Translate

Kamis, 21 November 2013

Merenungkan Papua, Menguatkannya!


 Merenungkan Papua, Menguatkannya!

Artikel ini juga bisa dilihat dalam versi bahasa Inggerisnya yang dimuat pada blog saya lainnya
http://farsijanaforpizza.blogspot.com/2013/11/contemplating-and-reinforcing-papua.html
 
Oleh Farsijana Adeney-Risakotta

 

Di tengah pengetikan kisah hidup tokoh-tokoh Papua saya tiba-tiba ingin menulis sebentar karena kegelisahan dalam diri.  Seorang teman menulis surat kepada kami dengan berharap saya tidak harus melewati penderitaan dalam diri sendiri untuk mencapai keadilan bagi orang-orang Papua. Rasa simpatiknya terhadap penderitaan patah tulang belakang sangat saya hargai. Tetapi mungkin kalau saya tidak patah tulang belakang, saya tidak akan berada di belakang komputer untuk menulis tentang penderitaan saudara-saudara Papua. Saya sudah menulis banyak sekali untuk forum Petisi Warganegara NKRI untuk Papua. Diantara tulisan-tulisan saya itu,  ada 40 tulisan yang dikompilasi bersama dengan satu tulisan yang masing-masing penulis yaitu  oleh Erich Kaunang dan Nano Apituley yang kemudian berwujud dalam bentuk  buku berjudul Petisi Warganegara NKRI untuk Papua (Adeney-Risakotta: 2013).

Artikel-artikel tersebut ditulis dalam berbagai tema terkait dengan kenyataan hidup orang Papua, kekuatan membangun Papua, pembangunan yang bertanggungjawab di tanah Papua, Perangkat Hukum sebagai dasar penguatan kembali  pemberdayaan Papua, dan Inisiatif Perdamaian Papua. Kajian sejarah mendapat tempat di bagian paling awal dari tulisan-tulisan saya sekalipun masih dinilai oleh novelis pertama perempuan, Aprila R.A Wayar belum merepresentasi situasi yang dapat mendorong munculnya diskusi mendapat di antara orang-orang Indonesia tentang Papua demikian halnya di antara orang-orang Papua tentang pergumulan kesejarahan mereka. Saya berharap upaya yang sedang  lakukan dengan mengetik keduabelas kisah hidup tokoh-tokoh Papua akan bisa menjawab komentar dari Aprila R.A.Wayar, terhadap upaya sesama warganegara NKRI dalam memahami bersama pergumulan orang asli Papua.

Akan tetapi harus saya akui,  sesudah hampir dua tahun bergelut dalam pendalaman materi-materi tentang Papua untuk tujuan pembelajaran bagi sesama warganegara NKRI untuk Papua, saya baru sekarang sungguh-sungguh merasa sangat sakit. Sejarah yang dimaksudkan oleh Aprila adalah sejarah perjuangan panjang anak bangsa untuk mempertahankan eksistensinya di tengah proyek menjadi manusia modern yang digagaskan oleh Indonesia.  Kepedihan ini ternyata mendalam karena kesakitannya melebihi  rasa sakit dari tulang belakang yang patah.  Kepedihan itu berhubungan langsung dengan jeritan penderitaan saudara-saudara Papua selama berpuluh tahun. Jeritan belum pernah saya dengar sehingga mengagetkan karena kekejaman yang menyerupai kebiadaban yang dilakukan oleh bangsa saya sendiri kepada sesama warganegara Indonesia di tanah Papua.  Sang manusia dalam kekejamannya masih bisa tersenyum menawan dalam keiklasan memohonkan pengampunan sebagaimana terlihat dalam melafalkan  ayat-ayat Firman Allah dalam syafaat dan penyembahan kepadaNya. Nilai-nilai luhur untuk mencapai masyarakat demokratis seolah-olah jelas pada saat penyembahan tetapi kemudian menipis bersentuhan dengan keganasan ankara raya.

Tidak mudah mengetik ulang cerita dari penderitaan orang lain, terutama mereka yang mengalami penderitaan karena pernah dipenjara, menjadi target untuk ditangkap bahkan dengan ancaman nyawa sekalipun. Menulis ulang dari cerita seorang yang menyaksikan kekerasan yang terjadi di depan matanya sendiri. Dalam cara mereka yang sangat berani untuk mengungkapan kekerasan yang dilakukan oleh mereka yang melebihi kebrutalan seorang manusia, dalam kekuatan ini, saya melihat ada harapan untuk suatu kehidupan dibangun kembali dari orang-orang  terseleksi yang bertahan dalam kehidupan yang ganas di tanah Papua.  Muncul harapan saya kepada orang-orang Papua, para tokoh-tokoh Papua ini, karena ketahanan mereka menyebabkan mereka seperti emas yang berkilau. Ketahanan dalam memperjuangan keadilan sebagai haknya untuk hidup telah mendorong keberanian yang tulus tampil sekuat kehidupan itu sendiri untuk mengubah kenyataan dari nasib buruk yang sudah ditargetkan menimpa pada orang-orang Papua. Saya dikuatkan karena nasib buruk itu adalah pekerjaan tangan dari manusia yang kekuatannya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan tangan Sang Pencipta yang menginginkan orang-orang Papua terus hidup mewarisi buminya sendiri.

Saya dibesarkan dengan cerita-cerita dari kakek dan nenek yang tentang ketulusan orang-orang Papua yang sekaligus sangat sensitif untuk bereaksi ketika mereka merasa ditolak karena perbedaan cara hidupnya. Pada awal tahun 1940an, orang-orang Papua di Serui masih menggunakan cawat bagi lelaki dan bertelanjang dada untuk perempuan. Kebiasaan ini sekarang masih dijumpai di beberapa tempat di pedalaman. Sekarang Serui dan Biak sudah menjadi daerah yang terbuka, yang sekaligus sebagai target turisme di mana orang-orang Papua dengan pakaian adat malahan didorong untuk tampil kembali dalam upacara-upacara untuk menyambut turis-turis yang datang ke Papua untuk melihat keeksotisan budayanya. Paket turisme yang menggagaskan jualan kebudayan yang beradab ternyata menyimpan kontradiksi terkait dengan fantasi kedirian manusia modern yang hilang tetapi terpelihara di dunia yang dianggap terbelakang, primitif dan bisa dibodohkan.  Ironis peradaban yang tampil elegan dengan kaya hidup ekslusif, perjalanan lintas dunia tetapi sekaligus dilakukan dalam mentalitas manusia yang cenderung memperbudak mereka yang lemah yang hanya bisa mendapat uang dari jualan budaya sebagai paket eksotisme yang memberikan pendapatan kepada negara tidak kepada artis-artis lokal yang dianggap tanpa kelas sosial.

                       Danau Sentani yang indah di Jayapura (Koleksi: Farsijana)

                                               Biak dilihat dari pesawat (Koleksi: Farsijana)

Padahal Papua melebihi semua yang dibangun sekarang ini sebagai keindahan dan kekayaan yang harus dibawa keluar dari tanah Papua meninggalkan kemiskinan dan kehampaan bagi orang asli Papua.  Kekuatan hidupnya bersama alam, dengan gunung-gunung yang menjulang tinggi, sunga-sungai yang melebar, dan penuh dengan kelimpahan makanan, kesatuan irama musik yang membangun kesadaran bersama orang Papua adalah bukti kehadiran Sang Pencipta yang kuat melindungi orang Papua dari kehancuran yang lebih dasyat. Lagu-lagu kehidupan yang dinyanyikan disela-sela kesulitan dan kekacauan memberikan semangat baru kepada orang-orang Papua untuk meraih kembali tahun-tahun yang sudah hilang dari dirinya. Ketika orang asli Papua bernyanyi lagu kebanggaannya,  Hai Tanahku Papua...

Hai tanah ku Papua,
Kau tanah lahirku,
Ku kasih akan dikau
sehingga ajalku.


Kukasih pasir putih
Dipantaimu senang
Dimana Lautan biru
Berkilat dalam terang.


Kukasih gunung-gunung
Besar mulialah
Dan awan yang melayang
Keliling puncaknja.


Kukasih dikau tanah
Yang dengan buahmu
Membayar kerajinan
Dan pekerjaanku.


Kukasih bunyi ombak
Yang pukul pantaimu
Nyanyian yang selalu
Senangkan hatiku.


Kukasih hutan-hutan
Selimut tanahku
Kusuka mengembara
Dibawah naungmu.


Syukur bagimu, Tuhan,
Kau berikan tanahku
Beri aku rajin djuga
Sampaikan maksudMu.


Dengan saya menulis rintihan harapan ini, sayapun dikuatkan kembali untuk meneruskan perjalanan panjang menyembuhkan diri sendiri. Kesembuhan yang datang bersama dengan setiap detak bunyi ketikan tuts komputer yang mengukir secara hidup  kisah hidup tokoh-tokoh Papua. Mereka inilah adalah pemimpin karena bisa bercerita sejujurnya tanpa rasa takut pada mimpi bersama untuk membangun kembali kekuatan yang tersisa dalam diri kemasyarakatannya suatu harapan yang tidak pernah lenyap, bahwa Papua adalah berkat dan kasih sayang dari Allah Yang Maha Kasih dan Pemurah. Pembebasan dari siksaan itu adalah hak Tuhan karena setiap orang dan bangsa yang memintanya akan mendapatkannya. Juga mereka yang bertujuan menghancurkannya akan merasa takut dan malu kepada perbuatannya sendiri yang atas nama peradaban ternyata telah melakukan perbuatan-perbuatan yang bertentangannya dengan keadaban itu sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar