Translate

Kamis, 16 Agustus 2012

Bulan Ramadhan, Nusantara 67 tahun merdeka


Bulan Ramadhan, Nusantara 67 tahun merdeka
Oleh Farsijana Adeney-Risakotta


Sultan Agung menggagas nusantara
Mengawinkan dirinya dengan samudra raya
Diberi namanya Ratu Selatan
Membentang dari pesisir selatan Jawa
ke Srilanka ke India ke Afrika
seorang sahabat dari Kenya berkata negaranya terhubung dengan
lautan Indonesia sebelum orang dari Nusantara berlayar ke Madagaskar
saya mengecek peta
sangat jelas keterhubungan itu 


Nusantara
Mempersatukan kekuatan air meluas
Kemanakah Nyai Loro Kidul
Dengan cintakah kau mempersatukan Nusantara
Ingatan yang tak terlupakan
Harta karun yang mengejutkan
Pengalaman menarasikan ideologi
Mengukir dalam tradisi
Menghaluskan tindakan ritual penguasa laut
Ke dalam dunia para leluhur
Mengombaki menggetarkan sampai sekarang

Bisakah izinkan Nyai Roro Kidul berkelana
Ke timur untuk membagi cinta
Bukan mengontrol teritori dengan seragam hijau
Seperti mereka yang berkeliaran di samudara raya
Dalam teritori yang disebut sekarang Indonesia
Mengapakah ada pasukan khusus operasi?
Di desa-desa yang dianggap bermasalah

Kusambut gemuruh laut
Engkau Nyai Roro Kidul menunggang garuda,
titisan saudara sang naga laut
kekuatanmu yang dasyat masih dirayakan
juga ketika ombak bergemuruh
dalam ingatan sang manusia pusaran memanas di bawah dasar laut
perahu-perahu merayakan kekuatan semesta
hanya belayar sebelum berlabuh di tepian daratan
yang disumpah sebagai mata kampung


Ombak putih ombak putih
membentangkan ingatan berabad para leluhur
berdayung mengatasi badai
dengan bangga menunjukan jejak leluhur
yang terukir dalam ingatan turun temurun
mereka berlayar sejauh Afrika dan negeri-negeri di barat
mereka datang dari arah barat
dari negeri-negeri jauh
menuju timur ketika mentari terbit
mereka pulang membawa cengkeh dan pala
kawin mengawin dengan perempuan setempat
meninggalkan mata rumah yang dikukuhkan
demi ketahanan negeri pata siwa dan pata lima

Kesatuan Nusa Ina raya
supaya pasukan khusus operasi pergilah
ketika Nusantara menitis 67 tahun merdeka
biarlah keluhuran leluhur dihormati
marilah saling memelihara gandong
menjaga sesama seperti dirinya sendiri
pela gandong sanak saudara
merobek hati menghancurkan janji
begitu cepat terprovokasi
kampung adat Islam dan Kristen membara membakar
meninggalkan kuburan leluhur tanpa rawatan
melupakan selamanya kesatuan tali pusar

Mengakhiri Ramadhan menguji cinta kasih
Sesudah sebelas tahun lalu
pela gandong tergoyak
satu gandong satu sepupu Kristen dan Islam
lepas kendali sesudah terprovokasi
Maluku berdarah darah
Para leluhur menangis
Sumpah dinodai
Untuk secangkir kekuasaan semu
Hanya kepahitan tertinggal


Melebihi ideologi
pela gandong adalah kehidupan
basudara nasrani basudara muslim
di bulan ramadhan 2012
biarlah para leluhur menjaga teritori ini
bersama Sang Pencipta pemilik semesta
merawat 67 tahun Nusa Ina raya
seperti Nyai Roro Kidul berumah dalam nusantara


Nusa Ina yang katong cintai
tak menyerah kepada kemusnahan
melainkan berbagi ilmu karena cinta kasih
melayani saling membangun sesama
ooh ooh oooh
Tanah pusaka
ooh ooh ooh



















Celebrating Indonesian 67th Independence by reflecting on Papua’s integration


Celebrating Indonesian 67th Independence by reflecting on Papua’s integration
By Farsijana Adeney-Risakotta 

In August 17, 2012, our country is celebrating its birthday,  67 years old. In this joyful moment, among the Papua people there has been a question of whether their integration to Indonesia was legitimed. Due to this argumentative debat, I would like to rise a question on whose imagination is it actually when a country start creating a nation state?

A country is a political concept in which states about the imagination of coming together as a nation-state. A country like Indonesia which was created to follow the colonial line existed already in the cultural nation boundaries. Except, Papua that joined Indonesia in 1963, all the nations within Indonesia today were obtained directly due to the loss of Japanese occupation in Indonesian teritories at the time.

Japan took over Indonesia to control from the Dutch East Indish government when they campaigned the rise of Great Sun of the East. Papua was under the control of Japanese occupation as well. However the serunder of Japanese government on the Second World War, only gave  the territories from Maluku to Aceh to become a nation state of Indonesia that state in the details following the Independence’s delaration.

Historically, Papua was given to the new Indonesian nation state only after the Dutch was asked to leave the area by the USA and its ally. Papua was used as the Dutch homebase to start the second clash over the new nation state teritory of the new Indonesia which ended with the winner of Indonesia to force the Dutch accepted the indepence of Indonesia in 1949.

As one of the countries that was destroyed by the second world war in Europe, the Netherlands needed an economic help from the USA. Marshall plan which was an economical recovery project given by the American government with the agreement that the Dutch government had to give  Papua to Indonesia. The USA government had to control clearly the Pacific politics which had no link with the communist influences at the time.

After the round table meeting at the United Nation in New York City, a special representative was sent to Papua to prepare for the integration of Papua to Indonesia. Dr  Fernando Ortiz Sanz was the representative of UN who worked to prepare the process of Papua integration to Indonesia. Now the Papua felt like the process of integration was not taken place well.  In the election process of the integration there were only 1000  people whose voices determined the existence of Papua to be part of Indonesia. Now the Papua people are questioning the process.

For me, the most important things to be considered are that countries were made after the second word were actually involved a supranational decision making. Indonesia had to fight with the Dutch over Papua during the war of Irian Barat. This war though appearing naturally was actually supported by the Indonesian military, there was an involvement by the USA forces. When the war got worse, then the fighting countries could appeal to United Nation to ask for their neutral position in the intervention of the aspiration of the local people. Then as described above, the people chose to integrate into the Indonesian country.

This example showed that a nation like Papua could join to a county because of the external forces to push the local people to accept a domination of power over them. As a result, the agreement was made to tie both parties, Indonesia and the Dutch government to fulfill their responsibilities to the local people as written in Pepera 1963.  For example, the article on Pepera 1963 states about the justice, education and economic social aspects given to the local people have to be implemented.

However, the Papua people naively, have believed that after 46 years of integration with the Indonesian country their livehood did not change. The people are still undeveloped on educational, economic and political skills to manage their own rich natural resources. Even now the Indonesian government has given a special status which was Special Otonomy (Otonomi khusus) to them, but the people do not obtain the benefit. This is why the people rethink about their nature and nurture of the integration.

To conclude, this article argues that the process of an integration of a nation to a country has to be carried on based on the principles of equality, and freedom. If it happened because of the political economic interests, it will affect the way the local people are going to be treated in discriminative ways that leads to the question of their origin of their integration. By celebrating Indonesian independence day, we have the chance to initiate the dialog between the government of Indonesia and the Papua.


Selasa, 14 Agustus 2012

Rempah-rempah Ramadhan




Rempah-rempah Ramadhan
Oleh Farsijana Adeney-Risakotta

 

Sebelum tiba

Di Jawa saya sudah penuh

dengan aroma rempah-rempah

Bukan karena lapar sesudah puasa

Melainkan

kembalinya ingatan masa kecil

memungut bunga cengkeh yang jatuh

Di perkebunan tanaman cengkeh nenek saya

Di Amahusu

 

 

Rempah-rempah Ramadhan

Di Galunggung yang sulit terbayang

Sekarang saya sudah di sana

Bersama mama Salma dan sanak keluarga

Rumah yang hangat untuk anak cucu

Rumah beraroma rempah-rempah

 

 

Mama Salma

Rumah yang membuat

Orang lain ingin mencicipi masakannya

Dari kasih sayangnya

Mama Salma perempuan ayu

Masih terus bercerita tentang keindahan masa lalu

Mereka berumah

di tengah-tengah saudara-saudara Kristiani di Galala

 

 

Rempah-rempah Ramadhan

Saya dibangunkan karena bebauannya

Kesenjukan bebukitan Galunggung

Suara adzan melelapkan diri saya

Cah Irma mengetuk pintu kamar saya

Saur saur sudah lama tiba

 

 

Rempah-rempah Ramadhan wewangi menidurkan

Rempah-rempah yang sejak dulu

Membawa nenek moyang mama Salma

Perempuan ayu berdarah Aceh dan Jawa

Adalah perempuan asli dari negeri Siri Sori Islam

 

 

Mama Salma aroma rempah-rempah dalam darahmu

Yang bangga menunjukkan silsilah keluarga

Mengarungi lautan mencari rempah-rempah

Menyebarkan daya gunanya

 

 

Rempah-rempah mempertemukan berbagai bangsa

Juga memisahkan mereka yang berkuasa

Hanya menyatukan kembali

mereka yang saling mengasihi

 

 

Rempah-rempah Ramadhan

Rempah-rempah yang digambarkan dalam buku-buku Rumpius

Saya bersyukur menguyahnya dalam rasa diri

Mengalami penyatuan kembali

saudara-saudara muslim dan kristiani

Berbuka bersama di bulan Ramadhan

 

 

Rempah-rempah Ramadhan

Harumnya persaudaraan

Yang menguyah mendalam

Menyatukan aroma unik tanah Maluku

bebauan yang hanya di sini

bau tanah pusaka


Sabtu, 11 Agustus 2012

Perjalanan mentari Ramadhan (bagian terakhir)



Perjalanan Mentari Ramadhan
(bagian terakhir)
Oleh Farsijana Adeney-Risakotta


Mentari Ramadhan
Perjalanananmu menyegarkan saya
Adalah engkau
Mengunjungi mereka
Di gedung-gedung yang mengatur
Hayat hidup banyak orang
Supaya ada kebajikan yang membaharui


Mentari Ramadhan

Menuntun saya berjalan pulang
Tidak tertarik sedikitpun
Berselingkuh dengan iklan-iklan
Penuh godaan membelit
Semuanya bersaing
Mengapa kota saya
Tidak menyisakan keindahan dari kekosongan
Tanpa penawaran
Merayu-rayu
 

Kusuyukuri ruang-ruang yang kosong
Tanpa iklan di halaman kampus
Supaya masih terbesit
Celaan untuk berpikir
Bukan dari uang untuk semuanya yang hidup
Oleh semangat memacu mentari bangkit
Di hati
demi sebuah keiklasan
tanpa nama berbagi dengan sesama


Mentari melangkahi jejakmu

Di atas pencakar langit
Wajah klasik kota saya
Mengubah meninggalkan keakraban sesama
Hanya karena pembangunan turisme
Keramahan sehari-hari tersingkir
Yogya saya di manakah engkau sekarang?


Seperti gedung-gedung serupa
Se Indonesia
Dari sini ada banyak kecurangan
Mengatur anggaran-anggaran
Untuk kepentingan sendiri
Cuma diberi label anggaran rakyat semesta
Tapi pengelola meraup seluruhnya
Menyisakan remah-remah
Supaya misinya tercapai


Perjalanan mentari

Melewati selokan Mataram
Kubaca spanduk
Seembun pagi tiba
Ramadhan membawa kelahiran baru
Apakah ini harapan semua
Menjadi adil dan lurus di hadapan Sang Pencipta?

Perjalanan mentari Ramadhan (bagian kedua)


Perjalanan mentari Ramadhan
(bagian kedua)
Oleh: Farsijana Adeney-Risakotta


Masih kuat
Perasaan kaget saya
Seorang pengendara
Mengadu berjalan berlomba mentari
Sambil mengoncengkan
Mesin berjeruji
Penuh resiko
Berani melewati keramaian
Hanya percaya
Melakukannya demi mereka sang kekasih


Perjalanan mentari
Masih saya lihat
Ketika seseorang pengendara
Tergesa-gesa melewati mereka yang berhenti
Di tengah jalan
Menunggu menyeberang
Kelincahan penyelip selincah mentari
Menyusup berpacu di antara pepohonan
Serupa gerakan perpindahan
Sementara
Mereka yang ternyalip
Menggeleng-gelengkan kepalanya
Seorang ibu mengelus dada
Semoga ketergesaan memberi damai


Perjalanan mentari
Masihkan mereka
Menikmati engkau
Seperti yang sedang saya lakukan
Berbicara dengan Dirimu
Juga ketika kehangatmu
Menyentuh kulit saya lembut
Masihkah mereka mengingat Dirimu
Ketika doa-doa formal
Hanya keindahan
Dari penghayatan hati yang membuka


Perjalanan mentari
Saya merekam jejakmu
Setengah membakar
Di pagi cerah
Saya menghitung intensitasmu
Di antara mereka yang merisaukan kesetiaan
Sebaiknya saya menatap mendalam
Mentari pagi
Mentari siang
Mentari malam
Berjalan terus memorosi semesta

Perjalanan mentari melewati
Hotel mewah
Terlalu pagi membangunkan yang terlelap
Hanya duduk bangga
Seorang penjaja berseberangan hotel megah
Bendera dipajangkan
Souvenir kemerdekaan
Sejak pagi menunggu
Sang pembeli
Berpeluh sang penjual bangga
Sudah dirinya menyentuh mentari
Sang peziarah abadi

Selasa, 07 Agustus 2012

Perjalanan Mentari Ramadhan


Perjalanan Mentari Ramadhan
(bagian pertama)

Oleh Farsijana Adeney-Risakotta



Sayup-sayup pantulan adzan

Memantul dinding tebing

Bedug Ramadhan

Menggema

Perjalanan mentari

Memulai ziarah

Membagi rahmat



Saur saur saur

Sebelum mentari

Di batas cakrawala

Memercit surya kelana

Orang-orang bangkit

Bertemu Sang Ilahi



Saya menyukuri

Merawat iman

Juga dengan cara yang sama

Kristus berpuasa

Empat puluh hari

Dalam kesendirianNya hanya dengan Allah



Semangkok sup sayur buah tangan suami

Pengalas perut

Sepanjang hari puasa

Merawat jiwa

Meneguhkan tubuh

Menyirami iman

Dengan kasihNya melimpah



Perjalanan mentari

Menuntun saya

Menurun berbukitan

Balik ke keramaian

Sudah saya mengalami

Kekuatan rumah sunyi di bibir tebing

Memindah dalam diri sendiri



Perjalanan mentari

Bersisian mereka di jalan raya

Ada ayam yang bertanggar dalam kurungan bambu

Dikendarai dengan motor buntut

Serupa suaranya senada bunyi knalpot tua



Menuju kota

Mereka berjalan menawarkan jualan

Sudah ada segerombolan orang lain

Menunggu di perempatan

Ayam-ayam akan jadi santapan berbuka



Ada bayi-bayi dalam gendongan

Ibunda perkasa

Dililitkan ke depan dadanya yang tambul

Seperti anak peluru

Menggoncengkan bakul sayuran segar

Persiapan membuka puasa

Sudah dimulai segera sesudah saur saur saur 



Perjalanan mentari

Menuntun menghangat

Bersisian berpacu

Menemani saya

Mengubah kebisuan

Dalam imaginasi kata-kata di dalam diri

Akan saya tuangkan keintiman ini

Menjadi cerita untuk sesama

Sabtu, 04 Agustus 2012

Jemari Kasih Ramadhan


Jemari Kasih Ramadhan

Oleh Farsijana Adeney-Risakotta



Hampir pasti ia tertidur

Di atas motor kakeknya

Tangan mungilnya melepas

Genggaman melilit pinggang kakeknya



Memandang refleksi dari badan mobil di sampingnya

Tangan kakek mengulur ke belakang meraih tubuh kecil mendekap

Motor berpacu melewati kerumunan keramaian berbuka bersama



Seorang ibu berjalan akrab bersama anak gadisnya

Mereka jalan-jalan mencari makanan berbuka puasa

Keramaian jualan jajan rakyat

Di sepanjang kampung



Di depan teras rumahnya

Mereka duduk bersila menanti datangnya panggilan kemenangan

Saling bersandaran kedua pundak menopang

Panggilan adzan menyambutnya berdiri meraih

Secangkir air putih meneguk raga



Dari jauh bebauan menyedap

mengharumkan jalan kampung

Setiap rumah menyambut detik kemenangan

Kami menakar adonan

Membuat kolak

Membungkus setiap paket

Mengantar ke rumah tetangga



Dari dapur

Perempuan-perempuan mendekatkan iman

dengan bebauan menyelera

Melewati keinginan tubuh

Ketingkat roh mengubah keharuman

menjadi syukur merasuki iman



Tangan-tangan kecil

Tangan-tangan besar

Tangan-tangan manusia

Jemari umat pendoa

Saling berpegangan mereka berjalan

Beriringan ke mesjid kampung



Saling menjabat

Mereka menuntun

Menyucikan diri

Memulai ziarah di rumah Sang Pencipta

Mewudhu mengingatkan kesadaran



Tangan-tangan memanjatkan doa berjemaah

Kasih sayang Allah menggenangi mata

Bersyukur detik kemenangan

Mengangkat jiwa ke alam sorga


Tangan-tangan menyatukan

Dalam piring kebersamaan

Mengiklaskan tubuh mengisi dirinya lagi

Ketika umat meleburkan kasih

berbagi di antara sesama



Saya mensyukuri kebaikan terpancar dari sesama

Ibadah sejati menguatkannya

Menerima saya berbagi

Dalam tradisi iman berbeda seorang Kristiani

Merayakan pengalaman mengimani Sang Pencipta



Kami merayakan

Kemurahan Allah

Kampung mengimani Allah

Meneguhkan jalan bersama

Umat manusia

Mengabadikan kasih sejatiNya