Translate

Jumat, 06 April 2012

Maut di manakah sengatmu?



Maut di manakah sengatmu?
Refleksi Paskah

Oleh: Farsijana Adeney-Risakotta

Pengalaman kematian perih. Kematian adalah nasib yang harus dihadapi manusia. Tiada satu mahklukpun di bawah bumi yang dapat melawan kematian.  Bumi sendiri, sistem tata suryanya terus berubah. Seperti manusia yang bisa meninggal ketika masih bayi, remaja, dewasa bahkan sesudah usianya uzur, benda-benda tak bernyawapun mengalami peremajaan melalui kematian.  

Kematian secara fungsi adalah esensi yang menyehatkan kepada keseimbangan bagi alam semesta. Tetapi hanya kematian yang dialami oleh manusialah, yang memerlukan serangkaian pemaknaan. Seekor anak gajah yang meninggal di padang savanna di Afrika tidak memerlukan upacara pelepasan dibandingkan dengan kematian yang dialami oleh seorang anak dari suku Massai di Kenya.

Walaupun manusia menghadapi kematian dalam topangan upacara-upacara keagamaan, baik dengan pengertian agama lokal maupun agama-agama samawi, peristiwa kematian sendiri dihadapi oleh manusia sebagai momen yang paling mendebarkan.  Kenyataan seseorang yang dikasihi berhenti bereaksi, serupa patung yang tak bernyawa berada bersama, adalah momen genting. 

Sakit yang lama dari seseorang bisa mempersiapkan anggota keluarga untuk menghadapi kenyataan kematian. Tetapi sering terjadi tanpa tanda-tanda sakit, seseorang yang dikasih berpisah dengan sanak keluarganya. Kematian mendadak adalah kengerian bagi anggota keluarga. Ketidaksiapan untuk merelakan seorang yang dikasihi dilepaskan dari jalan kematian ini.  Walaupun mungkin seseorang yang meninggal lebih siap dari mereka yang ditinggalkannya. 

Pengalaman ini saya rasakan ketika kematian adik saya, John Franklin Christian Risakotta. Ia berbaring dalam kedamaian serupa tidur yang sangat nyenyak. Ada banyak misteri dari kematiannya yang mendadak, tetapi kedamaian dan kesejukan yang nampak dalam wajahnya menyampaikan pesan "menenangkan" kita semua. Kematian pada diri adinda dihayati secara iman. Kematian bukan suatu kekalahan tetapi cara yang sangat berani menyerahkan diri pulang kembali kepada Sang Pencipta sesudah waktunya tiba.

Gambaran kengerian dari kematian juga dperlihatkan dalam kitab suci. Misalkan Kitab Pengkhotbah menggambarkan tentang kenangan yang sudah lenyap dari antara orang-orang yang mati. Bahkan mereka, orang-orang mati tidak tahu apa-apa ( Pengkhotbah 9:4). Mereka tidak berperan lagi terhadap segala sesuatu di dalam dunia (ayat 5). Ketika saya membandingkan apa yang terjadi dengan adinda, gambaran kematian dari  penjelasan Kitab Pengkhotbah menggambarkan seolah-olah kematian adalah kesia-siaan.

Manusia bertanya kemana kita pergi sesudah kematian? Penjelasan ilmiah menggunakan istilah kematian untuk menguraikan tentang perhentian dari fungsi-fungsi biologis dari seorang manusia ketika ia mati. Ketiadaan fungsi tubuh menyebabkan manusia berhenti berkehidupan di dunia ini. Ia adalah kesia-siaan. Hampa.  Seolah-olah dunia adalah untuk mereka yang hidup. Mereka yang bisa bertarung, mereka yang berlomba, mereka yang harus kerja keras untuk bertahan. Kematian seolah-olah adalah jalan seleksi alam untuk mengakhiri pertandingan yang sudah dimulai dengan penyelesaiannya menurut kemampuan setiap manusia.

Sekalipun seorang manusia yang bejat, kematian dirinya diiringi dengan trompet sebagai tanda seseorang telah meninggal di suatu penjara.  Pengumuman dengan memainkan instrument trompet adalah tanda tentang kematian yang memberikan waktu kepada orang lain untuk mengenangkan mengiklaskan kepergian yang meninggal  tanpa harus hadir pada upacara pemakaman.

Gambaran kematian, di mana kehidupan berhenti sesudah kematian adalah pandangan dari manusia yang sangat mempercayai "hidup" yang sedang terjadi. Hidup sebagai "aktivitas".  Pandangan ini sangat alamiah tetapi mungkin terlalu sederhana untuk mahkluk seperti manusia.  Manusia menembusi dirinya yang fana dalam iman sehingga bisa percaya tentang dunia yang ada dibalik kematian. Ketika seorang manusia meninggal ia pergi dengan imannya kepada Sang Pemberi hidup. 

Ia mengerti apa yang diyakininya sebagai iman. Ia berserah kepada kehendak Sang Pencipta. KehendakNya yang lebih sempurna dan paling tepat untuk semua mahkluk ciptaanNya. Manusia tahu napasnya sendiri adalah napas dari Sang Pemberi Hidup. Tubuhnya adalah wadah untuk memelihara napas Sang Hidup. Ketika waktunya tiba, napas Sang Hidup dibawa kembali menyatu dalam haribaanNya.

Dengan imanlah, orang-orang yang hidup melanjutkan perjalanan sesudah kepulangan kekasihnya ke rumah Tuhan. Iman mengubah kami yang hidup. Iman menyembuhkan hati yang luka. Mengundang Sang Pemberi hidup untuk menuntun menjelaskan maksudNya dalam hidup kita akan memberikan kelepasan. Iman adalah pergumulan dalam penyerahan diri untuk dituntun masuk dalam rencana Sang Pemberi hidup. Menyerahkan diri dalam haribaan Sang Pemberi Hidup adalah termasuk memperbaharui bathin dan hati nurani sendiri dengan mengizinkan Sang Pemberi Hidup berdiam di dalamnya. Suatu bathin dan hati nurani yang murni sebagai landasan melanjutkan perjalanan dalam tuntunanNya.

Kematian seseorang  tidak bisa ditolak sama sekali, tetapi untuk banyak orang lainnya, kematian terkait langsung dengan keinginan untuk memelihara jasad. Bukti tentang banyaknya developer yang menjual situs-situs rumah peristirahatan atau kuburan dengan harga ratusan juta rupiah menunjukkan tentang rasa ketakutan dari manusia terhadap kematian itu sendiri. Manusia modern tidak bedanya dengan manusia jaman Firaun raja Mesir yang membalsem tubuh dirinya bersama dengan para keluarga kerajaan yang meninggal.

Kematian manusia adalah suatu proses alam yang harus dihadapi.Saya ingat ketika masih hidup bersama masyarakat di Wangongira di Halmahera Utara. Mereka membangun kampung tetapi setiap keluarga membuat rumahnya dalam kondisi semi permanen. Rumah-rumah mereka tidak mempunyai dinding, pintu dan jendela.  Ajaran ini berkembang karena kepercayaan bahwa sesudah anggota keluarga meninggal mereka harus meninggalkan rumah tersebut. Tiang rumah akan dipotong dan rumah dirubuhkan. Daerah itu diberikan kepada kekasihnya yang meninggal. Manusia mewariskan situs rumah untuk mereka yang meninggal.  

Kehidupan modern dengan bangunan kepercayaan dari berbagai agama-agama, membekali seseorang dalam merespons kematian dengan cara yang berbeda-beda menurut iman masing-masing.  Ada berbagai cara jasad manusia diupacarakan. Jasad bisa diletakan dalam peti, dibalut dengan kain kafan, dibiarkan dekat danau Batur di Bali, di taburkan dalam danau sehingga bisa disantap oleh ikan-ikan seperti dipraktekkan di bagian tertentu dari daratan Cina, diletakkan di lubang-lubang goa sampai waktunya diupacarakan bersama seperti di Toraja.  Banyak contoh berbeda menggambarkan tentang keragaman mengupacarakan kematian.

Upacara bisa berbeda, tetapi perasaan manusia menghadapi kematian mungkin sama.  Perasaan terpisahkan! Perasaan tercabut dari kedekatan dan keintiman dengan seseorang yang meninggalkan. Perasaan ini memberikan penderitaan dari kesedihan yang mendalam.  Kata-kata penghiburan yang diterima dari para pelayat bisa menguatkan tetapi mungkin belum mengubah penderitaan mereka yang kehilangan. Kata-kata mengiklaskan bukan sekedar upaya untuk melupakan kekasih yang meninggal. Mereka yang ditinggalkan adalah mereka yang meneruskan hidupnya dengan terlebih dulu sedang mengartikan makna kehidupan baru sesudah peristiwa kematian dalam keluarganya. 

Disinilah peran tegang waktu, masa perkabungan yang diupacarakan dalam tradisi budaya- budaya maupun agama-agama. Masa perkabungan 7 hari, 40 hari, 100 hari sampai dengan 1000 hari bukan sekedar masa bertemu, masa mendoakan mereka yang telah pergi. Tradisi Kristiani, seperti yang dialami dalam masa sesudah kematian dan kebangkitan Kristus, ada sekitar 40 hari hidupNya diberikan kepada murid-muridNya sebelum Ia naik ke Sorga.

Masa-masa perkabungan  adalah masa untuk menemukan keberlangsungan kehidupan dari mereka yang sudah meninggal dengan mereka yang masih hidup di dunia.  Seorang yang pergi, ada yang membawa semua cita-citanya tanpa berbagi dengan mereka yang ditinggal. Tetapi sering kali, seorang yang meninggal, pergi dengan meninggalkan cita-cita, visi kepada keluarganya. 

Pada masa inilah waktu terbaik untuk anggota keluarga menyatukan diri mengartikan hidupnya dalam visi yang dilihatnya sebagai cita-cita mereka semua. Suatu kelanjutan cita-cita dari kehidupan yang ditinggalkan oleh kekasihnya yang meninggal. Momen ini adalah kesempatan untuk bertumbuh menurut kualitas kehidupan yang sesuai dengan kehendak Tuhan.

Masa-masa ini sangat penting untuk bersama dengan sanak keluarga mendukung satu dengan lain sampai mereka merasa bisa melangkah sendiri. 40 puluh hari adalah waktu untuk mengerti maksud Sang Pemberi Hidup bagi hidup yang harus diteruskan. Dengan bathin murni dari Sang Pemberi hidup, perjalanan 100 hari sampai dengan 1000 hari adalah waktu untuk memulai merealisasi cita-cita bersama sebagai komitmen kita meneruskan kehidupan yang sedang diizinkan terjadi.

Saya menulis ini untuk berbagi tentang upaya berproses dalam penderitaan sesudah kematian terjadi dalam suatu keluarga. Semua manusia akan mati. Cuma caranya yang berbeda-beda dengan waktu yang seorangpun tidak tahu. Sebagai manusia yang harus diketahui adalah bagaimana membuat diri kita siap senantiasa untuk kapanpun dijemput Sang pencipta pulang ke rumahNya.  

Kematian seseorang dalam keluarga mengingatkan kita tentang kesiapan ini. Ketika saat kita tiba, kematian adalah cara untuk kita semua akan mempertanggungjawabkan kehidupan yang sudah kita jalani di dunia kepada Sang Pencipta, Pemberi kehidupan.  Kematian adinda, dalam keadaan polos, bercelana kolor, sesudah mandi, adalah bukti dari kesiapannya. Ia datang sebagai bayi telanjang dan dipanggil pulang juga dalam keadaan hampir telanjang.

Semua yang kita punya di dunia ini, tidak sedikitpun kita bawa dalam perjalanan kembali ke bumi.  Perubahan pandangan dan praktek terhadap kematian berubah dari jaman ke jaman. Di Xian, Cina, ketika kami mengunjungi areal penggalian terracotta soldiers  dengan kuda-kudanya yang tertanam ribuan tahun, kami belajar tentang perubahan etika pemakaman. Pada waktu itu, seorang “raja” ketika meninggal mensyaratkan pemakamannya dilakukan bersamaan dengan bala tentara-tentara dan pelayan-pelayanannya, mereka dimakamkan hidup-hidup. Perubahan terjadi adalah dengan membuat patung-patung dari balatentara dan pelayan-pelayan yang dimakamkan bersama dengan sang”raja”. 

Gambaran dari praktek pemakaman secara besar-besaran terhadap seorang yang penting yang diikuti oleh semua pelayanan juga terlihat pada peninggalan pemakaman gunungan yang tersebar dan dilindungi sebagai situs sejarah di daerah Skandinavia. Ketika kami mengunjungi Denmark dan Swedia, perhatian saya untuk mengerti proses kematian dan pemakamannya menjadi momen yang sangat penting sampai sekarang masih berkesan.

Kematian membawa manusia kepada Sang Pencipta. Pandangan dari kepercayaan tentang Sang Pencipta mengubah cara manusia mengupacarakan pemakaman. Seperti manusia datang dari rahim ibunda, manusia juga kembali kepada Sang Pencipta dengan apa yang ada pada dirinya sendiri.

Sayapun merefleksikan pengalaman kemanusiaan ini dengan menghayati kematian yang terjadi pada Kristus. Pada masa kematianNya, saya merenungkan semua yang terjadi dalam peradaban dunia dan keluarga sendiri.  Kematian Kristus adalah tragedi bagi manusia yang sulit mengerti tentang kepedulian Allah kepada umat manusia. Tetapi kematian Kristus adalah keberuntungan bagi mereka yang percaya tentang kebersamaan Allah dalam kehidupan manusia. Kebersamaan Allah pertama-tama ada dalam kematian yang senantiasa paling ditakutkan oleh manusia.

Kengerian dari kematian hampir menggilakan manusia termasuk juga dengan mencoba melupakan sesegera mungkin pengalaman kehilangan dari kematian mereka yang dikasihinya. Kematian Kristus adalah kepedulian Allah yang mati bersama dalam pengalaman manusia supaya ada kebangkitan dari pengalaman penderitaan dari kematian itu. Bagi mereka yang meninggal dalam Kristus, ada kehidupan kekal dalam jalan yang sama Kristus melewatinya, mengubahnya menjadi kemenangan. 

Sengat maut di manakah engkau berada? Kata-kata ini adalah kalimat kepedulian Allah yang mengerti tentang penderitaan manusia.  Seringkali perjalanan akhir dari kematian seseorang dilewati dengan sangat panjang dan berat. Maut seolah sudah datang tetapi nyawa masih melekat sehingga tubuh menjadi sangat menderita.  

Pengalaman hidup manusia, pengalaman menyakitkan sesama, pengalaman melakukan kejahatan, mengkorupsi uang-uang haram adalah hambatan untuk melewati kematian dirinya dengan tenang. Berbagai pengalaman lain yang menimbulkan duka dalam penyesalan diri bisa menjadi hambatan seseorang melawati penderitaannya dengan damai. 

Ketika pengalaman-pengalaman ini hadir dalam kehidupan manusia, pada saat itulah sang manusia memerlukan cinta kasih dari Allah.  Allah yang mati dalam Kristus adalah Tuhan yang menderita bersama manusia, yang mengangkat manusia dari kedosaannya mendalam kepada anugerah yang membebaskan.  Benar! Sengat maut itu sudah ditelan oleh kemenangan dalam Yesus Kristus.


Tanah (The Soil)


Tanah (The Soil)
For my brother, John Franklin Christian Risakotta
On the Good Friday, April 6th, 2012

By: Farsijana Adeney-Risakotta


Tanah
Tempat kakiku berpijak
Kusebut engkau bumi

Tanah
Ku memaknai padamu keabadian
yang tercatat dalam kitab kehidupan
“dari tanah kembali kepada tanah”
bukan sekedar bongkahan tegalan

Tanah
engkau menyimpan bukti keabadian kehidupan
yang memanggil peziarah pulang mengabadikan
kenangan dan martabat

Tanah
di mana kekasih berbaring
leluhur berumah selamanya
yang menjanjikanku perbaringan
sesudah waktuku tiba

Tanah
Kuberpijak merenungkan kesenyapan mendalam
sang manusia meneruskan lelapnya dalam haribaan Ilahi

Tanah
padamu kurenungkan
permulaan kehidupan dari  kerahiman manusia
dari tiada menjadi ada 
anak manusia tentram dalam kandungan ibunda
sebelum waktunya
sang manusia hidup dari kekuatannya sendiri

Tanah
engkau ibunda bumi
rahim dari semua perempuan yang melahirkan
mengakui keabadian kehidupan dari keibuan bumi
sang bunda pemelihara diri pribadi
sampai waktunya
mengubah jejasad menjadi tiada
sebagai debu tanah
“dari tanah kembali ke tanah”

Tanah 
padamu arus kehidupan mengalir
serupa deras air penghujan
menyejukkan jiwa berbaring
dalam pelukan keilahian bumi
menurunkan kehidupan 
meneruskan penciptaan ilahi 
penuh cinta kasih

Tanah
engkau membuatku
menghormati 
caramu menerima perbaringan
supaya setiap manusia berserah dalam kelelapannya
bernapas bersama bumi
dengan hembusan napas Ilahi
tanpa perbedaan agama

Tanah
keilahian bumi
keilahian semesta
kemahakuasaan napas Sang Hidup
kedamaian sesudah kenangan pada dirinya
memindahkan
menyimpan ingatan kepada yang hidup

Tanah
biarlah kubernapas bersamamu
biarlah kusentuh engkau dalam tangan
biarlah kucium engkau dalam rasa
biarlah kuhayati engkau dalam hati
biarlah kuukirkan engkau dalam kata
biarlah kubangunkan nisan harapan

Tanah
...Dia yang binasa mengenakan yang tidak binasa
Dia yang mati mengenakan yang tidak mati...
supaya genap yang tertulis
..maut telah ditelan dalam kemenangan...oleh
Yesus Kristus

Tanah
Tanah
Tanah
Tanah
Tanah
Tanah
Tanah
Tanah
Tanah
Tanah
Tanah












Sabtu, 11 Februari 2012

Kelahiran dan Kematian


                                                   Kelahiran dan kematian
                                             Oleh:   Farsijana Adeney-Risakotta

Saya hari ini 47 tahun.  Penjumlahan 4 dan 7 adalah 11. Tanggal 11 adalah tanggal yang penting dalam hidup saya. Dulu ketika ayahanda meninggal pada tanggal 11 Oktober 1989, saya tahu tanggal 11 adalah hari kelahiran sekaligus hari kematian yang selalu akan saya ingat dalam hidup ini. 23 tahun kemudian, saat ini, pada tanggal 11 Februari 2012, saya benar-benar merasakan kematian sesudah adik terkasih, John Franklin Christian Risakotta meninggal dengan mendadak pada hari Senin Kliwon tanggal 6 Februari 2012. Mungkin benar apa yang dikatakan Firman: "..dan hari kematian lebih baik dari pada hari kelahiran" (Pengkhotbah 7:1b).

John mengatakan kepada istrinya, Titik Lestari, bahwa mereka akan membeli hadiah dan memberikan kepada saya di HUT ini. Minggu ini kami sekeluarga telah menerima hadiah yang paling termanis dari adik John. Ia meninggalkan mukanya yang tersenyum, dalam tidur yang nyenyak, seolah sedang menikmatinya kemudian akan bangun. John memberikan hadiah yang paling penting dalam hidup saya. 

Kematian adalah milik Tuhan, Allah, sang Pencipta. Manusia ketika dilahirkan, ia sudah menerima tanda sekaligus waktu yang tepat untuk dipanggil pulang kepadaNya. Tidak ada seorangpun mengerti kapan waktunya tiba, hanya Allah yang tahu. Hari kelahiran dan kematian tidak bisa satu orangpun menawarkannya. Mempersiapkannya dengan baik adalah cara manusia menghadapinya sehingga menjadi tenang dan damai.

Suami saya, pak Bernie menulis refleksinya dalam surat tentang “How do People Die in Indonesia?” (lihat <farsidarasjana.blogspot.com>, yang menjelaskan tentang kronologis kematian adik John. Pak Bernie ditelpon pulang dari UGM untuk menolong membawa adik John ke Rumah Sakit, sesudah ia ditemukan pingsan oleh isteri dan saudara/I lainnya di kamar mandi. Ia membuat napas buatan kepada adik John sebelum membawanya ke RS. Saya tiba di RS Panti Rapih sesudah dari Kementrian Hukum dan HAM, mendapatkan adik saya sudah tak bernyawa. Pak Bernie merasa napas buatannya memberikan kehangatan kepada John tetapi itu bukan napas dari John sendiri. Ia sudah meninggal sebelum dibawa ke RS Panti Rapih.

Semua orang kaget, shock! Bagaimana kejadian ini bisa terjadi, sementara di pagi hari ini masih sehat. Adik John menggantikan ban yang kempes dari saudara ipar perempuannya, Vina. Kemudian bercanda dengan Syalom, sebelum membantu bu Pronti mencuci semua barang cucian di dapur ketika ia akan membersihkan tangannya sendiri. Sebelum pergi mandi ia menjumpai isterinya  meminta dicium dan dipeluk. Isterinya menemukan kemudian suaminya sudah jatuh terbaring di kamar mandi.

Kematian seperti misteri datang menjemput adik John.  Manusia takut meninggal sendirian. Tetapi dari peristiwa kematian adik John, saya belajar tentang perjalanan seorang anak manusia bersama dengan Sang Pencipta. Kami dan semua pelayat lainnya hampir tidak bisa bayangkan bagaimana mukanya yang begitu tenang diwariskan kepada kami. Tanpa sedikitpun kepanikan, sebagaimana nampak pada wajahnya. Saya bayangkan ia berjalan menuju kepada Sang Pencipta dengan penuh kebahagiaan.  Pelayat muslim sambil menyalami  kami kemudian sesudah memandang wajahnya yang damai mengatakan: "Ia meninggal dalam khusnul khotimah". 

Kami tidak tahu penyebab kematiannya. Ia ditemukan dalam keadaan sudah mandi tetapi belum sempurna menggunakan celana dalamnya.  Celana baru dimasukan separuh pada kaki kanannya sedang bagian kaki kiri celananya sudah hampir terpasang sempurna.  Seperti dalam tulisan “How do People Die in Indonesia?”, suami saya menduga jantung adik John tiba-tiba berhenti.  

Saya bayangkan adik John  kaget dengan kejadian tersebut. Tetapi dalam situasi kritis itulah ia berpegang pada tangan Allah. Ia sendiri dengan Sang Pencipta bergumul. Ia ditemukan tak bernyawa di kamar mandi. Persis ketika ayahanda menghembuskan napasnya, ia juga meninggal ketika tidak seorangpun berada di kamar. Ia meninggal dalam keadaan tidur. Vina, adik ipar saya mengatakan: "Kak John dilahirkan telanjang dan pergi juga dalam keadaan telanjang".

John menikah dengan Elizabeth Titik Lestari di hari ulang tahunnya yang ke 42 pada tanggal 10 November 2011. Ia bertunangan di hari ulang tahun Titik, pada tanggal 24 April 2010. Mereka mempersiapkan pernikahannya hampir 7 bulan. Saya ingat meja marbel bundar di ruang keluar di rumah kami, setiap bulan diletakan satu keranjang berisi keperluan pernikahan mereka sampai akhirnya mejanya penuh. Kami memberikan hadiah hari ulang tahun kepada adik John yaitu pesta pernikahannya. Ia rindu menikah dan ia memperolehnya. Sesudah menikah hampir 3 bulan Tuhan memanggil adik John kembali ke rumahNya.

John menyerahkan dirinya kepada Allah. Titik pernah bertanya kepada John bagaimana ia mengatasi ketakutan dari akibat tugas-tugas yang menghendakinya harus pulang rumah malam, atau berada di jalan raya, membawa motor, mobil atau truk. John mengatakan ia tidak takut karena ia berjalan bersama Allah. Mazmur 23 adalah bacaan dari Alkitab yang selalu John nyanyikan. Liriknya adalah firman Tuhan yang berbunyi begini:

“Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.
Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau,
Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku.
Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena namaNya.
Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya,
Sebab Engkau besertaku;
gadaMu dan tongkatMu, itulah yang menghibur aku.."

Adik John sudah dibaringkan ditidurkan dengan sangat nyenyak. Ia tidur dalam tangan Allah. Yesus mengatakan, Aku adalah kebangkitan dan kehidupan, barangsiapa yang percaya kepadaKu ia akan hidup selama-lamanya. Adik John meninggalkan wajahnya yang tenang dan damai untuk kami semua tahu bahwa di Sorga, di tempat Tuhan berdiam ada keindahan dan kehidupan selamanya. Kita tidak perlu takut terhadap kematian karena hidup dan mati adalah dalam tanganNya sendiri.

Rumah John dekat dengan rumah kami. Setiap hari kami ke sana membasahi makamnya. Pak Muji, seorang modin di mesjid Istiqomah yang adalah tetangga kami, mengatakan rumah adik John bersih. Katanya: "Tidak ada satupun krikil ketika mereka menggalinya".  Orang-orang melihat tanda untuk menguatkan diri mereka sendiri tentang jalan yang baik yang harusnya seorang manusia mengakhir hidupnya. Bumipun menerima adik John kembali keharibaan Sang Pencipta. Perjalanan kematian adik John mengagetkan untuk kami tetapi tidak untuk dirinya sendiri sehingga kematiannya malahan memberikan terang tentang jalan menuju ke rumah Bapa.

Hari ini hujan lebat di Yogya, kami membawa bunga tabur kepada John. Mawar merah putih menghiasi makamnya, menjelaskan tentang warna keberanian dan kesucian, kepolosan hati John terdalam. Hati yang berserah kepada Allah, hati yang mengikuti jalan Yesus, yang harus mati supaya ada kebangkitan kepada kehidupan yang kekal.

Terima kasih adik John untuk hadiah terindah yang hendak diberikan kepada saya.  Sebelum petinya ditutup saya katakan saya belum pernah melihat dirinya yang begitu gagah dalam ketenangan dan kedamaian. Penampilan yang sangat terbaik dari adik John seumur hidupnya, ternyata ketika ia dipanggil pulang ke rumah Allah. Imannya yang mendalam mengajarkan tentang penyerahan diri seutuhnya kepada sang Pencipta.  Terima kasih Tuhan Yesus untuk keindahan dari kesempatan yang diberikan kepada kami bisa hidup bersama John selama lebih dari 5 tahun di Pondok Tali Rasa. Engkau Tuhan telah membuatnya begitu indah, kuat sekaligus lembut berjalan dalam dunia ini dan menuju pulang ke rumah Bapa, sang Pencipta.

Kemarin pagi, tanggal 10 Februari sekitar jam 6, kami semua melihat pelangi melintasi desa Karanggayam.  Saya belum pernah melihat pelangi di Karanggayam kecuali Helio. Tanda harapan diberikan Allah kepada kami supaya kami semua mengiklaskan kepergian John. Istrinya merumuskan ulang RIP yang dalam bahasa Inggeris berarti Rest in Peace, diterjemahkan dalam bahasanya “Relakan Ia Pergi”.  Kami semua merelakan adik John kembali kepadaMu  Allah. Kami percaya Engkau tahu yang terbaik untuk John dan kami sudah melihat kesaksian diri dari John. Ia menemukan Tuhan dalam perjalanannya pulang. Seolah-olah dalam tidurnya ia tampil penuh damai dan sedang memberitahu kami semua tentang keindahan dan kekuasaan Tuhan yang mengambilnya pulang. Mukanya yang damai adalah berita suka cita untuk semua yang datang mengantarkannya pulang.

Di pagi hari ini, 11 Februari 2012, dalam doa saya, dan pembacaan firman, saya melihat adik John datang mengecup pipi saya. Ia berpakaian putih, matanya tersenyum dan tanpa kata-kata saya dikecup kemudian ia pergi. Terima kasih John untuk kelembutanmu. Semangatmu akan diwariskan kepada banyak orang di sekitar kami. Selamat jalan adikku terkasih.

Jumat, 30 Desember 2011

MENARASIKAN TINDAKAN DI TAHUN 2011


Menarasikan tindakan di tahun 2011
Oleh: Farsijana Adeney-Risakotta*)

Tindakan adalah perbuatan untuk mengalami  perasaan dan kesadaran dari apa yang dipikirkan, apa yang dirasakan, apa yang diinginkan dan apa pernah dialami. Tindakan bukanlah semata-mata suatu pengalaman. Sebagai perbuatan yang dilakukan dalam kesadaran, tindakan bisa terasa bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga di sekitar diri kita. Gambaran visualisasi tindakan bisa dijelaskan seperti lemparan batu yang tenggelam  dalam genangan air sesudah meninggalkan efek getaran melingkar memutar yang melebar keluar dari pusaran ke pinggiran. 

Tindakan meninggalkan efek sensasi dalam kesadaran diri yang bisa membekas menjadi ingatan untuk setiap saat dapat tampil kembali dalam perjumpaan sentuhan jaringan kenangan yang hampir mirip. Tindakan bisa merindukan tetapi juga dapat mendorong pada amnesia, upaya untuk melupakan karena perbuatan yang terjadi menimbulkan kesakitan mendalam pada diri sendiri.

Menarasikan tindakan bisa menjadi pilihan yang paling bijaksana untuk mendewasakan diri sendiri sehingga mampu menerima dalam ketabahan dampak perbuatan yang membekas baik sebagai sensasi kebahagiaan maupun kesakitan.  Narasi dan tindakan seperti satu kepingan uang berwajah dua. Tindakan bisa memanipulasi kebenaran yang dipercayai dalam diri ketika diupayakan suatu penjelasan untuk menguraikan perbuatan yang terjadi. Tindakan sulit ditipu kecuali dalam cara penuturannya kembali untuk menjelaskan perbuatan yang dilakukan. 

Saya ingin menyederhanakan dialog dalam diri tentang tarikan narasi dan tindakan.  Setidaknya narasi yang sedang diupayakan ini bukan suatu kajian akademik yang rumit. Narasi yang sedang dibiarkan mengalir saat ini adalah upaya menuturkan kembali jejak-jejak perbuatan yang akan ditinggalkan dalam kenangan tahun 2011. Ketika narasi terbentuk, ingatan membangunkan kekuatan sejarah diri dari suatu peristiwa perbuatan yang patut dihargai diterima karena ia sudah pernah dilahirkan sebagai bagian dari diri sendiri. Ia bahkan bersejarah dalam ingatan bersama sebagai komunitas.

Cinta sudah sangat kuat menjadikan diri sendiri ingin hidup terus dalam kemudaan kebahagiaan jejak-jejak perbuatan yang menggembirakan diri dan sesama.  Pesona cinta adalah bagian dari rahasia pengetahuan semesta. Inilah yang hendak saya ukirkan dalam tahun 2011. Cinta adalah kehidupan yang berbagi dengan sesama. Bukan karena saya seorang perempuan, sehingga rela memilih untuk mendahulukan cinta dalam hati. Getaran cinta telah dipancarkan oleh semesta raya, diberikan kepada diri saya untuk menyentuhnya dengan tampilan yang terus bergerak mengubah. 

Cinta membiduk perahu kehidupan diri berlayar dalam badai, ketersesatan arah, sebelumnya tiba dilabuhan yang pernah ditargetkannya. Perhitungan perjalanan dipikirkan matang-matang, strategi diturunkan seperti anak tangga dibentangkan menitik jalan pencapaian.  Tetapi cinta mengajarkan kelapangan tangan membuka untuk menyerahkan perjalanan dalam tangan Sang Pencipta dan semesta raya.

Ada banyak yang dilakukan karena cinta. Cinta pengetahuan untuk berbagi seperti membagikan napas hidup sesudah menerima ruang untuk bernapas mendalam.  Ada banyak yang belum bisa dilakukan sekalipun cinta menguat untuk berbagi. Cinta menolong menepiskan rasa frustasi.  Sesama manusia adalah mereka, bukan diri saya sendiri. Saya mensyukuri kesempatan untuk mengalami tindakan kehidupan yang terpancar dari setiap perjumpaan saya dengan mereka yang berada di berbagai tempat di mana saya datang menjumpainya.

Mereka ada di sekitar tempat tidur saya, di ruang makan, di dapur. Mereka ada di mulut jalan dan sepanjang lintasan jalan ketika saya jogging. Mereka memberikan inspirasi tentang kehidupan. Mereka ada di kereta api, di pesawat, di  bus, di kapal, di mobil pribadi. Mereka ada di mana-mana. Mereka mungkin jarang bertanya tetapi ekspresi muka, tatapan matanya, gerakan tubuhnya, dan ketika suaranya terpecah, mereka berkata-kata, saya terngangah. Dari mata seolah-olah mereka sedang berada dalam pesta, atau mereka sedang memikul batu nisan. Mereka dijumpai di pelosok pedesaan di Kulon Progo, Gunung Kidul, Sleman, Bantul dan Kota Yogya. Mereka menanti saya dengan ketulusan diri yang menyentuh mendalam membawa pulang kembali ke rumah diri.
 
Kehidupan dari cinta membuka misteri diri mengeliat menyusuri lorong gelap tak terumuskan dalam makna mengubah dirinya menjadi pengertian yang mengherani diri sendiri. Cinta memastikan kehidupan bukan sekedar panggung sandiwara. Kehidupan adalah pergolakan pergulatan pergeliatan pembebasan cinta mengubah dunia menjadi bahagia supaya bisa tertidur menyenyak.

Mungkin karena diri saya bergolak dengan kerja fisik, menolong seseorang bukan hanya dengan kata-kata himbauan, tetapi melakukan tindakan yang dapat diingat bersama sebagai proses kerja akal budi. Mungkin karena konsistensi gerakan tubuh sebagai tanda kepedulian dari tindakan cinta, sebelum terlalu malam saya sudah tertidur terlelap. 

Kecapaian seharian menggunakan akal, otot dan budi untuk menghadirkan kehidupan, mengubahnya menjadi tindakan yang menggelora dari angan-angan yang dimimpikan. Saya sudah tertidur dengan getaran ingatan tentang keluasan perbuatan yang terjadi sebelum rumusan narasi terbentuk.  Ada banyak bolong-bolong hari-hari tanpa narasi walaupun tindakan terus terukir dalam derap langkah dan pengalaman yang dibuat bersama dengan berbagai orang dan kelompok.

Kesakitan sesama, kematian, kemiskinan mereka, kepapahannya memilukan diri sendiri yang membawa semuanya dalam rasa capek mendalam sehingga tertidur memulas sambil mendengungkan narasi dalam rasa diri. Sudah saya syukur tahun 2011 sehingga sekarang saya dipenghujungnya.  Sudah saya serahkan diri semua tindakan diri diselimuti dalam kebajikan tahun 2011. Sudah saya upayakan supaya gerakan kehidupan yang kuat dalam diri ditularkan memancar mengena seperti lingkaran lemparan batu meninggal dalam bekasnya di permukaan air.  

Efek putarannya belum terlalu kuat terasa, sebaiknya diakui saja. Keprihatinan bangsa terhadap kemiskinan, kekayaan, korupsi, tingkat bunuh diri, kekerasan HAM  di berbagai daerah, keprihatinan HIV/Aids masih meninggalkan kegelisahan diri secara intelektual maupun kemanusiaan.  Memikirkan ulang cara terbaik untuk merespons semua penderitaan bersama sebagai bangsa, menjadikan pekerjaan rumah yang masih terus harus dilanjutkan di tahun 2012.

Sendiri saja mengubah dunia adalah kesia-siaan. Sudah saya akui kebenaran itu sehingga membangun gerakan meluas menyentuh mereka yang perlu. Ketika mahasiswi-mahasiswi membawa anak bayinya ke kelas, anaknya bermain dengan ibunya yang sudah selesai presentasi tugas, saya terhidup bahwa mereka tetap memberikan keseimbangan kepada dirinya dan anaknya. Semuanya terjadi dalam kelas saya. Ketika seorang bapak mengambil peran membuat minuman sementara isterinya sedang berbincang-bincang dengan saya dan teman lainnya, makin jelas tentang perjuangan kami kaum perempuan adalah bagian dari kehidupan bersama kaum lelaki.

Ketika anak-anak mementaskan karya tarian mereka membayangkan dunia para dewa dewi sedang menetes dalam dirinya sendiri. Keindahan sebagai impian putri keraton ternyata juga adalah tindakan dari perbuatan bersama yang menghadirkan impian anak-anak sederhana dari keluarga di desa yang sehari-hari berlumpuran di sawah. Tampil anggun, perkasa, mereka juga adalah putri-putri kehidupan yang menjadikan rekaman tindakan tahun 2011 mengngayakan. 

Bersama mereka kita telah berjalan sejauh perbukitan di pantai selatan, di daerah ziarah untuk meletakan jejak penemuan dirinya sendiri. Kupandangi sekarang semuanya dengan syukur, kalau hal itu bisa terjadi sekalipun dalam kesederhanaan alam semesta. Mereka sudah mengerti cara menjejaki dirinya.

Duduk bersama dengan kolega dan mahasiswa-mahasiswi di akhir perkuliahan pada meja bundar di ruang makan keluarga. Pertanyaan tetap penting, tetapi yang paling penting adalah tindakan kepedulian kepada mereka tentang jalan yang pernah saya juga tempuh. Pertanyaan bukanlah suatu pembantaian! Pertanyaan untuk mendorong mereka menemukan pertanyaannya sendiri. Bisakah dilakukan sambil menikmati masakan saya? 

Inilah yang saya syukuri! Pengetahuan tidak cukup hanya sebagai pengetahuan, ia bisa diubah menjadi makanan yang enak untuk dibagikan bersama. Pengetahuan adalah keinginan dialogis mendalami pertanyaan yang bisa dijawab melalui cara memproses yang unik seperti sharing sambil menikmati santapan bareng. Saya membagikannya dengan keluarga, mahasiswa/I, teman-teman gerakan, kolega. Saya bahagia.

Dalam tradisi Kristiani, Yesus mengubah air menjadi anggur pada pernikahan di Kana.  Sesudah persiapan 9 bulan, di bulan November tanggal 10 tahun 2011, keajaiban terjadi. Saya dengan keluarga bisa memasak kepada tamu-tamu dalam pernikahan adik. Termasuk menyajikan menu bakso yang kemudian menjadi titik awal usaha mereka. Sekarang Bakso Obama sudah memasuki usia sebulan. Obama dalam bahasa Jawa punya singkatan seperti ini: ora obah ora mangan, tidak bekerja tidak makan. Pernikahan selalu menghadirkan keajaiban kepada diri sendiri dan semua orang yang datang mensyukurinya.

Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan ke-14 tahun saya dengan suami. Kami semua makin menua. Bumi lebih tua tetapi tetap memelihara kehidupan. Bumi adalah inspirasi dari kehidupan yang mengairahkan diri mencapai komitmen bersama di tahun-tahun mendatang. Biarlah saya diberikan melihat mentari dalam keajaibannya. Saya sudah diberikan kesempatan oleh semesta raya. Ketika terlalu banyak kelabu, awan di musim penghujan. Keajaiban semesta terjadi di sore tanggal 28-12-2012 ketika mentari sore membentuk payudara terbalik tampil di batas horizon di lautan selatan yang bisa ditatapi dari Pondok Jati Rasa. Keajaiban dan keabadiannya  saya bagikan kepada jejaring saya di Facebook. Ibu bumi ilahi sedang menyusui semesta raya.

Tetapi haruskah narasi payudara ilahi diperbesar-besar dengan menafsir tentang apa maknanya? Mungkin alam semesta hendak berbicara kepada saya supaya meniru lakunya yang terus merawat bumi.  Bencana kapan saja bisa terjadi dalam hidup manusia. Perempuan adalah sosok yang sudah siap untuk menjadi tiang penghiburan dan perawatan bagi keluarga dan masyarakat.  Merawat anak-anak saya! Mereka yang tersebar di mana-mana, mereka anak-anak kehidupan!  Mungkin itu yang bisa saya simpulkan menutup narasi tahun ini. Setiap tiang bisa berbeda bentuk, dalam keindahan dan kekuatannya.  Jadi inikah sebabnya saya berbahagia?  Saya bahagia! Terpujilah Allah semesta raya.

*) seorang aktivis akar rumput, antropolog dan teolog tinggal di Yogyakarta

Dua belas hari Natal 2011: Bersama Sang bayi kudus memasuki Tahun Baru 2012


Dua belas hari Natal 2011: Bersama Sang bayi kudus memasuki Tahun Baru 2012
Oleh: Farsijana Adeney-Risakotta*)

Masa Natal diapit oleh masa Advent dan masa Epifania. Masa advent adalah masa persiapan sebelum Natal, yaitu kira-kira 4 minggu sebelum tanggal 25 Desember. Sedang masa Epifania dimulai sesudah Tahun Baru.  Epifania terkait dengan perayaan kedatangan orang Majus melihat bayi Yesus. Dalam tradisi gereja timur, epifania berkaitan dengan tradisi baptisan yang terjadi pada Yesus Kristus, sesudah perayaan hari Natal pada tanggal 6 Januari.

Memasuki Natal 2011 hingga menjelang Tahun Baru, saya memikirkannya, mengapa ada Natal dan Tahun Baru? Mengapa Natal dan Tahun Baru bersisian sebagai satu paket?  

Umat Kristiani mewarisi Natal dalam tulisan-tulisan Injil di Perjanjian Kedua.  Injil Matius dan Lukas menuliskan cerita tentang kelahiran Yesus Kristus. Hanya Injil Yohanes menuliskan kelahiran sebagai pemaknaan logos yaitu firman yang menjadi manusia. Bentuk penyajian tulisan dalam Injil Yohanes lebih filosofis untuk menjelaskan iman Kristiani kepada masyarakat berlatar belakang gnosis yaitu aliran pengetahuan yang mengintegrasi berbagai ajaran tentang kehidupan.

Kedua Injil, Matius dan Lukas menutur tentang kelahiran Yesus Kristus sebagai bagian dari kronologis sejarah seorang manusia.  Terlahir dari darah biru Raja Daud yang berakar pada tradisi kerajaan Israel, Yesus Kristus sekaligus adalah messiah yang dinantikan untuk melakukan pembaharuan perjanjian Allah dengan manusia. 

Berbeda dari kebanyakan realitas kebiruaan seorang keturunan raja, Yesus Kristus dilahirkan dari darah perawan Maryam di kandang hewan di Betlehem.  Lokasi yang sering dianggap hina, ternyata adalah tempat yang maha penting dalam sejarah kelahiran bayi Yesus Kristus.  Karena di tempat inilah, kelahiran Yesus Kristus ternyata mempertemukan tiga orang Majus, mewakili kaum kerajaan, intelektual dan pedagang dengan para gembala yang kehidupan sehari-harinya berada di padang belantara.

Mereka yang datang menemukan keajaiban Allah dalam diri sang bayi kudus, Yesus Kristus  yang mengenainya masing-masing menerima tanda yang berbeda-beda. Para gembala mengetahui tentang kelahiran Yesus karena didatangi sendiri oleh malaikat-malaikat ketika mereka sedang mengembalakan ternaknya di padang.  Sedangkan para Majus dari Timur melihat tanda kemahakuasaan Allah melalui petunjuk dari bintang yang besar membiru lain dari biasanya. Mereka mengikuti bintang sebagai petunjuk sampai tiba di kandang di mana sang bayi sedang dibaringkan di dalam palungannya di kota Betlehem.

Cerita kisah kelahiran bayi kudus ini masih direnungkan sesudah 2000 tahun silam sejak peristiwa sejarah dari kelahiran Yesus Kristus. Dalam tradisi Kristiani, kisah kelahiran bayi Yesus Kristus diabadikan melalui perayaan Natal. Natal sebagai kata berakar pada bahasa Latin, Natalis, yang berarti kelahiran.  Kitab-kitab Injil tidak mencatat secara pasti kapan Yesus Kristus dilahirkan. Tetapi narasi kelahiran seperti yang dijelaskan di atas, dengan dimulai dari pemilihan ibunda Yesus, Maryam yang dilakukan sendiri oleh Allah merupakan tradisi yang dipercayai di kalangan umat Kristiani maupun umat Muslim sebagaimana kisahnya dituliskan dalam buku Maryam dalam Al Quran. 

Tulisan saya lainnya pernah menjelaskan tentang perbandingan peran Maryam dalam kelahiran Yesus Kristus sebagaimana digambarkan oleh Injil maupun dalam Al Quran (lihat Natal Perbandingan Alkitab dan Al Quran untuk analisis konspirasi advent di Amerika Serikat   <old.nabble.com/Natal:-Perbandingan-pemberitaan-dalam-Alkitab-dan...>).  Walaupun Gus Dur pernah menulis tentang adanya perbedaan maksud perayaan Natal dan Maulid di kalangan umat Muslim (Harlah, Natal dan Maulid, di dalam media.isnet.org/antar/etc/GusDurNatal.html).   Argumentasi Gus Dur terkait dengan kepercayaan umat Kristiani bahwa Natal diperlukan karena kelahiran Yesus Kristus sebagai upaya penebusan dosa asal yang diwarisi manusia sejak kejatuhan manusia pertama (Adam) dalam dosa.  Sedangkan perayaan  Maulid Nabi Muhammad SAW mulai dilakukan pada masa perang salib di tanah suci Yerusalem untuk menguatkan kaum muslim dalam perjuangan mereka bersama melawan infidal.

Pada sisi tertentu, saya bahkan berpendapat bahwa tentang tanggal kelahiran Yesus yang tidak dicatat oleh penulis Injil sebenarnya menunjukkan upaya untuk tidak terjebak pada berbagai bentuk perayaan yang serupa dengan perayaan hari ulang tahun raja yang sangat meriah diupacarakan pada saat itu.  Alasan gereja kemudian menetapkan perayaan Natal pada kira-kira abad 6 M adalah untuk mempersatukan umat Kristiani sebagai suatu oikus, rumah yang berada dan tersebar dimana-mana.  Jadi alasan ini hampir mirip dengan penetapan perayaan Maulid di kalangan muslim.

Pilihan tanggal perayaannya dilakukan oleh Gereja dengan mengadopsi hari perayaan keberadaan matahari terpanjang pada bulan Desember di musim dingin. Pilihan hari perayaan tanggal 25 Desember adalah upaya kontektualisasi dalam teologi Kristen terkait dengan kelahiran Yesus Kristus.  Secara historis, gerakan penolakan kontekstualisasi teologi kelahiran bayi Yesus pernah terjadi di kalangan puritan Inggeris di sekitar abad 15 M. Tetapi gerakan puritan ini terlalu lemah untuk mengubah wacana gerakan kontektualisasi teologi Kelahiran Yesus Kristus karena kemudian diakui bersama tentang lamanya perayaan Natal yaitu 12 hari terhitung dari tanggal 25 Desember sampai tanggal 6 Januari. Gereja-gereja Katolik dan Protestan merayakan Natal pada tanggal 25 Desember. Gereja-gereja Timur (Ortodoks) merayakan Natal pada tanggal 6 Januari.

Perbedaan tanggal perayaan tidak menghilangkan maksud dari pekerjaan penyelamatan Allah kepada manusia dan alam semesta seluruh melalui kelahiran Yesus Kristus. Yesus lahir mempertemukan berbagai lapisan masyarakat mulai dari kalangan ningrat, terpelajar, pedagang sampai dengan mereka yang papah dan terpinggirkan. Kelahirannya adalah bagian dari rencana penyelamatan Allah untuk memperbaharui relasi sosial yang terputus dan kebijakan bersama yang tidak adil untuk mendatangkan kesejahteraan bagi semua.

Fenomena sang bayi pembawa damai, keadilan, penghiburan dan ketenangan sudah dinantikan sejak  jaman nabi-nabi seperti dijelaskan dalam Kitab Yesaya pada Perjanjian Pertama (Yesaya 61: 1-2). Bunyinya: “ Roh Tuhan Allah ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan..”

Gambaran penugasan Sang juru selamat, messiah yang dinantikan digenapi dalam kelahiran Yesus Kristus. Sang bayi berdarah biru, adalah pelayan manusia. Tugas pelayanan terhadap manusia, seringkali bukan merupakan agenda dari para raja-raja yang berkuasa di dunia. Kekuasaan manusia adalah kekuasaan untuk menaklukan, mengalahkan, memenangkan pertarungan, meminggirkan mereka yang kalah dan memelihara kebencian sebagai akibat dari derita kekerasan yang pernah diterimanya. Bayi Yesus, sang Pendamai dibutuhkan untuk meluruskan kembali jalan Allah dalam dunia ini untuk mengiring pembuat kebijakan, kaum aristoraksi, kaum intelektual, kaum politikus, kaum pedagang, kaum birokrat untuk mengingat tentang tujuan pelayanan abadi yang mereka emban. 

Bayi Yesus tidak cukup diposisikan dalam tradisi untuk memberikan legitimasi terhadap penampakan luar dari kehidupan bermasyarakat yang dapat terlihat bersama, tentang ketulusan politik seseorang atau sekelompok orang.  Perayaan Natal adalah memberikan kesempatan kepada diri sendiri maupun kelompok, atau umat untuk melakukan dengan sungguh perjuangan pembebasan sebagai rahmat Allah yang merupakan hak dari semua makluk di mana semua umat manusia yang dikasih Allah hidup dan berada. Tanpa pembebasan diri kita dari berbagai tujuan hidup yang akhirnya mengorbankan menyebakan ketidakadilan ketiadaan bahagiaan, damai sejahtera, ketenangan, perayaan Natal akan tampil sebagai cara memuaskan ego spiritualitas pribadi dan umat yang cenderung bersifat semu semata. 

Disinilah maknanya terhadap persiapan memasuki Tahun Baru 2012. Tahun Baru, yaitu 1 Januari menurut kalender Gregorian adalah suatu tanda penyertaan Allah kepada umat manusia.  Tahun Baru adalah bagian dari rangkaian perayaan 12 hari Natal. Dalam tradisi, menurut perhitungan Gereja, 1 Januari adalah delapan hari sesudah kelahiran Yesus yang kemudian diserahkan kepada Allah. Yesus dibawah ke dalam Sinagoge untuk diterima oleh umat sebagai tanda kesediaan orang tua dan jemaat membimbingNya menuju pada jalan Allah.  Umat Kristiani khususnya belajar untuk mengantarkan dirinya kepada Allah membimbingnya menjalani lagi 365 hari yang masih misteri untuknya.

Tahun Baru adalah tanda tindakan penyertaan Allah dalam hidup manusia. Menyatakan diri mengikuti jalan Allah, bisa dilakukan oleh berbagai agama, menurut pemahamannya masing-masing. Mengikuti dan menyerahkan diri kepada Allah merupakan inti dari kehidupan iman yang nampak pada ajaran agama-agama di muka bumi, sebagaimana juga bagian dari iman Kristiani dengan keunikan ajaran dan penafsirannya.

Perayaan Tahun Baru bukan sekedar penerimaan otoritas pergantian tahun menurut kalender Gregorian, tetapi telah menjadi bagian dari pergumulan iman setiap insan manusia. Kemisterian tentang masa depan, dikembalikan lagi kepada sang Pencipta, yang dipercayai dapat menuntun kehidupan manusia ciptaanNya. Kepastian tentang tangan Sang Pencipta, tangan Allah yang mengasihi umatNya memberikan peneguhan penerusan langkah kehidupan dari mereka yang percaya penuh kepadaNya.  Tanpa ramalan-ramalan, termasuk adanya ramalan kiamat di tahun 2012,  mereka merasa tenang melakukan apa yang diwajibkan demi mencapai kehidupan yang adil berdamai sejahteraan dengan alam semesta dan seluruh ciptaanNya.  

Selamat Natal 2011 dan  Tahun Baru 2012.

*) Seorang aktivis akar rumput, antropolog, dan teolog tinggal di Yogyakarta

Rabu, 21 Desember 2011

Pertanggungjawaban Representasi Perempuan Politik


                                         Pertanggungjawaban Representasi Perempuan Politik.
                                           Refleksi 83 tahun perjuangan perempuan Indonesia

                                               Oleh: Farsijana Adeney-Risakotta*)

Pemikir politik,  Hanna Pitkin (1967) meneliti tentang sejarah representasi sejak jaman Yunani sampai dengan pemerintahan demokrasi Amerika Serikat di abad 20. Penelitian ini mendefinisikan representasi  sebagai aktivitas untuk menghadirkan suara warganegara baik dalam bentuk perspektif, opini melalui proses pembuatan kebijakan publik. Representasi politik terjadi apabila pelaku-pelaku politik berbicara, mengadvokasi, bertindak atas nama yang lain. 

Istilah politik menjelaskan tentang pengaturan relasi kekuasaan dalam suatu sistem yang disepakati bersama. Asal usul kata politik dalam bahasa Yunani berkaitan dengan tata cara pengaturan kehidupan di kota. Mereka yang terlibat dalam pengaturan kota disebut warganegara.  Melalui buku ke-2 Aristoteles, Politics: A Treatise on Government  yang ditulis 2400 tahun lalu, penjelasan tentang warganegara dipaparkan bersandingan dengan diskursus tentang representasi mereka dalam pengaturan kota melalui pemilihan umum.  Kemajuan demokrasi terlihat karena keputusan penyelenggaraan kota bukan semata wewenang dari kaum aristokrasi. Warganegara pada jaman itu adalah para lelaki yang bebas,  pengrajin, birokrat pemerintah, pemilik tanah dan bangsawan. 

Perempuan dan budak belum termasuk dalam kategori warganegara dan partisipasi mereka belum ada dalam pengaturan kota. Jadi keterlibatan perempuan dalam politik  merupakan perubahan panjang dari sejarah pergerakan berabad-abad, rentangnya masih muda dan terus harus diperjuangkan. Mekanisme politik representasi menunjukkan keterlibatan semua warganegara tanpa perbedaan gender dan status sosial dalam pengurusan kepentingan-kepentingan bersama di dalam masyarakat dan negara. 

Di Indonesia, dampak dari Reformasi mengubah dan mengembalikan spirit gerakan perempuan di awal perjuangan kemerdekaan Indonesia seperti terjadi pada Kongres Perempuan Pertama pada tanggal 22 Desember 1928 yang  perayaannya dilakukan sebagai hari Ibu.  Kongres ini adalah contoh dari politik kolektif perempuan memperjuangkan hak-haknya dan hak bersama merebut kemerdekaan.  Stagnasi dari pergerakan perempuan semasa Orde Lama dan domestiksasi gerakan PKK pada masa Orde Baru mendapat perubahan yang signifikan pada masa Reformasi. 

Keterwakilan perempuan berkaitan dengan argumentasi bahwa hanya perempuan yang dapat memperjuangkan kepentingannya.  Dari masalah air, listrik, pangan , pendidikan, kesehatan, KDRT, akses kepada fasilitas umum, sandang dan partisipasi ekonomi yang adil memerlukan keterlibatan perempuan merumuskan kebijakan-kebijakan yang berperspektif adil gender.  Kontribusi perempuan tidak cukup hanya sebagai pembayar pajak kepada negara. 

Hasil penelitian UNDP di berbagai negara menunjukkan korelasi antara tingginya partisipasi perempuan sebagai legislator terhadap pencapaian pembangunan di semua ranah. Dampak Reformasi dengan hadirnya berbagai perundangan yang terkait dengan keterwakilan perempuan sampai 30% yang adalah produk dari kebijakan tindakan khusus sementara (Instruksi Presiden No 2/2000, UU no 12/2003, UU no 10/2008, UU no 31/2002) ternyata turut berpengaruh terhadap peningkatan kapasitas perempuan dan kepercayaan masyarakat untuk memilih perempuan sebagai wakil rakyatnya. Presentasi dan prestasi keterlibatan perempuan bisa terlihat pada penambahan representasi perempuan baik di DPR ( 18,04%  ), DPD ( 26,52%  ) sampai pada tingkat DPRD Tingkat I dan Tingkat II. Perempuan juga mulai dipercayai masuk dalam kepengurusan partai politik pada jabatan-jabatan yang strategis.

Search for Common Ground memfasilitasi Refleksi Politik Perempuna Parlemen dengan menghadirkan anggota legislatif perempuan DPRD dari beberapa propinsi, DPD RI (GKR Hemas), aktivis Koalisi Perempuan Indonesia dari beberapa daerah dan aktivis dari Solidaritas Perempuan.

 
Transformasi politik representasi yang menguntungkan perempuan ini mengundang  kewaspadaan kritis dari perempuan politik maupun seluruh lapisan gerakan perempuan di Indonesia.  Tantangan itu terutama berkaitan dengan pertanggungjawaban politisi perempuan terhadap agenda keberpihakan memperjuangkan isu-isu yang sangat dekat dengan realitas perempuan Indonesia saat ini.  Menurut BPS RI jumlah penduduk perempuan tahun 2001 lebih banyak dari lelaki (51%). 

Pertumbuhan populasi perempuan ini belum sejalan dengan pencapaian tingkat kesejahteraan yang dinikmatinya. Kemiskinan masih mendominasi warna kehidupan perempuan di Indonesia.   Berbagai faktor kemiskinan yang terkait dengan rendahnya pendidikan, hambatan sumber-sumber alam yang dapat dikelola dan kebijakan pemerintah yang tidak sensitif gender.  Rata-rata penghasilan perempuan masih belum memenuhi syarat dari ketentuan PBB untuk mencapai pembangunan milinium yaitu $2 per hari atau kurang dari Rp 20.000 per hari.

Seorang wakil rakyat yang mewakili dirinya sebagai bagian dari politik representasi perempuan seharusnya membawa kesadaran tentang kenyataan banyaknya perempuan Indonesia yang miskin. Adalah suatu malapetaka apabila representasi politik perempuan semata-mata dicapai  untuk memenuhi strategi kepartaian terutama apabila perempuan menjadi jalan pintas penyaluran dana-dana proyek kepada partai. Kasus yang sedang kita semua amati terkait dengan kemungkinan keterlibatan politisi Angelina Sondakh dalam dugaan korupsi bersama di jajaran Partai Demokrat bukan saja melemahkan partai itu sendiri tetapi perjuangan bersama gerakan perempuan untuk mewujudkan keadilan sosial, kesejahteraan dan perdamaian dalam pembangunan di Indonesia. Deretan nama perempuan lain yang diduga terlibat korupsi juga bisa ditambahkan dalam daftar panjang korupsi di Indonesia saat ini.

Kasus-kasus keterlibatan perempuan dalam korupsi patut direfleksikan mendalam oleh gerakan perempuan di Indonesia terutama memikirkan bentuk penguatan kapasitas politisi perempuan supaya bisa resisten terhadap sistem konspirasi korupsi di sekitarnya. Bahkan dari resistensi ini, diharapkan korupsi sebagai epidemik dari penyakit bersama bisa diberantas. 

*) Akitivis akar rumput, antropolog dan teolog tinggal di Yogyakarta