Memikir ulang relasi “uang” untuk memberantas korupsi. Renungan Minggu di bulan Ramadhan 2011
Oleh: Farsijana Adeney-Risakotta
Cerita tentang uang adalah cerita tentang relasi. Pertama, uang berkaitan dengan diri kita sendiri. Kedua, uang terkait dengan orang lain. Ketiga, uang berhubungan dengan Tuhan, Sang Pencipta.
Kekaguman Hildred Geertz di tahun 60 an ketika meneliti di Jawa terkait dengan uang yang dikelola oleh perempuan. Perempuan adalah tulang punggung keluarga, sebagai pencari nafkah sekaligus pengelola uang bersama dari pendapatan suami. Peran ini tidak berubah sesudah hampir setengah abad hasil etnografi Geertz dipublikasikan.
Di kampung Karanggayam, Sleman, Yogyakarta, di mana saya tinggal, 80% perempuan adalah pencari nafkah. Sebagai daerah pemasok penjual gudeg, saya selalu mencium aroma gudeg di pagi hari ketika saya sedang jogging. Pagi-pagi sekali, ibu-ibu menumpangi becak mulai menyebar menjajakan gudeg sebagai sarapan pagi khas Jogja di berbagai sudut kota di Sleman bahkan sampai di alun-alun utara. Mereka baru kembali menjelang sore bersamaan dengan waktu saya juga pulang rumah. Kami sering berpapasan. Kadang-kadang ada dua ibu yang bergabung menyewa andong untuk membawa pulang bahan-bahan kebutuhan untuk membuat gudeg. Dengan andong, kayu bakar dan kulit kelapa bisa diangkut semua. Mereka terbenam diantara timbunan barang-barang. Pemandangan yang mengharukan. Tetapi perempuan-perempuan pembuat gudeg turut melestarikan andong.
Perempuan pencari nafkah di abad milinium ada diberbagai tingkatan dari kalangan masyarakat. Caranya mencari nafkah berbeda dengan saya. Tetapi sebagai “saya”, kesamaannya ada ketika sebagai perempuan, kita harus mengelola keuangan keluarga. Peran ini menjadi sumber perdebatan panjang dari perspektif feminis. Saya menghindari membahasnya panjang lebar di sini. Tergantung siapa perempuannya, peran ini bisa menunjukkan kebebasan memilih dari seorang perempuan atau hanya tekanan yang memberatkan dirinya. Suami saya kaget sesudah menikah dengan saya mendapatkan komitmen saya yang sudah lama mendukung anggota keluarga lain termasuk ibu saya. Kepulangan ayah ketika kami masih muda, menyebabkan kami mendukung satu dengan lainnya.
Ternyata tanggung jawab ini berkembang. Sesudah menikah, dukungan diperlebar terutama untuk mendorong gerakan hidup bersama secara damai dalam masyarakat. Saya harus bisa mengatur berbagi gaji saya untuk program memelihara keluarga dan masyarakat. Kadang-kadang pengelolaannya berhasil seringkali diatur apa adanya, yang penting setiap kegiatan bisa berjalan. Semangat mengurus keluarga mendorong saya berbagi dengan masyarakat, perempuan dan anak. Mereka menjadi bagian dari keluarga saya.
Ketika saya merefleksikan uang dalam relasi dengan diri sendiri, saya teringat wajah-wajah perempuan di sekitar saya. Saya juga ingat cerita dalam Alkitab tentang seorang janda yang cara hidupnya dipilih sebagai contoh dari Isa Almasih untuk menegur perilaku “relasi terhadap uang” dari orang kaya.
Injil Lukas menuliskan tentang persembahan seorang janda miskin (Lukas 21: 1-4). Narasinya, saya kutip utuh. “Ketika Yesus mengangkat mukaNya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan. Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu. Lalu Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya”.
Janda di manapun “tidak dianggap” ada oleh masyarakat. Tulisan Injil menjelaskan juga perilaku masyarakat terhadap janda. Kalau jandanya seorang yang muda, akan dianggap sebagai sumber penggodaan. Kalau jandanya seorang tua, dianggap miskin dan papa. Menjadi janda, serba salah. Tetapi janda-janda seperti inilah adalah mereka yang kuat. Ibu saya seorang janda. Ketika suaminya meninggal, ayah saya, ia mengatakan kepada anak-anaknya: “Sekarang Tuhan sudah mengambil ayahmu, suami saya sekarang adalah Allah sendiri”. Kata-kata ibu saya bukan bertujuan menghina Allah. Kata-kata itu memastikan kepada ia dan semua anak-anaknya bahwa hidupnya dulu sampai sekarang ada karena kemurahan dan perlindungan Allah sendiri. Allah menjadi sahabatnya. Nafasnya adalah doa yang terpanjat diam-diam kepada Allah.
Relasi yang mendalam dengan Allah menyebabkan ibu saya memberikan kembali apa yang menjadi hak Allah. Ceritanya sama seperti janda miskin yang ditulis dalam Injil Lukas. Ia hidup dari kemurahan Allah bukan kebaikan dari anak-anak walaupun setiap bulan kami mengirimkan berkat kami kepadanya. Sikap hidupnya mengajarkan kepada saya tentang sikap hidup janda yang menginspirasikan Yesus untuk mengingatkan mereka yang kaya.
Sikap hidup berbagi adalah semangat yang bisa ditemukan di kalangan mereka yang berkekurangan. Ketulusan untuk memberi dari apa yang ada kepada seseorang yang membutuhkan akan mendorong orang tersebut menerima balik pada saat yang dibutuhkan. Sikap memberi dari apa yang ada secara logis akan ada balasannya. Tetapi memberikan dari kekurangan kepada Allah seperti yang dilakukan oleh janda miskin, merupakan pertanda bahwa ia sedang memastikan pemeliharaan hidupnya ada pada tangan Allah. Hatinya yang tulus akan menggugah semua orang yang ada di sekitarnya untuk berbagi dengannya dari apa yang mereka miliki.
Sikap hati seorang janda miskin dijadikan contoh untuk mengajarkan orang kaya adalah tanda kepedulian Allah untuk meluruskan hati manusia. Uang bukan barang haram bagi manusia. Manusia perlu uang untuk hidup. Tetapi uang bukanlah jalan
untuk membawa manusia kepada Allah. Manusia bisa memusatkan hatinya pada uang, bukan pada Allah, sumber kehidupan.
Ketika kami tidak punya uang hidup di Jakarta, saya harus kerja untuk membantu ibu saya. Saya lakukan dengan penyerahan diri karena tahu uang dari kerja itu tidak cukup untuk membayar biaya sekolah adik-adik. Ada perasaan takut, tentang masa depan. Akan tetapi sesudah proses pembentukan hidup berlangsung yang mengubah kita dari kelimpahan menjadi kecukupan, saya belajar tentang kehidupan bersahaja dalam mendekati uang. Saya belajar mengatur dari apa yang ada bukan dari yang harus saya miliki. Cara pikir ini mungkin berbeda dengan kebanyakan pola progressif pengembangan ekonomi yang digiatkan oleh pasar. Bidikan banyaknya uang yang masuk harus seiring dengan perencanaan konsumsi yang harus dipenuhi. Pilihan hidup seperti ini menjadikan manusia sebagai budak terhadap kerja. Kerja tidak menghasilkan sukacita tetapi kesepian tanpa makna kehidupan. Mungkin café-café penuh dengan kita yang sepi melarikan diri pada kesenangan yang diterima dari minuman dan pertemanan sesaat.
Janda miskin tahu berhubungan dengan uang. Ia juga tahu bagaimana uangnya harus dipakai. Memberi dengan ketulusan kepada Allah merupakan sikap hidup yang akan menular mempengaruhi dalam kegiatan hidup lainnya. Menetapkan bahwa Allah adalah sumber kehidupan akan mendorong kita untuk berbagi dengan sesama sebagai ucapan syukur terhadap berkat-berkat yang sudah diterima dari Allah. Siang dan malam diberikan Allah kepada semua umat manusia tanpa pandang bulu tentang asal agama, budaya dan etnis. Hujan dan panas diberikan kepada kita semua untuk bisa mengatur persediaan lumbung-lumbung sebagai stok makanan keluarga.
Ketika manusia mengerti bahwa sumber hidupnya ada pada Allah, maka orang kaya tidak perlu menyuap orang miskin supaya mereka mau memberikan suaranya mendukung keinginan orang kaya menjadi wakilnya di parlemen. Sebaliknya, orang miskin pun tidak menggunakan kemiskinannya untuk memaksakan orang kaya memberikan uang kepadanya. Pemberian yang diberikan untuk mendapat suara seperti dilakukan pada masa Pemilu/pemilukada kualitasnya rendah. Pemberian ternyata terlalu murahan untuk membayar harga dari suatu kebijakan negara yang harus diperjuangkan bersama baik oleh calon wakil rakyat dan pendukungnya.
Pola pemberian tersebut mengajarkan masyarakat untuk melupakan jati dirinya. Pola ini menghilangkan harga diri orang miskin maupun orang kaya. Pola ini menghilangkan ketulusan dan keramahtamahan sejati yang ada di hati masyarakat. Lebih dari itu pola ini menumpulkan sejak dini fungsi kritis masyarakat untuk mengawal kebijakan-kebijakan negara yang akan diproses oleh wakil rakyat pilihannya. Kualitas mereka yang dipilihpun belum bisa mengamodasikan kebutuhan bersama untuk membuat kebijakan yang membawa keadilan dan kesejahteraan untuk semua. Rakyat memilih tanpa mengenal siapakah mereka yang mewakili dirinya. Uang membutakan perjalanan ke depan membangun bangsa yang menjadi tanggungjawab seluruh warga negara.
Politik pemilu/pemilukada menjadikan masyarakat Indonesia berhati kejam. Kita semua menjadi budak uang. Beban yang harus dipikul seseorang untuk menjadi pejabat publik adalah harus bisa memberikan sogokan kepada mereka yang memilihnya. Beban ini dibawa terus sampai di posisi yang memungkinkan berbagai cara mendapatkan uang melalui rekayasa untuk pengembalian pengeluaran atau hutang yang sudah dipakai menyogok rakyat. Siklus ini tampil untuk menjelaskan mata rantai korupsi yang sedang menghancurkan sistem kehidupan manusia-manusia beragama di Indonesia.
Kalau sudah seperti begini hidup bernegara, apa yang kita mau pilih, sikap hati seperti seorang janda miskin atau orang kaya? Ternyata sikap hidup orang kaya bisa merusak kehidupan orang banyak. Jadi lebih baikkah memilih hidup seperti seorang janda miskin yang mendatangkan damai hati untuk Allah dan sesama? Dari tradisi agama masing-masing bisa menjelaskan apa untuk memikir ulang relasi uang supaya korupsi bisa diangkat dari bumi Indonesia? Saya berbagi pertanyaan ini baik kepada saudara-saudari Kristiani, Muslim, Hindu, Budha, Konghucu dan berbagai aliran kepercayaan lainnya untuk merenungkan bersama. Semoga kita semua membawa balik spirit ketulusan dan loyalitas membangun hidup yang bersih untuk Indonesiaku Indonesiamu Indonesia untuk semua. Selamat hari Minggu. Selamat berpuasa bagi saudara/i Muslim. Tuhan memberkati kita semua. Amin.
Translate
Sabtu, 06 Agustus 2011
Ketika anakku melawat!
Ketika anakku melawat!
Oleh Farsijana Adeney-Risakotta
Mengapa baru sekarang
Kumengerti tentang waktu
Sebelum mentari bangun
Ketika keindahan semesta memancar
keluar dari bumi
Mengapa patokan jam
Mengabaikan tanda semesta
Tanda Sang Khalik
Keindahan sang cakrawala jingga
Sang penjaga waktu
Yang menjaga diriku seantero hari
Mengapa baru sekarang
Kumenunggu mentari sore
Sebelum petang menjadi matang
memahami lawatanMu
Keindahan alam semesta
Keindahan diriMu sang Pencipta
Keindahan itu begitu mendalam
Dibiarkan sampai menyentuh diri
meneropong hati
Dibiarkan hingga kurebahkan diri
Menengadah menyatu
Dengan pandangan yang
melebihi kata-kata
sampai kutemukan makna
dari keindahan
tanda yang akan kuingat selamanya
Keindahan semesta
Meninggalkan jejak siang
Menuntun tibanya malam
Dalam jinggamu sang bumi
pewarnaan sempurna
tanpa goresan tangan pelukis
Itukah engkau anakku berdiri gagah di sana
bersama keindahan semesta
Engkaulah anakku
Engkau yang melawat diriku bersama bumi
Di bulan Ramadhan
Memaklumkan kebaikan Ilahi
Menyerahkan dirimu
Ke haribaan Sang Khalik
LawatanMu Sang Khalik
Membawa anakku
Membuka sanubariku
membiarkan kesempurnaan keindahan
menyentuh diriku
meneguhkan pertalian bathin
bukan karena darah
meneruskan visi IlahiMu
meniadakan perbedaan
dalam cara menyapaMu
dari latar tradisi berbeda
Semesta raya menyentuhlah
Sampai kusujud kepadaMu
Sampai kupastikan itulah engkau
anakku yang melawat
menyerahkan cinta kasih
menggugah diri mengalirkan kasih sayang
Menyentuh rindu hatiku sedalam samudra
sebelum senja pergi di balik cakrawala
memecahkan deru ombak dalam lautan lepas
menebarkan adzan Allah Maha Besar
ke seantero jagad
burung-burung pulang ke rumahnya
Kemanakah engkau pergi sang bumi
Ketika anakku meninggalkan kenangan
Dari keindahan Sang Khalik
Yang memberi dirinya ketenangan
menenangkan diriku
pada jarak dan waktu yang beda
Engkau anakku untuk Indonesia
Mengalirkan semangat Ilahi
Menebarkan cinta kasih
Menaburkan keadilan
Hidup damai untuk semua
Menjaga malam terjaga lagi
Meneruskan terang Ilahi
Untuk semua
Oleh Farsijana Adeney-Risakotta
Mengapa baru sekarang
Kumengerti tentang waktu
Sebelum mentari bangun
Ketika keindahan semesta memancar
keluar dari bumi
Mengapa patokan jam
Mengabaikan tanda semesta
Tanda Sang Khalik
Keindahan sang cakrawala jingga
Sang penjaga waktu
Yang menjaga diriku seantero hari
Mengapa baru sekarang
Kumenunggu mentari sore
Sebelum petang menjadi matang
memahami lawatanMu
Keindahan alam semesta
Keindahan diriMu sang Pencipta
Keindahan itu begitu mendalam
Dibiarkan sampai menyentuh diri
meneropong hati
Dibiarkan hingga kurebahkan diri
Menengadah menyatu
Dengan pandangan yang
melebihi kata-kata
sampai kutemukan makna
dari keindahan
tanda yang akan kuingat selamanya
Keindahan semesta
Meninggalkan jejak siang
Menuntun tibanya malam
Dalam jinggamu sang bumi
pewarnaan sempurna
tanpa goresan tangan pelukis
Itukah engkau anakku berdiri gagah di sana
bersama keindahan semesta
Engkaulah anakku
Engkau yang melawat diriku bersama bumi
Di bulan Ramadhan
Memaklumkan kebaikan Ilahi
Menyerahkan dirimu
Ke haribaan Sang Khalik
LawatanMu Sang Khalik
Membawa anakku
Membuka sanubariku
membiarkan kesempurnaan keindahan
menyentuh diriku
meneguhkan pertalian bathin
bukan karena darah
meneruskan visi IlahiMu
meniadakan perbedaan
dalam cara menyapaMu
dari latar tradisi berbeda
Semesta raya menyentuhlah
Sampai kusujud kepadaMu
Sampai kupastikan itulah engkau
anakku yang melawat
menyerahkan cinta kasih
menggugah diri mengalirkan kasih sayang
Menyentuh rindu hatiku sedalam samudra
sebelum senja pergi di balik cakrawala
memecahkan deru ombak dalam lautan lepas
menebarkan adzan Allah Maha Besar
ke seantero jagad
burung-burung pulang ke rumahnya
Kemanakah engkau pergi sang bumi
Ketika anakku meninggalkan kenangan
Dari keindahan Sang Khalik
Yang memberi dirinya ketenangan
menenangkan diriku
pada jarak dan waktu yang beda
Engkau anakku untuk Indonesia
Mengalirkan semangat Ilahi
Menebarkan cinta kasih
Menaburkan keadilan
Hidup damai untuk semua
Menjaga malam terjaga lagi
Meneruskan terang Ilahi
Untuk semua
Jumat, 05 Agustus 2011
MenTuhankan "uang" dalam Politik Korupsi. Suatu refleksi Ramadhan 2011
MenTuhankan “uang” dalam Politik Korupsi. Suatu refleksi Ramadhan 2011
Oleh Farsijana Adeney-Risakotta
Ini artikel saya ketiga, menulis untuk blog “Indonesiaku Indonesiamu Indonesia untuk semua” tentang korupsi sejak bulan Ramadhan 1432 H mulai. Sebagai seorang Nasrani, kegelisahan tentang korupsi di bulan Ramadhan mungkin dapat ditenangkan apabila dibagikan bersama saudara-saudari Muslim sebangsa.
Ketika tiba-tiba saya terbangun bersama pertanyaan: “Binatang macam apakah korupsi itu?”, saya makin sadar tentang perlunya menyelesaikan pengertian itu dalam diri sendiri. Apa peduliya pertanyaan itu bagi diri saya? Saya bisa saja melupakannya, karena prioritas aktivitas lain. Semakin saya mencoba melupakannya, semakin menguat kegelisahan untuk mengerti ke arah mana pertanyaan tadi dapat dijawab.
Masih jelas dalam benak kita, krisis moneter tahun 1998. Krisis finansial ini berdampak pada gerakan politik di Indonesia. Gerakan Reformasi mengubah sejarah bersama sebagai bangsa. Kejatuhan rejim Orde baru dipicu dengan fenomena kebangkrutan negara sebagai akibat dari praktek korupsi. Ketika itu, “korupsi” dihubungan langsung dengan rumpun keluarga lainnya, yang mengambil istilah dari Kuliah Kerja Nyata (KKN) dengan penamaan arti yang berbeda. KKN kemudian diplesetkan menjadi Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.
Gerakan Reformasi membongkar praktek KKN dari regim Orde Baru. Sekarang sesudah 12 tahun proses Reformasi berguling, praktek KKN ternyata masih menggoda dan mengngeruk korban-korban lain dari mereka yang adalah anak-anak Reformasi. Kita semua mulai bertanya-tanya berapa besar kekuatan dan pesona KKN sehingga anak-anak bangsa terlahir dari buah rahim Reformasi ternyata masih terjebak dalam perangkap KKN.
Mungkin ada kalangan yang percaya tentang kutukan yang menimpa Indonesia sehingga jeratan KKN yang dipastikan dapat diberantas ternyata masih menguat dalam kehidupan berbangsa. Anggapan ini perlu ditolak. Indonesia diberkati Allah dengan berbagai kelimpahan dan kecukupan. Alam semestanya yang kaya dan keragaman budaya yang menyebabkan manusianya bisa hidup saling berdamping. Memandang korupsi sebagai kutukan hanyalah upaya untuk menolak menyelesaikan persoalan bangsa dengan kebajikan dan kebijakan Allah yang diturunkan kepada manusia.
Korupsi bukanlah juga nasib atau takdir. Korupsi adalah bagian dari perjuangan yang harus terus dihadapi setiap manusia, pemerintah dan negara. Seperti tergambar dari rumpun keluarganya, korupsi tidak berdiri sendiri. Korupsi ada bersama-sama dan tampil dalam bentuk lain seperti kolusi dan nepotisme. Laporan-laporan korupsi yang terjadi pada masa paska Reformasi jelas menggambarkan tentang jaringan politik korupsi. Satu kasus korupsi ternyata bisa melintasi dan menjaring keterlibatan berbagai pihak termasuk lembaga dan fungsi negara yang meliputi eksekutif, legislatif, keamanan dan judikatif.
Ketika korupsi menjadi bagian dari rumpun keluarga KKN, bentuk kriminalitasnya melibatkan struktur sosial di dalam negara, maka yang perlu diamati adalah pandangan dan praktek korupsi yang ada dalam masyarakat. Apakah yang ada dalam pikiran dan benak dari mereka yang sedang membayangkan dan melakukan tindakan korupsi? Praktek korupsi bisa terlihat dari tindakan suap, menyogok, bahkan sampai pada tampilan upeti yang terlihat sangat elegan. Seseorang melakukan tindakan korupsi karena ingin mendapat uang yang lebih dengan didukung kekuasaan yang dimilikinya atau dijaminkan oleh kekuasaan lain yang menopangnya. Mereka yang dipaksa melakukan suap berkeinginan untuk memotong jalan rumit pengurusan suatu urusan atau dokumen. Untuk inilah mereka rela membayar setiap meja yang harus menandatangani berkas pengurusannya.
Ada banyak alasan orang terlibat dalam korupsi. Misalkan mereka dari kalangan pekerja bawahan akan menggunakan alasan gajinya yang kecil sebagai pembenaran untuk melakukan tindakan korupsi. Mereka ini pada umumnya tidak punya kekuasaan, menjadi alat untuk memperlancar pelaksanaan korupsi yang diinginkan oleh mereka yang punya kekuasaan. Kasus-kasus korupsi yang menjadi berita utama di media sejak Reformasi menunjukan siapakah pelakunya. Mereka pada umumnya berasal dari kelas masyarakat yang mempunyai kekuasaan. Mereka menggunakan kekuasaannya untuk merusak jaringan dari struktur kerja yang tertib, transparan dan terukur yang sedang dikerjakannya.
Korupsi mengandung ide tentang kondisi yang pelan-pelan membusuk. Setiap waktu secara sembunyi ada kekuatan dari kebersamaan yang dilumpuhkan karena pengambilan porsi yang besar dari mereka yang berkuasa. Dampak dari pembusukan sistem yang dikorupsi adalah makin menderitanya orang-orang yang seharus mendapat pelayanan dari uang yang diambil dengan cara mengkorupsi. Misalkan di Kulon Progo, seseorang harus membayar ratusan ribu rupiah untuk mendapat akte kelahiran yang sebenarnya harus diberikan gratis kepada masyarakat sebagai haknya.
Politik korupsi bisa terbangun secara alamiah sehingga tindakan ini malahan seolah-olah dibenarkan terjadi karena anggapan bahwa suatu regim yang berkuasa mempunyai otoritas untuk mengelola jalannya pembangunan bersama. Pemusatan kekuasaan mengalamatkan mereka dari jejaringan yang ada, yang berkuasa sebagai pelaksana resmi kegiatan-kegiatan pembangunan. Berbagai kebijakan dibuat untuk menghilangkan kompetisi dan memberikan monopoli kepada jaringan dari mereka yang sedang berkuasa. Tampilan bentuk korupsi ini disebut secara teknis sebagai kolusi. Korupsi didukung dengan politik penjatahan. Kekuasaan dibagi-bagi menurut hasil negosiasi yang dapat memenangkan masyarakat kebanyakan yang sedikit sekali mempunyai akses langsung untuk berpartisipasi dalam kegiatan bersama.
Ketika korupsi dianggap sebagai bagian dari tradisi dimana masing-masing kelompok yang berkuasa berhak menentukan apa yang terbaik untuk masyarakat kebanyakan, maka sudah dipastikan akan terjadi perebutan kekuasaan. Pelanggengan korupsi melalui sistem dagang sapi, pembagian kue pembangunan, penjatahan pelaksanaan kegiatan bukan berdasarkan profesionalisme dapat mengarahkan pada konflik kepentingan. Politik klan, suku dan agama yang paling sering membusukkan kehidupan masyarakat di berbagai belahan dunia. Kehancuran diri sendiri adalah bagian dari kehancuran bersama dalam kelompok. Politik tanggung renteng menjadi bangunan solidaritas yang menguntungkan kekuasan dari lingkaran dalam tertentu.
Loyalitas kepada satu kelompok, entah klan, suku dan agama tertentu sebagai bagian dari masyarakat yang mendukung politisi-politisi dari mereka yang ada pada kekuasaan dapat menghancurkan kehidupan bersama sebagai bangsa. Apabila praktek korupsi dibangun karena loyalitas tersebut, karena masyarakat percaya mereka harus saling membantu sebagai bagian dari jejaring sosial yang terbangun berdasarkan kesamaan suku, agama dan ideologi, maka secara sengaja telah terjadi praktek diskriminatif kepada anggota masyarakat lain yang tidak termasuk dalam lingkaran dalamnya. Dalam contoh ini praktek nepotisme dijelaskan. Loyalitas terbentuk dalam bentuk relasi sosial baru selain hubungan biologis dari serumpun anggota keluarga. Politik korupsi dengan alasan ini sangat mengancam kestabilan suatu negara karena itu perlu ditindak secara tegas tanpa pandang bulu.
Seperti dilaporkan Republika Online, menurut pengumuman tahun 2011 dari World Justice Project (WJP), Indonesia berada di posisi ke 47 dari 66 negara yang terkorup di dunia. Laporan lain dari Corruption Perception Index (CPI) yang dipublikasikan tahun 2010 oleh Transparancy International (TI), menjelaskan Indonesia berada pada urutan 110 dari 180 negara yang terlibat dalam korupsi. Artinya Indonesia sebenarnya berada pada urutan ke-30 dari negara-negara yang mempunyai tingkat praktek korupsi tertinggi. Bersama dengan hampir semua negara-negara di Afrika, di Asia Tengah, Timor Leste, Indonesia masih mempunyai tugas yang berat untuk membangun disiplin birokrasi yang rasional dan transparansi untuk mengurangi kasus-kasus korupsi.
Penindakan kepada pelaku dapat didekati dengan upaya mengembalikan semua kekayaan yang diambil dari cara mengkorupsi kemudian menjalani disiplin hukum yang selayaknya. Pengawalan supaya pelaku korupsi menjalani disiplin penghukuman dapat dilakukan bersama oleh masyarakat baik melalui lembaga-lembaga seperti Indonesian Corruption Watch (ICW), Ombusman Indonesia dstnya. Pentingnya kebersihan dari lembaga-lembaga independen ini adalah untuk menjaga kewibawaan penegakan hukum dihadapan masyarakat. Keraguan bersama tentang keterlibatan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam menerima suap dari koruptor yang sedang diselidikinya merupakan bahan pelajaran bersama supaya masyarakat secara independen juga bisa tetap mempunyai akses untuk mengontrol kinerja lembaga-lembaga anti korupsi ini.
Restu dari lembaga-lembaga keagamaan untuk mendukung penegakan gerakan anti korupsi terkait dengan kepastian tersedianya praktek etika dalam kerja ketatanegaraan. Dana-dana yang terkumpul dari masyarakat maupun berbagai distribusi kekayaan daerah dan pusat harus dipergunakan untuk membangun keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Prinsip etik ini perlu menuntun masyarakat untuk memastikan proses penggunaan uang secara transparan sesuai dengan perencanaan pembangunan yang ada.
Prinsip etis berlaku juga untuk mendorong pemberian gaji pegawai yang layak dengan kenyataan inflasi di Indonesia. Pegawai pelaksana harus dijaminkan mendapat hak upahnya ketika terlibat dengan program karena mereka bertanggungjawab langsung dengan kegiatan tersebut. Penegakkan prinsip etis keadilan akan mengurangi kemungkinan pejabat eselon lebih tinggi yang tidak bekerja langsung dengan kegiatan tetapi menerima komisi sehingga berdampak pada pembengkakan anggaran kegiatan.
Uang harus dipandang sebagai “mammon” yang bisa mencelakakan individu dan sesama, menjauhkan manusia dari Sang Khalik dan menjadikan manusia budak. Bukti dari banyaknya korupsi di Indonesia karena manusia diam-diam menTuhankan “uang”. Uang menjadi Tuhanya, walaupun semua orang beragama di Indonesia menyembah Sang Pencipta, Tuhan Yang Maha Easa. Agama-agama bisa membebaskan manusia dari perbudakan uang. Manusia yang berjalan pada jalan Allah, karena keselamatan dariNya bisa melepaskan diri manusia sebagai budak dari semua kenikmatan “uang”.
Upaya ini dapat dicapai apabila manusia Indonesia bersedia melatih dirinya untuk memiliki prinsip etis yang tidak menomorsatukan uang, menTuhankan uang, mengerti bagaimana uang dipergunakan untuk mendistribusikan keadilan dan damai sejahtera kepada semua umat manusia. Hanya dengan cara inilah, fungsi agama-agama menjadi bermanfaat dan berkah untuk membangun pemerintahan yang bersih, transparan dan beradab di Indonesia.
Oleh Farsijana Adeney-Risakotta
Ini artikel saya ketiga, menulis untuk blog “Indonesiaku Indonesiamu Indonesia untuk semua” tentang korupsi sejak bulan Ramadhan 1432 H mulai. Sebagai seorang Nasrani, kegelisahan tentang korupsi di bulan Ramadhan mungkin dapat ditenangkan apabila dibagikan bersama saudara-saudari Muslim sebangsa.
Ketika tiba-tiba saya terbangun bersama pertanyaan: “Binatang macam apakah korupsi itu?”, saya makin sadar tentang perlunya menyelesaikan pengertian itu dalam diri sendiri. Apa peduliya pertanyaan itu bagi diri saya? Saya bisa saja melupakannya, karena prioritas aktivitas lain. Semakin saya mencoba melupakannya, semakin menguat kegelisahan untuk mengerti ke arah mana pertanyaan tadi dapat dijawab.
Masih jelas dalam benak kita, krisis moneter tahun 1998. Krisis finansial ini berdampak pada gerakan politik di Indonesia. Gerakan Reformasi mengubah sejarah bersama sebagai bangsa. Kejatuhan rejim Orde baru dipicu dengan fenomena kebangkrutan negara sebagai akibat dari praktek korupsi. Ketika itu, “korupsi” dihubungan langsung dengan rumpun keluarga lainnya, yang mengambil istilah dari Kuliah Kerja Nyata (KKN) dengan penamaan arti yang berbeda. KKN kemudian diplesetkan menjadi Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.
Gerakan Reformasi membongkar praktek KKN dari regim Orde Baru. Sekarang sesudah 12 tahun proses Reformasi berguling, praktek KKN ternyata masih menggoda dan mengngeruk korban-korban lain dari mereka yang adalah anak-anak Reformasi. Kita semua mulai bertanya-tanya berapa besar kekuatan dan pesona KKN sehingga anak-anak bangsa terlahir dari buah rahim Reformasi ternyata masih terjebak dalam perangkap KKN.
Mungkin ada kalangan yang percaya tentang kutukan yang menimpa Indonesia sehingga jeratan KKN yang dipastikan dapat diberantas ternyata masih menguat dalam kehidupan berbangsa. Anggapan ini perlu ditolak. Indonesia diberkati Allah dengan berbagai kelimpahan dan kecukupan. Alam semestanya yang kaya dan keragaman budaya yang menyebabkan manusianya bisa hidup saling berdamping. Memandang korupsi sebagai kutukan hanyalah upaya untuk menolak menyelesaikan persoalan bangsa dengan kebajikan dan kebijakan Allah yang diturunkan kepada manusia.
Korupsi bukanlah juga nasib atau takdir. Korupsi adalah bagian dari perjuangan yang harus terus dihadapi setiap manusia, pemerintah dan negara. Seperti tergambar dari rumpun keluarganya, korupsi tidak berdiri sendiri. Korupsi ada bersama-sama dan tampil dalam bentuk lain seperti kolusi dan nepotisme. Laporan-laporan korupsi yang terjadi pada masa paska Reformasi jelas menggambarkan tentang jaringan politik korupsi. Satu kasus korupsi ternyata bisa melintasi dan menjaring keterlibatan berbagai pihak termasuk lembaga dan fungsi negara yang meliputi eksekutif, legislatif, keamanan dan judikatif.
Ketika korupsi menjadi bagian dari rumpun keluarga KKN, bentuk kriminalitasnya melibatkan struktur sosial di dalam negara, maka yang perlu diamati adalah pandangan dan praktek korupsi yang ada dalam masyarakat. Apakah yang ada dalam pikiran dan benak dari mereka yang sedang membayangkan dan melakukan tindakan korupsi? Praktek korupsi bisa terlihat dari tindakan suap, menyogok, bahkan sampai pada tampilan upeti yang terlihat sangat elegan. Seseorang melakukan tindakan korupsi karena ingin mendapat uang yang lebih dengan didukung kekuasaan yang dimilikinya atau dijaminkan oleh kekuasaan lain yang menopangnya. Mereka yang dipaksa melakukan suap berkeinginan untuk memotong jalan rumit pengurusan suatu urusan atau dokumen. Untuk inilah mereka rela membayar setiap meja yang harus menandatangani berkas pengurusannya.
Ada banyak alasan orang terlibat dalam korupsi. Misalkan mereka dari kalangan pekerja bawahan akan menggunakan alasan gajinya yang kecil sebagai pembenaran untuk melakukan tindakan korupsi. Mereka ini pada umumnya tidak punya kekuasaan, menjadi alat untuk memperlancar pelaksanaan korupsi yang diinginkan oleh mereka yang punya kekuasaan. Kasus-kasus korupsi yang menjadi berita utama di media sejak Reformasi menunjukan siapakah pelakunya. Mereka pada umumnya berasal dari kelas masyarakat yang mempunyai kekuasaan. Mereka menggunakan kekuasaannya untuk merusak jaringan dari struktur kerja yang tertib, transparan dan terukur yang sedang dikerjakannya.
Korupsi mengandung ide tentang kondisi yang pelan-pelan membusuk. Setiap waktu secara sembunyi ada kekuatan dari kebersamaan yang dilumpuhkan karena pengambilan porsi yang besar dari mereka yang berkuasa. Dampak dari pembusukan sistem yang dikorupsi adalah makin menderitanya orang-orang yang seharus mendapat pelayanan dari uang yang diambil dengan cara mengkorupsi. Misalkan di Kulon Progo, seseorang harus membayar ratusan ribu rupiah untuk mendapat akte kelahiran yang sebenarnya harus diberikan gratis kepada masyarakat sebagai haknya.
Politik korupsi bisa terbangun secara alamiah sehingga tindakan ini malahan seolah-olah dibenarkan terjadi karena anggapan bahwa suatu regim yang berkuasa mempunyai otoritas untuk mengelola jalannya pembangunan bersama. Pemusatan kekuasaan mengalamatkan mereka dari jejaringan yang ada, yang berkuasa sebagai pelaksana resmi kegiatan-kegiatan pembangunan. Berbagai kebijakan dibuat untuk menghilangkan kompetisi dan memberikan monopoli kepada jaringan dari mereka yang sedang berkuasa. Tampilan bentuk korupsi ini disebut secara teknis sebagai kolusi. Korupsi didukung dengan politik penjatahan. Kekuasaan dibagi-bagi menurut hasil negosiasi yang dapat memenangkan masyarakat kebanyakan yang sedikit sekali mempunyai akses langsung untuk berpartisipasi dalam kegiatan bersama.
Ketika korupsi dianggap sebagai bagian dari tradisi dimana masing-masing kelompok yang berkuasa berhak menentukan apa yang terbaik untuk masyarakat kebanyakan, maka sudah dipastikan akan terjadi perebutan kekuasaan. Pelanggengan korupsi melalui sistem dagang sapi, pembagian kue pembangunan, penjatahan pelaksanaan kegiatan bukan berdasarkan profesionalisme dapat mengarahkan pada konflik kepentingan. Politik klan, suku dan agama yang paling sering membusukkan kehidupan masyarakat di berbagai belahan dunia. Kehancuran diri sendiri adalah bagian dari kehancuran bersama dalam kelompok. Politik tanggung renteng menjadi bangunan solidaritas yang menguntungkan kekuasan dari lingkaran dalam tertentu.
Loyalitas kepada satu kelompok, entah klan, suku dan agama tertentu sebagai bagian dari masyarakat yang mendukung politisi-politisi dari mereka yang ada pada kekuasaan dapat menghancurkan kehidupan bersama sebagai bangsa. Apabila praktek korupsi dibangun karena loyalitas tersebut, karena masyarakat percaya mereka harus saling membantu sebagai bagian dari jejaring sosial yang terbangun berdasarkan kesamaan suku, agama dan ideologi, maka secara sengaja telah terjadi praktek diskriminatif kepada anggota masyarakat lain yang tidak termasuk dalam lingkaran dalamnya. Dalam contoh ini praktek nepotisme dijelaskan. Loyalitas terbentuk dalam bentuk relasi sosial baru selain hubungan biologis dari serumpun anggota keluarga. Politik korupsi dengan alasan ini sangat mengancam kestabilan suatu negara karena itu perlu ditindak secara tegas tanpa pandang bulu.
Seperti dilaporkan Republika Online, menurut pengumuman tahun 2011 dari World Justice Project (WJP), Indonesia berada di posisi ke 47 dari 66 negara yang terkorup di dunia. Laporan lain dari Corruption Perception Index (CPI) yang dipublikasikan tahun 2010 oleh Transparancy International (TI), menjelaskan Indonesia berada pada urutan 110 dari 180 negara yang terlibat dalam korupsi. Artinya Indonesia sebenarnya berada pada urutan ke-30 dari negara-negara yang mempunyai tingkat praktek korupsi tertinggi. Bersama dengan hampir semua negara-negara di Afrika, di Asia Tengah, Timor Leste, Indonesia masih mempunyai tugas yang berat untuk membangun disiplin birokrasi yang rasional dan transparansi untuk mengurangi kasus-kasus korupsi.
Penindakan kepada pelaku dapat didekati dengan upaya mengembalikan semua kekayaan yang diambil dari cara mengkorupsi kemudian menjalani disiplin hukum yang selayaknya. Pengawalan supaya pelaku korupsi menjalani disiplin penghukuman dapat dilakukan bersama oleh masyarakat baik melalui lembaga-lembaga seperti Indonesian Corruption Watch (ICW), Ombusman Indonesia dstnya. Pentingnya kebersihan dari lembaga-lembaga independen ini adalah untuk menjaga kewibawaan penegakan hukum dihadapan masyarakat. Keraguan bersama tentang keterlibatan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam menerima suap dari koruptor yang sedang diselidikinya merupakan bahan pelajaran bersama supaya masyarakat secara independen juga bisa tetap mempunyai akses untuk mengontrol kinerja lembaga-lembaga anti korupsi ini.
Restu dari lembaga-lembaga keagamaan untuk mendukung penegakan gerakan anti korupsi terkait dengan kepastian tersedianya praktek etika dalam kerja ketatanegaraan. Dana-dana yang terkumpul dari masyarakat maupun berbagai distribusi kekayaan daerah dan pusat harus dipergunakan untuk membangun keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Prinsip etik ini perlu menuntun masyarakat untuk memastikan proses penggunaan uang secara transparan sesuai dengan perencanaan pembangunan yang ada.
Prinsip etis berlaku juga untuk mendorong pemberian gaji pegawai yang layak dengan kenyataan inflasi di Indonesia. Pegawai pelaksana harus dijaminkan mendapat hak upahnya ketika terlibat dengan program karena mereka bertanggungjawab langsung dengan kegiatan tersebut. Penegakkan prinsip etis keadilan akan mengurangi kemungkinan pejabat eselon lebih tinggi yang tidak bekerja langsung dengan kegiatan tetapi menerima komisi sehingga berdampak pada pembengkakan anggaran kegiatan.
Uang harus dipandang sebagai “mammon” yang bisa mencelakakan individu dan sesama, menjauhkan manusia dari Sang Khalik dan menjadikan manusia budak. Bukti dari banyaknya korupsi di Indonesia karena manusia diam-diam menTuhankan “uang”. Uang menjadi Tuhanya, walaupun semua orang beragama di Indonesia menyembah Sang Pencipta, Tuhan Yang Maha Easa. Agama-agama bisa membebaskan manusia dari perbudakan uang. Manusia yang berjalan pada jalan Allah, karena keselamatan dariNya bisa melepaskan diri manusia sebagai budak dari semua kenikmatan “uang”.
Upaya ini dapat dicapai apabila manusia Indonesia bersedia melatih dirinya untuk memiliki prinsip etis yang tidak menomorsatukan uang, menTuhankan uang, mengerti bagaimana uang dipergunakan untuk mendistribusikan keadilan dan damai sejahtera kepada semua umat manusia. Hanya dengan cara inilah, fungsi agama-agama menjadi bermanfaat dan berkah untuk membangun pemerintahan yang bersih, transparan dan beradab di Indonesia.
Rabu, 03 Agustus 2011
Pembebasan penjara nafsu, renungan Ramadhan 2011
Pembebasan penjara nafsu, renungan Ramadhan 2011
Oleh: Farsijana Adeney-Risakotta
Siapakah manusia? Pertanyaan ini telah menghasilkan tulisan berbuku-buku yang tersimpan dalam perpustakaan, bisa diakses melalui internet, dikaji dari disiplin teologi, filsafat, psikologi, sosiologi, antropologi sampai pada pembahasan politik praktis. Ketika kita berjalan keluar dari “rumah” sendiri, kita akan menemukan berbagai penampakan kehidupan manusia. Kadang-kadang penampakan tersebut mengejutkan. Ziarah menemukan manusia bisa juga dilakukan dengan membaca cerita-cerita yang ditulis secara mengherankan oleh seseorang sehingga diri sendiri bisa terefleksikan dalam tulisan itu. Menonton film yang baik memberikan inspirasi tentang siapakah manusia.
Manusia adalah diri kita sendiri. Seringkali saya terbangun dengan perasaan mendalam ingin melihat wajah Sang Pencipta. Saya ingat ketika masih muda kerja di Halmahera, dalam tugas perjalanan mengunjungi masyarakat di kampung-kampung, ketika saya sangat capek pada saat itu saya merasa sedang digendong oleh Allah. Manusia punya tubuh yang merelakan jiwanya berkelana keluar fisiknya menyentuh kehidupan lain yang membuat dirinya sendiri tersentak. Tubuh saya membebaskan diri sendiri sehingga bisa melintasi ruang memasuki jaman lampau sekaligus masa depan yang masih misterius. Tubuh yang membebaskan jiwa adalah tubuh yang merayakan kehidupan sehingga keutuhan dirinya kembali selalu meneduhkan dan menyembuhkan dari perjalanan jauh suatu ziarah yang dilakukan jiwa.
Meneduhkan diri dalam haribaan Allah, membuat manusia seperti dilahirkan kembali, menjadi baru dan dibasuh dari debu-debu kegerahan yang memberatkan tubuh dan jiwa. Ketika manusia berziarah ia membawa nafsu dirinya ke jalan yang baik atau buruk. Seringkali jalan yang disadari sebagai yang baik, ternyata malahan menuju ke jurang kebinasaan. Nafsu dapat memenjarakan seorang manusia apabila keinginan yang hendak dicapai tertentu malahan merusak dirinya sendiri termasuk juga hubungannya dengan orang lain.
Kata nafsu bisa bersifat positif maupun negatif. Dipakai untuk menjelaskan tentang keutamaan yang harus dilakukan, kata nafsu bisa menjelaskan hal yang baik seperti nafsu makan secara teratur. Orang yang kurang makan didorong dengan mengkonsumsi vitamin untuk merangsang nafsu makannya. Seseorang yang penuh dengan kegairahan dalam membangkitkan motivasi banyak orang lain untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bersama, akan dipandang sebagai seorang dengan semangat atau nafsu untuk berhasil yang tinggi. Gambaran situasi ini jelas dalam pengungkapan bahasa Inggeris, “passion”. Suatu janji mengandung nafsu, keinginan untuk memenuhi kepastian yang dibuatnya sendiri.
Diri seorang manusia, bisa tampil sebagai penjara sekaligus pembebasan. Secara fisik seorang bebas tampil melakukan apa saja yang diinginkannya sebenarnya bisa juga sedang diperangkap oleh penjara nafsunya sendiri.
Berziarah menuju Allah dilakukan dalam doa, puji-pujian dan puasa. Agama-agama dengan praktek budaya-budaya yang sangat kuno mengajarkan berbagai cara dari ziarah manusia ke Allah. Manusia tidak cukup hidup dari makan dan minum saja. Manusia tidak cukup hidup dari uang. Manusia tidak cukup hidup dari kemewahan. Manusia tidak cukup hidup dari kepuasaan seks. Manusia bertanya dan mencari jalan untuk mengerti ke manakah perginya jiwanya ketika ia berada dalam tekanan yang maha dasyat. Ancaman kebosanan,kesepian, kepenatan dan bunuh diri seringkali menghantui manusia sesudah masa-masa kesenangan dan kevulgaran melintasinya. Manusia mencari jiwanya supaya kehidupannya bukan yang semu.
Dalam perziarahan kepada Sang Pencipta inilah, manusia mengubah kondisi biologis menjadi tindakan suci yang membuka jalannya kepada pelawatan Sang Pencipta menyentuh dirinya. Roh Allah menyentuh roh manusia sehingga jiwanya membebaskan kenikmatan dari kebutuhan tubuhnya sendiri. Relasi dengan Roh Allahlah yang menyebabkan manusia membebaskan diri dari penjara nafsu. Sepertinya nafsu berkuasa, nafsu seks yang tidak bertanggungjawab, nafsu rasa paling benar, nafsu menang sendiri, nafsu penindasan, nafsu diskriminasi, nafsu kemewahan, nafsu gengsi dan bentuk-bentuk ekspresi dari keinginan manusia lainnya bisa memenjarakan dirinya sendiri.
Puasa sebagai tindakan merawat nafsu diri adalah ekspresi kehidupan diri yang sangat tua. Menonton relief di pahatan dinding bagian paling bawah yang pernah terkubur dari candi Borobudur mengingatkan kita tentang pesan mengenai nafsu manusia yang dekat dengan kehidupan dirinya. Sifat nafsu yang positif dan negatif ada dalam diri manusia. Dalam tradisi Kristiani, puasa merupakan tanda pergolakan antara manusia dengan Sang Pencipta. Isa Almasih dalam tradisi dijelaskan berpuasa selama 40 hari. Selama proses berpuasa Ia bertemu dengan berbagai godaan yang ditawarkan oleh setan. Inti dari tawaran setan adalah “kekuasaan”. Nabi Daud berpuasa sebagai tanda rasa bersalah sesudah membunuh suami dari Bersyebah yang kemudian dinikahinya.
Keindahan Indonesia paska reformasi adalah ketersediaan ruang dialog. Kebebasan untuk berbicara dan berpendapat menjadi spirit mencirikan proses demokratisasi yang sedang dicapai Indonesia. Semula saya membayangkan akan ada larangan membahas korupsi di bulan puasa seperti pelarangan tempat-tempat hiburan malam di mana-mana. Ternyata percakapan dan refleksi tentang korupsi tidak bisa dihindari lagi sesudah bola saljunya digulingkan oleh Marzuki Alie.
Korupsi harus dibahas dalam permenungan hari-hari besar agama dari semua agama-agama. Nasihat ini perlu didengar oleh seorang Kristiani seperti saya, dan mereka yang lainnya. Bukan karena kebetulan heboh korupsi dimunculkan pada bulan Ramadhan 1432H, sehingga warga negara lain dari berbagai agama non Islam seyogianya juga merenungkan hal ini. Mengapa? Karena ada rumor yang beredar bahwa tindakan korupsi tertinggi di Indonesia malahan terjadi di Departemen Agama. Jadi membahas korupsi setuntas-tuntasnya bukan hanya terkait dengan Nazaruddin, Nunun Nurbaiti, Gayus dll tetapi juga merangkaikan ke seluruh jejaring korupsi seantero negara. Korupsi bukan monopoli politisi dan birokrat Jakarta, tetapi sampai ke pelosok di daerah-daerah.
Ada asumsi yang mengatakan bahwa pemberantasan korupsi akan membuat penjara penuh. Bahkan penjara tidak cukup untuk menampung para koruptor, sangking berjubelnya praktek korupsi di Indonesia.
Jadi kalau penjaranya sudah penuh, kita mau apa lagi? Nada menyindir dari berbagai kalangan tentang kesia-siaan dari upaya pemberantasan korupsi memang terbentur dengan anggapan bahwa penjara fisik adalah tempat yang paling layak untuk menghukum koruptor. Dari berbagai contoh yang terjadi di Indonesia, ada koruptor yang ketika bebas dari penjara disambut meriah oleh pengikutnya. Pembebasannya dari penjara disambut sebagai suatu kemenangan oleh pengikutnya. Setiap orang dan pengikutnya punya cerita yang dapat mengklaim suatu kebenaran.
“Penjara” yang dianggap bisa mengubah seseorang malahan dapat membentuk karakter pembenaran diri tertentu. Menurut saya, “penjara” (prison!) bukanlah tempat yang bisa mengubah kepribadian seseorang. Membebaskan “penjara nafsu” ada pada diri manusia. Penjara nafsu ada di mana-mana ketika program-program pemerintah dibuat dengan tujuan pembengkakan anggaran dari rencana semula supaya ada dana yang bisa diambil oleh pelaksana. Perencanaan yang sengaja melipatkan gandakan anggaran atau upaya membelanjakan dana dengan kualitas rendah yang berbeda dari perincian anggaran sebenarnya. Pembebasan dari penjara nafsu memerlukan uluran tangan pengampunan dari Allah sendiri. Ulurkanlah tangan kita untuk dilawat Allah sehingga kegerahan itu terangkat.
Indonesia sebagai negara beragama, hanya bisa dibebaskan dari penjara nafsu korupsi apabila manusia Indonesia sungguh-sungguh membiarkan Allah melawat dirinya. Setiap detik adalah waktu Allah untuk Indonesia bisa disentuhNya. Kita harus bisa merasakan Allah mengasihi diri kita sehingga kitapun bisa mengasihi sesama manusia lainnya. Ketika godaan yang besar datang untuk melakukan korupsi, pada saat itulah kitapun sadar bahwa akibatnya dari perbuatan kita ada banyak warga negara lain yang terlantar. Mereka yang kehidupan minimumnya terancam tidak bisa dipenuhi karena tidak ada anggaran pemerintah untuk memfasiltasinya. Menyentuh Allah dalam lawatanNya di kehidupan kita adalah merasakan mendalam kesakitan dan penderitaan sesama sehingga kita memutuskan untuk hidup prihatin dan berbagi dengan apa yang kita miliki.
Sikap hidup bersahaja dan secukupnya merupakan cara hidup yang dapat menahan godaan korupsi. Penjara nafsu hidup modern adalah berbagai tawaran kemewahan yang sebenarnya kita tidak butuhkan. Godaan itu ada pada produk-produk yang dijual dengan harga discount, pembayaran dengan kartu kredit, berbagai tawaran alat elektronik dan transportasi untuk menaikan status sosial. Jari-jari gurita pasar bebas yang menguasai kita sering membutakan diri kita. Besar pasak daripada tiang, begitulah kehidupan yang kita pilih.
Membebaskan Indonesia dari penjara nafsu adalah merencanakan dan melakukan kegiatan pembangunan sesuai dengan perencanaan yang melibatkan semua pihak. Kita semua menunggu untuk membebaskan diri dan Indonesia dari penjara nafsu merencanakan anggaran yang besar dengan pelaksanaan yang minimal supaya semakin dana yang dikorupsi. Kita menunggu supaya tidak terjadi penganggaran ganda untuk satu mata kegiatan. Kita semua menunggu proses melepaskan penjara nafsu bisa tercapai ketika sistem evaluasi kegiatan bisa dilakukan dengan melibatkan berbagai indikator yang terukur secara program, anggaran dan partisipasi masyarakat sebagai target pembangunan yang dilakukan.
Hanya dalam cara inilah, Indonesiaku Indonesiamu Indonesia untuk semua bisa hidup secara adil, damai dan sejahtera.
Oleh: Farsijana Adeney-Risakotta
Siapakah manusia? Pertanyaan ini telah menghasilkan tulisan berbuku-buku yang tersimpan dalam perpustakaan, bisa diakses melalui internet, dikaji dari disiplin teologi, filsafat, psikologi, sosiologi, antropologi sampai pada pembahasan politik praktis. Ketika kita berjalan keluar dari “rumah” sendiri, kita akan menemukan berbagai penampakan kehidupan manusia. Kadang-kadang penampakan tersebut mengejutkan. Ziarah menemukan manusia bisa juga dilakukan dengan membaca cerita-cerita yang ditulis secara mengherankan oleh seseorang sehingga diri sendiri bisa terefleksikan dalam tulisan itu. Menonton film yang baik memberikan inspirasi tentang siapakah manusia.
Manusia adalah diri kita sendiri. Seringkali saya terbangun dengan perasaan mendalam ingin melihat wajah Sang Pencipta. Saya ingat ketika masih muda kerja di Halmahera, dalam tugas perjalanan mengunjungi masyarakat di kampung-kampung, ketika saya sangat capek pada saat itu saya merasa sedang digendong oleh Allah. Manusia punya tubuh yang merelakan jiwanya berkelana keluar fisiknya menyentuh kehidupan lain yang membuat dirinya sendiri tersentak. Tubuh saya membebaskan diri sendiri sehingga bisa melintasi ruang memasuki jaman lampau sekaligus masa depan yang masih misterius. Tubuh yang membebaskan jiwa adalah tubuh yang merayakan kehidupan sehingga keutuhan dirinya kembali selalu meneduhkan dan menyembuhkan dari perjalanan jauh suatu ziarah yang dilakukan jiwa.
Meneduhkan diri dalam haribaan Allah, membuat manusia seperti dilahirkan kembali, menjadi baru dan dibasuh dari debu-debu kegerahan yang memberatkan tubuh dan jiwa. Ketika manusia berziarah ia membawa nafsu dirinya ke jalan yang baik atau buruk. Seringkali jalan yang disadari sebagai yang baik, ternyata malahan menuju ke jurang kebinasaan. Nafsu dapat memenjarakan seorang manusia apabila keinginan yang hendak dicapai tertentu malahan merusak dirinya sendiri termasuk juga hubungannya dengan orang lain.
Kata nafsu bisa bersifat positif maupun negatif. Dipakai untuk menjelaskan tentang keutamaan yang harus dilakukan, kata nafsu bisa menjelaskan hal yang baik seperti nafsu makan secara teratur. Orang yang kurang makan didorong dengan mengkonsumsi vitamin untuk merangsang nafsu makannya. Seseorang yang penuh dengan kegairahan dalam membangkitkan motivasi banyak orang lain untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bersama, akan dipandang sebagai seorang dengan semangat atau nafsu untuk berhasil yang tinggi. Gambaran situasi ini jelas dalam pengungkapan bahasa Inggeris, “passion”. Suatu janji mengandung nafsu, keinginan untuk memenuhi kepastian yang dibuatnya sendiri.
Diri seorang manusia, bisa tampil sebagai penjara sekaligus pembebasan. Secara fisik seorang bebas tampil melakukan apa saja yang diinginkannya sebenarnya bisa juga sedang diperangkap oleh penjara nafsunya sendiri.
Berziarah menuju Allah dilakukan dalam doa, puji-pujian dan puasa. Agama-agama dengan praktek budaya-budaya yang sangat kuno mengajarkan berbagai cara dari ziarah manusia ke Allah. Manusia tidak cukup hidup dari makan dan minum saja. Manusia tidak cukup hidup dari uang. Manusia tidak cukup hidup dari kemewahan. Manusia tidak cukup hidup dari kepuasaan seks. Manusia bertanya dan mencari jalan untuk mengerti ke manakah perginya jiwanya ketika ia berada dalam tekanan yang maha dasyat. Ancaman kebosanan,kesepian, kepenatan dan bunuh diri seringkali menghantui manusia sesudah masa-masa kesenangan dan kevulgaran melintasinya. Manusia mencari jiwanya supaya kehidupannya bukan yang semu.
Dalam perziarahan kepada Sang Pencipta inilah, manusia mengubah kondisi biologis menjadi tindakan suci yang membuka jalannya kepada pelawatan Sang Pencipta menyentuh dirinya. Roh Allah menyentuh roh manusia sehingga jiwanya membebaskan kenikmatan dari kebutuhan tubuhnya sendiri. Relasi dengan Roh Allahlah yang menyebabkan manusia membebaskan diri dari penjara nafsu. Sepertinya nafsu berkuasa, nafsu seks yang tidak bertanggungjawab, nafsu rasa paling benar, nafsu menang sendiri, nafsu penindasan, nafsu diskriminasi, nafsu kemewahan, nafsu gengsi dan bentuk-bentuk ekspresi dari keinginan manusia lainnya bisa memenjarakan dirinya sendiri.
Puasa sebagai tindakan merawat nafsu diri adalah ekspresi kehidupan diri yang sangat tua. Menonton relief di pahatan dinding bagian paling bawah yang pernah terkubur dari candi Borobudur mengingatkan kita tentang pesan mengenai nafsu manusia yang dekat dengan kehidupan dirinya. Sifat nafsu yang positif dan negatif ada dalam diri manusia. Dalam tradisi Kristiani, puasa merupakan tanda pergolakan antara manusia dengan Sang Pencipta. Isa Almasih dalam tradisi dijelaskan berpuasa selama 40 hari. Selama proses berpuasa Ia bertemu dengan berbagai godaan yang ditawarkan oleh setan. Inti dari tawaran setan adalah “kekuasaan”. Nabi Daud berpuasa sebagai tanda rasa bersalah sesudah membunuh suami dari Bersyebah yang kemudian dinikahinya.
Keindahan Indonesia paska reformasi adalah ketersediaan ruang dialog. Kebebasan untuk berbicara dan berpendapat menjadi spirit mencirikan proses demokratisasi yang sedang dicapai Indonesia. Semula saya membayangkan akan ada larangan membahas korupsi di bulan puasa seperti pelarangan tempat-tempat hiburan malam di mana-mana. Ternyata percakapan dan refleksi tentang korupsi tidak bisa dihindari lagi sesudah bola saljunya digulingkan oleh Marzuki Alie.
Korupsi harus dibahas dalam permenungan hari-hari besar agama dari semua agama-agama. Nasihat ini perlu didengar oleh seorang Kristiani seperti saya, dan mereka yang lainnya. Bukan karena kebetulan heboh korupsi dimunculkan pada bulan Ramadhan 1432H, sehingga warga negara lain dari berbagai agama non Islam seyogianya juga merenungkan hal ini. Mengapa? Karena ada rumor yang beredar bahwa tindakan korupsi tertinggi di Indonesia malahan terjadi di Departemen Agama. Jadi membahas korupsi setuntas-tuntasnya bukan hanya terkait dengan Nazaruddin, Nunun Nurbaiti, Gayus dll tetapi juga merangkaikan ke seluruh jejaring korupsi seantero negara. Korupsi bukan monopoli politisi dan birokrat Jakarta, tetapi sampai ke pelosok di daerah-daerah.
Ada asumsi yang mengatakan bahwa pemberantasan korupsi akan membuat penjara penuh. Bahkan penjara tidak cukup untuk menampung para koruptor, sangking berjubelnya praktek korupsi di Indonesia.
Jadi kalau penjaranya sudah penuh, kita mau apa lagi? Nada menyindir dari berbagai kalangan tentang kesia-siaan dari upaya pemberantasan korupsi memang terbentur dengan anggapan bahwa penjara fisik adalah tempat yang paling layak untuk menghukum koruptor. Dari berbagai contoh yang terjadi di Indonesia, ada koruptor yang ketika bebas dari penjara disambut meriah oleh pengikutnya. Pembebasannya dari penjara disambut sebagai suatu kemenangan oleh pengikutnya. Setiap orang dan pengikutnya punya cerita yang dapat mengklaim suatu kebenaran.
“Penjara” yang dianggap bisa mengubah seseorang malahan dapat membentuk karakter pembenaran diri tertentu. Menurut saya, “penjara” (prison!) bukanlah tempat yang bisa mengubah kepribadian seseorang. Membebaskan “penjara nafsu” ada pada diri manusia. Penjara nafsu ada di mana-mana ketika program-program pemerintah dibuat dengan tujuan pembengkakan anggaran dari rencana semula supaya ada dana yang bisa diambil oleh pelaksana. Perencanaan yang sengaja melipatkan gandakan anggaran atau upaya membelanjakan dana dengan kualitas rendah yang berbeda dari perincian anggaran sebenarnya. Pembebasan dari penjara nafsu memerlukan uluran tangan pengampunan dari Allah sendiri. Ulurkanlah tangan kita untuk dilawat Allah sehingga kegerahan itu terangkat.
Indonesia sebagai negara beragama, hanya bisa dibebaskan dari penjara nafsu korupsi apabila manusia Indonesia sungguh-sungguh membiarkan Allah melawat dirinya. Setiap detik adalah waktu Allah untuk Indonesia bisa disentuhNya. Kita harus bisa merasakan Allah mengasihi diri kita sehingga kitapun bisa mengasihi sesama manusia lainnya. Ketika godaan yang besar datang untuk melakukan korupsi, pada saat itulah kitapun sadar bahwa akibatnya dari perbuatan kita ada banyak warga negara lain yang terlantar. Mereka yang kehidupan minimumnya terancam tidak bisa dipenuhi karena tidak ada anggaran pemerintah untuk memfasiltasinya. Menyentuh Allah dalam lawatanNya di kehidupan kita adalah merasakan mendalam kesakitan dan penderitaan sesama sehingga kita memutuskan untuk hidup prihatin dan berbagi dengan apa yang kita miliki.
Sikap hidup bersahaja dan secukupnya merupakan cara hidup yang dapat menahan godaan korupsi. Penjara nafsu hidup modern adalah berbagai tawaran kemewahan yang sebenarnya kita tidak butuhkan. Godaan itu ada pada produk-produk yang dijual dengan harga discount, pembayaran dengan kartu kredit, berbagai tawaran alat elektronik dan transportasi untuk menaikan status sosial. Jari-jari gurita pasar bebas yang menguasai kita sering membutakan diri kita. Besar pasak daripada tiang, begitulah kehidupan yang kita pilih.
Membebaskan Indonesia dari penjara nafsu adalah merencanakan dan melakukan kegiatan pembangunan sesuai dengan perencanaan yang melibatkan semua pihak. Kita semua menunggu untuk membebaskan diri dan Indonesia dari penjara nafsu merencanakan anggaran yang besar dengan pelaksanaan yang minimal supaya semakin dana yang dikorupsi. Kita menunggu supaya tidak terjadi penganggaran ganda untuk satu mata kegiatan. Kita semua menunggu proses melepaskan penjara nafsu bisa tercapai ketika sistem evaluasi kegiatan bisa dilakukan dengan melibatkan berbagai indikator yang terukur secara program, anggaran dan partisipasi masyarakat sebagai target pembangunan yang dilakukan.
Hanya dalam cara inilah, Indonesiaku Indonesiamu Indonesia untuk semua bisa hidup secara adil, damai dan sejahtera.
Minggu, 31 Juli 2011
Ramadhan 2011 dan Dilema Pemberian Maaf kepada Koruptor
Ramadhan 2011 dan Dilema Pemberian Maaf kepada Koruptor
Oleh: Farsijana Adeney-Risakotta
Bulan suci Ramadhan segera dimulai. Menjelang pelaksanaannya, dalam tradisi Jawa, menurut salah seorang sahabat Muslim saya, inilah saatnya memohonkan maaf. Tujuannya adalah supaya perjalanan ibadah puasa dapat diridhoi Allah SWT. Siang ini, Minggu 31 Juli 2011, Kegiatan belajar bersama dengan ibu-ibu di basis yaitu Balai Perempuan Mekar Jaya di Kecamatan Sedayu, kabupatan Bantul ditutup dengan permohonan maaf atas kekhilafan kami sehingga keiklasan untuk memaafkan sesama akan meluruskan perjalanan ibadah selama bulan Ramadhan.
Karena kegiatan-kegiatan pemberdayaan perempuan dan anak yang dilakukan bersama, pergaulan akrab dengan saudara-saudari saya yang beragama Islam mengajarkan tentang sikap hati yang harus dibangun sebelum memasuki puasa. Seorang yang akan berpuasa wajib untuk memohonkan maaf dari sesamanya, berlaku dari seorang yang lebih muda kepada yang lebih tua.
Teman-teman mengirimkan berita permohonan maaf supaya proses menjalani puasa berjalan dengan hikmat dari Allah. Dalam keiklasan saya pun memohonkan maaf apabila ada kekurangan saya sehingga menimbulkan hambatan dalam berelasi dengan sahabat-sahabat saya maupun masyarakat luas yang menerima pelayanan kami. Kiranya pintu maaf dibukakan sehingga ibadah puasa yang dijalani selama bulan Ramadhan bisa berjalan dengan rahmat dari Allah SWT.
Pentingnya makna permohonan maaf yang perlu diberikan di antara umat manusia kepada sesamanya menjadikan perjalanan ibadah agama mempunyai arti mendalam. Memaafkan sesama dan mendorong diri sendiri memaafkan orang lain merupakan prasyarat untuk menghadirkan Allah SWT menyempurnakan jalan menuju keselamatan bersama.
Mekanisme penyucian yang dibangunkan dalam ajaran agama seperti Islam bertujuan untuk membawa manusia kembali kepada kesadaran tentang kekilafannya. Tidak ada manusia yang sempurna. Melalui ketidaksempurnaannya, kesalahan yang ada pada dirinya manusia belajar memperbaharui dirinya.
Puasa dalam Islam tidak sekedar persoalan makan dan minum. Menahan dahaga dan lapar adalah jalan untuk mengoreksi ke dalam diri seorang manusia di hadapan Allah SWT. Puasa membukakan pintu kepada seorang manusia menengok perilaku kehidupannya yang tidak berkenaan di hadapan Allah dan sesamanya. Puasa adalah perintah dari Allah SWT supaya manusia mengkuduskan dirinya sehingga siap menjalankan kehidupan baru yang murni dan suci. Dalam rahmat Allah SWT bulan Ramadan bisa dilewati bersama, kemudian umat Islam merayakan kehidupan “yang suci”, yang fitri melalui hari raya Idul Fitri.
Puasa di bulan Ramadan adalah sunnah bagi umat Islam. Islam mengajarkan tentang berpuasa dalam bulan Ramadan sebagai cara mendekatkan diri kepada Allah SWT, berbuat baik kepada sesama dan memaafkan kesalahan orang lain yang pernah berbuat salah kepada diri kita sendiri.
Di Indonesia, hanya beberapa hari menjelang puasa, koran-koran dihebohkan dengan himbauan dari salah satu Ketua DPR RI 2009-2014, Marzuki Alie dari Partai Demokrat, supaya Komite Pemberantasan Korupsi (KPK) dibubarkan dan para koruptor dimaafkan (Kompas 29 Juli 2011). Entah himbauan ini dilakukan sengaja atau tidak, tetapi penempatannya menjelang bulan Ramadhan memberikan makna mendalam kepada kita semua. Terutama saya, untuk merefleksikannya.
Pada satu sisi, semua orang beragama diwajibkan saling memaafkan sehingga akan muncul kehidupan yang damai. Tetapi pada sisi yang lain seorang beragama juga harus mendorong terjaminnya pelaksanaan nilai-nilai agama yang diyakini bersama. Himbauan memaafkan koruptor yang disampaikan menjelang bulan Ramadhan, seolah-olah bertujuan untuk memanfaatkan kebaikan dari wajah agama yang mulia. Padahal tindakan korupsi merupakan tindakan yang dengan sengaja mementingkan diri sendiri, kelompoknya sendiri dengan mengambil uang bersama yang tidak semestinya dimiliki mereka.
Korupsi merugikan negara dan masyarakat karena uang yang dikorupsi berarti mengurangi alokasi dana untuk suatu program pembangunan yang dibutuhkan oleh warga negara lainnya. Maraknya korupsi di Indonesia sebenarnya menunjukkan pencurian uang negara yang harus dialokasikan untuk mengentas kemiskinan, angka kematian anak, peningkatan kesehatan perempuan, persamaan akses pendidikan dasar kepada seluruh warga negara dan berbagai aspek pembangunan lainnya. Korupsi berdampak bagi pemotongan jatah dan pelayanan publik yang menjadi hak dari warga negara yang miskin. Mereka yang hanya bisa makan jagung ketika stok beras sudah habis.
Himbauan yang disampaikan oleh Marzuki Alie mungkin beralasan. Sikap skeptismenya terkait dengan lemahnya kinerja KPK yang harus mengamankan sistem anti korupsi ternyata dalam proses pemberantasannya malahan terlibat dalam korupsi. KPK ternyata tidak kuat menahan godaan dari sistem korupsi yang sudah membudaya dalam kehidupan di Indonesia.
Dibulan Ramadhan, mungkin godaan besar yang harus diperangi bukan hanya tidak makan dan minum, tetapi melawan hasrat untuk mendapat uang dengan jalan korupsi. Godaan yang harus diperangi adalah menahan keinginan untuk mencapai keberhasilan tanpa kerja keras. Seorang yang melakukan korupsi adalah mereka yang dengan sengaja memilih untuk meremehkan Allah SWT yang juga turut bekerja membangun bumi ini. Kesetiaan Allah SWT dalam menyempurnakan pekerjaannya tidak dilakukan sebagai suatu lompatan. Allah bekerja setahap demi setahap. Penciptaan alam semesta dilakukan mengambil bentuk proses kerja seorang anak manusia yang berpeluh sebelum akhirnya ada waktu perhentian untuk menikmati jerih payahnya.
Orang bisa membangun argumentasi bahwa sang koruptor juga harus bekerja keras untuk menyembunyikan jejaknya sehingga tidak tertangkap dari tuduhan mengkorupsi. Ide yang paling pokok dari korupsi adalah mencuri sesuatu yang bukan miliknya. Uang-uang yang dikorupsi di Indonesia, ramai-ramai diborong di lembaga legislatif, eksekutif maupun judikatif adalah uang rakyat, uang setiap dari kita yang membayar pajak. Di sana ada uang saya sebagai pembayar pajak kepada negara.
Mencuri merupakan perbuatan yang dilarang dalam ajaran agama apapun. Apalagi kalau akibat mencuri menyebabkan hak orang miskin tidak terpenuhi. Tiada gunanya membayar zakat kepada orang miskin apabila kemudian sistem korupsi dipelihara. Korupsi merupakan upaya sistematis untuk melanggengkan kemiskinan karena hak rakyat biasa diambil dengan cara yang canggih oleh koruptor-koruptor. Upaya dengan sengaja memiskinkan rakyat karena banyaknya harta bersama yang dibayar dari pajak dikorupsi oleh kelompok tertentu harusnya menjadi keprihatinan dalam bulan Ramadhan.
Korupsi adalah proses mencuri yang dilakukan dengan sangat canggih terselubung, kecuali penampakkannya terlihat pada perubahan gaya hidup secara mendadak. Para koruptor biasanya tidak bisa menahan diri untuk tidak segera menggunakan kekayaan dadakan yang diterimanya. Ia bisa membelanjakan berbagai kebutuhannya yang mencekamkan orang-orang di sekitarnya. Karena ternyata seorang koruptor berpangkat dan bergolongan menengah, dengan gaji yang biasa saja tetapi bisa memiliki kemewahan yang tidak terbayangkan sebelumnya.
Dalam bulan Ramadhan, apakah himbauan Marzuki Alie harus dilakukan supaya seorang bisa disebut sebagai seorang yang bertakwa. Himbauan Marzuki Alie untuk memaafkan seorang koruptor, menurut saya akan melibatkan seluruh masyarakat, warga negara yang bukan hanya umat Islam.
Korupsi yang merupakan budaya di Indonesia, bukan monopoli orang-orang Muslim tetapi hampir semua warga negara dari berbagai latar belakang agama bisa melakukan korupsi. Karena korupsi merupakan tindakan yang merugikan bagi negara dan masyarakat, maka para koruptor harus ditindak secara hukum. Ajakan untuk membubarkan KPK dan memaafkan koruptor harus dilawan karena ajakan ini merupakan himbauan dari mereka yang sedang berkuasa, untuk melindungi kelompok-kelompok tertentu dan jejaring yang ada di bawahnya yang sudah tercium bau korupsinya oleh KPK.
Seharusnya dalam bulan Ramadhan inilah, lembaga-lembaga keagamaan mendukung proses pemurnian tekad bersama manusia Indonesia untuk memberantas korupsi di Indonesia. Majelis Ulama Indonesia (MUI) bisa didorong untuk bahkan mengeluarkan fatwa tentang pemberantasan korupsi sebagai upaya bersama mengoreksi kebersihan diri dan kelompok dari tipu daya pencurian uang negara untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Melalui cara inilah, kita semua akan makin yakin keselamatan yang dijanjikan Allah SWT kepada Indonesia, kepada setiap insan warga negara, dan anggota keluarganya akan terpenuhi.
Untuk saudara-saudari saya, Indonesiaku, Indonesiamu, Indonesia untuk semua, saya menyampaikan selamat memasuki bulan suci Ramadhan 1432 H. Marhaban Yaa Ramadhan. Kiranya Ibadah Puasa memberikan berkah bagi kita semua di Indonesia. Amin. Amin. Amin.
Oleh: Farsijana Adeney-Risakotta
Bulan suci Ramadhan segera dimulai. Menjelang pelaksanaannya, dalam tradisi Jawa, menurut salah seorang sahabat Muslim saya, inilah saatnya memohonkan maaf. Tujuannya adalah supaya perjalanan ibadah puasa dapat diridhoi Allah SWT. Siang ini, Minggu 31 Juli 2011, Kegiatan belajar bersama dengan ibu-ibu di basis yaitu Balai Perempuan Mekar Jaya di Kecamatan Sedayu, kabupatan Bantul ditutup dengan permohonan maaf atas kekhilafan kami sehingga keiklasan untuk memaafkan sesama akan meluruskan perjalanan ibadah selama bulan Ramadhan.
Karena kegiatan-kegiatan pemberdayaan perempuan dan anak yang dilakukan bersama, pergaulan akrab dengan saudara-saudari saya yang beragama Islam mengajarkan tentang sikap hati yang harus dibangun sebelum memasuki puasa. Seorang yang akan berpuasa wajib untuk memohonkan maaf dari sesamanya, berlaku dari seorang yang lebih muda kepada yang lebih tua.
Teman-teman mengirimkan berita permohonan maaf supaya proses menjalani puasa berjalan dengan hikmat dari Allah. Dalam keiklasan saya pun memohonkan maaf apabila ada kekurangan saya sehingga menimbulkan hambatan dalam berelasi dengan sahabat-sahabat saya maupun masyarakat luas yang menerima pelayanan kami. Kiranya pintu maaf dibukakan sehingga ibadah puasa yang dijalani selama bulan Ramadhan bisa berjalan dengan rahmat dari Allah SWT.
Pentingnya makna permohonan maaf yang perlu diberikan di antara umat manusia kepada sesamanya menjadikan perjalanan ibadah agama mempunyai arti mendalam. Memaafkan sesama dan mendorong diri sendiri memaafkan orang lain merupakan prasyarat untuk menghadirkan Allah SWT menyempurnakan jalan menuju keselamatan bersama.
Mekanisme penyucian yang dibangunkan dalam ajaran agama seperti Islam bertujuan untuk membawa manusia kembali kepada kesadaran tentang kekilafannya. Tidak ada manusia yang sempurna. Melalui ketidaksempurnaannya, kesalahan yang ada pada dirinya manusia belajar memperbaharui dirinya.
Puasa dalam Islam tidak sekedar persoalan makan dan minum. Menahan dahaga dan lapar adalah jalan untuk mengoreksi ke dalam diri seorang manusia di hadapan Allah SWT. Puasa membukakan pintu kepada seorang manusia menengok perilaku kehidupannya yang tidak berkenaan di hadapan Allah dan sesamanya. Puasa adalah perintah dari Allah SWT supaya manusia mengkuduskan dirinya sehingga siap menjalankan kehidupan baru yang murni dan suci. Dalam rahmat Allah SWT bulan Ramadan bisa dilewati bersama, kemudian umat Islam merayakan kehidupan “yang suci”, yang fitri melalui hari raya Idul Fitri.
Puasa di bulan Ramadan adalah sunnah bagi umat Islam. Islam mengajarkan tentang berpuasa dalam bulan Ramadan sebagai cara mendekatkan diri kepada Allah SWT, berbuat baik kepada sesama dan memaafkan kesalahan orang lain yang pernah berbuat salah kepada diri kita sendiri.
Di Indonesia, hanya beberapa hari menjelang puasa, koran-koran dihebohkan dengan himbauan dari salah satu Ketua DPR RI 2009-2014, Marzuki Alie dari Partai Demokrat, supaya Komite Pemberantasan Korupsi (KPK) dibubarkan dan para koruptor dimaafkan (Kompas 29 Juli 2011). Entah himbauan ini dilakukan sengaja atau tidak, tetapi penempatannya menjelang bulan Ramadhan memberikan makna mendalam kepada kita semua. Terutama saya, untuk merefleksikannya.
Pada satu sisi, semua orang beragama diwajibkan saling memaafkan sehingga akan muncul kehidupan yang damai. Tetapi pada sisi yang lain seorang beragama juga harus mendorong terjaminnya pelaksanaan nilai-nilai agama yang diyakini bersama. Himbauan memaafkan koruptor yang disampaikan menjelang bulan Ramadhan, seolah-olah bertujuan untuk memanfaatkan kebaikan dari wajah agama yang mulia. Padahal tindakan korupsi merupakan tindakan yang dengan sengaja mementingkan diri sendiri, kelompoknya sendiri dengan mengambil uang bersama yang tidak semestinya dimiliki mereka.
Korupsi merugikan negara dan masyarakat karena uang yang dikorupsi berarti mengurangi alokasi dana untuk suatu program pembangunan yang dibutuhkan oleh warga negara lainnya. Maraknya korupsi di Indonesia sebenarnya menunjukkan pencurian uang negara yang harus dialokasikan untuk mengentas kemiskinan, angka kematian anak, peningkatan kesehatan perempuan, persamaan akses pendidikan dasar kepada seluruh warga negara dan berbagai aspek pembangunan lainnya. Korupsi berdampak bagi pemotongan jatah dan pelayanan publik yang menjadi hak dari warga negara yang miskin. Mereka yang hanya bisa makan jagung ketika stok beras sudah habis.
Himbauan yang disampaikan oleh Marzuki Alie mungkin beralasan. Sikap skeptismenya terkait dengan lemahnya kinerja KPK yang harus mengamankan sistem anti korupsi ternyata dalam proses pemberantasannya malahan terlibat dalam korupsi. KPK ternyata tidak kuat menahan godaan dari sistem korupsi yang sudah membudaya dalam kehidupan di Indonesia.
Dibulan Ramadhan, mungkin godaan besar yang harus diperangi bukan hanya tidak makan dan minum, tetapi melawan hasrat untuk mendapat uang dengan jalan korupsi. Godaan yang harus diperangi adalah menahan keinginan untuk mencapai keberhasilan tanpa kerja keras. Seorang yang melakukan korupsi adalah mereka yang dengan sengaja memilih untuk meremehkan Allah SWT yang juga turut bekerja membangun bumi ini. Kesetiaan Allah SWT dalam menyempurnakan pekerjaannya tidak dilakukan sebagai suatu lompatan. Allah bekerja setahap demi setahap. Penciptaan alam semesta dilakukan mengambil bentuk proses kerja seorang anak manusia yang berpeluh sebelum akhirnya ada waktu perhentian untuk menikmati jerih payahnya.
Orang bisa membangun argumentasi bahwa sang koruptor juga harus bekerja keras untuk menyembunyikan jejaknya sehingga tidak tertangkap dari tuduhan mengkorupsi. Ide yang paling pokok dari korupsi adalah mencuri sesuatu yang bukan miliknya. Uang-uang yang dikorupsi di Indonesia, ramai-ramai diborong di lembaga legislatif, eksekutif maupun judikatif adalah uang rakyat, uang setiap dari kita yang membayar pajak. Di sana ada uang saya sebagai pembayar pajak kepada negara.
Mencuri merupakan perbuatan yang dilarang dalam ajaran agama apapun. Apalagi kalau akibat mencuri menyebabkan hak orang miskin tidak terpenuhi. Tiada gunanya membayar zakat kepada orang miskin apabila kemudian sistem korupsi dipelihara. Korupsi merupakan upaya sistematis untuk melanggengkan kemiskinan karena hak rakyat biasa diambil dengan cara yang canggih oleh koruptor-koruptor. Upaya dengan sengaja memiskinkan rakyat karena banyaknya harta bersama yang dibayar dari pajak dikorupsi oleh kelompok tertentu harusnya menjadi keprihatinan dalam bulan Ramadhan.
Korupsi adalah proses mencuri yang dilakukan dengan sangat canggih terselubung, kecuali penampakkannya terlihat pada perubahan gaya hidup secara mendadak. Para koruptor biasanya tidak bisa menahan diri untuk tidak segera menggunakan kekayaan dadakan yang diterimanya. Ia bisa membelanjakan berbagai kebutuhannya yang mencekamkan orang-orang di sekitarnya. Karena ternyata seorang koruptor berpangkat dan bergolongan menengah, dengan gaji yang biasa saja tetapi bisa memiliki kemewahan yang tidak terbayangkan sebelumnya.
Dalam bulan Ramadhan, apakah himbauan Marzuki Alie harus dilakukan supaya seorang bisa disebut sebagai seorang yang bertakwa. Himbauan Marzuki Alie untuk memaafkan seorang koruptor, menurut saya akan melibatkan seluruh masyarakat, warga negara yang bukan hanya umat Islam.
Korupsi yang merupakan budaya di Indonesia, bukan monopoli orang-orang Muslim tetapi hampir semua warga negara dari berbagai latar belakang agama bisa melakukan korupsi. Karena korupsi merupakan tindakan yang merugikan bagi negara dan masyarakat, maka para koruptor harus ditindak secara hukum. Ajakan untuk membubarkan KPK dan memaafkan koruptor harus dilawan karena ajakan ini merupakan himbauan dari mereka yang sedang berkuasa, untuk melindungi kelompok-kelompok tertentu dan jejaring yang ada di bawahnya yang sudah tercium bau korupsinya oleh KPK.
Seharusnya dalam bulan Ramadhan inilah, lembaga-lembaga keagamaan mendukung proses pemurnian tekad bersama manusia Indonesia untuk memberantas korupsi di Indonesia. Majelis Ulama Indonesia (MUI) bisa didorong untuk bahkan mengeluarkan fatwa tentang pemberantasan korupsi sebagai upaya bersama mengoreksi kebersihan diri dan kelompok dari tipu daya pencurian uang negara untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Melalui cara inilah, kita semua akan makin yakin keselamatan yang dijanjikan Allah SWT kepada Indonesia, kepada setiap insan warga negara, dan anggota keluarganya akan terpenuhi.
Untuk saudara-saudari saya, Indonesiaku, Indonesiamu, Indonesia untuk semua, saya menyampaikan selamat memasuki bulan suci Ramadhan 1432 H. Marhaban Yaa Ramadhan. Kiranya Ibadah Puasa memberikan berkah bagi kita semua di Indonesia. Amin. Amin. Amin.
Senin, 25 Juli 2011
Anak-anak Tanoker Ledokombo untuk Indonesiaku Indonesiamu Indonesia untuk semua
Anak-anak Tanoker Ledokombo untuk Indonesiaku Indonesiamu Indonesia untuk semua
Oleh: Farsijana Adeney-Risakotta
Sebelum ke Ledokombo, saya membayangkan suasana pedesaan seperti di Yogyakarta. Topografi Ledokombo mengombinasikan kelimpahan dari alam mendatar seperti di Bantul, dengan kelimpahan air seperti di Sleman, dan perbukitan seperti di Kulon Progo dan Gunung Kidul. Ledokombo menampilkan berbagai kombinasi keberuntungan alam yang indah, subur dan berlimpah dengan air. Perbukitan di Gunung Kidul dan Kulon Progo indah dan subur di musim hujan, tetapi ketika kemarau tiba menjadi kering keronta. Pada saat itu, masyarakat akan menjual binatang piaraannya seperti kambing untuk membeli air supaya bisa hidup selama masa paceklik.
Ledokombo di ujung utara dari kabupaten Jember yang terkenal dengan perkebunan tembakau.Karena daerahnya yang berbukitan, kebanyakan masyarakat di Ledokombo menanam tembakau daripada padi. Tembakau adalah tanaman warisan penjajahan Belanda. Kelimpahan air tidak sendirinya mencerminkan kemakmuran rakyat Ledokombo. Di sini ternyata banyak penduduk yang bekerja sebagai buruh tani. Seperti di Yogyakarta, di Bantul, banyak petani juga adalah buruh tani. Lahan pertanian mereka sudah terbagi-bagi sebagai bagian dari pewarisan. Tanah menyempit untuk bertani. Berhadapan dengan dilema penimpisan pemilikan lahan pertanian, petani di Yogya, seperti di Bantul cenderung bekerja ganda sebagai buruh bangunan sambil menunggu musim panen tiba. Petani dari Kulon Progo bahkan sesudah musim tanam akan memilih tinggal di kota Yogyakarta sebagai pemulung dari pada di desa tanpa pekerjaan.
Kesan yang sama terlihat di Ledokombo. Keterbatasan tanah pertanian menyebabkan warga melakukan migrasi ke Bali, terutama kaum lelaki untuk bekerja sebagai buruh bangunan dan pekerja lainnya. Sementara hampir sebagian besar perempuan memilih menjadi TKI ke luar negeri. Desy, gadis cilik yang cantik dan cerdas, yang memberikan nama tante Neli artinya tante nenek lincah kepada mba Julia Suryakusuma, harus berpisah dengan ibundanya karena pekerjaannya sebagai TKI ke Arab Saudi. Desy berumur 12 tahun sehari-hari adalah anggota komunitas belajar di Tanoker, Ledokombo.
Sukarelawan yang mengajar Desy dan teman-temannya, seperti mas Faruq adalah sarjana jebolan Universitas Jember fakultas Ilmu Pendidikan. Sayangnya ia bernasib sama dengan hampir semua lulusan universitas, yang harus bersaing untuk mendapat pekerjaan di sekitar Jawa Timur. Mas Faruq adalah seorang guru madrasah yang dibayar setiap bulan kurang lebih Rp 100.000.- Rendahnya bayaran kepada seorang sarjana seperti mas Faruq karena terkena berbagai potongan mulai dari kabupaten, kecamatan sampai dengan di desa. Tetapi mas Faruq masih beruntung, karena ada sekitar 8000 luluasan PT yang tahun ini berlomba untuk ujian PNS yang hanya menerima sekitar 100 orang.
Inilah wajah Ledokombo di kabupaten Jember yang mempunyai Universitas Jember ternyata masih menimbulkan persoalan kepada masyarakat sendiri. Ketersediaan Universitas belum menyelesaikan masalah banyaknya pengangguran terdidik di daerah ini. Keterbatasan lahan pertanian menyebabkan pilihan keluar daerah menjadi alternatif yang paling menjanjikan. Keluarga-keluarga yang dulu utuh mulai terpisah. Anak-anak dibesarkan oleh seorang ayah, atau seorang ibu dengan ditemanin oleh nenek dan kakek. Ciri khas keluarga besar yang tinggal bersama mulai berubah menjadi keluarga-keluarga atom, yaitu keluarga yang terpecah-pecah.
Di dalam konteks masyarakat pedesaan bercirikan keluarga-keluarga atom inilah mba Ciciek Farha dan mas Supoharjo dipanggil pulang ke Ledokombo. Ibunda mas Supo semakin menua. Sebagai anak tunggal muncul tanggungjawab merawat ibunda yang mencintai tanah kelahirannya di mana air sungai mengalir di kebun belakang rumahnya. Saya menikmati mandi dari pancuran di hari panas sesudah tiba di Ledokombo. Pancuran alam meninggalkan kesan kehidupan bersahaja masyarakat yang jauh dari penggambaran UU pornografi dan pornoaksi dimana lelaki dan perempuan bukan dari satu keluarga bisa mandi dari masing-masing akses sumber air yang mengalir. Di desa yang berlimpah air, ditemanin oleh Moksha dan Nezo, kedua anak lelaki mba Ciciek dan mas Supo, mereka sekarang sesudah dua tahun mulai membawa harapan baru kepada masyarakat di sana.
Tanoker adalah kelompok belajar untuk anak-anak. Kata "tanoker" berasal dari bahasa Madura yang berarti kepompong. Banyaknya orang Madura dan Jawa yang tinggal di Jember menghasilkan perpaduan budaya yang menarik, yang disebut Pendalungan dengan tampilan bahasa dan keseniannya yang sangat khas. Kekhasan inilah yang hendak dilestarikan oleh kelompok belajar Tanoker. Di tanoker, selain anak-anak belajar, mereka juga bermain bersama. Moksha ketika masih di Jakarta, menjalani pendidikan di rumah. Home schooling yang dibimbing oleh kedua orang tuanya, mba Ciciek dan mas Supo, bisa bersaing dengan anak-anak lainnya. Moksha sekarang kembali ke sekolah di kelas I SMU. Tetapi semangat dari pola belajar mandiri membentuknya menjadi pemimpin sehingga bisa mengorganiser kegiatan belajar Tanoker. Anak-anak di sekitar desa Ledokombo bahkan dari desa-desa terdekat bergabung dengan kelompok Tanoker.
Ada sekitar 200 anak yang terkabung dengan Tanoker. Mereka bertemu rutin untuk belajar berbagai materi tambahan dari sekolah sambil menari. Pada festival anak nasional di Jember tahun lalu, 2010 anak-anak Tanoker keluar sebagai pemenang juara umum untuk semua jenis pertandingan. Keberhasilan anak-anak Tanoker ini mulai menarik perhatian seorang mahasiswa sosiologi dari Universitas Brawijaya untuk meneliti dampak perubahan sosial yang sedang terjadi di sini.
Bunyi-bunyi patahan bambu dan kayu menghentak berirama. Tanah seolah-olah hendak terbuka memberikan kembali kelimpahan yang ada dibalik rerumputan. Kelincahan kaki dan kekuatan ketegapan kaki menampilan ketrampilan tarian egrang yang sangat dinamis. Anak-anak ini adalah anak-anak yang rata-rata terlahir dari keluarga Indonesia masa kini. Pekerjaan menjadi masalah, sehingga orang tua terpisah dan meninggalkan keluarganya untuk mencari sesuap roti. Tanoker memberikan harapan dan cinta kasih kepada anak-anak ini. Yoga, seorang anak SD yang kekar, kalau sedang menari egrang mengingatkan saya kepada penampilan Hanoman, sang monyet sakti, tetapi ini adalah Hanoman ala Ledokombo. Kira-kira berumur 7 tahun dari muka Yoga terpancar kharisma keteguhan hatinya. Yoga ingin mengubah masa depan anak-anak di Ledokombo.
Karena anak-anak inilah, saya memutuskan ke Ledokombo. Festival Egrang kedua 2011 diikuti oleh 47 peserta kelompok anak-anak di seluruh kecamatan Ledokombo. Mba Ciciek dan mas Supo mulai sedikit lega ketika melihat perhatian pemerintah untuk mempertimbangkan egrang sebagai bagian dari kurikulum sekolah. Keterlibatan anak-anak dari berbagai sekolah mewarnai kompetisi yang berlangsung dengan meriah. Sebagai seorang juri, bersama dengan teman-teman lain, seperti mba Julia Suryakusuma, Columinst Jakarta Post, Emma Baulch dari Australia National University, Yati Kaprawi dari Malaysia, saya menikmati kegerakan kebangkitan harapan dari anak-anak ini (Koran Surya Minggu, 24 Juli 2011, hal.6)
Mereka adalah anak-anak yang akan mengubah Indonesia. Mereka akan memberikan inspirasi bagi anak-anak lain di seluruh Indonesia. Mereka juga bahkan akan menyatukan orang tuanya yang berpisah, dan masyarakatnya yang terpecah-pecah karena garis politik dan aliran agama yang berbeda-beda.
Ketika saya menulis catatan tentang mereka, saya terikat bersama dengan mereka naik truk, barengan dengan mba Ciciek menemani anak-anak untuk membawa mereka pentas di kantor Kabupaten. Di sinilah mereka mempresentasikan tarian egrang yang sebelumnya dipentaskan di lapangan kecamatan Ledokombo pada tanggal 23 Juli, tetapi pada tanggal 24 Juli sebelum Jember Fashion Carnaval berlangsung, anak-anak menari di hadapan bupati, Akbar Tanjung, Nina Akbar Tanjung dan ibu-ibu dan bapak-bapak dari WWI (yayasan Warna Warni).
Anak-anak inilah yang telah merebut hati Mey, anak dari Prof Emma yang ingin berdandan seperti penari-penari perempuan cilik. Jadi di atas truk ketika sedang berjalan, saya mengabadikan ketenangan seorang anak Australia yang membiarkan mukanya dirias oleh seorang ibu dari Ledokombo. Inilah bukti persahabatan antar bangsa yang terbangun dari ketulusan anak-anak Ledokombo. Mengingat mereka, mengingat anak-anak saya yang ada di mana-mana, kepada mereka saya ingin menulis dan bekerja untuk Indonesia. Terima kasih mba Ciciek dan mas Supo yang mendorong saya memasuki keindahan kehidupan di sana. Persahabatan dan persaudaraan kita menguatkan perjalanan bersama melayani untuk semua, Indonesiaku, Indonesiamu, Indonesia untuk semua.
Oleh: Farsijana Adeney-Risakotta
Sebelum ke Ledokombo, saya membayangkan suasana pedesaan seperti di Yogyakarta. Topografi Ledokombo mengombinasikan kelimpahan dari alam mendatar seperti di Bantul, dengan kelimpahan air seperti di Sleman, dan perbukitan seperti di Kulon Progo dan Gunung Kidul. Ledokombo menampilkan berbagai kombinasi keberuntungan alam yang indah, subur dan berlimpah dengan air. Perbukitan di Gunung Kidul dan Kulon Progo indah dan subur di musim hujan, tetapi ketika kemarau tiba menjadi kering keronta. Pada saat itu, masyarakat akan menjual binatang piaraannya seperti kambing untuk membeli air supaya bisa hidup selama masa paceklik.
Ledokombo di ujung utara dari kabupaten Jember yang terkenal dengan perkebunan tembakau.Karena daerahnya yang berbukitan, kebanyakan masyarakat di Ledokombo menanam tembakau daripada padi. Tembakau adalah tanaman warisan penjajahan Belanda. Kelimpahan air tidak sendirinya mencerminkan kemakmuran rakyat Ledokombo. Di sini ternyata banyak penduduk yang bekerja sebagai buruh tani. Seperti di Yogyakarta, di Bantul, banyak petani juga adalah buruh tani. Lahan pertanian mereka sudah terbagi-bagi sebagai bagian dari pewarisan. Tanah menyempit untuk bertani. Berhadapan dengan dilema penimpisan pemilikan lahan pertanian, petani di Yogya, seperti di Bantul cenderung bekerja ganda sebagai buruh bangunan sambil menunggu musim panen tiba. Petani dari Kulon Progo bahkan sesudah musim tanam akan memilih tinggal di kota Yogyakarta sebagai pemulung dari pada di desa tanpa pekerjaan.
Kesan yang sama terlihat di Ledokombo. Keterbatasan tanah pertanian menyebabkan warga melakukan migrasi ke Bali, terutama kaum lelaki untuk bekerja sebagai buruh bangunan dan pekerja lainnya. Sementara hampir sebagian besar perempuan memilih menjadi TKI ke luar negeri. Desy, gadis cilik yang cantik dan cerdas, yang memberikan nama tante Neli artinya tante nenek lincah kepada mba Julia Suryakusuma, harus berpisah dengan ibundanya karena pekerjaannya sebagai TKI ke Arab Saudi. Desy berumur 12 tahun sehari-hari adalah anggota komunitas belajar di Tanoker, Ledokombo.
Sukarelawan yang mengajar Desy dan teman-temannya, seperti mas Faruq adalah sarjana jebolan Universitas Jember fakultas Ilmu Pendidikan. Sayangnya ia bernasib sama dengan hampir semua lulusan universitas, yang harus bersaing untuk mendapat pekerjaan di sekitar Jawa Timur. Mas Faruq adalah seorang guru madrasah yang dibayar setiap bulan kurang lebih Rp 100.000.- Rendahnya bayaran kepada seorang sarjana seperti mas Faruq karena terkena berbagai potongan mulai dari kabupaten, kecamatan sampai dengan di desa. Tetapi mas Faruq masih beruntung, karena ada sekitar 8000 luluasan PT yang tahun ini berlomba untuk ujian PNS yang hanya menerima sekitar 100 orang.
Inilah wajah Ledokombo di kabupaten Jember yang mempunyai Universitas Jember ternyata masih menimbulkan persoalan kepada masyarakat sendiri. Ketersediaan Universitas belum menyelesaikan masalah banyaknya pengangguran terdidik di daerah ini. Keterbatasan lahan pertanian menyebabkan pilihan keluar daerah menjadi alternatif yang paling menjanjikan. Keluarga-keluarga yang dulu utuh mulai terpisah. Anak-anak dibesarkan oleh seorang ayah, atau seorang ibu dengan ditemanin oleh nenek dan kakek. Ciri khas keluarga besar yang tinggal bersama mulai berubah menjadi keluarga-keluarga atom, yaitu keluarga yang terpecah-pecah.
Di dalam konteks masyarakat pedesaan bercirikan keluarga-keluarga atom inilah mba Ciciek Farha dan mas Supoharjo dipanggil pulang ke Ledokombo. Ibunda mas Supo semakin menua. Sebagai anak tunggal muncul tanggungjawab merawat ibunda yang mencintai tanah kelahirannya di mana air sungai mengalir di kebun belakang rumahnya. Saya menikmati mandi dari pancuran di hari panas sesudah tiba di Ledokombo. Pancuran alam meninggalkan kesan kehidupan bersahaja masyarakat yang jauh dari penggambaran UU pornografi dan pornoaksi dimana lelaki dan perempuan bukan dari satu keluarga bisa mandi dari masing-masing akses sumber air yang mengalir. Di desa yang berlimpah air, ditemanin oleh Moksha dan Nezo, kedua anak lelaki mba Ciciek dan mas Supo, mereka sekarang sesudah dua tahun mulai membawa harapan baru kepada masyarakat di sana.
Tanoker adalah kelompok belajar untuk anak-anak. Kata "tanoker" berasal dari bahasa Madura yang berarti kepompong. Banyaknya orang Madura dan Jawa yang tinggal di Jember menghasilkan perpaduan budaya yang menarik, yang disebut Pendalungan dengan tampilan bahasa dan keseniannya yang sangat khas. Kekhasan inilah yang hendak dilestarikan oleh kelompok belajar Tanoker. Di tanoker, selain anak-anak belajar, mereka juga bermain bersama. Moksha ketika masih di Jakarta, menjalani pendidikan di rumah. Home schooling yang dibimbing oleh kedua orang tuanya, mba Ciciek dan mas Supo, bisa bersaing dengan anak-anak lainnya. Moksha sekarang kembali ke sekolah di kelas I SMU. Tetapi semangat dari pola belajar mandiri membentuknya menjadi pemimpin sehingga bisa mengorganiser kegiatan belajar Tanoker. Anak-anak di sekitar desa Ledokombo bahkan dari desa-desa terdekat bergabung dengan kelompok Tanoker.
Ada sekitar 200 anak yang terkabung dengan Tanoker. Mereka bertemu rutin untuk belajar berbagai materi tambahan dari sekolah sambil menari. Pada festival anak nasional di Jember tahun lalu, 2010 anak-anak Tanoker keluar sebagai pemenang juara umum untuk semua jenis pertandingan. Keberhasilan anak-anak Tanoker ini mulai menarik perhatian seorang mahasiswa sosiologi dari Universitas Brawijaya untuk meneliti dampak perubahan sosial yang sedang terjadi di sini.
Bunyi-bunyi patahan bambu dan kayu menghentak berirama. Tanah seolah-olah hendak terbuka memberikan kembali kelimpahan yang ada dibalik rerumputan. Kelincahan kaki dan kekuatan ketegapan kaki menampilan ketrampilan tarian egrang yang sangat dinamis. Anak-anak ini adalah anak-anak yang rata-rata terlahir dari keluarga Indonesia masa kini. Pekerjaan menjadi masalah, sehingga orang tua terpisah dan meninggalkan keluarganya untuk mencari sesuap roti. Tanoker memberikan harapan dan cinta kasih kepada anak-anak ini. Yoga, seorang anak SD yang kekar, kalau sedang menari egrang mengingatkan saya kepada penampilan Hanoman, sang monyet sakti, tetapi ini adalah Hanoman ala Ledokombo. Kira-kira berumur 7 tahun dari muka Yoga terpancar kharisma keteguhan hatinya. Yoga ingin mengubah masa depan anak-anak di Ledokombo.
Karena anak-anak inilah, saya memutuskan ke Ledokombo. Festival Egrang kedua 2011 diikuti oleh 47 peserta kelompok anak-anak di seluruh kecamatan Ledokombo. Mba Ciciek dan mas Supo mulai sedikit lega ketika melihat perhatian pemerintah untuk mempertimbangkan egrang sebagai bagian dari kurikulum sekolah. Keterlibatan anak-anak dari berbagai sekolah mewarnai kompetisi yang berlangsung dengan meriah. Sebagai seorang juri, bersama dengan teman-teman lain, seperti mba Julia Suryakusuma, Columinst Jakarta Post, Emma Baulch dari Australia National University, Yati Kaprawi dari Malaysia, saya menikmati kegerakan kebangkitan harapan dari anak-anak ini (Koran Surya Minggu, 24 Juli 2011, hal.6)
Mereka adalah anak-anak yang akan mengubah Indonesia. Mereka akan memberikan inspirasi bagi anak-anak lain di seluruh Indonesia. Mereka juga bahkan akan menyatukan orang tuanya yang berpisah, dan masyarakatnya yang terpecah-pecah karena garis politik dan aliran agama yang berbeda-beda.
Ketika saya menulis catatan tentang mereka, saya terikat bersama dengan mereka naik truk, barengan dengan mba Ciciek menemani anak-anak untuk membawa mereka pentas di kantor Kabupaten. Di sinilah mereka mempresentasikan tarian egrang yang sebelumnya dipentaskan di lapangan kecamatan Ledokombo pada tanggal 23 Juli, tetapi pada tanggal 24 Juli sebelum Jember Fashion Carnaval berlangsung, anak-anak menari di hadapan bupati, Akbar Tanjung, Nina Akbar Tanjung dan ibu-ibu dan bapak-bapak dari WWI (yayasan Warna Warni).
![]() |
| Mey sedang dirias dan di belakangnya berdiri Desy memang tulisan berjudul Jember Jiwaku |
Anak-anak inilah yang telah merebut hati Mey, anak dari Prof Emma yang ingin berdandan seperti penari-penari perempuan cilik. Jadi di atas truk ketika sedang berjalan, saya mengabadikan ketenangan seorang anak Australia yang membiarkan mukanya dirias oleh seorang ibu dari Ledokombo. Inilah bukti persahabatan antar bangsa yang terbangun dari ketulusan anak-anak Ledokombo. Mengingat mereka, mengingat anak-anak saya yang ada di mana-mana, kepada mereka saya ingin menulis dan bekerja untuk Indonesia. Terima kasih mba Ciciek dan mas Supo yang mendorong saya memasuki keindahan kehidupan di sana. Persahabatan dan persaudaraan kita menguatkan perjalanan bersama melayani untuk semua, Indonesiaku, Indonesiamu, Indonesia untuk semua.
Selasa, 19 Juli 2011
Tudung kepala dan penerusan pergerakan perempuan
Tudung kepala dan penerusan pergerakan perempuan
Oleh Farsijana Adeney-Risakotta*)
Koalisi Perempuan Indonesia bukan pondok pesantren di mana para santri putri tinggal bareng-bareng. Tetapi selama 10 hari kami tinggal bersama di sini, mungkin mirip seperti tinggal di pesantren. Pendidikan Kader Lanjutan bukan sekolah. Sepuluh hari hidup bersama teman-teman memberikan pengalaman lain bagi saya. Hidup bersama perempuan menyatukan kami semua tanpa perbedaan kelas, latar belakang pendidikan dan pengalaman. Ini pengalaman pertama berkamar dengan dua teman Muslim dari Aceh dan Nusa Tenggara Barat.
Menuliskan tentang pengalaman perempuan merupakan titik berangkat membangun kesadaran siapakah seorang perempuan. Umur saya 46 tahun. Kesadaran tentang eksistensi keperempuaan makin menggetarkan dalam hidup saya sesudah menyaksikan tentang kekerasan massa di tahun 1999 sd 2003 dalam perang saudara di Maluku yang memisahkan warga berdasarkan agamanya. Ketika itu, perempuan yang biasanya menggunakan tutup kepala sebagai tradisi yang lazim ditemukan di pedesaan Maluku harus bersedia melepaskan tradisinya ini.
Perempuan-perempuan Kristiani diteror apabila mereka mengenakan tutup kepalanya, mereka akan ditembak oleh penembak gelap. Pengalaman ini sangat mendalam mempengaruhi perubahan arah perjuangan saya. Saya berjanji untuk diri sendiri bahwa saya akan selalu bersama perempuan.
Kekuatan militer menjadikan perempuan Kristiani takut dan mengubah kebiasaannya untuk menutupi kepalanya. Hanya perempuan-perempuan Muslim yang dibolehkan untuk meneruskan tradisinya karena dianggap sebagai bagian dari ibadah.
Intervensi militer terhadap tubuh perempuan menyusup bersama dalam ajaran agama. Upaya memecahkan kesatuan masyarakat dari tradisi terjadi ketika tubuh perempuan dipandang sebagai sarana identitas berbasis agama. Peristiwa kekerasan di Maluku menampilkan kepada saya suatu gambaran tentang intervensi negara terhadap pengubahan cara ekspresi perempuan.
Tiba pada kenyataan ini saya kemudian memutuskan untuk menggunakan tutup kepala supaya mendorong perempuan-perempuan kristiani kembali melakukan kebiasaannya. Sekitar 7 tahun gerakan menutup kepala saya lakukan dalam solidaritas dengan perempuan-perempuan korban perang di Maluku.
Keputusan saya menggunakan tutup kepala ternyata juga tidak mudah. Perempuan-perempuan Kristiani menunjukkan keprihatinan mereka karena keberanian saya memasuki wilayah mereka sambil menggenakan tutup kepala. Tutup kepala itu bukan jilbab. Tetapi konstruksi militer yang sudah terbangun dalam masyarakat bahwa seorang yang menutup kepalanya adalah seorang Muslim ternyata harus berhadapan dengan saya.
Kunjungan-kunjungan saya ke kampung-kampung Kristiani dicurigai sebagai seorang Muslim yang sedang menyusup. Saya pernah ditahan untuk dimintai keterangan tentang identitas saya ketika saya memasuki satu desa di pulau Ambon di propinsi Maluku. Mereka ingin memastikan tentang siapakah perempuan bertudung itu?
Bertudung kepala merupakan strategi awal membangun pergerakan saya tentang menjadi seorang Indonesia. Indonesia saat ini adalah Indonesia tentang kebangsaan. Reformasi membawa kebebasan meraih keadilan dan demokrasi bagi Indonesia, tetapi pada saat yang sama Indonesia ternyata terikat dengan kenyataan-kenyataan pemisahan yang dengan sengaja dibentuk dalam negara.
Pemisahan warga masyarakat termasuk pembentukan identitas perempuan dari apa yang digunakannya merupakan proses reduksi yang sedang terjadi dalam politik Indonesia saat ini. Saya merefleksikan titik awal pergerakan saya dengan pengalaman belajar bersama selama hampir 10 hari. Kesempatan hidup bersama dengan teman-teman saya yang Muslim membangun keyakinan saya tentang solidaritas mendalam yang dapat dikembangkan karena kita bersama ingin pengalaman tersebut ada.
Salah satu pengalaman yang selalu akan saya kenang adalah ucapan akrab dari bu Khaidir setiap kali memasuki kamar kami. Saya biasanya ada di kamar sedang membaca atau mengetik ketika bu Khaidir mengatakan “assalamailakum”. Saya membalas: “walaikum salam”. Kemudian kami mendiskusikan tentang apa yang pernah saya dengar tentang larangan mengucapkan kalimat assalamailakum kepada seorang non Muslim.
Saya menanyakan mengapa bu Khaidir menyapa saya dengan itu, padahal saya seorang Kristiani. Jawabannya sungguh mengharukan hati saya. Bu Khaidir mengatakan bahwa ia menyapa saya karena saya seorang sahabatnya. Tinggal satu kamar membuat ia merasa saya seperti saudarinya. Kalimat “assalaimailakum” merupakan kalimat yang dekat di hatinya. Menyapanya kepada saya adalah suatu rahmat kepada dirinya sendiri.
Pengalaman membuat kita berbicara melintasi kata-kata. Pengalaman mendorong kita melintasi sekat ciptaan manusia dan negara. Pengalaman feminis ini adalah keinginan kami semua untuk melepaskan sekat-sekat perbedaan yang ada pada kami. Negara bisa memisahkan warganya. Agama mengisolasikan umat dari sesamanya. Tetapi saya percaya visi bersama yang mengalir dalam semangat Koalisi Perempuan Indonesia menyatukan kita semua. Terima kasih banyak sahabat-sahabat saya.
*) blogger tiga blog, Farsidarasjana, a cliff house in java dan empowering women transforming myself
Oleh Farsijana Adeney-Risakotta*)
Koalisi Perempuan Indonesia bukan pondok pesantren di mana para santri putri tinggal bareng-bareng. Tetapi selama 10 hari kami tinggal bersama di sini, mungkin mirip seperti tinggal di pesantren. Pendidikan Kader Lanjutan bukan sekolah. Sepuluh hari hidup bersama teman-teman memberikan pengalaman lain bagi saya. Hidup bersama perempuan menyatukan kami semua tanpa perbedaan kelas, latar belakang pendidikan dan pengalaman. Ini pengalaman pertama berkamar dengan dua teman Muslim dari Aceh dan Nusa Tenggara Barat.
Menuliskan tentang pengalaman perempuan merupakan titik berangkat membangun kesadaran siapakah seorang perempuan. Umur saya 46 tahun. Kesadaran tentang eksistensi keperempuaan makin menggetarkan dalam hidup saya sesudah menyaksikan tentang kekerasan massa di tahun 1999 sd 2003 dalam perang saudara di Maluku yang memisahkan warga berdasarkan agamanya. Ketika itu, perempuan yang biasanya menggunakan tutup kepala sebagai tradisi yang lazim ditemukan di pedesaan Maluku harus bersedia melepaskan tradisinya ini.
Perempuan-perempuan Kristiani diteror apabila mereka mengenakan tutup kepalanya, mereka akan ditembak oleh penembak gelap. Pengalaman ini sangat mendalam mempengaruhi perubahan arah perjuangan saya. Saya berjanji untuk diri sendiri bahwa saya akan selalu bersama perempuan.
Kekuatan militer menjadikan perempuan Kristiani takut dan mengubah kebiasaannya untuk menutupi kepalanya. Hanya perempuan-perempuan Muslim yang dibolehkan untuk meneruskan tradisinya karena dianggap sebagai bagian dari ibadah.
Intervensi militer terhadap tubuh perempuan menyusup bersama dalam ajaran agama. Upaya memecahkan kesatuan masyarakat dari tradisi terjadi ketika tubuh perempuan dipandang sebagai sarana identitas berbasis agama. Peristiwa kekerasan di Maluku menampilkan kepada saya suatu gambaran tentang intervensi negara terhadap pengubahan cara ekspresi perempuan.
Tiba pada kenyataan ini saya kemudian memutuskan untuk menggunakan tutup kepala supaya mendorong perempuan-perempuan kristiani kembali melakukan kebiasaannya. Sekitar 7 tahun gerakan menutup kepala saya lakukan dalam solidaritas dengan perempuan-perempuan korban perang di Maluku.
Keputusan saya menggunakan tutup kepala ternyata juga tidak mudah. Perempuan-perempuan Kristiani menunjukkan keprihatinan mereka karena keberanian saya memasuki wilayah mereka sambil menggenakan tutup kepala. Tutup kepala itu bukan jilbab. Tetapi konstruksi militer yang sudah terbangun dalam masyarakat bahwa seorang yang menutup kepalanya adalah seorang Muslim ternyata harus berhadapan dengan saya.
Kunjungan-kunjungan saya ke kampung-kampung Kristiani dicurigai sebagai seorang Muslim yang sedang menyusup. Saya pernah ditahan untuk dimintai keterangan tentang identitas saya ketika saya memasuki satu desa di pulau Ambon di propinsi Maluku. Mereka ingin memastikan tentang siapakah perempuan bertudung itu?
Bertudung kepala merupakan strategi awal membangun pergerakan saya tentang menjadi seorang Indonesia. Indonesia saat ini adalah Indonesia tentang kebangsaan. Reformasi membawa kebebasan meraih keadilan dan demokrasi bagi Indonesia, tetapi pada saat yang sama Indonesia ternyata terikat dengan kenyataan-kenyataan pemisahan yang dengan sengaja dibentuk dalam negara.
Pemisahan warga masyarakat termasuk pembentukan identitas perempuan dari apa yang digunakannya merupakan proses reduksi yang sedang terjadi dalam politik Indonesia saat ini. Saya merefleksikan titik awal pergerakan saya dengan pengalaman belajar bersama selama hampir 10 hari. Kesempatan hidup bersama dengan teman-teman saya yang Muslim membangun keyakinan saya tentang solidaritas mendalam yang dapat dikembangkan karena kita bersama ingin pengalaman tersebut ada.
Salah satu pengalaman yang selalu akan saya kenang adalah ucapan akrab dari bu Khaidir setiap kali memasuki kamar kami. Saya biasanya ada di kamar sedang membaca atau mengetik ketika bu Khaidir mengatakan “assalamailakum”. Saya membalas: “walaikum salam”. Kemudian kami mendiskusikan tentang apa yang pernah saya dengar tentang larangan mengucapkan kalimat assalamailakum kepada seorang non Muslim.
Saya menanyakan mengapa bu Khaidir menyapa saya dengan itu, padahal saya seorang Kristiani. Jawabannya sungguh mengharukan hati saya. Bu Khaidir mengatakan bahwa ia menyapa saya karena saya seorang sahabatnya. Tinggal satu kamar membuat ia merasa saya seperti saudarinya. Kalimat “assalaimailakum” merupakan kalimat yang dekat di hatinya. Menyapanya kepada saya adalah suatu rahmat kepada dirinya sendiri.
Pengalaman membuat kita berbicara melintasi kata-kata. Pengalaman mendorong kita melintasi sekat ciptaan manusia dan negara. Pengalaman feminis ini adalah keinginan kami semua untuk melepaskan sekat-sekat perbedaan yang ada pada kami. Negara bisa memisahkan warganya. Agama mengisolasikan umat dari sesamanya. Tetapi saya percaya visi bersama yang mengalir dalam semangat Koalisi Perempuan Indonesia menyatukan kita semua. Terima kasih banyak sahabat-sahabat saya.
*) blogger tiga blog, Farsidarasjana, a cliff house in java dan empowering women transforming myself
Langganan:
Postingan (Atom)
