Translate

Selasa, 12 April 2016

Bedanya Gubernur Ahok dengan Romo Mangun


Bedanya Gubernur Ahok dengan  Romo Mangun

Oleh Farsijana Adeney-Risakotta*)

Dua ilustrasi tentang pemukiman kumuh yang harus dibersihkan demi pembangunan kota bisa diamati di Yogyakarta dan di Jakarta.

Di era tahun 1970an, Romo Mangun mempertahankan penduduk di sekitar kali Code untuk tetap hidup di sana. Romo Mangun tinggal bersama mereka. Kegiatan-kegiatan pemberdayaan masyarakat kali Code dilakukan dengan sabar sehingga memberikan inspirasi terhadap situasi saat ini. Di era abad 20, kali Code telah menikmati peningkatan kualitas warganya. Paguyuban-paguyuban terbentuk berdasarkan asas partisipasi warga untuk terlibat merencanakan pembangunan di daerah mereka. Wisata kali diorganisir oleh warga sendiri.

Pariwisata sebagai andalan Yogyakarta juga dinikmati oleh warga di pinggiran kali Code. Mereka menghijaukan ruas-ruas kali bukan karena mau dikunjungi oleh wisatawan tetapi karena mereka mencintai air yang setiap tahun membanjir rumah mereka. Mereka percaya apabila hidupnya bertanggungjawab dengan alam mereka akan diberkati. Banjir badang dari gunung Merapi dihadapi dengan ketaatan untuk menjaga lingkungan sekitar dari gaya hidup masa bodoh membuang sampah sembarang. Warga miskin telah menunjukkan haknya untuk hidup termasuk menjaga lingkungan di sekitar.  Ritual pencucian kali “merti kali” menjadi bagian dari kehidupan warga sehari-hari dengan puncaknya pada kegiatan yang memberikan makna suci kepada kehidupan mereka dilakukan setahun sekali. Orang-orang datang dari mana-mana untuk menghayati kehidupan dari kesatuan manusia dengan alam semesta yang membuat mereka saling berinteraksi dengan mendalam, penuh penghormatan dan cinta kasih.

Di belahan dunia lain, di pusat negara, di Jakarta yang dikagumi oleh semua anak bangsa.  Berita pilu dari televisi, pengusuran dilakukan kepada warga di kampung nelayan di Luar Batang, di Jakarta Utara.  Efek media telah merobek hati saya. Lebih dari 4000 orang menangisi tanah yang sudah lama mereka hidup di atasnya. Penegak hukum, mereka yang berseragam atas nama negara datang untuk melenyapkan jejak warga miskin di sana. Hanya dalam beberapa jam, sejarah kampung menjadi puing-puing seperti ingatan yang dirobek-robek demi pembangunan ibu kota. Jakarta dimanakah hati nuranimu?

Orang-orang Jakarta diam karena mereka yang digusur adalah warga lemah secara hukum. Ribuan orang adalah penghuni liar di Jakarta. Dikatakan oleh pejabat berwenang, sekitar 300 orang sudah mendapat akses ke rumah susun yang disiapkan pemerintah kota Jakarta. Kemanakah ribuan orang lain yang pergi pada saat itu? Jakarta semakin kejam untuk anak bangsanya sendiri?  Padahal warga miskin ini adalah penduduk asli. Saking merasa orang asli urusan pembuatan KTP dihiraukan. Siapakah yang hendak mengusir mereka dari tanah airnya sendiri? Keyakinan itu patah ketika aparat pemerintah melihat sisi peluang dari kelemahan identitas politik warga untuk dengan mudah diusir dari tanah miliknya sendiri.

Gubernur Ahok memang bukan Romo Mangun. Ketika warga Code akan digusur mereka juga belum mempunyai KTP. Tetapi Romo Mangun berada bersama mereka di sana. Seorang pastor, tidak menggunakan bahasa agama untuk membela orang miskin. Tindakannya adalah bahasa iman yang dilakukan langsung untuk membela orang miskin. Gubernur Ahok sering mengutip ajaran kekristenan, termasuk mengutip cerita-cerita dari Alkitab seperti Yesus yang memporakporanda bait suci sebagai reaksinya terhadap kezaliman, korupsi dari para pejabat pada saat itu. Tetapi Gubernur Ahok lupa apa yang dilakukan oleh Romo Mangun untuk melindungi orang miskin dari egosentrik kekuasan dominan yang menginginkan tanah di mana mereka hidup.

Tanah adalah tempat yang paling sentral dari hak dasar manusia untuk hidup. Pada tanah ada keterikatan sosial di mana warga saling mendukung untuk menguatkan kehidupan mereka dari hari ke hari. Mengapa baru sekarang pinggiran kota Jakarta menjadi cerminan wajah Jakarta? Mengapa baru sekarang sungai Ciliwung menjadi citra kota Jakarta? Citra kota Jakarta untuk mereka yang kaya dan kuat telah menggusur kaum lemah yang juga turut membangun ibu kota negara. Apakah ini wajah pembangunan bangsa ke depan? Kemanakah semangat Romo Mangun, arsitek humanis yang telah menegakkan orang miskin di Yogyakarta menjadi bagian dari kota Yogyakarta yang humanis? Jakarta bisakah engkau mengembalikan dirimu menjadi ibu kota negara yang humanis?

 

*) Pendiri Yayasan Griya Jati Rasa. Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Kreatifitas Bangsa untuk Keadilan dan Perdamaian. Tinggal di Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar