Translate

Senin, 30 Mei 2011

Krisis Kacamata dan Krisis Sinta

Krisis Kacamata dan Krisis Sinta
Oleh: Farsijana Adeney-Risakotta


Menulis mungkin sudah menjadi daging dalam diri saya. Tetapi saya memutuskan mempertimbangkan setiap kata-kata saya sebelum menjadi tulisan. Tulisan bukan hasil dari unjuk kemampuan berpikir dan penguasaan pengetahuan. Ketika saya berpikir seperti ini, saya malahan kehilangan inspirasi dan passion tentang apa yang akan ditulis. Menulis untuk saya bukanlah tampilan suatu kekuasaan. Saya ingin mendialogkan pemikiran yang tampil sebagai kegelisahan dari pengalaman yang pernah terjadi.

Kegelisahan itu bisa berhubungan dengan suatu ajaran yang sangat dihormati oleh masyarakat tertentu. Kalau saya menulis tentangnya bukan karena saya meremehkannya. Saya menulis untuk menunjukkan apa yang saya lihat dalam diri saya. Saya harap orang lain juga melihat hal yang sama.

Ini tentang pengalaman di Pura Uluwatu. Bali bukan hanya pulau dengan keindahan yang rumit. Bali adalah kehidupan menyatu terintegrasi antara manusia, alam dan Sang Pencipta yang dipercayainya. Mendengar penjelasan dari oraganizer tur bahwa kami akan ke Pura Uluwatu, saya membayangkan mengunjungi pura-pura lain seperti pura Ulun Danu di Bedugul yang menjadi salah satu pura favourite saya. Saya ingat sesudah suami melakukan parasailing mengelilingi danau, kami menikmati keteduhan di pura ini.

Tiba di Uluwatu kami diberitahu oleh pengelola pura yang memberikan ikat pinggang bagi mereka yang berpakaian dengan rok atau celana panjang dan kain bersarung biru untuk melilit tubuh mereka yang menggunakan celana selutut. Suami saya harus menggunakan kain dari pura sebelum memasuki kompleksnya yang luas. Kompleks pura terletak di ujung tebing Uluwatu. Lokasi Uluwatu adalah di bagian selatan pulau Bali. Mungkin berlayar menyusuri tepian pesisir selatan akan lebih cepat dari pada berkendaraan berkelok-kelok menanjaki bukit seperti pengalaman menyusur dari Bali Selatan melalui Bali Tengah ke pantai Utara, Lovina melewati Singaraja, Buleleng.

Uluwatu di desa Pecatu termasuk kecamatan Kuta bagian selatan. Pantai bertebing memperlihatkan proses sedimentasi pulau Bali dari pantai berpasir halus, warna hitam seperti di Seminyak, ke timur di Kuta ke makin timur New Kuta di Dream Land yaitu tanah beratus hektar yang dikuasai oleh Tommy Soeharto ke makin timur daerah bertebing di Uluwatu sampai ke Amed di Bali Timur. Makin ke timur pasirnya memutih sebagai pecahan dari ribuan tahun karang-karang yang terlepas dari tebing-tebing di sekitar daerah Bali timur.

Tiba di situ mengingatkan saya kepada tebing seperti di Alas Wegode di Parangtritis yang mengingtari pantai selatan ke bagian timur dari Yogyakarta. Saya berjalan dengan keriangan hati seolah-olah kesamaan pencirian pantai akan memberikan pengalaman penerimaan yang indah. Perasaan ini tetap saya pupuk sekalipun di rumah penjaga pura di mana kami menerima tali tanda memasuki daerah suci, sudah diperingatkan supaya kami mewaspadai monyet-monyet. Dikatakan bahwa monyet-monyet di sana nakal. Mereka bisa mengambil dengan cepat kaca mata, anting, kalung, bahkan jam tangan, gelang dan juga sepatu. Mereka tidak mau mengambil kamera. Kami semua diminta menyimpan barang-barang yang bisa menggoda monyet berlaku jahat. Apabila pengunjung takut bisa menyewa pawang dengan harga $US 7 per jam.

Pura Luhur Uluwatu, demikian nama aslinya akan ditemukan sesudah melewati hutan di atas tanah berkarang dan berkapur. Hutan ini disebut Kekeran yang dipercayai akan memberikan kesucian bagi pura Luhur Uluwatu itu.

Jadi kami melewati hutan kekeran mendekat ke tebing di mana pura Luhur Uluwatu berdiri. Ada beberapa pohon dekat dengan pagar tembok setinggi semeter yang melindungi kami dari kemungkinan terperosok ke tebing. Di sini ketika kami sedang menonton laut, tiba-tiba dengan sangat cepat, seekor monyet datang dari barat dan belakang suami saya langsung mencopot kacamatanya. Monyet itu dengan sangat cepat pula, meloncat ke tebing meninggalkan suami yang terperana ketakutan karena mungkin ia akan sukar menikmati perjalanan tanpa kaca mata. Saya sedang menghibur suami dan dengan perasaan seolan-olah akan menolongnya kemudian dikagetkan dengan tarikan tiba-tiba yang membawa pergi kaca mata saya. Seekor monyet lain sedang berlari menurun tebing sambil menggigit kaca mata saya.

Dalam situasi panik, kami kemudian mendengar seorang teman dari Indonesia, Lely, yang kacamatanya diambil paksa oleh seekor monyet lain. Juga seorang teman dari USA, Julianne yang sedang berdiri di bawa pohon jarak, kaca matanya diambil oleh monyet yang diam-diam memanjat pohon untuk mengambil kaca mata dari batang pohon yang lebih tinggi dibandingkan Julianne. Julianne tingginya hampir setinggi suami saya, kira-kira 1.90 meter.

Tiba-tiba muncul seseorang yang di tangannya ada snack masih terbungkus plastik. Lelaki ini mengulurkan snack yang bergambar coklat. Kera memperhatikan cermat! Tangannya masih menggegam kaca mata yang dengan jerih payah sedang dicoba mengunyahnya. Saya semakin pasrah. Cuma merasa iba bagaimana dengan kaca mata suami. Kerabunannya lebih rawan daripada saya! Syukurlah, lelaki bergiwang itu berhasil membujuk kera sehingga mau menukarkan kaca mata dengan snack. Mulanya ia mengembalikan kaca mata suami, kemudian saya, dan terakhir Yulianne. Hanya kaca mata mba Lely, isteri mas Ipung yang tidak pernah dipulangkannya.

Lely masih dibuntuti seekor kera yang menarik-narik sandalnya. Seorang turis perempuan dari Jepang juga menjadi incaran kera karena salah satu sandal kirinya diambil. Bahkan untuk kera ini, ia bisa membandingkan antara dua jenis makanan yang diberikan oleh seorang penjaga perempuan di pura, yaitu roti atau rambutan. Ternyata mengembalikan sandal perempuan Jepang ini, perempuan penjaga harus bolak balik dua kali ke bale yang ia sedang duduk untuk mengambil rambutan, karena monyet tidak suka roti.

Pura Luhur Uluwatu yang berarti tempat dengan nilai keluhuran yang tinggi malahan menimbulkan kesedihan, kejengkelan, kemarahan dari kami semua. Dijelaskan oleh organizer tur kami, bahwa perubahan perilaku kera ini kira-kira sudah berjalan sejak 2-3 tahun lalu. Dulunya tidak ada kejadian seperti begitu. Monyet-monyet yang saya temui di Sangeh dan juga di the Monkey Forest di Ubud juga sangat baik dan bersahaja. Memang kadang-kadang ada monyet yang agresif. Tetapi pada umumnya masih terkendali. Tetapi di Uluwati, kera mencuri barang pengunjung yang kemudian ditukarkan dengan makanan. Lelaki penolong kami itu juga minta supaya kami memberikan uang kepadanya untuk membeli makanan kera. Bisa dibayangkan dalam sehari berapa uang yang diperolehnya dari aksi pembebasan barang-barang pengunjung yang disandera oleh kera-kera di sana.

Kera dalam tradisi Hindu mencerminkan sesuatu yang mendekat dengan diri kita,sesuatu yang terkait dengan "desire", yang meyebabkan seseorang terobsesi. Kera dipelihara, tidak boleh disakiti karena dianggap pernah menolong Rama, seorang figur dewa yang ada dalam tradisi Hindu.

Jadi krisis kaca mata sebenarnya menjelaskan tentang krisis diri dari para penjaga pura Luhur Uluwatu. Proses pembiaran kera menjadi pencuri harusnya dapat dicegah oleh pengelola pura Luhur Uluwatu. Tetapi upaya ke sana sepertinya tidak terlihat. Bukan karena pawang-pawang kera sulit menghadapi perilaku liar kera tetapi kelihatan sengaja dibiarkan saja. Seolah-olah kera-kera tersebut terlahir seperti itu. Padahal kera-kera tersebut dengan sengaja diprogramkan untuk membentuk perilaku liar sebagai pencuri yang hanya bisa dijinaki oleh para pawangnya. Mereka, kera dan pawangnya seperti sedang bermain sandiwara dengan mengorbankan perasaan dan barang-barang pengunjung.

Gambaran kera yang rakus, lapar mungkin sebenarnya gambaran diri dari mereka yang ada di sekitar pura itu sendiri. Mungkin dalam benak mereka, perilaku mencuri dari kera akan memberikannya makanan dan sekaligus kepada petugas sejumlah uang sebagai pembayaran atas jasanya mendapatkan kembali barang-barang yang diambil oleh kera-kera itu.

Krisis kaca mata adalah krisis nilai yang terjadi di Bali saat ini. Ada kekuatiran bahwa Monyet pun bisa dilatih untuk melakukan kekerasan yang sebenarnya dibalik tindakan ada pesan dari seorang manusia. Mereka, para penjaga perlu uang. Mendapatkan uang dengan cara membuat pengunjung tidak aman seolah-olah hal yang biasa saja.

Ketika kami harus meninggalkan pura Luhur Uluwatu, saya masih bertanya-tanya apa yang sedang terjadi dengan turisme di Bali saat ini. Seolah-olah kesucian dari nilai diri makin menipis.

Kami menuju ke Blue Point di kawasan tebing yang mempunyai akses langsung ke laut. Di sini banyak turis mancanegara yang melakukan surfing. Saya turun ke pantai membuang rasa resah dari Pura Luhur Uluwatu. Ada banyak yang belum terjawab dalam permenungan saya. Tetapi saya harus melewatinya.

Malam itu, di sekitar Tanah Lot, yang terletak masih di sepanjang pesisiran tebing Bali selatan, sesudah mentari terbenam, kami berkesempatan menonton tarian kecak. Ini tarian tentang Ramayana dengan versi Hindu Bali. Saya harap teman-teman sudah pernah membaca tentang cerita Ramayana. Ini cerita yang sangat penting dalam agama Hindu. Ramayana dimainkan sebagai pertunjukkan dalam ruangan dan juga outdoor yang dipentaskan pada musim panas sekitar bulan Juli dan Agustus setiap tahun di areal candi Prambanan di Yogyakarta.

Ramayana bercerita tentang Rama yang kehilangan isterinya, dewi Sinta yang dijebak oleh Rahwana, raja Lenka. Dalam penyamarannya sebagai seorang tua, raja Lenka ini bisa menangkap Sinta untuk memaksanya menikahinya. Tetapi Sinta akhirnya bisa dibebaskan oleh seekor kera yang dipercayai titisan dari para dewa. Kera putih ini bernama Hanoman. Ia dianggap adalah titisan para dewa.

Kehadiran Hanoman dalam epik Kecak seolah-olah menguatkan saya kembali tentang pencitraan diri yang baik dalam kehidupan seorang manusia seperti Rama. Hatinya yang tulus bisa tertangkap oleh Hanoman, sehingga ia dengan sukarela ingin membantu Rama untuk membebaskan isterinya, dewi Sinta dari perangkap raja Lenka. Hanoman adalah representasi dari keinginan Rama untuk memiliki Sinta kembali. Krisis kehilangan Sinta adalah krisis yang paling besar dalam hidupnya.

Ujian untuk mendapat Sinta kembali adalah dengan merelakannya mengalami kejadian-kejadian yang dasyat untuk menguji jati diri Sinta sendiri. Sinta mudah terkecok dengan penampilan orang tua, pertapa, kecantikan kancil yang berlari-lari di hutan. Tipu daya Rahwana yang memerangkap Sinta baik secara emosi dan fisik pelan-pelan dapat dimentahkan oleh Hanoman. Untuk saya, Hanoman adalah bukti dari upaya Rama untuk melepaskan kemilikannya atas Sinta.

Dengan melepaskan "desire" kepada Sinta, Rama akhirnya menerimanya kembali dengan kualitas perubahan jati diri yang mendalam. Untuk mendapatkan Sinta kembali, Rama membebaskan dirinya dari keinginan memiliki uang misalkan. Dirinya sendiri adalah alat untuk bertarung menegakkan dan menguji kesatrian sejati dengan apa yang juga terlihat sebagai kemampuan dari Rahwana. Rahwana akhirnya terperangkap dengan kerakusannya sendiri. Istananya dihancurkan oleh anak buah Hanoman. Sinta kemudian dibebaskan Hanoman dan dipertemukan dengan Rama.

Harapan inilah yang membuat saya menutup hari Jumat, 27 Mei 2011 itu dengan rasa lega!. Hari itu dibuka dengan kekecewaan tetapi kemudian ditutupi dengan ucapan syukur. Warga Bali masih bisa bangkit untuk memeriksa dirinya secara jujur dengan berefleksi mendalam demi pembentukan kembali pencitraan diri yang membebaskan seperti tercermin dalam cerita Hanoman. Kekuatan dalam tradisi agamanya merupakan inspirasi untuk memelihara kualitas kehidupan individu maupun masyarakat di sana. Di sinilah daya tarik Bali bukan hanya alamnya, tetapi manusia Bali yang mendalam dan tulus seperti Rama dan representasi dirinya bisa terlihat dalam perilaku kera putih, Hanoman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar