Translate

Selasa, 02 April 2013

MOP Papua: Kematian Massal Terjadi Dua Kali di Era Otsus



 
MOP Papua: Kematian Massal Terjadi Dua Kali di Era Otsus
Oleh Farsijana Adeney-Risakotta

Berita ini bukan MOP 1 April, tetapi MOP Papua yaitu berita langsung dari tanah Papua, berangkat dari ketulusan hati dan kepolosan basudara-basudara Papua yang ingin kenyataan terburuk, kematian massal di tanah Papua diketahui lebih luas oleh warganegara NKRI di seluruh Indonesia. Selanjutnya berita selengkapnya bisa dibaca di bawah ini. 
 
Papua Pos Online* pagi ini, tanggal 3 April memberitakan tentang kematian di Distrik Kwoor Kabupaten Tambrauw, Papua Barat. Tidak tanggung-tanggung, ada sekitar 95 orang yang meninggal. Berita yang dipublikasikan berdasarkan hasil temuan dari LSM Belantara Provinsi Papua Barat yang menurunkan tim terdiri dari Kodim dan masyarakat sipil untuk mencari tahu kebenaran kematian massal tersebut. Abner Korwa, Ketua LSM Belantara membenarkan tentang hasil kerja tim yang mendatangi tiga kampung di Papua Barat yaitu kampung Baddei, Jokjoker dan Kasyefo. Saat ini ada ratusan orang mengungsi di Distrik Sausapor, ibu kota Kabupaten Tambaruw untuk mendapat pelayanan kesehatan.
 
Tim LSM Belantara juga menemukan penyebab kematian dipicu oleh penyakit gatal-gatal pada tubuh yang sesudah digaruk menjadi bisul. Indikasi infeksi luka dari bisul yang terjadi pada tubuh dengan asupan gizi rendah menyebab kematian yang menyerang banyak anak-anak.  Asupan gizi rendah disebabkan penduduk di  daerah ini sedang mengalami busung lapar.  Sekalipun, pemerintah daerah membantah tentang adanya busung lapar di wilayahnya, tetapi indikasi terkait dengan pelemahan tubuh dari kebanyakan anggota masyarakat untuk waktu yang lama akibat kekurangan gizi merupakan fakta yang tidak bisa dipungkiri.  
 
Busung lapar adalah penyakit yang gampang diderita oleh manusia ketika asupan makanan dari pola makanan yang bervariasi tidak terpenuhi. Penelitian yang dilakukan oleh Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Departeman Pertanian pada tahun 2007 telah menyampaikan temuannya di mana Papua bersama dengan Kalimantan Barat dan Jawa Timur merupakan salah satu daerah potensi rawan pangan dan gizi kronis. Perkembangkan penyakit busung lapar memerlukan waktu di antara 2 sampai 6 bulan. 
 
Fenomena busung lapar pernah dialami oleh penduduk di Indonesia ketika masa pendudukan Jepang. Penderitaan kekurangan makanan di alami secara merata oleh penduduk di seluruh Indonesia. Kemudian di dekade tahun 1960-an, penduduk Indonesia kembali kekurangan makanan sehingga menyebabkan busung lapar atau Hunger Oedeem (HO). Di Propinsi Papua, pada tahun 2005, di Kabupaten Yohukimo, terjadi kematian massal yang disebabkan karena busung lapar.
 
Memperhatikan laporan penelitian dan pengalaman kejadian yang ada di Papua, maka alasan-alasan yang disampaikan oleh pemerintah lokal maupun pusat menanggapi kematian massal saat ini terasa tidak beralasan. Pemda menggunakan alasan ketidaktersediaan tenaga medis di daerah-daerah terkena wabah busung lapar sebagai penyebabnya. Sementara Menko Kesra membantah bahwa kelaparan di Papua bukan masalah kronis, melainkan merujuk pada iklim yang tidak menentu (pancaroba) sebagai penyebabnya (Merdeka Online, 3 April 2013)**. 
 
Kedua bentuk alasan yang dikemukakan di atas  sangat tidak bertanggungjawab, karena untuk penyakit busung lapar yang memerlukan waktu perkembangan selama 6 bulan sebelum terjadi epidemik, seharusnya tenaga medis sudah berada di daerah-daerah wabah. Pengurusan tenaga medis darurat harus segera dilakukan untuk memprioritaskan penanganan wabah tsb. Sementara alasan dari Menko Kesra menunjukkan bahwa pemerintah pusat tidak menindaklanjutkan hasil penelitian yang dilakukan dan dipublikasikan pada tahun 2007 oleh Kementerian Pertanian untuk mengatasi gejala topografi berbukit dengan curah hujan yang terlalu banyak sebagai indikator menata strategi pangan dan asupan makanan bergizi di daerah berisiko tinggi rawan gizi kronis tsb***.
 
Kejadian kematian massal kedua kali di jaman Otsus menunjukkan ketidakseriusan pemerintah pusat dan pemerintah lokal terhadap kondisi orang Papua asli di pedalaman. Kabupaten Tambrauw terletak di Propinsi Papua Barat yang merupakan daerah target dari pendatang. Laporan-laporan keberhasilan pembangunan yang dipublikasikan oleh pemerintah daerah lebih banyak menunjukkan pelaksanaannya di pusat-pusat kota dan kabupaten tetapi belum merata sampai ke pelosok-pelosok desa baik di Propinsi Papua Barat maupun di Papua. 


Laporan selengkapnya bisa dilihat pada berita di bawah ini: 

*95 Orang Meninggal di Kwoor Tambrauw 
<http://www.papuapos.com/index.php/utama/item/1748-95-orang-meninggal-di-kwoor-tambrauw> 
atau berita lengkapnya di bawah ini..

JAYAPURA [PAPOS] – Sekitar 95 orang, sebagian besar di antaranya adalah anak- anak yang mendiami 3 kampung di Distrik Kwoor Kabupaten Tambrauw, Papua Barat meninggal dunia akibat busung lapar dan wabah penyakit.
Tiga kampung yang terserang wabah itu di antaranya, Kampung Baddei, Jokjoker dan Kasyefo. Ratusan warga tengah mengungsi ke Distrik Sausapor, ibu kota Kabupaten Tambaruw guna mendapatkan perhatian dan pelayanan kesehatan yang memadai.
Ketua LSM Belantara Provinsi Papua Barat, Abner Korwa ketika dihubungi wartawan, Selasa petang membenarkan hal itu. Ia mengungkapkan, telah terjadi kematian berturut-turut akibat busung lapar dan wabah penyakit yang terjadi sejak Oktober 2012 lalu hingga saat ini.
Untuk mengecek kebenarannya, LSM Belantara membentuk tim yang langsung turun bersama Kodim setempat dan menemukan kebenarannya di lapangan. Menurut Abner, informasi ini diperoleh dari salah satu masyarakat yang mendiami kampung tersebut yang kemudian ditindaklanjuti dan mendapati bahwa memang benar kejadiannya.
Dari data yang diperoleh LSM Belantara, pada kampung Bakti sekitar 15 anak berturut turut dalam 1-2 minggu meninggal dunia. “Setelah kami cek kepada Kadis Kesehatan Tambrauw, hanya dijawab hal itu disebabkan karena terbatasnya petugas kesehatan dan juga minimnya obat-obatan di daerah tersebut,” ujarnya.
Awalnya penyakit berupa gatal, yang kemudian timbul bengkak, bisul lalu panas tinggi, dan bila tidak cepat ditangani maka akan menyebabkan meninggal dunia. Kebanyakan menimpa anak kecil yang masih berumur 10 tahun namun juga menjangkiti orang dewasa, katanya.
Saat ini penduduk yang berada di 3 kampung tersebut juga dikabarkan telah mengungsi ke beberapa kampong. Abner menerangkan, kejadian seperti ini disebabkan karena pelayanan kesehatan di Puskesmas Kwor terbatas yang juga didukung kurangnya Infrastruktur jalan. Menempuh jarak antarkampung bila berjalan kaki bisa memakan 3-5 hari di perjalanan.
Masyarakat saat ini sangat membutuhkan selimut, makanan, makanan kemasan, susu, gula. Kemungkinan kekurangan darah dan begitu kena panas badan gatal dan daya tahan tubuh rendah akhirnya tidak bisa tertolong. Rata-rata yang meninggal anak-anak,” ungkapnya.
Di samping itu, masayarakat juga mengalami kesulitan komunikasi dengan bahasa Indonesia sehingga pihaknya saat ini masih mencari seseorang yang bisa menjadi penerjemah dengan menggunakan bahasa lokal untuk menggali keterangan guna mengetahui penyebab kematian.
Tanggapan dari Pemda setempat, kata Abner, ini bukan kejadian luar biasa, dimana Pemda mengklaim bahwa bukan wabah atau busung lapar penyebab kematian mereka melainkan kurangnya petugas kesehatan di masing-masing kampung.
Abner juga meminta, apabila hendak memberikan bantuan jangan sampai salah karena masyarakat sudah mengungsi. “Masyarakat sudah mengungsi ke arah pinggiran kota dengan jarak tempuh 1-2 hari jalan kaki ke ibukota kabupaten. Kampung yang terkena wabah ini rata-rata tidak memiliki akses jalan darat,” terangnya.
Dari informasi yang diterima dari Hans Mambrasar, seorang penginjil di Kampung Bikar dan Lukas Yesnat, tokoh masyarakat Kampung Kosyefo, rata-rata yang meninggal dunia adalah anak-anak yang masih minum ASI dan sudah bisa jalan.
“Jenis bantuan yang dibutuhkan selimut, makanan nutrisi kemasan, obat antibiotic, malaria, tetes mata, kassa, kapas, alcohol, kapas verban, plester roll, betadine, garam beryodium,” ujar Hans.
Sementara mengenai busung lapar, dokter Cipto, Kabid Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Papua Barat, memgemukakan, informasi yang terdengar nampaknya harus diluruskan supaya tidak ada kesan terjadi situasi chaos dan ada fakta.
“Besok (hari ini, red) tim dari Dinas kesehatan Provinsi Papua Barat akan turun. Petugas kesehatan Tambrauw sudah mengecek. Data terakhir dari lokasi yang kita ketahui, khsusus bayi dan balita hanya kekurangan gizi,” tuturnya, saat dihubungi melalui telepon selulernya.
Ia membantah kebenaran informasi di Kabupaten Tambrauw ada wabah penyakit hingga sampai pada kematian dan kesakitan dalam waktu yang singkat. “Itu semua tidak benar. Hanya memang ada kesakitan dan beberapa kematian. Itu bukan karena wabah penyakit, kami sementara ini masih mengumpulkan datanya,” paparnya.
Disinggung mengenai pelayanan kesehatan di kampung tersebut, dr. Cipto menjelaskan, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tambrauw sudah bertemu dengan Dinas Kesehatan Papua Barat secara langsung dan dari 7 Puskesmas, 6 Puskekmas terisi dokter namun alat penunjang kesehatan untuk sementara memang diakui masih minim. “Namun bisa diperoleh bila mampu menempuh jarak sepanjang 2-3 hari jalan kaki,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa tidak benar terjadi wabah busung lapar atau penyakit. “Laporan awal yang diperoleh bukan wabah busung lapar atau penyakit,” tandasnya. [tom]
Terakhir diperbarui pada Rabu, 03 April 2013 01:06

**     *Menko Kesra sebut kelaparan di Papua bukan masalah kronis

<http://m.merdeka.com/peristiwa/menko-kesra-sebut-kelaparan-di-papua-bukan-masalah-kronis.html>

 

3.     Wilayah Rawan Pangan dan Gizi Kronis di Papua, Kalimantan Barat dan Jawa Timur dipublikasi oleh Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Departemen Pertanian Tahun 2007

<http://pse.litbang.deptan.go.id/pdffiles/tematik_Mewa_2007.pdf>
 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar