Translate

Rabu, 19 Februari 2014

Ucapan belasungkawa dan dukungan terhadap tuntutan Dewan Adat Paniai


 Ucapan belasungkawa dan dukungan terhadap tuntutan Dewan Adat Paniai
 Oleh Farsijana Adeney-Risakotta


Petisi Warganegara NKRI untuk Papua

Menyampaikan ucapan belasungkawa kepada Dewan Adat dan warga masyarakat di Paniai atas kematian yang tragis terhadap seorang warganegara NKRI bernama  Yulianus Yeimo. Tubuhnya ditemukan meninggal di dalam sungai Bontai, kampung Dagouto, Distrik Paniai Timur. Diduga ia dibunuh kemudian jazadnya dibuang ke sungai. Luka-luka ditemukan di bagian hidung, dada, muka dan goresan di beberapa tempat di dada. Alasan pembunuhan tidak jelas tetapi diduga dibunuh oleh OTK (Orang Tidak Dikenal). Pada tanggal 18 Agustus 2012, Yulianus Yeimo disiksa oleh Aparat TNI karena dituduh merobek bendera Merah Putih. Menurut berita yang dirilis oleh Dewan Adat Paniai, Yulianus Yeimo sakit ingatan sejak tahun 2009. Kejadian perobekan bendera terjadi ketika ybs melewati lapangan dan memberikan hormat kepada bendera. Kemudian ybs menurunkan bendera dan merobeknya.

Atas kejadian tersebut Dewan Adat Paniai menyampaikan tiga tuntutan. Petisi Warganegara NKRI untuk Papua menulis tuntutan dari Dewan Adat Paniai.

Tuntutan kami adalah:

  1. Kapolda Papua dan PANGDAM XVI Bumi Cendrawasih agar segera memerintah Kapolres Paniai dan DANDIM Paniai, untuk mengusut tuntas pelaku kekerasan terhadap Yulianus Yeimo;
  2. Kapolda Papua dan Pangdam XVI Bumi Cendrawasih agar menghentikan operasi militer dengan jalan patroli-patroli di Paniai, karena Paniai sudah aman dan terkendali.
  3. Kami meminta kepada Pangdam XVI Bumi Cendrawasih agar personil yang berlebihan di Paniai seperti  Kopasus, Paskhas, BIN, agar ditarik dari Paniai.

 

Dari penjelasan yang ditulis oleh Dewan Adat Paniai, Petisi Warganegara NKRI untuk Papua mendukung Dewan Adat Paniai untuk meminta perhatian dari pemerintah pusat di Jakarta maupun di tanah Papua untuk segera memberikan rasa aman kepada anggota masyarakat di tanah Papua.

Penegakan keamanan dan perdamaian di tanah Papua adalah hak orang asli Papua, terutama menjelang Pemilu 2014 yang tinggal diambang pintu.  Dukungan sesama warganegara untuk meminta pemerintah pusat dan daerah memberikan keamanan dengan mengurangi aparat TNI seperti yang disampaikan oleh Dewan Adat Paniai sangat diharapkan. Papua merupakan daerah operasi militer yang terlama di dua sesudah Palestina, karena itu dukungan warga dunia terhadap Papua sangat dibutuhkan.

Sementar itu, pengerebekan dan penembahan kepada orang asli Papua, warga sipil yang sedang beribadah di Gereja. Mereka ditembak oleh aparat TNI.  Kejadiannya di Gereja Indonesia di Indonesia  (GIDI) di jemaat Dodopaga,  dan jemaat Kulirik di Kabupaten Puncak Jaya.  Anggota Brimob dan Densus 88 mengepung warga gereja dan gereja dibakar. Pendeta disiksa dan ditikam dengan pisau sangkur.  Insiden ini menyebabkan dua korban bernama  Lurugwi Morib, yang adalah Kepala Desa setempat dan Pamit Wonda sebagai Pendeta Jemaat.

Petisi Warganegara NKRI untuk Papua mendesak pemerintah pusat dan daerah untuk menyelesaikan kasus-kasus kekerasan dan HAM yang ditetapkan dalam UU No.21 Tahun 2001 tentang pembentukan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi untuk segera mengakhiri konflik berkepanjangan yang diposisikan sebagai konflik antara negara dengan rakyat. Argumentasi  negara bahwa orang asli Papua ingin merdeka dari NKRI selalu dipergunakan sebagai legitimasi untuk melakukan pembunuhan dan pelenyapan warganegara NKRI.  Argumentasi ini harus dipertanyakan karena semakin banyak orang asli Papua yang dibunuh, dimasuk dalam penjara dan mengalami penyiksaan. Mengapa Indonesia mendiamkan dan menggunakan alasan tuntutan kemerdekaan Papua  untuk membunuh warganegaranya sendiri? Mengapa warga dunia diam? Mengapa PBB diam?

Petisi Warganegara NKRI untuk Papua meminta perhatian berbagai pihak untuk mengakhiri kebohongan publik yang sedang dijalankan oleh pemerintah RI terhadap orang asli Papua. Tegakkanlah UU No.21 Tahun 2001 pasal 42 tentang pembentukan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi untuk mengakhiri kekejaman negara beradab dan berdaulat terhadap warganegaranya sendiri.

Sumber berita:

Senin, 17 Februari 2014

Ngalor Ngilor Nongkrong di Facebook: Dari Advokasi, Amal dan Perubahan Bangsa melalui Pemilu 2014


Ngalor Ngilor Nongkrong di Facebook: Dari Advokasi, Amal dan Perubahan Bangsa melalui Pemilu 2014.

Oleh Farsijana Adeney-Risakotta

 

Sampai sekarang saya masih sulit duduk lama. Tulisan yang panjang belum banyak saya selesaikan. Potongan-potongan tulisan lebih membantu penyembuhan saya. Sambil berjalan atau tidur saya menyelesaikan potongan-potongan tulisan tersebut.  Kesembuhan sesudah kecelakaan mengubah cara kerja dan berdampak terhadap pengolahan aspirasi sahabat-sahabat di Indonesia. Saya seumpama seorang yang sedang menyelam dan bekerja di bawah laut. Di dalam lautan atau di atas awan, tidak penting bagi saya untuk bertanya di mana kabel-kabel jaringan komunikasi digital dibentangkan.  Manfaat yang luarbiasa sedang terjadi adalah membangun kerja-kerja antara negara, daerah, etnis, agama dan usia sedang mengubah cara berkomunikasi manusia saat ini.

Istilah yang digunakan untuk menyebut komunitas dunia maya membuka jalan untuk mengerti bentuk komunitas yang sangat berbeda dengan komunitas dalam real time. Komunitas dunia maya berinteraksi dengan bahasa tulisan, gambaran seperti foto atau lukisan dan suara dalam bentuk video.  Komunitas dunia maya melebihi istilah perkampungan.  Dalam real time, suatu kampung dipahami sebagai teritori yang proses memasukinya harus melalui berbagai tahap yang berlapis-lapis. Pada komunitas dunia maya, kampungnya sangat transparan. Interaksi bisa terjadi tanpa harus melewati proses pertemanan. Karena dalam satu jaringan ada berbagai sub jaringan lain yang akan terlibat dalam interaksi lebih luas atau tidak sama sekali.

Sejak tahun 2007 sesudah diundang oleh teman saya, Shawn Landers, baru sekarang dalam situasi saya mengalami proses penyembuhan dari kecelakaan, pemahaman yang sudah ada tentang komunitas dunia maya lebih dioptimalkan.  Facebook adalah hasil dari kolaborasi sahabat-sahabat Fulbright yang sampai sekarang masih saling menguatkan satu sama lain dalam kegiatan-kegiatan pemberdayaan masyarakat untuk saling memahami, kerja untuk keadilan dan perdamaian di dunia. Selain, Shawn Landers yang berada di California, Maureen di Scotland, Harun di Pakistan, Saheed di Afrika, telah memberikan inspirasi kepada saya untuk bekerja menguatkan komunitas akar rumput yang ada di Indonesia.

Kerja bersama anak, pemuda dan perempuan di Yogyakarta,  dengan meluaskan dukungan kepada sahabat-sahabat di luar Yogya, seperti di Maluku, Papua, Sumatera, Kalimatan dan Sulawesi telah melahirkan keterhubungan kerja melalui Facebook.  Keterhubungan dibentuk karena ada kerja nyata dalam komunitas di real time. Baru-baru ini, bersama dengan sahabat-sahabat dari Sumatera Utara, Papua, Jakarta, NTT, Yogyakarta, secara bersama-sama saling bahu membahu membangun dukungan untuk membantu pengungsi erupsi Sinabung. Dukungan komunitas sosial maya diorganiser melalui Page Lelang Amal untuk Pengungsi Sinabung yang pengelolanya adalah saya dan ibu Deva Alvina Br. Sebayang. Tetapi gerakan bantuan sosial dari komunitas sosial maya bisa mendapat dukungan dari berbagai pihak karena terbentuk sukarelawan-sukarelawan yang disebut HUB. HUB adalah orang-orang yang menjadi kunci dalam penyebaran berita tentang proses pengumpulan dana publik dari komunitas Dunia maya. Dengan kerja keras dari HUB, seperti mba Vensca Virginia Ginsel yang membawa jaringan Twitternya pada hari pertama Lelang Amal untuk Pengungsi Sinabung, telah menghasilkan dana sebesar Rp 11.000.000,-  Penambahan dana lain dilakukan melalui jaringan pertemanan dari berbagai sahabat yang berada di dalam Indonesia maupun di seluruh dunia.

Pada hari Jumat, tanggal 14 Februari 2014, dana bantuan tersebut yang langsung di kirim kepada bu Deva Alvina Br.Sebayang sudah diserahkan kepada para pengungsi yang berada di Batukarang dan . Jeruk di tanah Karo.  Pengumuman tentang donoratur dan proses penyerahan bantuan bisa dilihat langsung pada page Lelang Amal untuk Pengungsi Sinabung (http://www.facebook.com/pages/Lelang-Amal-Untuk-Pengungsi-Sinabung/241456166034803).

Sementara proses menolong pengungsi Sinabung dilakukan, letusan Kelud telah menyadarkan kita bersama tentang pentingnya warga masyarakat terlibat memperjuangan kepentingannya sendiri. Pengungsi Sinabung perlu mengerti tentang peta daerah bahaya dari kontur fisik gunung Sinabung.  Ketidakpengatahuannya berdampak terhadap kewaspadaan masyarakat terhadap gunung berapi yang dapat menyebabkan mereka cenderung takut. Padahal sebagai orang gunung, masyarakat hidup sehari-hari di gunung, diri mereka adalah bagian dari gunung. Gunung telah memberikan banyak berkat kepada masyarakat. Pengawalan dalam menguatkan pemahaman terhadap hak-haknya dilakukan dalam nongkrong-nongkrong di Facebook. Saya sangat bersyukur bisa bersama-sama dengan sahabat-sahabat di Indonesia melewati masa-masa kritis yang sedang dialami di tanah air.

Kelud sebagai suatu fenomena vulkanologi ternyata mengantarkan perluasan percakapan untuk memahami tindakan tafsir simbolik yang menjelaskan tentang penamaan Kelud. Kelud dalam bahasa Jawa berarti bebersih. Penamaannya dilakukan karena secara kenyataan ketika Kelud meletus, abunya juga menutupi seluruh pulau Jawa. Masyarakat bersusah payah membersihkan daerahnya masing-masing.

Kelud meletus sebelum Pemilu 2014 diartikan oleh masyarakat dalam dunia nongkrong-nongkrong FB sebagai peringatan kepada Indonesia. Tanggungjawab presiden SBY dalam membangun bangsa dan negara sedang diusi melalui letusan Kelud.  Alasan-alasan dimunculkan untuk menunjukkan bahwa kelud merupakan peringatan kepada bangsa Indonesia.  Sejak Reformasi sampai saat ini persoalan keterpurukan Indonesia belum selesai. Indonesia masih mengalami berbagai masalah yang kebanyakan orang melihat sebagai bagian dari kepemimpinan Presiden SBY yang lemah.

Wacana pemimpin alternatif mulai mengulir untuk dibahas. Sekarang tinggal 51 hari sebelum Pemilu 2014, pada bulan April 2014. Dalam pembahasan tsb, semakin jelas tentang sikap penolakan generasi muda untuk menolak mengikuti Pemilu. Golong putih (Golput) tampil menguat disebabkan karena harapan kepada kepemimpinan Indonesia yang baru tanpa sejarah kekerasan, pelanggaran HAM dan Orde Baru terkesan menipis. Partai Demokrasi Perjuangan Indonesia, yang saat ini mempunyai kandidat populer didukung oleh rakya Indonesia, Yokowi ternyata masih belum jelas tentang keterlibatannya dalam bursa Capres. 

Apatisme terhadap generasi muda inilah mendorong saya untuk mempersiapkan deretan pendidikan pemilih yang komunikatif kepada sahabat-sahabat yang terjaring dalam komunitas sosial media Facebook.

Tulisan ini sekalipun ditulis dalam kurun waktu yang lama karena harus diketik sambil berdiri atau berjalan, saya upayanya untuk diperluas melalui blog Indonesiaku Indonesiamu Indonesia untuk semua. Kiranya dari tulisan ini akan ada kekuatan saya untuk menulis lebih banyak sambil menahan kegelisan dari kesakitan tubuh demi kehidupan demokrasi di Indonesia.  Indonesia seperti bunga yang sangat indah tetapi sekaligus rentan untuk dilindungi bersama. Kampanye kesadaran tentang kerentanan Indonesia saya lakukan dengan melukis sambil menulis potongan-potongan tesis statement yang bisa mendorong pemikiran dan diskusi komunitas FB tentang tanggungjawab bersama membangun Indonesia. Perubahan Indonesia ada di tanganmu sahabat saya!

Selasa, 21 Januari 2014

Kerentanan saya dan kelangsungan perjuangan Papua pada perayaan hari Martin Luther King

With Lorie at Walker Center. I do not have to wear a body brace anymore!

Kerentanan saya dan kelangsungan perjuangan Papua pada perayaan hari Martin Luther King

Oleh Farsijana Adeney-Risakotta


Hari ini, 20 Januari 2014,  hari pertama saya mulai menulis lagi sesudah tanggal 11 Januari 2014 saya melepaskan body brace. Ketika body brace dipasang untuk menopang struktur tulang belakang, saya merasa tenang sementara menulis. Saya bersyukur semakin sehat. Sehari sebelum body brace dilepaskan, saya berenang di Kolam Renang Boston University. Dokter merekomendasikan supaya memasuki bulan ke tiga, saya bisa bergerak tanpa body brace. Body brace memberikan banyak proteksi kepada tubuh. Hari ini, pertama kali saya mengunjungi pusat rehabilitasi untuk memulai terapi. Sebelumnya saya lakukan sendiri di rumah, termasuk ketika berenang saya melakukan gerakan-gerakan untuk menguatkan kembali otot yang tidak berfungsi selama tulang belakang yang patah disembuhkan.

 

Kegiatan yang paling menyenangkan sesudah body brace dilepaskan adalah melukis. Gerakan menulis di laptop berbeda dengan gerakan melukis. Saya merasa tidak capek ketika melukis. Jadi saya memutuskan untuk melukis sejak memasuki tahun 2014. Saat ini saya menyelesaikan lukisan untuk mengingat perjuangan orang asli Papua di Indonesia. Saya menafsirkan cerita dari 12 tokoh Papua yang disunting oleh Farhardian, buku yang saya baca ketika keluar dari rumah sakit di Ventura.  Tokoh-tokoh Papua lahir di daerah yang sangat indah. Saya sudah berjalan banyak di berbagai tempat, baik di Indonesia maupun di negara-negara lain, hanya Papua yang mengingatkan saya kepada negara bagian di sebelah barat dari USA, yaitu Oregon dan Washington. Kami dalam perjalanan  bulan Juli 2013 ke Boston di sebelah pantai timur, melewati dari Oregon dan Washington di bagian barat dari Berkeley, San Francisco, California. Saya selalu terkagum dengan keindahan dibalik gunung ada jalan raya dan kota kecil yang indah.

 

Papua berbeda. Jalan raya yang menghubungkan daerah pedalaman dan pesisir belum tersedia sehingga satu-satu pengangkutan adalah menggunakan pesawat. Washington State di bagian timur sangat berkesan bagi saya, karena dari sinilah, apel Washington dikirim ke Indonesia. Kami bisa membeli apel Washington di Yogyakarta, kota di mana saya tinggal di pantai selatan pulau Jawa.  Perubahan kemajuan di Washington Timur di mulai sejak tahun 1930s ketika jalan raya mulai dibangun. Gunung dipotong untuk bisa menembusi perkampungan di belakangnya. Ketika kami melewati jalan raya di Washington Timur, saya membisik kepada diri sendiri, harusnya Papua dengan tekstur alam yang sama, gunung-gunung, lembah-lembah dan sungai bisa menikmati jalan-jalan raya seperti ini. Terutama sesudah Papua memberikan banyak kontribusi kepada perusahaan tambang terbesar di dunia yaitu, Freeport, suatu perusahaan Amerika Serikat.

 

Jadi ketika saya tidak bisa menulis dua minggu lalu karena ketidaknyamanan pada tubuh, saya melukis Papua dengan merasakan pengalaman perjalanan di Washington Timur maupun ketika saya ke Papua mengunjungi Jayapura, Biak, Serui dan Waropen. Melukis alam Papua yang melahirkan pemimpinnya mendorong saya merefleksikan secara mendalam suasana bathin orang asli Papua.

 

Hari ini saya bercerita kepada therapis, Teresa Townsend tentang keinginan saya menulis lagi. Bisakah saya dibantu sehingga merasa nyaman menulis. Dengan bantuannya saya sekarang mengerti bahwa kenyamanan itu ada pada cara saya duduk. Ketika saya menggunakan body brace, saya duduk di separuh dari bagian tengah ke depan kursi. Saya merasa nyaman, sambil setiap 30 menit bisa berdiri untuk merenggangkan tubuh. Tetapi sesudah body brace dilepaskan, posisi duduk ini sangat tidak menyenangkan. Konsentrasi saya terganggu setiap 15 menit, saya mulai merasa sakit pada punggung dan lengan. Tadi pagi, terapis saya memperbaiki cara saya duduk.

 

Teresa menggulung handuk putih dan memberikan kepada saya untuk dipasangkan di bagian belakang dari tulang belakang supaya saya bisa  menyandarkan tubuh padanya yang akan menekan ke kursi. Sekarang saya melakukannya sambil mengetik tulisan ini. Kadang-kadang gulungan handuk meluncur dari bagian tengah punggung ke dudukan kursi bagian belakang. Saya berhenti memperbaikinya. Tetapi saya merasa tenang menulis sesudah praktek duduk yang benar untuk menguatkan otot yang lemah sesudah dua bulan lebih tidak berfungsi.

 

Sambil membandingkan otot kecil dari kaki seorang yang dibalut gibs selama beberapa bulan, terapis saya menjelaskan, kondisi otot tulang belakang saya yang juga kecil seperti otot kaki ketika dilepaskan dari gibs. Saya tidak pernah menyadarinya, karena sebelum kecelakaan, saya adalah seorang jogger. Saya lari seminggu 25 miles. Saya juga senam, dan menari. Tubuh saya sehat dan kuat untuk menanggung pekerjaan fisik seperti memacul pekarangan samping di rumah kami saat ini untuk membuat kompos. Dengan tubuh yang sehat ini saya mengendarai motor atau mobil ke desa-desa untuk mengajar perempuan di seluruh propinsi DI. Yogyakarta.

 

Saya juga bersyukur mendapat penjelasan yang penting sehingga saya bersama Teresa akan pelan-pelan bekerja bersama membangun kekuatan otot saya lagi. Tulang belakang T-11 dan L-4 yang patah sudah bertumbuh dengan baik sebagaimana dijelaskan oleh dokter ortopedik. Teresa juga dengan tersenyum menjelaskan tentang posisi tulang saya yang sangat baik. "Tidak ada masalah dengan tulang sekarang tetapi sekarang adalah waktunya untuk saya menahan diri membangun kembali kekuatan otot yang pernah ada",  demikian dikatakan oleh Teresa.

 

"Saya siap", demikian saya mengatakan kepada Teresa. Teresa membuat video tentang latihan yang saya lakukan tadi sehingga saya bisa menonton diri sendiri sambil mengulangi gerakan dasar untuk menguatkan otot bagian punggung dan perut. Teresa juga menambah waktu saya untuk melakukan terapi selama 9 kali di dalam satu bulan latihan. Pelan-pelan tingkat  kesulitan latihan otot ditambahkan. Selain berenang yang sangat disarankan, karena memberikan efek fleksibilitas untuk otot, saya disarankan menahan diri melakukan gerakan tubuh membungkuk yang mendalam seperti pada gerakan-gerakan Yoga. Teresa menjelaskannya karena saya mulai minggu depan akan mengikuti latihan yoga untuk penyembuhan. Teresa meminta saya menjelaskan kepada pelatih Yoga tentang kondisi tulang belakang saya yang masih perlu waktu untuk benar-benar menjadi kuat lagi seperti semula. Saya telah mengajarkan Yoga untuk meditasi kepada beberapa pemuda pada saat workshop tentang Gender dan homoseksualitas di Yogyakarta, tapi pelajaran Yogya penyembuhan yang berbeda. Saya menunggunya dan juga bahagia mempunyai komunitas untuk penyembuhan bersama.

Menulis pengalaman mengupayakan penyembuhan sangat penting untuk saya, karena saya ingin bisa terus menulis, dan melukis untuk perjuangan penegakkan hak azasi manusia di Papua. Sesudah melakukan fisioterapi saya mengendarai kendaraan pulang untuk menghadiri acara ramah tamah untuk komunitas di Walker Center di mana kami tinggal saat ini. Pertemuan ini juga untuk memperingati  kelahiran Martin Luther King yang dirayakan hari ini. Kelahirannya dirayakan sebagai hari Nasional di Amerika Serikat.  Terutama untuk masyarakat di Boston, Martin Luther King sangat khusus karena perjuangannya dimulai ketika ia masih menjadi mahasiswa teologi di Boston University.  Sekalipun Martin Luther King ditembak, tetapi perjuangan untuk mengatasi diskriminasi hak-hak masyarakat sipil di Amerika Serikat sudah mendapat tempat dalam kesadaran politik bangsa ini. Martin Luther King mewarisi prinsip perjuangan anti kekerasan kepada masyarakat dari berbagai bangsa di Amerika Serikat. Perjuangan anti kekerasan harus dipilih sebagai strategi tanpa harus merasakan takut terhadap kemungkinan kekerasan yang akan dialami oleh tubuh.

 

Jadi dalam pertemuan tadi di antara komunitas Walker Center, saya merenungkan tentang kerentanan tubuh manusia. Kelembutan kepada tubuh sendiri perlu diberikan tempat kepada setiap orang yang kerja dalam membangun kesadaran mengatasi diskriminasi terhadap seseorang atau sekelompok orang yang berbeda karena ras, golongan, status sosial dan agama. Kerentanan dihayati dengan membiarkan penderitaan orang lain mengalir keluar dari tubuh sendiri yang sedang mengalami kesakitan. Saya jelaskan tentang pengalaman mengalirkan kerentanan saya untuk mengerti kerentanan yang sedang diperjuangan oleh saudara-saudara asli Papua. Saya bersyukur menerimanya dan masih terus bekerja keras untuk membangun kekuatan tubuh dari kerentanan yang terjadi.

 

Ketika saya semakin sembuh, saya makin terharu karena nasib saudara-i Papua belum juga berubah. Apakah yang saya lakukan, menulis, dan melukis memberikan makna kepada perubahan yang sedang menuju meraih hasilnya? Terbesit pertanyaan tentang akhir dari perjuangan itu? Hari ini saya lihat pada kerentanan Martin Luther King, saya dibangunkan lagi untuk meneruskan percaya saya dalam iman di mana saya akan melihat satu saat harapan itu terwujud. Seperti lagu "We shall overcome", lagu yang sangat mengiris-iris hati  semua orang yang berjuang untuk kesamaan hak-hak hidup di Amerika Serikat. Ya percaya hari ini, perjuangan saudara-saudara saya di Papua akan tampil sebagai hasil dari kesabaran bersama untuk tidak pernah putus asa meminta dunia Indonesia, dunia  di Amerika Serikat dan di seluruh jagad raya menghadirkan keadilan dan perdamaian di Papua.

 

Di samping saya, seorang ibu berumur 99 tahun, Lorie. Lorie adalah pekerja sukarelawan untuk membantu mahasiswa asing menulis paper mereka supaya bisa mendapat nilai A. Dengan mata bangga dan berapi-api, Lorie menyayikan lagu-lagu perjuangan kesamaan hak-hak di Amerika Serikat selama gerakan masyarakat sipil yang dipimpin oleh Martin Luther King. Umurnya menjadi saksi tentang apa yang pernah terjadi dalam sejarah Amerika Serikat.  Lebih jauh, kematangannya untuk menggunakan kerentanananya melayani mahasiswa asing yang tinggal di Walker Center telah membuatnya bisa terus melayani sesama juga ketika ia sudah berusia 99 tahun. Perayaan ulang tahunnya ke-99 dilakukan pada tanggal 6 November 2013 yang pada saat itu saya sedang mondok di RS Ventura, California. Saya menunjukkan gelang pasien yang saya masih melilit lengan kiri saya  kepada Lorie. Ia tersenyum dan mengatakan, "God has plans for you dear!. Benar, Tuhan punya rencana untuk hidup setiap orang, saya merasa mengerti apa yang Tuhan ingin saya lakukan pada masa penyembuhan diri yaitu bersama dengan Papua saya sekaligus disembuhkan, dan Papua juga makin disembuhkan. Ini adalah iman, yang sesuatu yang saya lihat yang sekaligus menjawab keraguan saya tentang ketika saya semakin sembuh mengapa Papua belum berubah. Lorie benar! Tuhan sedang menyembuhkan saya juga menyembuhkan Papua dengan meluaskan suara orang asli Papua didengar ke seantero jagad raya.

 

Suami saya, pak Bernie juga berbagi pengalaman tentang masa pergerakan sipil yang ketika itu juga memunculkan gerakan black power dengan penekanan pada konflik sebagaimana digagaskan oleh Marcolm X. Sejarah diskriminasi terhadap orang Afrika Amerika memunculkan pilihan perjuangan politik yang mendasarkan pada konflik. Tetapi Martin Luther King berbeda. Dibesar dari tradisi Kristiani, ajaran anti kekerasan yang disadarkan pada kehidupan Kristus menjadi inspirasinya, demikian penjelasan dari seorang anggota lain dari komunitas Walker Center.  Alice, seorang mahasiswi di Boston College yang tinggal di Walker Center mengingatkan bahwa ajaran Martin Luther King menolong masyarakat untuk tidak takut juga terhadap kemungkinan kematian, karena ada harapan di balik kehidupan saat ini. Kekuatan anti kekerasan lahir dari Allah sendiri yang memberikan manusia kekuatan untuk menghadapi kemungkinan diperlakukan dengan kekerasan tanpa melawan balik.  Kematian yang terjadi di Papua adalah peristiwa pembunuhan yang harus dihentikan. Teriakan untuk meminta penghentian terus diperdengarkan oleh pemimpin-pemimpin Papua tanpa rasa takut dan tidak menggunakan kekerasan. Inilah harapan yang berakar dalam iman para pemimpin yaitu mereka yang Kristiani, melihat Yesus sebagai pejuang yang  bersama-sama dengan orang asli Papua bekerja untuk menegakan keadilan, kebenaran dan perdamaian.


We shall overcome, we shall overcome,
We shall overcome someday;
Oh, deep in my heart, I do believe,
We shall overcome someday.

The Lord will see us through, The Lord will see us through,
The Lord will see us through someday;
Oh, deep in my heart, I do believe,
We shall overcome someday.

We're on to victory, We're on to victory,
We're on to victory someday;
Oh, deep in my heart, I do believe,
We're on to victory someday.

We'll walk hand in hand, we'll walk hand in hand,
We'll walk hand in hand someday;
Oh, deep in my heart, I do believe,
We'll walk hand in hand someday.

We are not afraid, we are not afraid,
We are not afraid today;
Oh, deep in my heart, I do believe,
We are not afraid today.

The truth shall make us free, the truth shall make us free,
The truth shall make us free someday;
Oh, deep in my heart, I do believe,
The truth shall make us free someday.

We shall live in peace, we shall live in peace,
We shall live in peace someday;
Oh, deep in my heart, I do believe,
We shall live in peace someday.

 

Kami akan mengatasi , kami akan mengatasi
Kami akan mengatasi suatu hari nanti ;
Oh , jauh di dalam hati saya , saya percaya ,
Kami akan mengatasi suatu hari nanti .

Tuhan akan melihat kita melalui , Tuhan akan melihat kita melalui ,
Tuhan akan melihat kita melalui suatu hari nanti ;
Oh , jauh di dalam hati saya , saya percaya ,
Kami akan mengatasi suatu hari nanti .

Kami sedang menuju kemenangan , Kami menuju kemenangan ,
Kami sedang menuju kemenangan suatu hari nanti ;
Oh , jauh di dalam hati saya , saya percaya ,
Kami sedang menuju kemenangan suatu hari nanti .

Kita akan berjalan bergandengan tangan , kita akan berjalan bergandengan tangan ,
Kita akan berjalan bergandengan tangan suatu hari nanti ;
Oh , jauh di dalam hati saya , saya percaya ,
Kita akan berjalan bergandengan tangan suatu hari nanti .

Kami tidak takut , kami tidak takut ,
Kami tidak takut hari ini ;
Oh , jauh di dalam hati saya , saya percaya ,
Kami tidak takut hari ini.

Kebenaran akan membuat kita bebas , kebenaran akan membuat kita bebas ,
Kebenaran akan membuat kita bebas suatu hari nanti ;
Oh , jauh di dalam hati saya , saya percaya ,
Kebenaran akan membuat kita bebas suatu hari nanti .

Kita akan hidup dalam damai , kita akan hidup dalam damai ,
Kita akan hidup di suatu hari nanti perdamaian;
Oh , jauh di dalam hati saya , saya percaya ,
Kita akan hidup di suatu hari nanti damai .



 "We shall over come", lagu Martin Luther King adalah bagian dari iman yang saya percaya orang asli Papua juga hidup di dalamnya. Seperti terlihat dari ke-12 tokoh Papua. Saya melukis mereka dan bergetar dengan cerita mendalam dari pejuangan mereka untuk semua orang yang adalah saudara-saudarinya sendiri di tanah Papua. Siapapun tidak  bisa mengambil perjuangan yang sudah bergulir, juga diri orang asli Papua sendiri. Tuhan sedang bersama dengan saudara-saudari dalam perjuangan keadilan dan perdamaian di tanah Papua. Amin
 

Minggu, 12 Januari 2014

Helena Matuan bertemu Tuhan ditanahnya Papua

Helena Matuan adalah satu dari 12 tokoh Papua dalam buku suntingan Charles Farhadian ( West Papua: Deiyai, 2007, hal 116-127).

Rabu, 08 Januari 2014

Kampung saya di lembah Baliem Papua dibakar.

Lukisan ini saya buat berdasarkan cerita dari salah tokoh Papua yaitu Uma Markus Kilungga. Beliau dilahir di dekat sungai Baliem di desa Silibi. Tahun 1977 tentara membakar kampungnya dan ayahnya meninggal. Kisahnya diambil dari buku yang disunting Charles Farhadian berjudul Kisah Hidup Tokoh-Tokoh Papua (West Papua: Deiyai, 2007, hal 164-180).