Translate

Minggu, 13 Mei 2012

Sebuah Persamaan di Antara Kami (A Common Word), Islam dan Kristen


Sebuah Persamaan di Antara Kami dan Kamu (A Common Word), Islam dan Kristen
Refleksi pribadi dari Konsultasi Nasional Misi 2012

Oleh Farsijana Adeney-Risakotta

Seminggu ini Indonesia digoncangkan oleh Irshad Manji yang kehadirannya disponsorin oleh kelompok muda Islam Indonesia.  Kekerasan menyebabkan kebosanan dan kejenuhan dalam beragama. Semua lelah! Kemarahan harus dihadapi dengan cinta kasih. Inilah yang sedang dilakukan oleh Irshad Manji. Bukunya berjudul God, Liberty and Love menghadirkan wajah lembut dari Islam tentang Allah. Ajaran Islam tentang cinta kepada Allah (mahabbatullah) terkait juga dengan sikap penyerahan penuh hanya kepada Allah. 

Pada saat kedatangan Irshad Manji di Jakarta dan di Yogya saya sedang menghadiri Konsultasi Nasional (Konas) Misi gereja-gereja di Indonesia. Kegiatan ini diorganisir oleh Persekutuan Gereja-gereja (PGI), Dewan Gereja-gereja di Asia (CCA), dan Badan Dunia gereja-gereja Injili (WRCR).  Konas Misi ini sangat penting karena gereja-gereja diperkenalkan dengan kode etik bergereja dan bermisi sebagai tanggapan terhadap naskah dari ajakan tentang Sebuah Persamaan di Antara  Kami dan Kamu yang diterjemahkan dari “A Common Word”.

Sejarah “A Common Word” dimulai sesudah kuliah umum yang disampaikan Paus Benediktus XVI di Universitas Regensburg, Jerman pada tanggal 13 September 2006. Penggalan dari perkuliahannya menyakitkan pemimpin dan intelektual Muslim di seluruh dunia.  Dalam perkuliahan itu, Paus mengutip tulisan dari percakapan Kaisar Manuel II dengan seorang Persia.  

Kutipan tsb apabila diterjemahkan secara bebas berbunyi seperti berikut ini.  “Apa kebaikan yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW kecuali cara berperang seperti iblis mensifatkan kebinatangan seperti terlihat pada perintah-perintahnya dalam penyebaran iman dengan pedang”.  Kutipan ini langsung dipenggal oleh media tanpa menjelaskan konteksnya seolah-olah merupakan pernyataan dari Paus. 

Hikmat yang diperoleh dari perkuliahan tersebut, adalah Paus menyadari sudah menyinggung perasaan kaum Muslim, yang sebenarnya sangat berlawanan dengan iman Katolik dalam menghargai Islam sebagai agama yang hanya beribadah kepada Allah. Kemudian Paus menyampaikan permohonan maafnya kepada seluruh umat Muslim. Peristiwa ini sebenarnya membuka dialog antara Paus, pusat Katolik dunia di Vatikan dengan Islam.

Sebaliknya dari kalangan Muslim, sebulan sesudah perkuliahan Paus Benediktus XVI, pada tanggal 13 Oktober 2012, satu dokumen yang berjudul “A Common Word” disampaikan sebagai surat terbuka dari 38 ulama dan intelektual Islam dunia kepadanya.  Setahun kemudian, dokumen ini telah ditandatangani oleh kurang lebih 138 ulama dan intelektual Muslim dari seluruh dunia. 

Diakui belum pernah dalam sejarah sejak kematian Nabi Muhammad SAW, terjadi pertemuan yang terbesar dari ulama dan intelektual Muslim untuk membahas tentang sebuah persamaan di antara Islam dan Kristen. Sebagaimana Surat Terbuka sebelumnya, penanda-tangan pesan ini berasal dari setiap denominasi dan kelompok pemikiran dalam Islam. 

Bentuk akhir dari surat terbuka ini, Sebuah Persamaan di Antara Kami dan Kamu diperlihatkan pada Konferensi dengan tema "Kasih di dalam Al Quran" yang diorganisir oleh Akademi Kerajaan dari Institut Kerajaan Al-Bayt untuk pemikiran Islam di Yordania. Konferensi ini mendapat dukungan penuh dari Yang Mulia Raja Abdullah II.

Dikatakan bahwa setiap negara atau wilayah Islam di dunia terwakili dalam pesan ini. Surat terbuka ini ditujukan kepada para pemimpin semua gereja di seluruh dunia dan kepada semua umat Nasrani di mana-mana.

Dokumen tsb mengakui dua hal mendasar dari persamaan Kristen dan Islam adalah terkait dengan kesatuan Allah dan kasih. Pertama, baik Al Quran maupun Injil menjelaskan tentang kesatuan Allah ini.  Dalam Surah Al-Ikhlaas, 112:1-2, dikatakan: “Katakanlah (ya Muhammad): Dialah Allah yang Mahaesa. Allah yang dituju untuk meminta hajat. Sementara dalam Perjanjian Baru, dokumen “A Common Word” mengutip Injil Markus 12:29: “Yesus Kristus berkata: “Hukum yang terutama ialah: “Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa.  

Kedua, Surah Al-Muzzammil, 73:8 mencatat tentang perkataan Nabi Muhammad SAW: “Tidak seorang pun dari kamu memiliki iman sampai kamu mengasihi sesamamu sebagaimana kamu mengasihi dirimu sendiri”.  Sementara dalam Injil Markus, sebagaimana dikutip oleh “A Common word”, sesuai dengan Markus 12: 30-31 tertulis: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum kedua ialah: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini”.

Membaca “A Common Word”  untuk saya seperti sedang melihat tuturan suci dalam  Al Quran dan Alkitab diwahyukan kembali kepada masing-masing umat.  Pertama kali saya membaca dokumen ini ketika memulai menulis bersama kolega saya, Ibu Siti Ruhaini dari UIN Sunan Kalijaga untuk buku seri A Common Word dalam bahasa Indonesia. Tetapi penulisannya yang indah menyebabkan setiap kali pembacaan mengharukan hati. Dokumen ini seperti suara Allah yang sedang menyapa umat manusia.

Diperkatakan dalam “A Common word”, tentang ajak kaum Muslim untuk meminta kaum Nasrani bergabung dalam pengakuan tentang kesamaan kedua ajaran mendasar tsb. Menemukan dasar yang sama antara kaum Muslim dan kaum Nasrani walaupun diakui kedua agama ini berbeda secara teologi maupun dalam ritual keagamaannya. 
 
Dokumen Sebuah Persamaan di Antara Kami ini setidaknya menyediakan pedoman umum dan dasar teologi yang solid tentang pengajaran dari Al Quran dan Sang Nabi Muhammad SAW serta hukum-hukum yang diuraikan oleh Isa Al Mesiah AS (Yesus Kristus) dalam Injil. Diakui adanya perbedaan tetapi Islam dan Kekristenan tidak saja berbagi asal mula Keilahian yang sama dan warisan Ibrahim (Abraham) yang juga sama, tetapi mengandung dua hukum utama yang sama seperti sudah dijelaskan di atas. 

Kaum Muslim mengakui Yesus Kristus sebagai Mesiah menurut perkataan Al Quran dalam Surah Al Nisa 4:171: “Isa anak Maryam, hanya rasul Allah dan kalimatNya, disampaikanNya kalimat itu kepada Maryam beserta roh daripadaNya". Dari dasar inilah para ulama dan intelektual Islam yang menandatangani  "A Common Word" mengundang kaum Nasrani untuk bergabung bersama kaum Muslim dalam mengakui persamaan di kedua agama besar ini. Pengakuan persamaan ini harus dilakukan dengan bebas mengikuti apa yang diperintahkan Allah yang menjaminkan tidak adanya paksaan dalam agama sebagaimana tertulis dalam Surah Al Baqarah 2:256. 

Persamaan kedua agama ini bukan sekedar untuk berdialog secara sopan santun, tetapi untuk memelihara perdamaian di dunia ini.  Dengan persenjataan modern yang mengerikan, di mana kaum Muslim dan kaum Kristiani bersama-sama berjumlah lebih dari setengah populasi dunia. Mereka hidup saling bersinggung, maka tidak akan ada pihak yang bisa memenangkan dari konflik atas nama perbedaan agama, Kristen dan Islam. 

Inilah waktunya untuk hidup saling menerima perbedaan tanpa menyebabkan kebencian dan perselisihan di antara Islam dan Kristen. Karena semua jiwa yang tulus apabila gagal melakukan segala upaya damai dan berkumpul dengan harmoni, maka akan menimbulkan bencana bagi manusia itu sendiri. 

Kami berfoto bersama mahasiswa-mahasiswi Universitas Muhammadiah Yogyakarta sesudah belajar bersama Pak Bernard Adeney-Risakotta di Pondok Tali Rasa, Yogyakarta

Dokumen dari sebuah persamaaan  di antara kami dan mereka telah mendorong Gereja-gereja sedunia (WCC), Aliansi Injil Sedunia (WEA), dan Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama (PCID) bertemu selama 5 tahun dalam berbagai tempat untuk mengakomodasi pandangan dan praktek gereja-gereja dari berbagai benua dengan tradisi budaya yang berbeda-beda. 

Pertemuan demi pertemuan dimulai Lariano, Italia dimana wakil-wakil gereja yang berbeda bertemu pada tahun 2006 untuk menjelaskan menilai realitas dunia yang berubah. Konsultasi diteruskan setahun kemudian pada tahun 2007 di Toulouse, Perancis untuk khusus membahas dan merefleksi tentang keluarga dan masyarakat, penghormatan terhadap sesama, pemasaran dan persaingan ekonomi serta kekerasan dan politik. Kemudian diteruskan dengan konsultasi ketiga antara Kristen di Bangkon pada tanggal 25-28 Januari 2011 yang dihadiri oleh umat kristiani lebih luas meliputi Katolik, Ortodoks, Protestan, Injili dan Pantekosta. 

Berbagai pertemuan tersebut menghasilkan dokumen “Kesaksian  Kristiani dalam Kemajemukan Agama Dunia Rekomendasi Pelaksanaan”. Dokumen ini dirumuskan oleh tiga lembaga dunia Kristen, yaitu World Council of Churches (WCC), Pontifical Council for Interreligious Dialogue (PCIP) dan World Evangelical Alliance (WEA).

Dokumen kesaksian itulah yang didiskusikan oleh Gereja-Gereja dari PGI sehingga bisa merumuskan  praktek baru tentang misi Gereja seperti tergambar dari refleksi bersama peserta Konsultasi Nasional Pekabaran Injil yang dilakukan di Semarang tanggal 11 November 2011. 

Secara singkat bisa disampaikan bahwa dalam dokumen “Kesaksian  Kristiani” ini. ada 7 butir terkait dengan dasar kesaksian Kristiani, ada 13 hal terkait dengan pokok-pokok dan ada 6 rekomendasi. Dokumen ini dilampirkan dengan apendiks tentang sejarah memproses dokumen termasuk juga rujukan untuk berbagai dokumen lain seperti pernikahan antaragama sebagai hasil rumusan dari berbagai pertemuan sejak tahun1994-1997 dan Keagamaan Afrika yang dihasilkan di antara tahun 2000-2004.

Saya ingin meringkas 13 hal terkait dengan pokok-pokok yang diturunkan dari 7 butir dasar kesaksian Kristiani sekaligus menjadi fondasi untuk membangun 6 butir rekomendasi. Adapun ketigabelas hal tersebut meliputi:
  1. Orang Kristen dipanggil untuk mematuhi pokok-pokok dari dokumen Kesaksian.
  2. Bertindak dalam kasih Allah.
  3. Meneladani Yesus Kristus
  4. Orang Kristen dipanggil untuk hidup dalam kebajikan Kristen (Lihat Galatia 5:22)
  5. Tindakan melayani dan adil
  6. Penegasan dalam pelayanan penyembuhan yang tidak mengeksploitasi
  7. Menolak kekerasan dan perusakan dalam semua cara
  8. Kebebasan beragama dan berkeyakinan
  9. Saling menghormati dan solidaritas
  10. Rasa hormat bagi semua orang
  11. Melepaskan kesaksian palsu
  12. Memastikan penegasan dan kebebasan pribadi secara penuh terhadap pengubahan agama seseorang
  13. Membangun hubungan antaragama.
Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia, dengan jumlah penduduk beragama Kristen yang sama dengan jumlah populasi di negara Malaysia, merupakan negara yang sangat menentukan perdamaian bersama di muka bumi.  Kesadaran inilah yang mendorong saya membagikan tulisan ini. Saya berharap pembaca Kristiani bisa bertanya dari pemimpin gerejanya tentang hasil Konsultasi Nasional Misi 2012.

Sementara kepada saudara/i Muslim sebangsa, saya berharap bisa mencari tahu dari ulama dan intelektual Islam Indonesia tentang dokumen Sebuah Persamaan di Antara Kami. Dokumen ini merupakan undangan terbuka dari ulama dan intelektual Islam sedunia kepada gereja-gereja dan semua orang Nasrani di muka bumi untuk setia terhadap ajaran dari Nabi Muhammad SAW dan Isa Al Mesiah SW. 

Kualitas kesetiaan kepada  kepada Allah dalam cara umat mengasihi Allah adalah sama dengan cara mengasihi sesama manusia. Inilah  tantangan beragama yang sedang dihadapi oleh kita semua di Indonesia karena adanya kecenderungan untuk mengklaim kebenaran dari perspektifnya sendiri. 

Tetapi Allah tidak bosan untuk menyelamatkan manusia dari kekhilafannya. Suatu pencerahan dari kebijakan Allah melalui dokumen Sebuah Persamaan di Antara Kami sedang menunggu kita semua untuk mengikutinya. Inilah jalan Allah yang benar. Jalan menuju kepada kehidupan. Semoga dari Indonesia, persemaian perdamaian disebarkan ke seantero bumi. Amin.



Pelajaran di balik kekerasan atas nama Irshad Manji, atas nama Allah!



Memperbincangkan seksualitas, menghadirkan perempuan akar rumput dan pemuda/i
Bagian kedelapan: A learning lesson behind the violence in the name of Irshad 
                             Manji and Allah!

Oleh Farsijana Adeney-Risakotta

Dalam Young Queer Interfaith and Sexuality Camp, saya mempopulerkan Irshad Manji (IM).  Sedikit pemuda/I yang tahu tentang pemikirannya. Tetapi sejak minggu lalu hingga sekarang IM menjadi buah bibir. Kedatangannya ke Indonesia menjadi berkat dan kutuk. Ia bukan saja disanjung tetapi juga dihujat, kedua ekspresi ini dilakukan dalam nama Allah. 

Bahkan yang paling kejam, kedua massa yang menyanjung dan menghujat saling berhadapan. Agresitas dari massa yang menghujat tak terkendali. Mereka menyerbu, membubarkan, dan merusakan pertemuan bahkan fasilitas di sekitar LKiS diporakporandakan.  Di Salihara, Jakarta, penyerangan terhindari karena pertemuannya sudah lebih dulu dihentikan oleh Polisi.

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X telah meminta Kapolda DIY untuk menindak tindakan sewenang-wenang dari massa yang menatasnamakan Majelis Mujahidin untuk diinvestigasi.  Cerminan Yogyakarta sebagai kota yang bebas dari intimidasi polisi setidaknya nampak. Pada hari yang sama LKiS diserang, paginya kegiatan diskusi dengan IM dihentikan karena ada SMS dari Rektor UGM kepada Direktur CRCS, Dr. Zainal Bagir.  Kedua kegiatan di Yogyakarta berbeda dengan peristiwa Salihara di Jakarta, ketika polisi datang menghentikan pertemuan.

Membandingkan dua hal yang berbeda, saya merasa harus mengakui keberanian teman-teman yang memindahkan pertemuan dari  CRCS UGM ke LKiS.  Sekalipun LKiS diporakporandakan, tetapi pertemuan itu mengirimkan signal ke seantero negeri, ke seluruh penjuru Indonesia, bahwa rakyat tidak bisa diintimidasi oleh kekerasan apapun.  Penegasan ini diperkuat dengan unjuk rasa dari Gerakan Rakyat Yogya anti kekerasan (Gerayak) yang diikuti oleh 1000 orang dan dipimpin oleh Imam Aziz dari PB NU. Unjuk rasa ini menunjukkan tentang karakter Yogya sebagai kota toleran. 

Peristiwa penganiayaan terhadap pertemuan di LKiS bukan suatu kecolongan! Peristiwa tersebut sebenarnya menunjukkan bahwa kedua kelompok massa harus duduk bersama untuk mendiskusikan tentang isu penting yang mengganggu iman Islam. Lebih dari itu, isu seksualitas yang berbeda ini juga mengganggu kewibawaan agama lain, termasuk juga Kristen di Indonesia.

Menarik menganalisa bahwa massa yang datang ke CRCS UGM berasal dari Front Pembela Islam (FPI) sementara yang ke LKiS adalah Majelis Mujahidin (MM). Apakah kedua organisasi ini sama, dalam arti orang-orang yang sama datang ke UGM maupun LKiS, kita tidak tahu. Tetapi klaim perbedaan kelompok dari FPI yang berada di UGM dan MM yang menyerbu LKiS sangat menarik di analisis. 

CRCS dan ICRS Yogya pernah melakukan seri workshop tentang berbagai tema untuk menghadirkan pemimpin-pemimpin agama dari kelompok-kelompok yang dilabel atau melabelkan diri sendiri sebagai “fundamentalis”. Fundamentalis adalah mereka yang dalam ajarannya kembali ke fondasi agama.  Kelompok fundamentalis ada dalam semua agama. Di Srilanka, karena perang saudara, kedua kelompok masyarakat dibedakan menurut agama Budha dan Hindu, keduanya berada pada sisi ekstrim yang disebut fundamentalis Budha dan fundamentalis Hindu. 

Kegiatan CRCS dan ICRS Yogya menghadirkan semua kelompok fundamentalis dari berbagai agama. Saya ingat pada seri workshop terakhir yang dilakukan secara internasional, kalifah MM di Indonesia berbicara tentang visi dan misi MM. Mungkin yang tidak hadir adalah representasi dari FPI.

Jadi hubungan CRCS dengan MM sebenarnya sudah terbentuk. Sudah ada dialog dengan MM untuk mendengarkan pemikiran mereka. Sementara FPI mungkin belum pernah terlibat dalam dialog-dialog bersama karena resistensinya untuk menolak semua bentuk konstruksi teologi yang bertujuan untuk menelanjangi Islam.  Apakah hubungan inilah yang menyebabkan FPI datang ke CRCS UGM untuk menghentikan rencana diskusi dengan IM. Kemudian MMlah yang melakukan penyerangan ke LKiS, karena terbebas dari hubungan emosi seperti yang pernah terjalin dengan CRCS dan ICRS Yogya.

Analisa konflik ini dilakukan untuk memikirkan lebih jauh tentang perlunya diskusi-diskusi terbuka tentang topik-topik yang sensitif seperti seksualitas secara rutin. Diskusi tidak harus menunggu datangnya seorang yang bernama besar. Membangun kesiapan masyarakat untuk hidup saling pengertian tidak harus dimulai dari orang-orang yang sudah hebat. Perubahan pola pikir beragama dapat dimulai dari cara hidup yang paling sederhana, sehari-hari.

Ruang-ruang perjumpaan publik harus dibukakan kepada semua kelompok sehingga suara mereka bisa didengar untuk memicu diskusi-diskusi yang dilakukan tanpa rasa takut.  Koran harus mulai berani memuat tulisan tentang seksualitas. Surat kabar dan media elektronik lainnya harus menjadi pelopor untuk menghadirkan forum public kepada semua warga negara. Atas nama figur diri, suatu diskusi tidak semana-mena bisa dihentikan, dibatalkan.

Pemikiran Irshad Manji tentang Allah yang mengasihi juga ada pada tokoh-tokoh agama seperti Imam Aziz. FPI dan MM juga mempunyai pandangan dan teologi tentang Allah yang mengasihi. Irshad Manji merefleksikan Allah yang mengasihi dari pengalaman seorang lesbian yang tertindas. Imam Aziz menguraikan Allah yang mengasihi dari pengalaman keragaman teologi kitab kuning ala NU. FPI dan MM menjelaskan Allah yang mengasihi dari perspektif Islam murni, Islam seperti tertulis dalam Al Quran. 

Pengalaman iman berpengaruh terhadap perumusan tentang kasih Allah. Dalam konteks kepelbedaan inilah seharusnya mereka bisa saling menerima, karena siapakah yang dapat mengklaim dan membatasi cintakasih Allah kepada dirinya sendiri? Tetapi ketika masing-masing pihak saling tuduh menuduh tentang kebenaran dan klaim dari pandangannya tentang Allah, maka memang tidak bisa ada dialog.

Dialog sangat perlu diupayakan. Dalam jaman modern saat ini, cara beragama dan informasi  dari berbagai pemikiran tentang agama, bisa diakses oleh umat dari berbagai sumber. Wibawa dari pemimpin agama, sebagai satu-satunya ukuran dan sumber kebenaran agama sudah bergeser. Umat juga mulai berpikir kritis tentang agama yang mengajarkan dan menghadirkan nilai-nilai yang bertentangan dengan jalan agama yang diajarkannya.

Umat tahu kepada siapakah dirinya akan menyerahkan imannya. Ia menyerahkan imannya kepada Allah bukan kepada pemimpin agama yang bisa menghasut umat untuk saling membenci.  Umat mulai terbuka untuk mengakui bahwa dirinya tidak semudah saja mengklaim kebenaran pada dirinya sendiri karena hanya Allahlah yang benar!

Peristiwa LKiS perlu dilihat dalam perspektif kebersamaan, di mana setiap orang meminta ruang di tengah-tengah publik untuk didengar. Saya bersyukur, polisi tidak turut campur tangan dalam hal ini. Kita tidak tahu apakah dibelakang layar ada upaya polisi menghentikan pertemuan tersebut. Tetapi setidaknya ketidakhadiran polisi memperlihatkan pengulatan ruang publik yang sedang tarik menarik di antara kelompok yang berbeda. Mereka yang harus memulai berani berdialog tanpa menggunakan kekerasan.

Sekarang benar apa yang dikatakan oleh Sri Sultan, polisi harus  melakukan investigasi untuk mencari tahu bagaimana pelanggaran ruang-ruang publik bisa dilakukan.  Memasuki dan menghancurkan milik seseorang atau sekelompok tertentu tanpa izin merupakan suatu tindak pidana yang harus ditindak demi penegakan kebenaran dan hukum di negara.

Sabtu, 12 Mei 2012

Jakarta Jakarta Jakarta



Jakarta Jakarta Jakarta

Oleh Farsijana Adeney-Risakotta

“denyut di jantungmu kota
pusat gelisah dan tawa
dalam selimut debu dan kabut
yang hitam kelam warnanya

sejuta janjimu kota
menggoda wajah-wajah resah
ada di sini dan ada di sana
menunggu di dalam tanya
menunggu di dalam tanya
tanya

mengapa semua berkejaran dalam bising
mengapa oh mengapa
sejuta wajah engkau libatkan
dalam himpitan kegelisahan

adakah hari esok makmur sentosa
bagi wajah-wajah yang menghiba”

Lirik lagu di atas dipopularkan oleh band God Bless, dengan singer, Achmad Albar di sekitar tahun 1980an.  Saya ingat menyanyikan lagu itu ketika masih remaja tinggal di Yogya. Ketika itu, ayah masih bertugas di Ambon. Tetapi setiap saat ia ke Jakarta untuk tugas, saya selalu diminta menyusulnya ke Jakarta.

Setiap memasuki Jakarta, di Gambir ketika kereta berhenti, saya sadar harus menjadi orang Jakarta. Orang Jakarta berlomba dengan kecepatan. Perjalanan panjang di jalan raya yang macet adalah dinamika hidup.  Kemudian sesudah lulus SMA di Yogya, bersamaan dengan kepindahan orang tua ke Jakarta, saya juga mulai memasuki Jakarta.

Jakarta mengajarkan kepada saya tentang kemandirian. Jakarta membentuk keberanian. Saya setiap hari menggunakan bus dari Tomang Raya, di mana orang tua saya tinggal ke jurusan Salemba Raya.  Melompat turun di areal Mega Ria, seperti terlepas dari penjara untuk berjalan bebas ke Jalan Proklamasi di mana Sekolah Tinggi Teologi Jakarta berada.  

Selama di bus kota saya harus waspada karena mungkin akan kecopetan.  Orang-orang berjas dengan menjepit stop map bergaya perlente siap sedia menggunakan celaan seseorang yang terkesan polos dan lemah.  Ketika yakin mangsanya di dekat mereka, segera dengan desak-desakan mereka mulai mempretelin milik seseorang dengan sangat halus sehingga lenyap tanpa disadari.

Jakarta mengajarkan saya menjadi perempuan dengan pribadi yang hati-hati. Kehati-hatian terhadap jebakan-jebakan saya bawa ke mana-mana.  Kehati-hatian ini pernah menyebabkan  tangan saya dipukulin oleh seseorang yang sakit hati di kereta di Athena Yunani.  Suami dan saya tiba-tiba dipisahkan oleh gerombolan orang-orang ketika kami sama-sama berebutan memasuki subway di Athena. Genggaman tangan kami dipisahkan dengan paksa. 

Desakan beberapa lelaki yang masuk tiba-tiba dan memisahkan menyebabkan kami tidak bisa berbuat apa-apa. Saya tiba-tiba sudah dikelilingi oleh lelaki-lelaki. Suamiku ada diseberang dari tempat saya berada. Dengan bahasa Indonesia, saya berteriak kepada suamiku: “Jangan panik, saya bisa menjaga diri”. Gelagak suami yang ingin menerobos mereka untuk menyatu dengan saya tiba-tiba menjadi tenang sesudah ia mendengar saya berteriak: “Jangan panik”. 

Sesudah memastikan ketenangan suamiku, saya pun tenang. Dengan konsentrasi penuh, saya memastikan berdiri tegak dan memegang rapat tas yang disilangkan ke depan. Saya tidak sedikitpun menunjukkan kecurigaan bahwa saya tahu mereka. Saya tenang dan waspada. Ketika kereta berhenti saya melebarkan kedua tangan sendiri yang sekaligus melingkar pada besi pegangan. Ketika orang-orang itu mencoba bersandaran saya menyikut mereka.

Beberapa kali saya harus menyikut mereka. Setiap saya melakukan itu, saya ingat di Jakarta. Jadi ketika kereta berhenti, semua penumpang turun, tiba-tiba tangan saya dipukuli oleh lelaki yang beberapa kali saya harus mendorongnya dengan menyikut. Saya terlindung. Orang itu tidak mendapat apa-apa dari saya.

Kota-kota besar di mana saja sama.  Kota-kota ini melebihi hutan liar di Halmahera, Sulawesi Tengah bahkan di daerah sekitar Johanesburg di Afrika Selatan.  Daya tahan kita adalah ketika bisa mengatasinya tanpa merendahkan orang-orang tersebut. Kewaspadaan. Sebagai perempuan kita perlu menghindari konstruksi masyarakat yang membuat perempuan tidak percaya diri. Sehingga bisa diganggu ketenangan kita ketika berjalan sendiri dengan transportasi umum.

Kembali ke Jakarta beberapa kali, saya diingatkan tentang kewaspadaan itu. Di antara kewaspadaan dan romantisme ketahanan. Saya ingat pernah sesudah beberapa tahun di Belanda, tiba di Jakarta untuk mengunjungi ibunda.  Di sana beberapa hari saya saya memutuskan menggunakan bus mengelilingi Jakarta. 
Tujuan saya adalah memanggil keluar lagi kekuatan diri dari perjalanan bersama orang-orang itu.

Tinggal lima tahun di Jakarta bersama orang tua dan saudara/i saya, menyebabkan saya berjanji untuk akan tinggal di Yogya saja, kota remaja saya. Tetapi setiap kali merasakan kembali  kedinamisan Jakarta, jantung saya berdebar. Jakarta kota hidup untuk mereka yang mau hidup.

Seminggu ini saya juga ada di Jakarta. Sesudah tiba di airport saya mengambil bus Damri untuk membawa saya ke tempat pertemuan. Di Damri saya tertidur. Kenek berteriak-teriak Cempaka Putih. Saya kaget langsung bangun ketika bus mendekat di tempat perhentian di Stop Honda di Cempaka Putih. Saya harus turun cepat-cepat. Di jalan sudah menunggu beberapa lelaki. Ojek. Ojek. Mereka menawarkan kepada saya. Sudah gelap. Tidak ada taksi. Saya lihat wajah mereka. Saya menyebut nama tempat saya akan ke sana. 

Seorang lelaki menunjukkan bahwa ia tahu. Saya bertanya apakah bisa membawa koper kecil dengan ojek. Ia katakan bisa. Itu pertama kalinya saya naik ojek dengan koper kecil di depannya.  Bapak itu memberikan helem kepada saya. Saya mengenakannya. Kemudian dia mengendarai motornya di atas trotoar membuat belokan sehingga mencapai jalan tembus keluar dari jalur lambat. Ia mengambil jalur bus way sebagai jalurnya. Saya bertanya apakah ini diperbolehkan. Ia katakan kalau malam tidak apa-apa. Siang hari ada polisi. Saya tahu beberapa kali bus way menabrak pengendara motor ketika berpapasan dengannya di jalur bus way. Jantung saya debar-debar.

Ketika saya akan balik ke Yogya, saya ke airport dengan mengambil bus damri di terminal Rawamangun. Saya mencegat taksi yang membawa saya ke terminal. Saya ingin mendengar dari sopir tentang situasi Jakarta selama kampanye pemilukada. Dengan tukang ojek saya tidak sempat bercerita banyak. Saya terlalu kuatir dengan perasaan akan ditabrak bus way. Walaupun tukang ojek sudah mengatakan akan minggir dari jalan ketika  bus way datang, saya masih dek-dekan.  Saya berpikir-pikir mungkin akan melompat kalau tukang ojek macam-macam. Syukur saya diturunkan ditempat yang dituju dengan selamat. 

Jadi di taksi Blue Bird yang membawa saya ke terminal Rawamangun, saya lebih rileks. Saya bertanya siapa yang akan dipilihnya. Ia katakan belum tahu. Ia sedang menunggu undangan pemilukada. Saya bertanya lagi. Kalau undangan sudah diterima, ketika pemilukada dilakukan, akan pilih siapa. Ia katakan: "Ya pilih yang sudah jelas berbuat kepada orang Jakarta". Suaranya memberikan tekanan pada kata berbuat.   

Saya kemudian menggali lebih mendalam: “Apa maksud bapak masalah Jakarta yang paling penting dan sudah dilakukan oleh seorang kandidat Gubernur?”. Ia menjawab: “Banjir". Ternyata jawabannya banjir. Saya salah duga. Saya pikir jawabannya mungkin tentang kemacetan.

Menurutnya, pemerintah, gubernur sekarang sudah berhasil mengalirkan banjir ke BKT (Banjir Kanal Timur).  Saya sangat familiar dengan BKT. Rumah ibunda di daerah Kali Malang sehingga setiap kali ke sana, Casablanca dan BKT menjadi jalan alternatif yang sangat indah. Ketika melewatinya pada sore hari, ada pemandangan yang sangat mengharukan. Anak-anak bermain di bagian punggung jalan yang luas. 

Seolah-olah saya berada di Belanda, di kota-kota pantai utara yang sering saya kunjungi seperti Rotterdam  atau Zealand di pantai barat daya. Saya ingat berhenti di BKT dan membaca catatan tertulis pada prasasti yang diletakan di atas jalan tinggi tertulis tentang kerjasama pemerintah DKI Jaya dengan pemerintah Belanda.  Proyeknya sudah berjalan sejak tahun 1991.

Pada tahun 1973 Netherlands Engineering Consultants membantu pemerintah menyusun “Master Plan for Drainage and Flood Control of Jakarta". Bahkan jauh sebelumnya, pemerintah kolonial Belanda sejak tahun 1920an sudah merencanakan pengembangan Banjir Kanal Jakarta yaitu pengembangan kali Ciliwung mengalir keluar melewati Batavia.  

BKT  yang panjangnya 23,5 km menyatukan aliran air dari kali Ciliwung, kali Cililitan, kali Cipinang, kali Sunter, kali Buaran, kali Jati Kramat, dan kali Cakung juga menggunakan sistem yang sama untuk membawa keluar air sungai dari wilayah pemukiman. Ada 11 kelurahan di Jakarta Timur dan 2 kelurahan di Jakarta Utara yang terlintasi BKT.

Jadi pak supir taksi tidak peduli dengan sejarah pengembangan BKT.  BKT bukan hasil kerja dari pemerintah DKI sekarang, karena pengerjaannya dilakukan dengan anggaran dari Departemen Pekerjaan Umum.  Perencanaan berpuluh-puluh tahun memang sekarang mulai memberikan dampak kepada warga Jakarta.  Bapak sopir itu tidak mau tahu. Ia hanya tahu sekarang rumahnya tidak kebanjiran lagi. Katanya: “Kami tidak kuatir lagi dengan kebanjiran di Jakarta”.  

Bapak ini juga memastikan bahwa keputusannya memilih ada dalam kesepakatan bersama dengan teman-temannya. Mereka tahu apa yang diperbuat oleh pejabat. Mungkin ada perubahan apabila ada analisis lain tentang ukuran keberhasilan seorang pejabat yang telah berbuat untuk Jakarta. Siapakah dia? Apakah calon rakyat kecil dari pinggiran Jakarta adalah Fauzi Bowo?

Jakarta Jakarta Jakarta, wajah-wajah masyarakatnya yang ingin memastikan ada keamanan minimum. Ketimpangan mungkin bisa diterima tanpa harus digoyahkan dengan ketidakpastian alam karena banjir. Dengan banyaknya manusia di Ibu Kota Negara, akan ada berkat untuk mereka yang kerja keras. Juga kalau harus pergi pagi dan pulang malam. Itu keadilan. Tetapi adalah kebodohan apabila terjadi banjir.

Beberapa hari di Jakarta, banjir ketika hujan berturut-turut tanggal 6-7 Mei. Warga tidak terlalu kuatir lagi. Selamat Jakarta…Selamat pemilukada….Siapapun gubernur selamat meneruskan pembangunan yang memberikan kenyamanan kepada warganya.

lihat tulisan terkait, link
"Jakarta Memilih: Politik Tubuh Fauzi Bowo-Nara versus Jokowi-Ahok"
http://farsijanaindonesiauntuksemua.blogspot.com/2012/09/jakarta-memilih-politik-tubuh-fauzi.html
 


Merawat Jiwa


Merawat Jiwa*
by Farsijana Adeney-Risakotta on Sunday, August 29, 2010 at 5:20pm 

* Tulisan ini dipublikasi pada jaringan Facebook on Sunday, August 29, 2010 at 5:20pm, seperti tertulis di atas. Saya menyalinkannya ke blog ketika menulis tentang Jakarta Jakarta Jakarta.
                                               

Dunia bergetar. Bumi bergoyang. Cuma ketika gempa bumi manusia berlari ketakutan. Seterusnya bumi tetap tenang. Juga ketika manusia berlari dikejar waktu. Kemanakah manusia pergi sejak fajar lalu balik pulang sebelum petang. Burung-burung lakukan yang sama. Ketika panggilan doa dipanjatkan di ujung-ujung bangunan.

Bumi sudah berwarna jingga. Saya juga sudah balik ke rumah. Cuma timbunan pikiran dari kerjaan masih mengikut pulang. Seharusnya saya lepaskan beban kerja di depan pintu masuk. Ingat nasihat bijak, tinggalkan kerja untuk pulang berdoa bersama. Di meja makan menunggu anak-anak dan suami untuk dinner bareng. Maka duduklah diriku dalam lingkaran semua orang yang juga sudah capek. Kemudian kapan waktu untuk diriku sendiri?

Sudah lama kurindukan diriku sendiri. Bisakah diriku dikarantina tanpa alasan sakit? Sakit seperti flu sering banget. Tetapi sakit ini lemah untuk menolak pertemuan di luar rumah. Kurindukan sendiri juga kalau harus dengan sakit asal bukan flu. Pernah terlintas pikiran itu. Ketika saya sedang bertanya-tanya tentang kapan diriku bebas bagi diriku, kapan diriku punya waktu untuk diriku sendiri. Kemudian saya sakit. Hebatnya kerinduan sakit bisa terkabul karena memang jiwa rindu sendiri.

Kata seorang teman sakitku, sakit yang ngak elit. Sakit menular! Saya harus dipingit supaya penyakitnya ngak berpindah ke anggota keluarga lain. Padahal saya ketularan dari anak ketika dirawat sakit yang sama. Beberapa hari panas tinggi, sekarang sudah menurun tetapi proses pengeringan bintikan cairan cacar perlu waktu. Ini masa yang paling menular untuk bertemu orang lain. Jadi bersama diri sendiri adalah pilihan yang terbaik. Paling diharuskan!

Suamiku merawat diriku. Sebuah stereo dipindahkan ke kamar kami supaya saya bisa mendengar musik. Sehari-hari karena sering terburu-buru dengan berbagai kesibukan dengar musik kesayangan dilakukan sambil nyopir. Sakit mendekatkan diriku dengan Tuhan Pengasih. Kristus penolong penyembuh dalam tradisi Kristiani melawatku. Tetapi kumohon Kristus membiarkan diriku sendiri untuk sembuh secara alamiah. Hatiku tenang dalam naungan kasihNya.

Kamar kami juga dikelilingi dengan kertas-kertas dan buku-buku yang sedang kugunakan untuk kerja-kerjaku. Meringankan diriku, saya putuskan untuk membaca bukan untuk pengetahuan pikiran. Membaca untuk jiwaku. Novel pertama yang kubaca selama sakit adalah novelnya Ahmad Fuadi, “Negeri 5 Menara”. Ini kisah sejati yang dirangkaikan dengan sangat indah dalam bahasa Alif, mantan wartawan Syams, majalah Pondok Mandani, tempat awal dilatih sebelum menjadi wartawan Tempo.

Pondok Mandani adalah nama pena untuk Pesantren Gontor di Jawa Timur yang menjebloskan penulis dengan prestasi penguasaan ilmu dan bahasa bisa taklukan dunia. Itu benar. Kemudian penulis mendapat 8 beasiswa termasuk memenuhi mimpinya meneruskan di Unpad sesudah lulus dari pesantren dan berkelana untuk belajar di berbagai belahan bumi. Cita-cita masa kecilnya di Minang terkabul ketika di Bandung ia bertemu dengan Randai, teman dan pesaingannya dari masa di kampong yang lebih dulu belajar di ITB.

Negeri 5 Menara antara fakta dan fantasi dalam ingatan Fuadi yang dirumuskan sebagai keyakinan kaum pesantren, iklas dan man jadda wajada, semboyan bahasa Arab yang berarti kalau mau usaha pasti berhasil. Mengiklaskan diri untuk membumi dengan Pondok Mandani menjadikan pelaku-pelaku dalam Negeri 5 Menara mengisahkan gerakan dirinya dengan sangat hidup sebagai imajinasi dari kenyataan hidup sang penulis. Suatu gerakan kehidupan yang dirahmahni alam semesta dan diridhoi Allah.

Ketika jenuh baca, saya mendengar Aretha Franklin. Album “Say a little pray” Aretha saya putar beberapa kali sampai merasakan gejolak jiwa dari penyanyi yang disebut Ratu Jiwa (the queen of soul). Penyanyi berusia 68 tahun ini bisa membuat saya sang penderita terhentak ketika ia menyanyikan lagunya “a natural woman”.

Looking out on the morning rain
I used to feel uninspired
And when I knew I had to face another day
Lord, it made me feel so tired
Before the day I met you, life was so unkind
But you’re the key to my peace of mind

Cause you make me feel,
You make me feel like
A natural woman

When my soul was in the lost-and-found
You came along to claim it
I didn’t know just what was wrong with me
‘Til your kiss helped me name it
Now I’m no longer doubtful of what I am living for
And if I make you happy I don’t need do more

You make me feel,
You make me feel,
You make me feel like
A natural woman

Oh, baby, what you’ve done to me
Oooh, you make me feel so good inside
Aaah-nd I just want to be close to you
You make me feel so aliiiiiiiive

You make me feel,
You make me feel,
You make me feel like
A natural woman
 
Sungguh menjadi perempuan yang alamiah sangatlah penting. Perempuan yang bisa merawat jiwa. Tak kupedulikan apapun rupaku sesudah cacar air. Semangatnya Alif Fuasi, tokoh utama dari “Negeri 5 Menari” kudekap dalam sanubari. Tak kupedulikan apapun tampak diriku. Juga ketika kulit berganti perlu waktu. Juga ketika harus tampil di ruang kelas dan diberbagai tempat dalam keadaan sebelum kulit yang menua kembali normal. Ini bukanlah kutuk dari Allah. Kuterima kesakitanku supaya kupunya waktu untuk diriku sendiri, menikmati tuturan Fuadi tentang Gontor dan semangat perempuan alamnya Aretha yang meneguhkan jalanku. Merawat jiwa dari seorang perempuan alam adalah bagian dari diriku saat ini.

Merawat jiwa. Kurenungkan kebaikan dari sakitku, terutama ketika seorang teman telpon tentang acara kemarin, Temu Pemimpin Perempuan D.I.Yogyakarta yang tidak menampakkan diriku. Saya katakan Temu Pemimpin Perempuan D.I.Y adalah suatu gerakan sosial. Mungkin sakitku harus terjadi pada saat kegiatan itu berlangsung supaya makna gerakan menjadi milik bersama. Temu Pemimpin Perempuan D.I.Yogyakarta bukanlah milikku. Kegiatan itu sudah digulirkan seperti bola salju, ia menjadi milik masyarakat, bukan hanya perempuan iho. Begitulah ucapanku kepada sahabat yang prihatin dengan sakit saya.

Biarkanlah diriku merawat jiwa. Kumohonkan pengertian dari sahabat, kolega yang mengambil banyak tanggungjawab dari absenku. Kuperoleh pengertian itu dan diberikan waktu itu. Mahasiswa dan lembaga-lembaga yang bekerja sama, sungguh pengertian semua membolehkan diriku meneruskan upaya merawat jiwaku. Tulisan ini adalah bagian dari ucapan terima kasih saya kepada semua teman, kolega dan sanak saudara yang membolehkan diriku sendiri membaca, mendengar musik dan menidurkan diriku dalam pelukan kasihNya.

Sabtu, 05 Mei 2012

Warga mengubah pencitraan sungai Winongo!


Sisipan cerita!
Warga mengubah pencitraan sungai Winongo!
Oleh: Farsijana Adeney-Risakotta

Tahun 2009, saya pertama kali datang di sini, di bangunan yang disebut rumah bambu.  Banyak perempuan berkumpul. Masing-masing terlihat sangat sibuk. Masih segar dalam ingatan saya. Ruang itu penuh warna warni dari berbagai karya perempuan. Ada pakaian siap pakai, tas manik-manik, tas dengan bahan perca, taplak meja dari bahan bloco dengan motif bordiran yang menggambarkan alam sekitar kali. Masih banyak produk ketrampilan lainnya terbentang menawan di atas estalase sederhana di rumah bambu.

Mereka berkelompok menempati ruang dengan sekat. Selain pajangan hasil kerja kelompok yang siap dipasarkan, mereka masing-masing mempersiapkan nasi tumpeng yang dihiasi cantik. Imajinasi seseorang akan makin menakjubkan ketika bertemu dengan ide orang lain. Kreasi dari kreatifitas imaginasi bersama serupa kekuatan air Winongo yang terus bergerak. Karya-karya mereka itu dilombakan. Saya terkagum-kagum sebagai juri. Semua bagus-bagus!

Itu kenangan perayaan hari Kartini beberapa tahun lalu. Sejak itu sudah beberapa kali saya kembali ke pondok bambu. Tetapi hanya beberapa hari lalu menjelang datangnya bulan baru, bulan Mei 2012, saya sedang menyaksikan perubahan yang sedang terjadi di sana.  Pengorganisasian warga sekitar sungai Winongo yang dimulai  mba Endang Rohjiani sejak tahun 2007 ternyata bertumbuh dan mengubah wajah kampung dengan sangat menakjubkan. 

Mba Endang adalah teman seperguruan saya, sama-sama anggota Koalisi Perempuan Indonesia untuk keadilan dan demokrasi. Cerita dirinya sangat mengharukan hati saya. Di tahun ketika ia harus meninggalkan suatu LSM tempatnya bekerja bertahun-tahun, yang digambarkan sebagai masa kritis sekaligus kegilaannya justru itulah permulaan untuk bekerja tanpa pamrih. Ia mulai membersihkan tanah di mana rumah bambu berada. Tanah itu penuh dengan sampah!  Pelan-pelan ia keluar dari rumahnya berjejaring dengan warga setempat mengolah sampah dan menata sungai.

Kerjanya ini mulai menyembuhkan dirinya dan membuka jalan untuk memberikan hidupnya kepada komunitas di mana ia tinggal. Tidak banyak orang yang melakukan hal ini. Mba Endang adalah satu dari banyak orang yang bisa memulai dan program-programnya mengubah pelan-pelan warga setempat.

Rumah bambu menyimpan energi untuk menjadikan dirinya menyatu dengan alam di sekitarnya. Tetapi sekarang pusat aktivitas sudah melebar keluar dari rumah bambu. Seolah-olah bambu-bambu yang bertumbuh tegak sepanjang sungai Winongo membuka diri mereka. Di sanalah mba Endang dan masyarakat menata kehidupan kampung mereka bersama.  Sungai Winongo disentuh lembut oleh perempuan-perempuan yang menggandeng lelaki dan anak-anak membangun bersama. Tawa anak-anak berlarian.  Sapaan hormat di antara mereka yang bertemu di jalan. Semua mata sekarang menuju ke pinggiran sungai. Semua melangkah ke sana. 

Kami berjalan melewati lorong-lorong sempit di antara rumah-rumah penduduk yang sangat padat.  Dengan sentuhan kasih, rumah-rumah kumuh mulai tertata indah dan kuat. Sebuah rumah yang dulu kumuh baru saja direnovasi. Ini hasil kerjasama antara komunitas yang dipimpin mba Endang dengan Habitat for Humanity. Pemilik rumah itu seorang janda. Mba Endang lega, sekarang perempuan dengan posisi sebagai orang tua tunggal itu bisa tidur tenang ketika hujan lebat  lepas  dari langit.

Tinggal di sekitar sungai adalah nasib. Seperti air mengalir suaranya bergetar terpukul bebatuan. Tebing batu alam setinggi 50 meteran berdiri tegak sepanjang 30 meter pada kedua sisian sungai.  Di tengah sungai terlentang tegak bebatuan hitam setinggi 2-3 meter. Batu-batu terpencar membuat arah aliran air serupa tarian bersuara. Sepintas saya seperti melihat tampilanl putri air terbaring di tengah sungai. Saya ingin menceburkan diri ke sungai itu. 

Perasaan kuat itu datang membawa kenangan ketika saya menceburkan diri di salah satu anakan sungai dari danau Young di taman nasional Yosemite Park di California. Kira-kira 10 tahun lalu, ketika musim panas, suami dan saya hiking seminggu sampai melewati danau Young. Kami mendirikan tenda di dekat sungai dan tinggal di sana selama beberapa hari. Siang hari kami trekking di hutan menelusuri jejak kotoran beruang. Sesudah capek, berkeringat, kami langsung menceburkan diri dalam air sungai. 

Pengalaman ini membekas karena ketika saya melompat menyelam ke sungai, saya merasa seluruh tubuh panas. Terbakar!  Mendidih! Air sungai dingin seperti es.  Saya merasa jantung berhenti.  Sekonyong-konyong saya melihat wajah seseorang perempuan tersenyum terpancar dari dalam air. Saya tidak percaya! Aneh!  Rasa darah mendidih dalam diri karena kedinginan dari air sungai serasa melemah.  

Saya menyelam mendekat ke dasar sungai. Semakin dekat semakin jelas wajah tersenyum keluar dari batu berwarna coklat yang terbentang di bawah sana.  Senyum seorang putri sungai! Seolah-olah putri sungai sedang menormalkan didihan darah tropis saya.  Saya bisa berenang lagi dalam air sungai dari aliran glazier di sekitar pegunungan di Yosemite Park. Kami menikmati berenang bersama! Bertahun saya menyimpan perasaan itu.

Sungai Winongo berbeda. Airnya hangat. Bebatuannya seolah-olah baru saja dimuntahkan keluar dari rahim gunung Merapi. Airnya berwarna kecoklatan tidak sebening air dari pegunungan Yosemite park. Tetapi suara pukulan air di mana saja sama. Airnya yang menerpa bebatuan mengingatkan saya pada suara pecahan ombak di pantai selatan.  Mba Endang bermimpi kelak akan ada banyak perahu karet  lalu lalang bermain arum jeram di sana. 

Sungai  Winongo sudah lama menyimpan misteri untuk warga.  Kadang-kadang mereka melihat ada keris terapung sambil mengepulkan asap mengalir dari hulu ke hilir. Warga menonton diam-diam sampai ia menghilang.  Kemudian diceritakan mba Endang tentang sungai  Winongo pada jaman Mataram. 

Sungai ini adalah tempat membuang sial.  Mereka yang melawan kerajaan seperti selir, anggota keluarga lainnya bisa disingkirkan ke sini.  Sungai Winongo menjadi penampung orang-orang yang terpinggirkan dari kekuasaan kraton. Pusaka-pusaka kraton yang sudah usang juga dibuang di sungai ini. 

Nasib sungai sebagai tempat pembuangan kemudian masih dipercayai sampai sekarang. Antrian orang-orang setiap pagi membuang hajatnya panjang.  Sambil merokok jejeran kulit tubuh sewarna dengan air sungai duduk mencongkok menikmati pembebasan diri di sungai Winongo.  

Pemandangan ini tersembunyi di balik potongan bermacam kain warna-warni yang dipasang menutupi pagar bambu sepanjang tepian sungai. Tujuannya untuk memastikan ketenangan pelaksanaan ritual pembuangan tanpa gangguan dari pandangan pejalan kaki.   Sungai ternyata juga masih menyimpan privasi diri seseorang sekalipun ketika ritual mandi di sungai dilakukan tubuh terbalut kain transparan memperlihatkan keindahan lekukannya yang telanjang. 

Sesudah melepaskan hajatnya, satu-satu berjalan ke mata air untuk mandi. Air bening seperti air pancuran mengalir keluar dari mata air yang membersihkan tubuh penduduk di sana. Mandi di sungai  lebih segar daripada mandi di MCK yang dibuatkan dari dana pemerintah. Mandi dan mencuci di sungai memberikan kebahagiaan. Keakraban bersenandung dengan menggosipkan sesama.  Seorang ibu tinggal di pusat kota Yogya, dari lokasi sekitar pasar Patuk datang mencuci di mata air sungai Winongo.  
   
Mata air adalah berkat kepada warga. Airnya sekarang mengisi  kolam renang berukuran 5 x 10 meter yang ketika banjir bandang akan tertutup oleh tumpahan air sungai Winongo.  Ketika saya di sana, anak-anak dengan orang tua mereka sedang berenang. Beberapa orang transgender juga sedang berenang.

Tahun 2011, Bappeda DIY menyetujui usulan warga yang diorganisir oleh mba Endang untuk menata pinggiran sungai. Program hibah sebesar Rp 200 juta dikelola berhasil. Semua berpartisipasi termasuk membuat satu-satunya kolam renang warga pinggiran sungai yang ada di propinsi DIY. Warga bangga dengan apa yang sedang terjadi. 

Dengan membayar Rp 1.000 sekali kunjungan mereka bisa berenang sepuas-puasnya. Airnya diganti setiap tiga hari.  Dikatakan air kolam renang lebih bersih dari air yang ada di rumah-rumah penduduk karena sudah tercemar oleh bakteri Coli.  Sebelum menurun ke lokasi kolam renang, saya melihat bapak-bapak sedang membangun warung yang akan dipakai oleh ibu-ibu anggota PKK menjual produk mereka.  

Di alam Winongo, di sinilah mba Endang, suaminya dan kedua anak mereka tinggal. Rumahnya di antara kepadatan rumah penduduk lainnya yang cukup jauh dari batas pemukiman penduduk di bibir sungai. Bentaran sungai yang masih kosong mulai ditata supaya penduduk tidak menyerobot menduduki area tersebut. Ruang terbuka hijau sebagai program masyarakat mulai nampak buahnya. Konservasi lingkungan hijau sepanjang 200 meter sedang berbenah. Sebuah gazebo gantung dibangun di sebelah selatan sungai. Kami ke sana untuk bercerita sambil menonton kereta api lewat.

Sementara kami di gazebo, datang tiga anak tanggung. Mereka sedang belajar di SD.  Ada seorang yang gendut, dan dua orang lainnya tubuh ramping. Mereka memegang satu bungkus indomie. Saya memperhatikan saja apa yang akan dilakukannya.  Bungkusan indomie dibuka kemudian satu persatu paket yang ada di dalam dirobek. Bumbunya dituangkan dalam bungkusan mie kering. Minyak, sambel dan kecapnya kemudian dicampurkan juga dalam bungkusan mie. 

Dengan menggunakan jari telunjuk anak gendut itu mulai mengaduk-aduk. Sesudah semuanya tercampur, satu per satu jari dari ketiga anak ini mengambil potongan mie kemudian memakannya. Saya merasa lapar menyaksikan cara anak-anak makan mie yang tidak dimasak. Ada kekuatiran tentang bahaya zat pengawet yang dimakan langsung tanpa memasak. Berapa sering mereka memakan mie dengan cara ini. Saya bertanya dalam hati. Bahaya penyakit regeneratif sedang mengintip anak-anak ini. Saya prihatin!

Sambil bercerita dengan mba Endang, saya menyaksikan tingkah anak-anak ini.  Diam-diam, bungkusan paket di dalam plastik indomie, sesudah dibuka, plastiknya dibuang di antara cela-cela bambu dari lantai gazebo gantung.  Saya sudah biasa melihat kebiasaan buang sampah plastik keluar dari mobil di jalan raya.  Saya sedih tapi tidak bisa buat apa-apa.  Dari mobil-mobil mewah sering banyak sampah dibuang di jalan raya. Tetapi sekarang di depan saya, anak-anak melakukannya dengan ringan. Saya menunggu mereka selesai. 

Ketika bungkusan indomie akan dibuang di antara cela bambu, saya bertanya apakah mereka menikmati makanannya. Mereka semuanya tersenyum mengatakan enak!. Kemudian saya bertanya rencana mereka membuang sampah.  Anak gendut mengatakan akan membuat di sungai. Saya bertanya: “Mengapa harus membuang sampah di sungai”?. Mereka mengatakan itu kebiasaan di sini. Kemudian saya menunjukkan kepada mereka akar pohon bambu yang dibungkus oleh ratusan sobekan plastik. Plastik-plastik yang tersangkut pada akar bambu membuat pemandangan tidak nyaman pada sungai. Mereka terkesima!Mungkin mereka sedang melihatnya dengan pandangan baru!

Seorang dari ketiga anak itu kemudian mengatakan: “Saya akan membawa pulang plastik dan membuangnya di tempat sampah di rumah”. Kedua anak lainnya tertawa sambil mengangguk kepala mereka.  Kemudian saya mengajak mereka untuk turun ke bawah gazebo gantung untuk mencari potongan bungkusan yang dibuang di antara cela-cela bambu. Anak gendut  itu berjalan duluan. Ia juga yang mengambil kembali potongan bungkusan kosong yang dibuangnya.  Saya tersenyum lega. Semoga mereka ingat pengalaman pertamanya membuang sampah  di rumahnya sendiri.

Mba Endang mengeluhkan tentang mentalitas membuang sampah yang menjadi keprihatinan bersama.  Sekalipun bank sampah sudah dibangun dan warga mendapat kesempatan pengembangan daur ulang plastik dari sampah tsb, tetapi ketika saya di sungai, ada banyak orang yang masih datang membersihkan karung dan ember sampah sambil membuang sampah sisanya di sana. 

Mengubah mentalitas dimulai dari membiasakan terus menerus kebiasaan yang baru sampai otak kita terbiasa.  Keindahan sungai terkait dengan kebersihannya.  Tantangan ini akan membuat rumah bambu mengiatkan kembali  pembelajaran kebiasan-kebiasan baik untuk lingkungan sungai kepada kelompok usia dini, menengah maupun tua. Saya mengusulkan pembelajaran dengan menggunakan foto dan film yang menceritakan kehidupan warga sendiri. Mereka menonton diri sendiri dan mengomentarinya juga.

Kami juga melewati beberapa kolam kosong tanpa ikan tawar yang berada di tepi sungai. Kolam-kolam ini belum pernah dipakai oleh warga. Kolam-kolam terngangah ini menunjukkan kegagalan pemerintah. Program ini direncanakan tanpa melibatkan warga. Program dilakukan untuk menghabiskan anggaran akhir tahun. Mba Endang memperhatikan, keacuhan warga, rendahkan kesadaran mereka untuk terlibat dalam program bersama secara sukarela sangat dipengaruhi oleh cara pemberdayaan dari program pemerintah yang memberikan bantuan dana langsung kepada warga. Sekarang seseorang mau mengikuti program tertentu akan bertanya apakah ada uang transpor dan harian untuknya.

Mimpi mba Endang  untuk melihat sungai Winongo menjadi sumber pengetahuan alam dan pembelajaran kehidupan masyarakat tidak terhalangi oleh kebiasaan lama yang belum terkoreksi.  Ruang hijau terbuka sekarang sudah menjadi mimpi warga Winongo juga.  Sepuluh desa lain yang masuk dibawah supervisi mba Endang mulai belajar dari warga sekitar sesudah kolam renang bisa dibangun di sana. Kalau warga mau, mereka bisa melakukannya.  Mba Endang menggunakan istilah “heboh” untuk menjelaskan perubahan perilaku warga sesudah kolam renang dibangun. Ketika kegiatan mulai menghasilkan uang semua orang sibuk, banyak yang  ingin mengurusnya! Sekarang mereka semua terpanggil untuk memikirkan manajemennya.

Sudah siang, hampir mendekat sholat asar, kami mampir makan lotek kangkung di warung seorang ibu dalam perjalanan balik ke rumah bambu. Saya akan kembali lagi ke sana. Seperti sungai Code yang adalah sungai permandian keluarga kraton sesudah pulang dari perburuan di Kaliurang, di kaki gunung Merapi, nasib sungai Winongo sedang diluruskan kembali oleh warganya.  Sekarang kesialan sungai Winongo mulai berganti dengan harapan.  

Gambaran dirinya berubah, karena ada satu orang dan kemudian dua orang, kemudian tiga orang, kemudian semuanya yang ingin mengubah pencitraannya. Sekarang mereka sudah mulai. Mereka terus berjalan menggandengkan mimpi sang aktivis kampung dengan mimpi semua. Saya membawa cerita ini dan memulai menulisnya sesudah tiba lagi di kampus.

Minggu, 29 April 2012

Tubuh-identitas-moralitas-iman


Memperbincangkan seksualitas, menghadirkan perempuan akar rumput dan pemuda/i
Bagian ketujuh: Tubuh-identitas- moralitas-iman

Oleh Farsijana Adeney-Risakotta

Masih tentang tubuh. Masih tentang identitas. Masih tentang moralitas. Sekarang saya ingin menambah, di manakah iman dalam diskusi tentang LGTB-IQ?.   Saya juga ingin memastikan keterhubungan dari titik-titik pembahasan ini. Setidaknya uraian sederhana ini dapat membantu saya meluruskan pengertian paradoksif dalam memahami orientasi seksualitas yang berbeda.  
  
Secara ilmiah, pandangan tentang orientasi seksual yang berbeda sudah direvisi, tidak dianggap lagi sebagai penyakit. Akan tetapi yang masih belum diselesaikan adalah pandangan dari kalangan agama. LGTB-IQ adalah sesat, berdosa, tidak bermoral. 

Secara ilmiah, sangat jelas bagi saya ketegangan yang masih terpelihara antara agama dan LGTB-IQ. Agama yang saya maksudkan adalah institusi yang mempunyai kuasa dan otoritas untuk menghukum, menghakimi mereka yang dianggap berdosa. 

Masih segar dalam ingatan saya apa yang dikatakan mas Dede Utomo.  Apabila diparafrase kira-kira begini. Agama-agama yang berkotbah kepada orang-orang LGTB-IQ mungkin harus bersiap-siap untuk kecewa.  Orang-orang LGTB-IQ tidak akan berubah.  LGTB-IQ bukan profesi. LGTB-IQ adalah identitas.  LGTB-IQ adalah orientasi seksual yang berbeda.  Pernyataan mas Dede Utomo keluar dari seorang yang memandang identitas sebagai suatu pencarian yang sejati yang tidak akan berubah.  Pandangan ini dikategorikan esensialisme. 

Pekerjaan apapun yang dianggap sebagai “profesi” mungkin akan menyebabkan perubahan.  Contohnya, perubahan profesi “PSK” (pekerja seksual komersial).  Profesi bisa berubah karena waktu.  Semakin manusia menua,  fungsi-fungsi tubuh akan melemah sehingga harus “berhenti” mengerjakan pekerjaan yang selama waktu panjang dilakukannya terus menerus.

Memperbandingkan LGTB-IQ dengan PSK ternyata juga problematis. Pandangan yang menganggap PSK adalah profesi sebenarnya menunjukkan penerimaan sistem global ekonomi yang menindas perempuan sehingga menjadi PSK. 

PSK adalah korban dari ketidakadilan sistem dunia. Perempuan terjebak dan dijebak oleh sistem ekonomi.  Bahkan klaim perempuan atas hak dasarnya untuk hidup, bisa dipakai sebagai alasan memperjuangkan kepentingannya tanpa menyadari tentang eksploitasi dari sistem dunia kepada dirinya sendiri. Misalkan tubuh perempuan dikuasai oleh “germonya”. Jadi PSK membayar pajak dari  “profesinya” tanpa terjadi perubahan kesejahteraan dirinya. 

Muncul pertanyaan mendasar lain!  Bagaimana membedakan antara identitas sebagai hak dasar manusia untuk memilih dengan “perilaku elastisitas seksual”?.  Perilaku elastisitas seksual adalah praktek pencampuran klaim identitas dan pergantian relasi seksual yang terjadi pada rentangan keruangan dari Diri seorang berorientasi seksual berbeda. Misalkan, seseorang yang bolak balik berganti orientasi seksualitasnya, dari seorang homoseksual menjadi heteroseksual menjadi homoseksual dengan sekaligus mengganti-ganti pasangan. 

Klaim ini mencampurkan dua kenyataan. Pertama, adanya perbedaan realitas terkait dengan identitas dan nilai. Kedua, mempertentangkan nilai dalam tampilan tindakan yang kontradiktif, yaitu kebebasan dan individualitas dengan nilai lainnya, kesetiaan – komitmen dan tanggungjawab.  

Hak dasar manusia sebenarnya mengandung berbagai nilai yang tidak bertentangan, seperti kekebasan, kesetiaan, komitmen, tanggungjawab, individualitas dan komunalitas.  Dalam nilai  kebebasan ada kesetiaan, ada tanggungjawab, ada komitmen.  Kebebasan lebih dari sekedar keamanan diri, bebas dari rasa takut, bebas membuat pilihan.  

Tetapi kadang-kadang bisa didapati seorang yang mendewakan kebebasan ternyata orang yang takut sekaligus tidak bertanggungjawab. Ketakutannya bukan disebabkan karena ditakuti, tetapi penyebabnya adalah proteksi yang terlalu ketat pada diri sendiri. Rasa iba, kasihan pada diri sendiri menyebabkan munculnya ketakutan.   

Saya menduga, kerancuan mengartikan “perilaku elastisitas seksual” menjadi penyebab kesalahan kaprah yang menimpa relasi tidak harmonis antara kelompok LGTB-IQ, masyarakat umumnya terutama kaum beragama. Relasi tidak harmonis terjadi karena masing-masing mengabaikan berkomunikasi, supaya bisa mengerti posisinya sendiri-sendiri.  
  
Jadi apa terjadi kalau seorang berorientasi seksual berbeda menerapkan nilai-nilai yang mendukung “perilaku komitmen seksual” dalam memelihara identitasnya?  “Perilaku komitmen seksual” adalah praktek seksual yang dilakukan karena adanya komitmen, keterbukaan secara publik di antara dua manusia berorientasi seksual berbeda untuk saling setia pada pasangnya sendiri.  

Dalam kondisi ini, apakah kaum beragama akan menerima mereka sebagai warga bumi, warga negara yang setara? Mungkinkah mereka diizinkan untuk berpasangan dan membentuk “keluarga”?  Untuk menjawab pertanyaan ini saya ingin bercerita. Kisah nyata seorang partisipan yang sangat menyentuh hati saya.

Ia seorang kristiani,  seorang pemuda. Sesudah menyelesaikan pendidikan teologi, ia mulai menjalankan tugas untuk mempersiapkan diri menjadi seorang pendeta (masa vikariat).  Jemaat menerimanya dengan antusias.  Ia terlibat dalam berbagai kegiatan pelayanan di gereja. Jemaat merasakan pelayanannya.  

Bulan berjalan sampai tiba waktunya ia akan menyelesaikan masa vikariat.  Mulai muncul pertanyaan di kalangan jemaat kapan pemuda calon pendeta ini akan menikah.  Kebetulan selain dirinya ada juga seorang  pemudi yang bersamanya sedang mengikuti masa vikariat di gereja yang sama. Karena masa vikariat hampir selesai yang berarti, ia akan ditahbiskan sebagai seorang pendeta, jemaatnya mendorong pemuda ini segera menikah. Mereka bahkan mendorongnya untuk berpacaran dengan pemudi calon pendeta yang sehari-hari bersamanya.   

Hatinya kacau! Pemuda ini bingung karena sedikitpun ia tidak tertarik apalagi jatuh cinta dengan pemudi tsb. Saat itu ia sedang mencintai seorang lelaki tanpa seorangpun tahu.  Mereka terus mendesaknya.  Akhirnya ia menjelaskan kepada tua-tua (majelis jemaat) tentang perasaannya yang tidak tertarik kepada pemudi tsb. Ia belum terbuka tentang dirinya.  Majelis memberikan ultimatum, ia bisa ditahbiskan apabila menikah dengan pemudi tsb!

Desakan untuk ditahbiskan menyebabkan akhirnya ia berpacaran dengan pemudi calon pendeta. Pacaran berjalan beberapa bulan tetapi kemudian bubar.  Akhirnya ia menjelaskan tentang siapakah dirinya kepada seorang  majelis yang dipercayai.  Majelis tsb memintanya untuk menuliskan surat pengunduran diri yang menjelaskan bahwa ia tidak bisa melanjutkan masa vikariat ini.  Sesudah memikirkan dengan tenang, ia memutuskan menerima saran dari majelis jemaat. Ia menulis surat kepada gereja tsb. 

Surat tersebut mengagetkan seluruh warga jemaat  karena pemuda ini sangat professional dalam menjalankan tugas seharian pendeta selama masa vikariat.  Jemaat tidak mau kehilangan pemuda ini. Ia masih dibutuhkan oleh jemaat. Tetapi untuk menghindari pro kontra dalam jemaat, akhirnya diputuskan supaya pemuda ini meninggalkan gereja tsb. Dengan berat ia tinggalkan gereja itu! 

Pemutusan kerja sewenang-wenang ini terjadi karena gereja memfungsikan dirinya sebagai institusi pemberi pekerjaan yang mempunyai otoritas menentukan "moralitas pekerjaan". Padahal pemuda ini sangat profesional dalam kerja "pelayanan" maupun bebas dari tuduhan perselingguhan kecuali memelihara kesetiaan terhadap dirinya sebagai seorang yang berbeda orientasi seksual.


Lebih jauh, pendiaman atas pengakuan diri seorang LGTB-IQ  bisa berdampak terhadap pasangan heteroseksual yang dipacarin atau dinikahkannya. Karena tekan sosial, seorang LGTB-IQ terpaksa mengikuti kemauan sosial daripada pilihan dirinya. Seorang homoseksual kemudian membangun keluarga secara heteroseksual tetapi pada saat yang sama memelihara diam-diam hubungan sesama jenisnya. Pilihan dualisme ini bisa menyebabkan prahara kepada diri, keluarga dan masyarakatnya!


Untuk pemuda ini, pemutusan kerja  tsb sempat membuatnya “down”. Tetapi ia meneguhkan hatinya. Ia bangkit lagi. Ia mencoba melihat kebaikan dari ajaran kristiani, ajaran Yesus Kristus yang sebenarnya ada dalam gereja tetapi sudah terlupakan. Yesus yang memberikan pengampunan sebagai daya hidup kepada mereka yang galau dan sendirian. Kebangkitannya itu ternyata membawanya kembali melayani gereja bukan sebagai calon pendeta tetapi seorang pekerja di gereja. 

Jemaat gereja ini sangat menghargainya!  Mereka mengasihinya.  Tetapi mereka masih belum tahu identitas pemuda ini.  Pemuda ini masih punya harapan untuk menggali kekuatan jemaat tsb sehingga mereka bisa hidup dalam cara Yesus yang mengasihi umat manusia apa adanya, tanpa penghakiman!. 

Ceritanya mengiris hati saya. Ia bercerita dengan getaran kekuatan yang terhembus keluar dari dirinya. Ia sudah memilih identitasnya! Ia juga memilih “perilaku komitmen seksual”. Pertanyaannya, apa hubungan antara pilihan identitasnya dengan doktrin gereja?   Ia mengerti bahwa pilihannya sebagai seorang “gay” tidak sedang menolak doktrin utama dari ajaran Kristiani tentang Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus.

Pemuda tsb berada pada Youth Interfaith Queer and Sexuality Camp untuk mencoba mengerti bagaimana secara bersama, pemuda antara iman bisa menghadapi tekanan dari masyarakat terutama umat beragama. Apakah orang-orang beragama, institusi agama bisa berlaku adil kepada mereka ketika semua inti ajaran agama sudah menjadi bagian dari dirinya sendiri sehingga mereka mempraktekan  nilai-nilai kehidupan kepada sesamanya? Mengapa institusi agama harus mengatur dengan siapa seseorang menikah? Apakah perjodohan dari institusi agama tsb didasarkan pada pandangan dan praktek keadilan berdasarkan hak seseorang untuk hidup?  

Pertanyaan-pertanyaan ini saya membawanya pulang. Sekarang saya menulisnya kembali. Saya diingatkan untuk kembali kepada ajaran Yesus Kristus yang tertulis dalam Alkitab. Pemungut cukai, Zakeus disadarkan kembali melakukan kebaikan dan keadilan. Cara hidup lamanya berubah. Maryam Magdalena, seorang mantan pelacur diterima kembali sebagai perempuan yang diampuni sehingga bisa berguna untuk dirinya dan sesama. 

Cerita yang mirip muncul dalam benak saya! Cerita Yesus bertemu dengan seorang perempuan yang ternyata sudah menikah beberapa kali termasuk hubungan dengan seorang lelaki yang sedang disembunyikannya. Pertemuannya di dekat sumur mengubah diri perempuan itu. Melalui pertemuan dengan Yesus, perempuan itu menemukan belaskasihan dan pengampunan dari Allah.  Ia kemudian menjadi manusia baru yang pulang ke kampungnya untuk menjelaskan tentang keselamatan yang diterimanya dari Allah.

Injil tidak menjelaskan tentang pertemuan Yesus dengan orang-orang berorientasi seksual berbeda. Sebenarnya orang-orang berorientasi seksual berbeda lebih banyak "berada" pada kelas atas, mereka yang dekat dengan pemerintahan Romawi yang menjajah tanah Yahudi pada saat Yesus hidup.

Berorientasi seksual berbeda pada jaman itu tampil sebagai "gaya hidup" dari para elit raja-raja. Mereka memperbudak secara seksual pemuda-pemuda. Saya ingat ketika mengunjungi istana Topkapi di Istambul, saya belajar bahwa pemuda-pemuda baya dibawa dari Afrika untuk menjadi partner seks dari para Sultan. Bahkan yang paling mengerikan mereka harus dikebiri lebih dulu.

Mereka kaum elit dengan "gaya hidup" erotisme liar inilah yang menekan orang-orang kecil sampai saatnya mereka bertemu dengan kasih dan pengampunan dari Yesus Kristus. Bahkan pemimpin agamapun lebih menegakkan hidup legalitas daripada kehidupan berkeadilan yang nyata kepada mereka yang memerlukan.   Saya ingat cerita seorang lumpuh yang berbaring selama tiga puluh delapan tahun dekat kolam Bethesda. 

Kolam Bethesda dalam tradisi Yahudi adalah kolam penyembuhan. Ketika seseorang yang sakit masuk ke dalam kolam pada saat airnya bergoncang, maka orang tsb akan mengalami kesembuhan. Tetapi orang lumpuh tsb selalu terlambat untuk masuk ke kolam ketika airnya bergoyak. Tidak ada seorangpun yang menolongnya.

Ketika Yesus menyembuhkan orang ini, malahan banyak orang di sekitarnya mempertanyakanNya. Mengapa orang lumpuh tsb harus disembuhkan pada hari Sabat?  Hari Sabat dalam tradisi Yahudi adalah hari perhentian, tidak ada pekerjaan. Hari Sabat adalah hari “Sabtu” menurut kalender bersama sekarang. 

Tetapi Yesus minta orang lumpuh tsb mengangkat tempat tidurnya ketika Ia bertanya apakah orang tsb ingin sembuh. Orang itu mengangat tilamnya. Ia bisa berjalan.  Penyembuhan orang lumpuh di hari sabat adalah mengembalikan kemurahan Allah mengatasi tradisi agama yang sewenang-wenang terhadap manusia. Suatu tradisi yang tampil kaku bahkan menelantarkan manusia yang harusnya ditolong dalam keadaannya yang hampir mati.

Orang banyak bertanya mengapa Yesus menyembuhkannya di hari Sabat? Yesus mengatakan Ia bekerja seperti BapaNya bekerja. Orang banyak ingin membunuhnya sesudah mendengar jawaban Yesus. Mereka menganggap Yesus menyamakan dirinya dengan Allah. Kesembuhan yang diterima dari Yesus adalah kesembuhan yang diberikan dari Allah. Yesus mengatakan: “Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendakiNya” (Yohanes 5: 21)

LGTB-IQ sebagai pilihan identitas dengan perilaku komitmen seksual sebenarnya menunjukkan penghormatannya kepada nilai-nilai kehidupan. Penolakan dalam cara apapun menimbulkan penderitaan.  Penderitaan kaum LGTB-IQ, sebenarnya adalah juga penderitaan dalam keluarga, umat beragama, dan masyarakat umum. Semuanya menderita karena adanya anggapan yang salah bahwa LGTB-IQ adalah orang-orang berdosa, najis. 

Terhadap tuduhan ini, kenajisan seksualitas, saya ingat kata-kata Yesus ketika banyak orang mempersoalkan penerimaannya kepada seorag perempuan yang berzina. KataNya: “Barangsiapakah di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu!” (Yohanes 8: 7b).  Injil menulis, tidak ada seorangpun yang berani melemparkan perempuan itu. 

Perempuan terhina, semua orang lain yang terpinggir pada jaman Yesus telah mengalami banyak penghakiman, sangsi sosial dari masyarakat.  Sangsi ini bahkan menghilangkan akses kepada hak mereka untuk hidup termasuk hak mereka untuk beribadah, hak mereka untuk  berkomunikasi dengan Sang Pemberi Hidup yang dipercayainya. Mereka dilarang memasuki tempat-tempat suci dimana ibadah agama diselenggarakan atau tempat suci dimana mujisat menantinya.

Sesudah peristiwa penyembuhan orang lumpuh di tepi kolam Bethesda, sejak itu banyak orang mencari Yesus untuk dibunuh.  Orang-orang ini telah menghakimi sesamanya. Terhadap mereka Yesus mengatakan: “Bapa tidak menghakimi siapapun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak, supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa yang mengutus Dia (Yohanes 5: 22-23).

Apabila pemuda  calon pendeta memilih identitas “gay”, pilihan itu pasti dihargai oleh Yesus. Dalam Injil, kata pilihan sangat penting. Ada cerita tentang dua orang perempuan kakak beradik yang bernama Marta dan Maria. Mereka mendapat kunjungan dari Yesus yang datang ke rumahnya.  

Marta memutuskan menyiapkan makanan tetapi sekaligus mengeluh karena Maria tidak membantunya. Maria menemani Yesus bercerita. Marta mengeluh kepada Yesus.  Jawab Yesus: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan  diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu, Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil daripadaNya” (Lukas 10:41).

Cerita menjelaskan tentang pandangan dan praktek Yesus Kristus. Cerita tentang pemuda calon pendeta adalah cerita yang menghormati dan mempercayai  Yesus Kristus.  Mengapakah gereja dan umat Kristiani menjadi penghambat kepadanya untuk memberikan hidupnya melayani jemaat  yang juga menghormati dan mempercayai Yesus Kristus?  Bukankah identitasnya tidak sedang menghambatnya untuk beribadah kepada Allah, Anak dan Roh Kudus!

Rabu, 25 April 2012

Mendisiplinkan tubuh, menjinakkan kecanduan!


Memperbincangkan seksualitas, menghadirkan perempuan akar rumput dan pemuda/i
Bagian Keenam: Mendisiplinkan tubuh, menjinakkan kecanduan!

By Farsijana Adeney-Risakotta 

Sebelum saya lupa, saya ingin menulis tentang simulasi kekuatan dan kelemahan yang dilakukan sebelum meditasi. Ketika saya menanyakan partisipan tentang apa yang mereka tulisan sebagai kekuatan dan kelemahan, ternyata tidak ada seorangpun yang menulisnya dalam kaitan dengan seksualitas.  

Satu kata yang diminta sebagai representasi kekuatan pada umumnya terkait dengan nilai yang menjadi perilaku positif.  Misalkan tanggungjawab, kepercayaan,  konsistensi, keterbukaan dll.  Begitu pula dengan representasi kelemahan yang sama sekali tidak berhubungan dengan seksualitas.  Memang benar saya tidak meminta mereka untuk menjelaskan temuannya tentang kelemahan diri. Tetapi saya menanyakan spesifik tentang keterhubungan ini. Saya menunjukkan penemuan ini kepada partisipan.  Kenyataan ini menjelaskan apa?

Pandangan yang sering diterima dari sekitar kita terkait dengan perjuangan kesetaraan berbasis orientasi seksual yang berbeda, adanya anggapan tentang sekelompok orang yang berperilaku seks bebas memperjuangkan kebebasannya.  

Konstruksi kenyataan yang dibuat oleh masyarakat kepada  pejuang orientasi seksual sangat berat sebelah.  Mungkin benar anggapan tersebut terbangun dari pencitraan diri yang ditangkap masyarakat terhadap “segelintir orang” dengan orientasi seksual berbeda, yang seolah-olah sangat terobsesi dengan seks. Fenomena partikular seringkali dijadikan patokan untuk melakukan generalisasi sekaligus memperbesar kerumitan realitas yang ada.

Pada satu sisi, steoretip yang muncul itu dapat dijadikan refleksi. Antony Giddens, seorang sosiolog Inggeris yang terkenal menulis buku berjudul “The transformation of Intimacy. Sexuality, Love & Eroticism in Modern Societies” (California: Stanford University Press, 1992) menjelaskan tentang hubungan antara klaim hak-hak individu dengan tindakan memposisikan seksualitas sebagai komoditi.

Cinta kasih sejati kehilangan maknanya dalam masyarakat modern karena erotisme telah mereduksi cinta pada ketubuhan.  Orang kehilangan tanggungjawab untuk membangun komitmen kepada pasangannya karena nilai kesetiaan sudah dibayar sesuai dengan kesepakatan yang tampil dari kebutuhan di tingkat pasar. Ketika kesepakatannya tidak tercapai, pencariannya masih bisa diteruskan sesuai dengan pajangan pada estalase yang terpampang.

Giddens juga mengamati tentang fenomena obsesi dan ketagihan (“addiction”) yang menguasai pandangan seksualitas masyarakat modern. Kebebasan pada media, akses terhadap personal informasi telah mengubah cara manusia berhubungan seksual.  Rangsangan terhadap diri datang dari berbagai arah sampai manusia sungguh-sungguh tidak berdaya. 

Saya jadi ingat ayat di kitab suci: “…“..roh memang penurut, tapi daging lemah” (Matius 26: 41).  Tekanan ternyata bukan saja datang dari institusi keluarga dan masyarakat yang menekankan seksualitas sebagai “self control” bahkan yang ditabukan, tetapi juga tergilas oleh pandangan dan praktek seksualitas yang menempatkan tubuh sebagai komoditi.

Ekspoilati tentang ketubuhan ini bisa terjadi pada kedua posisi ektrim dengan perentangan  garis menggambarkan posisi yang paling konservatif ke yang paling liberal radikal.  Tubuh disakiti baik karena pandangan dan praktek seksualitas yang konservatif maupun terjadi pada posisi yang liberal radikal.  

Di satu sisi, nilai-nilai dipegang ketat oleh mereka yang konservatif  tetapi dalam penerapannya malahan terkesan bertentangan dengan spirit dari nilai tersebut.  Sementara, posisi liberal radikal cenderung menegasikan nilai-nilai pada umumnya, dengan menolak nilai-nilai “konvensional” dan menciptakan nilai lain yang merepresentasikan pandangannya sendiri. 

Kesadaran dari jebakan terhadap kedua tarikan posisi ini sebenarnya yang membawa pemuda/i antar agama berkumpul bersama untuk memproses posisi diri mereka sebagai seorang dengan orientasi seksual yang berbeda. Mereka sadar pentingnya institusi agama dan komunitas tetapi sekaligus menjalankan “agama” secara kritis sebagai “iman” yang menguatkan perjalanan hidupnya di dunia ini.

Saya lihat kerinduan itu. Saya menangkapnya.  Sebagai seorang heteroseksual, saya yakin diikat dengan pemuda/i dalam satu roh yaitu upaya untuk memahami iman secara bertanggungjawab. Saya ingat sebelum ke camp, suami dan saya bercerita tentang posisi diri. Suami saya tahu siapakah saya. Katanya: “Nona selalu tampil konservatif tetapi sangat mengejutkan sekarang sedang bersama dengan teman-teman Queer!”. 

Saya tersenyum. Saya mengatakan: “The queer is a mystery for me, I would like to understand them as God also tries to understand them”. Kemudian saya mengingatkannya tentang Yesus yang bergaul dengan Zakeus, seorang petugas pajak; Maryam Magdalena, seorang pelacur dan mereka yang termarginalkan pada jamanNya hidup.

Kembali kepada ayat yang saya kutip di atas.  “Roh memang kuat, tetapi daging lemah”. Dalam bahasa asli, Ibrani, ruah adalah roh yang digambarkan sebagai “angin”. Setiap agama di bumi ini paham tentang "roh". Melalui “roh”,  Diri  berkomunikasi dengan Sang Pemberi Hidup untuk mewujudkan nilai-nilai dalam tubuh.  Simulasi tentang kekuatan dan kelemahan yang dijalani oleh partisipan ternyata menunjukkan keragaman nilai yang ada pada mereka. 

Nilai-nilai dengan kepemilikannya yang sangat pribadi ternyata mungkin merupakan bagian dari nilai-nilai dalam tampilan yang besar.  Misalkan partisipan mendiskusikan kemudian mesimulasikan nilai-nilai yang tertentu seperti solidaritas, berbagi, anti kekerasan, respek dan keragaman.  Simulasi dilakukan dalam mendramakan nilai tanpa menjelaskan dengan kata-kata supaya bisa ditebak oleh kelompok yang ditunjuk. 

Ternyata dalam diskusi dan simulasi itu, bisa disimpulkan bahwa nilai mempunyai konteks dan posisinya saling terkait dengan lainnya. Walaupun demikian tampilan nilai sebagai norma yang umum seringkali juga bisa dikendalikan oleh pandangan idealis yang dapat  memposisikan dirinya dengan sangat ekstrim.

Saya ingat ketika diskusi tentang nilai anti kekerasan menjadi seru karena perbedaan pandangan tentang non kekerasan dan anti kekerasan. Non kekerasan merupakan suatu pandangan filosofis yang mengasumsikan tentang sikap ketiadaan kekerasan dalam keadaan minimum apapun. Pandangan ini dipopulerkan oleh Mahatma Gandhi, seorang aktivis non kekerasan dari India yang besar di Afrika Selatan,  memastikan bahwa pemotongan lingkaran kekerasan bisa dimulai dari penggunaan non kekerasan dalam perjuangan pembebasan. 

Konteks Gandhi sangat jelas! Menggunakan kekerasan akan menodai kemurnian perjuangan pembebasan dari kolonial Inggeris. Selain itu, kemungkinan perjuangan mereka dikambinghitamkan, disamakan sebagai perjuangan anarkis, ditumpangi yang menyebabkan banyak orang akan terbunuh percuma.

Sementara pandangan anti kekerasan mensyaratkan adanya kemungkinan penggunaan kekerasan sebagai perlawanan melawan kekerasan.  Penggunaan kekerasan bisa ditolerin sejauh dapat memberikan kesadaran tentang pemutusan rantai kekerasan. Sangat penting diingat bahwa tanpa kesadaran tentang perlunya penghentian kekerasan, maka tidak ada perdamaian.  Ketika saya jelaskan bahwa ada kekerasan positif dan negatif, saya pada saat yang sama sedang mengakui bahwa dasar dari tindakan kekerasan adalah ketegasan, cinta kasih dan pengampunan.

Saya menjelaskan perbedaan kedua istilah tersebut, tetapi kemudian membawa kenyataan dari lapangan supaya partisipan bisa mengerti tentang kekerasan pada dirinya yang  bersifat positif maupun negatif.  Bertolak dari kenyataan ini, saya ingin mendefinisikan kekerasan sebagai tindakan yang melukai tubuh bisa secara fisik, jiwa maupun roh. Penampakan kekerasan positif bisa terlihat dalam praktek disiplin.

Saya kemudian mengambil contoh dari tradisi Kristiani. Dalam kitab suci, Amsal 23:13-14 mencatat tentang …rotan … . Saya mengutipnya lengkap:  “ Jangan menolak didikan dari anakmu, ia tidak akan mati kalau engkau memukulnya dengan rotan. Engkau memukulnya dengan rotan, tetapi engkau menyelamatkan nyawanya dari dunia orang mati”. 

“Rotan” sebagai terminologi menimbulkan pertanyaan dan diskusi, karena istilah ini ternyata menjelaskan tentang tindakan kekerasan.  Saya menguraikan makna kata rotan sekaligus menunjukkan pandangan realisme dalam kehidupan, di mana kekerasan mempunyai makna minimalis yang perlu diterima sebagai suatu cara untuk membangun tanggungjawab.

Dalam diskusi itu, seorang teman mengingatkan contoh menarik tentang orang-orang yang harus dimasukan dalam  penjara. Pemenjaraan mereka merupakan suatu tanda kekerasan karena haknya untuk menghirup udara yang bebas harus hilang diganti dengan hukuman untuk tinggal di penjara. Hanya dengan disiplin ini diharapkan mereka bisa berubah.

Contoh lain, saya ingat ketika masih belajar di Belanda. Saya pulang dari Paris, Perancis. Tiba di Amsterdam dini hari. Saya mengambil kereta untuk membawa pulang ke Oegstgeest, di mana saya dulu tinggal di Zending Huis. Oegstgeest, kota kecil yang terletak dekat Leiden. Dari station di Leiden saya harus berjalan ke Oegstgeest karena tidak ada bus beroperasi pada jam itu. 

Ketika saya berjalan sendiri, saya merasa ada yang membututi saya.  Saya membalik badan dan berhenti. Terlihat ada seorang lelaki yang sedang berjalan dekat dengan saya. Ketika saya berhenti orang itu juga berhenti. Kemudian saya berjalan, orang tersebut berjalan cepat-cepat menuju saya.

Karena sadar sedang dibuntuti, saya langsung mengeluarkan batu-batu yang sudah ada dalam saku jaket saya. Terinsipirasi dari nabi Daud yang mengalahkan Goliat dengan kartapel dan batu, saya selalu membawa batu ke mana-mana ketika saya berjalan sendiri. Jadi saya melemparkan batu-batu itu kepada orang tersebut. Kemudian saya berhenti sambil memperhatikan reaksinya. Orang itu berhenti dan membalik pergi!

Dia membaca tanda dari saya, tanda batu sebagai bentuk refleks untuk melindungi diri sendiri.  Tanda itu mengatakan saya tidak perlu teman dan jangan mengganggu saya! Saya harus melakukan “kekerasan positif”, dengan melemparkan batu kepada orang tersebut untuk menyetop kemungkinan kekerasan lebih besar yang akan terjadi kepada saya.

Penggunaan kekerasan minimum untuk mempertahankan diri secara personal perlu dibedakan dari kekerasan “massa” yang sengaja dilakukan oleh mereka yang mengklaim dirinya sebagai penjaga kemurnian agama.  Misalkan  ancaman pembubaran pertemuan LGTB-IQdatang dari kelompok-kelompok yang mengatasnamakan agama, yang tidak tanggung-tanggung melakukan kekerasan, dengan menjerang tubuh. Darah LGTB-IQ dianggap halal!  Pemahaman ini jelas berbeda dengan nilai agama yang sedang dibelanya.

Kesalahan  penjaga otoritas agama ini adalah mengidentikan identitas LGTB-IQ sebagai suatu representasi kekerasan yang harus dilawan dengan kekerasan. Pandangan ini memerangkap!  Karena  dengan sengaja ada upaya dari pihak tertentu untuk mereduksi perjuangan LGTB-IQ sekedar pada isu “tubuh”.  Jadi sangat bijaksana menghindari  benturan  tubuh supaya kelompok LGTB-IQ bisa menjaga kemurnian perjuangannya, sehingga tidak terjatuh pada tindakan anarkis.   

Tubuh bisa menjadi tirani terhadap berbagai kepentingan dalam dirinya.  Tubuh sendiri dapat mengeksploitasikan tubuh orang lain. Sebaliknya dengan sangat narsis, tubuh sendiri dibiarkan disakiti oleh orang lain. Ada banyak nafsu dalam tubuh yang bisa membuatnya kehilangan makna sebagai tubuh yang adalah tempat dimana Tuhan juga tinggal.  Kesadaran terhadap tubuh kita, harusnya mendorong manusia menjaga dirinya secara bertanggungjawab. 

Hati saya tergugah ketika makin sadar bahwa pemuda/i dari berbagai agama ingin mengenal lebih jauh kaitan antara tubuhnya dengan Allah. Setidaknya, mereka mulai kenal tentang disiplin yang diturunkan dari  Allah yaitu praktek nilai untuk melindungi tubuh sendiri dari ekploitasi dan kekerasan. Dialog mendalam ini terjadi  di antara pemuda/i dengan  tokoh-tokoh dari agama masing-masing yang hadir pada camp tersebut.