Translate
Kamis, 21 Juni 2012
Sabtu, 16 Juni 2012
Kehidupan Intelektual Indonesia Sesudah Pembakaran Buku
Kehidupan intelektual Indonesia Sesudah Pembakaran Buku
Oleh Farsijana Adeney-Risakotta
Oleh Farsijana Adeney-Risakotta
Berita
pembakaran buku bukan hal yang baru.
Kementerian Hukum dan HAM membakar buku-buku, media elektronik yang
dinilai bertentangan dengan UU. Kategori
buku-buku dan bahan elektronik yang dibakar apabila bernuansa pornografi dan
pornoaksi.
Baru-baru
ini PT Gramedia memusnahkan buku-buku yang diterjemahkan dari judul asli 5 Cities
that Rule the World. Buku yang ditulis oleh Douglas Wilson dilaporkan oleh FPI
kepada Mabes Polri tentang penemuan adanya penghinaan kepada Nabi Muhammad
SAW. Buku yang ditulis oleh seorang
teolog konservasi Amerika Serikat diasumsikan dapat menyebabkan pergolakan
dalam masyarakat sehingga sebaiknya dibakar.
Banyak
kalangan menyayangkan PT Gramedia yang sangat kompromi dengan seruan kepolisian
dengan mendapat konfirmasi dari MUI untuk segera membakar semua buku tersebut
tanpa melalui upaya pengadilan. Saya membaca versi buku ini dalam bahasa Inggeris bukan sebagai hasil terjemahan sehingga sangat sulit untuk saya melakukan penilaian tentang kebenaran bahwa ada rumusan terjemahan yang dengan sengaja menghina Nabi Muhammad SAW.
Secara garis besar, buku ini sebagaimana saya membaca dalam versi Inggerisnya bermaksud menjelaskan tentang pengaruh agama dalam kekuasaan. Pengaruh ini menyebabkan perang, penaklukan dan peminggiran kelompok-kelompok tertentu dalam masyarakat dunia sejak jaman lalu sampai saat ini di Yerusalem, Athena, Roma, London dan New York.
Sejarah dunia adalah sejarah kepahitan. Kebanyakan kepahitan disebabkan karena manusia yang mengatasnamakan agama melakukan pemaksaan ajaran kepada kelompok-kelompok yang ditaklukan. Sejarah masa lalu dihadapi dalam perspektif dan pengalaman kehidupan masa sekarang, dimana tindakan-tindakan perampasan daerah dan pemaksaan manusia dari mereka yang ditaklukan sudah tidak lagi dipraktekkan.
Perang Dunia I dan II adalah perang kepahitan yang menyebabkan bangsa-bangsa berjanji secara bersama mengatasi permasalahan kekuasaan, teritori dan ideologi. Agama sebelum Perang Dunia II adalah ideologi yang paling ampuh untuk menyatukan dan menceraiberaikan. Pembentukan politik nation state atau negara bangsa berupaya untuk mengatasi kecenderungan praktek politik negara yang menggunakan agama melegitimasikan penyatuan suatu bangsa.
Jadi dengan mengaitkan sejarah masa lalu, penulis juga sering kali menghadirkan pengertian dan mengilustrasikan penjelasannya dengan menggunakan contoh-contoh sekarang. Kota-kota yang dipilih terkait dengan berbagai tragedi kemanusiaan yang disebabkan karena perlakukan orang-orang beragama.
Target pembacanya adalah masyarakat Amerika Serikat. Ketika berbicara tentang Yerusalem sebagai kota suci dari tiga agama, Yahudi, Kristen dan Islam, penulis menghadirkan pandangan dari kerinduan warga Yahudi seperti mereka yang tinggal di Brooklyn New York terhadap Israel yang baru. Pada bagian lain penulis menunjukkan kemungkinan gerakan fundamentalisme menggunakan ajat-ajat tertentu dalam kitab suci baik di dalam Alkitab maupun Al Quran untuk mengklaim gerakan keagamaan yang dipercayai diwahyukan Allah.
Peristiwa tertua terkait dengan pembakaran dan pemusnahan perpustakaan terjadi di Alexandria Mesir. Menarik diamati ternyata buku menjadi target pemusnahan dimulai dari masa pendudukan Romawi dengan beberapa generasinya sejak Kaisar Julius Caesar sampai dengan masa Romawi Timur ketika Kekristenan menjadi agama negara diteruskan ke jaman Islam. Ada kira-kira empat kekuasaan yang berbeda menargetkan perpustakaan sebagai sasaran pertama pemusnahan manusia.
Ketika buku dimusnahkan manusia juga dimusnahkan. Pemusnahan ini adalah upaya menghapuskan sejarah pemikiran, sejarah intelektual, sejarah dialog dari pencarian diri manusia untuk mengerti dunia di sekitarnya. Saya ingat peristiwa yang sama juga dicatat baik dalam Alkitab maupun Al Quran tentang nabi Daniel.
Daniel
adalah seorang dari para intelektual Israel yang dibawa ke Persia pada masa
raja Darius. Mereka adalah orang-orang
terpilih yang pintar diselamat dari gerakan pemusnahan bangsa Israel, termasuk
semua catatan sejarahnya. Penulis buku 5 Cities that Rule the World tidak
menjelaskan tentang cerita yang lebih tua tentang negara-negara di sekitar
Yerusalem yang berperang untuk menghancurkan masyarakat seperti tertulis dalam
Kitab Suci umat Yahudi, Kristen dan Islam.
Tetapi
Daniel ternyata selamat dari skenario pemusnahan ini, karena ternyata ia
malahan bisa melewati ujian kesuciannya ketika dibuang bersama dengan
teman-temannya dalam gua singa. Daniel bisa menjinaki singa karena dikatakan Ia
takut kepada Allah. Singa-singa lapar itu melihat Daniel tapi mulut mereka
tertutup.
Pembakaran buku adalah selangkah dari pemusnahan pemikiran, pembakaran manusia yang berbeda dalam keyakinan, pandangan dan praktek dengan mereka yang berkuasa. Sebagai orang beriman, yang melakukan pembakaran atas dasar iman, mungkin adalah baik untuk berkaca apakah tindakan ini sudah sejalan dengan maksud ajaran iman yang dipercayainya.
Pembakaran buku adalah selangkah dari pemusnahan pemikiran, pembakaran manusia yang berbeda dalam keyakinan, pandangan dan praktek dengan mereka yang berkuasa. Sebagai orang beriman, yang melakukan pembakaran atas dasar iman, mungkin adalah baik untuk berkaca apakah tindakan ini sudah sejalan dengan maksud ajaran iman yang dipercayainya.
Pertanyaan
saya di atas terkait dengan upaya untuk mengerti bagaimana seseorang atau
kelompok bisa melakukan sesuatu dengan mendasarkan motivasi dan tindakannya
secara agamis, sementara terlihat jelas adanya kontradiksi dalam ajaran yang
sebenarnya dipercayainya. Sejak
peristiwa pembakaran buku, saya melihat kembali tulisan A Common Word untuk
mencoba mengerti Islam seperti yang dimaksudkan dalam undangan tersebut.
Satu ayat
menarik dari Al Quran ingin saya kutip untuk mengundang dialog terbuka di
antara pemerintah maupun FPI terhadap berbagai tindakan-tindakan yang
meresahkan sedang terjadi di Indonesia.
www.acommonword.com
www.acommonword.com
Dengan Nama Allah, yang Maha Pengasih, Penyayang,
Serulah (manusia) ke jalan (agama) Tuhanmu dengan kebijaksanaan dan pengajaran yang baik, dan berbantahlah (berdebatlah) dengan mereka dengan (jalan) yang terbaik. Sesungguhnya Tuhanmu lebih mengetahui orang-orang yang sesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Kitab Suci Al Qur’an, An-Nahl, 16:125)
Saya ingin bertanya, apakah pembakaran buku merupakan petunjuk yang
diterima dari Allah SWT? Mengapakah
tidak ada dialog untuk mencoba mengerti mengapa buku tersebut ditulis? Mengapa
banyak tulisan yang terdiri dari angka-angka yang ada di departemen-departemen
pemerintah yang terkait dengan pemalsuan dana-dana sebagai bukti korupsi tidak
dibakar sebagai tanda Indonesia bertobat terhadap korupsi? Bukankah inilah
sebenarnya petunjuk Allah SWT untuk Indonesia bertobat, bukan sebaliknya
mencari upaya untuk membenarkan diri sendiri, dengan menggunakan kekuasaan dan
kekerasan untuk melenyapkan upaya refleksi manusia supaya tidak tersesat lagi
ke dalam jalan yang bukan dari Allah.
Sekarang pembakaran buku menjadi sejarah baru untuk kehidupan
Indonesia! Apakah berarti kehidupan intelektual untuk merenungkan, berpikir dan
bertindak dalam jalan Allah juga akan dihentikan? Saya merenungkan nabi Daniel,
saya datang kepada Allah SWT yang memberikan sejarah dulu tertinggal dalam
ingatan manusia seperti tertulis dalam kitab suci supaya ada harapan kepada
kita semua. Pembakaran buku bukan akhir dari suatu kematian intelektual, tetapi inilah awal munculnya keberanian untuk mengundang dialog terbuka dengan mereka yang berbeda dari kita. Semoga undangan saya ini disambut oleh pemerintah maupun mereka yang melakukan tindakan kekerasan termasuk membenarkan pembakaran buku. Ampunilah kami semua Allah karena kami tidak tahu apa yang sedang kami lakukan dan bawalah kami ke jalanMu sendiri! Amin.
Minggu, 10 Juni 2012
Bagian kedua: Memahami "toleransi", HAM dan Agama
Menyambut Pidato Hasyim Muzadi. Catatan Seorang Warganegara Kepada Pemimpin Bangsa
Bagian kedua: Memahami “toleransi” , HAM dan Agama
Oleh Farsijana Adeney-Risakotta
Istilah yang muncul dalam konteks pidato KH Hasyim Muzadi adalah “toleransi” Islam di Indonesia dibandingkan di tempat lain di dalam Indonesia sendiri maupun di beberapa negera di dunia. Istilah toleransi dijelaskan untuk menangkal rekomendasi Dewan HAM PBB tentang intoleransi Indonesia terkait dengan kondisi sosial politik yang menyebabkan hak-hak dasar warganegaranya tidak terpenuhi.
Tentu saja bisa mengagetkan bagi Indonesia yang negaranya paling religis dan beragama mendapat teguran ini. Agama adalah segala-galanya bagi manusia Indonesia. Mengapa agama dengan capaian keutamaan ajarannya seolah-olah diragukan karena ternyata dampaknya menyebabkan keresahan ketidakdamaian bagi semua warganegara? Tiba-tiba di dalam masyarakat yang beragama ini terjadi serang menyerang sehingga menyebabkan kekerasan melebihi peristilahan yang dipakai baik oleh Dewan HAM PBB maupun dalam pidato KH Hasyim Muzadi, “toleransi dan intoleransi”.
Isi pidato KH Hasyim Muzadi tidak sedikitpun menyinggung tentang kekerasan sebagai dampak dari kondisi intoleransi dalam mengelola hubungan beragama di Indonesia. Penonjolan kekerasan terutama terjadi di wilayah-wilayah di mana mayoritas muslim berada seperti terlihat dari berbagai tindakan memobilisasi massa. Massa digiring untuk melakukan menyerang dan menduduki daerah-daerah yang dianggap “haram” untuk suatu kegiatan dilakukan karena bertentangan dengan ajaran agama mayoritas.
Misalkan pendirian gereja di lokasi di mana mayoritas muslim berada dianggap “haram”. Ajaran Ahmadiyah dianggap “haram” selama mereka masih mengakui sebagai Islam. Kegiatan diskusi yang dilakukan dengan menghadirkan tokoh internasional Irshad Manji dianggap “haram” sekalipun tujuannya membangun teologi tentang Allah yang mengasihi, tetapi teologi ini dianggap sesat karena dilahirkan dari seorang lesbian yang keberadaannya bukan bagian dari wahyu yang tercatat dalam kitab suci. Dengan menggunakan asumsi yang sama, “pembawa ajaran sesat”, Lady Gaga juga ditolak untuk melakukan pertunjukkan di Indonesia.
Peristilahan “toleransi” dan “intoleransi” dipilih untuk menunjukkan adalah kondisi mendasar yang bisa tersedia yang memungkin terjadi suatu perjumpaan saling menerima atau saling menolak. Peristilahan ini dipilih untuk setidaknya merepresentasikan kondisi material minimal yang tersedia dalam kehidupan bermasyarakat sebagai jaminan yang diberikan oleh negara. Ketika Dewan HAM PBB menerbitkan istilah intoleransi untuk menjelaskan keberadaan Indonesia bukan sekedar mengambil perbandingan dari keberadaan kehidupan negara-negara barat tetapi sebenarnya menggunakan ukuran yang sudah ada dalam tata hukum Indonesia sendiri.
UU No.39 Tahun 1999 tentang HAM merupakan ratifikasi Indonesia terhadap deklarasi HAM Dewan HAM PBB. Pasal 4 menjelaskan tentang berbagai hak."Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kebebasan pribadi, pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi, dan persamaan di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun dan oleh siapapun". Nilai-nilai inilah yang dievaluasi oleh Dewan HAM PBB terhadap kondisi mendasar yang dapat disediakan negara bagi warganegaranya.
Kehidupan bertoleransi ternyata belum bisa dijaminkan oleh negara. Lalu muncul pertanyaan apakah nilai-nilai dasar HAM ini tidak tersedia dalam ajaran agama. Sesudah pasal 4 dibentangkan untuk dicermati, ternyata penjelasan hak-hak dasar ini tidak sedikitpun berwajah Barat atau Timur, tetapi nilai-nilainya adalah nilai-nilai kemanusiaan. Nilai-nilai kemanusiaan inilah adalah nilai-nilai yang juga diperjuangkan oleh agama. Hanya sayangnya, nilai-nilai ini belum sedikitpun tercermin dalam perilaku beragama di Indonesia di mana agama-agama, yaitu manusianya saling berelasi.
Sebagai seorang warganegara Indonesia, saya bertanya-tanya mengapakah kondisi minimum ini belum bisa terpenuhi dalam cara manusia Indonesia beragama? Dalam tulisan saya lainnya, sebenarnya saya sudah menjelaskan bahwa kondisi toleransi saja ternyata belum cukup untuk memungkinkan manusia Indonesia bisa hidup sejajar, setara, seadil di hadapan agama dan hukum negara.
Toleransi sebagai nilai bersifat pasif sehingga tidak ada upaya yang progresif untuk menjangkau mereka yang berbeda dari diri kita sendiri. Untuk bisa melangkah diperlukan metodologi lain yaitu kemauan untuk mengakui tentang perbedaan di antara manusia, suatu kesediaan untuk membangun pengakuan yang keluar dari rumusan identitas secara doktrinal.
<farsijanaindonesiauntuksemua.blogspot.com/.../pluralisme-dan-panca...>
Lebih jauh yang sangat mengherankan kepada saya adalah kenyataan negara dalam hal ini pemerintah tampil begitu lemah sehingga nilai-nilai yang sudah dijaminkan dalam perundangan tidak bisa memberikan perlindungan kepada warganegaranya. Apakah ini cara politik negara untuk mempermainkan warganegaranya, dengan menerima nilai-nilai dasar HAM supaya bisa berelasi secara internasional, tetapi kemudian meninggalkannya.
Perundangan penjaminan hak dasar warganegara Indonesia ini merupakan produk Reformasi, tetapi sangat disayangkan, sejak awalnya, belum terlihat kemajuan yang diperlihatkan negara dalam mengatur kehidupan bersama beragama di Indonesia.
Untuk refleksi gerakan Reformasi tahun ini saya menuliskan lebih jauh kekuatiran saya tetapi juga harapan perubahan cara warganegara Indonesia bisa hidup bersama. Memang negara harusnya bisa membangun mekanisme kehidupan bersama, tetapi sangat benar, dibutuhkan juga dukungan dari warganegara. Negara tampil menegakkan hukum ketika terjadi pelanggaran yang dilakukan oleh warga. Mesin politik hukum inilah yang tidak berjalan dengan baik, sehingga masyarakat sebagai warganegara yang merasa mayoritas kemudian mengambil alih kendali pengamanan kehidupan sosial politik di tanah air.
Terlihat dengan jelas tampilah “polisi” dalam polisi atau “paramiliter” dalam militer. Penampilannya berwajah kekerasan bahkan dengan sengaja sebenarnya sedang mencoreng kemuliaan ajaran agamanya sendiri. Sangat disayangkan kelompok-kelompok paramiliter ini seolah-olah lupa bahwa mungkin saja mereka juga sedang diperalat untuk kepentingan politik yang lebih besar. Bahkan bisa terjadi adanya kongkalikong di antara paramiliter dengan pemerintah untuk memanfaatkan isu agama dan isu SARA lainnya memecah warga negara.
Anggapan tentang masyarakat sipil yang lemah sebaiknya menjadi pendorong untuk seluruh warganegara Indonesia menyadari dirinya melakukan insiatif meraih setiap sesama yang berbeda. Anggapan ini bisa tampil sebagai fantasi yang pelan-pelan ditanamkan dalam benak setiap warganegara bahwa esensi “kekitaan” yang berbeda di Indonesia merupakan solusi untuk menyelesaikan persoalan berbangsa di tanah air. Ketika kita beranggapan demikian pada saat itulah sebenarnya, Indonesia menjadi tidak aman lagi untuk dihidupkan.
Dengan kehidupan dunia saat ini, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, hampir sulit dipungkiri bahwa kita hidup dalam dunia sendiri. Sekarang ini, di mana-mana akan ditemukan mereka yang berbeda dengan diri kita sendiri. Perbedaan karena status sosial, orientasi jender, etnis, agama. Pandangan homonormatif sebagai dasar berpikir dan menafsir ajaran agama sudah saatnya ditinjau kembali dengan menemukan kembali ajaran-ajaran keragaman yang tersedia dalam agama kita sendiri.
KH Hasyim Muzadi menyinggung isu menara mesjid di Swiss, yang ditolak untuk didirikan di sana. Penolakan tersebut memang difokuskan kepada menara mesjid bukan kepada mesjid. Mesjid diizinkan dibangun tetapi tanpa menara. Tentu saja, ada konteks yang berbeda di mana tradisi menara mesjid yang darinya akan mengeluarkan adzan melalui load speaker dengan menara gereja yang hanya mengeluarkan bunyi lonceng. Warga Swiss terbiasa menengar lonceng seperti angin bukan adzan yang mungkin “mengganggu” pendengaran mereka.
Diskusi ini sangat menarik ketika Tariq Ramadan, seorang intelektual muslim yang besar di Swiss mengangkat contoh ini dalam pertemuan di American Academy of Religion (AAR) beberapa tahun lalu di Quebec, Kanada ketika saya juga hadir dalam kesempatan tersebut. Tariq menjelaskan secara harafiah, kedua simbol budaya tidak tercatat dalam kitab suci, tetapi berkembang sebagai peradaban yang menghadirkan unsur hegemonik kekuasaan.
Cerita ini mengingatkan saya tentang diskusi lain di Yogya ketika warga sedang membahas apakah dibolehkan orang kristiani melakukan ibadah-ibadah di rumah mereka. Kemudian ada seorang muslim yang taat, seorang sesepuh di kampung mengatakan, tentu saja dibolehkan, karena setiap hari dari pagi sampai malam, dari mesjid dikumandangkan panggilan adzan yang sebenarnya juga akhirnya didengar oleh non muslim di sekitarnya. Jadi inilah hak mereka untuk juga beribadah apalagi suaranya tidak sekeras suara load speaker dari mesijd.
Ketika warga masyarakat di Halmahera Utara, di Galela sedang merajut kembali kesatuan mereka yang hancur dari kekerasan massa beragama, kaum muslim meminta supaya gereja juga memasang load speaker seperti yang dipasang di mesjid. Tujuannya supaya warga semua bisa mendengar khotbah yang disampaikan baik dari mesjid maupun dari gereja untuk mengawasi kalau ada terselip ajaran hasutan yang disampaikan dari mimbar untuk memanasi emosi umat. Kemudian baik umat muslim dan kristiani setuju melakukannya demi upaya mereka bersama mengerti isi ajaran agama yang sebenarnya membawa kepada keselamatan daripada kematian.
Jumat, 08 Juni 2012
Menyambut Pidato Hasyim Muzadi. Catatan Seorang Warganegara Kepada Pemimpin Bangsa
Menyambut Pidato Hasyim Muzadi. Catatan Seorang Warganegara Kepada Pemimpin Bangsa
Bagian pertama: Islam dari pandangan seorang Kristiani
Oleh Farsijana Adeney-Risakotta
Saat ini siapapun merasa lega membaca pidato terbuka dari KH Hasyim Muzadi yang beredar di dunia maya di awal bulan Juni 2012 sebagai tanggapan terhadap pernyataan PBB tentang Indonesia yang tidak toleran. Pernyataan ini disampaikan pada pertemuan ke 59 Dewan Hak Asazi Manusia PBB yang persidangannya dimulai dari tanggal 17 - 24 April 2012. Pidato ini adalah bukti kecintaan KH Hasyim Muzadi kepada Indonesia.
www.tribunnews.com/2012/06/04/pidato-hasyim-muzadi-yang-menghebohkan-beredar-luas
www.tribunnews.com/2012/06/04/pidato-hasyim-muzadi-yang-menghebohkan-beredar-luas
Pada momen yang tepat dalam kapasitasnya sebagai Presiden WCRP (World Conference on Religions for Peace) dan Sekjen ICIS (International Conference for Islamic Scholars), mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahtalul Ulama, KH Hasyim Muzadi menuliskan pidato yang memaparkan perbandingan fakta-fakta yang menjelaskan tentang realitas sebenarnya Indonesia dari apa yang dituduhkan oleh PBB tersebut. Dengan membandingkan situasi sosial di beberapa propinsi di Indonesia maupun di beberapa negara untuk menunjukkan sebenarnya kondisi HAM, KH Hasyim Muzadi memastikan dunia tentang toleransi Indonesia yang tidak bisa diragukan sama sekali.
Saya sangat bangga dengan isi pidato beliau. Ada banyak hal yang bisa dibahas lebih mendalam dari pidato tersebut. Tulisan ini bermaksud untuk menyambut pidato Hasyim Muzadi untuk bisa dipergunakan sebagai dasar awal melakukan refleksi tentang realitas kehidupan beragama di Indonesia saat ini.
Saya merasakan kebenaran dalam pidato tersebut terutama menjelaskan tentang “kemuliaan teologi” Islam dalam membangun Indonesia. Bukti Islam kepada Indonesia adalah memberikan Pancasila, sebagai dasar negara bersama, dengan versi yang dapat diterima oleh berbagai pihak di Indonesia.
Kekhususan Islam Indonesia inilah yang perlu dirayakan. Islam yang merahmati semesta (Islam rahmatan lil alamin) yang dirumuskan secara sosiologis oleh Robert Hefner sebagai Islam yang beradab. Islam yang beradab ini dalam perjalanannya ternyata mengalami banyak tekanan pada era regim Orde Baru. Kenetralan agama terjaga dengan sangat hati-hati, sehingga Pancasila seolah-olah terlihat seperti agama.
Reformasi menghadirkan wajah agama yang lain sekali. Agama sebagai pendorong terjadinya Reformasi, turut membawa Indonesia kembali kepada cita-cita bersama menjalankan musyawarah mufakat dengan menjaminkan penuh partisipasi semua warga negara. Keterlibatan agama diterima lagi sebagai berkat.
Akan tetapi tidak dapat dipunggiri, sejak Reformasi, wajah agama di Indonesia berkali-kali teruji.
Kasus-kasus kekerasan yang terjadi di berbagai tempat yang melibatkan warga sipil beragama dalam aksi-aksi kekerasan seolah-olah menunjukkan bahwa Reformasi memang memerlukan tumbal.
Dalam perjalanannya, daerah-daerah yang terlibat dengan berbagai konflik berbau SARA sebenarnya telah menyebabkan warga masyarakatnya menjadi matang. Mereka dari berbagai agama membangun inisiatif untuk mencari akar permasalahan. Termasuk mereka juga secara bersama-sama mengamankan daerahnya apabila ada kerusuhan yang seolah-olah diprovokasikan dari pihak ketiga. Rakyat sudah dapat membedakan dengan kritis konflik-konflik yang terjadi yang melibatkan agama. Rakyat tidak mau dibodohkan oleh konflik yang dibuat dengan melibatkan agama sebagai penyulutnya.
Tetapi konflik-konflik terus terjadi. Menurut Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM, http://www.elsam.or.id/new/index.php), sampai pada laporannya terakhir seperti saya membaca langsung pada websitenya, ada 36 kasus kekerasan yang melibatkan agama. Kekerasan ini terkait dengan pelarangan, penyerangan terhadap rumah-rumah ibadah yang tersebar pada umumnya di 42 tempat sepanjang wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.
Kasus-kasus inilah yang disinggung oleh KH Hasyim Muzadi sebagai alasan tentang kesulitan yang sama yang terjadi pada daerah-daerah di mana mayoritas warga beragama Kristen. Di contohkan tentang kesulitan pendirian mesjid di Kupang (Batuplat) maupun di Papua. Pada tingkat internasional beberapa negara disebut untuk menunjukkan perbedaan tingkat toleransi dengan yang terjadi di Indonesia.
Penjelasan KH Hazyim Muzadi menyadarkan saya tentang relasi mayoritas dan minoritas sebagai Indonesia yang berpenduduk Muslim, dengan daerah-daerah yang berpenduduk mayoritas non Muslim. Perlu diakui tentang adanya ketegangan ini. Saya ingin merumuskan dulu persoalannya dengan mengajukan beberapa pertanyaan-pertanyaan.
Mengapa dan bagaimana ketegangan ini bisa muncul sebagai alasan pemberlakuan pelarangan pendirian rumah ibadah di daerah-daerah yang mayoritas non Muslim di bagian lain dari Indonesia? Sejauhmana perlarangan ini menyebabkan keterlibatan berbagai kelompok yang bertindak sebagai “polisi” di dalam polisi untuk mengamankan keyakinan masyarakat yang beragama? Bagaimana penyadaran masyarakat dilakukan untuk membuka diri satu terhadap lainnya ketika kesulitan pendirian rumah ibadah dilakukan?
Pertanyaan-pertanyaan ini saya ajukan karena saya mengerti di berbagai tempat ketika kesulitan pelarangan pendirian rumah ibadah misalkan mesjid muncul, lembaga seperti WCRP yang dipimpin oleh KH Hazyim Muzadi melakukan koordinasi dengan Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) dalam memfasilitasi langsung untuk mengerti latar belakang mengapa ada penolakan-penolakan tersebut.
Pada pihak lain sebenarnya pertanyaan-pertanyaan di atas juga terkait dengan berbagai masalah sosial lainnya. Tekanan urbanisasi ke kota-kota besar di Indonesia turut mempengaruhi munculnya ketegangan-ketegangan dalam masyarakat. Perubahan terkait dengan komposisi warga masyarakat yang terdiri dari berbagai etnis dan agama di suatu tempat. Ruang-ruang sosial yang disebut mayoritas dan minoritas mulai mengalami perubahan juga. Keragamanan terlihat pada masyarakat pendatang yang berpengaruh terhadap penduduk setempat.
Dalam konteks inilah, sangat penting direfleksikan tentang hubungan antara warga pendatang dengan warga setempat. Perlu diakui sering kali warga pendatang membawa berbagai kelebihan yang tidak dimiliki oleh warga setempat. Misalkan, sifat-sifat keeklusifan dari warga pendatang bisa menyebabkan munculnya sikap penolakan dari warga setempat. Benar di banyak tempat, dalam relasi tentang pelarangan gereja-gereja, bisa dikatakan komunitas Kristen sepintas lebih berada dari warga sekitarnya, sekaligus tampil sangat arogan dibandingkan dengan mereka yang hidup sederhana. Deretan orang-orang yang beribadah dengan kendaraan mahal bisa menimbulkan kebanggaan pada satu pihak tetapi kecemburuan pada pihak lain. Potensi konflik bisa muncul dari hal ini.
Penjelasan secara sosiologis setidaknya secara sederhana sudah saya jelaskan. Tetapi menurut saya, kajian secara sosiologis perlu diteruskan ke kajian teologi. Hampir dalam berbagai pertemuan, terutama di kalangan akademis, yang terkait dengan kajian teologi suatu agama, diasumsikan bahwa mereka yang terlibat harusnya seorang yang berasal dari agama tersebut. Agama menjadi sangat sakral juga apabila akan dikaji secara akademisi.
Pandangan ini bisa benar, tetapi juga bisa keliru. Kajian akademis pun tidak bisa menghindari dari keobyektifitas dari alur logis pembahasan yang harus dilalui. Sehingga, seorang beragama dalam membahas tentang teologi agamanya juga bisa tampil sangat bias.
Jadi dalam tulisan ini, saya bermaksud memasuki kajian lintas agama tersebut, bukan pertama-tama karena ingin melanggar aturan seperti yang saya gambarkan di atas sebagai suatu asumsi yang diterima di kalangan kajian teologi akademis. Tetapi terutama karena saya merasakan bahwa diskusi tentang agama dalam konteks Indonesia sebaiknya melibatkan umat beragama dari berbagai agama.
Menurut saya, Reformasi telah memulihkan kekuatan Islam sebagai agen perubahan di Indonesia. Saya sangat terpesona dengan semangat “gerakan” yang ada dalam organisasi-organisasi Islam di Indonesia. Kedua organisasi besar keagamaan, yaitu NU dan Muhammadiah merupakan contoh yang menarik untuk menjelaskan betapa pentingnya organisasi agama yang turut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Kekuataan pandangan dari ajaran teologis Islam, telah menyebabkan kedua organisasi agama ini menjadi motor penggerak bagi kehidupan berbangsa di Indonesia. Soekarno adalah seorang yang dibesarkan dikalangan Muhammadiah. Dengan bekal penghayatan agama Islam yang mendalam, Soekarno sadar tentang peran penting agama dalam politik negara. Upayanya dilakukan dengan menemukan kekuatan Islam yang bisa merangkul semua warga masyarakat yang non Muslim di tanah air, bangsa negara yang disebut Indonesia.
Dalam perjalanannya seperti sudah saya singgung di atas, perubahan tentang Islam di Indonesia makin dirasakan, terutama terkait dengan agama dalam konteks pidato KH Hasyim Muzadi. Indonesia adalah negara dengan populasi muslim terbanyak di dunia. Politik Indonesia paska Reformasi mewarnai gerakan politik dunia di mana Indonesia sangat berperan dalam menyumbangkan perdamaian di dunia.
Kesadaran ini sepintas bukan hanya muncul di kalangan bangsa-bangsa dunia yang non muslim tetapi juga diakui oleh negara-negara muslim sedunia. Misalkan dokumen Kesamaan Diantara Kami dan Kamu (A Common Word) juga menyatakan tentang perdamaian dunia sangat ditentukan oleh hubungan di antara Islam dan Kristen. Rujukannya bisa dilihat pada tulisan saya lainnya <http://farsijanaindonesiauntuksemua.blogspot.com/2012/05/sebuah-persamaan-di-antara-kami-common.html >
Menanggapi undangan dari A Common Word, sebagai warganegara Indonesia, saya ingin bertanya apa yang sudah dilakukan oleh Indonesia. PGI sudah membahasnya dengan gereja-gereja untuk mendorong terjadinya pemahaman baru tentang tugas bergereja dalam bangsa dan negara. Kesadaran tentang perdamaian bersama sangat mendalam karena tanpa upaya mengerti tentang kehidupan relasi beragama ini, Indonesia akan kehilangan perdamaian yang merupakan dambaan dari ajaran agama-agama besar yang dianut oleh pemeluknya di Indonesia.
Bersambung ke "Bagian kedua: Memahami Toleransi", HAM dan Agama"
<http://farsijanaindonesiauntuksemua.blogspot.com/2012/06/bagian-kedua-memahami-toleransi-ham-dan.html>
Selasa, 05 Juni 2012
Jumat, 01 Juni 2012
67 ayat-ayat Permenungan Pancasila: Merayakan Hari Lahir Pancasila Bersama Warga Facebook
67
ayat-ayat permenungan Pancasila. Merayakan Hari Kelahiran Pancasila Bersama
Warga Facebook
Oleh
Farsijana Adeney-Risakotta
Pengantar:
“Kuat
karena bersatu, Bersatu karena kuat ”, adalah kata-kata Soekarno yang dikumpulkan bersama dengan gambar
uang Seratus Rupiah berwajah Soekarno. Gambar dan cuplikan tulisan ini diambil
ketika saya mengunjungi Soekarno Center di Tampak Siring Bali pada bulan
Januari 2012 lalu. Cuplikan kata-kata Soekarno di atas yang memberikan
inspirasi kepada saya untuk merenungkan 67 ayat-ayat permenungan Pancasila.
Kelahiran
Pancasila terkait dengan pidato Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945. Pancasila
sudah teruji sejak saat kelahirannya sampai pemerintahan Orde Baru yang diikuti
dengan kejatuhan Soeharto melalui kebangkitan Reformasi. Paska Reformasi, kehidupan berbangsa dan
bernegara masih belum mengembalikan Pancasila sebagai dasar negara yang
menginspirasikan kehidupan bersama.
Jadi
kemarin saya secara spontan merayakan Pancasila dengan cara berbagi permenungan
kepada teman-teman dan saudara/i dalam jaringan Facebook saya yang hampir 2000
orang.
Kelahiran
ayat-ayat permenungan ini satu persatu di mulai dari jam 8 pagi sampai jam 7
malam. Ketika saya sedang mempersiapkan makanan di dapur satu ayat ditulis pada
status Facebook saya. Saya akan menghidupkan mobil, satu ayat dikirimkan dulu
ke status saya. Keluar dari rumah, di jalan saya berhenti beberapa kali
menuliskan status, satu dua tiga ayat baru terbentuk. Di beberapa tempat saya berhenti
dan berkantor saya menulis mengirimkan ayat-ayat ke status Facebook.
Jumlah
kata-katanya harus disesuaikan dengan kapasitas huruf di status Facebook. Saya
mengirimkan melalui Tablet Samsung tanpa bisa menanggapi segera tanggapan dari
mereka yang memberikan jempol dan komentar. Ayat-ayat ini terus mengalir sejak
pagi hingga menjelang sore ketika saya pulang rumah. Kembali ke dapur, sambil
makan, di sana ada dua PRT, adik saya,dan
ibunda, kami tertawa-tawa ketika saya merangkaikan kata-kata membentuk ayat-ayat
baru.
Kelahiran
Pancasila tahun ini dirayakan dengan sangat khusus. Sayang saya terlalu capek
sehingga tidak bisa tirakatan pada hari kelahiran ini. Saya tertidur sampai
pagi hari terbangun dengan gonggongan suara anjing tersayang. Kemudian sesudah
berdoa dan membaca Firman, saya mengunjungi warga Facebook.
Saya senang membaca
semua komentar dan lihat jempol-jempol dari teman-teman. Ada yang meminta untuk
saya mengirimkan 67 ayat-ayat permenungan Pancasila. Jadi sesudah saya jogging,
saya mulai menulis tulisan ini. Siap segera dikirimkan kepada semua untuk bisa
meneruskan permenungannya sendiri. Terima kasih Pancasilaku!
Ayat-ayat
permenungannya tertulis terbentang di bawah ini:
1. Pancasila
means unity to live in justice, equality and peace…
happy Pancasila day (13 jempol)
happy Pancasila day (13 jempol)
- Pancasila bukan berarti pretelin negara menjadi pecah-pecahan untuk kepentingan kekuasaan sepihak (7 jempol), (1 komen)
- Pancasila berarti mohon maaf dan ubah kebijakan yang mengeksploitasi tanah bumi rakyat atas nama pembangunan (5 jempol) (3 komen)
- Pancasila adalah nilai dan praktek kehidupan yang dibela dilakukan dengan cinta kasih bukan karena kekerasan berdasar dominasi dalam relasi berbangsa (5 jempol) (1 komen).
- Pancasila adalah menyapa assalamalaikum kepada mereka yang berbeda dengan kita karena keselamatan perlindungan kesejahteraan diberikan negara kepada semua (11 jempol)
- Pancasila adalah bersemangat melakukan paling sedikit kebaikan sekali sehari untuk semua yang bernyawa dan tidak sebagai makhluk ciptaan Sang Pencipta (3 jempol)
- Pancasila berarti mberi kesempatan kepada sesama warganegara bernapas bebas dari rasa terancam dipunahkan melalui politik kemanusiaan yang nampak agung beragama (1 jempol) (1 komen)
- Pancasila berarti memberikan hak yang menjadi kepunyaan asazi setiap orang sebagai warga bumi semesta dan menjalankan kewajiban yang disepakati dg komitmen penuh (4 jempol) (1 komen)
- Pancasila adalah menarasikan praktek tradisi dalam semangat kehidupan yang terus bergulir, menggairahkan, menginspirasikan diri sendiri dan sesama (2 jempol)
- Pancasila menyebabkan hatiku bersyukur mempunyai tanah air yang memungkinkan keindahan budaya dihargai sebagai bagian dari warisan peradaban bersama (2 jempol) (1 komen)
- Pancasila berarti meyakinkan setiap warga tentang dirinya sbg penjaga NKRI, bukan karena otoritas keruangan dan kebenaran yang diklaimnya tetapi demi “hidup” (3 jempol)
- Pancasila seperti lima indra diberikan Sang Pencipta supaya manusia sempurna dalam laku likunya (6 jempol)
- Pancasila terlahir dari rahim Indonesia harusnya bisa diusulkan kpd Unesco sebagai world heritage kecuali negara dgn sengaja menciptakan para militer contoh FPI (3 jempol)
- Pancasila bukan barang kuno untuk dibuang ke sungai Winongo tempat kesialan karena sekarang warganya sudah membuatnya sebagai rumah alam untuk semua yg hidup (1 jempol)
- Pancasila adalah identitas manusia Indonesia kebanggaan bayi2 anak2 pemuda2 dewasa2 dan lansia2 (2 jempol)
- Pancasila siapakah yang punya?...ialah rasa sayang eeh..buah hati beta...kulo tresno kalian panjenengan..(4 jempol)
- Pancasila membuat diriku tersenyum sepanjang hari karena engkau dirayakan hari ini…dengan caraku yang unik..menulis ungkapan hati berbagi kepada semua (9 jempol)
- Pancasila seperti darah yang dibutuhkan oleh tubuh politik dalam keluarga bangsa Indonesia (2 jempol)
- Pancasila hidup di antara nilai dan tindakan apabila hanya buah bibir maka hidup kehilangan arah (2 jempol)
- Pancasila pada tingkat praktek adalah ritual yang mengandung komitmen yang selalu harus dirayakan sejak masa lalu, kini, masa depan dan selama-lamanya.. (8 jempol) (1 komen)
- Pancasila menghadirkan dirimu ke mana-mana diriku bergerak hari ini..kupandangi muka2 yang lain, berpacu dalam waktu memakmurkan Indonesia untuk semua (2 jempol)
- Pancasila: siapa bilang sedang diuji di luarnegeri? Ujiannya bukan tentang penalaran tetapi melakukan dalam hidup sehari hari (6 jempol) (1 komen)
- Pancasila bukan agama melainkan mata air yang terpancar keluar dari berbagai tradisi kehidupan yang meluaskan manusia menjadi makhluk religious (11 jempol)
- Pancasila menurut remaja adalah I Love You More Than Ever (9 jempol) (1 komen)
- Pancasila dihati kakek nenek adalah kedamaian yang teryuh…merasuk sampai ke sum sum (8 jempol)
- Pancasila menurut saya yang suka masak adalah seperti bumbu2 organik yang esensial membuat makanan sedaaaap….(6 jempol) (1 komen)
- Pancasila seperti suara adzan yang memanggil umat sujud kepada Allah SWT (9 jempol) (1 komen)
- Pancasila adalah roh pergerakan yang mendinamiskan kehidupan politik bernegara berbangsa kearah kesatuan kesejahteraan kedamaian untuk semua (1 jempol) (2 komen)
- Pancasila seperti oese di tengah padang gurun supaya Indonesia yg dikelilingi lautan makin menghargai sebelum tiba kesusahan dari pengabaiannya (2 jempol) (1 komen)
- Pancasila adalah hati, jiwa, raga, dan pikiran semua insan Indonesia yang tinggal dari Sabang sampai Merauke berjanji setia dalam duka dan senang (5 jempol)
- Pancasila seperti rumah kehidupan yang melindungi insan Indonesia dari badai dan bencana …yang mematikan.. (2 jempol) (1 komen)
- Pancasila karena engkaulah diriku bisa menerima keberadaan setiap pribadi setiap suku setiap umat beragama sebagai keindahan Ilahi yang diberikan hak hidup (3 jempol) (2 komen)
- Pancasila sudah dibuktikan kesaktiannya dan kalau diuji lagi insyah Allah bukan dgn kekerasan tetapi hanya melalui cinta kasih (2 komen)
- Pancasila adalah lentera sekalipun Indonesia kehabisan minyak bumi, engkaulah penuntun kita dalam kegelapan (tidak ada jempol dan komen)
- Pancasila adalah buah cinta dari pemimpin dan rakyat ketika membangun komitmen pernikahan membentuk keluarga bangsa Indonesia (tidak ada jempol dan komen)
- Pancasila adalah cita-cita pengantin muda yg terus dikawal hingga bergenerasi diturunkan dalam ingatan bersama diritualkan dlm praktek iman kekinian Indonesia (tidak ada jempol dan komen)
- Pancasila untuk mereka yg pesimis ketika ditanya apa makna akan tertawa hehehe karena masih banyak diskriminasi dilakukan atas nama Pancasila (3 jempol) (2 komen)
- Pancasila bagaikan kartu truf ditangan seorang pemain politik yang cantik..hahaha bisa berubah wujud..(1 jempol)
- Pancasila adalah candu menurut Karl Marx (2 jempol)
- Pancasila hanya sebagai topeng untuk mereka yg bertarung merebut kekuasaan (3 jempol)
- Pancasila dikatakan sudah terkubur bersama SoehartoJ (1 jempol) (1 komen)
- Pancasila bagaikan putri tidur yg sdh saatnya dibangun dengan kesatrian pemimpin bangsa Pancasilais (1 jempol)
- Pancasila memberi inspirasi kepatriotisme bangsa seperti tanaman pisang yang mati meninggalkan anakannya (tidak ada jempol dan komen)
- Pancasila dengan ketajaman nilai2nya bagaikan mata bijak burung hantu (tidak ada jempol dan komen)
- Pancasila memang benar ada di dada burung garuda bkn pd sayapnya shg patah, lbh baik lagi berada di dada manusia Indonesia utk dicintai dan diamalkan (2 jempol)
- Pancasila ternyata mempunyai kekuatan menanggal kedatangan kemagisan spirit Lady GagaJ (1 jempol)
- Pancaila ….syut ternyata penampang kembang lotus yg indah untuk dihayati…(1 jempol)
- Pancasia Pancasila saya mau bertanya padamu..sejak kelahiranmu sdh berapa banyak pecahan nilai2 yg mengalir bagi bangsamu? (3 jempol)
- Pancasila maaf saya mau nanya lagi! Mengapa garuda yg engkau tumpangi nengoknya hanya ke kanan? Ooh saya tahu itukan arah mentari terbit!Indonesia optimis! (1 jempol)
- Pancasila makasih ya…Indonesia optimis berarti Indonesia lihat ke depan dan memaafkan masa lalu…komitmen memperbaharui..bravo PancasilaJ (1 jempol) (1 komen)
- Pancasila yang terbang bersama burung garuda..terbanglah indah dari satu pulau ke pulai lain supaya semua melihat kemegahan dan ketulusanmu (tidak ada jempol dan komen)
- Pancasila engkau sudah tiba di mana? Pulau apa? Sudah tiba di Papua belum? Engkau lihat gak apa sedang terjadi di sana? Mengapa mereka disakiti? (1 jempol)
- Pancasila jangan lupa mampir di Maluku ya! Pancasila beritahu kami apa yg sedang terjadi di seantero Maluku! (3 jempol)
- Pancasila coba lihat di Wakatobi..banyak penyu hijau dan ikan Napoleon ditangkap utk dijual ke Hongkong. Bisakah engkau lakukan sesuatu di sana? (2 jempol) (1 komen)
- Pancasila ada pesan nih…warga Flores undang mampir menguatkan mereka supaya tidak kehilangan tanah dan gunung demi pembangunan demi pertambangan (2 jempol)
- Pancasila, capek ya? Tapi hatimu puas khan bisa lihat langsung penderitaan rakyat…syukur Pancasila gak nongkrong saja di Jakarta..tunggu laporan pembisik (4 jempol)
- Pancasila mengapa sekarang korupsi menjadi penyakit seluruh bangsa ini (2 jempol) (1 komen)
- Pancasila demi demokrasi harus ada pemilukada..tetapi bukankah ini sumber korupsi? (3 jempol)
- Pancasila bagaimana dengan RUU Keistimewaan Yogyakarta..mengapa berlarut-larut…meresahkan rakyat DIY (2 jempol) (1 komen)
- Pancasila…apakah engkau setuju lumpur lapindo dibiarkan menenggelamkan Sidoarjo..kok tidak terselesaikan..keburu pemilu 2014 nih! (7 jempol) (6 komen)
- Pancasila peluang pekerjaan terbatas untuk perempuan shg mrk harus menjadi TKW tanpa perlindungan terhadap hak2nya! (2 jempol)
- Pancasila sentuhlah hati bangsa ini supaya melindungi generasi muda dari narkoba! (2 jempol)
- Pancasila berdayakan petani sehingga berdaulat terhadap pangannya sendiri..(2 jempol)
- Pancasila dimanakah keadilan terhadap akses pendidikan kepada warga di pelosaok sebelum mereka mengikuti ujian nasional? (2 jempol)
- Pancasila mengapa kami miskin di tanah air yang kaya ini? (2 jempol)
- Pancasila dimanakah pemerintah ketika kami kekurangan gizi, sakit dan hampir mati? (1 jempol) (1 komen)
- Pancasila dihari HUTmu yang ke 67 kumengeluh, kubernyanyi, kumenari merayakan perjalanan hidup bangsa ini. Bangkit Pancasilaku bangkit Indonesiaku! (4 jempol) (1 komen)
Penutup
Langganan:
Postingan (Atom)

