Translate

Senin, 25 November 2013

Memperjelas Dukungan Terhadap Kisah Hidup Tokoh-Tokoh Papua


Memperjelas Dukungan Terhadap  Kisah Hidup Tokoh-Tokoh Papua

Oleh Farsijana Adeney-Risakotta
 

Saat ini saya sedang menyelesaikan pengetikan dan publikasi Kisah Hidup Tokoh-Tokoh Papua yang disunting oleh Charles Farhardian. Bukunya ditulis dalam dua bahasa yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggeris. Judul bukunya dalam versi bahasa Indonesia adalah Kisah Hidup Tokoh-Tokoh Papua sedang dalam bahasa Inggeris berjudul the Testimony Project Papua. Buku ini sudah diterbitkan pada tahun 2007. Tetapi sayang hanya sesudah saya dan suami mengalami kecelakaan mobil yang sangat dasyat yang menyebabkan tulang belakang (T-11 dan L-4) saya patah, saya akhirnya mendapat buku tersebut langsung dari Charles Farhardian yang pada waktu itu bersama keluarganya menerima kami tinggal di rumah mereka di Santa Barbara. Pada artikel lain saya sudah menjelaskan tentang makna kecelakaan itu yang menurut saya terjadi supaya bisa bertemu dengan tokoh-tokoh Papua di kamar Papua di rumah keluarga Farhardian.

Saat ini tangan kiri saya sedang dibalut dengan gelang berlapis plastik yang menjelaskan nama, tanggal lahir dan tanggal saya dibawa ke unit Gawat Darurat dari Ventura Medical Center di California Selatan. Ketika saya melihat tanggal kami mengalami kecelakaan, sebenarnya pada tanggal yang sama, 4 November 2013, di Jayapura terjadi protes dari mahasiswa terhadap RUU Otsus Plus yang sedang diproses oleh pemerintah daerah dan pusat. Kemudian puluhan mahasiswa tertanggap oleh polisi. Mengapa tanggal saya masuk rumah sakit sama dengan tanggal mahasiswa Papua ditanggap? Apakah saya dalam bawa sadar tahu tentang kepedihan orang-orang asli Papua sehingga teriakan mereka datang seperti angin yang tiba-tiba membuat mobil kami oleng dan akhirnya saya patah tulang sehingga bisa bertemu dengan cerita-cerita ini. Siapakah yang tahu?
 
              Gelang Pasien yang menunjukkan nama, tanggal lahir dan tanggal masuk UGD

Sejak tahun 2007 sampai sekarang, perlu enam tahun sebelum Kisah Hidup Tokoh-Tokoh Papua bisa diketahui oleh kita semua warganegara Indonesia. Dalam artikel lain saya juga menjelaskan bahwa Kisah ini ternyata harus berjalan panjang dari Papua ke Santa Barbara, California kemudian ke Boston di mana saya sekarang tinggal untuk memprosesnya kemudian disebar luaskan melalui dua blog saya yaitu Indonesiaku Indonesiamu Indonesia untuk semua yang ditulis untuk pembaca di tanah air dan PIZZA (Peace Incredible Zoom Zone Authenticity) yang ditulis untuk pembaca dunia terkait dengan keprihatinan saya terhadap ketegangan global dan pertarungan politik regional di berbagai tempat sehingga mengorbankan masyarakat sipil.

Saya meletakan terjemahan dari Kisah Hidup Tokoh-Tokoh Papua pada blog PIZZA (Peace Incredible Zoom Zone Authenticity) karena selain publikasinya dalam bahasa Inggeris, persoalan konflik di Papua sudah terlalu lama terjadi dan sebaiknya mendapat perhatian masyarakat dunia supaya mendorong pemerintah Indonesia menyelesaikan konflik secara damai untuk mengakhir korban masyarakat sipil di propinsi Papua Barat yang sudah mencapai 100.000 jiwa sesuai dengan penelitian yang dilakukan di beberapa tempat seperti di Universitas Sydney, Australia dan Yale Universitas di Amerika Serikat.

Kepedulian saya terhadap Papua sudah lama, sejak saya masih kecil selalu mendengar cerita-cerita sebelum tidur dari nenek saya yang melahirkan ibunda di Serui, Papua. Tetapi secara akademik, perhatian saya terhadap Papua muncul ketika saya sedang menulis disertasi tentang kekerasan massa yang melibatkan komunitas Kristen dan Islam di Maluku Utara terlibat. Konflik sosial melibatkan agama telah menghancurkan kampung-kampung dan membinasakan masyarakat yang tidak berdosa.  Kehancuran dan bencana dari konflik sosial dengan muatan agama menimbulkan trauma yang panjang sebelum akhirnya masyarakat sendiri memulai proses perdamaian untuk memungkinkan para pengungsi kembali ke kampung masing-masing. Peristiwa yang terjadi pada masa transisi sesudah gerakan Reformasi berdampak terhadap situasi politik di sekitar Maluku dan Sulawesi. Konflik serupa muncul di Sulawesi Tengah, Poso dan Tentena, yang sampai sekarang masih menyisakan trauma sekaligus upaya dari berbagai pihak, terutama masyarakat sendiri untuk membangun rekonsiliasi.

Perpindahan penduduk berlangsung besar-besaran terutama dari daerah-daerah konflik di mana masyarakat yang mempunyai akses untuk pindah ke daerah lain karena tempat bermukimnya tidak aman. Sebagai contoh, perpindahan terjadi di Ternate, Tidore, dan juga di pulau Halmahera terutama untuk masyarakat dengan posisi sebagai pegawai negeri atau pedagang lebih mudah untuk pindah lokasi tempat tinggal. Tetapi masyarakat petani akan tetap berada di tempat pengungsian sampai mereka diizinkan bisa kembali ke desanya. Pada saat itu, terjadi perpindahan yang besar dari propinsi Papua. Masyarakat asal Tidore dan Ternate yaitu komunitas muslim yang sudah lama tinggal di Papua pindah untuk mengisi kekosongan dari masyarakat kristiani yang sudah meninggalkan Tidore, Ternate dan tempat-tempat lain yang mayoritas komunitas adalah muslim.

Hubungan antara Tidore dan Ternate dengan Papua sudah berlangsung sebelum kedatangan pedagang-pedagang barat yang dimulai oleh Portugis dan Spanyol. Orang Papua adalah pekerja-pekerja yang pada akhir abad 16 lebih tepat disebut “budak” dari kesultanan Tidore dan Ternate. Merekalah yang dipergunakan sebagai pekerja-pekerja di perahu-perahu dagang yang dikuasai oleh kesultanan Tidore dan Ternate. Sesudah perang antara Tidore dan Ternate, daerah Kepala Burung ditetapkan sebagai wilayah kesultanan Tidore sementara kekuasaan kesultanan Ternate meluas ke seluruh kepulauan Maluku, sampai ke pulau Timor dan Sulawesi. Penguasaan daerah-daerah ini diikuti dengan pengiriman anggota Kesultanan sebagai penguasa di daerah-daerah yang ditaklukan. Sekalipun penguasa ditempatkan di daerah-daerah tersebut, tidak otomatis masyarakatnya menerima semua kebijakan dari kesultanan.

Penolakan terjadi di mana-mana karena kebijakan kesultanan yang sekedar mengekplotasi masyarakatnya. Agama Islam hanya diterima di kalangan kesultanan, mereka yang mempunyai hubungan darah karena pernikahan dan mereka yang terlibat dalam bisnis rempah-rempah. Pada saat itu, untuk masuk dalam jaringan perdagangan dunia yang dikendalikan dari Kesultanan Otoman di Turkey dan Musgal di India Selatan, rekanan bisnisnya harus menjadi Islam. Ketika orang menjadi Islam, mereka disebut masuk Melayu karena pada waktu itu Kerajaan yang menguasai jalur perdagangan dari kepulauan nusantara adalah Kesultanan Malaka, yang berasal dari etnis Melayu. Kecuali keluarga-keluarga Kesultanan yang sudah ada, seperti Aceh yang belayar langsung ke Maluku seperti ke Banda Neira, maupun Kesultanan dari Utara, seperti Tidore dan Ternate bisa mempertahankan identitasnya sendiri karena mereka mempunyai wilayah kekuasaan yang terkait dengan jaringan perdaganan antara pulau-pulau. Kesultanan Malaka merupakan pintu gerbang dari bagian timur kepulauan nusantara untuk menjual hasil dagang buminya. Hubungan dagang keluar negeri dalam jaringan kesultanan India ke Eropa harus melalui Kesultanan Malaka. Saya menulis semuanya ini dalam disertasi, tetapi semakin jelas sesudah saya mengunjungi Malaka pada tahun 2011.

Tetapi resistensi dari masyarakat terhadap ekploitasi dari kepentingan bisnis Sultan-Sultan Islam ini sangat tinggi. Daerah-daerah yang dikuasai oleh Sultan-Sultan Muslim ini tidak otomatis mampu mengislamkan warga masyarakatnya karena mereka tahu tentang ketidakadilan yang dilakukan oleh kesultanan-kesultanan tersebut. Di Maluku Utara misalkan, daerah-daerah di pulau Halmahera di mana anggota keluarga Kesultanan dikirimkan sebagai pemimpin (Sangaji) untuk mengklaim daerahnya, warganya tetap melakukan praktek agama lokal.  Kenyataan ini bukan saja terjadi masa penguasaan Kesultanan Malaka, tetapi juga sesudah Malaka ditaklukan oleh Portugis sampaikan kemudian terjadi pergantian penguasaan daerah oleh pedagang-pedaganan VOC dari Belanda. 

Ketika VOC bangkrut dan pemerintah Belanda mengambil alih daerah perdagangannya, pendataan penduduk mulai dilakukan terutama untuk menarik pajak dari masyarakat. Misalkan di Galela, data yang tersedia baru ada pada abad ke-19, yang pada waktu itu keluarga Kesultanan Ternate sudah lama menjadi pejabat Sultan di sana yang disebut Sangaji. Tetapi jumlah orang muslim hanya 174 jiwa dibandingkan dengan total masyarakat yang ada waktu itu kurang lebih 1296 jiwa.  Dalam catatan pemerintah Belanda mereka yang belum beragama universal disebut "alfuru" artinya beragama nenek moyang (Adeney-Risakotta. 165-166).  Hal yang sama terlihat dengan daerah kekuasaan Kesultanan Tidore yang pulau Tidore dengan Kepala Burung di Papua.  Sekarang daerah Kepala Burung di sekitar Raja Ampat dengan pusatnya di Fak-Fak,  di mana masyarakat asli Papua beragama Islam sejak jaman penguasaan kesultanan Tidore  di abad 16 disamping Merauke dengan penduduk transmigran yang beragama Islam di tahun 1970an.   Hambatan bagi masyarakat untuk memeluk Islam terutama di Halmahera dalah ekploitasi dan ketidakadilan yang dilakukan oleh kesultanan Ternate kepada penduduk dalam daerah klaim pemilikan teritori. Perampasan tanah rakyat menyebabkan masyarakat resisten terhadap berbagai upaya kesultanan menjadikan mereka sebagai orang-orang muslim.

Daerah-daerah ini dibiarkan oleh pemerintah Belanda sebagai daerah-daerah penguasaan kesultanan tanpa memberikan dukungan pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia lainnya. Perubahan kebijakan Belanda baru terjadi pada di akhir abad ke-19 sesudah kebijakan Politk etis dicanangkan sebagai keputusan parlemen di Negeri Belanda. Untuk melaksanakan itu, pemerintah yang terbatas secara sumber daya meminta gereja-gereja untuk mengirim pekerja-pekerja yang bersedia kerja di Hindia Belanda menjadi guru, petani untuk menggerakan masyarakat menanam kopi, vanila, coklat, kelapa dengan tujuan eksport.  Pada abad inilah, banyak penduduk lokal tertarik menjadi Kristen karena pendekatan yang dilakukan oleh pekerja-pekerja gereja yang berbeda dari utusan-utusan Sultan.  Nilai-nilai yang dibawa oleh pekerja-pekerja gereja ini bisa diterima oleh masyarakat setempat. Nilai-nilai keadilan, kasih sayang, penghormatan, toleransi dan kerja untuk membangun keluarga dan masyarakat menjadi daya tarik bagi masyarakat lokal.

Penelitian saya menunjukkan pendekatan kemanusiaan yang dilakukan oleh para pekerja-pekerja sukarelawan dari gereja-gereja ini yang dilihat mengubah kehidupan masyarakat yang berada dalam kekuasaan kesultanan. Sultan Ternate sangat mendukung pekerja-pekerja gereja karena dipercayai bisa mengubah tabiat orang-orang Halmahera yang sangat ganas terkenal sebagai perampok pada kapal-kapal dagang baik kesultanan Ternate maupun pemerintah Belanda. Ternyata memang benar, orang-orang Halmahera berubah, bukan terutama karena menganut agama Kristen, tetapi karena profesi mereka dialihkan menjadi petani-petani yang tangguh. Hasil kerja keras mereka terlihat pada panen raya kelapa yang langsung ditampung oleh pedagang-pedagang Tionghoa bekerja sama dengan pemerintah Belanda untuk diberangkatkan ke Eropa.

Pada saat itu, kendali kekuasaan dari pemerintah Belanda hanya ada pada tingkat nasional dengan Batavia sebagai pusatnya, dan pada tingkat regional di beberapa tempat yang sudah tersedia infrastruktur dan sumber daya manusia yang terdidik seperti di Maluku Utara (Ternate), Maluku Tengah (Ambon), Sulawesi Selatan (Makassar), Timor Barat (Kupang), Jawa Timur (Surabaya), Jawa Tengah (Semarang), yaitu daerah-daerah yang mempunyai pelabuhan alam tersedia untuk menampung kapal-kapal dagang. Di pulau Halmahera, Tobelo adalah pusat pelabuhan karena topografi alam yang cocok untuk tempat berlabuh. Pemerintah Belanda juga menghindari jalur-jalur pelabuhan yang sudah terbentuk dalam jaringan dagang muslim. Karenanya, Batavia dibangun untuk menjadi pusat dagang yang menghubungkan antara dunia timur ke Srilangka kemudian ke Kerala (India Selatan) menuju ke Amsterdam dan Roterdam. Sebelum meninggalkan kepulauan Nusantara, kapal-kapal dagang Belanda mengisi batu bara di Sabang di pulau Weh. Jarak antara pulau Weh ke Banda Aceh kira-kira 2 jam dengan kapal berkapasitas muatan dagang. Saya menggunakan kapal cepat dari Ulee Lheu (baca:Ulele) hanya 45 menit.

Saya menulis artikel ini untuk menjelaskan hubungan antara agama dengan kebijakan sosial untuk memberdayakan masyarakat. Agama bisa dipakai untuk memaksa orang dan komunitas menjadi tunduk ketika penganut agama tertentu adalah pembuat keputusan dan pelaksanan program-program pembangunan. Kecenderungan ini hampir terlihat dalam sejarah penyebaran agama-agama di mana-mana di seluruh dunia. Agama sebagai ideologi untuk menyatukan masyarakat yang berbeda secara etnis, gender, kelas sosial sehingga bisa dikendalikan untuk mendukung program-program para pemimpin yang berkuasa di daerah-daerah tersebut. Fenomena penggunaan agama sebagai penyeragaman kepatuhan dari anggota masyarakat kepada pemimpin sebenarnya sangat bertentangan dengan hak-hak asasi manusia untuk bebas memilih agamanya sendiri.

Situasi dunia sesudah perang dunia ke-II sangatlah berbeda. Kehancuran yang terjadi di Eropa sebelum perang dunia ke-2 juga dimulai karena ketegangan antara agama-agama, terutama di kalangan agama Kristen sendiri. Negara-negara di Utara Eropah saling bersaing antara Protestan, Katolik, Anglikan, Ortodoks. Masing-masing ingin menguasai dan memperluas teritori dagang dan politiknya. Saya lihat fenomena yang sama juga terjadi di dalam jaringan dagang muslim di bawah kendali Kesultanan Otoman, Musgah dan Kesultanan Moroco yang berbagi kekuasaan dengan Keluarga Kalifah dari Timur Tengah untuk menguasai Eropa selatan, dimulai dari Lisbon sampai ke Spanyol. Spanyol terbagi atas dua kekuasaan kerajaan Islam, dengan pusat Cordoba di kuasai oleh kesultanan Damaskus yang mengklaim dirinya sebagai keluarga langsung dari Nabi Muhammad (Syriah)  dan Granada sebagai pusat dari Kesultanan Moroco.

Persaingan kedua kerajaan Islam inilah sebenarnya yang melemahkan kolonialisasi Islam di Eropa Selatan sehingga kerajaan lokal, yang beragama Katolik didukung oleh Vatikan, Ferdinand bisa mengusir kedua kerajaan ini dari Andalusia. Saya bisa bercerita lebih mendalam tentang kehidupan kerajaan Islam di Andalusia panjang lebar sebagai bagian dari perjalanan saya ketika ke Lisbon meneliti arsip-arsip Portugis terkait dengan Maluku Utara.  Muslim di Andalusia disebut Moro karena mereka berada dalam dominasi penguasaan Kesultanan Moroko.  Adanya dua kerajaan Katolik yang hancur di Maluku Utara juga bernama Morotia. Selanjutnya bisa membaca disertasi saya.

Jadi kembali kepada diskusi sebelumnya, apakah rupa, bentuk, esensi agama yang hidup sesudah perang dunia ke-2 masih berwajah penjajahan ataukah merupakan agama yang diturunkan dari Sang Pencipta untuk kebahagiaan, keadilan, kesejahteraan, cinta kasih dan perdamaian umat manusia.  Tidak bisa dipungkiri, sejarah kepahitan agama yang tercatat di dalam kitab-kitab suci seringkali menjadi bumerang untuk dimasukan dalam ingatan penganut sebagai alat untuk memotivasi perjuangan membela agamanya yang konteks kehidupannya sudah sangat berbeda dibandingkan ketika tulisan-tulisan dalam kitab suci itu diturunkan sebagai wahyu untuk dicatatan sebagai peristiwa sejarah. Membaca kitab suci dengan pandangan agama yang luhur dari Allah hasilnya memang berbeda dengan membaca kitab suci dengan pandangan politik untuk menaklukan umat manusia. Menurut saya, agama apapun tidak bisa menaklukan umat manusia kecuali Allah. Orang yang membawa agama dari Allah bisa dinilai apakah ia orang beragama benar atau hanya menggunakan agama untuk tujuan politiknya. Seorang beragama berarti ia peka terhadap penderitaan orang lain. Upaya untuk menyeragamkan agama supaya orang-orang tunduk sebenarnya adalah penipuan karena orang-orang yang beragama ini ternyata tindak pernah menjadi orang yang betul-betul merdeka, sebagai anak manusia yang adalah ciptaan Allah dan karenanya ia bisa dikasihi berkembang bukan karena mengikuti kemauan manusia tetapi karena hatinya dicintai, dilindungi dikuatkan ditolong oleh Sang Pencipta.

Saya menulis artikel ini untuk mengklarifikasi kepada pembaca di Indonesia, bahwa saya sebagai seorang warganegara Indonesia merasa sangat terpukul membaca Kisah Hidup Tokoh-Tokoh Papua yang disunting oleh Charles Farhardian. Saya tidak pernah sadar tentang penderitaan saudara-saudara saya di Papua sampai saya membaca buku ini. Saya juga tidak bermaksud membaca buku ini kecuali karena saya dipaksakan oleh Tuhan harus membacanya. Kecelakaan mobil yang dasyat telah membawa kami ke rumah Papua dari keluarga Farhardian untuk bertemu dengan kisah-kisah yang menceritakan penderitaan saudara-saudara saya di tanah Papua.  Kami tidak pernah merencanakan tinggal di rumah itu, karena kami sudah dipesankan hotel terbaik di Santa Barbara untuk kami menginag selama memberikan kuliah di Westmont College.

Kuliah kami bertemakan kehidupan beragama dan upaya hidup bersama di Indonesia. Suami dan saya adalah intektual. Kami terikat sebagai pendidik yang mendiskusikan secara terpadu kajian agama dan politik sebagai bagian dari dimensi peradaban dan sejarah Indonesia. Tetapi juga menunjukkan perjalanan pribadi kami untuk membawa perdamaian dan keadilan di lingkungan tetangga dan masyarakat di Indonesia. Dengan pengalaman kami bekerja sama di antara penganut agama-agama di Indonesia, kami lihat adanya kekuataan untuk menjadikan Indonesia sebagai model di mana Islam, sebagai agama mayoritas mengayomi agama-agama lainnya. Kenyataan ini akan terus benar, karena pengalaman pluralis yang saya alami dalam keluarga sendiri. Pihak keluarga dari ibunda saya banyak yang muslim, tinggal tersebar di seluruh Indonesia. Kami juga mempunyai anak angkat seorang muslim. Kami lakukan semuanya dengan cinta kasih untuk membagikan kehidupan dengan sesama karena dengan cara itu kami juga diberkati sebagai anak-anak Allah di dunia ini. 

Tetapi saya selalu sangat sadar tentang ketimbangan yang terjadi dalam masyarakat terutama apabila masyarakat biasa menjadi sasaran kerakusan, kekuasaan dari para elit, militer untuk menguasai daerah-daerah yang sebenarnya bukan haknya. Keputusan saya untuk kerja dengan masyarakat di akar rumput di Indonesia dimulai dari penemuaan penelitian saya dimana orang biasa bisa dipakai sebagai alat untuk memanipulasi fakta dan mengadudombakan warga sehingga mereka terlibat dalam konflik sosial bahkan dalam kekerasan massa. Saya satu-satunya dari dosen yang mengajar pada program ICRS Yogya yang menulis bidang minat konflik dan kelompok marjinal. Saya tidak saya melakukan penelitian tetapi bekerja dengan kelompok-kelompok marjinal untuk menguatkan eksistensi mereka sebagai manusia di bumi Indonesia.

Saya menulis artikel ini untuk mengingatkan warganegara Indonesia dan dunia lainnya yang sedang ricuh dalam berbagai perang supaya makin berhati-hati dengan upaya kelompok-kelompok politik dan militer dalam membagi-bagi masyarakat. Setiap warganegara berhak untuk meminta rasa aman dari pemerintah yang berkewajiban memberikan perlindungan. Hak dasar manusia untuk berbahagian terkait dengan rasa aman tanpa ketakutan karena kebebasannya memeluk agama yang dipercayai dan beribadah, mengekspresikan diri dengan santun dan hormat dalam beragumentasi akan dihentikan karena yang bersangkut menjadi target untuk ditangkap. Hak-hak dasar lainnya yang adalah juga hak politik masyarakat adalah mempertanyakan kepada pemerintah  kebijakan-kebijakan yang dibuat bukan untuk memberikan kemanfaatann kepadanya. Baik Islam dan Kristen dan agama-agama lainnya percaya pemerintah adalah wakil Allah di dunia, tetapi keterwakilannya harus mencerminkan rupa Allah yang maha kasih, setia, kudus, pengampun dan pelindung. Sifat-sifat Allah ini apabila tidak ada dalam kepemimpinan pemerintah karena yang tampil adalah sifat-sifat pemaksaan, kebohongan, kecurangan, korupsi dan lainnya, maka sebenarnya ruang Allah sudah diambil kendali oleh kekuatan-kekuatan yang berakar dalam kelemahan manusia. Manusia bisa berkompromi dengan kekuatan-kekuatan egoistis, mementingkan diri sendiri dan kelompoknya sehingga memunculkan sifat-sifat kebinalan, kebuasan dari manusia yang menyerupai binatang.

Bahasa manusia mengungkapkan sifat-sifat kesetanan manusia yang bercongkol pada diri sendiri dengan kata-kata misalkan kebuasan, keangkeran, kebrutalan, kebinasaan, kekacauan, kericuhan, kemunafikan, kekerasan, keganasan, pengerasan, keburukan, kejahatan, dendam kesumat, kebengisan, kebiadaban, kekejaman, kegalakan, kekasaran, dan seterusnya. Bahasa manusia yang menunjukkan sifat-sifat kebinalan seperti saya jelaskan diatas sebenarnya bermuara dengan apa yang disebut kekafiran. Jadi orang kafir adalah mereka yang mempunyai sifat-sifat bukan dari manusia yang menyifati sifat-sifat baik dari Sang Pencipta tetapi sifat-sifat yang berasal dalam diri sendiri yang dikuasai oleh kekuatan yang disebut “Kesetanan” yaitu mereka yang haus pada darah manusia. Mereka inilah yang disebut “Kafir”.  Karena orang-orang yang menganggap dirinya beragama dan beradab bisa berkelakuan seperti kesetanan, dan mereka inilah yang menurut pemahaman bahasa disebut “Kafir”.

Mungkin dengan pemaparan yang jelas, langsung dan terus terang, saya bisa mengerti tentang apa yang harus orang Indonesia lakukan kepada saudara-saudaranya di tanah Papua.  Saya mendorong terus supaya saudara-saudara di Papua meminta haknya dari pemerintah Indonesia untuk melakukan dialog karena sudah ditetapkan dalam UU no 21 tahun 2001 yaitu Otsus Papua. Tanpa warga masyarakat mengerti tentang Rancangan UU Otsus Plus yang sedang dipersiapkan oleh pemerintah sekalipun sudah diakui bahwa Prolegnas 2013 di DPR RI tidak mencatat tentang muatan pembahasan RUU Otsus Plus tetapi toh pemerintah pusat dan daerah tetap ngotot perlu dilakukan.

Sifat pemaksanaan dan pelanggaran tata manajemen negara bisa terjadi karena pemerintah menggunakan kekuasaan yang sangat bertentang dengan semangat dalam merancang suatu UU terutama apabila melibatkan suatu kebijakan khusus untuk diperlakukan di daerah seperti Papua.  Saya juga berhak untuk bertanya kepada pemerintah karena produk UU apapun adalah hukum yang berlaku di tingkat nasional yang perlu mendapat perhatian dari warga negara Indonesia di seluruh tanah air.  Ketulusan pemerintah pusat dan daerah untuk mempertimbangan keinginan rakyat Papua adalah lebih baik untuk mengakhir masa jabatan Presiden SBY dengan aman dan damai yang akan dicatat oleh dunia sebagai seorang pemimpin menerima penghargaan perdamaian melalui  World Statesman Award  pada bulan Mei 2013 yang lalu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar