Translate

Jumat, 06 Desember 2013

Memahami Allah: Jalan menuju keadilan dan perdamaian di dunia!

Memahami Allah: Jalan menuju keadilan dan perdamaian di dunia!
Oleh Farsijana Adeney - Risakotta

Saya terus menulis karena hanya itu yang saya bisa saya lakukan sekarang . Tapi ada banyak pertanyaan yang muncul dari teman-teman kami. Mereka bertanya bagaimana saya bisa menafsirkan kecelakaan yang mengakibatkan penderitaan tubuh saya sendiri untuk menjadi sebanding dengan kematian yang terjadi pada rakyat Papua . Ada pandangan bahwa saya bisa melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan Papua tanpa harus melalui rasa sakit  sekarang ini.  Banyak yang mengakui bahwa menulis adalah cara untuk menyembuhkan diri karena  perlu waktu untuk saya sembuh.  Beberapa orang berpikir saya membangun pikiran positif tentang apa yang terjadi dengan kami dan berharap bahwa suami saya juga akan terinfeksi dengan pandangan ini . Dalam keterkaguman mereka , saya telah membawa penderitaan tubuh dengan menempatkan dalam perspektif yang didukung oleh penjelasan rinci sehingga bisa menguatkan sesama yang lain . Ada kebutuhan yang dirasakan untuk berdoa lebih banyak untuk kami karena kecelakaan ini . Orang-orang berpikir bahwa cara saya menghadapi tragedi ini tidak banyak orang bisa melakukannya . Di atas semua komentar , saya bersyukur ada banyak teman-teman yang terus berdoa untuk kesembuhan saya.



Saya telah menulis tentang tanggal sebenarnya kecelakaan bersama dengan tanggal ketika mahasiswa Papua di Jayapura , memprotes rencana pemerintah daerah untuk bekerja sama dengan pemerintah pusat untuk menggantikan UU Otsos Papua ( UU Otsus Papua ) dengan Otsus Papua Plus. Saya menulis sebuah artikel khusus yang terkait dengan suara kenabian dari Pdt Benny Giay , yang memimpin gerakan perlawanan terhadap rencana pemerintah termasuk bertanya tentang mengapa mahasiswa ditahan oleh polisi dan beberapa dimasukkan ke dalam penjara ketika mereka mempertanyakan status penyusunan undang-undang baru . Berkaca dari kasus ini, sifat demokrasi yang telah mengubah wajah politik di Indonesia , sebenarnya tidak berlaku di Papua.  Orang Papua terus tertekan tidak bisa bertanya tentang ketidakadilan sistem yang sedang dialaminya dan ketiadaan damai karena orang hidup dalam ketakutan. Protes mahasiswa ini terjadi pada tanggal yang sama ketika kita mengalami kecelakaan . Tanggal itu 2013/11/04 ( keempat dari November 2013).


Kekaguman saya semakin kuat karena tulang belakang yang patah adalah T - 11 dan L - 4 . Sekali lagi , nomor yang sama muncul , yaitu 11 dan 4 . Saya tidak menggunakan nomorlogi untuk menafsirkan apa yang terjadi pada saya . Namun angka 11 dan 4 adalah penting bagi saya , karena bulan Mei 2013 saya melakukan pameran tunggal dengan judul pameran blog dan  seni visual " Indonesianku Indonesiamu Indonesia untuk semua ". Pameran  ini memamerkan  karya seni saya berjumlah 44 potong . Karya-karya ini terbagi atas  empat bagian dengan masing-masing berisi 11 karya seni . Bagian pertama yaitu karya seni kawat yang  berjudul 11 satire hukum nasional. Bagian kedua adalah 11 lukisan yang memvisualisasikan puisi saya dipublikasikan di blog untuk " Indonesianku Indonesianmu Indonesia untuk semua " . Bagian ketiga adalah 11 foto perdamaian yaitu foto-foto yang saya ambil dari koleksi saya sendiri sebagai seorang fotografer. 11 foto yang dibuat dengan memberikan makna yang ditetapkan dalam kalimat untuk menjelaskan sifat masing-masing foto-foto ini .  Kesebelas foto perdamaian adalah bagian dari gerakan perdamaian online saya sebagai anggota organisasi mepeace untuk mendukung penyelesaian konflik Israel dan Palestina . Kalimat pada foto-foto itu ditulis dalam bahasa Inggris . Bagian keempat , yang terakhir adalah 11 karya poster yang berisi tulisan-tulisan naratif , dan kritik dilengkapi dengan foto-foto yang mencerminkan topik diskusi dibahas dan dipublikasikan di blog yang sama .


Saya ingin menghubungkan artikel ini dengan perjuangan saya lebih besar yang telah saya lakukan sejak saya dipaksa untuk mengubah substansi penelitian PhD saya karena kejadian yang menakutkan saya hadapi.  Semuanya berawal ketika saya sedang melakukan penelitian PhD saya tentang dampak globalisasi bagi masyarakat di daerah pedesaan di Galela , Halmahera , North Maluccas . Penelitian PhD saya adalah kelanjutan dari pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam catatan kaki dari tesis saya . Saya menulis tesis untuk mendapatkan gelar master di bidang etika pembangunan yang berhubungan dengan nilai-nilai budaya masyarakat di Galela , Maluku Utara di mana masyarakat tidak dilibatkan dalam program pengembangan pembangunan dipelopori oleh konglomerat,  investor dari Jakarta . Orang-orang menjadi korban karena mereka kehilangan tanah mereka . Perlawanan dibentuk antara orang-orang untuk menolak untuk menjual tanah perkebunan kelapa yang menyebabkan tanah itu kemudian dikelilingi oleh perkebunan pisang yang dimiliki oleh perusahaan transnasional dengan tujuan ekspor ke Jepang . Pisang yang dihasilkan di Galela tetapi produk yang dijual dengan nama Bali Inn. Produksi dengan nama Galela tidak terlalu terkenal dibandingkan dengan Bali , pulau para dewa , di mana wisatawan dari seluruh dunia mengenal keeksotismenya.

Tapi Galela kemudian menjadi sangat terkenal bukan karena produk pisang , tetapi digunakan sebagai nama yang tepat ketika kekerasan massal yang melibatkan komunitas Muslim dan Kristen terlibat saling menyerang dan membunuh. Media di Jawa menggambarkan kekerasan massal secara manipulatif untuk menarik perhatian Muslim di Indonesia karena ada komunitas Muslim bernama Galela yang dibantai oleh komunitas Kristen di daerah yang paling terpencil di bagian timur Indonesia . Saya tahu bahwa deskripsi yang diberikan oleh media sangat manipulatif karena kenyataannya tidak seperti itu ( Adeney Risakotta - : 2005). Tapi dengan cara penggambaran ini akan ada gerakan umat Islam di Indonesia untuk mendukung tim kemanusiaan yang dipimpin oleh Jihad ke  Maluku . Saya bersikeras tidak akan kembali ke daerah penelitian saya , di desa mayoritas Muslim , yaitu Ngidiho karena kehadiran saya akan membingungkan bagi mereka, baik yang Kristen, karena saya seorang Kristiani tetapi penelitian dan tinggal bersama komunitas Muslim.


Kemudian saya mendengar  tentang oom Din yang merupakan kepala keluarga dari tempat saya tinggal di Ngidiho disidangkan oleh Jihad karena mereka menuduh saya sebagai mata-mata sebelum kekerasan terjadi selama saya tinggal dengan keluarga tersebut . Syukurlah mereka bisa mendapatkan surat izin penelitian yang disimpan di kantor pemerintah daerah di Ternate ketika saya mengurus izin penelitian setelah tiba dari Belanda sebelum pergi ke Ngidiho , di Galela , Pulau Halmahera Utara , Maluku Utara. Oom Din akhirnya dilepaskan.

 Saya pergi pertama kali ke Ngidiho dengan suami saya . Kami diterima dengan baik oleh pemerintah desa dan keluarga Din di mana saya memilih untuk tinggal selama satu tahun penelitian . Kemudian kami berencana , suami saya akan kembali lagi dengan saya untuk merayakan Idul Fitri bersama-sama dengan saudara-saudara di Ngidiho . Pada tahun 1999 perayaan Natal dan Idul Fitri terjadi berdekatan satu sama lain . Idul Fitri dirayakan sebelum Natal . Tapi rencana ini tidak terjadi karena kita mendengar tentang adanya kekerasan massa antara Kristen dan Muslim di Utara Pulau Halmahera . Rencananya awalnya , setelah Idul Fitri dan Natal di Ngidiho , suami saya akan memberikan kuliah di STT GMIH sesuai dengan undangan dari mereka .

Tapi sebelum kita telah menyeberang dari Sulawesi Utara ke Ternate , berita konflik telah datang kepada kami . Suami saya masih ingin pergi ke sana terutama ke Tobelo sehingga bersama dengan gereja membantu menghentikan kekerasan di sana . Usahanya beberapa kali untuk mencari kapal  laut tidak berhasil . Sementara menunggu dan berusaha, pada leher suami saya tumbuh bisul . Kami pergi untuk memeriksa  rumah sakit di Manado yang kemudian merekomendasikan untuk penyelidikan lebih lanjut karena ada kecurigaan terkait dengan infeksi atau tumor . Akhirnya kami  kembali ke  Jawa, ke Kediri karena di sana ada dokter-dokter dari Amerika Serikat di Rumah Sakit Baptis, tetapi mereka mengusulkan kami ke Singapora karena laboratorium mereka tidak canggih.  Kami akhirnya ke Singapura . Mereka melakukan operasi untuk mengambil benjolan tapi sampai saat ini belum diketahui apa penyebabnya . Saya katakan kepada suami,  saya percaya benjolan tumbuh untuk mencegah dia dari keinginannya ke Halmahera pada waktu yang
tidak tepat.  

Jadi jika sekarang kami berdua kembali lagi dihadapkan dengan kecelakaan yang hampir merenggut nyawa, maka saya tahu ada rencana Allah untuk kita . Saya terutama masih melihat hubungan antara pekerjaan saya di Halmahera dengan gerakan keadilan dan perdamaian yang saya lakukan bersama sesama warganegara NKRI untuk menegakkan keadilan dan perdamaian di Papua . Halmahera Utara dan Papua merupakan daerah yang sangat subur dan berlimpah dengan pertambangan . Kerusuhan berakhir dengan kekerasan massal yang melibatkan orang-orang beragama dimulai melalui perdebatan tentang klaim teritorial yang melibatkan dua komunitas , penduduk asli , Kao dan imigran Makian . Makian pindah dari pulau Makian terletak dekat dengan pulau Ternate  ke pulau Halmahera di tanah masyarakat Kao, setelah gunung meletus.

Bencana konflik yang menyebar menempati kabupaten lain di sekitar Halmahera yang dibagi ke dalam komunitas Muslim dan Kristen , menyebabkan ribuan  orang meninggal . Perkebunan pisang tujuan eksport yang dibangun di Galela, menjadi kebanggaan pembangunan Indonesian timur mendatangkan perputaran uang setiap minggu lebih dari satu milyar Rupiah dan berbagai tenaga kerja dari seluruh Indonesia dan dunia akhirnya hancur berantakan akibat dari konflik massal di wilayah tersebut (Adeney-Risakotta, 2005).

Butuh waktu sekitar empat tahun lagi sebelum orang dari setiap desa bisa kembali ke tempatnya  semula. Perubahan terlihat pada perubahan masyarakat di dalam desa yang sebelumnya tinggal bersama di satu desa , baik Muslim maupun Kristen , sekarang lebih mungkin masing-masing komunitas agama  hidup terpisah dari satu sama lain . Sedangkan sebagian besar masyarakat adat di Halmahera Utara baik Muslim dan Kristen mempunyai hubungan darah.

Sejak itu, setelah saya menyelesaikan PhD dan mempertahankannya , saya berjanji untuk selalu bisa bekerja sama dengan orang-orang di akar rumput , mereka yang tidak memiliki kekuasaan dan mudah terpinggirkan . Saya memberikan sepuluh tahun untuk bekerja secara langsung terkait dengan upaya perdamaian antara Kristen dan Muslim di daerah konflik . Saya memfasilitasi anak-anak di sekitar area dengan di mana mereka tinggal di Yogyakarta . Mereka adalah anak-anak Muslim yang kemudian dapat membantu anak-anak Kristen dari daerah konflik di Galela disembuhkan dari trauma mereka . Anak-anak Kristen yang yatim piatu yang orang tuanya meninggal karena konflik di Galela . Anak-anak ini dibawa ke Yogyakarta oleh sebuah yayasan yang peduli untuk mengirim anak-anak ke sekolah.


Ketika mereka tiba di Yogya , mereka selalu terkejut dan takut melihat wanita berkerudung karena mengingatkan mereka tentang kejadian di Desa Duma , Galela di , Halmahera yang menyebabkan orang tua mereka dibunuh oleh kaum Muslim. Jadi anak-anak ini setiap berpapasan dengan perempuan muslim berjilbab sering pingsan dan jatuh tak sadarkan diri diri di mana saja . Saya mendengar tentang cerita ini dan memutuskan untuk membawa anak-anak itu ke rumah saya. Saya menyopir mereka dari  rumah tempat mereka tinggal bersama-sama untuk dibawa ke rumah saya . Saya memainkan musik dan lagu yang saya rekam saat melakukan penelitian di Galela . Lagu-lagu rakyat diiringi tifa (drum) membuat mereka sangat senang . Mereka berkata : " Oh , itu lagu kami dari desa kami . " Kami menari bersama-sama .

Guru tari , mb Tina dan suaminya , Wawan yang sudah lama membantu saya terlibat bekerja dengan anak-anak yatim piatu ini.   Kami membuat program trauma healing untuk anak-anak . Selain menari , bercerita dan anak-anak menjelaskan  kisah mereka dalam bentuk lukisan . Kemudian anak-anak menceritakan arti dari lukisan mereka . Lukisan mereka banyak menggambarkan situasi perang . Mas Wawan kemudian menuntun mereka untuk memperkuat masing-masing lukisan yang terkait dengan pewarnaan dan komposisi . Kadang-kadang mereka datang untuk membersihkan kebun kami di mana saya akan membahas tentang bagaimana orang-orang mempersiapkan tanah untuk masa tanam dan panen di desa mereka.  Lalu saya memasak untuk mereka dan kami makan bersama-sama . Lain kali , mereka datang untuk menonton film bersama yang diikuti dengan diskusi . Mereka menjadi terlibat menciptakan tarian mereka sendiri dengan menggunakan musik dari desa mereka .


Setelah anak-anak ini semakin kuat, saya membawa mereka bertemu dengan anak-anak Muslim. Saya ingin mereka bisa menari bersama -sama . Anak-anak Muslim memiliki program terpisah pada hari yang berbeda. Mereka melakukan kegiatan juga di pendopo kami yang merupakan rumah terbuka untuk dipakai bersama.   Tapi apa yang paling mengejutkan saya adalah ini anak-anak Muslim bertanya apakah mereka bisa membawa hiasan dinding bertuliskan huruf Arab yang berarti  adalah sahada ( Tidak ada Tuhan selain Allah ).  Saya mengizinkan anak-anak Muslim untuk menempatkan di dinding saya ornamen bertulisan sahadat itu.  Sampai saat ini pada dinding timur dari pendopo  masih ada hiasan dinding terlihat dengan tulisan Arab . Saya menjelaskan kepada anak-anak Kristen tentang simbol Muslim dan menunjukkan kepada mereka tentang simbol Kristen yang ada di lantai dari pendopo yang berisi pertemuan dua baris untuk membentuk garis salib dan di tengah ada lingkaran yang menunjukkan mutiara sebagai hadiah yang berharga dari Tuhan untuk manusia . Tanda salib menandakan orang datang dari berbagai jurusan dan diikat dalam kasih sayang yang hangat dari Tuhan dengan sesama manusia , sebagai ciptaan Tuhan yang berharga . Anak-anak menerima satu sama lain dan mereka menari bersama-sama , merayakan kehidupan yang telah diperbaharui untuk memberikan bantuan kepada anak-anak Kristen . Ketika ada gempa di Yogyakarta , pada tahun 2006 , anak-anak ini , Muslim dan Kristen datang untuk mengunjungi anak-anak yang rumahnya hancur untuk menghibur keluarga mereka yang berada dalam masa kehilangan.  Sekarang anak-anak dari Duma sudah lulus dari sekolah di Yogyakarta dan kembali ke Galela , Halmahera di , Maluku Utara.


Dengan pemuda dari daerah-daerah konflik seperti Maluku dan Poso , yang bersekolah di Yogyakarta , saya mendorong mereka untuk memfasilitasi perdamaian . Orang-orang muda berkumpul di rumah kami untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun tidak bisa melihat satu sama lain karena trauma dari konflik di Maluku . Saya mengundang mereka untuk datang ke rumah kami untuk memulai pertemuan mereka . Kemudian kami melakukan beberapa diskusi terkait dengan topik tentang bagaimana untuk memahami asal-usul kesamaan dari dua komunitas , Muslim dan Kristen yang merupakan penduduk asli di Maluku . Setelah mereka menerima , dengan sebelumnya dilalui oleh kecurigaan masa lalu antara satu sama lain , mereka akhirnya bisa duduk dengan saya untuk memfasilitasi persiapan untuk dialog budaya Maluku .



Rumah kami setiap minggu itu dipenuhi oleh orang-orang muda yang kemudian membentuk panitia dan membahas program dialog budaya Maluku . Sambil terus mematangkan konsep dialog budaya Maluku, kegiatan dimulai dengan melibatkan orang-orang muda yang berkumpul untuk bernyanyi bersama , menari dan bercerita bersama-sama . Mereka diminta untuk menciptakan tari yang menunjukkan asal dari persaudaraan Muslim dan Kristen di Maluku . Tarian ini kemudian diberi nama "  tali pusar “ yang mencerminkan persaudaraan  dari dua komunitas , Muslim dan Kristen di Maluku " . Saya membuat video pendidikan yang berisi kisah-kisah tentang bagaimana orang-orang muda dapat berkumpul untuk mulai membangun perdamaian di antara mereka , dan kemudian dari sana dapat mencapai tokoh masyarakat , masyarakat adat di Maluku . Selama empat bulan , program ini disusun bersama-sama termasuk membuat tariannya . Saya menulis narasi tarian dan bersama-sama dengan pemuda-pemudi Maluku , tarian diciptakan untuk dipresentasikan pada acara  ritual satu bangsa di Istana Kesultanan Yogyakarta .

 

                                    Ritual Satu Bangsa dipresentasikan di Keraton Yogyakarta



Program ini dibagi menjadi empat tahap . Pertama , memperkuat orang-orang muda Maluku, Muslim dan Kristen adalah titik awal yang penting untuk membantu mereka datang kembali bersama selama pemisahan yang telah mereka alami. Kedua , orang-orang muda Maluku yang diberdayakan untuk mempersiapkan program perdamaian yang mengundang orang tua , tokoh adat , masyarakat agama di sekitar Yogyakarta dan kemudian dari Maluku untuk datang ke Yogyakarta menghadiri dialog budaya Maluku . Ketiga , memfasilitasi pemuda dalam pelaksanaan Dialog Budaya Maluku di Yogyakarta yang melibatkan Sultan Hamengkubuwono X , Gubernur Yogyakarta dan beberapa fasilitator nasional yang berfungsi untuk menjalankan program . Keempat, mendorong para pemimpin akar rumput dan pemerintah untuk melanjutkan upaya Dialog Budaya Maluku yang akan diikuti dengan melakukan praktek tradisi yang dilakukan antara Muslim dan Kristen di Maluku.  


 

 

Program ini akhirnya bisa diperluas  di seluruh provinsi Maluku . Program ini sangat berpengaruh pada upaya perdamaian dengan dua komunitas agama untuk menjaga “baku bae” sebagai bagian dari budaya dan adat istiadat dari Maluku . Keterlibatan pemerintah untuk menguatkan kembali dasar kekeluargaan  budaya di antara Muslim dan Kristen dilakukan pada saat perayaan hari kota Ambon pada bulan Agustus 2006 ketika semua masyarakat , baik Kristen dan Muslim yang terlibat dalam apa yang disebut " Panas pela " ( saling mengunjungi di antara keluarga yang diikat oleh  " pela " ) . Pela adalah sebutan untuk menggambarkan ikatan antara muslim dan kristen sebagai saudara kandung satu darah yang diwariskan dari generasi ke generasi  sekalipun keturunannya berkembang menjadi suatu desa. Pela ini juga terkait dengan anggota keluarga yang diangkat melalui adopsi sehingga terjadi persaudaraan seperti saudara kandung.  Persaudaran antara keluarga yang terkait pela karena adopsi berkembang menjadi persaudaran antara desa. 



Saya juga terlibat dalam menulis artikel yang diterbitkan di surat kabar Kompas terkait dengan argumen bahwa tuduhan keterlibatan RMS ( berdiri untuk Republik Maluku Selatan ) sebagai bagian dari fantasi yang sengaja tertanam di Maluku untuk menjadi alasan bagi militer dalam  menduduki Maluku . Artikel ini telah menenangkan kekerasan yang terjadi tiba-tiba pada Mei 2004 di daerah sekitarnya daerah  Pohon Lemon di Batu Gantung dan Tanah Lapang Kecil , di kota Ambon .

Berangkat dari pengalaman saya untuk melengkapi dengan kapasitas masyarakat sehingga bisa  menjaga perdamaian di kalangan  mereka sendiri serta upaya untuk menulis di koran sehingga orang biasa lainnya  dapat  memahami bagaimana orang pribadi atau kelompok yang dipimpin untuk terlibat dalam tindakan kekerasan massa , saya mencoba untuk melihat fenomena yang sama dalam kasus-kasus kekerasan di daerah-daerah lain di seluruh Indonesia . Memang benar , kejadian kekerasan di satu tempat tidak dapat digunakan untuk membenarkan ukuran etnografis tentang kekerasan di tempat lain .

Tapi saya ingin membangun sebuah argumen yang bahwa masyarakat biasa perlu mengerti tentang bagaimana dengan mudah mereka dianggap sebagai pokok konflik sosial , termasuk konflik berlatar belakang agama . Saya ingin melihat lebih jauh hubungan antara konflik sosial yang terjadi di berbagai tempat dengan upaya masyarakat untuk menghentikan perluasan konflik sosial . Pada saat yang sama , saya ingin tahu bagaimana konflik sosial dibangun di atas kepentingan mereka yang berkuasa terkait dengan kepentingan ekonomi dan eksplorasi sumber daya alam . Semua pikiran saya saya berbagi di blog saya terutama di " Indonesianku Indonesiamu Indonesia untuk semua , sehingga rakyat kecil tidak dimanipulasi lagi untuk kepentingan mereka yang berkuasa . Agama dapat dengan mudah menjadi penyebab konflik seperti yang saya temukan pada penggunaan selebaran surat kaleng yang menghubungkan kekristenan dengan upaya untuk merebut daerah-daerah tersembunyi di bagian Timur Indonesia . Saya ingin mencegah terjadinya kembali konflik besar dengan mengorbankan warga biasa dari daerah kaya sumber daya alam. Sudah cukup ribu orang tewas di Papua , Maluku , Poso di Sulawesi , di Kalimantan , di Sumatera , di mana-mana di mana kaya sumber daya alam .

Dalam garis pemikiran ini , saya sepertinya merasa bahwa pekerjaan Allah, Tuhan Yang Maha Tahu kepada saya belum selesai . Saya teringat Mazmur 139 yang tampaknya menjelaskan tentang kehidupan saya. Ia mengatakan:

... " Ke mana saya bisa pergi dari RohMu?  Ke mana saya bisa lari dari keberadaanMu ? Jika saya pergi ke langit , Engkau  berada di sana , Jika saya menaruh tempat tidur saya di alam maut, Engkau berada di sana , Jika saya terbang dengan sayap fajar , Jika saya menetap di sisi yang jauh dari laut , juga di sana tanganMu akan membimbing saya , tangan kanan-Mu memegang saya . .Jika saya mengatakan... Sesungguhnya kegelapan akan menyembunyikan saya dan cahaya menjadi malam di sekitar saya , bahkan kegelapan tidak akan gelap kepadaMu, malam akan bersinar seperti terang , untuk kegelapan adalah sebagai cahaya untukMu . Sebab Engkau telah menciptakan setiap bagian dari badan saya dengan rahasia saya bertumbuh , Engkau merajut saya bersama-sama dalam rahim ibu saya. Saya bersyukur kepada-Mu karena Engkau dahsyat dan ajaib ; karya-karya  yang indah  di catat dalam bukuMu, saya tahu bahwa sepenuhnya . .. . Bagi saya, betapa sulitnya pikiran -Mu, ya Allah ! Berapa besar jumlahnya! Apakah saya menghitungnya , mereka akan lebih banyak daripada butiran pasir , Ketika saya bangun , saya masih denganMu " .. ( ayat 7-17)



Saya pernah bertanya pada ibu saya , mengapa saya diberi nama seperti nenek . Nama lengkap saya adalah Farsijana Rohny Cootje . Ibu saya mengatakan dia begitu sakit setelah melahirkan sehingga tidak tahu tentang bagaimana nama saya . Nama semua anak-anaknya diberikan oleh ayah saya . Sebelum ayah saya meninggal , saya bertanya lagi tentang arti nama saya . Ketika saya masih remaja saya bertanya arti dari nama saya , tapi ayah tidak akan mengatakan , saya diminta untuk hidup dalam nama saya, begitu katanya. . Ketika saya masih di SMA, saya ingin tahu nama saya , nama yang kedengaranya tidak sedap ketika dipanggil karena setiap kali ibu saya  marah, dia  berteriak Far ... si ... ja ... na .. . Sehari-hari saya dipanggil " Nona " . Hanya di Yogyakarta , di sekolah saya dipanggil Farsijana . Saya jadi tidak suka nama itu, Farsijana . Tetapi pada sekolah di Yogyakarta setiap siswa harus menggunakan nama akte kelahirannya . Jadi saya tidak punya pilihan lain untuk tidak ingin tahu tentang nama saya sebelum saya mulai mengizinkan orang memanggil nama saya, Farsijana .

Ketika saya ingin memahami , ayah saya berkata saya harus hidup dengan itu . Huh , mengapa ayah mempermainkan saya. Jadi saya harus menunggu sejak kelas satu SMA di Yogyakarta sampai lulus  STT Jakarta . Suatu hari , seminggu sebelum ayah saya meninggal, saya tiba-tiba teringat nama saya , di sore hari , saya bertanya kepadanya .  Ia meminta kertas dan menuliskan artinya. Ia tidak bisa bicara karena stroke . Dia menulis tentang arti nama saya, Farsijana . Sebelumnya ia mengatakan saya telah hidup dalam nama saya. Farsijana berasal dari Fa karena saya lahir pada bulan Februari , dan sijana yang merupakan kata dari bahasa Sankrit yang berarti mencari pengetahuan. Fa dan sijana terikat dengan " r " yang berasal dari nama tengah saya , Rohny , tertulis dalam bahasa Arab yang berarti roh kudus ( ruah dalam bahasa Ibrani , roh dalam bahasa Arab ) . Nama ketiga saya adalah Cootje , adalah nama nenek saya yang melahirkan untuk ibu saya di pulau Serui , Papua . Jadi pengertian seluruhnya dari nama saya, Farsijana Rohny Cootje adalah anak yang lahir bulan Februari dipenuhi Roh Tuhan, mencari ilmu, membaginya dan merawat keluarga serta masyarakat.  Karena Cootje adalah nenek saya adalah seorang perawat  yang bersama dengan kakek bekerja di rumah sakit di Serui, Papua.

Semakin kuat dalam diri saya , tentang misi Allah bagi saya untuk menulis tentang apa yang saya kerjakan untuk perdamaian agama di Indonesia , juga untuk keadilan di Papua . Misi ini bukan misi saya , tapi itu adalah kehendak Allah . Saya tertidur dan terbangun dua kali untuk menemukan siku saya terkilir   dan sekarang saya harus menggunakan penjepit tubuh untuk melindungi tulang belakang T - 11 dan L – 4.  Saya tahu saya tidak mengerti banyak tentang rencana  Tuhan bagi saya , tapi saya mendengar dengan hati nurani saya yang mendalam tentang bagaimana Tuhan mengubah saya untuk mengikuti jalan Tuhan yang bukan kehendak saya sendiri . Tuhan mengizinkan saya tidak melakukan apa-apa kecuali menulis!

Saya bukan robot, untuk pergi bersama dengan apa yang diinginkan Tuhan , tapi saya diberi nama. Saya memiliki semangat dan hikmat Allah untuk menafsirkan tanda-tanda yang datang kepada saya dan benar-benar mengikuti saya karena kegelapan tidak gelap karena kepada Allah adalah siang dan malam dikelilingi oleh terang bersinar langsung dari Allah. Saya bersyukur sekarang saya sudah tahu apa yang Tuhan  masukan dalam pengertian saya, ke dalam diri saya untuk mulai bertindak dengan itikad karena Tuhan membimbing saya sendiri . Tuhan ingin keadilan untuk kebenaran terjadi untuk mengingatkan mereka yang berkuasa tidak adil kepada Tuhan dan bertobat dalam memanfaatkan masyarakat biasa seolah-olah mereka yang menyebabkan konflik sosial dan agama di dunia saat ini .

Selasa, 03 Desember 2013

Kekuatan makna dalam keterbatasan manusia! Catatan hari difabel internasional


Kekuatan makna dalam keterbatasan manusia!
Catatan hari difabel Internasional

Oleh Farsijana Adeney-Risakotta

 

Setiap orang dilahirkan dengan sensifitas menangkap suara-suara di sekitarnya. Suami saya selalu katakan saya dikelilingi dengan banyak imajinasi. Saya mengekspresikan imajinasi dalam bentuk yang bisa digambarkan dengan kata-kata, disentuh dan diamati. Saya sering melihat bentuk dan rupa yang bisa dimaknai sebagai sesuatu yang pernah saya kenal. Tetapi kadang-kadang ada tampilan bentuk dan rupa yang tidak pernah saya kenal sebelum di dalam ekspresi saya kecuali penggambaran yang saya lihat dalam pengalaman saya melukis. Kemudian dari lukisan, saya membangun pengertian baru yang memberikan makna, penjelasan yang berbeda dari pengalaman asli yang tercermin pada kata-kata.

Filsuf Ludwig Wittgenstein mengatakan tentang keterbatasan bahasa berhubungan dengan terbatasnya di dalam kata yang merepresentasikan pengalaman.  Kata bisa tampil sangat statis untuk mempertahankan pengalaman yang dicerminkan dari kata yang sama tetapi telah terjadi banyak perubahan pada tingkat kenyataan. Kadang-kadang kata berkembang dengan makna yang sangat berbeda dari pengalaman semula yang mencerminkan kata aslinya. Kesimpulan terlihat dalam pemikiran Wittgenstein adalah ketika penjelasan tidak bisa diuraikan, manusia terbatas membahasakan pengalamannya.  

Michel Foucault sebaliknya menegaskan keterbatasan pengalaman dan bahasa terjadi karena ada pembatasan yang dilakukan dalam norma-norma. Pengalaman yang baik dan bahagia seringkali lebih mudah diungkapkan dalam kata. Di bawah sadar manusia ditekan untuk mengalami pengalaman yang berbeda dari harapan yang disediakan dalam kata-kata. Ketika manusia sungguh menderita tetapi karena ajaran agama menyebabkan pengalaman penderitaan dipahami tanpa pengakuan kesakitan.

Saya menerima surat dari sahabat-sahabat kami tentang keadaan saya  yang sedang memakai body brace mengelilingi tubuh. Apa yang saya rasakan? Apakah saya menggunakannya sepanjang hari? Pertanyaan ini menarik. Saya ingin mengembangkan tulisan  ini terkait dengan pertanyaan di atas sekaligus menghubungkannya dalam rentangan dinamika penjelasan Wittgenstein maupun Foucault. Saya akan memulai dari penjelasan sederhana saja tentang bagaimana saya hidup dalam kondisi saat ini.

Body brace adalah penemuan terbaru dalam teknologi ortopedis sejalan dengan perkembangan pengetahuan komputer. Sepuluh tahun lalu, ketika seseorang mengalami patah tulang pada anggota tubuhnya, bagian yang patah itu harus dibalut dengan permanen gipsum. Enam bulan yang lalu, di awal bulan Mei 2013, tangan kanan saya harus dibalut dengan plester gipsum selama tiga minggu. Sesudah plester dilepaskan saya menjalani fisioterapi selama dua bulan untuk mengembalikan fleksibilitas dari tangan kanan.  Kesakitan adalah penjalanan kepada kesembuhan.

Selama masa fisioterapi, semakin lama saya merasakan tangan saya tidak sakit lagi sekalipun saya masih melatihnya untuk kembali bisa menyentuh muka sendiri. Pelan-pelan tangan kanan bisa menyentuh seluruh muka saya sehingga dengan sangat mudah saya membersihkan muka sendiri. Signal kesakitan sudah ditransmisi oleh otak saya menjadi tindakan yang normal selayaknya fungsi tangan. Saya merasa koordinasi signal berjalan sangat baik antara tangan saya dengan otak sehingga saya bisa mengoperasikan fungsi tangan dalam pemahaman yang sama sekali baru. Saya bisa merumuskan suatu pengertian dari pengalaman baru dengan penjelasan yang lebih komprehensif.

Pada saat itu, saya mengerti Michel Foucault yang mampu membahasakan pengalaman ngeri melewati batas pengertian yang belum terumuskan dalam kesadaran yang dibatasi oleh norma-norma. Saya menguraikan setiap tarikan napas kesakitan dengan membimbing diri sendiri menerima pengalaman sakit sebagai jalan mengembalikan fungsi normal dari tangan kanan.  Saya ingin mencuci muka saya seperti semula, meraupkan setiap tetasan air pada dahi mengelilingi seluruh wajah. Ketika kenormalan itu tiba, pengalaman mengkayakan diri dalam bahasa yang melebihi sekedar struktur logis karena kedalaman saya dalam menggambarkan setiap segmen dari sensifitas yang tertangkap sebagai pengertian yang bermakna. Pada tingkat inilah saya mengerti keterbatasan menjelaskan pengalaman secara logis seperti yang diuraikan oleh Wittgenstein. Sebenarnya hal ini  menguraikan setiap segmen dari reaksi signal tentang pengertian mendalam dari seluruh pembentangan diri sehingga tergambar dengan sangat jelas dari bahasa yang logis yang menggetarkan dan terfahami.

Menggunakan perisai (body brace) bertujuan supaya T-11 dan L-4 bisa berdiri tegak dalam strukturnya sambil mengizinkan tisu-tisu dan otot yang luka disembuhkan sebelum akhirnya menjadi kuat untuk menopang tulang belakang saya. Saya memberi izin kepada diri sendiri untuk membebaskan otot-otot yang mengalami trauma untuk disembuhkan. Penahapan penyembuhan terjadi dengan membuka diri pada pengetahuan yang dibagikan dari para ahli ortopedis. Mereka mengajarkan saya tentang rehabilitasi bertingkat yang bisa dilakukan oleh setiap orang yang sakit sambil sedikit demi sedikit mengembalikan kekuatan kemandiriannya.

Body brace yang saya gunakan harus dipakai ketika saya tidak di tempat tidur. Sebelum keluar dari tempat tidur, saya perlu bantuan seseorang untuk memasang perisai bagian belakang pada posisinya yang tepat. Saya berguling seperti balok kayu  ke bagian posisi menyamping di sebelah kanan untuk dipasangkan perisai belakang. Kemudian saya berguling lagi dengan perisai belakang ke posisi menyamping kiri untuk diselaraskan kedudukannya sebelum bagian depan perisai diletakkan. Melekatkan perekat kiri dan kanan pada perisai bagian depan harus dilakukan sekaligus dimulai dari bagian bawah.

Ada tiga tingkat yang harus diikat. Melekatkan dengan kuat sangat penting karena perisai akan melindungi tulang yang sedang diizinkan untuk sembuh. Suami saya dengan tangannya yang kuat melakukannya dengan sangat baik. Sesudah itu saya bisa bangun dengan pelan-pelan menghindari sempoyongan. Rasa pusing karena ketika saya berbaring, saya tidak boleh membalik tubuh ke samping kiri dan kanan. Posisi tubuh yang datar tanpa membengkokkan adalah syarat untuk mengembalikan tulang pada struktur tulang belakang yang sudah ada.

Pergi tidur atau bangun saya memerlukan bantuan untuk memasang dan membuka perisai bagian belakang. Ketika saya sendirian  saya pergi tidur tanpa membuka perisai belakang. Saya bangun dengan memasang kembali perisai depan dan bangkit perlahan-lahan sebelum kemudian berjalan seperti kura-kura.  Gerakan saya lambat tetapi mandiri.  Mungkin apabila kecelakaan ini terjadi di Indonesia, saya perlu berhari-hari di rumah sakit. Tetapi saya hanya dua hari setengah di rumah sakit Ventura County Medical Center. Dalam waktu yang singkat saya dilatih oleh dua orang fisioterapi tentang bagaimana saya harus berjalan tegak, masuk dan keluar dari tempat tidur dan ke toilet. Kemudian seorang fisioterapi yang khusus melatih penggunaan alat-alat tambahan untuk menolong kemandirian saya menjelaskan tentang cara memasang kaus kaki, sepatu, mengambil sesuatu yang saya perlu dengan pertolongan dari alat-alat tambahan itu.  

Kemandirian fisik penting dibangun bersamaan dengan kemandirian emosi dan intelektual. Dampak secara emosional dari keterbatasan tubuh saat ini adalah saya mencoba mengerti makna dari kecelakaan kami. Segera sesudah keluar dari rumah sakit, saya sadar tentang hubungan dari kesakitan saya dengan penderitaan saudara-saudari saya di Papua. Seseorang dari sahabat kami bertanya bagaimana saya tahu tentang kecelakaan ini dalam kaitan dengan pengalaman saya sebelumnya sampai dengan saatnya saya mengerti tentang maksud ini. Saya sebenarnya sudah menjelaskan dalam tulisan saya lainnya tentang kekuatan Allah yang bekerja di dalam pergumulan manusia. Saya ingin mengulangi lagi dengan meletakkannya dalam cara pengungkapan yang sedang saya gunakan mengikuti kedua tokoh filsafat yang sangat berpengaruh dalam diri saya. Bagaimana saya tahu tentang apa terjadi sekarang dengan mengkaitkan pada tanda-tanda yang sebelumnya?

Pertanyaan ini sangat kontektual karena yang bertanya adalah seseorang yang mengerti tentang cerita-cerita saya ketika kami sedang di New Mexico. Saya merasa New Mexico seperti tempat di mana saya diingatkan pada pengalaman yang sudah pernah terjadi dalam hidup saya. Bebek yang berada pada batu mengingatkan saya tentang masa awal saya ke Belanda untuk belajar tetapi harus berjuang dengan musim dingin yang belum pernah saya alami. Batu dengan bebek yang saya temukan di sungai Animas, kemudian oleh seseorang diingatkan bahwa nama sungai tersebut berarti “spirit”.  Kami tiba di New Mexico, tempat pertama yang kami kunjungi adalah sungai Animas, dan tanpa kami sadari, tempat terakhir yang kami datangi juga adalah reruntuhan kebudayaan chaco  yang dibangun di samping sungai Animas.

New Mexico juga adalah tempat pertama sepuluh tahun yang lalu di mana saya memulai perjalanan saya untuk bekerja di Indonesia. Pada saat itu, suami saya sudah bekerja di Universitas Kristen Duta Wacana di Yogyakarta. Sambil menunggu ujian S3 saya di  Belanda, saya diundang oleh Universitas Kristen Duta Wacana untuk membangun Kantor Internasional dan Pengembangan Sumber Daya Manusia.  Presbyterian Church USA yang telah mendukung suami saya, menerima saya untuk bekerja sama dengan suami saya di negara saya, Indonesia.  Ghost Ranch di New Mexico adalah tempat di mana saya dilengkapi dengan keterampilan tentang bagaimana bekerja di daerah pedesaan. Saya sudah pernah bekerja di daerah pedesaan di Maluku Utara selama 5 tahun di Pusat  Pengembangan dan  Pelatihan Pedesaan di Tobelo. Tapi  di Ghost Ranch, New Mexico, saya bisa belajar yang baru dan merefleksikan pekerjaan saya dulu di pedesaan di Maluku Utara. Jadi ketika kami pergi ke New Mexico di bulan Oktober 2013, saya merasa seperti aku pulang ke rumah sendiri. Perjalanan ke New Mexico dilakukan sebelum kami melakukan perjalanan ke California Selatan di mana saya mengalami kecelakaan mobil.

Kesadaran tentang kembali ke rumah sendiri makin kuat ketika pada perjalanan ke Nex Mexico itu saya ternyata mendapatkan selimut  Navajo yang diberi nana “Hin—mah—too—yah—lat—kert” yang menurut seorang teman adalah selimut yang diberikan kepada seorang bayi perempuan dari suku Indian. Selimut ini mempunyai makna yang mendalam yang saya hubungkan dengan masa remaja saya ketika membayangkan menjadi seorang anak dari kepala suku Indian. Desain dari selimut tersebut bernama Chief Yosef yang memberikan makna mendalam untuk saya menghubungkannya dengan penduduk asli Papua yang sedang berjuang untuk keadilan dan perdamaian di tanah Papua.

Kemandirian emosi diperlukan dalam mengerti tentang makna kesakitan yang terjadi pada manusia. Tetapi apakah penjelasan saya menjawab pertanyaan sahabat saya itu, suatu pertanyaan yang ingin tahu bagaimana saya tahu tentang hubungan antara kecelakaan dengan panggilan saya untuk memperjuangkan penderitaan saudara-saudara saya di tanah Papua. Saya tidak tahu tentang kecelakaan yang terjadi dengan kami. Saya tidak punya firasat tentang akan adanya kecelakaan. Seseorang yang membaca blog saya bercerita tentang perasaannya yang sering muncul membayang apa terjadi kalau ia mengalami kecelakaan. Saya tidak tahu tentang kapan kecelakaan menimpa saya, tetapi saya tahu tentang diri sendiri terutama apabila peristiwa yang terjadi dengan hasilnya ternyata terlihat melemahkan tampilan saya sebagai apa yang disebut normal. Ketika yang terjadi bertentangan dengan kelogisan, kenormalan, kebutuhan yang diharapkan, saya percaya kejadian itu diluar kendali saya sehingga saya segera menyerahkan kendalinya pada kekuatan yang Maha Besar yang sedang mengendalikan saya. Saya segera merasakan kehendakanNya sehingga memintaNya untuk membimbing saya.

Kita hanya tahu tentang suatu kejadian terjadi saat ini sebagai akibat dari kemampuan sensifitas untuk melihat koneksi dengan pengalamam-pengalaman masa lalu yang mengikat kepada kejadian sekarang dan masa depan. Sementara kepastian tentang masa depan juga belum bisa saya mengerti. Enam bulan lalu tangan saya dibalut dengan gipsum ketika saya sedang mempersiapkan pameran, tetapi darinya saya mengalami keajaiban sehingga bisa melukis diluar kesadaran saya bahwa saya tahu tentang apa yang sedang saya lukiskan.  Keanehan terjadi terutama karena ada orang lain yang melihat dan bertanya bagaimana saya tahu tentang apa yang saya lukiskan. Ketika itu saya melukis dari puisi yang berjudul Eksekusi Allah.

 

Saya masih berdiri di sini
Pada tanah air
Ketika merasakan getaran
Buldoser menghancurkan
Rumah Allah
Begitu fana tiang-tiang kokoh
Meleleh

 
Burung-burung bangau terbang
Memberitahu datangnya bencana
Suara anjing menggonggong
Getaran menguat
Pepohonan menginjik
Memberitakan tahun-tahun kesesakan

 

Kaki saya berpijak
Pada tanah air
Sudah saya rasakan tangan sang Khalik
Berdiri bersama
Jiwa-jiwa pendiri negeri
Menatap mendalam
Kepongahan broduser
atas nama hukum
merobohkan
rumah Allah
pada tanah milikNya

 

Pada tanah air
Suara gemuruh
Air datang
Bersama ikan-ikan
Menyampaikan peringatan
Kesombongan
Mereka yang berkuasa
Mengambil hak hidup
Atas nama Allah

 

Pada tanah air
Saya teruskan perjalanan
Mengukir kefanaan
Dalam perjuangan
Menyejarah
Supaya keabadian memfana
Mengingat perjuangan
Pernah kefanaan dicabut
Oleh mereka
Atas nama Allah

 

Pada tanah air
Semua fana sudah ludes
Hanya jiwa saya berdiri di sana
Bersama Sang Khalik
Saya kunjungi rumah Allah
Ketika keteduhan tercabut
Hanya tersisa kefanaan
Mereka pencabut fana
Gundah gelisah menguaraikan
Nuraninya


                                                           Lukisan saya "Eksekusi Allah"
 
Puisi ini adalah ratapan saya sesudah saudara-saudara saya di Madura yaitu Islam Shiah dikejar-kejar dan dibunuh.  Ketika mesjid saudara-saudara Ahmadiah di Tasikmalaya Jawa Barat dihancurkan.  Rumah ibadat umat Kristiani di Bekasi disingkirkan dengan buldoser. Saya meratap mengapa manusia harus membunuh sesamanya karena klaim kebenaran tentang Tuhan. Dalam puisi itu, saya menulis Tuhan sangat marah dan sedih karena tanah di mana Tuhan berada telah dihancur oleh manusia. Saya berikan gambar foto Semar yang saya ambil dari atap rumah pendopo kami untuk dipasangkan melengkapi puisi Eksekusi Allah. Jadi ketika saya melukis visualisasi puisi Eksekusi Allah saya bermaksud melukis Semar seperti terlihat pada foto yang menghiasi puisi ini di dalam blog saya, Indonesiaku Indonesiamu Indonesia untuk semua.

Mulailah saya melukis menyerupai dalam foto seperti yang ada pada puisi tersebut. Berkali-kali saya lakukan, ternyata tampil lukisan saya tidak menyerupai foto tersebut. Akhirnya saya mengikuti saja apa yang ingin dilukis oleh tangan kiri saya. Belum pernah seumur hidup saya menggunakan tangan kiri, tetapi hanya karena tangan kanan saya dibalut, saya melukis dengan tangan kiri. Sesudah saya selesai melukis, saya sadar bahwa tangan kiri saya melukiskan Semar sedang berada dalam rumah yang tiangnya sedang ditarik oleh dua tangan, di sebelah kiri dan kanan seolah-olah sedang meruntuhkan tiang di mana bangun suci itu berdiri. Kedua tangan itu kemudian melebar menjadi palu yang bertuliskan Perda (Peraturan Daerah) dan SKBM yaitu Surat Keputusan Bersama Menteri. Tangan kiri saya melukiskan Semar yang sangat berbeda dengan foto aslinya yang sedang saya amati sebagai contoh untuk menggambar rupanya. Dalam lukisan dengan tangan kiri saya itu, Semar menjadi seorang yang ganteng, gagah yang sedang menunjukkan kegeramannya dan saya memberikan matanya berwarna hijau. Saya juga tidak tahu mengapa saya memberikan matanya berwarna hijau.

Seorang teman saya, seorang muslim yang saleh tetapi juga seorang yang sangat dekat dengan pewayangan Jawa. Ia seorang perempuan, datang ke rumah saya untuk menengok persiapan pameran saya. Ketika ia melihat lukisan tersebut, hatinya berdebar-debar. Ia memanggil saya untuk datang mendekat pada lukisan tersebut supaya saya bisa menjelaskan kepadanya. Lukisan yang diinginkan penjelasannya adalah Eksekusi Allah. Kemudian saya menjelaskan seperti yang saya sedang gambarkan di atas. Tetapi teman saya ini bertanya: “Bagaimana kamu tahu tentang Semar bermata hijau? Pertanyaannya mirip dengan kesimpulan yang dibuat oleh Ludwid Wittgenstein, ketika kata-kata terbatas pengalaman tidak bisa diungkapkan.

Saya tidak bisa menjelaskan dalam bahasa bagaimana saya tahu tentang Semar akan berubah bentuk badan dan warna bola mata dari warna coklat menjadi hijau ketika marah.  Saya tidak pernah tahu tentang pewayangan seperti yang diketahui oleh teman saya. Sebaliknya teman saya hanya tahu tentang Semar bermata hijau sebagai suatu cerita yang didengar dalam pewayangan. Kenyataan yang dihadapi baik oleh teman saya dan saya sangat menarik untuk mengerti bahwa kata dan bahasa sebagai suatu pengalaman bisa bermakna ketika terkait dengan kenyataan real yang menghubungkan antara kebiasaan lama dalam suatu tindakan yang baru di dunia saat ini. Tindakan intuitif membimbing saya untuk menguatkan gambar dengan menghubungkan pada pewarnaan yang berbicara tentang peristiwa tertentu. Kepekaan intuitif menggetarkan jari-jari dari tangan kiri saya untuk melukiskan wajah wibawa dari Semar dengan nuansa keberanian yang nampak pada seorang lelaki yang dalam pewajahannya tampil sebagai seorang tampan. Saking kharima memikat pandangan dari mereka yang melihat seolah-olah pewajahannya menyerupai seorang yang muda dan kesaktria. Perasaan yang ada dalam permenungan diri kemudian mengalir kuat melalui jemari kiri menggambarkan presentasi Semar yang dilahirkan dalam imajinasi diri sebagai kekuatan yang sudah ada lama sekali menunggu untuk ditampilkan.

Tapi saya tidak menjelaskan sebagaimana saya menulis di atas. Kepada teman itu saya katakan: “Saya tidak tahu, saya hanya ingin memberikan warna matanya hijau”.  Teman saya ini kaget dan menatap saya mendalam. Ia katakan saya dibimbing Tuhan ketika melukiskan lukisan tersebut. Kemudian teman saya menjelaskan bahwa dalam perwayangan Semar ketika menjadi marah, rupanya berubah menjadi muda, ganteng dan matanya berwarna hijau. Semar adalah salah satu dewa dalam perwayangan Jawa yang menceritakan tentang Sifat Sang Pencipta dalam rupa manusia yang sangat jelek tetapi merepresentasikan kehidupan manusia yang menderita. Semar adalah satu-satunya tokoh dewa yang dikembangkan dalam pewayangan di Jawa Hindu. Jadi cerita Semar tidak ada dalam mitologi Hindu yang berada di India dan tempat lainnya.

Saya memilih Semar karena di Indonesia, terutama di Jawa, kita tahu bahwa Semar adalah pembela orang-orang kecil. Semar sebagai bagian dari cerita punakawan adalah perlambangan tentang pembelaan Sang Pencipta kepada orang-orang yang terpinggirkan. Menggambarkan puisi tentang eksekusi rumah ibadah dalam rupa Semar yang ada pada rumah ibadah menunjukkan bahwa rumah-rumah ibadah ini adalah milik Sang Pencipta yang berpihak pada orang-orang kecil, mereka yang adalah minoritas.  Kebenaran terhadap agama mayoritas cenderung memaksa kelompok minoritas untuk maksud menguasai kepatuhan manusia demi membatasi keragaman ekspresi manusia dalam menyembah Sang Pencipta. Keluasan dan kedalaman Sang Pencipta yang tidak bisa dirumuskan dalam bahasa Manusia, ternyata bisa direduksi dalam keyakinan tentang keaslian pewahyuan yang diklaim sebagai yang paling benar. Peraturan yang dibuat oleh manusia, seperti pemerintah dianggap mengandung kebenaran Allah yang atasnya manusia bisa melakukan kekerasan kepada sesamanya.

Jadi pertanyaan teman saya ini sama dengan seorang teman di New Mexico, bagaimana saya tahu tentang sekarang yang bisa dihubungkan dengan tanda-tanda dari masa lalu dan masa depan. Saya menulis sekarang mungkin bisa menjelaskan pertanyaan teman saya di di New Mexico.  Penjelasan saya mungkin dianggap tidak rasional terutama dihubungkan dengan pernyataan teman saya bahwa Sang Maha Kuasa memberikan saya hikmat dan sensifitas untuk mengerti tentang Semar sekalipun saya tidak pernah tahu cerita pewayangan tentang perubahan mata dan rupa Semar ketika ia sedang marah. Saya tahu bahwa semua bentuk kehancuran, kecelakaan dan kematian yang disebabkan dari manusia tidak dikendalikan oleh Allah. Ketika saya bertanya tentang mengapa manusia ingin menghancurkan sesamanya karena perbedaan cara memahami Allah, saya sebenarnya sedang diizinkan oleh Sang Pencipta untuk menjelaskan penderitaan sesama manusia yang bisa dicatat dalam bentuk narasi yang akan selalu mengingatkan tentang pembinasaan yang pernah dilakukan manusia atas nama Allah. Sang Pencipta dengan caranya yang mahakuasa akan sendiri menyentuh orang-orang yang mengatasnamakan Allah sedang membunuh sesamanya. Allah mempunyai kuasa yang tidak bisa dijelaskan dalam pengalaman manusia sekalipun ingin dimengerti oleh Michel Foucault dan Ludwig Wittgenstein untuk menguraikan perjalanan penderitaan yang bisa dijelaskan di dalam bahasa keintiman manusia tentang kemahakuasaan Allah.

Apakah kemudian saya bisa memastikan tentang sesuatu yang akan menimpa di depan berdasarkan pengalaman sesudah dua kali berturut-turut saya dalam keadaan tidur dan terbangun mendapatkan tangan kanan saya sudah tergeser ketika saya terjatuh di lantai dari tempat tidur dan dibangunkan suami ketika kami mengalami kecelakaan dengan api berada dibawah mobil? Saya menulis surat kepada teman kami yang saya merasa mereka seperti rumah yang mempersiapkan kami menghadapi dengan tabah dan bersyukur menghadapi kecelakaan ini. Saya katakan, mungkin hidup saat ini menandakan tantangan ke depan yang akan kami hadapi. Kepada adik saya, saya menuliskan tentang penderitaan sebagai cara untuk melatih diri sendiri menghadapi masa sulit yang harus kita lalu. Kita semua tidak tahu apa yang akan terjadi. Tetapi dalam keterbatasan fisik ada banyak latihan untuk kita melalui kesulitan-kesulitan dalam membangun pemahaman hidup bersama di tengah masyarakat demi perdamaian dan kebahagiaan. Mengundang Tuhan menguatkan kita untuk berjalan dalam dunia adalah cara yang paling bijaksana karena sebagaimana manusia, sensifitasnya terus dipertajam untuk mengerti tanda-tanda jaman tanpa harus mempercepat proses tersebut karena kendalinya sebenarnya berada pada tangan Sang Pencipta.

Sekarang saya menulis artikel ini kepada banyak orang yang menjadi cacat karena kekerasan yang terjadi pada mereka. Mereka lahir dengan cacat  karena ditolak sebelum dilahirkan oleh ke dunia. Mereka adalah korban perang . Mereka yang tubuhnya catat karena memperjuangkan keadilan. Saya menulis untuk menunjukkan bahwa keterbatasan fisik , emosional dan intelektual tidak dapat menghambat  orang-orang dalam memahami misteri yang terjadi di sekitar kita . Seseorang, yang dianggap orang-orang difabel merupakan yang paling sensitif dalam memahami setiap pengalaman karena bisa menjelaskan hubungan antara masa lalu dan masa depan dengan menghadirkan penjelasannya pada tanda yang bermakna dalam konteks sekarang.  Ruang gelap di dalam tanah dapat dijelaskan bila hanya tubuh yang terletak langsung di tanah . Tanpa rasa takut , dalam keterbatasan kita , orang diluar penampilan yang normal bisa menjelaskan kepada semua orang yang normal tentang kebutuhan manusia untuk memilih cara bahwa dunia terus diwariskan dalam damai .  Mereka memiliki sensifitas karena  melatihkan seluruh tubuh manusia untuk mendengar langsung ke alam semesta di mana keberadaan Allah hidup dan berbagi kehidupan dengan manusia. Tubuh mereka difabel tetapi jiwa, roh dan iman mereka hidup bersama Sang Pencipta. Mereka lebih baik dari orang-orang yang kuat menggunakan buldozer, senjata, kekerasan untuk memaksa orang lain tunduk kepada kehendak diri yang bukan berasal dari Sang Pencipta.

Minggu, 01 Desember 2013

Apa yang terjadi pada 1 Desember di Papua?




Apa yang terjadi pada  1 Desember di Papua?
Oleh Farsijana Adeney-Risakotta
 

Pagi ini saya mempublikasi dua pengumuman pada page “Petisi Warganegara NKRI untuk Papua”. Saya mengutip kedua pengumuman tersebut.

Pengumuman pertama berbunyi:

Selamat pagi saudara-saudari pendukung “Petisi Warganegara NKRI untuk Papua”. Salam amalulukee.
Sekalipun ada perbedaan waktu sekitar 12 jam di antara East Coast Time, pantai bagian timur dengan Indonesia Bagian Barat, dalam 24 jam pada tanggal 1 Desember 2013, Petisi Warganegara NKRI untuk Papua menyampaikan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena perayaan ucapan syukur HUT Papua bisa berjalan di tanah Papua tanpa mengakibatkan korban pada masyarakat sipil. Untuk itu
“Petisi Warganegara NKRI untuk Papua” menyampaikan terima kasih kepada pemimpin daerah, terutama Ketua DPRD Papua, Pangdam VII/Cendrawasih, Kapolda Papua, tokoh-tokoh agama, tokoh-tokoh masyarakat untuk mengendalikan warga sipil sehingga perayaan syukur bisa dilakukan dalam keadaan aman dan penuh sukacita. Dengan adanya kondisi yang aman dan terkendali, diharapkan upaya masyarakat untuk membangun dialog dengan pemerintah daerah dan pusat terkait dengan aspirasi orang asli Papua bisa diupayakan dengan bijaksana dan adil. Salam solidaritas Papua untuk NKRI.

Penghargaan:
“Petisi Warganegara NKRI untuk Papua” menyampaikan penghargaan kepada Media online, The Global Review, Pemandu Informasi Perkembangan Dunia yang berkantor di DARIA Building Suite 402 Jl. Iskandarsyah Raya, No. 7 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, yang telah menggunakan logo “Petisi Warganegara NKRI untuk Papua” dalam pemberitaan dengan judul “Kepentingan Nasional, HUT Papua Campur Tangan Spionase Asing Ancaman Terhadap Keutuhan NKRI”. Laporan ini diterbitkan pada tanggal 27-11-2013 oleh Sulendro, sebagai pengamat politik dan demokrasi. Kiranya penggunaan logo “Petisi Warganegara NKRI untuk Papua” sekaligus adalah pengakuan tentang upaya forum Petisi Warganegara NKRI untuk Papua dalam menegakkan keadilan dan perdamaian di tanah Papua. Prinsip-prinsip keadilan dan perdamaian adalah tertulis dalam Pancasila, UUD 1945 dan UU Otsus Papua (UU Nomor 21 tahun 2001). Suara keadilan dari orang asli Papua terutama mereka yang berada di tanah Papua, mereka yang berjuang bersama rakyat untuk menegakkan keadilan dan perdamaian harus didengar oleh pemerintah dan seluruh warganegara Indonesia. Kepeloporan Indonesia dalam penegakaan keadilan dan perdamaian di tanah Papua akan diuji oleh baik oleh orang asli Papua, sesama warganegara Indonesia maupun di mata dunia internasional. Kiranya upaya bersama untuk saling mengingatkan dan mendorong tercapainya keadilan dan perdamaian di tanah Papua dilakukan dengan hati yang tulus dan kemauan bersama untuk memberikan hak-hak dasar kehidupan dijalankan oleh orang asli Papua menurut kebijakan dan pemberdayaan yang sedang dibangun bersama di tanah Papua. Partisipasi orang asli Papua adalah kunci terhadap penegakanan keadilan dan perdamaian di tanah Papua.
Petisi Warganegara NKRI untuk Papua menyampaikan terima kasih kepada sesama warganegara NKRI yang telah mendukung gerakan penegakan keadilan dan perdamaian ini. Salam amalulukee (Farsijana Adeney-Risakotta).
Link ke berita online dari The Global Review bisa dilihat pada portal

http://www.theglobal.review.com/content_detail.php?lang=id&id=14024&type=108#.UpspKhA-ZIY

Sesudah kedua pengumuman tersebut saya publikasikan, muncul pertanyaan dalam diri saya. Saya bertanya: “Apa yang terjadi dengan 1 Desember di Papua?  Saya mengikuti berita tentang tanggal 1 Desember 2013 di Papua di mana masyarakat dilarang mengibarkan bendera Bintang Kejora.  Dari berbagai media online, saya  membaca tentang upaya pemerintah lokal, tokoh-tokoh agama dan tokoh-tokoh masyarakat melarang warga untuk menaikkan bendera Bintang Kejora.  Upaya ini bisa mencegah terjadinya kekerasan seperti penembakan yang sudah disampaikan oleh polisi apabila bendera Bintang Kejora dinaikkan. Kebijakan dari tokoh-tokoh Papua sangat dihargai terutama untuk menghindari adanya korban kekerasan dari kalangan masyarakat sipil.

Tetapi apakah dengan demikian kita berhenti untuk bertanya tentang apa yang terjadi, dan apa yang kita ketahui tentang tanggal 1 Desember di tanah Papua? Kita hidup dalam alam demokrasi sebagai hasil dari gerakan Reformasi,  berbagai catatan sejarah yang dulu tidak bisa diketahui oleh masyarakat Indonesia sekarang akhirnya bisa dibaca secara luas. Peristiwa Gerakan 30 September 1965, yang diikuti oleh pembasmian pengikut PKI telah berdampak bagi kehidupan bersama di dalam negara RI. Sejarah digali kembali untuk mengerti bagaimana kekerasan yang terjadi di Indonesia untuk periode yang lama terkait dengan pemberantasan antek-antek komunis. Ada banyak pelajaran yang bisa dibangun dari penelitian-penelitian yang dilakukan oleh orang-orang Indonesia sendiri untuk  mengupayakan rekonsiliasi nasional sesudah ratusan ribu orang Indonesia dibunuh dari kampanye anti komunis.  Bersama dengan para ahli-ahli dari luar Indonesia, orang-orang Indonesia mendapat dukungan dari pemerintah untuk membahas peristiwa kekerasan yang melanda Indonesia.

Bertolak dari keterbukaan Indonesia itulah, saya ingin  meneruskan keinginan tahu saya tentang apa yang terjadi pada tanggal 1 Desember di Papua.  Pertama-tama saya ke Wikipedia untuk mencari tahu apa yang tertulis di sana. Penjelasan yang saya peroleh adalah dari Wikipedia berbahasa Inggeris terkait dengan penjelasan tanggal 1 Desember di mana bendera bintang kejora dinaikan selama setahun yaitu dari tanggal 1 Desember 1961- 1 Desember 1962. Penaikan bendera Bintang Kejora pada tanggal 1 Desember 1961 karena pada tanggal itu,  Pemerintah Belanda mengijinkan penaikan bendera Papua Baru berdampingan dengan bendera Belanda di Papua Baru. Alasan pengibaran bendera Papua Baru disebabkan karena pada saat itu pemerintah Belanda telah mempersiapkan Papua untuk menjadi negara yang merdeka. Papua yang pada waktu itu bernama Holandia, adalah satu-satunya daerah yang masih dijajah oleh Belanda sesudah perang dunia ke-2. 

Holandia adalah daerah yang tidak berbeda dari teritori daerah Belanda lainnya, yaitu the Dutch East Indies (Indonesia) yang keduanya adalah daerah jajahan Jepang. Perang dunia II yang dimenangkan oleh Sekutu (NATO)  menyebabkan Jepang kalah. Indonesia yang sudah dipersiapkan Jepang mengumumkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Tetapi Belanda kembali diboncengkan oleh NICA dan menduduki Holandia dari tahun 1945-1962.  Dari Holandia inilah Belanda melakukan berbagai upaya untuk kembali menguasai Indonesia yang dihadapi dengan perang revolusi oleh Indonesia sampai Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada tahun 1949. Sejak tahun 1949 sampai dengan 1961, Belanda meneruskan menjajah Holandia atau Papua.

Pada tulisan saya berjudul “Kilas Balik 1 Mei 1963, “Irian Barat” (Papua) diserahkan Belanda kepada Indonesia”, yang dipublikasikan pada tanggal 29 April 2013 menunjukkan bahwa negara Holandia yang didirikan Belanda adalah negara boneka. Belanda memutuskan untuk mendirikan negara Papua Baru karena tekanan yang diberikan oleh pemerintah RI, yaitu Soekarno yang berpidato pada Forum PBB tanggal 30 September 1960.  Pidato Presiden Soekarno dan diplomasi bilateralnya ternyata tidak berhasil karena pada persidangan PBB tahun 1961 Belanda mengumumkan berdirinya negara Papua Baru.  Sejarah mencatat bahwa hanya berselang 19 hari sesudah negara boneka Papua Baru berdiri, Presiden Soekarno membentuk operasi Trikora (Tri Komando Rakyat). Operasi ini berlangsung selama kurang lebih 8 bulan karena pada tanggal 15 Agustus 1961, Belanda menyerahkan Indonesia kepada United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA). Papua dalam kendali UNTEA ketika Belanda menandatangi New York Agreement pada tanggal  15 Agustus 1962.  Sejak tanggal 15 Agustus 1962 sampai tanggal 1 Mei 1963, UNTEA bertugas untuk membangun Holandia. Dana pembangunan diberikan oleh Belanda sebesar $30 juta. Kewajiban Indonesia untuk memberikan dana sebesar pemberian Belanda dibayarkan pada tahun 1968 ketika Indonesia masuk kembali menjadi anggota PBB.

Menarik untuk dicatat tentang keberanian Soekarno melakukan perang Trikora  didukung oleh kepiawaian Soekarno dalam meloby Presiden Kennedy. Sesudah menghadiri Forum PBB tanggal 30 September 1960, Presiden Soekarno menggunakan kesempatan yang pada saat di Amerika Serikat untuk mengunjungi Presiden Kennedy yang pada waktu itu sedang sakit. Menurut Nicolaus Joouwe kedatangan Soekarno mengagetkan Presiden Kennedy yang kemudian berjanji akan menyerahkan Holandia kepada Indonesia.

Kemenangan operasi infrantri pasukan Trikora yang diluncurkan di Yogyakarta tanggal 19 Desember 1961 disebabkan karena Belanda kehilangan dukungan dari Amerika Serikat, Inggris dan Australia sebagai akibat dari janji Kennedy kepada Soekarno.  Hilangnya dukungan dari negara-negara sekutu, negara Belanda yang masih terus membangun sesudah perang dunia ke-2, dan perubahan strategi perang Indonesia dari operasi Trikora ke Operasi Jayawijaya yang didukung oleh persenjataan perang dari Uni Soviet mendorong Belanda untuk menandatangani New York Agreement pada tanggal 15 Agustus 1961. UNTEA mempersiapkan masyarakat Papua melakukan penentuan pendapat selambat-lambatnya tahun 1969. Saat ini orang asli Papua mempersoalkan representasi Papua pada Pepera 1969 karena cara pengumpulan pendapat menggunakan kesepakatan musyawarah mufakat.  Keberpihakan Amerika Serikat kepada Indonesia untuk mencegah keterlibatan USSR yang lebih dulu terlibat dalam penandatanganan kontrak tambang di Papua.

Dengan penggambaran di atas, semakin kuat kepada kita semua tentang peran Papua yang sangat penting bagi negara-negara adi dunia, seperti Uni Soviet dan Amerika Serikat. Persetujuan Presiden Kennedy untuk memberikan Papua kepada Indonesia sesuai dengan loby dari Presiden Soekarno dilatarbelakangi oleh upaya untuk menghentikan kerjasama antara Soekarno dengan blok Komunis seperti Uni Soviet dan Cina.  Hanya 7 bulan sesudah Amerika Serikat terlibat dalam penyerahan Papua kepada Indonesia sebagaimana dicatat dalam New York Agreement, Presiden Kennedy dibunuh tanggal  22 November 1963 di Dallas, Texas, Amerika Serikat. 
Referensi:
1.     New York Agreement, Wikipedia http://en.wikipedia.org/wiki/New_York_Agreement
2.     Nicolas Jouwe, “Kisah Hidup Tokoh-Tokoh Papua, penyunting Charles Farhardian (West Papua: Deiyai, 2007, hal.226)