Translate

Jumat, 24 Agustus 2012

Manusia terminal



Manusia terminal
Oleh Farsijana Adeney-Risakotta

 
Bukan karena salah naik bus

Kemudian saya mengerti
Ada maksud lain
Terdampar di Kampung Rambutan
Supaya memahami  kebajikan Sang Pencipta di sana

 
Menunggu bus pergi
Saya duduk di depan
Mengamati lelaki yang berkata-kata:
“Pondok Gede, Pondok Gede, asrama haji, asrama haji”
Sambil menunjuk ke bus di depannya
Orang-orang lalu lalang tak mempedulinya

 
Sekali-sekali lelaki tambun itu

Cepat-cepat ke pojok di mana kardus memajangkan  dagangannya
Seseorang membeli rokok
Memberi uang kepada lelaki itu
Di samping kardus sandalnya ditata rapi

 
Lelaki tanpa pengalas kaki
Panas terik menebalkan telapak kakinya
Celananya robek
Juga kemeja kumal dengan sobekan di bagian bawah ketiaknya
Masih terus teriak memanggil penumpang

 

Saya melihat seseorang mencari-cari  meletakkan uang Rp 1000 an
Sesudah mengambil sebatang rokok
Saya meneriakkan lelaki itu
Supaya ia kembali ke kardusnya
Ia pergi mengambil uangnya

 
Pak supir bus menimpali katanya: “Sudah biasa orang membeli dan menaruh uang di atas jualannya”

Ada yang mengambil jualannya sekarang  tetapi membayar nanti sore
Kami semua jujur,  kalau mengambil barang jualan membayar kemudian
Saya terkesima melongok
Pak supir menjawab: “Orang susah mah gak nyusahin sesamanya yang hidup juga prihatin”
Kami semua jujur di sini

 
Manusia terminal

Kejujuran langka meneguhkan krisis diri di bumi nusantara
Jakarta di ruang-ruang berAC
Kejujuran langka karena banyak godaan korupsi
Mengambil uang dari bukan hasil usahanya sendiri

 
Manusia terminal

Tempat transit berjuta orang
Juga bagi mereka yang tercelik dari kebajikan  orang kecil
Mereka yang bangga dengan kejujuran bersama
Mereka saling menguatkan  meneruskan  kelurusan hidup  Sang Pencipta
Dalam kesehariannya

 
Manusia terminal

Rasa bangga berbuat jujur
Dari jerih payah sendiri
Biarlah makin banyak
mata hati manusia belajar kepolosan hidup
Mereka yang berbangga dalam kesederhanaan

 
Manusia terminal

Bus bergerak meninggalkannya
Saya masih terkesima
Menyimpan kuat keindahan penglihatan
cara kemaslahatan hidupnya

 
Manusia terminal

Ngngngng...deru bus makin menjauh
Ngngngng....masih mengiang

...jujur.... jujur..jujur....

 

 

 

Kamis, 23 Agustus 2012

Menenun ulang sejarah Maluku, sesudah konflik Maluku


     Menenun ulang sejarah Maluku,
     Sesudah Konflik Maluku

     Oleh Farsijana Adeney-Risakotta

Maluku adalah propinsi rempah-rempah dari kejayaan masa lalu. Dimulai dari deretan Maluku Kie Raha, empat pulau kecil berjejeran dari selatan ke utara yaitu Makian, Moti, Tidore dan Ternate (Lapian, 1990, 9; Adeney-Risakotta, 2005, 155). Istilah Maluku Kie Raha berarti empat gunung yang terlihat dari pulau Halmahera. Di antara keempat pulau ini, hanya Makian sebagai satu-satu penghasil cengkeh. Ternate dan Tidore terkenal sebagai pelabuhan perdagangan cengkeh.
 
Karena erupsi gunung api Kie Besi di Makian, masyarakat pindah ke pulau Bacan yang kemudian membentuk Kerajaan Bacan.  Demikian juga dengan pulau Moti, yang terkena imbas dari erupsi Kei Besi di Makian, pindah ke pulau Halmahera, yang disebut Jailolo yang kemudian menjadi kerajaan Jailolo (Adeney-Risakotta, 2005, 155) .  Keempat pulau “Maluku Kie Raha” tsb secara fisik merepresentasikan ikatan persaudaraan sekandung dari satu ayah bernama Jafar Sadek.
 
Sebagai pengertian kata, istilah Maluku yang berarti gunung merupakan kata asli diambil dari bahasa Galela dan Tobelo (Watuseke, 1977, 308). Pengertian istilah ini terutama diambil dari kata gabungan Maluku Kie Raha. Sehingga pandangan lain yang digagaskan oleh  M.C. Ricklefs (1993, [1981], 310) dengan  menganggap kata Maluku berasal dari bahasa Arab, Jazirat al- Muluk tidak tercermin dalam maksud bahasan ini.  Penggunaan kata Maluku kemudian dipergunakan ke seluruh teritori yang dikuasai oleh Sultan Ternate, sebagai penguasa yang sangat perpengaruh selama beberapa abad, dimulai dari abad ke-13 sd 17.   
 
Kepemimpinan Sultan Ternate mulai memudar setelah politik hongi yang dijalankan oleh Belanda (VOC) di abad ke-17. Politik hongi adalah upaya pembelian pohon cengkeh termasuk akar-akarnya. Bahkan yang sangat parah, pengembirian kepemimpinannya dilakukan dengan menanggalkan semua gelar ningrat yang diberikan Sultan Ternate kepada anggota keluarganya. Tujuannya adalah supaya mengurangi pembiayaan Sultan Ternate. Kemudian Belanda memberikan gaji kepada Sultan Ternate (Adeney-Risakotta, 2005).
 
Penghilangan cengkeh dari wilayah utara telah menghilangkan monopoli sekaligus mengembiri kekuasaan Sultan Ternate. Kebijakan Belanda (VOC) meneruskan kebijakan penanaman cengkeh di luar wilayah Sultan Ternate di bagian utara Maluku yang sudah dilakukan oleh Portugis.  Portugis kemudian diikuti oleh Belanda melakukan penanaman cengkeh        besar-besaran di wilayah Maluku Tengah, terutama di pulau Lease yaitu tiga pulau kecil menghadap pulau Ambon. Ketiga pulau tersebut adalah Saparua, Haruku dan Nusa Laut.  Di pulau Saparua, Portugis mendirikan suatu benteng yang kemudian direbut oleh Belanda dan diberikan nama benteng Duurstede. Dari sinilah, VOC mengontrol ekspor cengkeh ke Amsterdam. Pada tanggal 15 Mei 1817, Kapitan Pattimura dibantu masyarakat Saparua berperang dan merebut benteng Duurstede dari Belanda.
 
 
 
 
 
               (Meriam di benteng Duurstede di Saparua. Foto 
                     diambil oleh Rolin dengan kamera Jeff)
 
Walaupun kekuasaan Sultan Ternate berkurang, tetapi keberhasilannya menempatkan kimelaha-kimelahanya (setingkat dengan lurah) di seluruh wilayah kekuasaannya yang tersebar sampai ke Timor Timur sekaligus sebagai cara penyebaran agama Islam.  
Peran Sultan Ternate dalam penyebaran Islam ke seluruh Maluku sangat besar sekali.
 
Walaupun demikian, masih banyak wilayah-wilayah yang penduduknya belum beragama Islam. Di wilayah Maluku Utara saja, di Galela misalkan, sekalipun penempatan kepala Soa diberikan kepada seorang muslim, tetapi warga masyarakatnya tidak beragama Islam. Tobelo juga bisa ditempatkan sebagai contoh di mana warganya tidak satupun beragama Islam. Penolakan kepada Islam dilakukan oleh warga karena tindakan-tindakan Sultan Ternate yang tidak adil kepada warga sehingga menuai protes dengan melakukan perampasan-perampasan pada perahu-perahu Sultan maupun Belanda yang membawa bahan-bahan dagangnya (Adeney-Risakotta, 2005).
 
Islam Maluku merupakan salah satu Islam yang cukup tua sejak diperkenalkan di abad ke 13 bersamaan dengan kejayaan Sultan Ternate dalam membangun jaringan perdagangan dunia. Kehadiran Portugis dalam wilayah Sultan Ternate sekalipun sebentar, kurang lebih 66 tahun ternyata sangat berpengaruh untuk melakukan kristenisasi kepada wilayah-wilayah yang penduduknya belum beragama.  Kehadiran Portugis yang dibarengi dengan pengalaman pembebasan dari Islam di wilayah Iberia dan Andalusia di Eropa Selatan, membentuk caranya yang agresif dalam penyebaran agama Kristen.
 
Islam sebagai agama tidak lebih penting daripada etnis atau suku untuk Portugis. Portugis menyebut Islam dengan Moro yang diambil dari kata Moroko, orang –orang yang berasal dari Afrika.  Penyebutan Islam sebagai Moro juga dilakukan ketika Portugis berada di Maluku.  Pulau Morotai di Maluku Utara disebut untuk menyebut wilayah yang ditempati oleh orang-orang Moro (beragama Islam).  Kerajaan Katolik di sekitar desa Mede, Halmahera Utara juga disebut Morotia (Adeney-Risakotta, 2005). Ketika Portugis di usir oleh Ternate dengan mendapat bantuan dari Hitu dan Jawa, wilayah-wilayah inilah yang kemudian menjadi daerah Protestan, yang diserah terimakan kepada Belanda sebagai salah satu pasukan asing yang membantu Ternate.
 
Pengusiran Portugis berlangsung dalam perang yang cukup lama, misalkan dicatat dalam perang Hitu di mana pasukan Ternate mendapat bantuan dari pasukan Hitu dan dari Jawa.  Dampak dari paska perang ternyata memberikan pengaruh sangat besar bagi penerusan kepentingan Belanda di daerah ini. Kerugian perang harus segera di atasi termasuk juga memulihkan kerjasama antara warga masyarakat. Pada saat inilah konsep dari pela mulai diperkenalkan.
 
Saya pernah menulis tentang hubungan antara praktek pela di Maluku Tengah dengan pella yang dimaksudkan sebagai daerah penampungan pengungsi pada jaman Yunani. Pela sebagai gerakan orang bersaudara ternyata mempunyai kepentingan yang kuat sebagai bikinan dari Belanda. Pela adalah penamaan ikatan persaudaraan yang cara pemeliharaannya dilakukan dengan saling mengunjungi , tolong menolong dalam membangun bangunan umum, maupun kehadiran khusus pada acara-acara adat yang berlangsung di desa masing-masing. Dalam artikel berjudul  "Satu Dekade 11 September dan tarikan kerusuhan  Maluku",  saya menjelaskan tentang Pela (lihat blog: Indonesiaku Indonesiamu Indonesia untuk semua).
 
Penekanan pada pela di Maluku Tengah menjadi sangat penting karena terkait dengan kepentingan dagang Belanda. Praktek yang sama seperti Pela terlihat juga pada desa-desa di Maluku Utara tetapi tidak disebut Pela seperti yang dilakukan di Maluku Tengah (Adeney-Risakotta, 2005). Pela dibedakan atas beberapa tingkatan. Dimulai dari istilah gandong yang berarti kakak beradik satu bapak satu ibu, kemudian pela makan sirih, dll. Contoh gandong bisa dilihat pada negeri atau desa Tulehu yang bersaudara dengan negeri Paperu di pulau Saparua. Orang-orang diajarkan turun temurun bahwa apa yang dimiliki oleh Paperu adalah milik orang-orang Tulehu maupun sebaliknya. Banyaknya orang Paperu membawa mikro mini, mobil penumpang milik orang Tulehu adalah satu bukti kedekatan antara dua gandong yang berbeda agama. Paperu adalah desa Kristen dan Tulehu adalah desa Muslim.
 
Maluku sebagai propinsi yang menggunakan kata Maluku merupakan hasil dari konstruksi ideologi Belanda.  Ambon merupakan pusat dagang yang dipilih untuk bersaing dengan Ternate. Kemajemukan di Ambon tidak bisa diragukan lagi karena hanya di kota Ambon inilah bahasa daerahnya sudah punah. Pulau-pulau di sekitar kota Ambon masih memelihara bahasanya masing-masing. Syukurlah, desentralisasi pada masa awal reformasi, 1998 memungkinkan pemisahan antara propinsi Maluku dengan pusat ibukota Ambon dari propinsi Maluku Utara dengan kota pemerintahan Ternate (sekarang Sofifi, di Jailolo).
 
Kuatnya praktek gandong dan pela di provinsi Maluku merupakan modal sosial kepada pemerintah dan masyarakat Maluku. Modal ini bukan saja berlaku pada jaman pemerintahan Belanda, tetapi juga sampai sekarang. Sesudah konflik Maluku, keinginan untuk menguatkan gandong dan pela menjadi salah satu tugas yang sudah difasilitasi dengan melibatkan  Gubernur Maluku sendiri.  Bersama dengan pemuda/pemudi muslim dan kristiani di Yogyakarta, saya memfasilitasi pertemuan dialog budaya Maluku pada tahun 2004. Dialog ini bisa menghadirkan raja-raja dari muslim dan kristen ke Yogyakarta.  Sebagai tindak lanjutnya adalah dilakukan pelaksanaan kumpul keluarga dan panas pela yang melibatkan langsung desa-desa di seluruh propinsi Maluku pada perayaan kota Ambon, 7 September 2006.
 
 
 
                (mesjid Siri Sori Islam terlihat dari pantai)
 
Dampak dari kegiatan ini, bisa terlihat langsung pada pelaksanaan rekonsiliasi di antara desa muslim dan kristen seperti yang terjadi dengan desa Siri Sori Nasrani yang musnah pada saat konflik tetapi kemudian dibangunkan lagi oleh masyarakat Siri Sori Islam maupun Siri Sori Nasrani. Radja Siri Sori Islam hadir pada acara Dialog Budaya Maluku tsb, yang menginisiasi pendirian kembali kampung Siri Sori Nasrani. Walaupun sebenarnya kampung - kampung nasrani lainnya yang terprovokasi dengan kekerasan massa di kota Ambon akhirnya terlibat pertama-tama menyerang kampung Siri Sori Islam. Pertahanannya yang dibantu oleh pasukan PKO (pasukan khusus operasi) malahan akhirnya menghancurkan kampung tetangganya, kampung gandongnya, yaitu Siri Sori Nasrani.
 
 
 
              (gereja Siri Sori Nasrani yang baru didirikan)
 
Sekalipun demikian, masih ada kampung kristen atau islam yang ditinggalkan oleh penghuninya karena ketiadaan rasa aman. Misalkan kampung Iha, dipulau Saparua, yaitu desa muslim tertua di Maluku Tengah memilih untuk meninggalkan desanya dan tidak pernah sejak konflik kembali menengok kuburan sanak keluarganya sekalipun. Masyarakat Iha sekarang tersebar ke pulau Seram (Nusa Ina)
 
Selain penyebaran Islam ke Maluku Tengah dimulai dari Maluku Utara, Maluku Utara menyumbangkan penempatan lokasi ulubalangnya ke seluruh wilayah kekuasaannya. Pemindahan ulubalalangnya juga sekaligus pemindahan warga masyarakat lainnya dari Maluku Utara ke pulau-pulau di Maluku Tengah.  Warga Maluku Utara di Maluku Tengah menjaga kesetiaannya dengan mengembangkan ritual agama Islam yang disesuaikan dengan konteks lokal.
 
Misalnya di Tulehu, setiap perayaan Idul Adha harus dilakukan “angkat adat” di mana pada kesempatan itu saudara gandongnya harus datang untuk bercakalele (menari dengan salawaku). Kemudian mereka yang muslim membagi daging korban kepada gandongnya. Sebaliknya ketika saudara gandong Peperu ada acara adat, maka ia akan mengundang gandongnya untuk bercakalele di rumah adat mereka di kampung Paperu. Rumah adat bernama balileo yang dibangun dari topangan tiang-tiang yang mencerminkan nama-nama klan satu keluarga. Setiap nama dari klan ada pada tiang-tiang penonggak balileo, termasuk juga nama tiang dari saudara sekandung muslim yang tidak tinggal satu desa.


  (Foto di atas menunjukkan balileo yang memperlihatkan tiang-tiangnya di negeri Paperu di pulau Saparua. Sebelah kiri adalah lokasi yang menyediakan dua batu datar berwarna hitam disebut  batu karamat sebagai tempat  bercakalele. Posisi meletakan batu karamat ditentukan oleh pengelompokkan negeri menurut tradisi pata lima atau pata siwa. Batu karamat di negeri Paperu diletakkan di antara pantai dan balileo yang menunjukkan akar tradisi pata lima sekalipun negeri ini adalah negeri Kristen)
 
 
Uraian di atas paling tidak mendorong masyarakat propinsi Maluku meninjau ulang tentang klaim asal usul manusianya yang dipercayai dari pulai Nusa Ina (pulau Ibu). Sebutan pulau Nusa Ina berarti pulau besar yang tidak ada hubungan langsung dengan penyebaran penduduk keluar dari Nusa Ina ke pulau-pulau kecil di sekitarnya. Sebaliknya pulau Nusa Ina menjadi tempat migrasi untuk alasan pembuangan maupun keamanan. Misalkan keturunan kesultanan Jailolo dari pulau Halmahera di Maluku Utara sesudah keratonnya dimusnahkan, mereka pindah ke pulau Nusa Ina (Adeney-Risakotta, 2005). 

Fenomena munculnya beberapa negeri seperti Nunusaku, Sahulau, dan Sir belum bisa disetarakan dengan kekuasaan yang terbangun dari sistem kerajaan seperti yang terjadi di Maluku Utara.  Apabila kemudian terjadi penguatan politik lokal yang dimotori oleh ketiga negeri di Seram, maka yang terjadi adalah proses kontektualisasi sekaligus pemutusan dari pengaruh kekuasaan di Maluku Utara sesudah pendudukan kekuatan Eropa di kepulauan Maluku.

Kedua, fenomena migrasi dari pulau-pulau kecil ke pulau Nusa Ina untuk tujuan keamanan karena jauh dari letusan gunung api seperti di pulau Banda dstnya. Sekalipun di Amahai pernah terjadi daerah yang patah karena terkait dengan gempa bumi yang dicatat Rumpius pada tanggal 17 Februari 1678. Gempa bumi ini menewaskan isterinya dan anaknya di kota Ambon.
 
 
Upaya mengeratkan persaudaraan antara gandong, dan pela terus dilakukan baik oleh pemerintah maupun individu. Trauma dari konflik Maluku masih turut membekas dalam ingatan masyarakat, tetapi sekaligus ada harapan baru tentang lahirnya kebutuhan untuk saling menguatkan di antara komunitas muslim dan kristiani. Penguatan ini harus tetap dilakukan untuk menghindari peran militer yang menjaga Maluku. Tugas penjagaan inilah yang harus diberikan kepada masyarakat Maluku itu sendiri. Mereka yang disebut gandong maupun pela.
 
Bersambung:
 
Heka Leka membangun Maluku Cerdas, menguatkan jejaring adat
 

Rabu, 22 Agustus 2012

Memposisikan metamorfose


Memposisikan metamorfose
Oleh Farsijana Adeney-Risakotta

 

Sudah saya lepaskan pesona
Merayakan kata-kata
Mekultuskan tindakan
Mengumumkan peran diri
Masihkah diri tersisa dalam jejak sejarah?

 
Begitu jelas kata-kata

Membentuk dalam diri
Mendialogkan temuan fenomena
Harus saya jelaskan menggunakan kalimat
Bisakah dilakukan dengan menyisakan dalam jejak sejarah?

 

Itulah alasan saya menulis puisi
Membiarkan kata dalam kalimat tak terselesaikan
Meluaskan tafsir
Mengkayakan makna
Masihkah juga membekaskan jejaknya dalam sejarah?

 
Dalam bahasa pengalaman diaktualisasikan

Kata cinta menjadi bermakna dalam tindakan
Perilaku mengekspresikan pendalaman nilai
Rekaman panutan sosial
Membiarlah ukiran jejak bersama  dalam sejarah diri?

 
Pencarian makna menggairahkan daya hidup

Sudah saya meresapi kata dalam puisi
Yang menggelorakan imajinasi
Tanpa menuding tanpa memuji
Biarkan saja kata mengembalikan dirinya dalam jejak sejarah!
 
 
Saya mengendalikan kata
Saya mengemudikan kalimat
Saya menyusun bahasa
Menuangkan keluar tegangan jiwa dari pikiran
Sudahkah saya mengerti sendiri hasil tuturannya dalam jejak sejarah?
 

Haruskah saya jujur
Merindukan tuturan melebih tasfir yang datang sesudah kalimat
Saya memposisikan metamorfose
Berulang sudah tuturan melintasi bentuk
Ingin saya mengembalikan keutuhan pengertian dalam jejak sejarah
 

Saya menuliskan sekarang dalam kata puisi
Dari sublimasi bahasa prosa
Menyederhanakan menyungging inti ide
Mengundang metaformase
Mengembalikan daya kekuatan tuturan dalam jejak sejarah
 

Kendali kata dalam kalimat
Seperti kebinalan tuturan disetir etika
Bisakah saya melepaskannya
Hanya menulis untuk hidup
Membiarlah saya bertutur lagi lebih panjang dari kata puisi!

 
Saya memohon

Saya mengemis mengembalikan daya magis
Menggabungkan keajaiban mistik kata dan kelogiskan tuturan
Menaburkan makna hidup
Melepaskan bahasa menjadi keindahan yang layak dihidupkan
 

Metamorfose
Sekali lagi saya menginginkannya
Mewadahi diri dengan kelengkapan kata
Dimulai dari penyamaran ide
Semakin jelas keluar dari kekaburan kalimat
Saya sudah tahu ke sana arahnya tuturan

 
Metamorfose

Memposisikan metamorfose
Metamorfose
Mendudukan kata dalam wadah supaya menyejarah
Serupa diri saya menyejarah

 

Selasa, 21 Agustus 2012

Perjalanan di atas awan




Perjalanan di atas awan
Oleh Farsijana Adeney-Risakotta




Mengamati suatu titik awan
Mengeserkan glontongan awan
Jalan-jalan
Mengelilingi tarikan magnet bumi




Daya luncur awan
Keringanannya yang mengalir memindahkan
Bobot dirinya
Menyerupai angin




Glontongan semesta
Dari langit
Seperti Cupid
Malaikat cilik penjaga langit
Sedang menari-menari di atas awan




Perjalanan di atas awan
Meluaskan pertanyaan
Tidak ada utara timur barat dan selatan
Mentari berada dimana-mana di batas awan




Membayangkan bumi seluas teritori
Pada awan apakah saya jatuh ke bawah atau ke atas
Tarikan gravitasi bergerak seluas semesta
Saya memposisikan diri memposisikan bumi
Siapakah di utara, di timur, di barat dan di selatan?




Perjalanan di atas awan
Menetapkan pusat dunia
Sesuai dengan pengertian minatnya
Apa yang disebut “kuasa”




Begitulah terjadi
Di bawah awan
Bayangan dari pengalaman
Menjadi suatu penjelasan




Bukan berjalan melintasi lautan
Di atas awan
Di bawah langit
Gunung muncul setara awan
Semeru
Membara mengepul menyerupai awan




Dari atas awan
desa-desa renggang membentang di pulau Sulawesi
Kota-kota padat dipinggiran laut
Perkampungan di bukit dikelilingi sawah
Makin ke barat di pulau Jawa makin berdesakan
Rumah seperti kotak yang diatur raksasa langit





Pulau-pulau serupa langit
Warna langit, warna laut
Menghimpit menghadap
Langit, air, tanah...




Angin meniupi awan
Mengalir mengeluar dari sistem
Formasi keaturan
mencari jalan menuju barat
membentang keindahan
Jiwa yang membuka




Menyentuh tanah
Dari langit
Hati menahan
Terlalu singkat perjalanan di atas awan
Menepuk tangan untuk mengakhirinya




Sabtu, 18 Agustus 2012

Gema Takbir Gema Fitrah




Gema Takbir Gema Fitrah
Oleh Farsijana Adeney-Risakotta


Menaiki bebukitan Galunggung
Sudah menunggu pelangi membusur
Tanda Allah melawat umatNya
Saya ingat cerita perjanjian nabi Nuh dengan Allah
Pelangi sebelum takbiran tiba
Menenangkan sejati saya
Ya Allah, Engkau bersama umatMu dalam pelawatan Ramadhan


Gema takbiran akhirnya tiba
Dari bawah lembah getaran bedug masih sayup terdengar
Di antara deringnya panggilan adzan
Menyuarakan kemahakuasaan keakbaran Allah Pencipta
Serupa getaran air bawah lautan mengirimkan berita kemenangan
Hidup tulus muka dengan muka bersama Allah
Sedang terjadi saat ini



Di kota yang dulu pernah hancur
Ketika gema takbir di mulai
Orang-orang sedang merayakan kemenangannya
Atas jalan hidup yang sedang dipilihnya
Kemudian prahara nestapa menimpa
Serupa manusia melemparkan dirinya mendalam
Kebinasaan menarik menerkam


Segala daya pertautan dengan Sang Pencipta melonggar
Ketika dalam kesakitan kepahitan dibayar dengan kekejaman
Mata ganti mata
Gigi ganti gigi
Tragedi kekhilafan mengukir melukai bathin
Menggantung sebagai peringatan


Tetapi hanya baru kemarin
Segalanya terasa lengkap ketika tangan Sang Pencipta
Memporakporandakan kota tercinta ini
Bukan dengan tangan mereka yang pernah menistakan sesama
Dalam konflik Maluku yang panjang


Tetapi baru saja
Semua orang terjaga tentang keakbaran Allah
Air bah melanda pegunungan
Sungai-sungai menguap
Seperti arus lautan menghantam tanpa pandang bulu
Di seluruh negeri, di seantero kepulauan
Di gunung , di perbukitan dan di bagian pantai
Datangnya seperti pencuri
Bencana badang
Semua nyawa melenyap sekejap serupa sampah menghanyut
Sia-sia


Dari lembah-lembah terdengar kidung
Suara anak-anak bertanya: “Siapakah yang melakukan kekerasan ini?”
Berpakaian putih, berpakaian merah
Mereka, anak-anak saya mengkidungkan
“bersujud kepada Allah
Bersyukur sepanjang waktu
Setiap napasmu seluruh hidupmu semoga diberkati Allah”
Hanya kemarin saya mendengar lagi kidung yang sama
Anak-anak Kristiani melantunkan lagu Alhamdulilah
pada buka puasa Heka Leka


Mereka bukan propanganda
Mereka anak-anak tulus
Mewartakan pertobatan
Seperti tanda-tanda alam yang sekarang sedang ditakuti
Allah yang sedang murka
Bulan Ramadhan, bulan pengampunan
Kiranya doa umat, doa saya didengar Allah


“Alhamdulilah wa syukurilah
Bersyukur kepadamu ya Allah
Kau jadikan Kami saudara
Indah dalam kebersamaan
Semoga dirimu
Semoga langkahmu
Diiringi oleh rahmatNya”
Saya sudah meneteskan air mata sesudah lagu selesai
Suara malaikat kecil saya, suara anak-anak
Menggemakan pesan Allah pemulihan kasih sayang sejati


Gema takbiran gema kemenangan
Siapakah yang bisa menahan diri untuk tidak memuliakan Allah?
Sang Pencipta menunggu manusia
Menyapa memuliakan napas hidup anugerahNya
Kemanakah saya melarikan diri
Kesanalah naluri mengikuti
Saya menulis mengukir kesedihan anak-anak negeri
Salam sarani menobatkan diri


Cukupkan kekerasan hati menggerogoti keangguhan diri
Sebelum tiba hari kesengsaraan maha dasyat
Semua mengumandangkan pertobatan
Mau apa bertarung atas nama Allah
Kecuali bersujud merendah ke hadiratNya


“Bersabar taat pada Allah
Menjaga keiklasanNya
Semoga dirimu, semoga langkahmu
Diiringi oleh rahmatNya
Setiap napasmu seluruh hidupmu
Semoga diberkati Allah”
Suara malaikat kecil saya, suara anak-anak saya
Menggema sekuat gema adzan memanggil bersujud
Muka-muka iklas sedang berdoa kusut kepada Allah
Bawalah pulang fitrah Allah hidup dengan sesama


Gema takbiran memanggil semua umat
Mengagungkan karya ciptaanNya
Kelangkaan ini
Makan dan tidur bersama dengan saudara-saudara muslim
Di kota yang pernah hancur karena alasan agama
Sekarang di kota ini saya menulis
Mengukirkan hati fitrah
Dengan kasih sayang



Saudara-saudara saya
Muslim dan kristen hidup bersama
Untuk memuliakan Allah
Sebelum tiba  kesusahan  menghayutkan
Keindahan yang sudah diberikan saat ini


Gema takbiran
Gema pertobatan
Gema kemenangan
Yang memerdekaan sejati diri
Membawa fitrah Allah hidup
Bersama dengan adil dan damai
Merahmani seluruh jagad semesta


"Selamat Idul Fitri I Syawal 1433 H
Mohon Maaf lahir dan Bathin”


Ambon, 19 Agustus 2012