Translate

Senin, 25 Juli 2011

Anak-anak Tanoker Ledokombo untuk Indonesiaku Indonesiamu Indonesia untuk semua

Anak-anak Tanoker Ledokombo untuk Indonesiaku Indonesiamu Indonesia untuk semua
Oleh: Farsijana Adeney-Risakotta

Sebelum ke Ledokombo, saya membayangkan suasana pedesaan seperti di Yogyakarta. Topografi Ledokombo mengombinasikan kelimpahan dari alam mendatar seperti di Bantul, dengan kelimpahan air seperti di Sleman, dan perbukitan seperti di Kulon Progo dan Gunung Kidul. Ledokombo menampilkan berbagai kombinasi keberuntungan alam yang indah, subur dan berlimpah dengan air. Perbukitan di Gunung Kidul dan Kulon Progo indah dan subur di musim hujan, tetapi ketika kemarau tiba menjadi kering keronta. Pada saat itu, masyarakat akan menjual binatang piaraannya seperti kambing untuk membeli air supaya bisa hidup selama masa paceklik.

Ledokombo di ujung utara dari kabupaten Jember yang terkenal dengan perkebunan tembakau.Karena daerahnya yang berbukitan, kebanyakan masyarakat di Ledokombo menanam tembakau daripada padi. Tembakau adalah tanaman warisan penjajahan Belanda. Kelimpahan air tidak sendirinya mencerminkan kemakmuran rakyat Ledokombo. Di sini ternyata banyak penduduk yang bekerja sebagai buruh tani. Seperti di Yogyakarta, di Bantul, banyak petani juga adalah buruh tani. Lahan pertanian mereka sudah terbagi-bagi sebagai bagian dari pewarisan. Tanah menyempit untuk bertani. Berhadapan dengan dilema penimpisan pemilikan lahan pertanian, petani di Yogya, seperti di Bantul cenderung bekerja ganda sebagai buruh bangunan sambil menunggu musim panen tiba. Petani dari Kulon Progo bahkan sesudah musim tanam akan memilih tinggal di kota Yogyakarta sebagai pemulung dari pada di desa tanpa pekerjaan.

Kesan yang sama terlihat di Ledokombo. Keterbatasan tanah pertanian menyebabkan warga melakukan migrasi ke Bali, terutama kaum lelaki untuk bekerja sebagai buruh bangunan dan pekerja lainnya. Sementara hampir sebagian besar perempuan memilih menjadi TKI ke luar negeri. Desy, gadis cilik yang cantik dan cerdas, yang memberikan nama tante Neli artinya tante nenek lincah kepada mba Julia Suryakusuma, harus berpisah dengan ibundanya karena pekerjaannya sebagai TKI ke Arab Saudi. Desy berumur 12 tahun sehari-hari adalah anggota komunitas belajar di Tanoker, Ledokombo.

Sukarelawan yang mengajar Desy dan teman-temannya, seperti mas Faruq adalah sarjana jebolan Universitas Jember fakultas Ilmu Pendidikan. Sayangnya ia bernasib sama dengan hampir semua lulusan universitas, yang harus bersaing untuk mendapat pekerjaan di sekitar Jawa Timur. Mas Faruq adalah seorang guru madrasah yang dibayar setiap bulan kurang lebih Rp 100.000.- Rendahnya bayaran kepada seorang sarjana seperti mas Faruq karena terkena berbagai potongan mulai dari kabupaten, kecamatan sampai dengan di desa. Tetapi mas Faruq masih beruntung, karena ada sekitar 8000 luluasan PT yang tahun ini berlomba untuk ujian PNS yang hanya menerima sekitar 100 orang.

Inilah wajah Ledokombo di kabupaten Jember yang mempunyai Universitas Jember ternyata masih menimbulkan persoalan kepada masyarakat sendiri. Ketersediaan Universitas belum menyelesaikan masalah banyaknya pengangguran terdidik di daerah ini. Keterbatasan lahan pertanian menyebabkan pilihan keluar daerah menjadi alternatif yang paling menjanjikan. Keluarga-keluarga yang dulu utuh mulai terpisah. Anak-anak dibesarkan oleh seorang ayah, atau seorang ibu dengan ditemanin oleh nenek dan kakek. Ciri khas keluarga besar yang tinggal bersama mulai berubah menjadi keluarga-keluarga atom, yaitu keluarga yang terpecah-pecah.

Di dalam konteks masyarakat pedesaan bercirikan keluarga-keluarga atom inilah mba Ciciek Farha dan mas Supoharjo dipanggil pulang ke Ledokombo. Ibunda mas Supo semakin menua. Sebagai anak tunggal muncul tanggungjawab merawat ibunda yang mencintai tanah kelahirannya di mana air sungai mengalir di kebun belakang rumahnya. Saya menikmati mandi dari pancuran di hari panas sesudah tiba di Ledokombo. Pancuran alam meninggalkan kesan kehidupan bersahaja masyarakat yang jauh dari penggambaran UU pornografi dan pornoaksi dimana lelaki dan perempuan bukan dari satu keluarga bisa mandi dari masing-masing akses sumber air yang mengalir. Di desa yang berlimpah air, ditemanin oleh Moksha dan Nezo, kedua anak lelaki mba Ciciek dan mas Supo, mereka sekarang sesudah dua tahun mulai membawa harapan baru kepada masyarakat di sana.

Tanoker adalah kelompok belajar untuk anak-anak. Kata "tanoker" berasal dari bahasa Madura yang berarti kepompong. Banyaknya orang Madura dan Jawa yang tinggal di Jember menghasilkan perpaduan budaya yang menarik, yang disebut Pendalungan dengan tampilan bahasa dan keseniannya yang sangat khas. Kekhasan inilah yang hendak dilestarikan oleh kelompok belajar Tanoker. Di tanoker, selain anak-anak belajar, mereka juga bermain bersama. Moksha ketika masih di Jakarta, menjalani pendidikan di rumah. Home schooling yang dibimbing oleh kedua orang tuanya, mba Ciciek dan mas Supo, bisa bersaing dengan anak-anak lainnya. Moksha sekarang kembali ke sekolah di kelas I SMU. Tetapi semangat dari pola belajar mandiri membentuknya menjadi pemimpin sehingga bisa mengorganiser kegiatan belajar Tanoker. Anak-anak di sekitar desa Ledokombo bahkan dari desa-desa terdekat bergabung dengan kelompok Tanoker.

Ada sekitar 200 anak yang terkabung dengan Tanoker. Mereka bertemu rutin untuk belajar berbagai materi tambahan dari sekolah sambil menari. Pada festival anak nasional di Jember tahun lalu, 2010 anak-anak Tanoker keluar sebagai pemenang juara umum untuk semua jenis pertandingan. Keberhasilan anak-anak Tanoker ini mulai menarik perhatian seorang mahasiswa sosiologi dari Universitas Brawijaya untuk meneliti dampak perubahan sosial yang sedang terjadi di sini.

Bunyi-bunyi patahan bambu dan kayu menghentak berirama. Tanah seolah-olah hendak terbuka memberikan kembali kelimpahan yang ada dibalik rerumputan. Kelincahan kaki dan kekuatan ketegapan kaki menampilan ketrampilan tarian egrang yang sangat dinamis. Anak-anak ini adalah anak-anak yang rata-rata terlahir dari keluarga Indonesia masa kini. Pekerjaan menjadi masalah, sehingga orang tua terpisah dan meninggalkan keluarganya untuk mencari sesuap roti. Tanoker memberikan harapan dan cinta kasih kepada anak-anak ini. Yoga, seorang anak SD yang kekar, kalau sedang menari egrang mengingatkan saya kepada penampilan Hanoman, sang monyet sakti, tetapi ini adalah Hanoman ala Ledokombo. Kira-kira berumur 7 tahun dari muka Yoga terpancar kharisma keteguhan hatinya. Yoga ingin mengubah masa depan anak-anak di Ledokombo.

Karena anak-anak inilah, saya memutuskan ke Ledokombo. Festival Egrang kedua 2011 diikuti oleh 47 peserta kelompok anak-anak di seluruh kecamatan Ledokombo. Mba Ciciek dan mas Supo mulai sedikit lega ketika melihat perhatian pemerintah untuk mempertimbangkan egrang sebagai bagian dari kurikulum sekolah. Keterlibatan anak-anak dari berbagai sekolah mewarnai kompetisi yang berlangsung dengan meriah. Sebagai seorang juri, bersama dengan teman-teman lain, seperti mba Julia Suryakusuma, Columinst Jakarta Post, Emma Baulch dari Australia National University, Yati Kaprawi dari Malaysia, saya menikmati kegerakan kebangkitan harapan dari anak-anak ini (Koran Surya Minggu, 24 Juli 2011, hal.6)

Mereka adalah anak-anak yang akan mengubah Indonesia. Mereka akan memberikan inspirasi bagi anak-anak lain di seluruh Indonesia. Mereka juga bahkan akan menyatukan orang tuanya yang berpisah, dan masyarakatnya yang terpecah-pecah karena garis politik dan aliran agama yang berbeda-beda.

Ketika saya menulis catatan tentang mereka, saya terikat bersama dengan mereka naik truk, barengan dengan mba Ciciek menemani anak-anak untuk membawa mereka pentas di kantor Kabupaten. Di sinilah mereka mempresentasikan tarian egrang yang sebelumnya dipentaskan di lapangan kecamatan Ledokombo pada tanggal 23 Juli, tetapi pada tanggal 24 Juli sebelum Jember Fashion Carnaval berlangsung, anak-anak menari di hadapan bupati, Akbar Tanjung, Nina Akbar Tanjung dan ibu-ibu dan bapak-bapak dari WWI (yayasan Warna Warni).

Mey sedang dirias dan di belakangnya berdiri Desy memang tulisan berjudul Jember Jiwaku


Anak-anak inilah yang telah merebut hati Mey, anak dari Prof Emma yang ingin berdandan seperti penari-penari perempuan cilik. Jadi di atas truk ketika sedang berjalan, saya mengabadikan ketenangan seorang anak Australia yang membiarkan mukanya dirias oleh seorang ibu dari Ledokombo. Inilah bukti persahabatan antar bangsa yang terbangun dari ketulusan anak-anak Ledokombo. Mengingat mereka, mengingat anak-anak saya yang ada di mana-mana, kepada mereka saya ingin menulis dan bekerja untuk Indonesia. Terima kasih mba Ciciek dan mas Supo yang mendorong saya memasuki keindahan kehidupan di sana. Persahabatan dan persaudaraan kita menguatkan perjalanan bersama melayani untuk semua, Indonesiaku, Indonesiamu, Indonesia untuk semua.

Selasa, 19 Juli 2011

Tudung kepala dan penerusan pergerakan perempuan

Tudung kepala dan penerusan pergerakan perempuan
Oleh Farsijana Adeney-Risakotta*)

Koalisi Perempuan Indonesia bukan pondok pesantren di mana para santri putri tinggal bareng-bareng. Tetapi selama 10 hari kami tinggal bersama di sini, mungkin mirip seperti tinggal di pesantren. Pendidikan Kader Lanjutan bukan sekolah. Sepuluh hari hidup bersama teman-teman memberikan pengalaman lain bagi saya. Hidup bersama perempuan menyatukan kami semua tanpa perbedaan kelas, latar belakang pendidikan dan pengalaman. Ini pengalaman pertama berkamar dengan dua teman Muslim dari Aceh dan Nusa Tenggara Barat.

Menuliskan tentang pengalaman perempuan merupakan titik berangkat membangun kesadaran siapakah seorang perempuan. Umur saya 46 tahun. Kesadaran tentang eksistensi keperempuaan makin menggetarkan dalam hidup saya sesudah menyaksikan tentang kekerasan massa di tahun 1999 sd 2003 dalam perang saudara di Maluku yang memisahkan warga berdasarkan agamanya. Ketika itu, perempuan yang biasanya menggunakan tutup kepala sebagai tradisi yang lazim ditemukan di pedesaan Maluku harus bersedia melepaskan tradisinya ini.

Perempuan-perempuan Kristiani diteror apabila mereka mengenakan tutup kepalanya, mereka akan ditembak oleh penembak gelap. Pengalaman ini sangat mendalam mempengaruhi perubahan arah perjuangan saya. Saya berjanji untuk diri sendiri bahwa saya akan selalu bersama perempuan.

Kekuatan militer menjadikan perempuan Kristiani takut dan mengubah kebiasaannya untuk menutupi kepalanya. Hanya perempuan-perempuan Muslim yang dibolehkan untuk meneruskan tradisinya karena dianggap sebagai bagian dari ibadah.

Intervensi militer terhadap tubuh perempuan menyusup bersama dalam ajaran agama. Upaya memecahkan kesatuan masyarakat dari tradisi terjadi ketika tubuh perempuan dipandang sebagai sarana identitas berbasis agama. Peristiwa kekerasan di Maluku menampilkan kepada saya suatu gambaran tentang intervensi negara terhadap pengubahan cara ekspresi perempuan.

Tiba pada kenyataan ini saya kemudian memutuskan untuk menggunakan tutup kepala supaya mendorong perempuan-perempuan kristiani kembali melakukan kebiasaannya. Sekitar 7 tahun gerakan menutup kepala saya lakukan dalam solidaritas dengan perempuan-perempuan korban perang di Maluku.

Keputusan saya menggunakan tutup kepala ternyata juga tidak mudah. Perempuan-perempuan Kristiani menunjukkan keprihatinan mereka karena keberanian saya memasuki wilayah mereka sambil menggenakan tutup kepala. Tutup kepala itu bukan jilbab. Tetapi konstruksi militer yang sudah terbangun dalam masyarakat bahwa seorang yang menutup kepalanya adalah seorang Muslim ternyata harus berhadapan dengan saya.

Kunjungan-kunjungan saya ke kampung-kampung Kristiani dicurigai sebagai seorang Muslim yang sedang menyusup. Saya pernah ditahan untuk dimintai keterangan tentang identitas saya ketika saya memasuki satu desa di pulau Ambon di propinsi Maluku. Mereka ingin memastikan tentang siapakah perempuan bertudung itu?

Bertudung kepala merupakan strategi awal membangun pergerakan saya tentang menjadi seorang Indonesia. Indonesia saat ini adalah Indonesia tentang kebangsaan. Reformasi membawa kebebasan meraih keadilan dan demokrasi bagi Indonesia, tetapi pada saat yang sama Indonesia ternyata terikat dengan kenyataan-kenyataan pemisahan yang dengan sengaja dibentuk dalam negara.

Pemisahan warga masyarakat termasuk pembentukan identitas perempuan dari apa yang digunakannya merupakan proses reduksi yang sedang terjadi dalam politik Indonesia saat ini. Saya merefleksikan titik awal pergerakan saya dengan pengalaman belajar bersama selama hampir 10 hari. Kesempatan hidup bersama dengan teman-teman saya yang Muslim membangun keyakinan saya tentang solidaritas mendalam yang dapat dikembangkan karena kita bersama ingin pengalaman tersebut ada.

Salah satu pengalaman yang selalu akan saya kenang adalah ucapan akrab dari bu Khaidir setiap kali memasuki kamar kami. Saya biasanya ada di kamar sedang membaca atau mengetik ketika bu Khaidir mengatakan “assalamailakum”. Saya membalas: “walaikum salam”. Kemudian kami mendiskusikan tentang apa yang pernah saya dengar tentang larangan mengucapkan kalimat assalamailakum kepada seorang non Muslim.

Saya menanyakan mengapa bu Khaidir menyapa saya dengan itu, padahal saya seorang Kristiani. Jawabannya sungguh mengharukan hati saya. Bu Khaidir mengatakan bahwa ia menyapa saya karena saya seorang sahabatnya. Tinggal satu kamar membuat ia merasa saya seperti saudarinya. Kalimat “assalaimailakum” merupakan kalimat yang dekat di hatinya. Menyapanya kepada saya adalah suatu rahmat kepada dirinya sendiri.

Pengalaman membuat kita berbicara melintasi kata-kata. Pengalaman mendorong kita melintasi sekat ciptaan manusia dan negara. Pengalaman feminis ini adalah keinginan kami semua untuk melepaskan sekat-sekat perbedaan yang ada pada kami. Negara bisa memisahkan warganya. Agama mengisolasikan umat dari sesamanya. Tetapi saya percaya visi bersama yang mengalir dalam semangat Koalisi Perempuan Indonesia menyatukan kita semua. Terima kasih banyak sahabat-sahabat saya.

*) blogger tiga blog, Farsidarasjana, a cliff house in java dan empowering women transforming myself

Senin, 20 Juni 2011

Lokakarya Kepemimpinan Transformatif Perempuan Parlemen, Yogya Plassa Hotel, 23-25 Juli 2011. Penyelenggara Koalisi Perempuan Indonesia dan Search for Common Ground

Term of Reference
“Lokakarya Kepemimpinan Transformatif Perempuan Parlemen “
Oleh: Farsijana Adeney-Risakotta

I. Latar Belakang

Era Reformasi membuka pintu selebar-lebarnya kepada perempuan Indonesia untuk berpartisipasi dalam pembangunan nasional. Dimulai dengan penerbitan Inpres no 9 tahun 2000, tentang pengarusutamaan jender dalam pembangunan telah menginspirasikan berbagai produk UU yang terkait dengan peran perempuan dalam politik negara. Undang-undang nomor 12 tahun 2003 tentang Pemilu pasal 65 ayat 65 berisi pencalonan 30% perempuan sebagai calon anggota legislatif dan UU no 12 tahun 2008 tentang Pemilihan DPR, DPRD dan DPD memberikan dukungan terhadap pemunculan pemimpin perempuan di Indonesia. UU 12 tahun 2003 tentang Pemilu yang membuka peluang bagi pencalonan perempuan sampai tingkat 30% keterwakilan perempuan sebagai calon legislatif. Akan tetapi terjadi koreksi dengan munculnya UU no.2 tahun 2008 tentang partai politik, affirmative action and regulasi kuota untuk keterwakilan perempuan yang ternyata masih belum diterima secara lapang oleh berbagai lapisan partai politik. Hasil revisi Mahkamah Konstitusi tentang UU ini menunjukkan suatu realitas tentang ketidaksiapan masyarakat untuk memberikan kesempatan bagi perempuan sebagai pejabat publik.

Partisipasi perempuan dalam politik negara akan memungkinkan perempuan terlibat untuk menentukan prioritas program-program dalam masyarakat yang mempunyai kepentingan langsung dengan isu perempuan. Bahkan sejak penetapan Inspres 1998 di atas, negara telah menetapkan salah satu dari tiga pilar pembangunan nasional adalah pengarus utamaan jender dalam semua kebijakan negara.

Kontradiksi antara gambaran ideal yang hendak dicapai dalam memposisikan partisipasi perempuan melalui regulasi negara dengan tanggapan dari masyarakat yang menyebabkan terjadi perubahan UU terkait dengan tindakan afirmatif kepada perempuan setidaknya menyadarkan perempuan tentang adanya keraguan dari masyarakat tentang kualitas perempuan yang terlibat dalam pembangunan nasional. Perjalanan pemimpinan perempuan untuk memenuhi kuota minimum seperti yang tertulis dalam ke UU tersebut masih harus diperjuangkan oleh perempuan sendiri secara sistematik dan bersama. Ada banyak keraguan terhadap kemampuan perempuan sebagai seorang pemimpin dalam masyarakat. Karena itu perempuan harus membenah dirinya sendiri. Proses belajar menjadi pemimpin perempuan yang dapat mentransformasikan kebaikan dan kebajikan dalam masyarakat bisa dibangun melalui berbagai cara.

Koalisi Perempuan Indonesia Wilayah DIY menanggapi kenyataan ini, dalam rangka merefleksikan perjalanan bangsa Indonesia dengan memperingati Hari Kemerdekaan RI, pada tanggal 28 Agustus 2010 telah melaksanakan seminar tentang Refleksi Praktek Kepemimpinan Perempuan. Perempuan tersebut menghadirkan pejabat publik perempuan yang ada di ranah eksekutif dari tingkat Bupati sampai dengan tingkat RT. Demikian juga pejabat publik perempuan sebagai anggota legislatif juga hadir. Hasil dari pertemuan tersebut memunculkan keinginan supaya dilakukan pertemuan untuk memfasilitasi peningkatan kapasitas perempuan politik.

Koalisi Perempuan Indonesia untuk Keadilan dan Demokrasi Wilayah DIY menggumuli kebutuhan lokal perempuan politik di propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ini. Kepedulian ini juga merupakan keprihatinan dari Koalisi Perempuan Indonesia Nasional yang bekerjasama dengan Search For Common Ground telah menyediakan kemungkinan untuk memulai secara sistematis program yang terkait dengan penguatan kapasitas perempuan pemimpin di tingkat nasional dan di daerah-daerah. Program ini akan dimulai pertama-tama dengan perempuan politik di parlemen.

Adapun tema workshop adalah “Penguatan Kapasitas Perempuan Parlemen dan Kepemimpinan Transformatif Perempuan Berbasis Hidup Rukun “. Tema ini akan menerangi seluruh proses lokakarya yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan pemimpin perempuan untuk siap melayani perempuan dan masyarakat luas lainnya di seluruh kabupaten dan kota Yogya untuk memenuhi hak-hak dasar kebutuhan hidupnya. Manfaat dari pelatihan ini akan dipergunakan langsung oleh perempuan parlemen untuk meningkatkan kemampuannya dalam menjalankan tugas-tugasnya di parlemen dalam menyelenggarakan program-program bersama yang bertujuan untuk mengentaskan kemiskinan yang diderita oleh perempuan dan masyarakat marjinal lainnya.

II. Kegiatan

Bentuk Kegiatan: Lokakarya Kepemimpinan Transformatif Perempuan Parlemen di seluruh wilayah DI.Yogyakarta

Tema Kegiatan: “Penguatan Kapasitas Perempuan Parlemen dan Kepemimpinan
Transformatif Perempuan Berbasis Hidup Rukun”

Penyelenggara: Koalisi Perempuan Indonesia untuk Keadilan dan Demokrasi Wilayah
DI.Yogyakarta

III. Tujuan Pelatihan

Pelatihan bertujuan untuk :
1. Membangun kapasitas perempuan parlemen tentang peran serta pemimpin perempuan transformatif bagi pelayanan dalam masyarakat dan negara.
2. Memberikan ketrampilan kepada perempuan parlemen tentang kapasitas membangun jaringan kerja dan kemitraan terutama dengan pemerintah daerah.
3. Memberikan keterampilan kepada perempuan parlemen tentang bentuk-bentuk komunikasi dan cara penyampaikannya yang bersifat transformatif sehingga bisa membantunya dalam merepresentasikan kebutuhan langsung dari konstituen yang mempercayai suara mereka kepadanya.
4. Membangun kapasitas perempuan parlemen untuk mengawal kebijakan-kebijakan yang akan dihasilkan demi memfasilitasi ketersediaan partisipasi perempuan dalam pembangunan nasional.
5. Membangun kemampuan dan ketrampilan perempuan parlemen sehingga bisa berfungsi sebagai motor partai dalam pengembangan kemampuan politik perempuan. Disamping itu juga diharapkan peserta bisa terlibat dalam perencanaan program penguatan kapasitas perempuan sebagai program yang bisa dilakukan secara strategis oleh partai politik di mana ybs sebagai anggotanya.

IV. Kurikulum Lokakarya

Topik I: Dasar-dasar kepemimpinan

Sub Topik: Bentuk-bentuk Kepemimpinan
Topik II: Kekuasaan Pengambilan Keputusan
Sub Topik 1: Analisis Orientasi Keputusan
Sub Topik 2: Dampak Kebijakan

Topik III: Komunikasi

Sub Topik 1: Komunikasi Antar Kekuasaan
Sub Topik 2: Komunikasi dengan Konstituen
Sub Topik 3: Komunikasi dengan masyarakat sipil
Sub Topik 4: Komunikasi dengan media
Sub Topik 5: Komunikasi dengan sektor swasta

Topik IV: Manajemen Hidup Rukun

Sub Topik 1: Bentuk-bentuk konflik
Sub Topik 2: Analisis dan pemetaan konflik
Sub Topik 3: Negosiasi
Sub Topik 4: Konsensus

Topik V: Membangun Ruang Publik

Sub Topik 1: Identifikasi Potensi Ruang Publik
Sub Topik 2: Strategi Menggunakan dan Merawat Potensi Ruang Publik

V.Metodologi Lokakarya

Lokakarya ini menggunakan metode pembelajaran pendidikan orang dewasa. Bahan-bahan materi disiapkan dalam bentuk teori yang penyampaiannya diberikan untuk melandasi proses pembelajaran bersama. Walaupun demikian proses pembelajaran didorong sehingga partisipasi peserta dalam merefleksikan dan mengendapkan teori bisa menjadi sarana baru bagi pemunculan pemahaman dan teori yang baru.

Fungsi fasilitator diperankan untuk mendorong proses penemuan kekuatan dan potensi yang sebelumnya tersembunyi di antara kemampuan peserta yang belum pernah diekplorasikan. Media pembelajaran dibangun dari praktek yang tersedia dalam lokakarya kepemimpinan dan manajemen modern yang dipandu secara terintegrasi dalam agenda kegiatan dengan berbagai pembendaharaan alat peraga lain yang muncul secara spontan dari peserta sesuai dengan kerelevansinya materi.

Diharapkan penggunaan media belajar yang inspiratif, kreatif dan terhubungkan dengan topik pembelajaran setiap sesi dapat membangun dinamika kelompok. Kelompok menjadi tempat pembelajaran yang efektif untuk mengalirkan nilai penguatan dan transformatif bagi seluruh peserta dalam mencapai tujuan bersama sebagai perempuan legislator yang siap melayani kuensituennya maupuan masyarakat secara meluas.

VI. Peserta Lokakarya

Peserta lokakarya diperkirakan kurang lebih 25 orang, terdiri dari masing-masing:
1. Utusan dari Kabupaten Sleman
2. Utusan dari Kabupaten Bantul
3. Utusan dari Kabupaten Gunung Kidul
4. Utusan dari Kabupaten Kulon Progo
5. Utusan dari Kota Yogyakarta
6. Utusan dari Propinsi DIY

VII. Fasilitator Pelatihan

Lokakarya ini akan difasilitasi oleh dua orang fasilitator yang sudah menyelesaikan TOT sebagai pendidikan dasar bagi penyelenggaraan kegiatan ini. TOT ini difasilitasi oleh fasilitator internasional dari Search For Common Ground www.sfcg.org dari Washington DC, USA dan Nepal. Informasi tentang pelaksanaan TOT bisa dibaca dalam website Search for Common Ground www.sfcg.org/sfcg/snapshots/index.html
Adapun fasilitator lokakarya ini adalah 1). Antarini Arna SH, LLM. sebagai fasilitator nasional dan 2) Farsijana Adeney-Risakotta PhD sebagai fasilitator daerah.

VII. Tempat dan Waktu
Pelatihan akan diselenggarakan pada:
Hari/Tgl: Kamis – Sabtu, 23-25 Juni 2011
Jam: 08.00 sd 17.30 setiap hari
Tempat : Yogya Plassa Hotel (Dioni), Jl. Tribrata No 1A seberang jalan
dari Cinema XXI di jalan Solo, Yogyakarta


VIII. KEPANITIAAN
(Berdasarkan SK nomor 069/ Koalisi Perempuan Indonesia/Wil-DIY/V/2011)

Pengawas: Preswil (Siti Umi Akhiroh dan D.Listianingsih)
Penanggung Jawab: Sekwil (Farsijana Adeney-Risakotta), yang menulis TOR dan bersama dengan fasilitator nasional mempersiapkan materi pelatihan.

Ketua: Halimah
Sekretaris: Herlena
Bendahara I: Sri Mulati
II: Ristiani
Seksi Acara: Wulaningsih dan Setnas/Sekwil
Seksi Akomodasi dan Konsumsi: Sumiati
Seksi Perlengkapan dan Dokumentasi: Indah Zuniati
Seksi Humas: I. Putri
II. Endang

IX. ESTIMASI ANGGARAN DAN SPONSOR LOKAKARYA
Sponsor Lokakarya adalah Koalisi Perempuan Indonesia Nasional dan Search for Common Ground.

Rabu, 01 Juni 2011

Pluralisme dan Pancasila. Merenungkan metodologi menghidupkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari manusia Indonesia

Pluralisme dan Pancasila. Merenungkan metodologi menghidupkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari manusia Indonesia
Oleh: Farsijana Adeney-Risakotta


Tidak ada yang abadi di dunia ini. Agama juga tidak abadi. Keabadian ada dalam Tuhan yang menurunkan hikmatNya sebagai wahyu kepada manusia. Manusia juga fana tetapi mewariskan keabadian Sang Pencipta sebagai pengetahuan yang diungkapkan dalam tulisan, atau buku. Keabadian dari ajaran-ajaran suci diturunkan dari generasi ke generasi yang menghidupkannya dalam tindakan nyata.

Fenomena keberagamanan adalah realitas kehidupan. Keabadian dari keragaman juga gak kekal, ketika kekuasaan mengontrolnya. Selalu ada kecenderungan untuk menyeragamkan keberagamaan sebagai tujuan kekuasaan, efisiensi, kemudahan dan efektifitas.

Di Indonesia pola penyeragaman dilakukan oleh pemerintahan Orde Baru (Orba) sebagai cara pengendalian pemerintahan. Keburukan dari sistem ini adalah melemahkan kemungkinan munculnya kreativitas untuk setiap individu dan kelompok yang berbeda belajar mengelola perbedaan mereka.

Spirit penyeragaman mulai terlihat lima tahun kedua kepemimpinan Soekarno. Secara ideal, sebagai tokoh pencetus Pancasila, Soekarno tampil mempesona mengidealkan keberagaman di awal pemerintahannya. Tantangan datang kemudian ketika pemerintah pusat belum siap untuk mewadahi keperbedaan itu dalam sistem politik yang sekarang disebut “desentralisasi”.

Istilah negara federasi sempat dipergunakan pada periode Republik Indonesia Serikat. Tetapi muncul kecurigaan dari pusat terhadap daerah-daerah dalam upaya gerakan pemisahan dari NKRI. Sementara penjelasan dari daerah-daerah terkait dengan lemahnya distribusi keadilan dan pelayanan yang merata ke seluruh masyarakat dan daerah. Pembangunan terlihat terkonsentrasi melulu di Jawa.

Regim Orba meneruskan pergolakan yang ditinggalkan oleh Soekarno mengontrol Indonesia. 32 tahun pemerintah ala tentara disipilkan dengan mengkaitkan para teknokrat pembangunan untuk meletakan dasar pembangunan Indonesia. Mafia Berkeley hampir selama 3 dekade adalah mitra teknokrat pembangunan regim Orba. Penggeseran mafia Berkeley ke mafia Jerman dimulai ketika Orba menggandengkan Habibie yang terobsesi dengan teknologi berat dan kedirgatara sebagai cara mendongkrak persaingan kepakaran Indonesia di mata dunia.

Saya ingat pengalihan ini memakan biaya banyak yang diambil dari anggaran-anggaran distribusi pembangunan seperti gerakan padat karya dan perekonomian rakyat. Walaupun tidak disangka bahwa rintisan yang dibangun mafia Berkeley sudah meletakan sistem neoliberalisme tetapi gerakan perekonomian rakyat pada saat yang sama juga menjadi garapannya. Istilah yang diciptakan untuk menunjukkan kepada mafia Berkeley adalah RMS yang berarti Radius, Mooy, dan Sumitro (cf Bahtiar Effendy: 1998).

Pertarungan sistem pembangunan fisik ternyata lebih dikedepankan karena mempunyai nilai ekonomis daripada upaya mengelola keberagaman Indonesia. Kestabilan politik perlu dikontrol melalui penyeragaman. Multi partai ala Orde Lama (Orla) dikebiri meninggalkan hanya 3 partai termasuk melahirkan 1 partai sebagai kenderaan politik pemerintah Orba, yaitu Golkar. Sesudah itu hampir kita semua mengerti ceritanya. Pancasila dan P4 menjadi alat legitimasi Orba dalam penyeragaman warga negara.

32 tahun kemudian, sesudah kejatuhan regim Orba, masyarakat Indonesia yang dianggap hidup rukun dan bersatu malahan tercabik-cabik. Pasca reformasi adalah masa krisis pengujian kesetiaan berbangsa di Indonesia. Kelumpuhan masyarakat untuk mengelola perbedaan mereka malahan dipergunakan sebagai bibit untuk membangkitkan kesadaran perbedaan daripada upaya mengelola perbedaan tersebut. Indonesia berdarah di mana-mana.

Potensi keterpecahan yang tersedia dalam sistem politik kedaerahan karena lemahnya mekanisme transformasi dan integrasi budaya politik dari masa pra republik yang berbasis kesukuan ke NKRI menjadi titik balik pergolakan dan persaingan pada masa Reformasi. Di era pra republik, rasionalisasi struktur negara dan pemerintahan di daerah-daerah adalah bagian dari teritori kerajaan-kerajaan yang ada di nusantara di bawah kendali kekuasaan kolonial Belanda, The East Indies.

Ada delapan teritori etnis ketika Indonesia merdeka. Lihat artikel saya berjudul "Fantasi Separatisme". Peluncuran sistem politik kedaerahan berbasis desentralisasi, otonomi daerah di ambang kejatuhan Orba malahan menjadi titik balik pertarungan politik kedaerahan. Semuanya terjadi pada paska Reformasi, di mana potensi ketidakutuhan antara konsep dan praktek budaya pemerintahan daerah dimanfaatkan dan dikelola untuk memicu konflik antar sub suku, suku dengan suku dan suku berbasis bertarung perbedaan agama (Adeney-Risakotta, 2005).

Belajar dari 13 tahun reformasi terutama merefleksikan bentuk arah perjalanan Indonesia ke depan, maka yang paling penting adalah memikirkan pola-pola interaksi yang dapat melibatkan berbagai pihak dalam masyarakat. Maksud saya, kita semua mengerti tentang realitas Indonesia, keberagamanan. Tetapi kitapun sadar tentang realitas lain yang terbentuk dalam ajaran-ajaran keagamaan terutama kaitan dengan klaim kepada kebenaran yang ada pada agama masing-masing, keberpihakan terhadap keunggulan dari etnis-etnis tertentu.

Pada jaman Orba ada istilah birokrasi Indonesia sedang mengalami Jawanisasi. Pemimpin ditentukan dari pusat dan pengiriman ke daerah-daerah adalah pejabat dengan nama Jawa dan dikaryakan karena berlatar belakang tentara. Sekarang ada istilah birokrasi Indonesia sedang mengalami islamisasi karena menjadi pejabat harus diindentikan dengan menjadi Islam. Proses ini tidak pernah ada dalam sejarah Indonesia, kecuali yang pernah terjadi di bawah kemaharajaan kesultanan Malaka. Menjadi Malay adalah identik dengan menjadi Islam. Politik Islamisasi ini adalah politik abad pertengahan yang terkait dengan persaingan antara negara-negara di bawah jalur penguasaan Roma Barat (Vatikan) dan Otoman Empire yang menundukkan kemaharajaan Roma Timur.

Pertarungan politik dengan menggunakan peristilahan yang berbeda-beda tetapi mempertahankan metodologi yang sama, tidak akan menguntungkan bagi Indonesia. Pada jaman paska Reformasi, sifat-sifat keterbukaan Orla dipertahankan seperti multi partai, tetapi pada saat yang sama, metodologi penyeragaman politik seperti terlihat pada Orba dipilih, birokratisasi dan Islamisasi sebagai tanda Indonesia, memang sangat bertentangan dengan nilai-nilai yang termaktub dalam konstitusi kebangsaan dan kenegaraan Indonesia, yaitu Mukadimah dan UUD 1945.

Termasuk politik islamisasi melanda pendidikan negeri dari SD sampai dengan SMU yang harusnya melayani seluruh warganegara telah disulap menjadi pendidikan berbasis Islam. Bibit-bibit fanatisme dan radikalisme dikemas dalam kurikulum untuk membedakan siswa/siswi menurut agamanya masing-masing. Penyeragaman terhadap bentuk seragam sebagai yang dipandang Islami mendominasi kebijakan sekolah-sekolah negeri termasuk sekolah-sekolah terbaik yang menjadi favorit di setiap daerah. Legitimasi peminggiran Pancasila dalam pendidikan punya dasar hukum karena UU Sisdiknas tahun 2003 menghilangkan pendidikan Pancasila sebagai materi pendidikan di pendidikan dasar, menengah, atas dan perguruan tinggi.

Tujuannya adalah membabat habis sisa-sisa model legitimasi pengetahuan dan kekuasaan dari Orba. Dari periode 2003 sampai sekarang, 2011, kurikulum nasional terkait dengan pengajaran Pancasila mengalami transisi dimulai dari Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan menjadi hanya Pendidikan Kewarganegaraan.

Ada banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan Indonesia dalam masa 13 tahun sesudah Reformasi dan 66 tahun sesudah lahirnya Pancasila. Dampak Reformasi adalah penegasian Pancasila dan ajarannya dalam sistem pendidikan di Indonesia. Agama mayoritas menjadi alternatif dalam membangun sistem politik.

Kebingungan terasa di kalangan politisi Indonesia, bagaimana memisahkan antara agama sebagai bagian sentral dari sistem politik dan agama sebagai penuntun untuk mengontrol jalannya pemerintahan. Melibatkan agama dalam politik bisa berbahaya, karena perilaku birokrat dan politisi yang mengatas namakan agama dapat memberikan stigmatisasi negatif terhadap agama apabila penyelenggaraan negara menyimpang dari nilai-nilai agama ketika melakukan tindakan-tindakan kenegaraan.

Selain itu pengajaran agama sebagai baju politik, bukan hati nurani kehidupan memberikan dampak sektarian yang memecahkan umat manusia bukan menolong pengelolan keragaman yang ada. Saya percaya bahwa pendidikan agama sangat penting diajarkan bukan sekedar sebagai sistem budaya tetapi sebagai iman. Tetapi cara pengajaran agama yang bersifat ideologi malahan menyempitkan maksud keselamatan dari Allah yang menjadi tujuan utama agama-agama untuk kehidupan berbahagia dan damai di muka bumi.

Dari sisi ini, sebenarnya memposisikan kembali Pancasila sebagai Ideologi negara dan menurunkannya dalam sistem politik bersama akan membebaskan ketertuduhan agama tertentu sebagai alat politik yang sedang ditunggangi oleh oknom-oknom yang tidak bertanggungjawab. Alasan-alasan netralisasi agama terhadap politik inilah yang seyogiannya menjadi pertimbangan untuk memberikan posisi yang kritis lagi terhadap Pancasila.

Bahkan lebih jauh terlihat kepada semua warga negara yang sama hak-haknya bahwa negara dengan sengaja pilih kasih. Sekarang ini Negara melakukan proses pembiaran dan pengistimewaan kepada kelompok mayoritas berdasarkan agama. Perilaku politik negara yang melayani kebutuhan masyarakat dengan menurunkan perangkat operasional kebijakan melalui aturan perundang-undangan nyata-nyata menghadirkan ketidakadilan kepada warganegaranya sendiri karena penerapan sepihak pola pendidikan identitas politik agama mayoritas sebagai sistem politik negara untuk semua warganegara.

Ketika saya memikirkan hal ini, saya harus mulai dari mana. Indonesia harusnya tidak mengulangi kedua kali kejatuhan yang sama. Kejatuhan Soekarno adalah merumuskan Pancasila tetapi tidak tahu bagaimana ia dimasukan dalam sistem politik. Kejatuhan Soeharto adalah merumuskan Pancasila dalam sistem politik tetapi untuk mengontrol kekuasaannya. Belajar dari hal ini, maka yang paling dipentingkan adalah memikirkan tentang di manakah “posisi” Pancasila untuk Indonesia.

Pancasila merupakan nilai akomodatif yang tergali dari berbagai latar belakang budaya dan agama dalam rentangan waktu yang panjang sehingga membentuk peradaban baru di Indonesia. Peradaban Indonesia inilah yang disebut peradaban Pancasila. Kita harus mengubah cara pandang dan penekanan terhadap Pancasila yang semata-mata adalah obyek ideologi politik Indonesia. Saya memandang Pancasila lebih sebagai nilai yang harus diturunkan dalam sikap hidup sehari-hari di Indonesia.

Keunikan Indonesia selalu disebutkan dan dicontohkan dalam bentuk Pancasila. Tetapi bagaimana Pancasila menjadi bagian dari kehidupan Indonesia tiada yang mengerti caranya. Seperti halnya agama, Pancasila tanpa diajarkan sebagai bagian dari sikap hidup bisa menjadi boomerang untuk diri sendiri. Untuk menjelaskannya, kelihatannya saya harus meminjam istilah-istilah lain yang proses pendefinisiannya dilakukan secara ketat untuk menjelaskan perbedaan konsep dari masing-masing kata. Misalkan kata “toleransi” merupakan istilah yang dianggap sudah cukup untuk menjelaskan posisi seseorang sebagai kesadaran bahwa seseorang tsb ada.

Akan tetapi menurut Diana Eck, tokoh pluralisme, toleransi sebagai nilai menyadari keberadaan seseorang secara pasif. Dalam toleransi tidak ada upaya secara progressif untuk menjangkau mereka yang berbeda dari kita dan belajar tentang keperbedaan. Keperbedaan dalam konteks Indonesia seperti tercermin melalui Pancasila terkait dengan praktek beragama, berperi kemanusiaan, berperilaku kebangsaan, bermusyawarah dan berperilaku berkeadilan.

Banyak orang takut memasuki ruang yang akan membawanya pada proses pelabelan sebagai orang yang abu-abu. Semua orang ingin jelas identitasnya, hitam atau putih dan bukan yang abu-abu. Pluralisme sebagai sistem berpikir dan bertindak memang menawarkan cara hidup yang lebih berani untuk menjangkau keluar dari identitas diri yang ada. Untuk orang yang belum merasa aman dan damai dengan identitas yang ada bisa jadi cara berpluralisme malahan akan menyebabkan kebingungan. Kekuatiran menjalankan cara hidup pluralism sebagai cara hidup yang abu-abu bisa saja terjadi bagi mereka yang dasar pijakannya terhadap identitas diri, budaya dan agama yang lemah.

Tidak dapat dipungkiri, untuk menjadikan pluralisme sebagai gaya hidup, perlu latihan, perlu pendidikan. Otak kita harus bisa mengerti dan mampu membangun asosiasi terhadap kenyataan-kenyataan yang berbeda di sekitarnya tanpa ada rasa takut. Ajaran-ajaran dari agama-agama bisa membantu seseorang untuk tiba pada titik praktek pluralisme. Kita semua sadar bahwa semua agama mengkhotbahkan tentang keselamatan dan kebaikan Allah kepada seluruh dunia dan alam semesta.

Tetapi cara hidup orang beragama tidak mencerminkan ajaran dari khotbah tersebut. Karena itu memang harus dibiasakan supaya pengertian tentang ajaran agama bukan sekedar kata-kata hapalan, dan ritual ibadah tanpa pengamalan, menjadi bagian dari tindakan yang sadar seseorang.

Kebangkitan peradaban Pancasila menurut saya harus diletakan dalam tatanan proses melatih diri kita menjadi seorang yang pluralis. Pluralis adalah realitas yang diberikan dari Sang Pencipta. Tidak ada penyeragaman dalam cara Allah mencipta alam semesta dan manusianya. Penyeragaman dibuat oleh manusia untuk maksud kekuasaan. Ketika kekuasaan diungkapkan membuka telanjang esensi dari keberagaman manusia, pada saat itulah seseorang sudah siap untuk memulai pengembaraannya memasuki pelatihan menjadi seorang pluralis.

Dalam peradaban Pancasila kita semua bisa menggunakan berbagai baju yang berbeda-beda, dengan cara menjahitnya yang berbeda pula tetapi kita saling belajar bagaimana membuat dan mengaguminya secara tulus. Sifat adopsi dan adaptasi dari interaksi beragama, bersuku, bergender menguatkan pembelajaran bersama sehinga mendorong kita menerima secara aktif pluralitas masing-masing tanpa merasa identitas diri sendiri terancam.

Misalkan seorang teman saya seorang Kristen Katolik adalah seorang Ketua organisasi perempuan yang membawahi hampir 95% anggotanya yang muslim. Dalam pertandingan paduan suara, ketua yang beragama Kristen Katolik membuat kebijakan membeli jilbab kepada anggota paduan suara yang muslim. Kebijakan sang ketua ini di lihat oleh anggota-anggota lain yang muslim sebagai hikmat yang diberikan oleh Allah.

Kita masing-masing mensyukuri cara penyelamatan yang misterius yang sedang dikerjakan Sang Pencipta untuk diri kita, kepada komunitas agama kita maupun kepada masyarakat dan bangsa kita. Sehingga kita tidak perlu pongah terhadap apa yang diperolehnya kecuali meneruskan dengan komitmen dari makna penyelamatan itu dalam sikap hidupnya yang menunjukkan keselamatan tersebut.

Kebingungan dan kebimbangannya malahan menghilang ketika kita mempraktek ajaran Allah untuk mengasihi, berlaku adil bagi sesama, membangun kerukunan dalam masyarakat, kepedulian pada yang berkekurangan, keriangan untuk memberikan dukungan bagi pengembangan sumber daya manusia untuk siapa saja tanpa pandang bulu, kerelaan untuk memfasilitasi jalan keberhasilan bagi orang lain. Semua ini ketika kita melakukan dalam cara hidup pluralisme, menurut saya pada saat itulah kita semua sudah menjadi seorang yang Pancasilais sekaligus seorang yang beragama menurut iman dan kepercayaan kita sendiri.

Jadi mana yang harus dimulai pertama. Ini pertanyaan terkait dengan metodologi. Sebagai kesimpulan, Pancasila menjadi bagian dari nilai yang pencariannya untuk diwujudkan memerlukan metode yang dapat membantu seseorang mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Hasilannya bisa menolong kita bertanya apakah perilaku kita sehari-hari mencerminkan ajaran agama yang mengajarkan tentang keadilan, cinta kasih, kerukunan, kemusyafakatan, kepedulian pada lingkungan dll yang bukan hanya kepada sesama penganut agama, sesama suku atau etnik tetapi kepada orang lain yang berbeda dengan diri kita. Mereka yang adalah sesama warga negara dan warga bumi yang diciptakan Sang Pencipta tanpa melakukan penyeragaman.

Metode itu bisa dilakukan apabila kita semua mau belajar dan memiliki hidup yang lebih dari sekedar menghapal ajaran agama, suatu rutinitas yang mengenyangkan pribadi tetapi tidak membawa rahmat kepada bumi. Beragama bagi seorang manusia adalah hidupnya adalah agama. Hidupnya adalah berita tertulis dan terbaca bagi semua insan. Agama itu menghidup dan mengendalikan diri kita untuk menjadi seorang manusia yang berguna bagi banyak orang, negara, bangsa dan sesama umat manusia di muka bumi ini. Selamat hari "kebangkitan" Pancasila dari Farsijana Adeney-Risakotta.

Senin, 30 Mei 2011

Krisis Kacamata dan Krisis Sinta

Krisis Kacamata dan Krisis Sinta
Oleh: Farsijana Adeney-Risakotta


Menulis mungkin sudah menjadi daging dalam diri saya. Tetapi saya memutuskan mempertimbangkan setiap kata-kata saya sebelum menjadi tulisan. Tulisan bukan hasil dari unjuk kemampuan berpikir dan penguasaan pengetahuan. Ketika saya berpikir seperti ini, saya malahan kehilangan inspirasi dan passion tentang apa yang akan ditulis. Menulis untuk saya bukanlah tampilan suatu kekuasaan. Saya ingin mendialogkan pemikiran yang tampil sebagai kegelisahan dari pengalaman yang pernah terjadi.

Kegelisahan itu bisa berhubungan dengan suatu ajaran yang sangat dihormati oleh masyarakat tertentu. Kalau saya menulis tentangnya bukan karena saya meremehkannya. Saya menulis untuk menunjukkan apa yang saya lihat dalam diri saya. Saya harap orang lain juga melihat hal yang sama.

Ini tentang pengalaman di Pura Uluwatu. Bali bukan hanya pulau dengan keindahan yang rumit. Bali adalah kehidupan menyatu terintegrasi antara manusia, alam dan Sang Pencipta yang dipercayainya. Mendengar penjelasan dari oraganizer tur bahwa kami akan ke Pura Uluwatu, saya membayangkan mengunjungi pura-pura lain seperti pura Ulun Danu di Bedugul yang menjadi salah satu pura favourite saya. Saya ingat sesudah suami melakukan parasailing mengelilingi danau, kami menikmati keteduhan di pura ini.

Tiba di Uluwatu kami diberitahu oleh pengelola pura yang memberikan ikat pinggang bagi mereka yang berpakaian dengan rok atau celana panjang dan kain bersarung biru untuk melilit tubuh mereka yang menggunakan celana selutut. Suami saya harus menggunakan kain dari pura sebelum memasuki kompleksnya yang luas. Kompleks pura terletak di ujung tebing Uluwatu. Lokasi Uluwatu adalah di bagian selatan pulau Bali. Mungkin berlayar menyusuri tepian pesisir selatan akan lebih cepat dari pada berkendaraan berkelok-kelok menanjaki bukit seperti pengalaman menyusur dari Bali Selatan melalui Bali Tengah ke pantai Utara, Lovina melewati Singaraja, Buleleng.

Uluwatu di desa Pecatu termasuk kecamatan Kuta bagian selatan. Pantai bertebing memperlihatkan proses sedimentasi pulau Bali dari pantai berpasir halus, warna hitam seperti di Seminyak, ke timur di Kuta ke makin timur New Kuta di Dream Land yaitu tanah beratus hektar yang dikuasai oleh Tommy Soeharto ke makin timur daerah bertebing di Uluwatu sampai ke Amed di Bali Timur. Makin ke timur pasirnya memutih sebagai pecahan dari ribuan tahun karang-karang yang terlepas dari tebing-tebing di sekitar daerah Bali timur.

Tiba di situ mengingatkan saya kepada tebing seperti di Alas Wegode di Parangtritis yang mengingtari pantai selatan ke bagian timur dari Yogyakarta. Saya berjalan dengan keriangan hati seolah-olah kesamaan pencirian pantai akan memberikan pengalaman penerimaan yang indah. Perasaan ini tetap saya pupuk sekalipun di rumah penjaga pura di mana kami menerima tali tanda memasuki daerah suci, sudah diperingatkan supaya kami mewaspadai monyet-monyet. Dikatakan bahwa monyet-monyet di sana nakal. Mereka bisa mengambil dengan cepat kaca mata, anting, kalung, bahkan jam tangan, gelang dan juga sepatu. Mereka tidak mau mengambil kamera. Kami semua diminta menyimpan barang-barang yang bisa menggoda monyet berlaku jahat. Apabila pengunjung takut bisa menyewa pawang dengan harga $US 7 per jam.

Pura Luhur Uluwatu, demikian nama aslinya akan ditemukan sesudah melewati hutan di atas tanah berkarang dan berkapur. Hutan ini disebut Kekeran yang dipercayai akan memberikan kesucian bagi pura Luhur Uluwatu itu.

Jadi kami melewati hutan kekeran mendekat ke tebing di mana pura Luhur Uluwatu berdiri. Ada beberapa pohon dekat dengan pagar tembok setinggi semeter yang melindungi kami dari kemungkinan terperosok ke tebing. Di sini ketika kami sedang menonton laut, tiba-tiba dengan sangat cepat, seekor monyet datang dari barat dan belakang suami saya langsung mencopot kacamatanya. Monyet itu dengan sangat cepat pula, meloncat ke tebing meninggalkan suami yang terperana ketakutan karena mungkin ia akan sukar menikmati perjalanan tanpa kaca mata. Saya sedang menghibur suami dan dengan perasaan seolan-olah akan menolongnya kemudian dikagetkan dengan tarikan tiba-tiba yang membawa pergi kaca mata saya. Seekor monyet lain sedang berlari menurun tebing sambil menggigit kaca mata saya.

Dalam situasi panik, kami kemudian mendengar seorang teman dari Indonesia, Lely, yang kacamatanya diambil paksa oleh seekor monyet lain. Juga seorang teman dari USA, Julianne yang sedang berdiri di bawa pohon jarak, kaca matanya diambil oleh monyet yang diam-diam memanjat pohon untuk mengambil kaca mata dari batang pohon yang lebih tinggi dibandingkan Julianne. Julianne tingginya hampir setinggi suami saya, kira-kira 1.90 meter.

Tiba-tiba muncul seseorang yang di tangannya ada snack masih terbungkus plastik. Lelaki ini mengulurkan snack yang bergambar coklat. Kera memperhatikan cermat! Tangannya masih menggegam kaca mata yang dengan jerih payah sedang dicoba mengunyahnya. Saya semakin pasrah. Cuma merasa iba bagaimana dengan kaca mata suami. Kerabunannya lebih rawan daripada saya! Syukurlah, lelaki bergiwang itu berhasil membujuk kera sehingga mau menukarkan kaca mata dengan snack. Mulanya ia mengembalikan kaca mata suami, kemudian saya, dan terakhir Yulianne. Hanya kaca mata mba Lely, isteri mas Ipung yang tidak pernah dipulangkannya.

Lely masih dibuntuti seekor kera yang menarik-narik sandalnya. Seorang turis perempuan dari Jepang juga menjadi incaran kera karena salah satu sandal kirinya diambil. Bahkan untuk kera ini, ia bisa membandingkan antara dua jenis makanan yang diberikan oleh seorang penjaga perempuan di pura, yaitu roti atau rambutan. Ternyata mengembalikan sandal perempuan Jepang ini, perempuan penjaga harus bolak balik dua kali ke bale yang ia sedang duduk untuk mengambil rambutan, karena monyet tidak suka roti.

Pura Luhur Uluwatu yang berarti tempat dengan nilai keluhuran yang tinggi malahan menimbulkan kesedihan, kejengkelan, kemarahan dari kami semua. Dijelaskan oleh organizer tur kami, bahwa perubahan perilaku kera ini kira-kira sudah berjalan sejak 2-3 tahun lalu. Dulunya tidak ada kejadian seperti begitu. Monyet-monyet yang saya temui di Sangeh dan juga di the Monkey Forest di Ubud juga sangat baik dan bersahaja. Memang kadang-kadang ada monyet yang agresif. Tetapi pada umumnya masih terkendali. Tetapi di Uluwati, kera mencuri barang pengunjung yang kemudian ditukarkan dengan makanan. Lelaki penolong kami itu juga minta supaya kami memberikan uang kepadanya untuk membeli makanan kera. Bisa dibayangkan dalam sehari berapa uang yang diperolehnya dari aksi pembebasan barang-barang pengunjung yang disandera oleh kera-kera di sana.

Kera dalam tradisi Hindu mencerminkan sesuatu yang mendekat dengan diri kita,sesuatu yang terkait dengan "desire", yang meyebabkan seseorang terobsesi. Kera dipelihara, tidak boleh disakiti karena dianggap pernah menolong Rama, seorang figur dewa yang ada dalam tradisi Hindu.

Jadi krisis kaca mata sebenarnya menjelaskan tentang krisis diri dari para penjaga pura Luhur Uluwatu. Proses pembiaran kera menjadi pencuri harusnya dapat dicegah oleh pengelola pura Luhur Uluwatu. Tetapi upaya ke sana sepertinya tidak terlihat. Bukan karena pawang-pawang kera sulit menghadapi perilaku liar kera tetapi kelihatan sengaja dibiarkan saja. Seolah-olah kera-kera tersebut terlahir seperti itu. Padahal kera-kera tersebut dengan sengaja diprogramkan untuk membentuk perilaku liar sebagai pencuri yang hanya bisa dijinaki oleh para pawangnya. Mereka, kera dan pawangnya seperti sedang bermain sandiwara dengan mengorbankan perasaan dan barang-barang pengunjung.

Gambaran kera yang rakus, lapar mungkin sebenarnya gambaran diri dari mereka yang ada di sekitar pura itu sendiri. Mungkin dalam benak mereka, perilaku mencuri dari kera akan memberikannya makanan dan sekaligus kepada petugas sejumlah uang sebagai pembayaran atas jasanya mendapatkan kembali barang-barang yang diambil oleh kera-kera itu.

Krisis kaca mata adalah krisis nilai yang terjadi di Bali saat ini. Ada kekuatiran bahwa Monyet pun bisa dilatih untuk melakukan kekerasan yang sebenarnya dibalik tindakan ada pesan dari seorang manusia. Mereka, para penjaga perlu uang. Mendapatkan uang dengan cara membuat pengunjung tidak aman seolah-olah hal yang biasa saja.

Ketika kami harus meninggalkan pura Luhur Uluwatu, saya masih bertanya-tanya apa yang sedang terjadi dengan turisme di Bali saat ini. Seolah-olah kesucian dari nilai diri makin menipis.

Kami menuju ke Blue Point di kawasan tebing yang mempunyai akses langsung ke laut. Di sini banyak turis mancanegara yang melakukan surfing. Saya turun ke pantai membuang rasa resah dari Pura Luhur Uluwatu. Ada banyak yang belum terjawab dalam permenungan saya. Tetapi saya harus melewatinya.

Malam itu, di sekitar Tanah Lot, yang terletak masih di sepanjang pesisiran tebing Bali selatan, sesudah mentari terbenam, kami berkesempatan menonton tarian kecak. Ini tarian tentang Ramayana dengan versi Hindu Bali. Saya harap teman-teman sudah pernah membaca tentang cerita Ramayana. Ini cerita yang sangat penting dalam agama Hindu. Ramayana dimainkan sebagai pertunjukkan dalam ruangan dan juga outdoor yang dipentaskan pada musim panas sekitar bulan Juli dan Agustus setiap tahun di areal candi Prambanan di Yogyakarta.

Ramayana bercerita tentang Rama yang kehilangan isterinya, dewi Sinta yang dijebak oleh Rahwana, raja Lenka. Dalam penyamarannya sebagai seorang tua, raja Lenka ini bisa menangkap Sinta untuk memaksanya menikahinya. Tetapi Sinta akhirnya bisa dibebaskan oleh seekor kera yang dipercayai titisan dari para dewa. Kera putih ini bernama Hanoman. Ia dianggap adalah titisan para dewa.

Kehadiran Hanoman dalam epik Kecak seolah-olah menguatkan saya kembali tentang pencitraan diri yang baik dalam kehidupan seorang manusia seperti Rama. Hatinya yang tulus bisa tertangkap oleh Hanoman, sehingga ia dengan sukarela ingin membantu Rama untuk membebaskan isterinya, dewi Sinta dari perangkap raja Lenka. Hanoman adalah representasi dari keinginan Rama untuk memiliki Sinta kembali. Krisis kehilangan Sinta adalah krisis yang paling besar dalam hidupnya.

Ujian untuk mendapat Sinta kembali adalah dengan merelakannya mengalami kejadian-kejadian yang dasyat untuk menguji jati diri Sinta sendiri. Sinta mudah terkecok dengan penampilan orang tua, pertapa, kecantikan kancil yang berlari-lari di hutan. Tipu daya Rahwana yang memerangkap Sinta baik secara emosi dan fisik pelan-pelan dapat dimentahkan oleh Hanoman. Untuk saya, Hanoman adalah bukti dari upaya Rama untuk melepaskan kemilikannya atas Sinta.

Dengan melepaskan "desire" kepada Sinta, Rama akhirnya menerimanya kembali dengan kualitas perubahan jati diri yang mendalam. Untuk mendapatkan Sinta kembali, Rama membebaskan dirinya dari keinginan memiliki uang misalkan. Dirinya sendiri adalah alat untuk bertarung menegakkan dan menguji kesatrian sejati dengan apa yang juga terlihat sebagai kemampuan dari Rahwana. Rahwana akhirnya terperangkap dengan kerakusannya sendiri. Istananya dihancurkan oleh anak buah Hanoman. Sinta kemudian dibebaskan Hanoman dan dipertemukan dengan Rama.

Harapan inilah yang membuat saya menutup hari Jumat, 27 Mei 2011 itu dengan rasa lega!. Hari itu dibuka dengan kekecewaan tetapi kemudian ditutupi dengan ucapan syukur. Warga Bali masih bisa bangkit untuk memeriksa dirinya secara jujur dengan berefleksi mendalam demi pembentukan kembali pencitraan diri yang membebaskan seperti tercermin dalam cerita Hanoman. Kekuatan dalam tradisi agamanya merupakan inspirasi untuk memelihara kualitas kehidupan individu maupun masyarakat di sana. Di sinilah daya tarik Bali bukan hanya alamnya, tetapi manusia Bali yang mendalam dan tulus seperti Rama dan representasi dirinya bisa terlihat dalam perilaku kera putih, Hanoman.

Minggu, 29 Mei 2011

Turisme dan Konservasi Alam Tantangan Pembangunan Ekonomi

Turisme dan Konservasi Alam Tantangan Pembangunan Ekonomi
Oleh: Farsijana Adeney-Risakotta


Ide untuk menulis dengan judul “turisme dan konservasi alam tantangan pembangunan ekonomi” muncul ketika kami sedang di pulau Penyu pada hari Sabtu pagi, 28 Mei 2011. Mencapai Pulau Penyu harus melalui Nusa Dua yang terletak di tanjung di sebelah selatan pulau Bali. Di Nusa Dua, industri wisata air mulai dikembangkan terutama sesudah tragedi bom di Bali pertama tahun 2002 dan Bali kedua tahun 2005. Organiser tur kami bekerjasama dengan pemilik water sport yang dulunya mempunyai bisnis biro perjalanan. Bom Bali mengubah dan menciptakan orientasi bisnis baru. Pemilik water sport, ketika memutuskan mengubah haluan usahanya, terinspirasi dengan kata kebangkitan Bali. Bali yang dihancurkan akan bangun lagi.

Saya ingat bencana tsunami di Aceh yang juga berdampak bagi turisme di Phuket, Thailand, menyebabkan salah satu kegiatan pertemuan internasional meminta saya untuk mengorganiser kegiatannya di Bali. Semula kegiatan mereka direncanakan dilaksanakan di Phuket, Thailand. Saya menyanggupi, kemudian kami mempersiapkannya di Bali pada bulan Maret 2005. Jadi pelaksanaannya jauh sebelum terjadi lagi bom Bali kedua, pada bulan Oktober 2005.

Namun suasana dari dampak bom Bali pertama, 2002 masih terasa di tahun 2005 ketika kami kembali ke Bali. Turisme masih terpuruk. Suasana lenggang terasa di mana-mana. Hotel-hotel harus memberikan harga promosi untuk menarik minat turis domestik. Saya pikir upaya itu cukup berhasil karena minat turis domestik meningkat sesudah bom Bali pertama. Banyak orang ingin tahu ada apa dengan Bali.

Turisme merupakan andalan Bali yang paling utama, termasuk juga primadona pendapatan nasional untuk Indonesia. Dalam laporan PBB (2009) tentang turisme di dunia, Bali dikategorikan sebagai leisure travel dan wisata daerah tropis. Alam, budaya, praktek kehidupan sehari-hari orang Bali menjadi nilai tambah tujuan wisata orang dari seluruh dunia. Kadang-kadang nama Bali lebih terkenal dari nama Indonesia. Penerbangan langsung ke Bali bisa jadi menyebabkan banyak turis menyangka Bali adalah negari sendiri di dalam NKRI.

Sejarah Bali sebagai pulau dengan keunikan agama Hindu bercampur dengan kepercayaan pada nenek moyangnya menjadi daya tarik bagi turis. Turis ingin belajar sesuatu yang berbeda dari kehidupannya sendiri, entah alamnya, manusia, makanannya, bahasanya, ritual agamanya atau apa saja yang menyebabkan terlihat ada perbedaan dengan dirinya sendiri. Pertama kali saya ke Bali ketika masih remaja. Saya menghabiskan masa remaja di Yogya sebagai kota yang sederhana. Romantisme Yogya di era 80-an dengan banyaknya penduduk bersepeda membentuk diri saya.

Jadi sesudah mengunjungi Bali dengan kompleksitas budaya dan keramaian arsitekturnya, saya harus belajar lama sebelum bisa merasa damai dalam diri sendiri. Saya pikir pada saat pertama kali berjumpa dengan kehidupan masyarakat dan alam di Bali, keresahan saya menandakan bahwa saya pada waktu cukup shok. Mungkin karena tur yang saya ikut adalah tur sekolahan sehingga kami dibawa di jalan-jalan yang sibuk dan ramai.

Satu dekade kemudian saya memutuskan kembali lagi ke Bali bukan pertama-tama sebagai turis tetapi sebagai seorang pengembang masyarakat yang mau belajar dari masyarakat Bali. Pada waktu itu saya masih kerja di pelosok pulau Halmahera, di Tobelo. Bos saya seorang Belgia dan bekerja dengan Pusat Pengkajian Pengembangan Pedesaan di Tobelo hanya setiap 3 bulan untuk waktu seminggu di Tobelo sisa waktunya di Bali di mana kantor FADO berada. Sesudah masa ini saya mulai sering mengunjungi Bali untuk terus belajar darinya.

Bos saya ini mendorong saya belajar sistem perekonomian rakyat di Bali. Saya memutuskan untuk tinggal di desa Kapal untuk belajar tentang Bank Perkreditan Rakyat sebagai salah satu sistem ekonomi akar rumput yang berhasil karena pro poor dalam mengimplementasi kebijakan turisme. Hasil dari studi banding inilah yang kemudian membantu saya menerapkan kegiatan mikro fund melalui kredit union di Tobelo ketika saya masih bekerja di sana.

Kembali kepada persentuhan dengan Bali yaitu memulai pengenalan saya dari dalam masyarakat sendiri, saya mulai terbuka untuk mengerti strategi dan mekanisme pasar yang harus dihadapi masyarakat supaya mereka bisa terus menjalankan kehidupannya secara mandiri. Saya ingat tulisan Clifford Geertz tentang cookfight dan bagaimana sebenarnya maksudnya bagi masyarakat Bali. Cookfight merupakan mekanisme pertahanan ekonomi lokal untuk menjaga supaya dana yang berada dalam masyarakat tidak dibawa keluar tetapi cukup beredar di kalangan mereka sendiri. Kesatuan dalam komunitas menjadi satu pencirian solidaritas masyarakat di sana.

Tetapi analisis Geertz di era tahun 1960an juga Margaret Mead cs harus dikaji kembali. Relasi sosial terbangun dari setiap partisipasi anggota masyarakat dalam desa adat mereka yang sedang mengubah karena posisi Bali sebagai pulau target industri turisme dunia. Pencarian saya untuk mengerti tentang Bali mendapat banyak pertolongan dari Frederik Bart yang menulis buku tentang Balinese Worlds.

Melalui buku ini, saya dibantu untuk mengerti kompleksitas struktur masyarakat Bali. Bali tampil dengan berbagai lapisan peradaban yang tidak bisa disederhanakan hanya sebagai suatu sistem budaya yang berbagai bagian yang dapat dijelaskan secara terpisah-pisah. Menurut Bart, sumber budaya di Bali terbentuk dari individu-individu yang mengkonstruksikan makna dan tampilan praktek simbol sekaligus memberikan interpretasi kepadanya. Proses ini melibatkan interaksi antara ingatan dengan relasi sosial yang mendalam untuk membangun suatu pengetahuan yang baru yang menyifati kedinamisan dalam konteks yang mengubah karena keterikatannya dengan berbagai dunia di luar dirinya.

Lokasi penelitian Bart di Bali Utara, daerah Buleleng memang menunjukkan kejalinan Bali sebagai bagian dari struktur para raja yang kemudian berhadapan dengan pedagang luar seperti Portugis dan kemudian Belanda. Upaya kolonialisasi yang dilakukan oleh Belanda misalkan berdampak pada peristiwa yang sangat penting dalam ingatan bersama orang Bali, yaitu “bunuh diri masal Puputan”. Peristiwa ini terjadi di Sanur pada tahun 1906 ketika Belanda memulai intervensi kekuasaannya di Bali. Dibandingkan dengan daerah lain di East Indies waktu itu, Bali cukup kuat bertahan terhadap invasi Belanda. Saya ingat tahun lalu bertemu dengan salah seorang bangsawan dari Puri dalem Kerambitan di Tabanan yang dengan bangganya menjelaskan tentang jati diri orang Bali. Sebagai keturunan dari Majapahit, orang Bali bangga bahwa ia bisa sampai saat ini bebas dari penindasan budaya lain yang ingin mengubah diri mereka.

Banyak analisis menginterpretasi bom Bali sebagai peringatan bagi orang Bali karena mereka seolah-olah dijajah oleh turisme. Pembelaan dari pelaku bom Bali sendiri sebagaimana disampaikan dalam berbagai analisis tersebut terkait dengan upaya mereka untuk membayar rasa harga diri Indonesia yang sudah dihilangkan oleh kapitalisme turisme dunia yang menggerogoti Bali. Mencermati Bali memang tidak bisa hanya berhenti di Kuta, Legian sebagai pusat keramaian turis.

Walaupun demikian, pemimpin berbagai agama yang berada di Bali, di tahun 2005 ketika kami bertemu mereka, mengakui bahwa peristiwa bom Bali terjadi karena Bali sudah kehilangan keseimbangan. Suami saya menilai perbedaan cara refleksi dari peristiwa bom yang terjadi di Bali dibandingkan dengan paska September eleven di Amerika Serikat sangat menarik dicermati. Sesudah September eleven, sikap AS adalah keluar mencari musuhnya yang membawa bencana ke sana. Tetapi pemuka agama-agama di Bali (terdiri dari Hindu, Islam dan Kristen) melakukan refleksi untuk menguji jati diri mereka.

Secara historis terlihat juga keberadaan resistensi dalam masyarakat Bali terhadap kedatangan kekuasaan dari luar masih sangat kuat. Misalkan di sekitar danau Batur, kita bisa bertemu masyarakat Bali yang berperilaku berbeda dari orang Bali kebanyakan. Mereka inilah orang asli, menggunakan istilah suku Indian Amerika Utara, the first nation of Bali. Mereka menolak dikuasai oleh pelarian kaum bangsawan Majapahit dari Jawa Timur sesudah didesak oleh Mataram Islam di awal abad 12, sehingga bangsawan Majapahit ini berbondong-bondong pindah ke daerah koloninya pada waktu itu yaitu pulau Bali. Kedatangan ini malahan mendesakan pendudukan asli dan mereka dibiarkan menjadi dirinya sendiri seperti bisa terlihat di desa Trunyan di sekitar danau Batur.

Dari penjelasan di atas saya lihat kekuatan diri orang Bali untuk mengambil jarak dari kegemerlapan turisme dan tidak membiarkan dirinya menjadi budak dari industri turisme. Kemampuannya untuk merefleksikan diri tanpa harus menyalahkan orang lain merupakan modal utama untuk kebangkitan Bali. Di kalangan generasi muda Bali terutama dari lingkungan bangsawan, keterbukaan untuk mengoreksi falsafah diri yang berhubungan dengan budaya dogma yang sengaja ditanamkan oleh para bangsawan Bali supaya rakyat jelata tidak perlu memamerkan dirinya yaitu de ngaden awak bisa yang berarti tidak memamerkan kemampuannya. Koreksi ini diperlukan supaya seluruh lapisan masyarakat Bali bisa berani tampil memberikan argumentasi dalam pertarungan wacana terhadap berbagai kebijakan yang datang dari luar atas nama pembangunan dan pengembangan turisme. Komitmen ini disampaikan oleh presiden dari Sukarno Center, Drs. Shri. I Gusti Ngurah Arya Wedakarna, seperti yang dipaparkan pada tabloid Tokoh (29 Mei - 4 Juni 2011, hal.5).

Ketakutan tentang hilangnya jati diri orang Bali di kalangan banyak analisis sebenarnya terlalu dilebih-lebihkan. Saya sendiri memandang Bali dalam perspektif analisis Bart yang menempatkan perkembangan kedinamisan diri Bali dalam ingatan sejarah kolektif sebagai inspirasi untuk reinterpretasi dan reorientasi. Dalam hal kontektualisasi budaya Bali, saya berpendapat Bali mampu menghadapi sepak terjang gurita kapitalisme turisme tanpa tercabut dari akar budayanya sendiri. Proses ini malahan hilang dari beberapa daerah di Indonesia yang melupakan kebijakan dalam tradisinya dan lebih mengambil ide-ide pengembangan turisme seperti Disney land yang akan diterapkan di Makassar seperti di laporkan beberapa minggu lalu dalam tulisan wartawan Kompas, Maria Hartiningsih.

Tetapi ketika saya di pulau Penyu, saya makin sadar tentang cela dalam terapan turisme di Bali yang mungkin belum tergarap mendalam sebagai pemikiran dari strategi budaya mereka. Di Facebook, saya post foto-foto tentang konservasi penyu yang dilakukan dengan mendapat izin dari Departemen Kehutanan, Direktorat Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bali. Turtle park yang kami kunjungi memasang aturan konservasi dari Departemen Kehutanan, tetapi dalam pelaksanaannya, malahan pawangnya sendiri menyeret mother penyu keluar dari penakarannya supaya bisa disentuh dan difoto bareng oleh pengunjung. Saya juga melihat ada seorang pengunjung yang tanpa bersalah mengangkat penyu yang ada di bak sambil tertawa-tawa ketika difoto oleh anggota keluarga/teman lainnya.

Perilaku mengeksplotasi penyu seharusnya tidak terjadi apabila dalam sistem budaya Bali, pemahaman konservasi penyu dimasukan sebagai bagian dari konsep budayanya. Memang penyu bukan binatang suci di Bali. Binatang suci adalah sapi. Di Cina, Xian ketika kami ke sana, saya baru sadar bahwa penyu dianggap suci karena mempunyai kemampuan tinggal di dasar lautan. Karena itu dalam mitologi Cina, penyu adalah penggendong bumi, bukan seperti yang dimengerti di dalam mitologi barat, penggendong bumi adalah Atlas.

Salah satu cara untuk menghindari perlakuan eksploitasi pada penyu dengan tetap memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk mengekspresikan dirinya bersama penyu dalam foto adalah membuat patung penyu raksasa di pulau penyu. Mungkin dengan adanya patung penyu raksasa, godaan pengunjung untuk berfoto langsung dengan penyu bisa terobati. Di Kopenhagen, di pantai tertentu dibuatkan patung putri duyung karena mitologi terkenal di dunia barat tentang putri duyung, ceritanya dipopulerkan oleh Christian Anderson, penulis legendaris dari Kopenhagen, Denmark.

Turisme memang mendatangkan uang bagi berbagai jaringan lapisan masyarakat di Bali. Tetapi membangun pemahaman turisme yang berkelanjutan dan ramah pada lingkungan juga merupakan cara untuk memelihara keberlanjutan kehidupan dari berbagai habitat di Bali. Turisme pertualangan binatang masih baru di Bali, karena itu masih dapat dibangunkan sistem penanganannya yang masuk dalam hati orang Bali. Seperti konservasi hutan, air, burung-burung yang sudah berjalan baik di Bali, bahan menjadi bagian dari sistem budaya masyarakat.

Walaupun saya juga sadar ada banyak pengalihan lahan-lahan rakyat demi pembangunan hotel dan resort sehingga tanah kosong bukan berarti tanah yang belum digarap, tetapi menunggu proses pembangunan. Contoh seperti tanahnya Tommy Soeharto, dengan cerita miring tentang pemaksaan pelepasan tanah yang pelaksanaannya pada jam Soeharto masih berkuasa. Sekarang ia memiliki areal yang disebut Dream Land beratus hektar. Pembangunannya sempat terhenti paska reformasi,tetapi sejak beberapa tahun lalu mulai diteruskan perencanaan pembangunan resort ini. Namun sistem pengaturan penggunaan tanah dan bangunan di Bali dikaitkan dengan kepentingan penjagaan daerah-daerah suci sebagai bagian dari teritori Pura kiranya akan mengontrol kebijakan pembangunan yang berorientasi bisnis semata.

Di atas semuanya, bagi saya, konservasi binatang dan alam di bawah air memang masih merupakan pekerjaan rumah yang sangat besar. Kebanggaan daerah untuk snorking dan diving makin sempit di Bali. Bali tidak bisa saja menjadi pusat pengembangan daerah discovery baru dengan membuka perluasan ruang bawah laut di pulau-pulau di sekitar tiga Gili di Lombok, atau ke Sulawesi Utara (Bunaken), ke Wakatobi (Sulawesi Tenggara) atau ke Raja Ampat di Papua. Bagaimanapun kehancuran alam bawah laut di perairan Bali harus menjadi tanggungjawab pemerintah, swasta (hotel dan biro-biro perjalanan) serta masyarakat luas. Melibatkan inventor asing dalam bisnis turisme memang tidak bisa dihindari, tetapi infrastruktur daerah dalam bentuk produk hukum untuk melindungi aset sumber daya lokal harus dipersiapkan dengan baik.

Saya mengamati aturan konservasi alam bawah laut ketika berada di Gili Trawangan. Ketentuannya adalah setiap hotel yang berada langsung di depan pantai berkewajiban untuk melakukan pemulihan kembali kehidupan terumbu karang dengan mengalirkan aliran listrik lemah untuk menghangatkan proses pertumbuhan dan perkembangbiakan ekosistem laut di sana. Upaya ini masih belum terlihat di Bali. Di Gili Trawangan bahkan masyarakat mengatur supaya tidak ada kendaraan berbensin berkeliaran di pulau ini. Sepeda, andong dan kereta tarik merupakan alat transportasi ramah lingkungan yang sangat menarik banyak turis ke sana.

Saya ngak tahu apakah suara saya didengar oleh pemerintah Bali. Saya juga ngak yakin kalau tulisan ini dibaca oleh orang-orang yang langsung berkepentingan dengan isu yang saya jelaskan. Tetapi saya percaya teman-teman saya di Facebook yang tinggal di Bali, apabila tertarik dengan keprihatinan saya ini bisa melakukan sesuatu di sana. Bali hanya bisa diselamatkan oleh orang Bali dan orang Indonesia, yang cinta Bali. Supaya Bali tidak menjadi korban dari kapitalisme turisme dunia. Inilah harapan saya dan sekarang saya lega sesudah mengakhiri tulisan ini.

Berlibur bersama untuk merawat cinta kasih dan hidup bersama antar agama. Pengalaman ICRS Yogya

Berlibur bersama untuk merawat cinta kasih dan hidup bersama antar agama. Pengalaman ICRS Yogya
Oleh: Farsijana Adeney-Risakotta


Akhir pekan lalu, tanggal 26 – 29 Mei 2011, ICRS Yogya melakukan hayatan liburan bareng pengelola, staf dan keluarganya masing-masing. Teman-teman di ICRS Yogya lebih senang menyebutnya “working retreat”, seperti komentar yang saya dengar dari mba Ingrid.

Mungkin teman-teman sudah pernah tahu atau belum. Saya ingin menjelaskan sedikit tentang ICRS Yogya. ICRS Yogya adalah singkatan dari Indonesian Consortium for Religious Studies. Nama merknya yang terkenal hanya ICRS Yogya. Yogya menjadi tempat yang paling unik untuk menghasilkan Konsorsium seperti ICRS setidak itulah yang pernah diakui banyak kalangan ketika ICRS Yogya mulai dirintis. Keunikan Yogya sebagai kota pluralis turut membidani kelahiran ICRS Yogya.

ICRS Yogya adalah program S3 yang didirikan oleh tiga perguruan tinggi di Yogyakarta yaitu Universitas Gadjah Mada, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga dan Universitas Kristen Duta Wacana. Peresmian ICRS Yogya dilakukan di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang disaksikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X sebagai Gubernur DI. Yogyakarta pada saat penandatanganan MOU oleh ketiga Rektor pada tanggal 6 Oktober 2006.

ICRS Yogya, Consorsium Tiga Universitas: Universitas Gadjah Mada, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Universitas Kristen Duta Wacana


Sebagai konsorsium dari tiga universitas, ICRS Yogya mungkin adalah satu-satunya program S3 yang keunikannya tiada taranya di dunia. ICRS Yogya membangun tradisi akademik dalam proses pembelajaran dan penelitian berdasarkan basis tradisi ilmu dan metodologi ilmu sosial (UGM), tradisi Islam (UIN Sunan Kalijaga) dan tradisi Kristen (UKDW). Diharapkan ICRS Yogya dapat menghadirkan ruang keterbukaan, ketulusan dalam mengkaji agama-agama dari berbagai tradisi ilmu dan iman yang dilakukan secara kritis untuk menguatkan pemahaman agama bagi kehidupan di muka bumi. Dijamin mengikuti perkuliahan di ICRS Yogya, iman dan spiritualitas beragama dari mahasiswa S3 yang adalah pemimpin masyarakat dan agama malahan makin diteguhkan. ICRS Yogya menempati Kantor Paska Sarjana UGM Yogyakarta dan diregistrasi sebagai salah satu prodi dari Sekolah Paska Sarjana UGM.

Persiapan pendirian ICRS Yogya difasilitasi oleh pak Bernie (dari UKDW), yang sekaligus menjabat sebagai direktur pertama ICRS Yogya dengan wakil direktur adalah ibu Siti Syamsiatun (dari UIN Sunan Kalijaga). ICRS Yogya mempunyai organisasi yang unik karena melibatkan majelis konsorsium dari ketiga universitas dan dewan akademik yang keanggotaannya terdiri dari dosen-dosen yang mengajar di ICRS Yogya. Sesudah perjalanan ICRS Yogya untuk empat tahun pertama, sekarang ICRS Yogya dipimpin oleh Ibu Siti Syamsiatun sebagai direktur dan wakil direktur adalah ibu Wening (dari UGM).

Sekarang ini ICRS Yogya mempunyai mahasiswa dari berbagai negara dan juga dari seluruh Indonesia. Program S3 ini diselenggarakan dalam bahasa Inggeris. Keunikan pengajaran dan pembimbingan kepada mahasiswa S3 adalah setiap seminar difasilitasi oleh dua orang pengajar yang berbeda agama sekaligus mempertimbangkan keseimbangan jender. Misalkan pak Heddy Ahimsa dari Fakultas Antropologi UGM mengajar bersama saya dari program studi S2 Perdamaian dan Rekonsiliasi Konflik UKDW untuk mengasuh matakuliah seminar “Pendekatan Sejarah dan Budaya dalam pembelajaran agama” (Historical and Cultural Approaches to study Religions)”. Penawaran matakuliah dilakukan secara bervariasi dan hampir setiap semester bisa berbeda-beda.

Bagi teman-teman yang berminat mendapat informasi lebih lanjut bisa lihat website ICRS Yogya, juga ada akunnya di Facebook.
Website ICRS Yogya www.icrs.ugm.ac.id

Nah sekarang kembali ke topik tulisan saya. Berlibur bersama ICRS Yogya kemarin akhir pekan adalah untuk merayakan dan mensyukuri kebersamaan ICRS Yogya sejak proses perintisannya hingga saat ini.

Kehadiran saya di Bali bersama ICRS Yogya dalam status saya sebagai isteri dari pak Bernie, suami saya. Liburan ICRS Yogya kemarin adalah sekaligus sebagai tanda terima kasih ICRS Yogya kepada seluruh pengelola, staf dan keluarganya masing-masing yang turut merawat kualitas kebersamaan hubungan antar agama, manusia dan akademik dari ICRS Yogya. Seorang staf ICRS Yogya, mba Cendy adalah organizer dari liburan tersebut. Mba Cendy, sebelum bergabung dengan ICRS Yogya pernah selama 14 bulan bekerja di salah satu Resto dan Art Gallery di Bali.

Untuk saya kembali ke Bali, berkali-kali, tetapi selalu berbeda-beda. Tur yang diorganiser mba Cendy membawa saya melihat hal-hal yang mungkin untuk maksud tur pribadi dan keluarga bukan pilihan. Tetapi saya bisa belajar banyak dari pengalaman-pengalaman baru ini yang proses permenungannya mendorong saya menuliskan untuk teman-teman saya di Facebook.

Saya bersyukur bisa bersama-sama dengan ICRS Yogya dan keluarga-keluarga masing-masing teman-teman. Kehidupan bersama tiga hari menghadirkan perenungan baru tentang interaksi-interaksi langsung dan spontan dari masing-masing kami sebagai manusia. Tantangan pertama adalah krisis kacamata di pura Uluwatu. Ulasan tentangnya akan menjadi bagian kedua dari tulisan ini. Tulisan ketiga terkait dengan turisme dan konservasi tantangan Indonesia dalam pembangunan ekonomi. Tulisan ketiga, merenungkan pluralitas dan Pancasila dari Bali.

Mungkin inilah oleh-oleh saya kepada teman-teman saya setia. Saya menikmati Bali karena saya bisa berlari di sepanjang pantai Legian. Pantai Legian adalah terusan dari pantai Kuta dan Seminyak yang letaknya di bagian selatan pulau Bali. Ini daerah yang sangat padat di seantero Bali.

Berkali-kali ke Bali, membaringkan diri di pantai dan menukikkan diri di bawah gulungan ombak seolah-olah adalah memberikan kekuatan baru untuk meneruskan aktivitas saya di Yogya, melayani keluarga, mahasiswa, anak-anak dan perempuan yang dengannya saya berbagi kehidupan ini. Mungkin semua orang mau ke Bali untuk mengisi energi lagi. Saya senang dengan liburan singkat ini karena bisa bersama dengan suami sesudah sakit hampir dua minggu, mondok di Panti Rapih kemudian dalam proses penyembuhan segera terbang ke Jepang. Di pantai saya senang melihat suami saya bisa berenang lagi termasuk agak kuatir ketika ia terbawa arus menjauh dari payung yang ditanjapkan sebagai tanda sandal dan sepatu lari kami berada.

Kami semua perlu waktu untuk berlibur. Terima kasih ICRS Yogya, terima kasih bu Siti, bu Wening untuk kepemimpinannya. Teman-teman dan anggota keluarga, saya sungguh bersyukur bisa mengenal dekat semuanya. Tanpa Lofly dan Nauval liburan itu mungkin akan sepi dari tawa lepas kita semua karena kepolosan anak-anak yang lucu. Makasih bu Wening untuk berbagi si lucu Lofly. Saya pasti kangen Lofly selalu. Saya juga setuju dengan mba Elis, yang menikmati liburan khusus dengan Nauval. Saya bisa lihat kedekatan Nauval dengan ibunya. Bersyukurlah teman-teman dengan anak-anaknya yang lucu dan sehat.

Tahun lalu, suami dan saya membawa keluarga, anak-anak, adik-adik dan oma ke Bromo, Amed (Bali Timur), Lombok dan kembali ke Bali. Cerita menarik, Hanna sesudah kembali ke Yogya melukis gunung Rinjani. Versi pertama lukisannya menggambarkan Rinjani dalam pewajahan hijau ditutupi rerumputan. Kelihatan sangat romatis. Tetapi sesudah lukisan itu siap, Hanna merasa Rinjani dalam lukisan bukan seperti Rinjani sebenarnya. Rinjani sebenarnya adalah angker. Karena pada saat mereka mendaki, yi suami saya, oom John (adik saya), Tirza dan Hanna, pada malam itu di tenda mereka terbaring kaku mayat dari seorang turis perempuan, seorang Perancis. Ia jatuh ke dalam jurang dan meninggal. Karena itu, Hanna kemudian mengubah warna dari lukisan yang sama dengan warna-warna merah, seolah-olah gunung ini berdarah.

Bali, di Seminyak, di pantai anak-anak bisa beristirahat, suami dan adik-adik bisa melepaskan kembali perasaan lelah terbawa melaut dan diberikan dari ombak kekuatan baru untuk kami semua meneruskan perjalanan pulang melewati pegunungan di Utara Bali balik ke Yogya. Di sini setahun lalu kami menonton world cup dengan pertandingan antara Jerman dan Belanda. Kemarin, sekali lagi menuntun MU dengan Barcelona. Syukur itu selesai sebelum berkemas mengejar pesawat balik ke Yogya. Liburan mengajarkan pengalaman mendalam tentang kehidupan kepada diri sendiri dan sesama, pertama-tama keluarga terdekat kemudian dengan orang lain yang dijumpai dalam ziarah yang sama.

Ketika pesawat mendarat di Adisucipto, mba Ingrid katakan, "Sekarang kami kembali ke”real life”! Betul. Kami menyimpan kenangan dan cerita untuk mendorong terus perjalanan pekerjaan ke depan. Selamat bekerja lagi dengan semangat teman-teman!