Translate

Rabu, 25 Juni 2014

Indonesia Memilih Presiden dan Wakil Presiden 2014-2019. Mempertanggungjawabkan pilihan politik warganegara!


Indonesia Memilih Presiden dan Wakil Presiden 2014-2019

Mempertanggungjawabkan pilihan politik warganegara!

Oleh Farsijana Adeney-Risakotta

 

Saat ini Indonesia berada dalam sorotan dunia. Kampanye calon presiden dan calon wakil presiden RI dibuka oleh Komisi Pemilihan Umum pada tanggal 4 Juni 2014 sampai dengan tanggal 5 Juli 2014 ternyata tidak saja dilakukan oleh tim kampanye dari masing-masing calon, tetapi dibahas secara mendalam oleh masyarakat.  Ada dua calon presiden dan calon wakil presiden yang saat ini sedang melakukan kampanye untuk mempertanggungjawabkan visi dan misi mereka sehingga rakyat bisa mengerti dan membuat keputusan untuk memilih pada tanggal 9 Juli 2014. Mereka adalah pasangan Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa sebagai nomor urut 1 sebagai calon presiden dan calon wakil presiden yang bertarung dengan Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla sebagai calon presiden dan calon wakil presiden dengan nomor urut 2.

Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2014 memang berbeda dengan pemilihan-pemilihan presiden dan wakil presiden sebelumnya.  Bahkan kemeriahan masa kampanye presiden dan wakil presiden lebih meriah dari pertandingan World Cup yang juga sedang berlangsung dan bisa dinikmati oleh seluruh dunia termasuk di Indonesia. Daya tarik kampanye calon presiden dan wakil presiden RI periode 2014-2019 sangat besar karena warganegara Indonesia di mana-mana sekarang ini bisa dihubungkan dengan dunia maya. Teknologi jaringan memungkinkan transparansi, akuntabiltas dan mendorong proses demokrasi berjalan bersih karena setiap orang bisa mendorong terjadikan pengecekan, klarifikasi dan pelurusan sebagai bagian dari cara pendidikan politik pada masyarakat.

Warganegara Indonesia tidak bisa tinggal diam untuk menyerahkan hak memilih dikelola oleh opini yang dibuat oleh media tentang capres dan cawapres yang pantas untuk Indonesia.  Saat ini banyak situs di dunia maya yang mempublikasikan hasil survey dari capres dan cawapres baik yang mengunggulkan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa (Nomor 1) maupun Jokowi-Jusuf Kalla (nomor 2). Warga masyarakat tidak buta tentang hasil-hasil polling dan survey tersebut, karena hak pemilihan ada pada masing-masing warganegara sebagai pemilih yang menggunakan kesempatan kampanye sekarang ini sebagai wadah pendidikan politik untuk mengerti kearah mana Indonesia akan dibawa oleh calon presiden dan wakil presiden RI yang akan dipilihnya.

Banyak orang meragukan kebebasan masyarakat untuk memilih karena adanya politik uang, politik balas jasa terhadap tokoh-tokoh yang secara tidak langsung berhubungan dengan calon presiden dan calon wakil presiden RI.  Pemilihan calon presiden dan wakil presiden yang dilakukan berdasarkan asas langsung, umum, bebas dan rahasia seolah-olah memberikan kesan bahwa seorang pemilih harus disetrilkan untuk bisa membuat keputusan politik yang paling tepat. Dalam mendorong partisipasi politik, ide sterilisasi masyarakat untuk hanya mendengar dari satu calon kubu sebenarnya tidak mendorong adanya diskusi terbuka dalam masyarakat.  Untuk itulah, debat presiden RI yang dicanangkan oleh Komisi Pemilihan Umum sehingga pelaksanaannya dilakukan lima kali dimulai dari tanggal 9, 15, 22, 29 Juni dan 5 Juli 2014 adalah cara demokrasi untuk memberikan kesempatan kepada warganegara mengalami pendidikan politik.  Debat Presiden adalah salah satu alat kampanye yang menyajikan panggung terbuka di mana ide-ide dan praktek dari  masing-masing calon didiskusikan secara terbuka. Bahkan Prof. Jeffrey Winters menyatakan kekagetannya karena dalam debat presiden yang ditayangkan melalui Televisi, masing-masing kandidat diberikan kesempatan untuk saling bertanya.  Kekagetannya didasarkan pada pengalaman di Amerika Serikat yang sangat berbeda karena tidak ada sesi tanya jawab yang diberikan kpeada masing-masing kandidat untuk mendalami pikirannya sendiri melalui pertanyaan dari lawan politikusnya. Debat Presiden ini kemudian diteruskan oleh warga masing-masing dengan menggunakan ruang publik yang ada seperti Facebook untuk mendiskusikan lebih lanjut pikiran-pikiran yang disampaikan dalam oleh calon presiden dan calon wakil presiden masing-masing.

Diskusi-diskusi di kalangan internalnya masing-masing inilah yang paling menarik untuk dicermati.  Cara diskusi yang menarik dengan menulis pernyataan pada status ternyata tidak sekedar kata-kata kosong. Tulisan-tulisan di Facebook sebagai status adalah hasil dari proses analisa tentang apa yang sedang terjadi dalam masyarakat dan bagaimana diri sendiri menanggapinya. Argumentasi dibangun dari pembacaan berita-berita yang datang sangat cepat untuk menguji setiap kejadian dan pernyataan yang sedang terjadi dalam masyarakat terkait dengan apa yang disebut, apa yang dilakukan, media apa yang dipakai oleh calon presiden dan calon wakil presiden dalam mempertanggungjawabkan perkataan dan perbuatan-perbuatan mereka pada masa lalu, sekarang dan akan datang. Kampanye presiden dan wakil presiden 2014 membuat warganegara biasapun terlibat untuk mengerti apa yang sedang terjadi dengan Indonesia saat ini. Mereka tidak mau melepaskan Indonesia ditentukan oleh para elite politik, media massa dan lembaga-lembaga survey, karena mereka mencari semua berita-berita dan mengujinya dengan sangat cerdas.

Saya menulis saat ini karena  ingin menegaskan kepada tim sukses dari masing-masing kubu, bahwa kampanye hitam, kampanye jelek tidak berguna. Meluruskan kampanye hitam dan jelek bisa dilakukan oleh masing-masing kubu dengan mengklarifikasikan kepada publik. Apabila terlihat bahwa ada pelanggaran termasuk pencemaran nama baik yang berlebihan, maka kubu yang mencemarkan bisa melaporkan kepada Bawaslu. Kampanye yang paling efektif adalah apabila warga masyarakat didorong untuk berpikir kritis termasuk juga melakukan dialog dengan warga yang lain tentang visi, misi dan program-program yang akan dilakukan oleh calon presiden dan calon wakil presiden. Media sosial seperti Facebook telah memungkinkan warga masyarakat untuk berdiskusi tentang alasan-alasan mengapa mereka mendukung calon presiden dan calon wakil presiden tertentu.

Setiap warganegara akhirnya harus membuat keputusan tentang siapa calon presiden dan calon wakil presiden yang didukungnya.  Keputusan untuk membahasnya pada status di Facebook adalah bagian dari pertanggungjawabannya terhadap masa depan Indonesia.  Rumusan langsung, umum, bebas, dan rahasia harus dimengerti secara benar, bahwa proses rahasia pada saat pemungutan suara perlu dijaminkan untuk menjaga validalitas suara pemilih pada saat mencoblos. Tetapi proses mendialogkan, mendiskusikan pandangan-pandangan sepasang kandidat presiden dan wakil presiden tidak harus dilihat sebagai suatu kerahasiaan.  Mengungkapkannya adalah bagian dari kedewasaan pendidikan politik untuk mempersiapkan seorang warga negara melakukan pemilihan resmi pada tanggal 9 Juli 2014. Karena itulah, jadilah diri sendiri untuk setiap warganegara  Indonesia sehingga memilih calon presiden dan wakil presiden RI periode 2014-2019 tanpa rasa takut, beradab, mengedepankan perdamaian  dan dilakukan berdasarkan hati nurani yang Pancasilais.

1 komentar: