Translate

Senin, 28 Mei 2012

Bentangkan Iman Puan Gigi dan Faith of Lady Gaga


Perjalanan Iman Perjalanan Mendunia
Bagian Kedua: Bentangkan Iman Puan Gigi dan Faith of Lady Gaga!
Oleh Farsijana Adeney-Risakotta

Bukan karena saya seorang perempuan yang menulis tentang iman. Bukan juga karena gugatan pemuka agama Indonesia, yang kebanyakan para lelaki sebagai keraguannya atas iman Lady Gaga. Bukan juga karena pertemuan saya dengan berbagai perempuan biasa, mereka yang saya sebut Puan Gigi. Bukan karena mereka, saya menulis tentang iman.

Mereka semua tampil dengan sangat indah sebagai ciptaan Ilahi yang menyebabkan saya selalu terkagum-kagum ingin mengerti representasi dirinya sebagai manusia. Mereka ada di mana-mana ketika dalam berbagai kesempatan saya bertemu, menyapa sampai cerita kami mengalir membentuk tulisan ini.

Dimulai dari Puan Gigi:
Seperti kejadian yang terjadi di awal bulan Mei. Saya tergesa-gesa mengejar pesawat di Cengkareng. Dengan ringan saya setengah berlari takut ditinggalkan oleh Lion. Walaupun saya juga tahu Lion sering telat terutama kalau berangkat pulang ke Yogya malam hari. Ketika saya sedang menggegas, dalam jarak kurang lebih 50 meter menuju ke belokan pintu 6, saya melihat seorang ibu tertatih tatih.

Saya terus bergegas. Semakin dekat terlihat ibu itu tiba-tiba menjatuhkan dirinya pada kursi di samping koridor tak jauh dari tanda pintu 6. Tersentuh hati saya, sambil berkata ketika hendak melewatinya, saya memutuskan berhenti:”Selamat malam ibu, apa yang bisa saya bantu. Apakah ibu juga akan ke ruang tunggu di pintu 6?”. Ibu itu mengangguk. Ia menjelaskan bahwa tiba-tiba lututnya sakit sehingga ia sulit berjalan. Saya menimpali: “Kalau ibu berkenaan, saya bisa membantu memapah ibu. Saya juga akan ke ruang tunggu di pintu 6”.

Ibu ini tersenyum kemudian mengulurkan tangannya. Saya menyambut dan menolongnya berdiri. Kemudian kami berdua berjalan pelan, sangat pelan. Saya memperhatikan wajahnya yang miris kesakitan, tetapi juga ada senyum. Ia tabah!

Sepanjang jalan kami diam. Saya tidak memaksanya bercerita karena saya menahan diri untuk bertanya. Kesakitan yang tiba-tiba datang bukan saja menyakitkan dirinya, sayapun merasakan sakit. Memapahnya seperti saya sedang memapah ayahanda ketika ia lumpuh dimasa akhir hidupnya. Berdiam, menenangkan hati saya mungkin akan menenangkan perasaan ibu ini.

Ia berjilbab dengan warna maron bening. Mukanya masih segar dengan umur kira-kira di atas limapuluhan. Kadang-kadang saya meliriknya untuk meyakinkan bahwa perjalanan tertatih ini masih bisa diteruskan. Kemudian ia meminta berhenti sebentar. Saya menawarkannya untuk duduk lagi, tapi ia tetap berdiri sambil menyadarkan tubuhnya ke saya. Tas tangan saya diturunkan dari bahu kiri, kemudian saya merasa kuat menahannya. Hanya kira-kira dua menit, ia tersenyum dan berkata bisa berjalan lagi. Kami melangkah lagi!

Tiba di ruang tunggu saya menuntunnya sampai di tempat duduk, kemudian ke bagian counter untuk melaporkan keadaannya dan meminta disiapkan kursi roda. Petugas mencatat informasi  saya dan meminta saya menghubungi mereka lagi ketika panggilan keberangkatan diumumkan. Mereka akan membantu ibu itu sampai naik ke pesawat. Saya kembali ke tempat kami duduk bersama dan menjelaskan kepadanya pesan dari petugas itu.

Kekuatiran kami ternyata tidak beralasan. Lion telat berangkat. Kami menunggu hampir satu jam sehingga akhirnya kami bercerita. Cerita mengalir seolah-olah kami sudah kenal lama walaupun kami tidak saling memperkenalkan nama.  Ibu ini membuka hatinya. Ia mengatakan bahwa Ia bertanya-tanya kepada Allah apa yang sudah dilakukannya, yang menyebabkan Allah memberinya kesakitan tiba-tiba di lutut.  Pengakuannya mengingatkan ia kepada ibu saya, seorang Pentakosta yang selalu percaya hubungan antara “sakit” tubuh dengan kesalahan manusia, sebagai “dosa”, sebagai penyebab kesakitan yang diderita seseorang.

Ia terus mencurahkan isi hatinya. Beberapa tahun lagi ia akan pensiun. Teman paling dekatnya, yang duduk saling berdekatan di kantor baru saja meninggal. Dengan nada pasrah ia bercerita tentang temannya yang mendahuluinya seolah-olah tidak mau ditinggal sendirian di kantor sesudah ia pensiun.

Kemudian saya tahu di akhir waktu sebelum kami berpisah, ibu ini adalah seorang tokoh di kota Yogyakarta yang bekerja langsung dengan petani dalam kedaulatan pangan. Setiap tempat, kabupaten, kecamatan dan desa yang menjadi tempat di mana ia mengunjungi petani-petani  seolah-olah menghadirkan saya di sana. Tempat-tempat ini dikunjunginya dan saya juga berada di sana. Hanya kami tidak saling tahu ketika di lapangan. Kami kerja sendiri-sendiri.

Ia mengeluh tentang media yang condong melupakan kerja-kerja perempuan dalam mempertahankan keunikan pangan lokal. Sebagai seorang PNS yang bekerja dengan petani perempuan, ia sudah ke mana-mana di seluruh Yogya. Nasibnya bertemu dengan saya sehingga bisa membagikan cerita yang penting tentang perjuangannya mengangkat harkat perempuan kecil di pedesaan.

Pengalaman saya memfasilitasi upaya dokumentasi cerita-cerita perempuan kemudian mendekatkan saya dengannya. Mungkin Allah punya maksud saya bertemu dengannya, sehingga bisa membangun kerjasama dengannya dari apa yang dibutuhkannya dan apa yang bisa saya bantu. Tuhan punya rencana, supaya kami bisa bekerja sama membangun Yogyakarta, membangun Indonesia bersama-sama. Sejak malam itulah, saya menambahkan perempuan ini dengan cita-citanya untuk menjadi bagian dari cita-cita saya.

Perempuan ini, ibu ini saya menyebutnya Puan Gigi. Gigi terkait dengan senyuman manis seorang perempuan, seorang puan. Ketika Puan Gigi merasa sakit, saya memapahnya, tetapi ia terus tersenyum. Senyum dan keramahtamahan perempuan membuat ia menjadi ibu, ibu dari kebijaksanaan yang berakar mendalam pada imannya kepada Allah SWT. Ia tidak saja mengasihi dirinya sendiri, juga bukan hanya keluarganya, tetapi perempuan-perempuan di pedesaan yang bekerja untuk mengubah dunia di sekitarnya.

Dilanjutkan Lady Gaga:
Saya tidak pernah bertemu dengan Lady Gaga sebagai pribadi. Saya pernah tinggal di kota yang melahirkan Lady Gaga. New York City adalah kota yang sangat menginspirasikannya. Kota ini sama dengan kota-kota lainnya, selain Amsterdam, adalah kota yang setiap saya mengingatnya, mengalirkan semangat. Dalam “Jakarta Jakarta Jakarta”, saya menuliskan tentang semangat hidup kaum urban di sana. New York City berbeda dengan Jakarta. Tidak ada kemacetan di New York City. Sistem transportasi terbaik di Amerika Serikat ada di New York City.

Siapa tahu  suatu saat saya akan tinggal di New York City? Sebagai seorang dengan minat sejarah yang tinggi, ketika saya belajar di Amsterdam, New York City sudah menarik hati saya. Inilah kota yang oleh pemerintah kolonial Belanda ditukarkan dengan kepulauan Banda, penghasil pala, “fuli” (kulit pembungkus biji pala) di Maluku Tengah kepada British Empire. Pada waktu itu, daerah-daerah di Maluku dan seluruh nusantara dikuasai oleh British Empire.   

Sedangkan New York City yang masih bernama New Amsterdam dikuasai oleh pemerintahan Belanda.  Bekas-bekas kota tua New Amsterdam masih terlihat pada terowongan-terowongan di mana subway di sepanjang New York City berada.  Keramik-keramik biru dari Delf dipasang dalam terowongan subway di daerah-daerah sepanjang Bronx ke Manhattan.

Tersesat sudah merupakan bagian dari perjalanan saya di sana. Pernah suatu malam, sesudah saya kembali dari Brooklyn untuk mengunjungi salah satu kelompok muslim di sana yang banyak melakukan kegiatan antar agama, saya tertidur di kereta. Saya harusnya berhenti di stop Universitas Colombia di mana saya harus berjalan menuju ke apartemen dari Union Theological Seminary. Kereta membawa saya sampai di Harlem, tempat yang sangat ditakuti kira-kira 15 tahun ke atas dari sekarang.

Harlem, nama yang mengikuti Harlem, kota tetangga Amsterdam di Belanda, di NYC adalah kota yang melahirkan banyak musisi jazz, di mana kantor yayasan Bill Clinton berada. Di sini, ternyata ketika saya tersesat seseorang menolong menjelaskan jalan balik untuk mengambil trem pulang ke Colombia. Orang-orang kulit hitam ramah dan sopan, walaupun tercium bau alkohol keluar dari mulutnya.

New York City bisa menyesatkan sekaligus dapat mengubah jalan hidup seseorang. Hampir seperti Yogyakarta, di New York City, segala macam lapisan masyarakat hidup. Inilah pintu kota di sebelah pantai timur Amerika Serikat untuk para imigran memasuki tanah pengharapan. Nama-nama mereka tercatat di Ellis Island, suatu pulau di mana patung Liberty berdiri tegak. Patung seorang perempuan yang memegang obor pembebasan adalah simbol keadilan dan kesamaan yang dipancarkan keluar New York City ke mana-mana di Amerika Serikat. Dunia juga dipengaruhi oleh perjuangan pembebasan dari Amerika Serikat.

Patung ini dikerjakan oleh seorang seniman besar Perancis, Frederic Bartholdi yang diberikan kepada masyarakat Amerika Serikat  pada tanggal 28 Oktober 1886. Kekagumannya terhadap kemerdekaan Amerika Serikat pada tanggal 4 Juli 1776 yang memberikan inspirasi terhadap bangkitnya revolusi Perancis (1789–1799). Seringkali kita salah mengerti seolah-olah perjuangan Perancis mempengaruhi pembebasan Amerika Serikat. Ini keliru. Sebaliknya terjadi!

Impian tentang pembebasan itu perlu bentuk, praktek langsung di mana kekuasaan diterima sebagai bagian dari konstruksi bersama.  Amerika Utara, dengan AS adalah dunia impian yang dibentuk baru berbeda dari tempat-tempat di mana para imigran datang. Mereka yang datang memasuki Ellis Island, adalah mereka yang sebenarnya dikejar-kejar untuk dibunuh di Eropa karena memegang agama yang dipercayainya.  Iman mendunia terjadi karena dikejar-kejar akan dibunuh.

Barang-barang etnografis yang tertinggal di museum kedatangan imigran di Ellis Island sangat jelas menunjukkan tentang perjalanan seorang manusia melintasi lautan Atlantik dengan hanya membawa satu potong koper kecil. Jumlah pakaiannya tidak lebih dari 3, ada mantel tebal, pakaian dalam selebihnya mereka membawa barang-barang yang paling berharga. 

Barang-barang itu bukan emas, tetapi kitab suci, surat tanda agama misalkan surat baptisan, foto pernikahan, akte pernikahan dan lainnya. Bukti-bukti etnografis yang hampir mirip juga terlihat pada Angel Island di California, yang menjadi pintu masuk imigran di bagian barat Amerika Serikat, terutama pekerja yang membangun rel kereta api yang terkenal dengan nama Pacific Railroad yang menghubungkan Omaha dan Sarcamendo di California di antara tahun 1863-1869.

Tiga generasi berlalu, keluarga dari imigran Italia, dari jalur ayah dan ibu dari keturunan Kanada Prancis  inilah yang melahirkan Lady Gaga. New York City adalah kota ghetto, dimana setiap “borough” terkait dengan warisan masyarakat dari imigran tertentu.  Istilah “borough” dipakai untuk menunjukkan ketersambungan berbagai kota di metropolitan New York City.

Sebelum saya tinggal di New York City bersama program Fulbright, Interfaith Community Action Program, dan mengajar di Barnard College, sekolah perempuan yang berafliasi dengan Universitas Columbia, saya belum terlalu sadar tentang multietnik, multikultural di sana.  Selama hampir dua bulan saya sering bepergian dengan bus dan subway, saya bisa dengar berbagai bahasa dipercakapkan.  Dikatakan di NYC, ada lebih dari 50 bahasa yang diizinkan diajarkan di sekolah-sekolah dengan mendapat subsidi dari pemerintah lokal. 

Tahun 2005, saya membawa suami berlari berpacu dalam ING New York City Marathon. Saya juga harus berlari mengejar metro dari satu stasiun ke lainnya untuk bisa mengikuti suami dari jembatan Verrazano-Narrows Bridge di Staten Island di mana garis permulaan dimulai dan berakhir di Central Park di Manhattan. 

Di beberapa tempat saya bertemu dengan gang-gang berpakaian hitam. Tetapi juga saya melihat jubah-jubah hitam yang dipakai oleh perempuan dan lelaki berjenggot. Kemudian di tahun 2007, saya bertemu orang-orang berjubah hitam berjenggot di Universitas Colombia ketika mendengar mereka mendukung kedatangan Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad  yang berbicara dalam kuliah tahunan di Universitas Colombia. Ternyata mereka adalah kaum yang menantikan kedatangan Messiah. 

Lady Gaga adalah seorang New Yorker. Ia dilahirkan dan dibesarkan di Manhattan Atas di bagian barat, dengan peta kemasyarakatan yang kompleks dan unik di seantero dunia. Hanya New Yorker yang mengerti dunia sebenarnya. New Yorker sekarang tinggal bersebelahan dengan muslim, kristen, yahudi, hindu, budha, bahai, berbagai aliran agama lainnya. Video klip Lady Gaga ketika menyanyikan Yudas mengingatkan saya tentang film gangster of Porto Rico atau gangster dari Chinatown di NYC.

Saya mencatat lirik lagu Yudas.

Ohohohoh
I’m in love with Judas
Ohohohoh
I’m in love with Judas
Judas! Judaas Judas! Judaas
Judas! Judaas Judas! GAGA

When he comes to me I am ready
I’ll wash his feet with my hair if he needs
Forgive him when his tongue lies through his brain
Even after three times he betrays me

I’ll bring him down, bring him down, down
A king with no crown, king with no crown

[Chorus]
I’m just a Holy Fool, oh baby he’s so cruel
But I’m still in love with Judas, baby
I’m just a Holy Fool, oh baby he’s so cruel
But I’m still in love with Judas, baby

Ohohohoh
I’m in love with Judas
Ohohohoh
I’m in love with Judas
Judas! Judaas Judas! Judaas
Judas! Judaas Judas! GAGA

I couldn’t love a man so purely
Even prophets forgave his crooked way
I’ve learned love is like a brick you can
Build a house or sink a dead body

I’ll bring him down, bring him down, down
A king with no crown, king with no crown

[Chorus]
I’m just a Holy Fool, oh baby he’s so cruel
But I’m still in love with Judas, baby
I’m just a Holy Fool, oh baby he’s so cruel
But I’m still in love with Judas, baby

Ohohohoh
I’m in love with Judas
Ohohohoh
I’m in love with Judas

[Bridge]
Ew
In the most Biblical sense,
I am beyond repentance
Fame hooker, prostitute wench, vomits her mind
But in the cultural sense
I just speak in future tense
Judas, kiss me if offenced,
Or wear an ear condom next time

I wanna love you,
But something’s pulling me away from you
Jesus is my virtue,
Judas is the demon I cling to
I cling to

[Chorus]
I’m just a Holy Fool, oh baby he’s so cruel
But I’m still in love with Judas, baby
I’m just a Holy Fool, oh baby he’s so cruel
But I’m still in love with Judas, baby

Ohohohoh
I’m in love with Judas
Ohohohoh
I’m in love with Judas

Judas! Judaas Judas! Judaas
Judas! Judaas Judas! GAGA

Yudas mewakili fenomena New York City.  New York City melahirkan Lady Gaga menjadi seorang penyanyi dunia. Kedatangannya di Indonesia dipersoalkan karena ia dianggap menyebarkan ajaran setan. Siapakah yang menyebarkan ajaran setan?  

Menurut saya Lady Gaga dengan sangat gamblang menunjukkan ketegangan iman dalam hidup manusia, antara tarikan setan dengan Allah seperti yang dihayatinya melalui lagu Yudas. Di satu pihak ia ingat Yesus tetapi ia terbawa oleh tarikan Yudas. Pribadi Yudas juga ada sebagai ketegangan dalam seorang beragama yang berkorupsi? Atau seorang agama yang membenci orang yang berbeda dari caranya beragama? Atau seorang beragama yang menggunakan kekerasan untuk mengontrol iman orang lain? Atau seorang beragama yang menolak pengakuan orang dengan seksualitas berbeda? Siapakah yang lebih menyifatkan setan di antara Lady Gaga atau berbagai orang yang mengklaim dirinya beragama?

Lady Gaga seorang yang cerdas dan mendalam secara spiritualitas. Ia belajar menulis lagu dengan lebih dulu membuat tulisan-tulisan kritik menggunakan pendekatan studi kritis budaya terhadap berbagai isu terutama musik, seksualitas, seni dan dunia pangung ketika ia belajar di Universitas New York, di sekolah Tisch Seni. Ia menulis tesis yang menggabungkan kajian agama, politik, isu sosial yang terungkap dalam karya seni seniman  Spencer Tunick dan Damien Hirst. Dengan ketenarannya sekarang, Lady Gaga adalah alumni NYU’s Tisch of Art yang paling kontroversi.

Hidupnya dimulai dari pengalaman keras sebagai seorang New Yorker. Ketika masih di universitas ia harus tinggal di tempat yang murah, meninggalkan keluarganya yang nyaman dan memilih makan seadanya tetapi terus menyanyi sampai orang -orang mendengarnya. 

Sebelum berhasil menghibur pengemarnya di seluruh dunia, Lady Gaga memulai kariernya sebagai penyanyi penari di bar-bar di sekitar  Greenwich Village dan di Menhattan Bawah bagian timur.  Masa ketika ia bekerja di bar-bar digambarkan seperti dirinya adalah Sandy dalam film Grease.  

Diakui dibesarkan secara Katolik, tetapi di tempat yang jauh dari klaim kesucian, di daerah-daerah yang dianggap gelap di New York, telah menghadirkan kekudusan baru kepada Lady Gaga sehingga ia menemukan jalan pulang kembali ke dirinya, kepada imannya yang paling pribadi dengan Allahnya. Termasuk juga membuat komitmen untuk meninggalkan obat-obatan dan menata hidupnya menjadi Lady Gaga.  Dalam show  Larry King yang ditayangkan oleh CNN, Lady Gaga menjelaskan tentang komitmen hidup sehat, terutama karena dalam dirinya mengalir positif penyakit Lupus. Tantenya, Joanne meninggal usia remaja karena penyakit Lupus. 

Di dunia bawah tanah New York,  Stefani Joanne Angelina Germanotta sebagai nama asli dari Lady Gaga berkenalan dengan seorang drummer yang kemudian menjadi pacarnya. Hubungan mereka kandas. Tetapi sang drummer ini juga memberikan inspirasi, bersama dengan penyanyi kondang lainnya seperti David Bowie, Freddie Mercury, Michael Jackson, Madonna yang melahirkan kombinasi gaya dalam aliran “gam rock” ala Lady Gaga. 

Dari dunia bawah tanah di New York City ia mengangkat realitas yang ada dalam masyarakat secara berimbang mulai dari skandal politik tinggi seperti John F. Kennedy dan Marilyn Monroe  dalam lagu I and You. Lagu ini dinyanyikan pada hari ulang tahun Bill Cliton yang ke 65. Lady Gaga berpakaian seperti Marilyn Monroe, suatu satir untuk menyentil Bill Clinton dan semua skandal Gedung Putih sebelumnya.  

Kreatifitas menjadi jiwanya, terutama seolah-olah memindahkan pementasan Broadway dengan penekanan pada pertunjukan neo-burlesque yaitu seni tari yang dekat dengan tradisi kaum gypsi seperti tarian perut dari Timur Tengah.  Broadway yang memberikan nilai plus bagi NYC, adalah pertunjukan panggung dengan pementasan kolosal melibatkan banyak artis pendukung tampil melantunkan nyanyian berlatar teater. Sifat pergelaran ini terlihat dalam rekaman video klip maupun tour dunia  Lady Gaga sebagai hasil dari pencapaiannya di tingkat  tangga teratas dari 100 penyanyi terkenal di seluruh dunia. 

Kreatifitasnya bertumbuh di mana-mana. Ia menulis lagu Born This Way di Liverpool, Inggeris  pada tahun 2010 dalam waktu hanya 10 menit yang dilihatnya sebagai proses pewahyuan seperti yang terjadi dengan Maria, Ibu Yesus yang suci ketika mengandung Yesus. Lagu ini bercerita tentang mereka yang dilahirkan secara genetik sebagai seorang dengan keberadaan seksualitas yang berbeda seperti LGBT-IQ. Mereka juga diberikan kesucian oleh Allah seperti yang dibayangkannya tentang Maria yang mengandung Yesus.

Ketika kakeknya meninggal ia menulis lagu The Edge of glory di rumah hospice di mana ayahnya dan dirinya duduk bersama menanti kakeknya meninggal secara wajar lepas dari pengaruh alat-alat canggih kedokteran dan obat-obatan. Di sana ada sebuah piano yang disentuh dimainkan Lady Gaga sehingga darinya mengalir lagu yang diberikan judul The Edge of Glory. Keduanya menangis sambil Lady Gaga terus memainkan lagu tersebut. Lagunya membayangkan neneknya sedang berdiri disamping kakeknya yang sedang meninggal. Ketika itu Lady Gaga memperhatikan kakeknya yang sedang memandang dengan cinta kepada isterinya. Ada pancaran kebeningan sekaligus kemenangan. 

Cinta kakek dan neneknya selama 60 tahun pernikahan adalah kemenangan. Ia melihat mata kemenangan pada kakeknya yang kemudian memutuskan untuk pergi. Kakeknya seolah-olah mengatakan kepada isterinya, untuk merelakannya pergi, karena tidak ada kata-kata lagi yang harus dikatakan, tidak ada gunung yang harus didaki. Sekarang dirinya di bibir jurang, yang membuatnya membuka topi sendiri menghormati hidupnya dan pergi. Lady Gaga bisa merasakan, membaca dan menulis pesona hati dari kakeknya dalam lagu yang sangat menyentuh siapapun yang mendengarnya. 

Sekalipun tantenya meninggal 12 tahun sebelum ia lahir, tetapi sesudah dewasa Lady Gaga mentato tanggal kematian tantenya Joanne di tubuhnya, karena pada dirinya terlahir Joanne. Salah satu nama aslinya adalah nama dari tantenya Joanne. Ia sepertinya menyimpan hidup suci dari tantenya pada dirinya, yang meninggal dengan keperawanannya. Kemurnian ini dihayati Lady Gaga sebagai ketulusan bertanya tetapi sekaligus keinginan untuk mencintai dan mengalami kehidupan. Sejak itu ada lebih dari 8 tato lain pada tubuhnya. 

Menulis tentang Lady Gaga, sama kuatnya ketika saya bertemu Puan Gigi. Mereka berdua dengan tempat, konteks dan sejarah berbeda berbuat sesuatu untuk masyarakat di sekitarnya. Jadi saya ingin bertanya apa yang dilakukan oleh pemuka agama, kaum lelaki dari pada sekedar hanya melarang menerbitkan regulasi, aturan moral, melarang sana sini atas dasar ketahanan imankah? 

Pengaruh spiritualitas yang nampak pada Lady Gaga datang dari para healer dari the First Nation of USA, orang Indian, penulis Deepak Chopra tentang kerja sebagai melayani, penulis Osho tentang kreatifitas dan banyak pembicara lainnya. Karena itu Lady Gaga menjadikan musik dan pertunjukkannya sebagai arena untuk mengadvokasi HAM terutama terkait dengan identitas, kebebasan, seksualitas dan individualitas. Nilai-nilai spiritualitas sejati menjadi jendela untuknya mempertanyakan tentang isu-isu HAM yang sering kali ditentang oleh institusi agama.

Dalam kampanye penggalangan dana HAM yang dihadiri oleh presiden Barrack Obama, Lady Gaga menggunakan hak sepatu setinggi 16 cm sehingga ia berdiri tinggi melebihi semuanya termasuk Obama.  Sebagai seorang seniman besar diasah dari kepeduliannya terhadap kehidupan. Ia menulis dari hati. Ia menyanyi dari hati. Hasil kerjanya diberikan kepada kerja-kerja sosial di seluruh dunia, juga dari hati. 

Kepedulian kepada kemanusiaan menjadikan dirinya sebagai salah satu philantofis yang murah hati diakui di seluruh negara-negara yang pernah hancur karena bencana gempa. Hati cerdas seorang perempuan mengapa harus ditakuti oleh pemuka agama dan pemimpin Indonesia yang tinggal di daerah bencana. Apakah akan ironis, penolakan Lady Gaga sekarang malahan akan membawanya kembali sebagai salah satu penyumbang  di masa depan untuk Indonesia ketika terhantam bencana alam?
Salah satu cuplikan lagu Alejandro yang ditolak oleh kaum agamawan bisa didengar melalui site ini <http://en.wikipedia.org/wiki/Alejandro_%28song%29>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar