Translate

Sabtu, 05 Mei 2012

Warga mengubah pencitraan sungai Winongo!


Sisipan cerita!
Warga mengubah pencitraan sungai Winongo!
Oleh: Farsijana Adeney-Risakotta

Tahun 2009, saya pertama kali datang di sini, di bangunan yang disebut rumah bambu.  Banyak perempuan berkumpul. Masing-masing terlihat sangat sibuk. Masih segar dalam ingatan saya. Ruang itu penuh warna warni dari berbagai karya perempuan. Ada pakaian siap pakai, tas manik-manik, tas dengan bahan perca, taplak meja dari bahan bloco dengan motif bordiran yang menggambarkan alam sekitar kali. Masih banyak produk ketrampilan lainnya terbentang menawan di atas estalase sederhana di rumah bambu.

Mereka berkelompok menempati ruang dengan sekat. Selain pajangan hasil kerja kelompok yang siap dipasarkan, mereka masing-masing mempersiapkan nasi tumpeng yang dihiasi cantik. Imajinasi seseorang akan makin menakjubkan ketika bertemu dengan ide orang lain. Kreasi dari kreatifitas imaginasi bersama serupa kekuatan air Winongo yang terus bergerak. Karya-karya mereka itu dilombakan. Saya terkagum-kagum sebagai juri. Semua bagus-bagus!

Itu kenangan perayaan hari Kartini beberapa tahun lalu. Sejak itu sudah beberapa kali saya kembali ke pondok bambu. Tetapi hanya beberapa hari lalu menjelang datangnya bulan baru, bulan Mei 2012, saya sedang menyaksikan perubahan yang sedang terjadi di sana.  Pengorganisasian warga sekitar sungai Winongo yang dimulai  mba Endang Rohjiani sejak tahun 2007 ternyata bertumbuh dan mengubah wajah kampung dengan sangat menakjubkan. 

Mba Endang adalah teman seperguruan saya, sama-sama anggota Koalisi Perempuan Indonesia untuk keadilan dan demokrasi. Cerita dirinya sangat mengharukan hati saya. Di tahun ketika ia harus meninggalkan suatu LSM tempatnya bekerja bertahun-tahun, yang digambarkan sebagai masa kritis sekaligus kegilaannya justru itulah permulaan untuk bekerja tanpa pamrih. Ia mulai membersihkan tanah di mana rumah bambu berada. Tanah itu penuh dengan sampah!  Pelan-pelan ia keluar dari rumahnya berjejaring dengan warga setempat mengolah sampah dan menata sungai.

Kerjanya ini mulai menyembuhkan dirinya dan membuka jalan untuk memberikan hidupnya kepada komunitas di mana ia tinggal. Tidak banyak orang yang melakukan hal ini. Mba Endang adalah satu dari banyak orang yang bisa memulai dan program-programnya mengubah pelan-pelan warga setempat.

Rumah bambu menyimpan energi untuk menjadikan dirinya menyatu dengan alam di sekitarnya. Tetapi sekarang pusat aktivitas sudah melebar keluar dari rumah bambu. Seolah-olah bambu-bambu yang bertumbuh tegak sepanjang sungai Winongo membuka diri mereka. Di sanalah mba Endang dan masyarakat menata kehidupan kampung mereka bersama.  Sungai Winongo disentuh lembut oleh perempuan-perempuan yang menggandeng lelaki dan anak-anak membangun bersama. Tawa anak-anak berlarian.  Sapaan hormat di antara mereka yang bertemu di jalan. Semua mata sekarang menuju ke pinggiran sungai. Semua melangkah ke sana. 

Kami berjalan melewati lorong-lorong sempit di antara rumah-rumah penduduk yang sangat padat.  Dengan sentuhan kasih, rumah-rumah kumuh mulai tertata indah dan kuat. Sebuah rumah yang dulu kumuh baru saja direnovasi. Ini hasil kerjasama antara komunitas yang dipimpin mba Endang dengan Habitat for Humanity. Pemilik rumah itu seorang janda. Mba Endang lega, sekarang perempuan dengan posisi sebagai orang tua tunggal itu bisa tidur tenang ketika hujan lebat  lepas  dari langit.

Tinggal di sekitar sungai adalah nasib. Seperti air mengalir suaranya bergetar terpukul bebatuan. Tebing batu alam setinggi 50 meteran berdiri tegak sepanjang 30 meter pada kedua sisian sungai.  Di tengah sungai terlentang tegak bebatuan hitam setinggi 2-3 meter. Batu-batu terpencar membuat arah aliran air serupa tarian bersuara. Sepintas saya seperti melihat tampilanl putri air terbaring di tengah sungai. Saya ingin menceburkan diri ke sungai itu. 

Perasaan kuat itu datang membawa kenangan ketika saya menceburkan diri di salah satu anakan sungai dari danau Young di taman nasional Yosemite Park di California. Kira-kira 10 tahun lalu, ketika musim panas, suami dan saya hiking seminggu sampai melewati danau Young. Kami mendirikan tenda di dekat sungai dan tinggal di sana selama beberapa hari. Siang hari kami trekking di hutan menelusuri jejak kotoran beruang. Sesudah capek, berkeringat, kami langsung menceburkan diri dalam air sungai. 

Pengalaman ini membekas karena ketika saya melompat menyelam ke sungai, saya merasa seluruh tubuh panas. Terbakar!  Mendidih! Air sungai dingin seperti es.  Saya merasa jantung berhenti.  Sekonyong-konyong saya melihat wajah seseorang perempuan tersenyum terpancar dari dalam air. Saya tidak percaya! Aneh!  Rasa darah mendidih dalam diri karena kedinginan dari air sungai serasa melemah.  

Saya menyelam mendekat ke dasar sungai. Semakin dekat semakin jelas wajah tersenyum keluar dari batu berwarna coklat yang terbentang di bawah sana.  Senyum seorang putri sungai! Seolah-olah putri sungai sedang menormalkan didihan darah tropis saya.  Saya bisa berenang lagi dalam air sungai dari aliran glazier di sekitar pegunungan di Yosemite Park. Kami menikmati berenang bersama! Bertahun saya menyimpan perasaan itu.

Sungai Winongo berbeda. Airnya hangat. Bebatuannya seolah-olah baru saja dimuntahkan keluar dari rahim gunung Merapi. Airnya berwarna kecoklatan tidak sebening air dari pegunungan Yosemite park. Tetapi suara pukulan air di mana saja sama. Airnya yang menerpa bebatuan mengingatkan saya pada suara pecahan ombak di pantai selatan.  Mba Endang bermimpi kelak akan ada banyak perahu karet  lalu lalang bermain arum jeram di sana. 

Sungai  Winongo sudah lama menyimpan misteri untuk warga.  Kadang-kadang mereka melihat ada keris terapung sambil mengepulkan asap mengalir dari hulu ke hilir. Warga menonton diam-diam sampai ia menghilang.  Kemudian diceritakan mba Endang tentang sungai  Winongo pada jaman Mataram. 

Sungai ini adalah tempat membuang sial.  Mereka yang melawan kerajaan seperti selir, anggota keluarga lainnya bisa disingkirkan ke sini.  Sungai Winongo menjadi penampung orang-orang yang terpinggirkan dari kekuasaan kraton. Pusaka-pusaka kraton yang sudah usang juga dibuang di sungai ini. 

Nasib sungai sebagai tempat pembuangan kemudian masih dipercayai sampai sekarang. Antrian orang-orang setiap pagi membuang hajatnya panjang.  Sambil merokok jejeran kulit tubuh sewarna dengan air sungai duduk mencongkok menikmati pembebasan diri di sungai Winongo.  

Pemandangan ini tersembunyi di balik potongan bermacam kain warna-warni yang dipasang menutupi pagar bambu sepanjang tepian sungai. Tujuannya untuk memastikan ketenangan pelaksanaan ritual pembuangan tanpa gangguan dari pandangan pejalan kaki.   Sungai ternyata juga masih menyimpan privasi diri seseorang sekalipun ketika ritual mandi di sungai dilakukan tubuh terbalut kain transparan memperlihatkan keindahan lekukannya yang telanjang. 

Sesudah melepaskan hajatnya, satu-satu berjalan ke mata air untuk mandi. Air bening seperti air pancuran mengalir keluar dari mata air yang membersihkan tubuh penduduk di sana. Mandi di sungai  lebih segar daripada mandi di MCK yang dibuatkan dari dana pemerintah. Mandi dan mencuci di sungai memberikan kebahagiaan. Keakraban bersenandung dengan menggosipkan sesama.  Seorang ibu tinggal di pusat kota Yogya, dari lokasi sekitar pasar Patuk datang mencuci di mata air sungai Winongo.  
   
Mata air adalah berkat kepada warga. Airnya sekarang mengisi  kolam renang berukuran 5 x 10 meter yang ketika banjir bandang akan tertutup oleh tumpahan air sungai Winongo.  Ketika saya di sana, anak-anak dengan orang tua mereka sedang berenang. Beberapa orang transgender juga sedang berenang.

Tahun 2011, Bappeda DIY menyetujui usulan warga yang diorganisir oleh mba Endang untuk menata pinggiran sungai. Program hibah sebesar Rp 200 juta dikelola berhasil. Semua berpartisipasi termasuk membuat satu-satunya kolam renang warga pinggiran sungai yang ada di propinsi DIY. Warga bangga dengan apa yang sedang terjadi. 

Dengan membayar Rp 1.000 sekali kunjungan mereka bisa berenang sepuas-puasnya. Airnya diganti setiap tiga hari.  Dikatakan air kolam renang lebih bersih dari air yang ada di rumah-rumah penduduk karena sudah tercemar oleh bakteri Coli.  Sebelum menurun ke lokasi kolam renang, saya melihat bapak-bapak sedang membangun warung yang akan dipakai oleh ibu-ibu anggota PKK menjual produk mereka.  

Di alam Winongo, di sinilah mba Endang, suaminya dan kedua anak mereka tinggal. Rumahnya di antara kepadatan rumah penduduk lainnya yang cukup jauh dari batas pemukiman penduduk di bibir sungai. Bentaran sungai yang masih kosong mulai ditata supaya penduduk tidak menyerobot menduduki area tersebut. Ruang terbuka hijau sebagai program masyarakat mulai nampak buahnya. Konservasi lingkungan hijau sepanjang 200 meter sedang berbenah. Sebuah gazebo gantung dibangun di sebelah selatan sungai. Kami ke sana untuk bercerita sambil menonton kereta api lewat.

Sementara kami di gazebo, datang tiga anak tanggung. Mereka sedang belajar di SD.  Ada seorang yang gendut, dan dua orang lainnya tubuh ramping. Mereka memegang satu bungkus indomie. Saya memperhatikan saja apa yang akan dilakukannya.  Bungkusan indomie dibuka kemudian satu persatu paket yang ada di dalam dirobek. Bumbunya dituangkan dalam bungkusan mie kering. Minyak, sambel dan kecapnya kemudian dicampurkan juga dalam bungkusan mie. 

Dengan menggunakan jari telunjuk anak gendut itu mulai mengaduk-aduk. Sesudah semuanya tercampur, satu per satu jari dari ketiga anak ini mengambil potongan mie kemudian memakannya. Saya merasa lapar menyaksikan cara anak-anak makan mie yang tidak dimasak. Ada kekuatiran tentang bahaya zat pengawet yang dimakan langsung tanpa memasak. Berapa sering mereka memakan mie dengan cara ini. Saya bertanya dalam hati. Bahaya penyakit regeneratif sedang mengintip anak-anak ini. Saya prihatin!

Sambil bercerita dengan mba Endang, saya menyaksikan tingkah anak-anak ini.  Diam-diam, bungkusan paket di dalam plastik indomie, sesudah dibuka, plastiknya dibuang di antara cela-cela bambu dari lantai gazebo gantung.  Saya sudah biasa melihat kebiasaan buang sampah plastik keluar dari mobil di jalan raya.  Saya sedih tapi tidak bisa buat apa-apa.  Dari mobil-mobil mewah sering banyak sampah dibuang di jalan raya. Tetapi sekarang di depan saya, anak-anak melakukannya dengan ringan. Saya menunggu mereka selesai. 

Ketika bungkusan indomie akan dibuang di antara cela bambu, saya bertanya apakah mereka menikmati makanannya. Mereka semuanya tersenyum mengatakan enak!. Kemudian saya bertanya rencana mereka membuang sampah.  Anak gendut mengatakan akan membuat di sungai. Saya bertanya: “Mengapa harus membuang sampah di sungai”?. Mereka mengatakan itu kebiasaan di sini. Kemudian saya menunjukkan kepada mereka akar pohon bambu yang dibungkus oleh ratusan sobekan plastik. Plastik-plastik yang tersangkut pada akar bambu membuat pemandangan tidak nyaman pada sungai. Mereka terkesima!Mungkin mereka sedang melihatnya dengan pandangan baru!

Seorang dari ketiga anak itu kemudian mengatakan: “Saya akan membawa pulang plastik dan membuangnya di tempat sampah di rumah”. Kedua anak lainnya tertawa sambil mengangguk kepala mereka.  Kemudian saya mengajak mereka untuk turun ke bawah gazebo gantung untuk mencari potongan bungkusan yang dibuang di antara cela-cela bambu. Anak gendut  itu berjalan duluan. Ia juga yang mengambil kembali potongan bungkusan kosong yang dibuangnya.  Saya tersenyum lega. Semoga mereka ingat pengalaman pertamanya membuang sampah  di rumahnya sendiri.

Mba Endang mengeluhkan tentang mentalitas membuang sampah yang menjadi keprihatinan bersama.  Sekalipun bank sampah sudah dibangun dan warga mendapat kesempatan pengembangan daur ulang plastik dari sampah tsb, tetapi ketika saya di sungai, ada banyak orang yang masih datang membersihkan karung dan ember sampah sambil membuang sampah sisanya di sana. 

Mengubah mentalitas dimulai dari membiasakan terus menerus kebiasaan yang baru sampai otak kita terbiasa.  Keindahan sungai terkait dengan kebersihannya.  Tantangan ini akan membuat rumah bambu mengiatkan kembali  pembelajaran kebiasan-kebiasan baik untuk lingkungan sungai kepada kelompok usia dini, menengah maupun tua. Saya mengusulkan pembelajaran dengan menggunakan foto dan film yang menceritakan kehidupan warga sendiri. Mereka menonton diri sendiri dan mengomentarinya juga.

Kami juga melewati beberapa kolam kosong tanpa ikan tawar yang berada di tepi sungai. Kolam-kolam ini belum pernah dipakai oleh warga. Kolam-kolam terngangah ini menunjukkan kegagalan pemerintah. Program ini direncanakan tanpa melibatkan warga. Program dilakukan untuk menghabiskan anggaran akhir tahun. Mba Endang memperhatikan, keacuhan warga, rendahkan kesadaran mereka untuk terlibat dalam program bersama secara sukarela sangat dipengaruhi oleh cara pemberdayaan dari program pemerintah yang memberikan bantuan dana langsung kepada warga. Sekarang seseorang mau mengikuti program tertentu akan bertanya apakah ada uang transpor dan harian untuknya.

Mimpi mba Endang  untuk melihat sungai Winongo menjadi sumber pengetahuan alam dan pembelajaran kehidupan masyarakat tidak terhalangi oleh kebiasaan lama yang belum terkoreksi.  Ruang hijau terbuka sekarang sudah menjadi mimpi warga Winongo juga.  Sepuluh desa lain yang masuk dibawah supervisi mba Endang mulai belajar dari warga sekitar sesudah kolam renang bisa dibangun di sana. Kalau warga mau, mereka bisa melakukannya.  Mba Endang menggunakan istilah “heboh” untuk menjelaskan perubahan perilaku warga sesudah kolam renang dibangun. Ketika kegiatan mulai menghasilkan uang semua orang sibuk, banyak yang  ingin mengurusnya! Sekarang mereka semua terpanggil untuk memikirkan manajemennya.

Sudah siang, hampir mendekat sholat asar, kami mampir makan lotek kangkung di warung seorang ibu dalam perjalanan balik ke rumah bambu. Saya akan kembali lagi ke sana. Seperti sungai Code yang adalah sungai permandian keluarga kraton sesudah pulang dari perburuan di Kaliurang, di kaki gunung Merapi, nasib sungai Winongo sedang diluruskan kembali oleh warganya.  Sekarang kesialan sungai Winongo mulai berganti dengan harapan.  

Gambaran dirinya berubah, karena ada satu orang dan kemudian dua orang, kemudian tiga orang, kemudian semuanya yang ingin mengubah pencitraannya. Sekarang mereka sudah mulai. Mereka terus berjalan menggandengkan mimpi sang aktivis kampung dengan mimpi semua. Saya membawa cerita ini dan memulai menulisnya sesudah tiba lagi di kampus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar