Translate

Rabu, 18 April 2012

Memposisikan nilai, Diri dan interpretasi teks-teks suci



Memperbincangkan seksualitas, menghadirkan perempuan akar rumput dan pemuda/i
Bagian Ketiga:  Memposisikan nilai, Diri dan interpretasi teks-teks suci

Oleh Farsijana Adeney-Risakotta

Saya ingat jawaban menarik dari seorang partisipan pada Youth Interfaith Queer and Sexuality Camp. Ketika saya bertanya umur berapa seseorang mulai sadar tentang jenis kelaminnya sendiri. Jawabannya lucu sekali. Sambil membentuk tangannya seolah-olah sedang memegang pistol, ia mengingatkan ketika orang tuanya mengajarkan keamanan melindungi genitalnya dari tembakan yang berbahaya. Ia lupa umurnya ketika sosialisasi keamanan diri diterima dari orang tuanya, yang diingat hanya pengalamannya bermain pistol-pistolan dengan ayahnya untuk menjelaskan bahwa dirinya seorang lelaki.

Tanggapan menarik dari partisipan ini saya terima sesudah kami memainkan peran. Saya meminta tiga orang untuk berdiri di depan. Kemudian seorang teman saya dan saya sendiri memposisikan diri sebagai “sistem sosial” yang menekan seseorang atau kelompok karena perbedaan ras, etnis dan orientasi seksual. Kami berperan seperti seorang yang sedang marah dan secara cepat menggunakan senjata menembaki sekelilinginya. Partisipan lainnya sedang duduk bersila berlawanan arah dengan ketiga partisipan yang sedang berdiri.  Kami, kelompok penekanan yang sedang membabi buta ini berdiri di antara dua kelompok partisipan. 

Reaksinya berbeda, hanya partisipan yang mengingat tentang masa kecilnya dari permainan pistol-pistolan dengan ayahnya, dialah yang tidak bereaksi apa-apa. Ia sangat tenang,  gerakan tubuhnya diam saja.  Kedua partisipan lainnya mencoba menghindari serangan tembakan dengan membongkokkan badannya. Mereka tidak melarikan diri tetapi berupaya memiringkan tubuhnya,  menghindari diri dari tembakan tersebut. Sebaliknya di kalangan peserta yang sedang bersila, ada setidaknya tiga orang yang paling terdepan bereaksi dengan berbeda-beda. Ada seorang yang mencoba menutup mata dengan tangannya. Seorang lain mencoba mengambil bantalan matras untuk menutupi mukanya. Sementara seorang lain beranjak mau melarikan diri dari tempat di mana ia sedang bersila.

Partisipan yang berdiri tegak adalah satu-satunya yang pernah sejak kecil sudah disosialisasikan oleh ayahnya tentang pentingnya Diri melindungi pribadinya. Pernyataan tubuhnya jelas! Saya bertanggungjawab dengan keamanan Diri pribadi sendiri!  Cuma sekarang, perlindungan dirinya bukan muncul dari seorang yang heteroseksual ketika sosialisasi genetikal diterima pada masa kecilnya. Sekarang, ia adalah seorang homoseksual. Kata-katanya sangat kuat ketika saya bertanya, mengapa ia begitu tenang tanpa reaksi bisa menghadapi situasi tekanan tsb. Jawabannya: “Saya punya identitas!”.

Permainan peran ini mungkin terlalu sederhana untuk menjelaskan kedasyatan tekanan “sistem sosial” yang tanpa kita sadari sedang menimpa diri kita.  Setidaknya ada tiga representasi Diri sebagai reaksi terhadap orang perorangan maupun institusi yang menggunakan norma sebagai ideologi penekan untuk memecahkan diri atau menyerang. Pertama, pribadi dalam Diri bisa terbunuh oleh penekan sehingga dapat memecahkan Diri, menyebabkan Diri menyerang, mendorong tubuh melawan atau membenturkan Diri langsung ke penekan.  Kedua, Diri terlepas dari jejaring sosial dan institusi yang pernah memproduksinya supaya bisa membentuk jejaring baru atau bahkan terputus sama sekali dari jejaring apapun menjadi asosial. Ketiga,  Diri  bisa melewatkan tekanan dalam tubuh dan mengakomodasikan Diri lain ke dalam  jejaringan yang memproduksinya untuk mengubah persepsi dan praktek nilai yang diskriminatif secara bersama-sama.

Identitas seksual diperkenalkan oleh “sistem sosial” yang paling terdekat dengan Diri pribadi, misalkan dimulai dari keluarga, ketika seseorang masih sangat muda. Partisipan yang mengingat permainan pistolan sudah lupa umurnya ketika konstruksi dirinya terbentuk dari permainan tembak-tembakan dengan sang ayah. Penisnya harus ditutupi ketika arah tangan berupa pistol diarahkan kepadanya.  Ia hanya ingat  permainan pistolan dari sang ayah. Sementara itu, ingatan tentang umur dan bentukan konstruksi lain yang diterima dari keluarga masih kental ketika partisipan yang sama menjelaskan tentang pengajaran sholat yang diberikan oleh orang tuanya. Ia ketika itu berumur 7 tahun. Dari contoh ini sangat jelas bahwa identitas seksual diberikan kepada seseorang lebih awal sebelum identitas agama.

Dalam perjalanannya identitas seksual ternyata bisa mengalami perubahan. Pilihan dilakukan oleh Diri pribadi sendiri dalam interaksi dengan keluarganya.  Tidak terlalu jelas, apakah perubahan identitas seksual yang terjadi pada partisipan tsb sudah diketahui oleh keluarganya. Tetapi cerita ini menarik karena ternyata pengalamannya itu mirip dengan mas Dede Oetomo yang berkesempatan hadir sebagai narasumber dalam Camp tsb.

Pada makan siang bersama saya menanyakan mas Dede kapan ia menjelaskan dengan terbuka  kepada orang tuanya tentang pilihan identitas seksualitas. Jawabannya: “ Saya memberitahu mereka ketika berumur 20 tahun pada tahun 1974”. Ada empat orang yang secara khusus menerima kehormatan dari mas Dede untuk menjelaskan tentang pilihan identitasnya. Mereka adalah kedua orang tua biologisnya dan kedua orang tua angkatnya.  Tetapi diperlukan hampir 6 tahun yaitu di tahun 1980 ketika ia bisa “coming out”, mengumumkan kepada publik tentang identitas seksualnya sebagai seorang “gay”.

Seseorang memerlukan waktu untuk menguatkan posisi normatifnya sebelum bisa menjelaskan kepada orang lain di sekitarnya, yaitu keluarga maupun masyarakat luas tentang identitas seksualnya. Kadang-kadang ada yang berhasil untuk “coming out” seperti terlihat dari cerita di atas. Tetapi  sering kali ada yang harus tertekan seumur hidupnya karena keterbatasan dalam penguatan diri untuk menegosiasikan pilihan identitasnya. Lingkungan keluarga dan masyarakat sangat berperan besar untuk menolong seseorang mencapai penguatan diri “coming out”.

Mereka dengan orientasi seksual berbeda membangun penguatan diri pada dasar homonormatif. Homonormatif adalah pandangan tentang cinta kasih sebagai suatu keluhuran yang diperbolehkan terjadi diantara sesama jenis.  Norma-norma ini dibangun dari suatu kesadaran tentang kejujuran terhadap Diri pribadi baik atas representasi ketubuhan secara biologis maupun psikologis . Dasar pemikirannya adalah kesadaran tentang ketertarikan seksual sesama jenis yang dapat dirasakan diterima juga sebagai bagian dari  ciptaan Sang Pemberi Hidup.  Pertanyaan yang sering muncul adalah bagaimana perasaan dan pengalaman ketertarikan kepada sesama jenis “ada” seperti magma dalam Diri pribadi.  Seluruh tubuh dialirkan oleh kekuatan magma yang entah kapan akan erupsi.  Di manakah campur tangan Sang Pemberi Hidup dalam keDirian Pribadi ini?  

Ketika saya berada di daerah Golden Triangle di antara Thailand Utara, Myamar dan Vietnam, saya belajar dari masyarakat setempat tentang kekuatan yang dipercayai memancar keluar dari seorang yang sesudah remaja atau dewasa mengklaim dirinya sebagai seorang banci.  Masyarakat di daerah ini percaya bahwa seseorang yang terlahir dengan perilaku “banci” mempunyai kekuatan ilahi yang sangat besar. Mereka ini memiliki indra ke-6 sehingga bisa berkomunikasi dengan energi atau roh-roh leluhur. Menjadi “banci” dalam budaya setempat diterima sebagai representasi kekuatan adikodrati. Banci bukan dibentuk manusia, tetapi merupakan buatan, titisan adikodrati.

Ternyata “banci” masih lebih diterima dari pada mempunyai seorang anak perempuan tanpa anak lelaki.  Praktek ini saya temukan dalam perjalanan ke Shanghai, Beijing dan Xian.  Saya ceritakan ceritanya kepada partisipan di Camp. Sekarang saya menulis ceritanya lagi. Ceritanya begini. Raja Miaozhuang mempunyai seorang anak perempuan bernama Miaoshan yang jatuh cinta pada ajaran Budha. Sehari-hari Miaoshan mempraktekkan cara hidup membiara, seperti hidup sebagai seorang vegi (makan hanya sayur-sayuran). Raja ingin mempunyai anak lelaki yang bisa diperoleh melalui menikahkan anaknya, Miaoshan. Tujuannya sebenarnya bukan untuk kebahagiaan Miaoshan tetapi supaya melalui menantu lelakinya, hak pewarisan bisa diturunkan.

Keinginan raja ini ditolak oleh anak perempuannya. Karena itu raja mengirimkannya ke biara Budha.  Pemisahan ini malahan membahagiakan Miaoshan. Raja menjadi marah sehingga kemudian memutuskan membakar biara tsb. Sekitar 500 biksu terbakar dengan biara tsb. Miaoshan ternyata diselamatkan oleh roh-roh leluhur dan dibawa ke pegunungan di mana ia dipersiapkan untuk mengalami transformasi dari manusia menjadi dewi. Ketika itu raja sakit. Kesembuhannya bisa terjadi apabila ia disentuh oleh anaknya yang sekarang tinggal di gunung. Ketika raja ke sana, menyentuhnya, raja sembuh dan Miaoshan berubah menjadi dewi yang dalam tradisi  “agama Tiongkok” di sebut Guanyin. Guanyin adalah dewi kemurahan dengan representasi beribu tangan dan mata. Ia bisa mendengar penderitaan manusia.

Cerita lain tentang status “banci” di Amerika Serikat menarik untuk dimunculkan.  Di Amerika Serikat apabila seseorang ditemukan berperilaku seperti banci dengan menggunakan pakaian dari lawan jenisnya, ia akan dikejar-kejar, dilemparin batu dstnya.  Penghargaan kepada “banci” yang merendahkan, menghinakan, mungkin saja mendorong penguatan identitas homoseksual terutama di kalangan gay. Ketertarikan terhadap sesama jenis seperti seorang lelaki kepada lelaki lainnya tidak perlu dilakukan dengan mengubah identitas dirinya yang sebenarnya menjadi seorang “banci”.  Setiap tempat dengan budayanya masing-masing ternyata memberikan penghargaan yang berbeda terhadap representasi tubuh dan ketubuhan manusia.

Sementara agama-agama yang memposisikan dirinya sebagai hukum universal yang cenderung meniadakan keunikan pandangan partikular yang membentuk perilaku masyarakat tertentu terhadap fenomena seksualitas. Agama-agama mengertikan seksualitas sebagai bagian dari sistem nilai yang selain berhubungan langsung dengan moralitas, juga mengandung unsur wahyu. Pandangan moralitas ini membantu mengatur tata hidup bersama. Seseorang berhak dengan tubuhnya sendiri, tetapi ketubuhannya dapat menyakitkan, mengacaukan orang lain apabila dibiarkan “liar” mengembara menyentuh orang-orang di sekitarnya tanpa tanggungjawab.

Dari tradisi Abrahamik, muatan adikodrati dari pandangan seksualitas berhubungan dengan argumentasi bahwa kehidupan berpasang-pasangan secara heteroseksual merupakan perintah Allah.  Dasar argumentasinya adalah perkembangbiakan. Pandangan tentang “makna adikodrati perkembangbiakan”  ternyata akan berbenturan dengan praktek selibat yang juga diterima sebagai bentuk pewahyuan dari Allah. Praktek “selibat” pada dirinya menunjukkan tentang bentukan norma non-heteronormatif maupun homonormatif.  Praktek ini bisa dikategorikan sebagai “aseksual normatif”. Artinya dasar  praktek ketubuhan terbangun dari pandangan “ketiadaantarikan seksual”.

Dalam agama-agama, dominasi pandangan heteronormatif atas “aseksualnormatif” maupun “homonormatif” sebenarnya yang paling penting untuk mengalami proses penyadaran Diri.  Heteronormatif telah menciptakan banyak ketimpangan dalam kehidupan sosial bukan pertama-tama karena serangan-serangannya kepada homonormatif dan aseksualnormatif.  Sebagai bangunan yang terlihat dari sistem sosial, pandangan heternormatif yang mendominasinya, menyebabkan praktek-praktek penindasan, penyiksaan, penghinaan, marginalisasi kepada mereka yang lemah seperti perempuan dan masyarakat populis yang berada pada lapisan terbawah dari sistem kekuasaan  di mana saja.  Praktek kekuasaan yang terbangun dari pandangan heteronormatif bisa mendirikan kerajaan tirani kepada sesama manusia karena keyakinannya terhadap kekuataan otoritas di dalam kendali partiarkis. Di sinilah ketersesatan agama-agama bisa terjadi!

Representasi pandangan heteronormatif ada pada teks-teks suci. Teks-teks suci adalah berbagai tuturan yang terdokumentasikan sebagai tulisan yang merepresentasi kejadian-kejadian yang dikisahkan sehingga dalam pembacaannya terkesan hidup.  Sebagai teks suci, tulisan-tulisan ini  mempunyai otoritas untuk membimbing umat kepada jalanan kehidupan. Teks-teks tertulis menjadi kata-kata yang menghidupan orang-orang percaya.  Tetapi teks-teks suci ini sekaligus bisa berfungsi sebagai alat legitimasi untuk mendukung kepentingan orang-orang tertentu. Seringkali pengambilan teks-teks suci dipenggal pada tingkat ayat-ayat dilepaskan dari kesatuan nilai yang membentukan maknanya.

Karena itu sangat penting untuk memulai menginterpretasi atau menafsir teks-teks suci tersebut dari berbagai pandangan seperti heteronormatif, homonormatif maupun aseksualnormatif.  Tafsir yang bertanggungjawab bisa tercapai apabila beberapa persyaratan mendasar dapat dipenuhi.  Pertama, diperlukan kejelasan tentang konteks. Teks-teks suci mempunyai konteks yang harusnya dapat menjelaskan mengapa teks tersebut ada. Kedua, perlu adanya kejelasan tentang maksud pembacaan teks-teks suci tersebut bagi si penafsir. Ketiga, perlu adanya kesadaran dari sisi penafsiran tentang pertanyaan-pertanyaan kritis yang ditujukan kepada teks tsb dan dimunculkan dari konteks yang berbeda ketika teks tersebut dihasilkan.

Saya mau berhenti di sini untuk meneruskan lagi pada bagian lainnya, memulai tafsir yang menghidupkan (a living interpretation)!



Selasa, 17 April 2012

Menuju pemahaman nilai dan seksualitas


Memperbincangkan seksualitas, menghadirkan perempuan akar rumput dan pemuda/i
Bagian Kedua:  menuju pemahaman nilai dan seksualitas

Oleh Farsijana Adeney-Risakotta

Sejak ribuan tahun, seksualitas bukan untuk diperbincangkan.  Perbincangan seksualitas dihindari tetapi penguasaan tubuh tetap terjadi. Tubuh adalah jasad hidup, yang menjadi wadah untuk menghadirkan nilai-nilai, sifat, perilaku dan peran sosial.  Nilai-nilai yang diakui sebagai ajaran sosial, kemanusiaan seperti dipelihara oleh adat istiadat dan agama, akan tetap bersifat abstrak apabila tidak diwujudkan sebagai sifat yang ditampilkan dalam perilaku dan peran sosial yang keluar sebagai representasi tubuh. 

Misalkan nilai cinta kasih, bisa menghadirkan dirinya apabila seseorang mewujudkannya dengan menyatakan cinta kasih kepada orang lain. Contoh lainnya, nilai mementingkan diri terwujud dalam perilaku keserakahan seperti nampak pada mereka yang menggunakan peran sosialnya untuk melakukan korupsi.

Kajian budaya menunjukkan tentang ketubuhan dikelilingi oleh identitas sosial. Tubuh sebagai representasi dari identitas Diri ternyata masih cenderung terperangkap oleh norma-norma, adat istiadat.  Masyarakat  cenderung melambatkan diri untuk memperbaiki bias gender yang dipeliharanya dalam berelasi dengan perempuan maupun kelompok marginal lainnya.  Penampakan bias gender terlihat pada saat relasi kekuasaan menyebabkan seseorang mengalami “subordinasi”.  

Ada kekuatan penekan yang dengan sengaja dituju kepada seseorang sampai memperlihatkan posisi neraca keadilan yang timbang sebelah. Relasi kekuasaan yang terbangun dalam realitas subordinasi akan berpengaruh terhadap penumpukan beban ganda yang menyebabkan penghargaan terhadap tugas-tugas yang dilakukan jauh dibawah standar kesepakatan  “upah minimum regional” (UMR). 

Tekanan-tekanan ini bisa memuncak sehingga menimbulkan kekerasan terhadap seseorang yang berada dalam posisi subordinasi.  Mereka dapat dinomorduakan dalam pengikutsertakan terhadap program-program bersama di masyarakat yang seyogianya merupakan hak-haknya. Peminggiran ini disebabkan karena adanya pandangan-pandangan yang keliru terbangun dari upaya stereotyping terhadap perbedaan-perbedaan yang terlihat baik secara fisik maupun sebagai representasi identitas. Misalkan penolakan untuk melibatkan seseorang dalam program pengembangan ekonomi karena alasan perbedaan orientasi seksual, agama dan etnisitas.

Saya sadar perbincangan terhadap topik ini perlu dilakukan secara hati-hati untuk bisa menyentil kepedulian masyarakat yang masih cenderung tanpa disadarinya menindas mereka yang tersubordinasikan.  Mereka yang menindas mungkin adalah mereka yang paling saleh, beriman dan terpelajar.  Mereka sudah punya pengertian tentang nilai-nilai tetapi pelaksanaannya sungguh jauh dari semangat yang inheren dalam kedirian nilai tsb. Kadang-kadang mereka membela diri dengan menggambarkan tentang nilai sebagai representasi yang absolut.  Mereka bisa menempatkan nilai sebagai suatu “dogma” yang representasinya bersifat tunggal, diterima sebagai hukum abadi yang adikodrati.

Tentang hal ini saya ingin bercerita tentang diri sendiri. Masa remaja saya dimulai ketika saya berpikir tentang perintah Tuhan seperti tertulis di Alkitab tentang kasih sayang.  Kasih sayang seperti apa yang harus saya pahami ketika ada perasaan yang mulai bertumbuh dalam diri saya yaitu kasih sayang sebagai ketertarikan lawan jenis. Saya mulai sadar bahwa kata “kasih sayang” perlu diwaspadai karena makna berbeda dengan “menyerahkan diri”.  Ternyata nilai “kasih sayang” dalam representasi ketubuhannya tampil berbeda-beda.  Secara kristiani, ada berapa tingkatan dari pengertian kasih sayang yang dibedakan dalam bahasa Yunani seperti “ agape”, “philia”, dan “eros”. Perbedaan perilaku mewujudkan tingkatan nilai ini makin jelas sesudah muncul penghayatan yang sejalan dengan kematangan dalam diri sendiri.

Dasar dari nilai bisa mengandung makna yang sama tetapi representasi ketubuhannya dapat berbeda.  Kasih agape adalah kasih sayang yang ditujukan kepada Tuhan. Ibadah dan hubungan intim dengan Tuhan menjadi representasi dari kasih agape.  Keintiman bisa menyebabkan muncul perasaan menangis dan bahagia. Kasih philia adalah sebutan kepada cinta kasih sesama, yang keintimannya tampil dalam bentuk kepedulian, persahabatan, empati dan persaudaraan.  Tindakan menolong, mengunjungi saudara dan tetangga merupakan representasi dari kasih philia.

Sedangkan representasi kasih eros, ketubuhan secara total dari Diri dapat disatukan dengan seorang yang menjadi pasangan hidupnya. Ketubuhan tersebut selain menyebabkan keintiman juga menghadirkan komitmen kepada satu dengan lainnya. Eros bisa menjadi kekuatan yang mencelakakan apabila dalam keintiman ketubuhan dilakukan tanpa tanggungjawab dan komitmen.  Kasih “eros” dilindungi oleh “keintiman ketubuhan” yang bisa bergerak membangun komitmen dalam “ketubuhan bersama” yang dalam bahasa sederhana disebut “keluarga”.

Kehilangan pengertian dari orientasi nilai bisa terlihat baik kepada mereka yang menekan dalam relasi subordinasi maupun pada mereka yang tertekan. Karena pengalaman ketubuhan yang berbeda-beda ternyata juga berpengaruh kepada cara manusia berelasi dengan sesama.  Misalkan seorang heteroseksual menggunakan nilai dan ajaran agama heteronormatif  untuk menghakimi kedirian seseorang yang orientasi seksual berbeda.  Sebaliknya seorang yang homoseksual membangun nilai homonormatif  untuk mempertahankan perilaku yang diperjuangkannya yaitu mendapat pengakuan tentang perbedaan orientasi seksualitasnya.  Dasar nilai homonormatif yang selalu dirujuk seringkali berasal dari resolusi Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) PBB tentang penanggulangi diskriminasi. Nilai HAM ini berkaitan dengan nilai dasar manusia untuk hidup. 

Ratifikasi nilai HAM dalam perundangan di Indonesia ditampung pada UU No.39 Tahun 1999 tentang HAM. Pasal 4 menjelaskan tentang berbagai hak."Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kebebasan pribadi, pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi, dan persamaan di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun dan oleh siapapun".   


Di Indonesia, nilai yang membentuk dalam kata berkaitan dengan seksualitas, sebelum pengakuan HAM PBB bisa dilihat pada kata-kata: lelaki, perempuan dan banci/waria. Variasi kata-kata yang mengandung nilai homonormatif masih terbatas. Walaupun demikian perilaku seksual yang menunjukkan ketertarikan sesama jenis sudah ada dalam pengalaman manusia Indonesia. Keterbukaan dunia menerima homonormatif dengan pengalamannya yang beragama juga kemudian mempengaruhi Indonesia. Walaupun secara eksplisit berbagai variasi penyebutan orientasi seksual yang berbeda tidak nampak dalam kata-kata perundangan, tetapi setidaknya pengakuan untuk perlindungan manusia untuk hidup dengan caranya yang dipilih mendapat perlindungan dalam hukum Indonesia. 

Kadang-kadang kelompok heteronormatif menggunakan argumentasi yang mempertanyakan tentang rendahnya komitmen seorang homoseksual kepada pasangannya. Tetapi menurut saya argumentasi ini tidak berbeda dengan pandangan heteronormatif yang mempraktekkan poligami.  

Kehidupan modern mengubah fungsi dari keluarga.  Tetapi mempunyai “keluarga” tetap menjadi idaman dari baik heteroseksual maupun homoseksual. Kemudahan komunikasi yang diberikan oleh teknologi turut membentuk pemaknaan baru tentang “keluarga”. Dengan komitmen yang mendalam, pasangan bisa bekerja di tempat yang berbeda sehingga kesempatan bertemu dilakukan pada waktu-waktu tertentu. 

Cara mengekpresikan cinta kasih yang berbeda-beda dengan penekanan pada pencirian hubungan seksual yang berbeda dalam relasi gay atau lesbian turut menentukan kedalaman keintiman dan komitmen dari masing-masing pasangan.  Pemilikan anak dari keturunan sendiri bukan lagi menjadi isu. Adopsi dapat dilakukan untuk mengatasi pasangan homoseksual yang tidak dimungkinkan mempunyai anak. 

Masalahnya semua perubahan sosial yang berpengaruh terhadap pemaknaan baru yang positif bagi pengertian keluarga belum dicatat dalam kitab suci dari agama-agama yang ada di dunia.  Kecuali, misalkan pencatatan tentang perilaku seksual yang menghebohkan seluruh dunia seperti cerita Sodom dan Gomora merupakan ayat-ayat heteronormatif yang sering digunakan untuk mendiskriminasikan mereka dengan orientasi sosial sebagai homoseksual.  

Heteronormatif adalah cara pandangan yang mensahkan adanya hubungan seksualitas antara lawan jenis.  Penolakan agama didasari oleh pandangan bahwa salah satu maksud penciptaan adalah untuk bisa berkembangbiakan.  Kontradiksi lain terkai dengan  agama yang menjunjung nilai-nilai kehidupan tetapi dalam prakteknya malahan melakukan diskriminasi kepada mereka yang berbeda orientasi seksualnya.

Untuk pemahaman lebih lanjut, saya perlu memberikan perhatian terhadap fungsi teks-teks suci. Teks-teks ini perlu dikaitkan dengan kemurnian kemanusiaan manusia dan keadilan bagi mereka berorientasi seksual yang berbeda di Indonesia.

Minggu, 15 April 2012

Memperbincangkan seksualitas, menghadirkan perempuan akar rumput dan pemuda/i


Memperbincangkan seksualitas, menghadirkan perempuan akar rumput dan pemuda/i

Bagian pertama:  sebutan dan pengertian!

Oleh Farsijana Adeney-Risakotta

Dalam waktu yang hampir bersamaan, saya belajar seksualitas yang dilihat dari perspektif ibu-ibu akar rumput dan pemuda-pemudi. Sejak 23, 25 Maret, 1 dan 15 April  2012  saya berkesempatan memfasilitasi Pendidikan Kader Dasar untuk anggota Koalisi Perempuan Indonesia cabang Bantul. Selama minggu kemarin dari tanggal 10 sd 15 April 2012, pengalaman yang berbeda sedang saya alami dengan pemuda-pemudi antara agama dengan identitas yang berbeda mendorong saya menulis.

Seksualitas yang pada umumnya dianggap tabu di kalangan ibu-ibu ternyata merupakan topik yang menarik untuk didiskusikan.Pembahasan tentang seksualitas kepada ibu-ibu selalu menimbulkan tawa renyah. Ibu-ibu datang dari latar belakang berbagai agama, kebanyakan muslim, tetapi ada yang kristiani. Mereka tak segan-segan saling menertawakan satu dengan lainnya.  Bahasa tubuh mereka macam-macam. Ada yang nampak marah-marah, tampil ketus mengutuki lelaki yang mungkin pernah menyakitinya. Ada yang dengan geli nyeletuk tentang kenikmatan bercinta. Ada yang menutup mulut rapat-rapat, dengan sangat dingin menolak mengekpresikan pengalaman seksualitasnya. 

Keragaman tanggapan ini sangat menarik bagi saya. Seksualitas yang semula tabu, tidak bisa diperbincangkan di depan umum mulai terbongkar. Hampir setiap bulan dalam perjalanan saya ke Balai-Balai Perempuan di desa-desa saya melihat keterbukaan ibu-ibu dalam memahami seksualitas. Isu seksualitas bukan hanya terkait dengan kontrasepsi, keluarga berencana (KB).  Perubahan sikap terhadap seksualitas dipengaruhi oleh berbagai faktor.

Kehadiran TV langsung dalam keluarga menjadi pemicu utamanya.  Ada banyak program di TV mengemas isu seksualitas dalam bentuk diskusi, berita, drama dll.   Pada umumnya mereka sudah mulai paham tentang hubungan seksualitas dengan penyakit seperti IMS (infeksi menular seksual) termasuk juga HIV/Aids. Tetapi ada masih ada banyak ibu-ibu yang belum memahami hubungan antara seksualitas dengan hak serta kewajiban dari seseorang.

Sementara pemuda/i berlatar belakang berbagai agama, yaitu muslim, kristen dan hindu,  yang hadir pada Youth Queer Interfaith and Sexuality Camp (lihat yqfscamp.wordpress.com/about/camp-activities/) datang dengan orientasi seksual heteroseksual maupun homoseksual. Kemandirian mereka mengakses informasi tentang seksualitas besar sekali. Seksualitas seperti magnit yang menarik pemuda untuk mengenalnya mendalam. Seksualitas adalah diri mereka sendiri. Keterbukaan mereka untuk memikirkan secara eksistensial tentang berbagai orientasi seksualitas yang berada di sekitarnya telah melahirkan berbagai pertanyaan. 

Istilah seks berhubungan langsung dengan jenis kelamin. Tetapi masyarakat modern mengerti seks sebagai bagian dari konstruksi sosial. Secara biologis, seks yang menunjukkan perbedaan jenis kelamin laki-laki (jantan) dan perempuan (betina) karena tampilan organ seks yang berbeda, ternyata dapat menghasilkan variasi-variasi identitas seksual yang beragam pula. Identitas tersebut berkaitan dengan perbedaan-perbedaan dasar dari ketertarikan seksualitas.  Lazimnya, seorang perempuan tertarik secara seksual kepada seorang lelaki. Hubungan ini disebut heteroseksual. 

Sementara ada juga hubungan yang disebut homoseksual. Misalkan seorang lesbian adalah seorang perempuan yang tertarik secara seksual kepada perempuan lain. Seorang "gay"  adalah seorang lelaki yang tertarik secara seksual kepada lelaki.  

Bentukan lain dalam relasi seksualitas yang menunjukkan kondisi  “trans” atau “kemampuan melewati” bisa dijelaskan dengan dua maksud pemahaman yang cukup berbeda. Pertama, seorang transgender adalah seorang yang berkelamin tertentu yang tampil berperilaku dengan peran gender yang berlawanan.  Terlihat pada seseorang yang dengan sengaja berdandan menggunakan pakaian dari gender yang berlawanan sambil menghadirkan sifat-sifat kegenderan yang diperankan tersebut.

Seorang lelaki bisa berpakaian kemayu seperti seorang perempuan yang di Indonesia disebut “waria” (wanita lelaki). Dikatakan apabila seorang “waria” berdandan maka ia sedang menunjukkan ketertarikan seksualitas pada seseorang dari jenis kelamin yang sama yaitu lelaki. Ketika “waria” tidak berdandan ada kecenderungan untuk tertarik secara seksualitas kepada sesama “waria”.  Istilah “waria” diberikan khusus kepada lelaki. 

Kedua, istilah trans-seksualitas adalah sebutan yang diberikan kepada seseorang yang berkelamin tertentu tetapi pada dirinya terdapat organ tubuh yang berbeda. Misalkan seorang perempuan tidak mempunyai indung telur sehingga tidak ada fungsi biologis untuk mengandung dan melahirkan . Ada juga seseorang bertubuh lelaki tetapi mempunyai payudara. Penampakan diri yang berbeda dari keberadaan genetis biologis menyebabkan seseorang dengan kondisi trans-seksualitas pada dirinya bisa cenderung tertarik secara seksual baik kepada lelaki dan perempuan. Perbedaannya dengan biseksual adalah seorang dengan fungsi genetis biologis tertentu tanpa kelainan bisa tertarik secara seksual baik kepada jenis kelamin lelaki maupun perempuan. 

Saya memperhatikan perbedaan reaksi ketika penjelasan-penjelasan ini disampaikan baik kepada ibu-ibu maupun pemuda/i tsb. Ibu-ibu dengan mata terheran-heran mencoba memahami penjelasan seperti digambarkan di atas tanpa cepat-cepat menyeletuk mengeluarkan kata"dosa" untuk diberikan kepada mereka yang berorientasi seksual berbeda.   Ada seorang ibu yang bertanya mengapa bisa terjadi perbedaan-perbedaan orientasi seksual tersebut. Saya menjawab dengan menunjukkan penjelasan tentang variasi kelamin manusia dalam alam semesta. 

Sementara pemudi/pemuda yang hadir pada  pertemuan tsb ada yang sudah mengerti tetapi ada juga yang masih belum jelas. Kehadiran mereka yang heteroseksual terutama untuk mengerti tentang pergumulan identitas berbeda dari teman-teman homoseksual, transgender-sekual, biseksual dan interseksual. Mereka juga ingin tahu bagaimana agama-agama memberikan penjelasan tentang persoalan orientasi seksual yang berbeda.  Pertemuan Camp tersebut menggandeng istilah Queer untuk menampung berbagai variasi dari identitas seksual yang sedang dicari oleh para pemuda/i tersebut. 

Singkatannya lesbian, gay, biseksual, trans-gender/transeksual, interseksual dan queer dipendekkan dalam kodefikasi LGBT-IQ. Tetapi variasi identitas ini sebenarnya bisa dijelaskan secara biologis.

Spektrum biologis yang menjelaskan tentang posisi kejantanan dan kebetinaan dari lelaki dan perempuan mementang dari ekstrim paling kiri (jantan/lelaki) ke ekstrim paling kanan (betina/perempuan). Diantara kedua ektrim inilah terdapat berbagai variasi orientasi seksual seseorang. Terjadinya variasi ketubuhan seseorang secara seksual sangat ditentukan oleh keragaman dari jumlah hormon estrogen pada perempuan dan testosteron pada lelaki. 

Kedua hormon ini bersama dengan organ genetik lainnya akan menentukan organ seksual dari masing-masing pribadi sebagai lelaki atau perempuan. Organ seksual lainnya dari perempuan adalah vagina,  payudara, rahim dan indung telur. Sedangkan secara biologis, organ seksual yang menyebabkan ketubuhan seseorang disebut "lelaki" adalah penis, kantong kemih, sperma, dan jakut.  Tetapi konstruksi budaya seperti sosialisasi diri dan masyarakat bisa berpengaruh terhadap suatu pilihan seksual (sexual preference) dari seseorang   pada saat memposisikan dirinya dalam istilah identitas seksual. Identitas seksual bersifat plastik, artinya bisa berubah tergantung pada pilihan yang dilakukan seseorang.  

Istilah identitas secara sosiologis dan budaya dihubungan dengan suatu pilihan Diri yang dibuat seseorang dalam interaksi dengan orang lain. Terkesan identitas seksual menunjukkan penentuan dari seseorang, tetapi sebenarnya ia sangat ditentukan oleh komunitas setidaknya “partner” dengan siapa ketertarikan seksual dihadirkan. Cara pikir ini bersifat anti essensialisme yang mengedepankan tentang pencarian identitas seseorang dapat terjadi sepanjang kehidupannya. Sebaliknya cara berpikir essensialisme cenderung menekankan tentang pencarian yang permanen, yang pasti, kemilikan sejati yang tidak akan berubah sesudah penemuan tercapai.  Terhadap kedua posisi cara pikir ini, dalam menjelaskan tentang identitas seksual saya menggunakan pendekatan anti essensialisme.

Seks yang adalah jenis kelamin, sering kali dimengerti sebagai kodrat sebagaimana pemahaman lazimnya di Indonesia. Penyebutan “kodrat” ternyata dikenakan bukan saja untuk menjelaskan tentang seks, tetapi juga terhadap peran-peran sosial yang dibedakan dalam masyarakat kepada lelaki dan perempuan. Misalkan perempuan bersifat lembut, lelaki bersifat kasar. Karena itu perempuan bisa menangis tetapi lelaki harus menahan diri, tampil dingin dan kuat. Daftar keperbedaan lelaki dan perempuan bisa diteruskan untuk menunjukkan tentang peran sosial yang diberikan oleh masyarakat kepada mereka masing-masing. 

Kesalahan penyebutan ini perlu dikoreksi, karena sifat-sifat yang dikonstruksikan masyarakat bukanlah kodrat. Kodrat dalam bahasa Indonesia dipahami sebagai suatu takdir yang diberikan oleh alamiah biologis. Seringkali pandangan ini dikaitkan dengan penciptaan Tuhan terhadap organ-organ seksualitas manusia.  Jadi penyebutan yang tepat untuk menggambarkan perbedaan peran tersebut adalah gender. Gender sebagai definisi menjelaskan tentang perbedaan peran sosial yang diberikan kepada lelaki dan perempuan untuk fungsi-fungsinya yang dapat ditukar menukarkan sesuai dengan tingkat pemahaman untuk menegosiasikan di antara mereka  relasi kekuasaan yang adil dan setara. 

Misalkan karena pendidikan gender yang kami fasilitasi kepada ibu-ibu pada paska erupsi Merapi, peran sosial mereka bisa berubah. Ternyata tugas untuk memasak bisa dilakukan oleh lelaki, suami, sang ayah untuk menjaminkan penerusan makanan kepada anggota keluarga ketika perempuan, sebagai istri, sebagai ibu sedang melakukan kegiatan publik lainnya. Sebelumnya, tugas memasak hanya dilakukan oleh ibu, sang istri.

Dikalangan mereka yang mengklaim identitas seksual yang berbeda, ternyata masih juga memahami dan menjalankan pemahaman kodrat sehingga tanpa disadari terbentuk pembagian fungsi antara lelaki dan perempuan dalam relasi homoseksual misalnya. Dari contoh ini, penyadaran gender juga harus terus menerus disampaikan kepada mereka dengan orientasi seksual berbeda. Karena tidak secara otomatis seorang yang begitu modern dalam memahami identitas seksualnya sekaligus dengan sadar menerapkan nilai-nilai keadilan dan kesetaraan dalam berelasi dengan partner dan sesamanya.

Keterbukaan kedua kelompok ini, ibu-ibu akar rumput dan pemuda/i sungguh mengagumkan saya, sehingga mengganggu benak saya untuk melanjutkan terus tulisan ini pada bagian berikutnya.

Jumat, 06 April 2012

Maut di manakah sengatmu?



Maut di manakah sengatmu?
Refleksi Paskah

Oleh: Farsijana Adeney-Risakotta

Pengalaman kematian perih. Kematian adalah nasib yang harus dihadapi manusia. Tiada satu mahklukpun di bawah bumi yang dapat melawan kematian.  Bumi sendiri, sistem tata suryanya terus berubah. Seperti manusia yang bisa meninggal ketika masih bayi, remaja, dewasa bahkan sesudah usianya uzur, benda-benda tak bernyawapun mengalami peremajaan melalui kematian.  

Kematian secara fungsi adalah esensi yang menyehatkan kepada keseimbangan bagi alam semesta. Tetapi hanya kematian yang dialami oleh manusialah, yang memerlukan serangkaian pemaknaan. Seekor anak gajah yang meninggal di padang savanna di Afrika tidak memerlukan upacara pelepasan dibandingkan dengan kematian yang dialami oleh seorang anak dari suku Massai di Kenya.

Walaupun manusia menghadapi kematian dalam topangan upacara-upacara keagamaan, baik dengan pengertian agama lokal maupun agama-agama samawi, peristiwa kematian sendiri dihadapi oleh manusia sebagai momen yang paling mendebarkan.  Kenyataan seseorang yang dikasihi berhenti bereaksi, serupa patung yang tak bernyawa berada bersama, adalah momen genting. 

Sakit yang lama dari seseorang bisa mempersiapkan anggota keluarga untuk menghadapi kenyataan kematian. Tetapi sering terjadi tanpa tanda-tanda sakit, seseorang yang dikasih berpisah dengan sanak keluarganya. Kematian mendadak adalah kengerian bagi anggota keluarga. Ketidaksiapan untuk merelakan seorang yang dikasihi dilepaskan dari jalan kematian ini.  Walaupun mungkin seseorang yang meninggal lebih siap dari mereka yang ditinggalkannya. 

Pengalaman ini saya rasakan ketika kematian adik saya, John Franklin Christian Risakotta. Ia berbaring dalam kedamaian serupa tidur yang sangat nyenyak. Ada banyak misteri dari kematiannya yang mendadak, tetapi kedamaian dan kesejukan yang nampak dalam wajahnya menyampaikan pesan "menenangkan" kita semua. Kematian pada diri adinda dihayati secara iman. Kematian bukan suatu kekalahan tetapi cara yang sangat berani menyerahkan diri pulang kembali kepada Sang Pencipta sesudah waktunya tiba.

Gambaran kengerian dari kematian juga dperlihatkan dalam kitab suci. Misalkan Kitab Pengkhotbah menggambarkan tentang kenangan yang sudah lenyap dari antara orang-orang yang mati. Bahkan mereka, orang-orang mati tidak tahu apa-apa ( Pengkhotbah 9:4). Mereka tidak berperan lagi terhadap segala sesuatu di dalam dunia (ayat 5). Ketika saya membandingkan apa yang terjadi dengan adinda, gambaran kematian dari  penjelasan Kitab Pengkhotbah menggambarkan seolah-olah kematian adalah kesia-siaan.

Manusia bertanya kemana kita pergi sesudah kematian? Penjelasan ilmiah menggunakan istilah kematian untuk menguraikan tentang perhentian dari fungsi-fungsi biologis dari seorang manusia ketika ia mati. Ketiadaan fungsi tubuh menyebabkan manusia berhenti berkehidupan di dunia ini. Ia adalah kesia-siaan. Hampa.  Seolah-olah dunia adalah untuk mereka yang hidup. Mereka yang bisa bertarung, mereka yang berlomba, mereka yang harus kerja keras untuk bertahan. Kematian seolah-olah adalah jalan seleksi alam untuk mengakhiri pertandingan yang sudah dimulai dengan penyelesaiannya menurut kemampuan setiap manusia.

Sekalipun seorang manusia yang bejat, kematian dirinya diiringi dengan trompet sebagai tanda seseorang telah meninggal di suatu penjara.  Pengumuman dengan memainkan instrument trompet adalah tanda tentang kematian yang memberikan waktu kepada orang lain untuk mengenangkan mengiklaskan kepergian yang meninggal  tanpa harus hadir pada upacara pemakaman.

Gambaran kematian, di mana kehidupan berhenti sesudah kematian adalah pandangan dari manusia yang sangat mempercayai "hidup" yang sedang terjadi. Hidup sebagai "aktivitas".  Pandangan ini sangat alamiah tetapi mungkin terlalu sederhana untuk mahkluk seperti manusia.  Manusia menembusi dirinya yang fana dalam iman sehingga bisa percaya tentang dunia yang ada dibalik kematian. Ketika seorang manusia meninggal ia pergi dengan imannya kepada Sang Pemberi hidup. 

Ia mengerti apa yang diyakininya sebagai iman. Ia berserah kepada kehendak Sang Pencipta. KehendakNya yang lebih sempurna dan paling tepat untuk semua mahkluk ciptaanNya. Manusia tahu napasnya sendiri adalah napas dari Sang Pemberi Hidup. Tubuhnya adalah wadah untuk memelihara napas Sang Hidup. Ketika waktunya tiba, napas Sang Hidup dibawa kembali menyatu dalam haribaanNya.

Dengan imanlah, orang-orang yang hidup melanjutkan perjalanan sesudah kepulangan kekasihnya ke rumah Tuhan. Iman mengubah kami yang hidup. Iman menyembuhkan hati yang luka. Mengundang Sang Pemberi hidup untuk menuntun menjelaskan maksudNya dalam hidup kita akan memberikan kelepasan. Iman adalah pergumulan dalam penyerahan diri untuk dituntun masuk dalam rencana Sang Pemberi hidup. Menyerahkan diri dalam haribaan Sang Pemberi Hidup adalah termasuk memperbaharui bathin dan hati nurani sendiri dengan mengizinkan Sang Pemberi Hidup berdiam di dalamnya. Suatu bathin dan hati nurani yang murni sebagai landasan melanjutkan perjalanan dalam tuntunanNya.

Kematian seseorang  tidak bisa ditolak sama sekali, tetapi untuk banyak orang lainnya, kematian terkait langsung dengan keinginan untuk memelihara jasad. Bukti tentang banyaknya developer yang menjual situs-situs rumah peristirahatan atau kuburan dengan harga ratusan juta rupiah menunjukkan tentang rasa ketakutan dari manusia terhadap kematian itu sendiri. Manusia modern tidak bedanya dengan manusia jaman Firaun raja Mesir yang membalsem tubuh dirinya bersama dengan para keluarga kerajaan yang meninggal.

Kematian manusia adalah suatu proses alam yang harus dihadapi.Saya ingat ketika masih hidup bersama masyarakat di Wangongira di Halmahera Utara. Mereka membangun kampung tetapi setiap keluarga membuat rumahnya dalam kondisi semi permanen. Rumah-rumah mereka tidak mempunyai dinding, pintu dan jendela.  Ajaran ini berkembang karena kepercayaan bahwa sesudah anggota keluarga meninggal mereka harus meninggalkan rumah tersebut. Tiang rumah akan dipotong dan rumah dirubuhkan. Daerah itu diberikan kepada kekasihnya yang meninggal. Manusia mewariskan situs rumah untuk mereka yang meninggal.  

Kehidupan modern dengan bangunan kepercayaan dari berbagai agama-agama, membekali seseorang dalam merespons kematian dengan cara yang berbeda-beda menurut iman masing-masing.  Ada berbagai cara jasad manusia diupacarakan. Jasad bisa diletakan dalam peti, dibalut dengan kain kafan, dibiarkan dekat danau Batur di Bali, di taburkan dalam danau sehingga bisa disantap oleh ikan-ikan seperti dipraktekkan di bagian tertentu dari daratan Cina, diletakkan di lubang-lubang goa sampai waktunya diupacarakan bersama seperti di Toraja.  Banyak contoh berbeda menggambarkan tentang keragaman mengupacarakan kematian.

Upacara bisa berbeda, tetapi perasaan manusia menghadapi kematian mungkin sama.  Perasaan terpisahkan! Perasaan tercabut dari kedekatan dan keintiman dengan seseorang yang meninggalkan. Perasaan ini memberikan penderitaan dari kesedihan yang mendalam.  Kata-kata penghiburan yang diterima dari para pelayat bisa menguatkan tetapi mungkin belum mengubah penderitaan mereka yang kehilangan. Kata-kata mengiklaskan bukan sekedar upaya untuk melupakan kekasih yang meninggal. Mereka yang ditinggalkan adalah mereka yang meneruskan hidupnya dengan terlebih dulu sedang mengartikan makna kehidupan baru sesudah peristiwa kematian dalam keluarganya. 

Disinilah peran tegang waktu, masa perkabungan yang diupacarakan dalam tradisi budaya- budaya maupun agama-agama. Masa perkabungan 7 hari, 40 hari, 100 hari sampai dengan 1000 hari bukan sekedar masa bertemu, masa mendoakan mereka yang telah pergi. Tradisi Kristiani, seperti yang dialami dalam masa sesudah kematian dan kebangkitan Kristus, ada sekitar 40 hari hidupNya diberikan kepada murid-muridNya sebelum Ia naik ke Sorga.

Masa-masa perkabungan  adalah masa untuk menemukan keberlangsungan kehidupan dari mereka yang sudah meninggal dengan mereka yang masih hidup di dunia.  Seorang yang pergi, ada yang membawa semua cita-citanya tanpa berbagi dengan mereka yang ditinggal. Tetapi sering kali, seorang yang meninggal, pergi dengan meninggalkan cita-cita, visi kepada keluarganya. 

Pada masa inilah waktu terbaik untuk anggota keluarga menyatukan diri mengartikan hidupnya dalam visi yang dilihatnya sebagai cita-cita mereka semua. Suatu kelanjutan cita-cita dari kehidupan yang ditinggalkan oleh kekasihnya yang meninggal. Momen ini adalah kesempatan untuk bertumbuh menurut kualitas kehidupan yang sesuai dengan kehendak Tuhan.

Masa-masa ini sangat penting untuk bersama dengan sanak keluarga mendukung satu dengan lain sampai mereka merasa bisa melangkah sendiri. 40 puluh hari adalah waktu untuk mengerti maksud Sang Pemberi Hidup bagi hidup yang harus diteruskan. Dengan bathin murni dari Sang Pemberi hidup, perjalanan 100 hari sampai dengan 1000 hari adalah waktu untuk memulai merealisasi cita-cita bersama sebagai komitmen kita meneruskan kehidupan yang sedang diizinkan terjadi.

Saya menulis ini untuk berbagi tentang upaya berproses dalam penderitaan sesudah kematian terjadi dalam suatu keluarga. Semua manusia akan mati. Cuma caranya yang berbeda-beda dengan waktu yang seorangpun tidak tahu. Sebagai manusia yang harus diketahui adalah bagaimana membuat diri kita siap senantiasa untuk kapanpun dijemput Sang pencipta pulang ke rumahNya.  

Kematian seseorang dalam keluarga mengingatkan kita tentang kesiapan ini. Ketika saat kita tiba, kematian adalah cara untuk kita semua akan mempertanggungjawabkan kehidupan yang sudah kita jalani di dunia kepada Sang Pencipta, Pemberi kehidupan.  Kematian adinda, dalam keadaan polos, bercelana kolor, sesudah mandi, adalah bukti dari kesiapannya. Ia datang sebagai bayi telanjang dan dipanggil pulang juga dalam keadaan hampir telanjang.

Semua yang kita punya di dunia ini, tidak sedikitpun kita bawa dalam perjalanan kembali ke bumi.  Perubahan pandangan dan praktek terhadap kematian berubah dari jaman ke jaman. Di Xian, Cina, ketika kami mengunjungi areal penggalian terracotta soldiers  dengan kuda-kudanya yang tertanam ribuan tahun, kami belajar tentang perubahan etika pemakaman. Pada waktu itu, seorang “raja” ketika meninggal mensyaratkan pemakamannya dilakukan bersamaan dengan bala tentara-tentara dan pelayan-pelayanannya, mereka dimakamkan hidup-hidup. Perubahan terjadi adalah dengan membuat patung-patung dari balatentara dan pelayan-pelayan yang dimakamkan bersama dengan sang”raja”. 

Gambaran dari praktek pemakaman secara besar-besaran terhadap seorang yang penting yang diikuti oleh semua pelayanan juga terlihat pada peninggalan pemakaman gunungan yang tersebar dan dilindungi sebagai situs sejarah di daerah Skandinavia. Ketika kami mengunjungi Denmark dan Swedia, perhatian saya untuk mengerti proses kematian dan pemakamannya menjadi momen yang sangat penting sampai sekarang masih berkesan.

Kematian membawa manusia kepada Sang Pencipta. Pandangan dari kepercayaan tentang Sang Pencipta mengubah cara manusia mengupacarakan pemakaman. Seperti manusia datang dari rahim ibunda, manusia juga kembali kepada Sang Pencipta dengan apa yang ada pada dirinya sendiri.

Sayapun merefleksikan pengalaman kemanusiaan ini dengan menghayati kematian yang terjadi pada Kristus. Pada masa kematianNya, saya merenungkan semua yang terjadi dalam peradaban dunia dan keluarga sendiri.  Kematian Kristus adalah tragedi bagi manusia yang sulit mengerti tentang kepedulian Allah kepada umat manusia. Tetapi kematian Kristus adalah keberuntungan bagi mereka yang percaya tentang kebersamaan Allah dalam kehidupan manusia. Kebersamaan Allah pertama-tama ada dalam kematian yang senantiasa paling ditakutkan oleh manusia.

Kengerian dari kematian hampir menggilakan manusia termasuk juga dengan mencoba melupakan sesegera mungkin pengalaman kehilangan dari kematian mereka yang dikasihinya. Kematian Kristus adalah kepedulian Allah yang mati bersama dalam pengalaman manusia supaya ada kebangkitan dari pengalaman penderitaan dari kematian itu. Bagi mereka yang meninggal dalam Kristus, ada kehidupan kekal dalam jalan yang sama Kristus melewatinya, mengubahnya menjadi kemenangan. 

Sengat maut di manakah engkau berada? Kata-kata ini adalah kalimat kepedulian Allah yang mengerti tentang penderitaan manusia.  Seringkali perjalanan akhir dari kematian seseorang dilewati dengan sangat panjang dan berat. Maut seolah sudah datang tetapi nyawa masih melekat sehingga tubuh menjadi sangat menderita.  

Pengalaman hidup manusia, pengalaman menyakitkan sesama, pengalaman melakukan kejahatan, mengkorupsi uang-uang haram adalah hambatan untuk melewati kematian dirinya dengan tenang. Berbagai pengalaman lain yang menimbulkan duka dalam penyesalan diri bisa menjadi hambatan seseorang melawati penderitaannya dengan damai. 

Ketika pengalaman-pengalaman ini hadir dalam kehidupan manusia, pada saat itulah sang manusia memerlukan cinta kasih dari Allah.  Allah yang mati dalam Kristus adalah Tuhan yang menderita bersama manusia, yang mengangkat manusia dari kedosaannya mendalam kepada anugerah yang membebaskan.  Benar! Sengat maut itu sudah ditelan oleh kemenangan dalam Yesus Kristus.


Tanah (The Soil)


Tanah (The Soil)
For my brother, John Franklin Christian Risakotta
On the Good Friday, April 6th, 2012

By: Farsijana Adeney-Risakotta


Tanah
Tempat kakiku berpijak
Kusebut engkau bumi

Tanah
Ku memaknai padamu keabadian
yang tercatat dalam kitab kehidupan
“dari tanah kembali kepada tanah”
bukan sekedar bongkahan tegalan

Tanah
engkau menyimpan bukti keabadian kehidupan
yang memanggil peziarah pulang mengabadikan
kenangan dan martabat

Tanah
di mana kekasih berbaring
leluhur berumah selamanya
yang menjanjikanku perbaringan
sesudah waktuku tiba

Tanah
Kuberpijak merenungkan kesenyapan mendalam
sang manusia meneruskan lelapnya dalam haribaan Ilahi

Tanah
padamu kurenungkan
permulaan kehidupan dari  kerahiman manusia
dari tiada menjadi ada 
anak manusia tentram dalam kandungan ibunda
sebelum waktunya
sang manusia hidup dari kekuatannya sendiri

Tanah
engkau ibunda bumi
rahim dari semua perempuan yang melahirkan
mengakui keabadian kehidupan dari keibuan bumi
sang bunda pemelihara diri pribadi
sampai waktunya
mengubah jejasad menjadi tiada
sebagai debu tanah
“dari tanah kembali ke tanah”

Tanah 
padamu arus kehidupan mengalir
serupa deras air penghujan
menyejukkan jiwa berbaring
dalam pelukan keilahian bumi
menurunkan kehidupan 
meneruskan penciptaan ilahi 
penuh cinta kasih

Tanah
engkau membuatku
menghormati 
caramu menerima perbaringan
supaya setiap manusia berserah dalam kelelapannya
bernapas bersama bumi
dengan hembusan napas Ilahi
tanpa perbedaan agama

Tanah
keilahian bumi
keilahian semesta
kemahakuasaan napas Sang Hidup
kedamaian sesudah kenangan pada dirinya
memindahkan
menyimpan ingatan kepada yang hidup

Tanah
biarlah kubernapas bersamamu
biarlah kusentuh engkau dalam tangan
biarlah kucium engkau dalam rasa
biarlah kuhayati engkau dalam hati
biarlah kuukirkan engkau dalam kata
biarlah kubangunkan nisan harapan

Tanah
...Dia yang binasa mengenakan yang tidak binasa
Dia yang mati mengenakan yang tidak mati...
supaya genap yang tertulis
..maut telah ditelan dalam kemenangan...oleh
Yesus Kristus

Tanah
Tanah
Tanah
Tanah
Tanah
Tanah
Tanah
Tanah
Tanah
Tanah
Tanah












Sabtu, 11 Februari 2012

Kelahiran dan Kematian


                                                   Kelahiran dan kematian
                                             Oleh:   Farsijana Adeney-Risakotta

Saya hari ini 47 tahun.  Penjumlahan 4 dan 7 adalah 11. Tanggal 11 adalah tanggal yang penting dalam hidup saya. Dulu ketika ayahanda meninggal pada tanggal 11 Oktober 1989, saya tahu tanggal 11 adalah hari kelahiran sekaligus hari kematian yang selalu akan saya ingat dalam hidup ini. 23 tahun kemudian, saat ini, pada tanggal 11 Februari 2012, saya benar-benar merasakan kematian sesudah adik terkasih, John Franklin Christian Risakotta meninggal dengan mendadak pada hari Senin Kliwon tanggal 6 Februari 2012. Mungkin benar apa yang dikatakan Firman: "..dan hari kematian lebih baik dari pada hari kelahiran" (Pengkhotbah 7:1b).

John mengatakan kepada istrinya, Titik Lestari, bahwa mereka akan membeli hadiah dan memberikan kepada saya di HUT ini. Minggu ini kami sekeluarga telah menerima hadiah yang paling termanis dari adik John. Ia meninggalkan mukanya yang tersenyum, dalam tidur yang nyenyak, seolah sedang menikmatinya kemudian akan bangun. John memberikan hadiah yang paling penting dalam hidup saya. 

Kematian adalah milik Tuhan, Allah, sang Pencipta. Manusia ketika dilahirkan, ia sudah menerima tanda sekaligus waktu yang tepat untuk dipanggil pulang kepadaNya. Tidak ada seorangpun mengerti kapan waktunya tiba, hanya Allah yang tahu. Hari kelahiran dan kematian tidak bisa satu orangpun menawarkannya. Mempersiapkannya dengan baik adalah cara manusia menghadapinya sehingga menjadi tenang dan damai.

Suami saya, pak Bernie menulis refleksinya dalam surat tentang “How do People Die in Indonesia?” (lihat <farsidarasjana.blogspot.com>, yang menjelaskan tentang kronologis kematian adik John. Pak Bernie ditelpon pulang dari UGM untuk menolong membawa adik John ke Rumah Sakit, sesudah ia ditemukan pingsan oleh isteri dan saudara/I lainnya di kamar mandi. Ia membuat napas buatan kepada adik John sebelum membawanya ke RS. Saya tiba di RS Panti Rapih sesudah dari Kementrian Hukum dan HAM, mendapatkan adik saya sudah tak bernyawa. Pak Bernie merasa napas buatannya memberikan kehangatan kepada John tetapi itu bukan napas dari John sendiri. Ia sudah meninggal sebelum dibawa ke RS Panti Rapih.

Semua orang kaget, shock! Bagaimana kejadian ini bisa terjadi, sementara di pagi hari ini masih sehat. Adik John menggantikan ban yang kempes dari saudara ipar perempuannya, Vina. Kemudian bercanda dengan Syalom, sebelum membantu bu Pronti mencuci semua barang cucian di dapur ketika ia akan membersihkan tangannya sendiri. Sebelum pergi mandi ia menjumpai isterinya  meminta dicium dan dipeluk. Isterinya menemukan kemudian suaminya sudah jatuh terbaring di kamar mandi.

Kematian seperti misteri datang menjemput adik John.  Manusia takut meninggal sendirian. Tetapi dari peristiwa kematian adik John, saya belajar tentang perjalanan seorang anak manusia bersama dengan Sang Pencipta. Kami dan semua pelayat lainnya hampir tidak bisa bayangkan bagaimana mukanya yang begitu tenang diwariskan kepada kami. Tanpa sedikitpun kepanikan, sebagaimana nampak pada wajahnya. Saya bayangkan ia berjalan menuju kepada Sang Pencipta dengan penuh kebahagiaan.  Pelayat muslim sambil menyalami  kami kemudian sesudah memandang wajahnya yang damai mengatakan: "Ia meninggal dalam khusnul khotimah". 

Kami tidak tahu penyebab kematiannya. Ia ditemukan dalam keadaan sudah mandi tetapi belum sempurna menggunakan celana dalamnya.  Celana baru dimasukan separuh pada kaki kanannya sedang bagian kaki kiri celananya sudah hampir terpasang sempurna.  Seperti dalam tulisan “How do People Die in Indonesia?”, suami saya menduga jantung adik John tiba-tiba berhenti.  

Saya bayangkan adik John  kaget dengan kejadian tersebut. Tetapi dalam situasi kritis itulah ia berpegang pada tangan Allah. Ia sendiri dengan Sang Pencipta bergumul. Ia ditemukan tak bernyawa di kamar mandi. Persis ketika ayahanda menghembuskan napasnya, ia juga meninggal ketika tidak seorangpun berada di kamar. Ia meninggal dalam keadaan tidur. Vina, adik ipar saya mengatakan: "Kak John dilahirkan telanjang dan pergi juga dalam keadaan telanjang".

John menikah dengan Elizabeth Titik Lestari di hari ulang tahunnya yang ke 42 pada tanggal 10 November 2011. Ia bertunangan di hari ulang tahun Titik, pada tanggal 24 April 2010. Mereka mempersiapkan pernikahannya hampir 7 bulan. Saya ingat meja marbel bundar di ruang keluar di rumah kami, setiap bulan diletakan satu keranjang berisi keperluan pernikahan mereka sampai akhirnya mejanya penuh. Kami memberikan hadiah hari ulang tahun kepada adik John yaitu pesta pernikahannya. Ia rindu menikah dan ia memperolehnya. Sesudah menikah hampir 3 bulan Tuhan memanggil adik John kembali ke rumahNya.

John menyerahkan dirinya kepada Allah. Titik pernah bertanya kepada John bagaimana ia mengatasi ketakutan dari akibat tugas-tugas yang menghendakinya harus pulang rumah malam, atau berada di jalan raya, membawa motor, mobil atau truk. John mengatakan ia tidak takut karena ia berjalan bersama Allah. Mazmur 23 adalah bacaan dari Alkitab yang selalu John nyanyikan. Liriknya adalah firman Tuhan yang berbunyi begini:

“Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.
Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau,
Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku.
Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena namaNya.
Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya,
Sebab Engkau besertaku;
gadaMu dan tongkatMu, itulah yang menghibur aku.."

Adik John sudah dibaringkan ditidurkan dengan sangat nyenyak. Ia tidur dalam tangan Allah. Yesus mengatakan, Aku adalah kebangkitan dan kehidupan, barangsiapa yang percaya kepadaKu ia akan hidup selama-lamanya. Adik John meninggalkan wajahnya yang tenang dan damai untuk kami semua tahu bahwa di Sorga, di tempat Tuhan berdiam ada keindahan dan kehidupan selamanya. Kita tidak perlu takut terhadap kematian karena hidup dan mati adalah dalam tanganNya sendiri.

Rumah John dekat dengan rumah kami. Setiap hari kami ke sana membasahi makamnya. Pak Muji, seorang modin di mesjid Istiqomah yang adalah tetangga kami, mengatakan rumah adik John bersih. Katanya: "Tidak ada satupun krikil ketika mereka menggalinya".  Orang-orang melihat tanda untuk menguatkan diri mereka sendiri tentang jalan yang baik yang harusnya seorang manusia mengakhir hidupnya. Bumipun menerima adik John kembali keharibaan Sang Pencipta. Perjalanan kematian adik John mengagetkan untuk kami tetapi tidak untuk dirinya sendiri sehingga kematiannya malahan memberikan terang tentang jalan menuju ke rumah Bapa.

Hari ini hujan lebat di Yogya, kami membawa bunga tabur kepada John. Mawar merah putih menghiasi makamnya, menjelaskan tentang warna keberanian dan kesucian, kepolosan hati John terdalam. Hati yang berserah kepada Allah, hati yang mengikuti jalan Yesus, yang harus mati supaya ada kebangkitan kepada kehidupan yang kekal.

Terima kasih adik John untuk hadiah terindah yang hendak diberikan kepada saya.  Sebelum petinya ditutup saya katakan saya belum pernah melihat dirinya yang begitu gagah dalam ketenangan dan kedamaian. Penampilan yang sangat terbaik dari adik John seumur hidupnya, ternyata ketika ia dipanggil pulang ke rumah Allah. Imannya yang mendalam mengajarkan tentang penyerahan diri seutuhnya kepada sang Pencipta.  Terima kasih Tuhan Yesus untuk keindahan dari kesempatan yang diberikan kepada kami bisa hidup bersama John selama lebih dari 5 tahun di Pondok Tali Rasa. Engkau Tuhan telah membuatnya begitu indah, kuat sekaligus lembut berjalan dalam dunia ini dan menuju pulang ke rumah Bapa, sang Pencipta.

Kemarin pagi, tanggal 10 Februari sekitar jam 6, kami semua melihat pelangi melintasi desa Karanggayam.  Saya belum pernah melihat pelangi di Karanggayam kecuali Helio. Tanda harapan diberikan Allah kepada kami supaya kami semua mengiklaskan kepergian John. Istrinya merumuskan ulang RIP yang dalam bahasa Inggeris berarti Rest in Peace, diterjemahkan dalam bahasanya “Relakan Ia Pergi”.  Kami semua merelakan adik John kembali kepadaMu  Allah. Kami percaya Engkau tahu yang terbaik untuk John dan kami sudah melihat kesaksian diri dari John. Ia menemukan Tuhan dalam perjalanannya pulang. Seolah-olah dalam tidurnya ia tampil penuh damai dan sedang memberitahu kami semua tentang keindahan dan kekuasaan Tuhan yang mengambilnya pulang. Mukanya yang damai adalah berita suka cita untuk semua yang datang mengantarkannya pulang.

Di pagi hari ini, 11 Februari 2012, dalam doa saya, dan pembacaan firman, saya melihat adik John datang mengecup pipi saya. Ia berpakaian putih, matanya tersenyum dan tanpa kata-kata saya dikecup kemudian ia pergi. Terima kasih John untuk kelembutanmu. Semangatmu akan diwariskan kepada banyak orang di sekitar kami. Selamat jalan adikku terkasih.

Jumat, 30 Desember 2011

MENARASIKAN TINDAKAN DI TAHUN 2011


Menarasikan tindakan di tahun 2011
Oleh: Farsijana Adeney-Risakotta*)

Tindakan adalah perbuatan untuk mengalami  perasaan dan kesadaran dari apa yang dipikirkan, apa yang dirasakan, apa yang diinginkan dan apa pernah dialami. Tindakan bukanlah semata-mata suatu pengalaman. Sebagai perbuatan yang dilakukan dalam kesadaran, tindakan bisa terasa bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga di sekitar diri kita. Gambaran visualisasi tindakan bisa dijelaskan seperti lemparan batu yang tenggelam  dalam genangan air sesudah meninggalkan efek getaran melingkar memutar yang melebar keluar dari pusaran ke pinggiran. 

Tindakan meninggalkan efek sensasi dalam kesadaran diri yang bisa membekas menjadi ingatan untuk setiap saat dapat tampil kembali dalam perjumpaan sentuhan jaringan kenangan yang hampir mirip. Tindakan bisa merindukan tetapi juga dapat mendorong pada amnesia, upaya untuk melupakan karena perbuatan yang terjadi menimbulkan kesakitan mendalam pada diri sendiri.

Menarasikan tindakan bisa menjadi pilihan yang paling bijaksana untuk mendewasakan diri sendiri sehingga mampu menerima dalam ketabahan dampak perbuatan yang membekas baik sebagai sensasi kebahagiaan maupun kesakitan.  Narasi dan tindakan seperti satu kepingan uang berwajah dua. Tindakan bisa memanipulasi kebenaran yang dipercayai dalam diri ketika diupayakan suatu penjelasan untuk menguraikan perbuatan yang terjadi. Tindakan sulit ditipu kecuali dalam cara penuturannya kembali untuk menjelaskan perbuatan yang dilakukan. 

Saya ingin menyederhanakan dialog dalam diri tentang tarikan narasi dan tindakan.  Setidaknya narasi yang sedang diupayakan ini bukan suatu kajian akademik yang rumit. Narasi yang sedang dibiarkan mengalir saat ini adalah upaya menuturkan kembali jejak-jejak perbuatan yang akan ditinggalkan dalam kenangan tahun 2011. Ketika narasi terbentuk, ingatan membangunkan kekuatan sejarah diri dari suatu peristiwa perbuatan yang patut dihargai diterima karena ia sudah pernah dilahirkan sebagai bagian dari diri sendiri. Ia bahkan bersejarah dalam ingatan bersama sebagai komunitas.

Cinta sudah sangat kuat menjadikan diri sendiri ingin hidup terus dalam kemudaan kebahagiaan jejak-jejak perbuatan yang menggembirakan diri dan sesama.  Pesona cinta adalah bagian dari rahasia pengetahuan semesta. Inilah yang hendak saya ukirkan dalam tahun 2011. Cinta adalah kehidupan yang berbagi dengan sesama. Bukan karena saya seorang perempuan, sehingga rela memilih untuk mendahulukan cinta dalam hati. Getaran cinta telah dipancarkan oleh semesta raya, diberikan kepada diri saya untuk menyentuhnya dengan tampilan yang terus bergerak mengubah. 

Cinta membiduk perahu kehidupan diri berlayar dalam badai, ketersesatan arah, sebelumnya tiba dilabuhan yang pernah ditargetkannya. Perhitungan perjalanan dipikirkan matang-matang, strategi diturunkan seperti anak tangga dibentangkan menitik jalan pencapaian.  Tetapi cinta mengajarkan kelapangan tangan membuka untuk menyerahkan perjalanan dalam tangan Sang Pencipta dan semesta raya.

Ada banyak yang dilakukan karena cinta. Cinta pengetahuan untuk berbagi seperti membagikan napas hidup sesudah menerima ruang untuk bernapas mendalam.  Ada banyak yang belum bisa dilakukan sekalipun cinta menguat untuk berbagi. Cinta menolong menepiskan rasa frustasi.  Sesama manusia adalah mereka, bukan diri saya sendiri. Saya mensyukuri kesempatan untuk mengalami tindakan kehidupan yang terpancar dari setiap perjumpaan saya dengan mereka yang berada di berbagai tempat di mana saya datang menjumpainya.

Mereka ada di sekitar tempat tidur saya, di ruang makan, di dapur. Mereka ada di mulut jalan dan sepanjang lintasan jalan ketika saya jogging. Mereka memberikan inspirasi tentang kehidupan. Mereka ada di kereta api, di pesawat, di  bus, di kapal, di mobil pribadi. Mereka ada di mana-mana. Mereka mungkin jarang bertanya tetapi ekspresi muka, tatapan matanya, gerakan tubuhnya, dan ketika suaranya terpecah, mereka berkata-kata, saya terngangah. Dari mata seolah-olah mereka sedang berada dalam pesta, atau mereka sedang memikul batu nisan. Mereka dijumpai di pelosok pedesaan di Kulon Progo, Gunung Kidul, Sleman, Bantul dan Kota Yogya. Mereka menanti saya dengan ketulusan diri yang menyentuh mendalam membawa pulang kembali ke rumah diri.
 
Kehidupan dari cinta membuka misteri diri mengeliat menyusuri lorong gelap tak terumuskan dalam makna mengubah dirinya menjadi pengertian yang mengherani diri sendiri. Cinta memastikan kehidupan bukan sekedar panggung sandiwara. Kehidupan adalah pergolakan pergulatan pergeliatan pembebasan cinta mengubah dunia menjadi bahagia supaya bisa tertidur menyenyak.

Mungkin karena diri saya bergolak dengan kerja fisik, menolong seseorang bukan hanya dengan kata-kata himbauan, tetapi melakukan tindakan yang dapat diingat bersama sebagai proses kerja akal budi. Mungkin karena konsistensi gerakan tubuh sebagai tanda kepedulian dari tindakan cinta, sebelum terlalu malam saya sudah tertidur terlelap. 

Kecapaian seharian menggunakan akal, otot dan budi untuk menghadirkan kehidupan, mengubahnya menjadi tindakan yang menggelora dari angan-angan yang dimimpikan. Saya sudah tertidur dengan getaran ingatan tentang keluasan perbuatan yang terjadi sebelum rumusan narasi terbentuk.  Ada banyak bolong-bolong hari-hari tanpa narasi walaupun tindakan terus terukir dalam derap langkah dan pengalaman yang dibuat bersama dengan berbagai orang dan kelompok.

Kesakitan sesama, kematian, kemiskinan mereka, kepapahannya memilukan diri sendiri yang membawa semuanya dalam rasa capek mendalam sehingga tertidur memulas sambil mendengungkan narasi dalam rasa diri. Sudah saya syukur tahun 2011 sehingga sekarang saya dipenghujungnya.  Sudah saya serahkan diri semua tindakan diri diselimuti dalam kebajikan tahun 2011. Sudah saya upayakan supaya gerakan kehidupan yang kuat dalam diri ditularkan memancar mengena seperti lingkaran lemparan batu meninggal dalam bekasnya di permukaan air.  

Efek putarannya belum terlalu kuat terasa, sebaiknya diakui saja. Keprihatinan bangsa terhadap kemiskinan, kekayaan, korupsi, tingkat bunuh diri, kekerasan HAM  di berbagai daerah, keprihatinan HIV/Aids masih meninggalkan kegelisahan diri secara intelektual maupun kemanusiaan.  Memikirkan ulang cara terbaik untuk merespons semua penderitaan bersama sebagai bangsa, menjadikan pekerjaan rumah yang masih terus harus dilanjutkan di tahun 2012.

Sendiri saja mengubah dunia adalah kesia-siaan. Sudah saya akui kebenaran itu sehingga membangun gerakan meluas menyentuh mereka yang perlu. Ketika mahasiswi-mahasiswi membawa anak bayinya ke kelas, anaknya bermain dengan ibunya yang sudah selesai presentasi tugas, saya terhidup bahwa mereka tetap memberikan keseimbangan kepada dirinya dan anaknya. Semuanya terjadi dalam kelas saya. Ketika seorang bapak mengambil peran membuat minuman sementara isterinya sedang berbincang-bincang dengan saya dan teman lainnya, makin jelas tentang perjuangan kami kaum perempuan adalah bagian dari kehidupan bersama kaum lelaki.

Ketika anak-anak mementaskan karya tarian mereka membayangkan dunia para dewa dewi sedang menetes dalam dirinya sendiri. Keindahan sebagai impian putri keraton ternyata juga adalah tindakan dari perbuatan bersama yang menghadirkan impian anak-anak sederhana dari keluarga di desa yang sehari-hari berlumpuran di sawah. Tampil anggun, perkasa, mereka juga adalah putri-putri kehidupan yang menjadikan rekaman tindakan tahun 2011 mengngayakan. 

Bersama mereka kita telah berjalan sejauh perbukitan di pantai selatan, di daerah ziarah untuk meletakan jejak penemuan dirinya sendiri. Kupandangi sekarang semuanya dengan syukur, kalau hal itu bisa terjadi sekalipun dalam kesederhanaan alam semesta. Mereka sudah mengerti cara menjejaki dirinya.

Duduk bersama dengan kolega dan mahasiswa-mahasiswi di akhir perkuliahan pada meja bundar di ruang makan keluarga. Pertanyaan tetap penting, tetapi yang paling penting adalah tindakan kepedulian kepada mereka tentang jalan yang pernah saya juga tempuh. Pertanyaan bukanlah suatu pembantaian! Pertanyaan untuk mendorong mereka menemukan pertanyaannya sendiri. Bisakah dilakukan sambil menikmati masakan saya? 

Inilah yang saya syukuri! Pengetahuan tidak cukup hanya sebagai pengetahuan, ia bisa diubah menjadi makanan yang enak untuk dibagikan bersama. Pengetahuan adalah keinginan dialogis mendalami pertanyaan yang bisa dijawab melalui cara memproses yang unik seperti sharing sambil menikmati santapan bareng. Saya membagikannya dengan keluarga, mahasiswa/I, teman-teman gerakan, kolega. Saya bahagia.

Dalam tradisi Kristiani, Yesus mengubah air menjadi anggur pada pernikahan di Kana.  Sesudah persiapan 9 bulan, di bulan November tanggal 10 tahun 2011, keajaiban terjadi. Saya dengan keluarga bisa memasak kepada tamu-tamu dalam pernikahan adik. Termasuk menyajikan menu bakso yang kemudian menjadi titik awal usaha mereka. Sekarang Bakso Obama sudah memasuki usia sebulan. Obama dalam bahasa Jawa punya singkatan seperti ini: ora obah ora mangan, tidak bekerja tidak makan. Pernikahan selalu menghadirkan keajaiban kepada diri sendiri dan semua orang yang datang mensyukurinya.

Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan ke-14 tahun saya dengan suami. Kami semua makin menua. Bumi lebih tua tetapi tetap memelihara kehidupan. Bumi adalah inspirasi dari kehidupan yang mengairahkan diri mencapai komitmen bersama di tahun-tahun mendatang. Biarlah saya diberikan melihat mentari dalam keajaibannya. Saya sudah diberikan kesempatan oleh semesta raya. Ketika terlalu banyak kelabu, awan di musim penghujan. Keajaiban semesta terjadi di sore tanggal 28-12-2012 ketika mentari sore membentuk payudara terbalik tampil di batas horizon di lautan selatan yang bisa ditatapi dari Pondok Jati Rasa. Keajaiban dan keabadiannya  saya bagikan kepada jejaring saya di Facebook. Ibu bumi ilahi sedang menyusui semesta raya.

Tetapi haruskah narasi payudara ilahi diperbesar-besar dengan menafsir tentang apa maknanya? Mungkin alam semesta hendak berbicara kepada saya supaya meniru lakunya yang terus merawat bumi.  Bencana kapan saja bisa terjadi dalam hidup manusia. Perempuan adalah sosok yang sudah siap untuk menjadi tiang penghiburan dan perawatan bagi keluarga dan masyarakat.  Merawat anak-anak saya! Mereka yang tersebar di mana-mana, mereka anak-anak kehidupan!  Mungkin itu yang bisa saya simpulkan menutup narasi tahun ini. Setiap tiang bisa berbeda bentuk, dalam keindahan dan kekuatannya.  Jadi inikah sebabnya saya berbahagia?  Saya bahagia! Terpujilah Allah semesta raya.

*) seorang aktivis akar rumput, antropolog dan teolog tinggal di Yogyakarta