Translate
Minggu, 07 Desember 2014
Rabu, 25 Juni 2014
Indonesia Memilih Presiden dan Wakil Presiden 2014-2019. Mempertanggungjawabkan pilihan politik warganegara!
Indonesia Memilih Presiden dan Wakil Presiden 2014-2019
Mempertanggungjawabkan pilihan politik warganegara!
Oleh Farsijana Adeney-Risakotta
Saat ini Indonesia berada dalam sorotan dunia. Kampanye
calon presiden dan calon wakil presiden RI dibuka oleh Komisi Pemilihan Umum
pada tanggal 4 Juni 2014 sampai dengan tanggal 5 Juli 2014 ternyata tidak saja
dilakukan oleh tim kampanye dari masing-masing calon, tetapi dibahas secara
mendalam oleh masyarakat. Ada dua calon
presiden dan calon wakil presiden yang saat ini sedang melakukan kampanye untuk
mempertanggungjawabkan visi dan misi mereka sehingga rakyat bisa mengerti dan
membuat keputusan untuk memilih pada tanggal 9 Juli 2014. Mereka adalah
pasangan Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa sebagai nomor urut 1 sebagai calon
presiden dan calon wakil presiden yang bertarung dengan Joko Widodo (Jokowi)
dan Jusuf Kalla sebagai calon presiden dan calon wakil presiden dengan nomor
urut 2.
Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2014 memang berbeda
dengan pemilihan-pemilihan presiden dan wakil presiden sebelumnya. Bahkan kemeriahan masa kampanye presiden dan
wakil presiden lebih meriah dari pertandingan World Cup yang juga sedang
berlangsung dan bisa dinikmati oleh seluruh dunia termasuk di Indonesia. Daya
tarik kampanye calon presiden dan wakil presiden RI periode 2014-2019 sangat
besar karena warganegara Indonesia di mana-mana sekarang ini bisa dihubungkan
dengan dunia maya. Teknologi jaringan memungkinkan transparansi, akuntabiltas
dan mendorong proses demokrasi berjalan bersih karena setiap orang bisa
mendorong terjadikan pengecekan, klarifikasi dan pelurusan sebagai bagian dari
cara pendidikan politik pada masyarakat.
Warganegara Indonesia tidak bisa tinggal diam untuk
menyerahkan hak memilih dikelola oleh opini yang dibuat oleh media tentang
capres dan cawapres yang pantas untuk Indonesia. Saat ini banyak situs di dunia maya yang
mempublikasikan hasil survey dari capres dan cawapres baik yang mengunggulkan
Prabowo Subianto-Hatta Rajasa (Nomor 1) maupun Jokowi-Jusuf Kalla (nomor 2).
Warga masyarakat tidak buta tentang hasil-hasil polling dan survey tersebut,
karena hak pemilihan ada pada masing-masing warganegara sebagai pemilih yang
menggunakan kesempatan kampanye sekarang ini sebagai wadah pendidikan politik
untuk mengerti kearah mana Indonesia akan dibawa oleh calon presiden dan wakil
presiden RI yang akan dipilihnya.
Banyak orang meragukan kebebasan masyarakat untuk memilih
karena adanya politik uang, politik balas jasa terhadap tokoh-tokoh yang secara
tidak langsung berhubungan dengan calon presiden dan calon wakil presiden
RI. Pemilihan calon presiden dan wakil
presiden yang dilakukan berdasarkan asas langsung, umum, bebas dan rahasia seolah-olah
memberikan kesan bahwa seorang pemilih harus disetrilkan untuk bisa membuat
keputusan politik yang paling tepat. Dalam mendorong partisipasi politik, ide
sterilisasi masyarakat untuk hanya mendengar dari satu calon kubu sebenarnya
tidak mendorong adanya diskusi terbuka dalam masyarakat. Untuk itulah, debat presiden RI yang
dicanangkan oleh Komisi Pemilihan Umum sehingga pelaksanaannya dilakukan lima
kali dimulai dari tanggal 9, 15, 22, 29 Juni dan 5 Juli 2014 adalah cara
demokrasi untuk memberikan kesempatan kepada warganegara mengalami pendidikan
politik. Debat Presiden adalah salah
satu alat kampanye yang menyajikan panggung terbuka di mana ide-ide dan praktek
dari masing-masing calon didiskusikan
secara terbuka. Bahkan Prof. Jeffrey Winters menyatakan kekagetannya karena
dalam debat presiden yang ditayangkan melalui Televisi, masing-masing kandidat
diberikan kesempatan untuk saling bertanya.
Kekagetannya didasarkan pada pengalaman di Amerika Serikat yang sangat
berbeda karena tidak ada sesi tanya jawab yang diberikan kpeada masing-masing
kandidat untuk mendalami pikirannya sendiri melalui pertanyaan dari lawan
politikusnya. Debat Presiden ini kemudian diteruskan oleh warga masing-masing
dengan menggunakan ruang publik yang ada seperti Facebook untuk mendiskusikan
lebih lanjut pikiran-pikiran yang disampaikan dalam oleh calon presiden dan
calon wakil presiden masing-masing.
Diskusi-diskusi di kalangan internalnya masing-masing inilah
yang paling menarik untuk dicermati. Cara
diskusi yang menarik dengan menulis pernyataan pada status ternyata tidak
sekedar kata-kata kosong. Tulisan-tulisan di Facebook sebagai status adalah
hasil dari proses analisa tentang apa yang sedang terjadi dalam masyarakat dan
bagaimana diri sendiri menanggapinya. Argumentasi dibangun dari pembacaan
berita-berita yang datang sangat cepat untuk menguji setiap kejadian dan
pernyataan yang sedang terjadi dalam masyarakat terkait dengan apa yang
disebut, apa yang dilakukan, media apa yang dipakai oleh calon presiden dan
calon wakil presiden dalam mempertanggungjawabkan perkataan dan
perbuatan-perbuatan mereka pada masa lalu, sekarang dan akan datang. Kampanye
presiden dan wakil presiden 2014 membuat warganegara biasapun terlibat untuk
mengerti apa yang sedang terjadi dengan Indonesia saat ini. Mereka tidak mau
melepaskan Indonesia ditentukan oleh para elite politik, media massa dan
lembaga-lembaga survey, karena mereka mencari semua berita-berita dan
mengujinya dengan sangat cerdas.
Saya menulis saat ini karena
ingin menegaskan kepada tim sukses dari masing-masing kubu, bahwa
kampanye hitam, kampanye jelek tidak berguna. Meluruskan kampanye hitam dan
jelek bisa dilakukan oleh masing-masing kubu dengan mengklarifikasikan kepada
publik. Apabila terlihat bahwa ada pelanggaran termasuk pencemaran nama baik
yang berlebihan, maka kubu yang mencemarkan bisa melaporkan kepada Bawaslu.
Kampanye yang paling efektif adalah apabila warga masyarakat didorong untuk
berpikir kritis termasuk juga melakukan dialog dengan warga yang lain tentang
visi, misi dan program-program yang akan dilakukan oleh calon presiden dan
calon wakil presiden. Media sosial seperti Facebook telah memungkinkan warga
masyarakat untuk berdiskusi tentang alasan-alasan mengapa mereka mendukung
calon presiden dan calon wakil presiden tertentu.
Setiap warganegara akhirnya harus membuat keputusan tentang
siapa calon presiden dan calon wakil presiden yang didukungnya. Keputusan untuk membahasnya pada status di
Facebook adalah bagian dari pertanggungjawabannya terhadap masa depan
Indonesia. Rumusan langsung, umum, bebas,
dan rahasia harus dimengerti secara benar, bahwa proses rahasia pada saat
pemungutan suara perlu dijaminkan untuk menjaga validalitas suara pemilih pada
saat mencoblos. Tetapi proses mendialogkan, mendiskusikan pandangan-pandangan
sepasang kandidat presiden dan wakil presiden tidak harus dilihat sebagai suatu
kerahasiaan. Mengungkapkannya adalah
bagian dari kedewasaan pendidikan politik untuk mempersiapkan seorang warga
negara melakukan pemilihan resmi pada tanggal 9 Juli 2014. Karena itulah,
jadilah diri sendiri untuk setiap warganegara
Indonesia sehingga memilih calon presiden dan wakil presiden RI periode
2014-2019 tanpa rasa takut, beradab, mengedepankan perdamaian dan dilakukan berdasarkan hati nurani yang
Pancasilais.
Rabu, 18 Juni 2014
Jakarta berikanlah Jokowi kepada Indonesia! Mengkritisi Ahok: Logika SARA Menyesatkan!
Jakarta berikanlah Jokowi kepada Indonesia!
Mengkritisi Ahok: Logika SARA Menyesatkan!
Oleh Farsijana Adeney-Risakotta
Masih segar dalam diri saya merasakan getaran pemilukada
(pemilihan kepala daerah) di Jakarta tanggal 20 September 2012. Saya pernah menulis
untuk "Indonesiaku Indonesiamu Indonesia untuk semua", pemilukada tersebut seolah
menghadirkan kesejukan demokrasi yang sudah lama mati. Pemilukada Jakarta
membawa kembali harapan kepada demokrasi di Indonesia. Ketika itu, ekskalasi
isu SARA menjulang tinggi. SARA kepanjangan dari Suku, Agama, Ras dan antar golong. Jokowi seorang muslim menggandeng seorang nasrani. Masyarakat
tidak dikacaukan hatinya, tidak dibuatkan bimbang karena PDIP bergandengan
dengan Gerinda, melawan Fauzi Bowo dan Nara yang didukung oleh partai Demokrat
dan partai-partai lainnya yang oleh tokoh partai Demokrat dikatakan didukung
semua partai (Republika, 21 Juli 2012). Ketika itu, SARA menjadi bom waktu
untuk menghancurkan cagub dan cawagub yang diusung oleh hanya partai PDIP dan
Gerinda. Sekalipun isu SARA gencar menghantam pemilihan gubernur dan wakil
gubernur, malahan Jokowi yang menggandeng Ahok seorang Kristen ternyatalah yang
dipilih oleh warga Jakarta.
Dihantam badai SARA menyebabkan Jokowi sebagai Kepala Daerah
terpilih, gubernur sah meneruskan pendidikan politik untuk mendidik warga
Jakarta sebagai masyarakat Pancasila yang menjadi cita-cita bersama di
Indonesia. Ketika Lurah Susan Jasmine Zulkifli terpilih menjadi kepala daerah
di desa Lenteng Agung, beliau ditolak masyarakat karena alasannya seorang
Kristiani. Dialog yang digagaskan Jokowi dengan masyarakat telah mengubah
persepsi mereka sehingga akhirnya menerima ibu Susan sebagai Lurah di Lenteng Agung.
Tadi malam kami mendiskusikannya di timeline saya di Facebook. Saya senang
mengangkat kemajuan pluralisme yang sedang mengubah Jakarta tetapi kemudian
juga sekarang sedang dihancurkan oleh politik minoritas yang menggunakan isu SARA baik oleh Ahok,sebagai pejabat sementara
Gubernur Jakarta maupun Prabowo Subianto, yang menjadi calon presiden. Pemberitaan Tempo mengagetkan saya yang
sedang jauh dari tanah air. Tempo tgl 17 Juni 2014 menuliskan artkel dengan
judul "Elektabilitas Jokowi Turun di DKI, Ini Kata Ahok", dipublikasikan
bertepatan dengan tersebarnya spanduk-spanduk yang menulis: “Jokowi tetap
Gubernur, Pilih Nomor 1” seperti diberitakan oleh Detikcom dan media elektronik
lainnya.
Saya katakan kepada masyarakat dunia maya, bahwa politik
minoritas yang dimainkan oleh Ahok menunjukkan kemunduran Jakarta, karena
pencapaiannya sudah lebih maju dengan kasus Lurah Susan. Ahok sendiri terlibat
dalam kebijakan gubernur Jokowi untuk penempatan pejabat sebagai pelayan publik
tidak berdasarkan agama, ras, tetapi kapasitasnya (right person in the right
place). Ahok menggunakan keminoritasnya
untuk mendukung kepentingan partainya, Gerinda, yang mencalonkan Prabowo
Subianto menjadi presiden RI. Jadi
sebenarnya Ahok sedang menghancurkan cita-cita Pancasila karena lebih melayani
kepentingan partainya daripada keIndonesiaan yang katanya diperjuangkan oleh
partainya sendiri.
Spanduk-spanduk ini yang diserbarkan dengan sekaligus
didukung oleh "masyarakat" Jakarta adalah bentuk dari kampanye hitam. Mengapa
spanduk-spanduk ini baru muncul sekarang sesudah Debat Presiden kedua tanggal 15 Juni 2014? Mengapa ia tidak muncul ketika
pejabat dari Kementerian Dalam Negeri bertemu Jokowi di rumah dinas gubernur
untuk menyerahkan Keppres yang ditandatangani oleh Presiden SBY tentang
pemberhentian sementara Jokowi sebagai gubernur DKI Jakarta sampai pengumuman
resmi dikeluarkan oleh Komite Pemilihan Umum tentang pejabat Presiden dan Wakil
Presiden. Keppress yang ditandatangani tanggal 31 Mei disampaikan langsung
kepada Jokowi tanggal 1 Juni 2014.
Dengan melihat kronologis pemberhentian sementara Jokowi
sebagai gubernur Jakarta, sangat jelas kepada saya, bahwa pejabat gubernur
Jakarta, Ahok sebagai pejabat negara sedang bermain-main dengan isu SARA yang bertujuan untuk kepentingannya sendiri
dan sekaligus memecahkan keindonesiaan yang sudah dibangunnya sendiri dengan
gubernur Jokowi. Ini adalah bentuk kampanye hitam karena mencantumkan kata
gubernur untuk Jokowi padahal sekarang ini yang menjadi gubernur adalah Ahok.
Sebagai seorang penjaga Indonesia dari upaya oknom yang sengaja menggunakan
SARA untuk memecahkan bangsa, saya mohon Bawaslu menindak dan menurunkan
spanduk-spanduk tersebut.
Bulan madu PDIP- Gerinda seolah-olah sudah berakhir.
Pencalonan Jokowi , gubernur Jakarta sebagai calon presiden RI periode 2014-2019 yang diusung oleh PDIP,
Nasdem, Hanura, PKB ternyata harus memisahkan Jokowi dari pasangan wakil
gubernurnya, Ahok yang didukung oleh Gerinda. Pencalonan Jokowi sebagai calon presiden
yang berpasangan dengan Jusuf Kalla sebagai calon wakil presiden harus
berhadapan dengan Prabowo Subianto sebagai calon presiden dan Hatta Rajasa
sebagai calon wakil presiden diusung oleh partai Gerinda dengan mendapat
dukungan dari Partai Golkar, PPP, PAN, PKS, PBB. Untuk melakukan masa kampanye,
Jokowi harus melakukan cuti dan telah mendapat surat pemberhentian sementara
seperti yang sudah dijelaskan di atas.
Jadi Indonesia sedang dalam sorotan dunia saat ini. Pemilu presiden dan wakil presiden untuk
periode 2014-2019 akan dilaksanakan pada tanggal 9 Juli 2014. Sejak tanggal 4
Juni sampai dengan tanggal 5 Juli 2014, kedua kubu calon presiden dan wakil presiden
sedang melakukan kampanye untuk menjelaskan kepada warga masyarakat tentang
visi dan misi dari masing-masing untuk bisa didukung oleh warga masyarakat di
seluruh Indonesia. Jalannya kampanye
seru. Masing-masing kubu harus bertemu dengan konstituennya di seluruh
Indonesia. Selama masa kampanye Komite Pemilihan Umum menetapkan 5 kali
penyelenggaraan debat presiden.
Tetapi kampanye dengan menggunakan isu SARA menunjukkan
warga Indonesia belum matang dalam berdemokrasi. Ahok sebagai pejabat Gubernur Jakarta pantas mendapat
teguran dari Bawaslu karena dalam UU Pemilu sebagai pejabat negara dilarang
melakukan kampanye. Ahok ketika memberikan pernyataan di Tempo bukan dalam
kapasitas sebagai seorang anggota Gerinda, tetapi adalah pejabat untuk melayani
seluruh masyarakat Jakarta. Penyataan
itu bersifat kampanye terselubung yang harus mendapat teguran dari
Bawaslu. Kalau Ahok mau berkampanye
harus mundur dari pejabat gubernur sebagaimana diatur dalam UU Pemilu yang
telah dilakukan oleh Jokowi. Karena itu sangat penting rakyat Indonesia
mengerti tentang politik yang bertujuan untuk melayani bangsa dan negara bukan
untuk memecah belahkan rakyat.
Sekalipun elektibalitas Jokowi menurun seperti dikatakan
oleh Ahok, tetapi menurut
saya, Indonesia bukan hanya Jakarta.
Indonesia ada pada 32 propinsi lainnya yang hak perhitungan suaranya
sama karena tidak menggunakan sistem elektoral seperti di Amerika Serikat. Jadi
seharusnya Jakarta melepaskan Jokowi untuk Indonesia.
Indonesia membutuhkan
Jokowi untuk membangun bangsa dan negara
ke jalan yang benar bukan sekedar demi kekuasaan dan kerakusan para politikus.
Pencalonan Jokowi adalah kehendak rakyat bukan sekedar pilihan Megawati
Soekarnoputri. Jakarta tidak bisa menahan Indonesia untuk mendapatkan puteranya
yang terbaik memimpinnya. Bukankah
Gerinda kecewa karena PDI-P tidak mendukung Prabowo Subianto menjadi capres?
Jadi sekarang jelas, politik SARA dimain-mainkan untuk memenangkan Prabowo
Subianto yang baru saja mengomentari tentang orang-orang Indonesia Timur cocok
jadi tentara? Tentang ini saya akan bahas pada tulisan terpisah, tetapi kedua
pemimpin ini, baik Ahok dan Prabowo Subianto bermain-main dengan SARA untuk
memecahkan bangsa pantas dipertanyakan sekarang. Apakah mereka pantas menjadi pelayanan publik bagi
masyarakat di Jakarta dan di Indonesia?
Minggu, 01 Juni 2014
Selasa, 20 Mei 2014
Menutup tanggal 20 Mei 2014, Mengelitik tanggungjawab Prabowo Subianto!
Menutup tanggal 20 Mei 2014, Mengelitik tanggungjawab Prabowo
Subianto!
Oleh Farsijana Adeney-Risakotta
Terang dibalik pohon-pohon yang menghitam. Malam sudah
datang sekalipun kegelapan jatuh dari langit baru sekitar jam 8.30. Hati saya
gelisah. Sudah lama saya ngak menulis untuk blog Indonesiaku Indonesiamu
Indonesia untuk semua. Tulisan yang sama bisa juga dibaca dalam bahasa Inggeris
pada blog PIZZA. Tapi hanya malam ini saya kembali menarikan jemari di atas
tuts. Dulu saya pikir kata-kata saya akan kering karena proses verbalisasi seni
dilakukan dalam bentuk patung dan melukis yang mengambil seluruh tenaga saya. Saya untuk beberapa bulan ini sedang mengerjakan karya seni dengan tema Papua. Sebenarnya saya berbagi dalam bentuk komentar pada status saya di FB tentang kerja-kerja seni ini, tetapi akan lebih indah apabila saya menulis sebagai suatu bagian yang terintegrasi.
Hanya malam ini kegelisahan yang sangat mendalam
menyungkirbalikan asumsi saya tentang otak kiri yang sedang mengendalikan proses
kreatifitas diri. Mungkin batas antara otak kiri dan kanan menjadi tipis ketika
saya tahu karya seni hanyalah alat menyuarakan keprihatinan. Kegelisahan saya
adalah keprihatinan. Tepat! Kegaluhan seperti malam yang datang merebut terang.
Biarkanlah saya menikmati lamanya siang yang mulai lebih panjang pada musim
semi daripada musim dingin.
Malam pekat
mengintai di luar. Saya membiarkan angin segar menyusup dari bawah jendela
tetapi mempersilahkan malam tinggal di luar. Malam berjaga-jaga bersama
bunga-bunga putih mungil yang dalam bahasa Jerman disebut “meiglockchen”.
Seorang sahabat saya, Aurita yang tinggal di Jerman beberapa hari lalu
membagikan cerita keluarga tentang meiglockchen. Sekarang keharuman meiglockchen
masuk bersama udara segar ke dalam rumah. Tiga potong “meiglockchen” sudah
lebih dulu ada dalam vas bunga di atas meja makan. Saya memetik dan
menghiasinya untuk makan malam kami. Tapi bukan karena “meiglockchen” saya
menulis sekarang. Mengapa di tengah
harum wangi saya mencium bunga bangkai? Ada apa dengan keharuman itu sendiri?
Hari ini tanggal 20 Mei 2014. Di Indonesia, sudah tanggal
21 Mei, tetapi masih beberapa jam lagi sebelum tanggal 20 Mei mundur berganti
tanggal 21. Apa yang dilakukan oleh saudara-saudari saya di Indonesia untuk
merayakan tanggal istimewa, 106 tahun hari Kebangkitan Nasional dan 16 tahun hari Gerakan Reformasi.? Hari ini, tanggal 20 orang-orang bisa
merenungkan tentang apa yang sedang terjadi 16 tahun lalu tetapi dengan sangat ironis kita juga
melihat sendiri, bahwa Prabowo Subianto yang membunuh rakyat dalam gerakan
Reformasi pada bulan yang sama, 16 tahun kemudian sedang menguatkan langkahnya
ke Istana Negara. Kita tergetar melihat
ambisi Prabowo Subianto untuk menjadi presiden Indonesia. Padahal
16 tahun lalu Prabowo Subianto adalah Pangkostrad yang bertanggungjawab untuk
kekerasan yang terjadi di Jakarta. Pemerkosaan perempuan-perempuan Tionghoa,
penembakan mahasiswa Trisakti, yang sebelumnya diikuti dengan kasus penculikan
mahasiswa-mahasiswi.
Kompas tanggal 18
Desember 2012 menuliskan tentang pengakuan Prabowo yang menyesal tidak
melakukan kudeta kepada presiden Habibie. Perkataan Prabowo dibenarkan oleh
Habibie, yang menggambarkan bahwa adanya pergerakan TNI AD masuk ke arah
Kuningan dan menuju Istana Negara. Dalam buku Detik-Detik yang menentukan karya
BJ Habibie (2003), Wiranto dikatakan melaporkan tentang masukannya pasukan ke
Istana Negara. Habibie kemudian
melakukan pertemuan tanggal 22 Mei 1998 di Istana Negara bersama Prabowo. Dalam pertemuan itu, Habibie
menuturkan argumentasinya untuk memecat Prabowo sebagai Pangkonstrad karena
dianggap menggerakkan pasukan AD untuk memasuki daerah yang bukan
kewenangannya.
Jadi kegelisahan saya sebenarnya terkait dengan nasib
Indonesia yang sedang termabuk karena membiarkan seorang mantan pelanggaran HAM untuk menjadi Presiden
Indonesia. Jakarta Post pernah memuat
tulisan Aboeprijadi Santoso yang dalam kunjungannya ke desa Kraras kira-kira
300 meter dari kota Dili di Timor Leste, dimana terjadi pembunuhan masal kepada
masyarakat sipil tak bersenjata atas perintah presiden Soeharto, yang didukung oleh pejabat-pejabat teras AD
yaitu Benny Moerdani, Wiranto, Kiki Syahnakri dan Prabowo. Tetapi Prabowo dengan pasukannya Chandraka 8
yang melakukan pembasmian kepada 287 orang pada tanggal 17 September 1983. Pembunuhan
masal ini dianggap tindakan yang benar karena Indonesia merendam gerakan
masyarakat Timor Leste untuk menentukan nasib sendiri terpisah dari
Indonesia. Terlampir tulisan Aboeprijadi Santoso di Jakarta Post.
http://mbox.thejakartapost.com/news/2013/12/20what-ever-happened-kraras-timor-leste-pak-prabowo.html.
Dalam tulisan yang sama di Kompas, tanggal 18 Desember
2012 dijelaskan bahwa Prabowo menerima pemecatan dari Habibie karena mengerti
Presiden pegang kekuasaan tertinggi atas angkatan perang. Menjadi Presiden
adalah langkah terakhir Prabowo Subianto untuk memperoleh kekuasaan tertinggi
termasuk angkatan perang. Sejarah pelanggaran HAM yang terjadi dalam perang
antara Indonesia dan Timor Leste hampir
dilupakan oleh masyarakat Indonesia.
Tetapi dalam sejarah perang Timor
Leste, masyarakat biasa masih terus mengingatnya. Hal yang sama juga terjadi
dengan sejarah Gerakan Reformasi yang berusia 16 tahun. Rakyat tidak melupakan
Prabowo Subianto karena turut bertanggungjawab
terhadap kekerasan militer yang terjadi kepada masyarakat sipil.. Kekerasan
yang terjadi di seantero Indonesia, ada hubungan dengan konspirasi para elite
yang bermain-main dengan isu SARA untuk meremukkan warganya sendiri. Siapakah yang harus bertanggungjawab! Jelas,
ia adalah Prabowo Subianto.
Saya menulis kegelisahan ini karena yakin bahwa setiap
orang Indonesia punya hati nurani untuk menolak kekerasan yang dilakukan atas nama
negara terhadap warga biasa. Kekerasan
negara dipandang dari segi kepentingan negara dianggap sebagai penertiban
sehingga kehidupan rakyat tersia-siakan. Tetapi saya juga percaya, rakyat
semakin dewasa dan tanpa takut berupaya untuk mengerti apa yang sedang terjadi
dengan bangsanya. Tulisan ini adalah antidote untuk membantu kita semua sadar
dari keracunan yang ikut termakan tanpa disengaja. Menulis antidote bertujuan untuk mendorong
rakyat sendiri untuk menggunakan hatinuraninya dalam memilih kandidat presiden
RI. Salah pilih presiden, berarti warga mengizinkan seorang seperti Prabowo
Subianto melakukan revisi sejarah tanpa mengakui kebenaran tentang apa yang pernah
dilakukannya kepada bangsa dan masyarakatnya.
Rabu, 19 Februari 2014
Ucapan belasungkawa dan dukungan terhadap tuntutan Dewan Adat Paniai
Ucapan belasungkawa dan dukungan terhadap tuntutan Dewan Adat Paniai
Oleh Farsijana Adeney-Risakotta
Petisi Warganegara NKRI untuk
Papua
Menyampaikan ucapan
belasungkawa kepada Dewan Adat dan warga masyarakat di Paniai atas kematian
yang tragis terhadap seorang warganegara NKRI bernama Yulianus Yeimo. Tubuhnya ditemukan meninggal
di dalam sungai Bontai, kampung Dagouto, Distrik Paniai Timur. Diduga ia
dibunuh kemudian jazadnya dibuang ke sungai. Luka-luka ditemukan di bagian
hidung, dada, muka dan goresan di beberapa tempat di dada. Alasan pembunuhan
tidak jelas tetapi diduga dibunuh oleh OTK (Orang Tidak Dikenal). Pada tanggal
18 Agustus 2012, Yulianus Yeimo disiksa oleh Aparat TNI karena dituduh merobek
bendera Merah Putih. Menurut berita yang dirilis oleh Dewan Adat Paniai,
Yulianus Yeimo sakit ingatan sejak tahun 2009. Kejadian perobekan bendera
terjadi ketika ybs melewati lapangan dan memberikan hormat kepada bendera.
Kemudian ybs menurunkan bendera dan merobeknya.
Atas kejadian tersebut Dewan
Adat Paniai menyampaikan tiga tuntutan. Petisi Warganegara NKRI untuk Papua
menulis tuntutan dari Dewan Adat Paniai.
Tuntutan kami adalah:
- Kapolda Papua dan PANGDAM XVI Bumi Cendrawasih agar segera memerintah Kapolres Paniai dan DANDIM Paniai, untuk mengusut tuntas pelaku kekerasan terhadap Yulianus Yeimo;
- Kapolda Papua dan Pangdam XVI Bumi Cendrawasih agar menghentikan operasi militer dengan jalan patroli-patroli di Paniai, karena Paniai sudah aman dan terkendali.
- Kami meminta kepada Pangdam XVI Bumi Cendrawasih agar personil yang berlebihan di Paniai seperti Kopasus, Paskhas, BIN, agar ditarik dari Paniai.
Dari penjelasan yang ditulis oleh Dewan Adat Paniai, Petisi
Warganegara NKRI untuk Papua mendukung Dewan Adat Paniai untuk meminta
perhatian dari pemerintah pusat di Jakarta maupun di tanah Papua untuk segera
memberikan rasa aman kepada anggota masyarakat di tanah Papua.
Penegakan keamanan dan perdamaian di tanah Papua adalah hak
orang asli Papua, terutama menjelang Pemilu 2014 yang tinggal diambang pintu. Dukungan sesama warganegara untuk meminta
pemerintah pusat dan daerah memberikan keamanan dengan mengurangi aparat TNI
seperti yang disampaikan oleh Dewan Adat Paniai sangat diharapkan. Papua
merupakan daerah operasi militer yang terlama di dua sesudah Palestina, karena
itu dukungan warga dunia terhadap Papua sangat dibutuhkan.
Sementar itu, pengerebekan dan penembahan kepada orang asli
Papua, warga sipil yang sedang beribadah di Gereja. Mereka ditembak oleh aparat
TNI. Kejadiannya di Gereja Indonesia di
Indonesia (GIDI) di jemaat Dodopaga, dan jemaat Kulirik di Kabupaten Puncak Jaya. Anggota Brimob dan Densus 88 mengepung warga
gereja dan gereja dibakar. Pendeta disiksa dan ditikam dengan pisau
sangkur. Insiden ini menyebabkan dua
korban bernama Lurugwi Morib, yang
adalah Kepala Desa setempat dan Pamit Wonda sebagai Pendeta Jemaat.
Petisi Warganegara NKRI untuk Papua mendesak pemerintah
pusat dan daerah untuk menyelesaikan kasus-kasus kekerasan dan HAM yang
ditetapkan dalam UU No.21 Tahun 2001 tentang pembentukan Komisi Kebenaran dan
Rekonsiliasi untuk segera mengakhiri konflik berkepanjangan yang diposisikan
sebagai konflik antara negara dengan rakyat. Argumentasi negara bahwa orang asli Papua ingin merdeka
dari NKRI selalu dipergunakan sebagai legitimasi untuk melakukan pembunuhan dan
pelenyapan warganegara NKRI. Argumentasi
ini harus dipertanyakan karena semakin banyak orang asli Papua yang dibunuh,
dimasuk dalam penjara dan mengalami penyiksaan. Mengapa Indonesia mendiamkan
dan menggunakan alasan tuntutan kemerdekaan Papua untuk membunuh warganegaranya sendiri?
Mengapa warga dunia diam? Mengapa PBB diam?
Petisi Warganegara NKRI untuk Papua meminta perhatian
berbagai pihak untuk mengakhiri kebohongan publik yang sedang dijalankan oleh
pemerintah RI terhadap orang asli Papua. Tegakkanlah UU No.21 Tahun 2001 pasal
42 tentang pembentukan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi untuk mengakhiri
kekejaman negara beradab dan berdaulat terhadap warganegaranya sendiri.
Sumber berita:
Senin, 17 Februari 2014
Ngalor Ngilor Nongkrong di Facebook: Dari Advokasi, Amal dan Perubahan Bangsa melalui Pemilu 2014
Ngalor Ngilor Nongkrong di Facebook: Dari Advokasi, Amal dan
Perubahan Bangsa melalui Pemilu 2014.
Oleh Farsijana Adeney-Risakotta
Sampai sekarang saya masih sulit duduk lama. Tulisan yang
panjang belum banyak saya selesaikan. Potongan-potongan tulisan lebih membantu
penyembuhan saya. Sambil berjalan atau tidur saya menyelesaikan
potongan-potongan tulisan tersebut.
Kesembuhan sesudah kecelakaan mengubah cara kerja dan berdampak terhadap
pengolahan aspirasi sahabat-sahabat di Indonesia. Saya seumpama seorang yang
sedang menyelam dan bekerja di bawah laut. Di dalam lautan atau di atas awan,
tidak penting bagi saya untuk bertanya di mana kabel-kabel jaringan komunikasi
digital dibentangkan. Manfaat yang
luarbiasa sedang terjadi adalah membangun kerja-kerja antara negara, daerah,
etnis, agama dan usia sedang mengubah cara berkomunikasi manusia saat ini.
Istilah yang digunakan untuk menyebut komunitas dunia maya membuka
jalan untuk mengerti bentuk komunitas yang sangat berbeda dengan komunitas
dalam real time. Komunitas dunia maya berinteraksi dengan bahasa tulisan,
gambaran seperti foto atau lukisan dan suara dalam bentuk video. Komunitas dunia maya melebihi istilah
perkampungan. Dalam real time, suatu
kampung dipahami sebagai teritori yang proses memasukinya harus melalui
berbagai tahap yang berlapis-lapis. Pada komunitas dunia maya, kampungnya
sangat transparan. Interaksi bisa terjadi tanpa harus melewati proses
pertemanan. Karena dalam satu jaringan ada berbagai sub jaringan lain yang akan
terlibat dalam interaksi lebih luas atau tidak sama sekali.
Sejak tahun 2007 sesudah diundang oleh teman saya, Shawn
Landers, baru sekarang dalam situasi saya mengalami proses penyembuhan dari
kecelakaan, pemahaman yang sudah ada tentang komunitas dunia maya lebih
dioptimalkan. Facebook adalah hasil dari
kolaborasi sahabat-sahabat Fulbright yang sampai sekarang masih saling
menguatkan satu sama lain dalam kegiatan-kegiatan pemberdayaan masyarakat untuk
saling memahami, kerja untuk keadilan dan perdamaian di dunia. Selain, Shawn
Landers yang berada di California, Maureen di Scotland, Harun di Pakistan,
Saheed di Afrika, telah memberikan inspirasi kepada saya untuk bekerja
menguatkan komunitas akar rumput yang ada di Indonesia.
Kerja bersama anak, pemuda dan perempuan di Yogyakarta, dengan meluaskan dukungan kepada
sahabat-sahabat di luar Yogya, seperti di Maluku, Papua, Sumatera, Kalimatan
dan Sulawesi telah melahirkan keterhubungan kerja melalui Facebook. Keterhubungan dibentuk karena ada kerja nyata
dalam komunitas di real time. Baru-baru ini, bersama dengan sahabat-sahabat
dari Sumatera Utara, Papua, Jakarta, NTT, Yogyakarta, secara bersama-sama
saling bahu membahu membangun dukungan untuk membantu pengungsi erupsi
Sinabung. Dukungan komunitas sosial maya diorganiser melalui Page Lelang Amal
untuk Pengungsi Sinabung yang pengelolanya adalah saya dan ibu Deva Alvina Br.
Sebayang. Tetapi gerakan bantuan sosial dari komunitas sosial maya bisa
mendapat dukungan dari berbagai pihak karena terbentuk sukarelawan-sukarelawan
yang disebut HUB. HUB adalah orang-orang yang menjadi kunci dalam penyebaran
berita tentang proses pengumpulan dana publik dari komunitas Dunia maya. Dengan
kerja keras dari HUB, seperti mba Vensca Virginia Ginsel yang membawa jaringan
Twitternya pada hari pertama Lelang Amal untuk Pengungsi Sinabung, telah
menghasilkan dana sebesar Rp 11.000.000,-
Penambahan dana lain dilakukan melalui jaringan pertemanan dari berbagai
sahabat yang berada di dalam Indonesia maupun di seluruh dunia.
Pada hari Jumat, tanggal 14 Februari 2014, dana bantuan tersebut
yang langsung di kirim kepada bu Deva Alvina Br.Sebayang sudah diserahkan
kepada para pengungsi yang berada di Batukarang dan . Jeruk di tanah Karo. Pengumuman tentang donoratur dan proses
penyerahan bantuan bisa dilihat langsung pada page Lelang Amal untuk Pengungsi
Sinabung (http://www.facebook.com/pages/Lelang-Amal-Untuk-Pengungsi-Sinabung/241456166034803).
Sementara proses menolong pengungsi Sinabung dilakukan,
letusan Kelud telah menyadarkan kita bersama tentang pentingnya warga
masyarakat terlibat memperjuangan kepentingannya sendiri. Pengungsi Sinabung
perlu mengerti tentang peta daerah bahaya dari kontur fisik gunung Sinabung. Ketidakpengatahuannya berdampak terhadap
kewaspadaan masyarakat terhadap gunung berapi yang dapat menyebabkan mereka
cenderung takut. Padahal sebagai orang gunung, masyarakat hidup sehari-hari di
gunung, diri mereka adalah bagian dari gunung. Gunung telah memberikan banyak berkat
kepada masyarakat. Pengawalan dalam menguatkan pemahaman terhadap hak-haknya
dilakukan dalam nongkrong-nongkrong di Facebook. Saya sangat bersyukur bisa
bersama-sama dengan sahabat-sahabat di Indonesia melewati masa-masa kritis yang
sedang dialami di tanah air.
Kelud sebagai suatu fenomena vulkanologi ternyata
mengantarkan perluasan percakapan untuk memahami tindakan tafsir simbolik yang
menjelaskan tentang penamaan Kelud. Kelud dalam bahasa Jawa berarti bebersih.
Penamaannya dilakukan karena secara kenyataan ketika Kelud meletus, abunya juga
menutupi seluruh pulau Jawa. Masyarakat bersusah payah membersihkan daerahnya
masing-masing.
Kelud meletus sebelum Pemilu 2014 diartikan oleh masyarakat
dalam dunia nongkrong-nongkrong FB sebagai peringatan kepada Indonesia.
Tanggungjawab presiden SBY dalam membangun bangsa dan negara sedang diusi
melalui letusan Kelud. Alasan-alasan
dimunculkan untuk menunjukkan bahwa kelud merupakan peringatan kepada bangsa
Indonesia. Sejak Reformasi sampai saat
ini persoalan keterpurukan Indonesia belum selesai. Indonesia masih mengalami
berbagai masalah yang kebanyakan orang melihat sebagai bagian dari kepemimpinan
Presiden SBY yang lemah.
Wacana pemimpin alternatif mulai mengulir untuk dibahas.
Sekarang tinggal 51 hari sebelum Pemilu 2014, pada bulan April 2014. Dalam
pembahasan tsb, semakin jelas tentang sikap penolakan generasi muda untuk
menolak mengikuti Pemilu. Golong putih (Golput) tampil menguat disebabkan
karena harapan kepada kepemimpinan Indonesia yang baru tanpa sejarah kekerasan,
pelanggaran HAM dan Orde Baru terkesan menipis. Partai Demokrasi Perjuangan
Indonesia, yang saat ini mempunyai kandidat populer didukung oleh rakya
Indonesia, Yokowi ternyata masih belum jelas tentang keterlibatannya dalam
bursa Capres.
Apatisme terhadap generasi muda inilah mendorong saya untuk
mempersiapkan deretan pendidikan pemilih yang komunikatif kepada
sahabat-sahabat yang terjaring dalam komunitas sosial media Facebook.
Tulisan ini sekalipun ditulis dalam kurun waktu yang lama karena
harus diketik sambil berdiri atau berjalan, saya upayanya untuk diperluas
melalui blog Indonesiaku Indonesiamu Indonesia untuk semua. Kiranya dari
tulisan ini akan ada kekuatan saya untuk menulis lebih banyak sambil menahan
kegelisan dari kesakitan tubuh demi kehidupan demokrasi di Indonesia. Indonesia seperti bunga yang sangat indah
tetapi sekaligus rentan untuk dilindungi bersama. Kampanye kesadaran tentang
kerentanan Indonesia saya lakukan dengan melukis sambil menulis
potongan-potongan tesis statement yang bisa mendorong pemikiran dan diskusi
komunitas FB tentang tanggungjawab bersama membangun Indonesia. Perubahan
Indonesia ada di tanganmu sahabat saya!
Langganan:
Postingan (Atom)