Translate

Jumat, 27 Juli 2012

Menulis Sejarah dan Sejarah Milik Siapa?: Bagian Pertama


Pengantar:
Saya mulai menulis tentang sejarah. Sebagai seorang antropolog, saya sudah lama tertarik dengan sejarah terutama karena pengkayaan yang diperoleh selama pendidikan teologi. Saya seorang teolog dengan minat studi Perjanjian Lama. Memasuki bulan Agustus 2012, yang adalah bulan Kemerdekaan Indonesia, saya ingin memulai menulis tentang sejarah, siapa yang memiliki sejarah dan bagaimana sejarah ditulis. Keinginan ini sudah lama ada pada saya, terutama menulis topik ini dalam bahasa Indonesia. Penelitian S3 saya tentang sejarah agama dan konflik sosial di Maluku ditulis dalam bahasa Inggeris. Untuk anda yang ingin membacanya bisa mengakses langsung pada situs online dari Universiteit van Radboud Njimegen di mana saya dipromosikan dengan Promotor Prof. Frans Husken seorang antropolog yang menggabungkan pendekatan sejarah dalam riset-risetnya dan menguatkan keyakinan saya tentang sejarah dalam antropologi dan antropologi dalam sejarah. Beliau meninggalkan tanggal 28 April 2010. Hari ini tanggal 28, jadi saya mau mendedikasikan tulisan saya kepada guru yang sangat saya hormati,  pak Frans.
Link ke disertasi saya, Farsijana Adeney-Risakotta,
Politics, Ritual and Identity in Indonesia. A Moluccan History of Religions and Social Conflict. The Netherlands: Radboud University Njimegen. 2005 (digital copy can be accessed at    http://webdoc.ubn.ru.nl/mono/r/risakotta_f/poliriani.pdf  )

Bagian Pertama: Menulis Sejarah dan Sejarah Milik Siapa?
Oleh Farsijana Adeney-Risakotta

Pertanyaan sejarah itu milik siapa, sama dengan bertanya bagaimana sejarah dibuat. Bahasa Inggeris menggunakan kata “history” untuk menjelaskan yang dalam bahasa Indonesia disebut “sejarah”. Kata Inggeris “history” diambil dari bahasa Yunani “historia” yang berarti “makna”, “pengetahuan” yang digali mendalam. Penjelasan dari pengetahuan yang bermakna tersebut kemudian disusun menjadi suatu pengertian tentang peristiwa yang sudah terjadi pada masa lalu. Penyusunannya ternyata memerlukan seorang yang disebut sejarawan untuk bisa menjelaskan tentang hubungan antara setiap individu, kelompok yang membentuk bersama peristiwa-peristiwa penting masa lalu dalam kehidupan mereka.

Tiba pada penjelasan tentang peran sejarawan, di kalangan feminis yang lahir sesudah gerakan sipil di Amerika Serikat tahun 1960an, kata “history” kemudian diplesetkan seolah-olah kata tersebut terdiri dari dua arti, pertama “his” dan “story”.  “Story” berarti “cerita” dan “his” menunjukkan subyek yang mempunyai cerita adalah lelaki. Jadi “history” secara harafiah bisa dijelaskan sebagai cerita dari lelaki. Peristiwa periodik yang berlangsung dalam perjalanan hidup seseorang tampil sebagai cerita yang didokumentasikan oleh lelaki, yang kemudian dinamakan “history”. Peran lelaki sangat besar dalam membentuk cerita-cerita yang menunjukkan periodik kejadian dalam hidup sehari-hari.  Sehingga kaum feminisme kemudian mengusulkan supaya sejarah juga perlu didengar dari perempuan untuk menjadikan “herstory”.

Sementara arti kata sejarah diambil dari kata bahasa Arab yaitu “syajarotun” yang berarti pohon. Arti kata ini walaupun terlihat lebih netral tetapi sebenarnya juga menunjukkan bahwa pohon sebagai perumpamaan dari suatu riwayat kehidupan hanya dimiliki oleh keturunan raja-raja. Kalangan rakyat biasa tidak memerlukan tulisan rigid tentang riwajat, asal usulnya. Kalangan bangsawan memerlukan penjelasan tentang asal usul supaya keturunan mereka bisa makin membesar secara kualitas, pengaruh dan jumlah. Penjelasan diperlukan pada saat pernikahan di antara kalangan bangsawan yang dapat terjadi lintas teritori untuk tujuan-tujuan kekuasaan. Penggambaran makna sejarah ini setidaknya menjelaskan tentang peran lelaki dalam menentukan perjalanan periodik kehidupan dalam keluarga maupun klannya.

Kedua pengertian dari kata “history” maupun “syajarotun” dalam bahasa Indonesia modern ditampung menggayakan kata “sejarah”. Saya ingat sejarawan Nugroho Notosusanto pada jaman regim Soeharto tampil sangat kuat sebagai figur dari sejarawan Orde Baru. Saya pernah menulis kesamaan peran Nugroho Notosusanto, mantan menteri Pendidikan Nasional, dengan penulis-penulis sejarah pada jaman raja-raja Israel yang menghasilkan berbagai buku seperti Kitab Raja-Raja, Samuel dsb (Adeney-Risakotta: 1995). Setiap penulis sejarah lahir pada masa yang membutuhkannya, termasuk regim yang melahirkannya untuk mengabadikan nama kebesarannya dalam ingat bersama bangsanya. Dalam studi Biblika, kajian sejarah untuk melihat penulisan berbagai versi suatu silsilah secara berbeda-beda tergantung pada kepentingan dari regim yang memproduksinya. Contohnya, penonjolan tentang peran raja Daud menjadi sangat kuat dalam aliran sejarah dari pendukung keturunan Daud. Sementara aliran sejarah terkait dengan raja Saul tampil kuat dari madsab terkait dengan keturunannya. Penggambaran ini bisa membawa pada kesimpulan bahwa seorang sejarawan dapat menghasilkan tulisan sejarah berdasarkan siapa yang memesannya.

Lalu kita tiba pada pertanyaan, apakah sejarah bisa netral, bisa menjaminkan suatu tuturan kejadian yang tampil sejujur-jujurnya. Pertanyaan ini muncul dari berbagai fenomena tentang keikutsertaan individu dan komunitas dalam menarasikan sejarahnya sendiri. Sejarah bukan produk pengetahuan yang bebas nilai. Karena sejarah sebagai penggambaran tentang apa yang pernah terjadi, maka alat kerjanya yang paling utama adalah “tafsir”. Pengetahuan tentang tafsir terhadap kejadian-kejadian masa lalu dilakukan dengan memperhatikan relasi-relasi sosial dari berbagai aktor yang menyebabkan suatu peristiwa bersejarah itu terjadi. Relasi-relasi sosial bisa tampil menjelaskan stratifikasi masyarakat, di mana masing-masing aktor berfungsi, menegosiasikan kekuasaannya dan menentukan bersama keputusan kebijakan yang tepat untuk semua. Hasilnya dapat memuaskan terutama untuk mereka yang sepakat dengan proses keputusan dibuat tetapi seringkali ada banyak ketidakpuasaan sehingga memunculkan perlawanan, protes dari mereka yang merasa suaranya tidak didengar.

Lahirnya versi-versi penulisan sejarah didukung oleh fakta adanya perbedaan narator, siapa yang bercerita, menjelaskan tentang bagaimana suatu peristiwa itu terjadi. Sejarawan dalam kategori ini, saya sebut mereka, sejarawan berpihak. Istilah dalam studi Biblika, mereka disebut sejarawan istana. Pembedaan ini perlu dilakukan  untuk menunjukkan adanya kelompok sejarawan yang netral. Kata netral di sini dimaksudkan terutama untuk menggambarkan posisi penyeimbangan sebagai prasyaratan yang dimilik oleh seorang sejarawan. Dalam menafsir peristiwa-peristiwa yang terjadi, si sejarawan melakukannya dengan menghadirkan secara holistik perspektif dari semua aktor yang berinteraksi menghasilkan peristiwa penting yang terjadi bagi mereka. Mereka dalam kategori ini, saya sebut sejarawan independen, walaupun posisinya “netral” tetapi mereka mempunyai kepentingan, yaitu menghadirkan semua aktor sebagai narator untuk menggayakan tasfir sejarah yang sedang dikonstruksikannya. Seorang sejarawan dengan kemampuan akademik dilatih untuk memposisikan dirinya sebagai bandul yang menyeimbangkan narasi-narasi dari peristiwa masa lalu dari suatu masyarakat. Mereka inilah bisa kemudian menjadi sejarawan independen.

Masyarakat yang melewati peristiwa-peristiwa masa lalu tidak selamanya menyimpan ingatan mereka dalam dokumen-dokumen. Dunia modern membiasakan manusia menulis dan menyimpan dokumen dari catatan dirinya. Masyarakat pra sistem penulisan, menyimpan ingatannya dalam cerita-cerita turun temurun yang disebut legenda, maupun tindak-tindakan ritual yang tampil dalam berbagai upacara-upacara dari suatu lingkaran kehidupan.

Misalkan ingatan tentang pelanggaran terhadap pencaplokan tanah yang terjadi pada saat pengusiran kerajaan Portugis di Halmahera Utara. Daerah di sekitar Tobelo, yang beberapa desanya sebenarnya adalah bagian dari Galela, yaitu Gorua dengan desa-desa sekitarnya. Penduduk di desa-desa ini berbahasa Galela, tetapi mereka dimasukan ke dalam Tobelo. Penggabungan terjadi pada saat Kesultanan Ternate meminta masyarakat Tobelo membantunya untuk mengusir Portugis kira-kira 500 tahun lalu.

Pengusiran terjadi, kerajaan Moratia bisa dihancurkan dari wilayah Galela (sekitar Mede). Hadiah yang diberikan oleh Sultan Ternate kepada kapitan Tobelo adalah memberikan beberapa desa, dari Gorua sampai Luari yang aslinya adalah wilayah Galela, dimasukan ke dalam wilayah Tobelo. Sultan Ternate melakukan tanpa persetujuan dari masyarakat Galela. Sultan Ternate menganggap seluruh Halmahera adalah wilayah kekuasaan. Akan tetapi masyarakat menyimpan ketidakadilan tersebut dalam ingatan mereka. Sehingga mereka sampai saat ini menerapkan denda yang harus dibayar oleh setiap perempuan atau lelaki dari Tobelo yang menikah ke Galela. Calon pengantin dari Tobelo harus membayar denda dari kesalahan yang dilakukan oleh kapitan Tobelo ketika ia mendapat wilayah Galela yang tidak sah, sekalipun diberikan oleh Sultan Ternate kepada mereka. Denda ini disebut ciko ma bobangu   (Adeney-Risakotta: 2005, 97).

Sebagai seorang antropolog, menuliskan tentang ritual denda bagi orang Tobelo dan Galela, saya harus menghadirkan ingatan masa lalu yang merupakan peristiwa sejarah dari kedua masyarakat. Mereka masing-masing tahu, secara turun temurun apa yang terjadi dan bagaimana narasi kecil mereka tenggelam oleh kebijakan dari Sultan Ternate yang menghadirkan narasi besar dari sejarah baru pembentukan wilayah Tobelo dengan menambahkan desa-desa dari wilayah Galela sebagai hadiah untuk kapitan Tobelo. Contoh ini menunjukkan bahwa tindakan-tindakan antropologis, yaitu peristiwa-peristiwa yang terjadi ketika seorang antropolog berada pada saat kejadian dilakukan oleh suatu kelompok masyarakat, pada saat itu sedang terhubungkan dengan peristiwa-peristiwa masa lalu yang disimpan dalam ingatan bersama masyarakat melalui tindakan ritualistik mereka. Dalam cara yang berbeda, masyarakat ternyata adalah pemilik sejarah karena mereka menyimpan dan menurunkan cerita-cerita masa lalu dalam ritual.

Mengakhiri tulisan ini, ada beberapa hal yang bisa disimpulkan. Pertama, proses penulisan sejarah tampil tidak semata-mata sebagai dokumen. Sejarah dari kalangan istana cenderung mendokumentasikan peristiwa masa lalu untuk menjadi kontinuitas dari kekuasaan keluarga atau klan yang perlu dirawat. Sementara masyarakat kecil, memelihara peristiwa-peristiwa masa lalu mereka dalam bentuk ritual. Seorang penulis sejarah, atau sejarawan perlu sensitif untuk memadukan sumber-sumber informasi dari peristiwa masa lalu yang ada baik dalam dokumen dan ritual untuk menjelaskan sebab penyebab suatu peristiwa itu terjadi. Tetapi bisa terjadi juga seorang sejarawan berpihak untuk mengabadikan cerita tertentu dari perspektif dan kepentingan mereka yang berkuasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar