Translate

Minggu, 08 Juli 2012

Dari Papua untuk demokrasi Indonesia adalah tanggungjawab warganegara NKRI



“Dari Papua untuk demokrasi Indonesia adalah tanggungjawab warganegara NKRI”

Oleh Farsijana Adeney-Risakotta Ph.D


Kepedulian warganegara NKRI untuk mengerti apa yang sedang terjadi di bumi Papua bisa terlihat langsung dari dukungan yang diberikan kepada Petisi Warganegara NKRI untuk Papua. Masalah Papua harus menjadi persoalan yang dipikirkan bersama oleh warganegara NKRI. Masalah ini apabila diserahkan kepada Pemerintah RI akan sekedar diselesaikan sebagai masalah politik. Padahal persoalan Papua adalah persoalan kemanusiaan.


Teriakan kemanusiaan dari saudara-saudara Papua bisa terlihat dari begitu banyak tulisan yang tersebar di media internet. Dengan bahasa Indonesia yang baik, mendalam basudara-basudara Papua mampu menceritakan apa yang sedang terjadi di bumi Papua. Tidak semua saya menampilkannya, tetapi sebagai dari tulisan tersebut bisa dilihat sebagian dari referensi yang  melengkapi bagian penutup dari refleksi ini. Penderitaan Papua adalah penderitaan saya, juga penderitaan semua warganegara NKRI.


Sudah banyak basudara Papua yang mengalami kekerasan atas nama NKRI. Sekarang saatnya, warganegara NKRI terutama mereka dari kelas menengah untuk mempelajari apa sesungguhnya yang terjadi di Papua sejak proses integrasinya dengan NKRI. Tanggungjawab kelas menengah NKRI sebagai agen perubahan sedang teruji saat ini, terutama ketika NKRI diperhadapkan dengan kebanggaan bersama tentang pencapaian Indonesia sesudah Reformasi.


Demokrasi diagung-agungkan melalui model pemilu dan pemilukada langsung yang perjalanannya sendiri masih meninggalkan banyak persoalan terkait dengan korupsi. Lebih dari itu, ukuran dari demokrasi bukan semata-mata tampilan pesta demokrasi yang dilakukan setiap 5 tahun sekali. Tanggungjawab kelas menengah NKRI adalah menjalankan praktik demokrasi yang sesungguhnya termasuk mengawal dan mengingatkan Pemerintah RI dan wakil rakyat yang dengan sengaja melakukan kekerasan terhadap warganegaranya secara sistematis.

Dengan membaca tulisan-tulisan yang menjadi referensi sebagaimana saya ikutkan dalam refleksi ini, saya sebaliknya makin diyakinkan tentang ujian demokrasi NKRI saat ini adalah masalah Papua. Apabila persoalan Papua bisa difasilitasi dengan baik, dimana aspek HAM mendapat pengakuan dalam penanganan Papua, maka capaian demokrasi sebagai pencirian dari NKRI yang bermartabat bisa dibanggakan. NKRI harus bangga bahwa inilah saatnya kita semua belajar dari kesalahan masa lalu.


Upaya untuk mengintegrasikan anak bangsa yang dilakukan dengan pemaksaan tanpa mengedepankan aspek HAM akan terus diingat dan diperjuangkan oleh mereka yang sudah sadar tentang hak-hak untuk hidup di bumi yang melahirkannya. Mereka inilah basudara Papua yang sedang memperjuangkan keadilan, kesejahteraan dan perdamaian bagi dirinya, demikian juga untuk Indonesia bagi semua.


Dalam kaitan dengan teman-teman yang telah bersedia mewakili Petisi Warganegara NKRI untuk Papua menghadiri seminar nasional dengan topik: “Menuju Kesejahteraan dan Keadilan Papua setelah 43 tahun Pepera 1969”, maka Petisi Warganegara NKRI untuk Papua menyediakan beberapa sumber bacaan yang dapat diakses online. Silahkan bisa dilihat pada penjelasan di bawah ini.


Adapun acara lengkapnya seminar nasional sbb:
Seminar Nasional“Menuju Kesejahteraan dan Keadilan Papua setelah 43 tahun Pepera 1969” akan dilakukan pada, hari Senin, tanggal 9 Juli 2012 jam 08.30 WIB di University Club UGM Yogyakarta. Acara ini terselenggara atas kerjasama:

1. Lingkar Pelangi Nusantara (LPN)

2. Fakultas Hukum UGM

3. Metro TV

4. Majalah Gatra

5. Lembaga Intelektual Tanah Papua (LITP)


Petisi Warganegara NKRI untuk Papua akan meliput acara ini untuk dilaporkan kepada Forum Petisi di portal FB (http://www.facebook.com/petisi.untuk.papua).


Marilah warganegara NKRI yang peduli terhadap kehidupan berdemokrasi di tanah air Indonesia, untuk bersama-sama memberikan dukungan kepada Petisi Warganegara NKRI untuk Papua. One Person One Like diberikan kepada Petisi Warganegara NKRI untuk Papua (http://www.faceboook.com/petisi.untuk.papua).


Dukungan warganegara NKRI akan disampaikan kepada Pemerintah RI dan DPR RI untuk melakukan tindakan-tindakan konkrit seperti menarik militer dari bumi Papua, mengembalikan spirit Otsus, mendorong basudara Papua menyelesaikan masalahnya sendiri, memfasilitasi dialog Papua – Jakarta, meneruskan pembangunan yang adil dan berkesejahteraan kepada bumi dan basudara Papua.


Amalulukee,

Salam solidaritas NKRI


Farsijana Adeney-Risakotta (http://www.facebook.com/farsijana.adeneyrisakotta)



Referensi untuk melengkapi bahan seminar nasional:



tangisantanah.blogspot.com/.../sejarah-opm-organisasi-papua-merdek...


Mengenang Terbunuhnya Arnold Ap (1 Juli ... - PHAUL HEGER PAGE

phaul-heger.blogspot.com/.../mengenang-terbunuhnya-arnold-ap-1-j...


Pemekaran Pemicu Konflik | SIAPA FIGUR PAPUA

tangisantanah.blogspot.com/2012/04/pemekaran-pemicu-konflik.html


Perbedaan persepsi di Kalangan Mahasiswa PAPUA tentang ...

tangisantanah.blogspot.com/.../perbedaan-persepsi-di-kalangan.html


Mahasiswa Mee Menciptakan Tiga Suku Baru | SIAPA FIGUR PAPUA


tangisantanah.blogspot.com/.../mahasiswa-mee-menciptakan-tiga-suk...


Bangkit, Bersatu dan Lawan | SIAPA FIGUR PAPUA


tangisantanah.blogspot.com/2012/01/bangkit-bersatu-dan-lawan.html


Masih adakah Nasionalisme Orang Papua...??? | SIAPA FIGUR ... tangisantanah.blogspot.com/.../masih-adakah-nasionalisme-orang-pa...

Sabtu, 07 Juli 2012

“Membangun tanggungjawab Kelas Menengah untuk Mengerti Permasalahan Pertambangan di bumi Papua”


DSCN9802

Ketika Petisi Warganegara NKRI untuk Papua mempersiapkan berbagai bahan-bahan pembelajaran kepada Forum Petisi di portal Facebook ( http://www.facebook.com/petisi.untuk.papua ) maka saya menemukan informasi menarik dari seorang peneliti bernama Ali Sahab dari Universitas Airlangga Surabaya. Dokumen ini  saya sharingkan kepada warganegara NKRI di seluruh tanah air untuk turut mempelajarinya.
Informasi tentang tulisan Ali Sahab saya kutip apa adanya seperti tercatum di bawah ini:
QUO VADIS NEO-KOLONIALISME DI TANAH PAPUA (Peran
alisahab09-fisip.web.unair.ac.id/artikel_detail-41930-Umum-...
Peran Kelas Menengah Indonesia Atas Neo-Kolonialisme) ..... Otonomi Khusus Papua:Mengangkat Martabat Rakyat Papua di Dalam NKRI”.
Supaya kesejahteraan, keadilan dan perdamaian dapat diraih oleh basudara di Papua, Petisi Warganegara NKRI untuk Papua menghimbau seluruh lapisan masyarakat kelas menengah di Indonesia yang terjaring melalui jaringan media sosial maya (Facebook, Twitter, Blog dan Email) untuk memberikan dukungan jempolnya pada Petisi ini ( http://www.facebook.com/petisi.untuk.papua). One Person One Like mendukung Petisi Warganegara NKRI untuk Papua.
Petisi ini akan diserahkan kepada Pemerintah RI dan DPR RI untuk memfasilitasi kembali proses perdamaian di bumi Papua, dengan menarik militer dari tanah Papua, dan meneruskan pembangunan yang keadilan dan berkesejahteraan kepada seluruh basudara di Papua.
Terima kasih banyak untuk dukungan warganegara NKRI di seluruh tanah air untuk mengambil bagian dalam membangun peran kelas menengah yang berpihak kepada keadilan dan kesejahteraan untuk sesama warganegara NKRI tanpa pandang bulu berdasarkan kesamaan agama, etnis, suku dan gender.
Salam solidaritas NKRI dan amalulukee (terima kasih dalam logat Noge, Papua)
Atas nama Petisi Warganegara NKRI untuk Papua
Farsijana Adeney-Risakotta Ph.D

Jumat, 06 Juli 2012

Papua NKRI, Petisi Warganegara NKRI untuk Papua

makan pinang dengan mama-mama di Serui

Dalam artikel yang dipublikasikan oleh “Majalah Selangkah Online” ( http://majalahselangkah.com/), seorang aktivis perempuan Papua Barat, Fanny Quinea Kagoya menulis tentang peran perempuan dalam masyarakat Papua.

Fanny Quinea Kagoya memberikan judul menarik pada tulisannya, “Problematika Perempuan Papua dalam Bermasyarakat”. Sekalipun ada dualisme terkait dengan peran perempuan dalam keluarga dan masyarakat di satu sisi, tetapi pada sisi lain masih mengalami kekerasan, tetapi harus diakui bahwa perempuan sangat penting bagi Papua.

Fanny Quine Kagoya menuliskan: “Sejarah Papua menceritakan, perempuan Papua sesungguhnya adalah “roh” yang memberikan kehidupan bagi bangsa Papua”.

Marilah perempuan, ibu-ibu dan pemudi-pemudi seluruh Indonesia, warganegara NKRI dihimbau terlibat mendukung Petisi Warganegara NKRI untuk Papua dengan memberikan jempol anda kepada Petisi ini ( http://www.facebook.com/petisi.untuk.papua)

Petisi Warganegara NKRI untuk Papua bertujuan memberikan dukungan bagi perjuangan warganegara NKRI-Papua  menyelesaikan permasalahan kemasyarakatannya sendiri.

Petisi Warganegara NKRI untuk Papua akan disampaikan kepada Presiden dan Wakil Presiden RI dan DPR RI untuk memfasilitasi penarikan militer dari bumi Papua, meneruskan pembangunan yang adil dan berkesejahteraan rakyat kepada seluruh warganegara NKRI – Papua.

Salam solidaritas NKRI

Atas nama Petisi Warganegara NKRI untuk Papua

Farsijana Adeney-Risakotta Ph.D 
blogger Indonesiaku Indonesiamu Indonesia untuk Semua (http://farsijanaindonesiauntuksemua.blogspot.com)

Menganalisis Statistik Petisi Warganegara NKRI untuk Papua Memasuki Minggu Kedua


Menganalisis Statistik Petisi Warganegara NKRI untuk Papua memasuki minggu kedua
Oleh Farsijana Adeney-Risakotta

Pada portal Petisi Warganegara NKRI untuk Papua ( http://www.facebook.com/petisi.untuk.papua), tadi malam, Jumat, 6 Juli 2012, saya menulis tentang data statistik terkait dukungan “user” jejaring sosial maya terhadap Petisi. Dari tanggal 22 sd 28 Juni 2012, minggu pertama, Petisi Warganegara NKRI untuk Papua diluncurkan kepada publik jejaring sosial maya, bahwa informasi Petisi ini dibaca oleh 18.021 “user”. Penyebarannya terjaring melalui media FB, twitter, blog maupun email. Ada 932 “user” yang kemudian membahasnya, sehingga menyebabkan ada kurang lebih 300 “user” yang memberikan jempol mendukung Petisi Warganegara NKRI untuk Papua pada akhir bulan Juni. Sekarang, tanggal 7 Juli 2012, jumlah jempol sudah mencapai 439.  Statistik FB mencatat ada penurunan kurang lebih 20 persen dalam dukungan sesudah minggu pertama. Data ini menunjukkan tentang penambahan jumlah jempol tetap berlangsung tetapi melambat. Laporan statistik ini juga bisa dipergunakan untuk menganalisis lebih lanjut beberapa isu yang sudah didiskusikan pada Forum Petisi Warnanegara NKRI untuk Papua maupun pada account saya di FB ( http://www.facebook.com/farsijanaadeneyrisakotta/ )

Untuk mendiskusikannya, saya bermaksud membaginya atas dua bagian. Pertama terkait dengan pertanyaan siapakah pemberi jempol pendukung Petisi Warganegara NKRI untuk Papua. Informasi apa saja yang mereka telah menerima sehingga memutuskan untuk mendukung Petisi Warganegara NKRI untuk Papua. Bagian kedua berhubungan dengan pembahasan tentang substansi aktivitas Forum Petisi Warganegara NKRI untuk Papua. Pembahasan tentang bagian kedua akan dihubungkan dengan tulisan-tulisan lain yang sudah disebarkan ke Forum Petisi Warganegara NKRI untuk Papua maupun ke account FB saya (Farsijana Adeney-Risakotta). Selain profil dan pengantar tentang Petisi Warganegara NKRI untuk Papua yang bisa ditemukan pada kotak notes Portal Petisi Warganegara NKRI untuk Papua, ada banyak informasi yang dibagikan ke Forum Petisi.  Sumber utama dari bahan-bahan ini diambil dari berbagai links yang disumbangkan oleh teman-teman pendukung maupun diupaya oleh moderator Petisi Warganegara NKRI untuk Papua. Untuk sumber-sumber informasi yang terhubung dengan links tertentu bisa ditemukan langsung pada Wall dari Petisi dan tidak bisa disimpan pada Notes. Mengantisipasi pentingnya pengumpulan materi yang terkonsentrasi terkait dengan isu Papua, untuk para pendukung Petisi yang ingin mendalami isu bisa mengakses informasi pada blog “Indonesiaku Indonesiamu Indonesia untuk semua” (http://farsijanaindonesiauntuksemua.blogspot.com ).

Mengulang sedikit tentang siapakah pendukung Petisi Warganegara NKRI untuk Papua adalah menyentuh kelompok target dari Petisi ini. Sudah dijelaskan dalam Profil dan  Pengantar, bahwa Petisi Warganegara NKRI untuk Papua dibuat untuk menjaring warganegara NKRI di seluruh jejaring sosial maya. Mereka adalah kelas menengah NKRI yang belum tergarap dengan baik sesudah gerakan Reformasi mengulirkan demokratisasi yang memungkinkan partispasi warganegara pada pembangunan nasional. Ada banyak cara seorang warganegara berpartisipasi dalam pembangunan nasional. Melibatkan diri dengan organisasi masa berbasis isu budaya, pendidikan, sosial ekonomi, atau pemberdayaan kapasitas politik, agama, merupakan bentuk-bentuk konkrit dari upaya mendorong pencapaian partisipasi masyarakat dalam pembangunan nasional.  Upaya nyata dari partisipasi ini kemudian bisa dirasakan melalui program yang diturunkan dalam organisasi dimana ybs menjadi anggotanya. Tetapi dukungannya  bersifat lokal dengan muatan berkepentingan terbatas. Keterlibatan dalam konteks luas seorang warganegara baru terlihat hanya pada saat pelaksanaan Pemilu, atau pemilukada, ketika seorang warganegara NKRI dimintakan partisipasinya dalam memilih wakil rakyatnya.

Keterbatasan akselerasi warganegara NKRI hanya pada Pemilu dan Pemilukada, tanpa kemampuannya untuk terlibat mengawal kebijakan dan para wakil rakyat yang didukungnya,  perlu dipikirkan  kembali.  Sudah lama saya bergumul tentang partisipasi warganegara NKRI yang penuh terhadap pembangunan nasional bukan sekedar hanya memberikan suara pada saat Pemilu dan Pemilukada. Pengalaman saya memberdayakan perempuan melalui organisasi masa Koalisi Perempuan Indonesia di propinsi DIY mengajarkan tentang banyak hal.  Hal penting terkait dengan pengawalan warganegara untuk memastikan bahwa negara dan wakil rakyat yang berada pada jabatan publik melakukan kegiatan pembangunan yang tidak bertentang dengan UU, Perda, Keputusan Gubernur, Walikota, Bupati dan lain-lain yang dibuatnya. Demikian juga mekanisme pembuatan regulasi yang melibatkan warganegara NKRI. Pada tingkat pengawalan inilah, kematangan bermasyarakat dan kepercayaan diri dari seorang warganegara NKRI untuk mendukung pembangunan nasional dipertaruhkan.

Apatisme dari kalangan masyarakat terhadap upaya berpartisipasi tampil menguat karena negara sendiri tidak memberikan kesempatan kepada warganegara untuk mengalami pendewasaan secara politik. Rendahnya pendidikan politik yang direncanakan dalam program-program kerja pemerintah maupun masyarakat sipil seperti Lembaga Swadaya Masyarakat menyebabkan warganegara NKRI menjadi apatis. Tentu saja, apa yang bisa diharapkan dalam partisipasi apabila kemampuan untuk berpartisipasi belum terbangun secara sistematis. Tantangan inilah yang mendorong saya memutuskan menggunakan jaringan Facebook dan blog, pertama-tama sebagai suatu alat komunikasi yang dapat mendorong proses pendewasaan warganegara NKRI. Sejak awal keterlibatan saya dengan jejaring sosial maya adalah untuk memperluas kesadaran warganegara NKRI terhadap berbagai isu yang disebarkan ditengah masyarakat. Pengalaman saya meneliti konflik dan kekerasan massa di Maluku Utara, mengorganisir pemuda/i Kristen dan Muslim di Yogyakarta sehingga bersama-sama  memfasilitasi Dialog Maluku untuk pemimpin akar rumput Kristen dan Islam di propinsi Maluku,  pemberdayaan kemampuan advokasi dan peningkatan ekonomi perempuan akar rumput di seluruh DIY, dan penguatan kapasitas anak dengan praktek budaya sebagai agen perdamaian di DIY membuat saya makin yakin bahwa warganegara NKRI perlu mendapat kesempatan mengasah kesadarannya sebagai “warganegara”.  

Setiap orang di Indonesia terlahir dalam satu keluarga, yang menjadi bagian dari keluarga besar tertentu dalam etnis khusus, dalam jejaring keagamaan tertentu juga.  Ketika berbagai identitas politik diberikan pada seseorang di dalam konteks NKRI, menurut saya, bukan sekedar sebagai alat untuk mengelompokkan diri dalam kelompok tertentu tetapi juga sebagai alat untuk mengerti apa arti identitas yang saya terima tsb. Menjadi seorang Indonesia, sebenarnya berarti apa? Apa arti menjadi seorang Indonesia dalam konteks bernegara Pancasila di samping pegangan mendalam pada agama masing-masing. Pertanyaan-pertanyaan ini saya membahas untuk saya mengerti sendiri kemudian saya membagikannya kepada warga Facebook yang ada dalam jejaring saya. Tulisan-tulisan ini bisa ditemukan pada blog (http://farsijanaindonesiauntuksemua.blogspot.com).

Petisi Warganegara NKRI untuk Papua juga lahir dari diskusi di account Facebook saya. Teman-teman bisa membaca lagi pada profil dan pengantar Petisi Warganegara NKRI untuk Papua. Saya ingin menjelaskan bahwa sifat Petisi Warganegara NKRI untuk Papua yang sangat dinamis, beda dengan bentuk Petisi pada umumnya, bertujuan untuk memfasilitasi pendidikan politik kepada warganegara NKRI yang mendukung Petisi ini. Kesempatan ini sangat dimungkinkan karena tersedianya jejaring sosial maya. Jejaring ini memberikan banyak manfaat kepada warganegara NKRI terutama dalam pencapaian pendidikan politik seperti saya menggambarkannya di atas. Pendidikan di manapun saat ini sangat mahal, tetapi pada Forum Petisi Warganegara NKRI untuk Papua, warganegara NKRI memperolehnya gratis. Insitiatif Petisi yang sangat spontan karena kegelisahan warganegara terhadap situasi berbangsa dan kekerasan negara kepada Papua menjadi pendorong untuk saya berbagi dengan teman-teman semua. Bukan hanya saya, telah banyak teman-teman pendukung yang terlibat membagi berbagai pikiran, pengalaman dan bahan-bahan untuk menghidupkan Forum Petisi. Saya secara khusus sudah menulis tentang hal ini dalam tulisan lainnya ( “Merefleksikan Perjalanan Petisi Warganegara NKRI untuk Papua”). Tulisan ini bisa dijumpai pada blog ( http://farsijanaindonesiauntuksemua.blogspot.com).

Mengoptimalkan peranan warganegara NKRI untuk mendukung Petisi Warganegara NKRI untuk Papua sangat penting dilakukan secara tersistematis. Untuk itu, saya juga melakukan diskusi dengan beberapa tokoh langsung dari Papua, baik melalui percakapan telepon maupun secara online di Facebook. Dua tulisan yang disebut sebagai berita siang (tanggal  2 Juli 2012 ) dan berita pagi (tanggl 5 Juli 2012) dibuat untuk maksud menambah wawasan kita bersama tentang situasi terakhir dan apa yang bisa dilakukan oleh Petisi Warganegara NKRI untuk Papua supaya masalah Papua bisa diselesaikan dengan bijaksana oleh Pemerintah RI dan DPR RI. Kedua berita ini juga bisa diakses pada blog ( http://farsijanaindonesiauntuksemua.blogspot.com). Upaya penambahan moderator sedang dipersiapkan supaya makin banyak teman-teman yang bisa membantu Nano Apituley dan saya sebagai moderator dari Petisi Warganegara NKRI untuk Papua. Nama-nama yang sudah diusulkan adalah Si Flo Patteipeloihy, Bramantyo Prajisusilo, Marijke Bangun. Kami juga ingin mengusulkan Arifah Rahmawati dan Erich Kaunang sebagai moderator bersama dengan teman-teman lain yang namanya sudah kami umumkan.

Diharapkan pada minggu ketiga kedepan, fokus pendidikan politik akan terkait dengan pembahasan mengenai upaya membawa Petisi Warganegara NKRI untuk Papua kepada Pemerintah RI dan DPR R. Saya harap bisa memfasilitasi diskusi dengan melibatkan jejaring lebih luas seperti teman-teman dari Koalisi Perempuan Indonesia di Sekretaris Nasional di Jakarta untuk mendiskusikan kemungkinan kerjasama dengan Kaukus Perempuan Parlemen di DPR RI tentang dukungan terhadap Petisi Warganegara NKRI untuk Papua. GKR Hemas sebagai wakil DIY untuk DPD RI bisa menjadi jalur bagi Petisi Warganegara NKRI untuk Papua mempersiapkan dirinya untuk bisa mendapat dukungan  seluas-luasnya oleh seluruh warganegara NKRI. Dukungan ini berbasis pada setiap individu warganegara. Yel-yel yang disampaikan Petisi Warganegara NKRI untuk Papua selama dua minggu ini adalah One Person One Like, marilah setiap warganegara NKRI memberikan jempolnya kepada Petisi Warganegara NKRI untuk Papua (http://www.facebook.com/petisi.untuk.papua). Dukungan semua pihak secara individu sebagai warganegara NKRI membedakan status dan fungsi Petisi Warganegara NKRI untuk Papua dengan berbagai petisi lain yang tampil dalam upaya untuk mendorong perdamaian di Papua.

Saya akan menutup tulisan ini, saya berharap siapa saja yang membaca tulisan ini, merefleksikannya mendalam bahwa memberikan suara anda sebagai seorang warganegara NKRI untuk Petisi Warganegara NKRI untuk Papua adalah bukti tentang kepeduliaannya untuk Indonesia. Kelas menengah NKRI untuk Papua adalah termasuk didalamnya diri anda sendiri sebagai seorang yang berada dalam jejaring sosial maya. Kepedulian tersebut membuat penguna jejaring sosial maya makin bermakna dalam mengoptimalkan peran sosialnya untuk mendorong partisipasi dirinya sendiri dalam pembangunan nasional. Marilah bergabung dengan Petisi Warganegara NKRI untuk Papua, karena kepedulian anda sangat dibutuhkan untuk mendorong Pemerintah RI dan DPR RI melakukan langkah yang tepat dalam memfasilitasi penyelesaian masalah Papua.  Upaya pengawalan ini akan mendewasakan proses berdemokrasi di Indonesia sebagai kelanjutan dari Gerakan Reformasi yang sudah dicapai bersama. Terima kasih banyak untuk semua pengertian dan dukungan yang diberikan oleh setiap insan warganegara NKRI untuk Petisi Warganegara NKRI untuk Papua  (http://www.facebook.com/petisi.untuk.papua ). Salam solidaritas NKRI.


Rabu, 04 Juli 2012

Meneruskan panggilan perjuangan Kelas Menengah NKRI untuk Papua


Petisi Warganegara NKRI untuk Papua (Berita Pagi, 5 Juli 2012)
“Meneruskan panggilan perjuangan Kelas Menengah NKRI untuk Papua”

Papua belum menjadi perhatian yang serius dari Pemerintah RI, demikian salah satu kesimpulan yang muncul dari diskusi Petisi Warganegara NKRI untuk Papua dengan beberapa narasumber. Diskusi yang berlangsung di Gedung Paska Sarjana UGM melibatkan Arifah Rahmawati, dari Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian UGM, serta Erich Kaunang dari Indonesian Consortium for Religious Studies yang telah berbagi pandangannya tentang Dialog Papua Jakarta untuk Petisi Warganegara NKRI untuk Papua. Ketidakseriusan ini terlihat dari rendahnya tindakan lanjutan yang difasilitasi pemerintah RI terhadap UU 21 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Papua. Ada banyak aspek yang disinggung dalam Otsus belum direalisasikan didalam separuh waktu pelaksanaannya. Misalkan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi yang belum dibentuk sehingga berdampak terhadap penanganan Papua yang berat sebelah. Pelebelan separatisme, gerakan OPM menjadi alasan untuk Negara memperbanyak kehadiran TNI/Polri menjaga Papua, memelihara keutuhan wilayah NKRI. Pendekatan militer tampil menunjukkan tentang ketidakseriusan negara terhadap penanganan Papua.

Arifah Rahmawati menganalisis tentang Petisi Warganegara NKRI untuk Papua, yang mentarget kelas menengah di Indonesia sebagai agen perubahan tetapi yang selama ini belum tergarap dengan baik, diharapkan bisa mendorong pemerintah RI melakukan transformasi kekerasan di Papua. Sambil menyinggung teori John Paul Lederach tentang struktur piramida dari masyarakat, Arifah mengingatkan bahwa selama ini persoalan Papua dilakukan pada tingkat elitis, sebagai inisiatif dari pemerintah RI. Tidak heran apabila pendekatan ini menghasilkan tanggapan yang sama dari pihak pemimpin Papua. Perjuangan Papua seolah-olah adalah perjuangan beberapa orang atas nama banyak orang untuk Papua. Akhirnya, Papua sekedar menjadi komoditi politik untuk sebagian kelompok elitis di NKRI. Padahal persoalan Papua adalah persoalan kemanusiaan yang berhubungan dengan lapisan basis dalam masyarakat Papua. Mereka yang berhadapan dengan masalah-masalah kesehatan, kekurangan gisi, pendidikan, perumahan, peningkatan ekonomi dsbnya.

Menggunakan istilah, Sostenes Sumihe dalam diskusi di status Facebook dengan Farsijana Adeney-Risakotta, masalah Papua semata-mata dilihat sebagai persoalan politik. Papua belum ditangani secara komprehensif, masalah kemanusiaan yang harus difasilitasi oleh Negara untuk mendorong pencapaian hak-hak warganegaranya. Ketimpangan dan jurang pemisah untuk menjembatani antara masyarakat basis, warga akar rumput, dengan pemerintah, kelompok elitis seperti tergambar pada piramida kelas transformasi konflik dari Lederach bisa difasilitasi oleh kelompok menengah Indonesia. Kelompok menengah inilah yang perlu didorong keluar dari kenyamannya untuk menyadarkan pemerintah dan melakukan terobosan-terobosan kemanusiaan bagi Papua. 

Penguatan kelompok menengah seperti sedang dilakukan oleh Petisi Warganegara NKRI untuk Papua, supaya bisa terlibat mentransformasikan wajah kemanusiaan dari kebijakan negara, perlu diimbangi dengan penguatan langsung pada basis. Menyinggung tentang model konflik sosial yang melibatkan warga masyarakat akar rumput, Farsijana Adeney-Risakotta, sambil menunjukkan contoh konflik masa di Maluku Utara, mengatakan bahwa penguatan masyarakat basis sangat perlu dilakukan segera karena lapisan ini dengan sangat mudah dapat dimobilisasi untuk melakukan kekerasan terhadap kelompok masyarakat basis lainnya. Kebijakan lokal berbasis masyarakat perlu difasilitasi sehingga mereka bisa menyadari tentang mekanisme negosiasi dan penyelesaian perdamaian yang ada pada pengalaman budayanya. Untuk Papua, penguatan kelompok basis memang harus difasilitasi oleh orang-orang Papua sendiri.

Upaya ini harus dilakukan segera untuk menghindari ekskalasi kekerasan yang mungkin bisa terjadi di tingkat basis. Beberapa kali muncul berita tentang perang antara suku di Papua. Berita-berita tentang hal ini perlu diwaspadai, karena sangat jelas terlihat di TV, aparat sedang menonton sambil tertawa-tawa melihat perang tersebut. Masyarakat basis terus perlu didorong untuk bersatu menghadapi persoalan Papua sebagai masalah bersama sehingga upaya untuk memecahkan mereka untuk menantang satu sama lain bisa dihindari. Masyarakat basis perlu disadarkan bahwa kemungkinan mereka diprovokasi sangat mudah terutama ditengah-tengah bara konflik yang sedang memanas di Papua.

Kelas menengah sebagai kelompok penekan bagi Pemerintah RI, merupakan tantangan bersama semua insan di Indonesia. Kelas menengah Indonesia adalah mereka yang mempunyai akses kepada media jejaring sosial maya. Kenyamanan yang sedang dinikmati oleh kelas menengah, termasuk perjuangan kelas menengah untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya. Dari pengalamannya berada di Papua untuk memahami aspirasi masyarakat terhadap penyelesaian persoalan Papua, Erich Kaunang berpendapat bahwa sangat sulit untuk menemukan tokoh Papua yang bisa menyatukan semua pihak, berbagai sub-etnik yang kompleks di Papua.

Karena itu, sebenarnya di Papua, yang paling menonjol terlihat adalah dua kelompok, yaitu kelompok menengah dan kelompok basis. Kelompok elit seringkali menerima penolakan dari kelompok-kelompok menengah apabila prosedur representasinya tidak melalui mekanisme yang dianggap adil oleh masing-masing sub etnis maupun berbagai kelompok lain dalam masyarakat. Inilah juga tantangan yang harus dihadapi bersama oleh masyarakat di Papua, sehingga visi perjuangan Papua perlu dibukakan lebih luas dari hanya perjuangan politik tetapi lebih dari itu adalah masalah kemanusiaan. Masalah yang sedang dihadapi oleh warga masyarakat biasa yang tersebar di berbagai wilayah di Papua.


Sudah pasti, masyarakat Papua dengan keluasan daerah dan kompleksitas etnisnya, berkeinginan mengelola masyarakatnya sebagai "Papua Indonesia" bukan "Indonesia Papua", demikian ditegaskan oleh teman-teman dari Tabloid Jubi Online, dalam dialognya dengan Farsijana Adeney-Risakotta. Sudah lama, NKRI disatukan dengan menggunakan format budaya politik dominasi di Indonesia untuk membentuk keindonesiaan. Seringkali mengindonesia dianggap menjawanisasikan. Walaupun di Papua, penguasaan ekonomi terlihat dikendalikan oleh masyarakat pendatang terutama mereka dari latar belakang BBM (Bugis Buton Makassar), tetapi sentimen terhadap warga Jawa masih sering terletup keluar dari warga lokal asli Papua.

Sentimen kepada “Jawa” secara umum mungkin dikaitkan dengan berbagai kekerasan yang terjadi sesudah aparat TNI/Polri disebarkan merata di bumi Papua. Sehingga harapan dari generasai muda seperti disinyalir oleh "Tabloid Jubi Online" terutama untuk pelurusan tentang perjuangan kemerdekaan hak-hak masyarakat Papua membentuk dirinya sendiri dalam wilayah NKRI bisa terus dilakukan secara adil. Penguatan kapasitas masyarakat perlu dilakukan secara sistematis dengan beriringan bersama pemerintah melalui berbagai program yang sebelumnya sudah direncanakan bersama. Ketrampilan untuk mengelola modalitas sosial budaya yang ada pada masyarakat Papua perlu diupayakan sehingga masyarakat Papua dengan kekayaan kebijakan lokalnya bisa mengembangkan strategi pemerintahan yang kontekstual.

Tampilnya harapan pada kelas menengah Indonesia untuk memulai proses penguatan kapasitas budaya diberbagai daerah dalam rangka membangun NKRI yang sesuai dengan cita-cita proklamasi harus bisa membuka jalan bagi perbaikan kehidupan sosial politik ekonomi di Indonesia. Kekuatan kelas menengah di Papua juga perlu didorong untuk mengambil posisi pengembangan Papua yang merata tidak hanya pada pengelolaan pemerintahan. Terlihat minat studi generasi Papua misalkan di Yogyakarta, lebih cenderung pada studi pemerintahan. Kelas menengah Papua perlu didorong untuk belajar di berbagai bidang sehingga bisa dengan trampil bekerjasama dengan sesama saudara NKRI yang berada di Papua untuk membangun Papua.

Pengelolaan kurikulum pendidikan berbasis kebutuhan Papua perlu memperkaya pembelajaran bidang pemerintahan sehingga calon-calon birokrat baru di Papua juga mengerti berbagai masalah lain yang perlu ditangani secara komprehensif untuk meningkatkan kesejahteraan dan keadilan bagi masyarakat basis. Pengalaman mengelola demokrasi, keadilan dan kesejahteraan di Papua, setidaknya bisa menjadi awal yang baik bagi pembelajaran demokrasi berbasis daerah di seluruh Indonesia. Terutama mendorong setiap daerah untuk mengembangkan sumber daya manusianya menjawab kebutuhan daerahnya, termasuk mampu mengelola sumber daya alam yang melimpah di wilayahnya.

Sisi positif dari perjuangan bersama masyarakat Papua, seperti yang muncul dari diskusi antara Petisi Warganegara NKRI untuk Papua dengan berbagai narasumber, baik yang berlangsung secara tatap muka maupun melalui online, menaruh harap baru bagi kehidupan demokrasi di Indonesia. Demokrasi menjadi kenderaan bagi perjuangan Reformasi di Indonesia. Persoalan Papua, seyogiannya perlu diletakkan dalam kaitan dengan penegakan demokrasi paska Reformasi. Ketika persoalan Papua dipisahkan dari konteks gerakan Reformasi di Indonesia, Papua menjadi semata-mata komoditas politik dari berbagai kepentingan di tanah air. Petisi Warganegara NKRI untuk Papua sudah bergulir mencoba mewadahi kesumbatan demokrasi yang selama ini seolah-olah menjadi domain bagi politikus yaitu wacana partai-partai politik.

Forum Petisi Warganegara NKRI untuk Papua bukan forum partai politik, tetapi forum warganegara yang peduli untuk memikirkan bersama jalanan kehidupan demokrasi dan pembangunan yang adil, sejahtera serta damai bagi semua lapisan masyarakat. Jadi mendiskusikan persoalan Papua secara publik, menjaring kelas menengah Indonesia untuk menggugah hati mereka terlibat memikirkan bangsa negaranya, merupakan tanggungjawab kita bersama. Kelas menengah Indonesia yang sadar tentang tanggungjawab dan hak kewarganegaraannya diharapkan bisa menyadarkan kepentingan elitis NKRI terhadap kebutuhan masyarakat basis di Papua. 

Papua tidak bisa dibiarkan sendiri bertentangan di antara elit Papua dengan elit Pemerintah RI. Papua adalah pergumulan bersama semua warganegara NKRI yang memperjuangkan keadilan, kesejahteraan dan perdamaian Papua, adalah juga memperjuangkan hak-hak warganegara dirinya sendiri. Kesimpulan ini mencerahkan perjalanan bersama Petisi Warganegara NKRI untuk Papua. Salam solidaritas NKRI (Farsijana Adeney-Risakotta)

Senin, 02 Juli 2012

Menyeberanglah kemari dan tolonglah kitorang di bumi Papua!


RSCN9791

Salam solidaritas Forum Petisi Warganegara NKRI untuk Papua,
Malam ini, hari Senin, tanggal 2 Juli 2012, saya menerima e-mail dari Pdt. Dr. Karel Phil  Erari.  Kata-katanya sangat mengharukan hati saya, sehingga saya memutuskan untuk mengetik dan menyampaikannya kepada basudara warganegara NKRI di seluruh Indonesia.
Tulisannya: “ Salam buat semua teman dan jaringan atas solidaritas bersama rakyat Papua yang terus mencari keadilan yang begitu sulit dan mahal di negara Pancasila ini yang menjunjung tinggi salah satu prinsip Pancasila : Keadilan bagi seluruh rakyatnya,
blessings” (Rev.Karel Phil Erari).
Semoga basudara di seluruh NKRI bisa merasakan kekuatan dan kebenaran dari kata-kata Pdt. Karel Phil Erari. Kita semua terpanggil untuk turut memperjuangkan keadilan, kesejahteraan dan perdamaian yang dirindukan oleh seluruh warganegara NKRI-Papua.
Dukungan basudara setanah air, warganegara NKRI bisa diberikan dengan memberikan jempol anda pada Petisi Warganegara NKRI untuk Papua ( http://www.facebook.com/petisi.untuk.papua ).  Ingat One Person One Like, setiap orang satu jempol.
Amalulukee (terima kasih dalam dialek Noge, Papua).
Farsijana Adeney-Risakotta

Minggu, 01 Juli 2012

Persoalan Papua, jangan diambil alih oleh Jakarta, kembalikan spirit Otsus kepada Papua!


Petisi Warganegara NKRI untuk Papua (Berita Siang, 2 Juli 2012).

"Persoalan Papua, jangan diambil alih oleh Jakarta, kembalikan spirit Otsus kepada Papua!"
Oleh Farsijana Adeney-Risakotta

Kompas, Sabtu, 30 Juni 2012 memberitakan  pernyataan Presiden SBY tentang status Papua sebagai bagian NKRI yang sudah final.  Pernyataan ini disampaikan dihadapan 1000 perwira siswa TNI/Polri di Markas Komando Sekolah Calon Perwira TNI AD di Bandung Jawa Barat pada hari Jumat tanggal 29 Juni 2012. Dialog bisa terus dilakukan tetapi bukan untuk meluruskan sejarah integrasi Papua, demikian ringkasan penyataan Presiden SBY. Diakhir dari berita Kompas (hal. 15) juga disampaikan pandangan dari beberapa tokoh tentang pentingnya dialog termasuk melibatkan berbagai pihak di Papua yang menghendaki pelurusan sejarah integrasi Papua tsb.

Pagi ini (2 Juli 2012), Petisi Warganegara NKRI untuk Papua berbicara melalui telepon dengan seorang tokoh Papua, tokoh Gereja, Dr. Phil. Karel Erari untuk mencari tahu bagaimana tanggapan warga Papua terhadap pernyataan Presiden SBY.  Diakui oleh Pdt.Erari, bahwa mungkin saja Presiden SBY memperoleh informasi yang salah tentang situasi terakhir di Papua. Sambil mengingatkan tentang janji Presiden SBY pada tanggal 16 Desember 2011 di Cikeas ketika bertemu dengan empat represengtasi  pimpinan Gereje-gereja Papua, mengatakan kesediaannya untuk melakukan dialog. Dialog yang dimaksudkan adalah dialog yang adil, setara dan bermartabat.  Menurutnya, tanpa dialog, masalah Papua tidak bisa diselesaikan. Dialog harus melibatkan semua pihak yang ada di Papua, untuk memikirkan jalan keluar terbaik bagi kehidupan warganegara NKRI-Papua.

Gereja-gereja di Papua, baik Prostestan dan Katolik sudah siap untuk memfasilitasi dialog di antara Pemerintah RI dan warga Papua.  Topik-topik dialog yang akan diikutsertakan berkaitan dengan substansi Papua yang meliputi persepsi warga masyarakat tentang integrasi dan persoalan HAM di Papua. Ajakan Gereja-gereja saat ini adalah meminta kesediaan dari Pemerintah RI dalam hal ini Presiden SBY untuk mempersiapkan lagi agenda dialog yang dijanjikannya. Pembahasan tentang tujuan, substansi dan mekanisme dialog bisa dilakukan bersama-sama.

Diakuinya bahwa perjalanan Papua untuk mencapai harkat martabatnya sebagai warganegara NKRI yang setara dengan warganegara lainnya akan menghadapi masa yang panjang. Apabila sekarang pemerintah RI, dalam hal ini Presiden SBY mulai disibukkan dengan persiapan Pemilu 2014, warganegara NKRI-Papua tetap akan menunggu janji Pemerintah RI untuk melaksanakan dialog Papua terkait dengan kehidupan bermasyarakat dan bernegara di Papua.

Payung hukum untuk pelaksanaan dialog juga belum tersedia. Sesudah sepuluh tahun UU 21 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Propinsi Papua disahkan oleh Pemerintah RI (Presiden Megawati Soekarnoputri), ternyata ada banyak hal dalam UU tersebut yang belum diimplementasikan oleh negara.  Pelaksanaan dialog Papua harus dilakukan karena diamanatkan dalam UU 21 tahun 2001 tentang pembentukan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (pasal 46). Sampai saat ini, sesudah mengoperasionalisasikan UU Otsus tersebut, ternyata Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi belum terbentuk.

           Merujuk pada pasal 46 ini, maka warganegara NKRI-Papua mendesak supaya pemerintah RI segera mengupayakan pelaksanaan pembentukan Komsi Kebenaran dan Rekonsiliasi yang akan memfasilitasi dialog Papua.  Ayat 1 dari pasal 46 mencatat bahwa tugas Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi adalah melakukan klarifikasi sejarah Papua untuk pemantapan persatuan dan kesatuan bangsa dalam Negara Kesatuan Indonesia, merumuskan dan menetapakan langkah-langkah rekonsiliasi. Jadi sebenarnya, sesuai dengan UU 21 tahun 2001, yang diberikan tugas untuk memfasilitasi proses klarifikasi sejarah Papua dan rekonsiliasi bukan Presiden SBY tetapi Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi. Pada ayat 3 dijelaskan tentang fungsi Presiden RI adalah memberikan persetujuan melalui Ketetapan Presiden atas usulan dari Gubernur terkait dengan susunan keanggotaan, kedudukan, pengaturan pelaksanaan tugas dan pembiayaan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi.

           Tekanan dari DPR RI  supaya Presiden SBY memberikan perhatian mendukung penyelesaian masalah Papua bukan berarti Presiden RI mengendalikan sepenuhnya upaya mencari kebenaran dan rekonsiliasi di Papua. Kalau hal ini terjadi, di mana Presiden RI diberikan hal sepenuhnya, berarti ada upaya untuk melanggar UU 21 tahun 2001, menjauhkan warga Papua dari spirit Otonomi Khusus yang diberikan kepada mereka untuk mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara secara mandiri dan bermartabat. Lebih jauh perlu warganegara NKRI mewaspadai adalah desakan dari Komisi I yang membidangi TNI dan BIN untuk membentuk Panja Papua.  Saat ini di DPR RI sudah ada tim Otsus Papua. Baik tim Otsus Papua maupun Panja Papua apabila dibentuk oleh  Komisi I DPR RI tidak sama dengan pembentukan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi yang ditetapkan oleh UU 21 tahun 2001.

           Melalui wawancara ini dan upaya untuk mendudukan kembali spirit UU 21 tahun 2001, Petisi Warganegara NKRI untuk Papua mendorong warganegara NKRI di seluruh Indonesia untuk mewaspadai upaya pembodohan publik yang dilakukan oleh Pemerintah RI, Presiden SBY dan DPR RI terhadap masalah Papua. Tujuan wawancara adalah untuk mengembalikan peran dari warganegara NKRI di seluruh tanah air untuk berperan aktif mengawal segala bentuk kebijakan negara termasuk upaya-upaya penelantaran negara demi kepentingan sempit elite politiknya yang mengorbankan warga sipil di mana-mana, terutama sekarang yang sedang terjadi di Papua. Salam solidaritas NKRI, marilah kita meneruskan kehidupan berbangsa dan bernegara yang bermartabat dan benar (Farsijana Adeney-Risakotta)