Translate

Minggu, 16 September 2012

Syawalan: silaturahmi dengan sesama untuk keragaman bumi




Teman-teman dari Balai -balai perempuan, Sekretariat Cabang-cabang dan Presidium Wilayah sangat antusias mengikuti acara syawalan di kantor Koalisi Perempuan Indonesia Wilayah DI. Yogyakarta pada hari Jumat, tanggal 14 September 2012


Syawalan: silaturahmi  dengan sesama untuk keragaman bumi
Oleh Farsijana Adeney-Risakotta

Masih di bulan Syawalan.  Perayaan bulan syawalan dilakukan selama satu bulan di mulai dihitung sejak perayaan Idul Fitri. Perayaan Idul Fitri 1433 H di Indonesia dimulai tanggal 20 Agustus 2012.  Tahun ini bulan syawalan dimulai dari tanggal 20 Agustus sampai dengan 20 September 2012.  Sekalipun puncak acaranya ditetapkan seminggu sesudah Idul Fitri, ketika perayaannya ditandai dengan ketupat yang dibawa oleh umat ke mesjid.  Di kampung Karanggayam, perayaan hari raya ketupat biasanya diikuti hanya oleh warga asli Karanggayam baik Muslim maupun Kristiani. Pak Darmin, tetangga kami yang merawat kebun, seorang Kristiani selalu membawa ketupat yang dimasak oleh isterinya di mesjid.
Perayaan ketupat sangat sarat makna. Kata ketupat atau kupat terdiri dua suku kata yaitu pat atau lepat yang berarti kesalahan. Jadi memakan ketupat merupakan tanda komitmen untuk melepaskan diri dari kesalahan, terutama karena sudah menerima kefitraan, kemurniaan hidup dari Allah SWT.  Seorang sepuh, tetangga kami pernah mengatakan bahwa  perayaan hari raya ketupat  tidak diikuti oleh semua warga Karanggayam.  Misalkan muslim Muhammadiah berlatar belakang akademisi, jarang hadir pada perayaan hari raya ketupat. Sementara penduduk asli Karanggayam, mereka juga pengikut  Muhammadiah  tetapi  terlibat dan mengikuti perayaan hari raya ketupat.  
Sesudah hari ketupat, warga dusun akan merayakan  halal bil halal atau disebut syawalan.  Tujuan perayaan syawalan adalah  untuk memberikan kesempatan kepada mereka yang belum pernah bertemu sesudah Idul Fitri supaya bisa menyatakan permohonan maaf apabila dalam kehidupan sehari-harinya ada banyak kesalahan yang dilakukannya. Perayaan Halal Bi Halal diikuti seluruh warga kampung.
Tradisi syawalan yang dipelihara oleh warga Karanggayam adalah tradisi yang ada di seluruh Jawa.  Dikatakan tradisi syawalan sangat khas Indonesia, tidak ada dalam tradisi muslim di negara lain. Keluasan praktek tradisi syawalan tidak saja dilakukan untuk menjaga silaturahmi kampung, tetapi juga dirayakan di banyak organisasi sosial dan masyarakat.  Sesudah Idul Fitri, hampir setiap minggu ada setidaknya dua kali acara syawalan yang harus saya hadiri. Ketika Idul Fitri, saya sedang berada di Ambon, sehingga acara silaturahmi menggunjungi keluarga juga harus ditunda. Di bulan syawalan inilah, kami mengejar hari-hari berkah untuk mengunjungi sanak keluarga memohonkan maaf lahir dan bathin.
Kata silaturahmi merupakan konstruksi yang terbentuk dari kosa kata bahasa Arab dan serapannya dari bahasa Sansekerta.  Sila adalah kata dari bentukan bahasa Arab- Sansekerta yang berarti pokok, prinsip, jongkok atau mendudukan  suatu fondasi.  Sedangkan kata rahmi  yang juga adalah  bahasa Arab  berarti rahim (kandungan).  Jadi silturahmi secara bebas dapat diterjemahkan sebagai kesempatan untuk duduk bersama sebagai orang-orang yang berasal dari satu kandung, atau orang-orang yang saling bersaudara. Tetapi makna silaturahmi juga makin diperluaskan untuk menunjukkan jalinan kasih sayang yang berkembang di antara mereka yang hidup bersama dalam satu kampung, ataupun bekerja bersama di dalam satu organisasi sosial. Kebersamaan mendekatkan manusia bahkan bisa melebihi saudara sendiri. Amsal mengatakan “lebih baik tetangga yang dekat dari pada saudara yang jauh” (Amsal: 27: 10b). Kalau tidak merawat silaturahmi, saudara jauh akan terlupakan.
Silaturahmi tahun ini sangat spesifik terutama memperhatikan tema percakapan yang dimunculkan dalam syawalan. Di pedusunan Karanggayam, panitia memilih tema “pererat silaturahmi jalin kerukunan”.   Sesudah  menjelang 14 tahun tinggal di kampung Karanggayam, untuk pertama kalinya saya baru mendengar sesepuh kampung ketika menyampaikan sambutan mereka tentang pentingnya silaturahmi selain untuk saling memaafkan tetapi terutama juga untuk mempererat hubungan antar umat beragama. Kefitraan yang diterima sebagai kemenangan dalam Idul Fitri sesudah sebulan berpuasa kiranya memberikan landasan baru untuk saling menguatkan meneguhkan kesempatan membangun hidup yang bersih.   Memberikan dan meluaskan pintu maaf kepada sesama menolong kita bangkit membangun kehidupan bersama di kampung maupun dalam pekerjaan masing-masing.
Syawalan adalah silaturahmi kolektif yang memberikan kesempatan kepada setiap orang dalam suatu komunitas  mengalirkan tindakan dukungan satu sama lain dengan secara bersama mengakui kesalahan sebagai pengakuan untuk memulai hidup baru lagi.  Khotbah yang disampaikan Haji Muji Harno yang menggunakan model penyampaian salawat mendorong warga masyarakat di dusun Karanggayam untuk meneruskan meniru tradisi yang baik seperti yang sedang berlangsung saat itu.  Rahmatan lil alamin yang merupakan bagian dari inti ajaran Islam bisa diwujudkan apabila umat meniru melakukan yang “apik”,  yang baik.  Ustad Harno bukan saja mengkhotbahkan tentang rahmat tetapi ia pun hidup berkelimpahan dalam berkah Allah karena tausiah Islamiah yang dilakukan juga diselang seling dengan nyanyian salawat dengan syair yang indah memuji cinta kasih Allah dan kasih sayang manusia untuk mengikuti jalanNya.
Keteduhan dalam Islam, kebaikan dari ajarannya bisa dirasakan menggetarkan meneteskan air mata saya sesudah satu demi satu lagu-lagu salawat dinyanyikan oleh penyanyi dari kelompok Tausiah Islami pimpinan Ustad Haji Harno.

Saya mengutip salah satu syair dari lagu berjudul  "Pintu Taubat"

   Tersadar ku dari khilafku
   Bersujud memohon ampunan
   Atas segala dosa-dosaku
  Yang telah khilafkan hatiku
 
Ref: Kebesaranmu Ya Allah
       Kasih sayang dan rahmatMu
      Dalam sadarku tak lupa mengucap syukur
      Dalam sujudku berdoa, dalam tangisku mengesah
      Astafirlah bukalah pintu taubatMu

Entah kapan ajal menjemputku
Mungkin esok hanya Kau yang tau
Mungkin usiaku tak cukup lagi
Untuk hapus segala dosaku 

Aku hina dan tak pantas
Memohon ampunan
Tapi hanya engkau
Tempatku untuk meminta
Oooo...oooo

Saya terharu karena seolah-olah ingat pernah mendengar lagu ini di mana. Kemudian saya ingat lagu tersebut dinyanyikan oleh anak-anak Kristiani pada saat buka puasa bersama di gedung PKK di Mardika, kota Ambon. Acara itu merupakan kegiatan dari Heka Leka, suatu pergerakan masyarakat yang mengundang saya bersama dengan mereka mengevaluasi kegiatan mereka membangun Maluku Cerdas.  Berada di Ambon, berada di Yogyakarta, berada di mana-mana, lagu Pintu Taubat mengingatkan saya tentang kerentanan manusia terhadap dosa, yang membawa pada keluasan rahmat Allah untuk mengampuni ketika pintu hati membuka pada diri masing-masing. Sebagai seorang Kristiani, pesan taubat itu mengingatkan saya tentang cinta kasih Yesus Kristus, nabi Isa yang menunjukkan dalam cara hidupNya di dunia dengan mengasihi sesama manusia termasuk musuhnya sendiri. Pintu Taubat terbuka ketika manusia melepaskan gengaman dirinya mengunci pada dirinya sendiri untuk diserahkan ke dalam tangan kasih Allah yang mengubah dan memperbaharui.
Nada pertobatan menjadi bagian yang sangat penting masih terasa bergema juga pada berbagai syawalan yang saya hadiri. Tetapi saya ingin menceritakan tentang syawalan yang diselenggarakan oleh Koalisi Perempuan Indonesia Wilayah DI. Yogyakarta.  Acara di hadiri oleh teman-teman yang mewakili Balai Perempuan di seluruh DI. Yogyakarta, pengurus dari Sekretariatan Cabang-cabang, dan Presidium Wilayah  (Preswil ) Koalisi Perempuan Indonesia Wilayah DI. Yogyakarta. 
Kefitraan yang sudah diraih oleh perempuan, sebagai bagian dari melintasi pintu taubat, akan mendorong perempuan menjadi kuat bukan saja untuk membagi dirinya melayani keluarga, tetapi juga mendorong munculnya kesadaran memperjuangkan keadilan dan demokrasi yang belum sepenuhnya di raih oleh perempuan di Indonesia.  Koordinator Preswil, mba Titik Iswayatun Khazanah mengingatkan tentang persiapan Pemilu tanggal 9 April 2014 yang sudah harus dimulai sekarang. Inilah kesempatan perempuan membangun bersama. Kefitraan sebagai landasan untuk melakukan pembaruan terhadap kebijakan yang belum adil bagi perempuan.
Pesan mba Titik Iswayatun Khazanah diteruskan dalam khotbah yang dipimpin oleh mba Isti Atun. Mba Isti Atun adalah salah satu komisioner dari Komisi Informasi Daerah Istimewa Yogyakarta, yang juga anggota senior  Koalisi Perempuan Indonesia. Sambil mengingatkan tentang situasi yang bergolak di Indonesia, mba Isti Atun bertanya kepada semua yang hadir tentang bagaimana beriman dalam kehidupan bangsa Indonesia saat ini.  

Dari kiri ke kanan, mba Istiatun dan mba Titik duduk berjejeran
Merujuk kepada peristiwa kekerasan atas nama agama, keberagaman menjadi isu yang perlu renungan dalam beriman.  Lebih lanjut dikatakannya tentang rahmat Allah SWT yang diberikan dalam Islam bukan hanya terlihat pada saat seseorang memenuhi kewajiban menjalankan sholat lima waktu.  Pengajaran tentang rahmatan lil alamin yang hanya memusat pada rukun Islam ternyata menyempitkan tentang maksud dari kerahmatan Allah SWT.  Rukun Islam adalah ajaran untuk membangun kerukunan dengan Allah yang harus berdampak kepada sesama. Kerukunan di antara umat manusia sangat penting karena Allah menjadikan manusia dalam keragamannya.
Surah Al Hujuraat ayat 13 mencatat perintah Allah untuk manusia bertagwa kepada Allah dalam keberagaman baik secara biologis, gender maupun secara suku bangsa.  Dikatakan: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.  Surah Al Hujuraat sangat menarik karena bukan saja Allah dijelaskan sebagai Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal, tetapi manusia yang diciptakan dengan berbagai bangsa-bangsa dan suku-sukunya adalah untuk saling mengenal.
Beriman dalam beragama menurut mba Isti Atun sangat terkait dengan kemampuan untuk saling mengenal.  Cara manusia beriman sangat  ditentukan oleh caranya memperoleh pengetahuan tentang beriman. Sumber pengetahuan yang menjelaskan cara beriman sangat beragam.  Keragamaan bisa terlihat dalam Islam karena ada banyak cara memperoleh pengetahuan mengenai beriman kepada Allah. Firman Allah SWT untuk mengajak umat saling mengenal termasuk juga mengundang setiap orang beragama untuk mengenal keragaman dalam tradisi keagamaannya. Tradisi dengan pola budaya untuk merawat kebiasaan-kebiasaan beriman tampil berbeda-beda.
Tetapi Allah SWT memberikan petunjuk tentang jalan benar untuk mengenal Allah SWT adalah bertaqwa menurut kebaikan yang dimaksudkan oleh Allah SWT sendiri bukan menurut pengertian manusia. Jalan Allah SWT adalah jalan taqwa, yaitu jalan kehidupan bukan jalan kematian. Jalan kematian cenderung memusuhi, merusak karena menggunakan otak manusia yang melulu melihat kebenaran dalam diri sendiri dengan hal-hal negatif pada orang lain.  Pembiasaan penggunaan otak dengan tekanan-tekanan negatif akhirnya menyebabkan manusia menolak untuk mengenal orang lain kecuali mengenal dirinya sendiri.
Tanggungjawab membangun kehidupan beriman yang benar bukan hanya tugas lelaki tetapi juga menjadi penugasan yang harus diterima perempuan.  Perempuan bertanggungjawab membesarkan anak-anaknya, sehingga pemahaman yang benar tentang cara beriman harus juga dimengerti oleh perempuan untuk bisa mendidik anak-anaknya tentang cara beriman menurut jalan taqwa seperti yang difirmankan oleh Allah SWT.
Keragaman dalam beriman dengan keluasan rahmatan lil alamin merupakan perintah Allah SWT yang harus dipraktekan setiap saat dalam hidup beragama. Hanya dengan cara inilah, manusia bisa mengenal sesamanya, termasuk mengenal Allah yang lebih dulu mengetahui semua di dalam diri manusia. Di dalam tugas inilah, perempuan juga terpanggil mendewasakan diri dan anggota keluarganya terhadap cara-cara beriman yang positif sesuai dengan jalan taqwa yang diturunkan Allah SWT.
Sambil menyinggung nilai-nilai dari Koalisi Perempuan Indonesia, mba Isti Atun mengajak semua teman-teman untuk setia beriman, dengan mendorong menghayati nilai-nilai keagamaan di dalam hidup yang nyata. Nilai-nilai keagamaan memang perlu dibuka, digali sehingga kebenarannya bisa tampil lebih konkrit untuk dapat dipraktek dalam hidup sehari-hari.  Seperti  ketika nilai-nilai dan prinsip-prinsip Koalisi Perempuan Indonesia dibentangkan sehingga setiap perempuan mengenal tentang hak dan kewajibannya seperti  yang dirumuskan dan bersedia melakukannya. Nilai-nilai organisasi sangat eksplesit, sama penting  dengan itu, nilai-nilai ini juga adalah roh dari orang beriman, roh dari keislaman, jalan taqwa yang perlu dilakukan terus menerus sehingga memungkinkan manusia yang beragam saling mengenal dan menguatkan.

Nilai-nilai dan Prinsip-prinsip Koalisi Perempuan Indonesia
Bulan syawalan adalah bulan rahmat kepada saya, karena teman-teman, perempuan muslim bisa menyampaikan khotbah dan sambutan yang mendalam sehingga hati seorang Kristiani, hati saya tergugah. Saya menulis catatan ini untuk merayakan cinta kasih perempuan muslim kepada keragamaan dan perdamaian di bumi Indonesia yang dicintai semua. Rahmat sudah diberikan oleh Allah supaya perempuan menerimanya, lelaki mendapatkan, anak-anak menyambutnya, sesepuh menjalaninya.  Semua ingin mengenal setiap waktu kedalaman Firman Allah SWT dalam tindakan sehari-harinya. Berbahagialah mereka yang mendengar karena hidupnya menjadi ringan menuju jalan taqwa yang dibimbing sendiri oleh Allah SWT. Amin.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar