. Padahal sebagai orang gunung, masyarakat hidup sehari-hari di gunung, diri mereka adalah bagian dari gunung. Gunung telah memberikan banyak berkat kepada masyarakat. Pengawalan dalam menguatkan pemahaman terhadap hak-haknya dilakukan dalam nongkrong-nongkrong di Facebook. Saya sangat bersyukur bisa bersama-sama dengan sahabat-sahabat di Indonesia melewati masa-masa kritis yang sedang dialami di tanah air.

Kelud sebagai suatu fenomena vulkanologi ternyata mengantarkan perluasan percakapan untuk memahami tindakan tafsir simbolik yang menjelaskan tentang penamaan Kelud. Kelud dalam bahasa Jawa berarti bebersih. Penamaannya dilakukan karena secara kenyataan ketika Kelud meletus, abunya juga menutupi seluruh pulau Jawa. Masyarakat bersusah payah membersihkan daerahnya masing-masing.

Kelud meletus sebelum Pemilu 2014 diartikan oleh masyarakat dalam dunia nongkrong-nongkrong FB sebagai peringatan kepada Indonesia. Tanggungjawab presiden SBY dalam membangun bangsa dan negara sedang diusi melalui letusan Kelud.  Alasan-alasan dimunculkan untuk menunjukkan bahwa kelud merupakan peringatan kepada bangsa Indonesia.  Sejak Reformasi sampai saat ini persoalan keterpurukan Indonesia belum selesai. Indonesia masih mengalami berbagai masalah yang kebanyakan orang melihat sebagai bagian dari kepemimpinan Presiden SBY yang lemah.

Wacana pemimpin alternatif mulai mengulir untuk dibahas. Sekarang tinggal 51 hari sebelum Pemilu 2014, pada bulan April 2014. Dalam pembahasan tsb, semakin jelas tentang sikap penolakan generasi muda untuk menolak mengikuti Pemilu. Golong putih (Golput) tampil menguat disebabkan karena harapan kepada kepemimpinan Indonesia yang baru tanpa sejarah kekerasan, pelanggaran HAM dan Orde Baru terkesan menipis. Partai Demokrasi Perjuangan Indonesia, yang saat ini mempunyai kandidat populer didukung oleh rakya Indonesia, Yokowi ternyata masih belum jelas tentang keterlibatannya dalam bursa Capres. 

Apatisme terhadap generasi muda inilah mendorong saya untuk mempersiapkan deretan pendidikan pemilih yang komunikatif kepada sahabat-sahabat yang terjaring dalam komunitas sosial media Facebook.

Tulisan ini sekalipun ditulis dalam kurun waktu yang lama karena harus diketik sambil berdiri atau berjalan, saya upayanya untuk diperluas melalui blog Indonesiaku Indonesiamu Indonesia untuk semua. Kiranya dari tulisan ini akan ada kekuatan saya untuk menulis lebih banyak sambil menahan kegelisan dari kesakitan tubuh demi kehidupan demokrasi di Indonesia.  Indonesia seperti bunga yang sangat indah tetapi sekaligus rentan untuk dilindungi bersama. Kampanye kesadaran tentang kerentanan Indonesia saya lakukan dengan melukis sambil menulis potongan-potongan tesis statement yang bisa mendorong pemikiran dan diskusi komunitas FB tentang tanggungjawab bersama membangun Indonesia. Perubahan Indonesia ada di tanganmu sahabat saya!